Pengertian dan Tata Cara Talqin

Pengertian dan Tata Cara Talqin

Ketika seseorang akan meninggal atau sedang menghadapi sakaratul maut, maka bagi orang yang berada di samping orang yang sedang sekarat tersebut disunahkan untuk membacakan talqin. Dalam tulisan ini, akan dibahas tentang tata cara talqin yang benar.

Selain itu, dijelaskan juga tentang pengertian talqin, hukum talqin, pembagian talqin, serta hal-hal yang berkaitan dengan talqin, agar dapat dipahami secara jelas tentang talqin itu sendiri.

Pengertian Talqin dan Pembagiannya

Pengertian dan Tata Cara Talqin
Unplash.com

Talqin secara bahasa diartikan sebagai tafhim (memberikan kepahaman). Artinya, memberi pengertian atau memberi pemahaman. Dalam kamus Al-Marbawi, talqin diartikan sebagai pengajaran atau mengingatkan.

Di dalam Kamus Al-Munjid, talqin diartikan lebih menyeluruh, yakni mengingatkan dengan mulut saat berhadapan dengan seseorang.

Talqin sendiri dalam istilah agama memiliki dua pengertian:

  1. Mengajari seseorang yang sedang sekarat agar membaca kalimat tauhid, yaitu laa ilaaha illallah.
  2. Mengingatkan seorang yang sudah wafat (setelah dikubur) terkait hal-hal penting tentang berbagai pertanyaan yang diajukan oleh Malaikat Mungkar dan Malaikat Nakir.[1]

Jika melihat dari pengertian pertama, maka hukum talqin adalah sunnah. Hukum ini sebagaimana kesepakatan ulama yang berpedoman pada redaksi hadis Rasulullah SAW berikut:

لقنوا موتاكم لا إله إلا الله

Artinya: “Ajarkanlah orang yang hendak meninggal di antara kalian dengan ucapan laa ilaaha illallah.” (HR. Muslim)

Tujuan Mengucapkan Kalimat Talqin

Pengertian dan Tata Cara Talqin
Unplas.com

Perintah untuk melafadzkan kalimat talqin tidak lain memiliki tujuan agar kalimat terakhir yang diucapkan oleh seseorang sebelum ajal menjemput adalah laa ilaaha illallah.

Sebab, dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa pada saat seseorang akan menemui akhir hayatnya, kemudian ia mengucapkan kalimat tauhid, maka ia akan dijanjikan surga. Rasulullah SAW bersabda:

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة

Artinya: “Barangsiapa pada akhir perkataannya adalah laa ilaaha illallah, maka ia masuk surga.” (HR. Abu Dawud)

Tata Cara Membaca Talqin

Pengertian dan Tata Cara Talqin
Unplash.com

Membaca talqin dilakukan kepada seseorang yang sedang dalam keadaan sekarat dengan mengajarinya membaca kalimat laa ilaaha illallah. Dengan catatan, orang yang sekarat itu telah beragama Islam.

Namun, jika ia belum masuk agama Islam, maka kalimat yang diajarkan kepadanya adalah dua kalimat syahadat secara sempurna. Sebab, tanpa mengucapkan dua kalimat syahadat, seseorang tidak bisa dikategorikan sebagai pemeluk agama Islam.

Kemudian, seseorang yang mengajari talqin hendaknya senantiasa berada dis amping seorang yang sedang sekarat.

Caranya, dengan mendekatkan mulut orang yang menalqin di dekat telinga orang yang sedang sekarat. Setelah itu, orang yang menalqin membisikkan suara yang tidak terlalu keras, apalagi membentak, agar tidak terkesan memaksa.

Kesunahan Memberikan Air Minum Kepada Orang yang Sedang Sekarat

Pengertian dan Tata Cara Talqin
Unplash.com

Ketika ada orang yang sedang sekarat, hendaknya ia diberikan air minum. Apalagi jika yang sekarat itu terlihat keharusan, maka membeli air minum hukumnya menjadi wajib.

Menurut keterangan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal, pada saat nyawa seseorang di ambang pintu, maka setan akan datang membawa air minum seraya berkata: “Katakanlah bahwa tak ada Tuhan selain aku, niscaya aku akan memberimu minuman.”

Jika orang yang sedang sekarat tersebut menuruti perintah setan itu, maka ia meninggal dalam keadaan kufur. Inilah rahasia religius yang melatarbelakangi dianjurkannya memberi air minum kepada orang yang sedang menyambut Malaikat Pencabut Nyawa.

