HomeArtikelTasyakuran Haji di Nusantara

Tasyakuran Haji di Nusantara

0 2 likes 76 views share

Siapapun mengakui, memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci merupakan sebuah kenikmatan agung. Perasaan hati yang bahagia dan bersyukur secara otomatis akan dirasakan setiap umat Islam yang mendapatkan ‘panggilan’ tersebut.

Di Indonesia, umumnya para jamaah haji yang telah pulang dari ‘perjalanan suci’ itu mendapatkan perlakuan yang begitu istimewa. Sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di bandara dan asrama haji, segenap keluarga telah setia menunggu untuk menyambut kedatangannya.

Sebenarnya, tradisi yang serupa sudah pernah dicontohkan oleh para Sahabat ketika menyambut kedatangan Rasulullah saw. dari suatu perjalanan. Hadis dari sahabat Abdulah bin Ja’far, beliau menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تَلَقَّى بِنَا، فَتَلَقَّى بِي وَبِالْحَسَنِ أَوِ الْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

“Ketika Rasulullah Saw datang dari perjalanan kami meyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain. Lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau hingga kami masuk kota Madinah. (HR. Muslim)[1]

Rangkaian penyambutan haji terus berlanjut hingga ke kampung halamannya. Para saudara, kerabat, dan tetangga telah menunggu kedatangannya di tengah-tengah mereka. Biasanya, masyarakat Indonesia menyebutnya dengan istilah ziarah haji, sebuah tradisi untuk mengunjungi para tamu Allah yang telah pulang ke kampung halamannya.

Kearifan lokal umat Islam di Nusantara ini sama persis dengan tradisi yang disebut dengan istilah an-Naqi’ah dalam kajian fikih. Secara pengertian, an-Naqi’ah dapat diartikan sebagai tradisi jamuan makanan yang diselenggarakan oleh seseorang yang baru pulang  dari perjalanan. Tentunya melihat konteks ini, tidak hanya terbatas pada perjalanan haji. Namun memiliki cakupan praktek yang lebih luas. Tradisi ini memiliki landasan hukum salah satu hadis Rasulullah Saw,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Sesungguhnya Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah dari suatu perjalanan, beliau menyembelih unta atau sapi.” (HR. Bukhari)[2]

Rangkaian tradisi yang lebih penting dari semua itu adalah mendapatkan berkah doa dari mereka yang baru pulai menunaikan ibadah haji. Karena sebenarnya, doa tersebut lah yang menjadi tujuan utama dari dari para peziarah haji. Rasulullah Saw pernah bersabda,

إِذَا لَقِيتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ …رَوَاهُ أَحْمَدُ

“Ketika engkau bertemu dengan orang yang haji, ucapkanlah salam padanya, dan berjabat tanganlah dengannya, serta mintalah doa ampunan kepadanya sebelum ia memasuki rumahnya. Karena sesungguhnya dia merupakan orang yang telah terampuni.” (HR. Ahmad)[3]

Hadis tersebut juga memberi pemahaman bahwa seseorang yang usai menunaikan ibadah haji dianjurkan untuk mendoakan orang lain meskipun orang tersebut tidak minta didoakan. Namun dalam keadaan seperti ini, disunnahkan bagi seseorang yang berada di sekitar orang yang baru menunaikan ibadah haji untuk menunjukkan permintaannya agar didoakan secara langsung. Tujuannya adalah agar ia termasuk dalam doa yang pernah diucapkan oleh nabi Muhammad saw. Sebagaimana dalam sebuah redaksi hadis,

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ

Ya Allah, ampunilah dosa orang yang berhaji. Dan dosa orang yang dimintakan ampunan oleh orang yang berhaji.” (HR. Muslim)[4]

Para ulama masih berbeda pendapat mengenai batasan waktu yang utama untuk doa orang yang usai menunaikan ibadah haji. Sebagian mengatakan hal tersebut berlaku sejak mereka memasuki kota Mekah hingga kembali ke keluarganya. Sebagian lagi berpendapat sebelum mereka masuk rumahnya. Dan ada yang berpendapat sampai 40 hari terhitung sejak mereka pulang dari haji. Bahkan, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diceritakan berdasarkan cerita dari sahabat Umar Ra, keutamaan doa dari mereka terus menerus hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram, dan  20 Rabiul Awwal.[5] []waAllahu a’lam

 

_________________________

[1] Shahih Muslim, IV/185.

[2] Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, IV/400, CD. Maktabah Syamilah.

[3] Dalil Al-Falihin, III/237.

[4] Faidh Al-Qodir, II/101.

[5] Hasyiyah Al-Jamal, II/554, CD. Maktabah Syamilah.