“Jika ia belum masuk agama Islam, maka kalimat yang diajarkan kepadanya adalah dua kalimat syahadat secara sempurna.”

Hukum Menalqin Mayit yang Berada Dikuburan

Pengertian dan Tata Cara Talqin
Unplash.com

Menalqin mayit setelah dikuburkan hukumnya adalah sunnah dan sangat dianjurkan oleh syariat. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Qadli Husain, al-Mutawalli, Nashr al-Muqaddasi, al-Rafi’i dan lain sebagainya.

Para ulama di atas berpijak pada hadis riwayat Imam Muslim dan empat Imam hadis lainnya.

Menurut pendapat yang menafsirkan kata mautakum, hakikatnya adalah seseorang yang telah meninggal dunia, bukan orang yang sedang menjemput kematian.

Hadisnya sebagaimana berikut:

عن سعد ابن عبد الله قال : شهدتُ أبا أمامةَ وهو في النزعِ قال إذا متُّ فاصنعوا بي كما أمرَنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وآلِه وسلَّمَ، فقال: “إذا ماتَ أحَدٌ مِن إخوانِكم فسوَّيْتُم التُّرابَ على قَبرِه، فلْيَقُمْ أحدُكم على رأسِ قَبْرِه ثُمَّ لْيقُلْ: يا فلانُ ابنَ فُلانةَ، فإنَّه يَسمَعُه ولا يُجيبُه، ثُمَّ لْيَقُلْ: يا فلانُ ابنَ فلانةَ، فإنَّه يَستوي قاعِدًا، ثُمَّ يقولُ: يا فلانُ ابنَ فلانةَ، فيقولُ: أَرْشِدْنَا رحِمَكَ اللهُ، ولكنْ لا تَشعرونَ، فلْيقُلْ: اذكُرْ ما خرجْتَ عليه مِنَ الدُّنيا: شَهادةَ أنْ لا إلهَ إلَّا اللهُ، وأنَّ مُحمَّدًا عبْدُه ورَسولُه صلَّى اللهُ عليه وآلِه وسلَّمَ، وأنَّكَ رَضيتَ باللهِ ربًّا، وبالإسلامِ دِينًا، وبمُحمَّدٍ صلَّى اللهُ عليه وآلِه وسلَّمَ نبيًّا، وبالقُرآنِ إمامًا؛ فإنَّ مُنكَرًا ونَكيرًا يأخُذُ كلُّ واحِدٍ مِنهما بيَدِ صاحبِه ويقولُ: انطَلِقْ بنا ما يُقْعدُنا عِندَ مَن لُقِّنَ حُجَّتَهُ؟ فيكونُ اللهُ عزَّ وجلَّ حَجَّهما دُونَه، فقالوا: يا رسولَ اللهِ، فإنْ لم يَعرِفْ أُمَّه؟ قال: فلْيَنْسُبْه إلى أُمِّه حوَّاءَ، يا فُلانُ ابنَ حوَّاءَ.

Artinya: “Dari Sa’id Ibnu Abdillah al-Audy, ia berkata, ‘Saya hadir dan menyaksikan saat-saat Abi Umamah sedang mendekati ajal.’ Ia berkata: ‘Jika aku telah meninggal dunia, perlakukanlah aku sebagaimana Rasulullah SAW (memperlakukan orang-orang wafat di antara kami).’ Rasulullah memerintahkan kami seraya bersabda, ‘Ketika seseorang di antara kamu sekalian meninggal dunia, dan kamu telah meratakan tanah di atas kuburannya, maka hendaklah salah satu di antara kamu berdiri pada bagian kepala kuburan itu seraya berkata, ‘Wahai Fulan bin Fulan!’ Niscaya orang yang di dalam kubur mendengar apa yang kamu ucapkan, namun ia tidak dapat menjawabnya. Hendaknya ia (orang-orang yang berdiri di atas kubur) berkata lagi, ‘Wahai Fulan bin Fulan!’ Maka mayit bangkit dan duduk di dalam kuburnya. Berkatalah orang yang berada di atas kuburan, ‘Wahai Fulan bin Fulan!’ Maka mayit pun berkata, ‘Berilah aku petunjuk! Semoga Allah akan memberimu rahmat. Namun kamu tidak merasakan.’ (Kerena itu) hendaklah orang yang berdiri di atas kuburan berkata, ‘Ingatlah sewaktu engkau keluar dari alam dunia, engkau telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. (Kamu juga bersaksi) bahwa engkau rida menjadikan Allah sebagai Tuhanmu, Islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai Nabimu, dan al-Qur’an sebagai Imam (penuntun jalanmu).’ (Setelah dibacakan talqin itu) Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir saling berpegangan tangann dan sambal berkata, ‘Marilah kita Kembali. Apa gunanya kita duduk (untuk bertanya) di muka orang yang telah diajari hujjahnya (ditalqin).’ Abu Umamah kemudian berkata, ‘Setelah itu, datang seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kita tidak mengenal ibunya?” Rasulullah menjawab: “(Kalau seperti itu) nisbatkan ia kepada ibunya, yakni Ibu Hawa (istri Adam), ‘Wahai Fulan bin Hawa.’” (HR. Thabarani)

Mayoritas ulama mengklaim hadis di atas sebagai hadis dhaif karena salah seorang periwayatnya tidak memenuhi syarat sebagai periwayat hadis.

Namun, dalam rangka fadha’il al-‘amal, hadis dhaif seperti ini dapat digunakan sebagai pijakan dalil.

Lebih-lebih hadis ini didukung oleh beberapa hadis lain, sehingga sebagian ulama lain berpendapat bahwa kualitas hadis ini meningkat menjadi hadis hasan li ghairih dan bisa dijadikan hujjah (dalil).

Dalil Hadis yang Menguatkan

Pengertian dan Tata Cara Talqin
Unplash.com

Berapa habis yang menguatkan di antaranya:

وعن عمرو بن العاص قال لابنه وهو في سياق الموت : إذا أنا مت فلا تصحبني نائحة ولا نار ، فإذا دفنتموني فشنوا علي التراب شنا ، ثم أقيموا حول قبري قدر ما ينحر جزور ، ويقسم لحمها ، حتى أستأنس بكم ، وأعلم ماذا أراجع به رسل ربي ” رواه مسلم .

Artinya: Dari ‘Amr bin ‘Ash berkata kepada keluarganya (ketika ia akan meninggal), “Ketika kalian telah menguburku, taburkanlah debu kepadaku. Kemudian, berdirilah di sekitar kuburanku sekedar lamanya penyembelihan unta dan pembagian dagingnya. Sehingga, aku merasa terhibur dengan kalian dan aku melihat apa yang ditanyakan utusan Tuhanku.” (HR. Muslim)

 أن النبي ﷺ كان إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه وقال: استغفروا لأخيكم، وسَلُوا له التَّثبيت، فإنَّه الآن يُسْأَل

Artinya: “Sesungguhnya setelah Rasulullah SAW selesai mengubur mayit, beliau berdiri seraya bersabda, dan berkata: “Mohonkanlah ampun saudara kalian dan mohonkan ketetapan (keteguhan) baginya, karena saat ini ia sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim dari Usman)

Penjelasan di dalam Tafsir Khazin

Pengertian dan Tata Cara Talqin
Unplash.com

Memang jika diteliti lebih jauh, pemahaman beberapa hadis di atas secara lahiriah seakan-akan bertabrakan dengan esensi firman Allah:

وَمَآ اَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَّنْ فِى الْقُبُوْرِ

Artinya: “Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadi orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (QS. Fathir: 22)

Namun, jika melihat pemahaman yang tertera dalam kitab Tafsir Khazin, maksud kalimat man fi al-Kubr dalam redaksi ayat di atas adalah orang-orang kafir yang Allah menyerupakan mereka dengan orang mati dalam kubur.

Hal ini tidak lain karena indikasi perumpamaan kepada mereka yang tidak mau memenuhi seruan nabi. Seakan mereka telah mati dan tak mau menyadari kebenaran implisit yang terkandung dalam ajaran Rasulullah.[2]

Kesimpulan

Pengertian dan Tata Cara Talqin
Unplash.com

Jelaslah, talqin sebenarnya bukan sebuah ritual yang bertentangan dengan agama, bahkan merupakan salah satu dari sekian banyak masalah umat yang dihukumi sunnah, baik menalqin orang yang sedang sekarat menjemput ajal ataupun saat jenazah seseorang yang telah dikebumikan.[3]

Referensi:

[1] KH. Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama (Jakarta: Pustaka Tarbiyah) 67/IV
[2] Tafsir Khazin, 247/II
[3] Al-Hujjaj al-Qoth’iyyah fi Shihhat al-Mu’taqadat wa al-‘Amaliyyat an-Nahdliyah, 131

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.