Tentang Kota Dengan Seribu Satu Wali

دركات يا اهل المدينة # يا تريم واهلها

Mendengar kata Tarim (Hadromaut), seakan membuat kita diajak kembali menyusuri masa lampau, berpetualang di zaman Rasulullah.

Baca juga: Lima Pilar Kebahagiaan: Warisan Bijak dari Ibn Miskawayh

Kota Tarim

Tarim adalah julukan untuk sebuah lembah gersang yang berada di ujung selatan jazirah Arab. Tempat tersebut lebih terkenal dengan istilah al-Aghaf dalam al-Quran yang menyimpan berjuta-juta rahasia yang jarang sekali orang-orang awam ketahui.

Kota Tarim merupakan sebuah nama dari salah satu daerah yang terletak di negeri yaman. Tarim tergolong sebagai salah satu kota yang dapat kita sebut makmur. Kota ini merupakan kota bersejarah yang oleh Allah Swt muliakan. Khalifah Abu Bakar as-Shidiq pernah berkata: “Jika aku bermimpi masuk ke kota Tarim, maka esok harinya hatiku akan merasa bahagia. Kebahagian itu akan aku rasakan selama tiga hari. Jika aku berziarah ke kota tersebut, kebahagiaanku akan tetap terasa selama tujuh hari.”

Baca juga: Jangan Memberikan Doa Celaka, Doakanlah Hidayah

Letak geografis Tarim

Kendati Tarim memiliki iklim geografis yang tandus dan kering, juga dengan cuaca yang sangat ekstrim, itu tidak membuat semangat para Wali dan Aulia melemah untuk terus berjuang menyebarkan panji-panji syariat Islam. Bahkan di sana para Wali dan Ulama terus bermunculan sebagaimana tanaman-tanaman hijau yang asri menghijaukan gersang gurun tandus.

Baca juga: Filosofi Sya’ban Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Julukan kota Tarim

Kota Tarim juga mendapat julukan sebagai madinatusshidiq karena Khalifah Abu Bakar pernah bersumpah setia kepada Zlad bin Zubair al-Anshari yang menjadi penguasa Tarim pada masa itu. Sumpah itu disambut baik oleh pemerintah tanah Tarim dan penduduk setempat tanpa terkecuali. Ketika berita ini sampai pada Khalifah Abu Bakar, beliau segera mendoakan khusus kepada kota Tarim dan penduduknya. “Mudah-mudahan Allah memberi kemakmuran untuk kota Tarim. Semoga Allah memberkahi kesuburan dan sumber air nya. Mudah-mudahan Allah memberkahi Tarim dengan banyak ulama yang sholeh dan menjadikannya sebagai negeri yang subur akan aulia-Nya.”

Baca juga: Al-Adzkar: Beruntungnya Badui yang Ziarah ke Makam Nabi Saw

Keistimewaan Tarim

Keistimewaan yang lain adalah, di kota Tarim tersebar banyak sekali anak dan cucu keturunan Rasulullah Saw, mereka pun tumbuh di tanah yang penuh kemulyaan itu. Pernah suatu ketika Rasulullah bersabda. “Sungguh aku benar-benar mencium harumnya karunia Allah dari yaman (Tarim).”

Di kota Tarim, ada pemakaman yang disemayamkan puluhan ribu wali, Para ulama dan orang-orang sholeh, juga para Habaib. Tempat tersebut bernama makam Zanbal Tarim. Pemakaman kuno berusia lebih dari seribu tahun, yang hingga kini masih terus beroprasi. Makam-makam tersebut terletak  di distrik Khalif, Dekat dengan pusat kota Tarim. Posisinya berjajar saling berhadapan dengan dua komplek makam lain, yakni makam Furait dan makam Akdar.

Konon, dulu Zanbal dan dua komplek pemakaman sampingnya adalah satu wilayah makam yang luas. Lalu karena bertambah padatnya penduduk Tarim, wilayah seberang barat Zanbal yang dulunya hanya perkebunan dan persawahan itu, kini terbangun pemukiman warga. Tentu butuh jalan transportasi. Alhasil, satu makam luas itu terbagi menjadi tiga bagian yang terpisahkan dengan jalan tiga jalur. Maka jadilah Zanbal, Furait dan Akdar.

Ulama-ulama Tarim

Dari kalangan Sayid atau keturunan Nabi, adalah Syaikh Ali al-Khalil Qasam yang pertama kali mengebumikannya di pemakaman Zanbal ini. Beliau dimakamkan Pada tahun 521 H. yang mana beliau menurunkan setidaknya tujuh puluh marga Habaib di seluruh dunia. Dan ribuan keturunannya pun banyak disemayamkan di pemakaman ini pula. Ada Imam Faqih Muqoddam (Syaikh Muhammad Ali Ba’alawi) pencetus pertma thoriqoh ilmiyah dan amaliyah Ba’alawi. Juga di sana disemayamkan pula cicit beliau: Syaikh Abdurrahman Assegaf, punggawa habaib bermarga as-Seggaf dan marga-marga cabangnya, seperti as-Syakrom Alaydrus, Baagil, bin Syaikhbu dan banyak lagi.

Ada juga Syaikh Abu Bakar as-Syakron, pemilik hizib as-Syakron. Juga putra beliau, yakni Imam Abdullah Alaydrus. Kakek moyang Wali Songo yang berdakwah di bumi Nusantara yang bernama Syaikh Umar al-Muhdor atau Imam Alwi yang berjuluk Ammul Faqiih atau “pamannya faqih muqodam”, juga ada di sini. Ada juga imam Abdullah Alwi al-Hadad, pemilik ratib al-Hadad, wirid Latif, penulis kitab Nasoihul ibad. Beliau juga terkenal sebagai penyair handal yang bisa kita lihat dalam tulisan syair-syair penggubah jiwa beliau yang terkumpul dalam buku Diwan Hadad beliau.

Dan masih banyak lagi daftar ribuan Ulama dan Habaib yang makamnya berada di pemakaman Zanbal ini. Syaikh Abdurrahman As-segaf pernah  berkata: “Di Zanbal ini, telah dimakamkan sepuluh ribu waliyullah.” Perkatan tersebut di ucapkan beliau, pada zaman as-Segaf yang hidup pada tujuh ratus tahun silam. Lalu bagaiman dengan sekarang?

Barang kali masih ada yang meragukan jika terlalu berlebihan dan mengada-ada apabila jumlah para Waliyullah yang ada di Zanbal bisa mencapai angka sebesar itu. Maka saya jawab, sangat masuk akal. Bukti konkretnya adalah dengan melihat keseharian masyarakat Tarim yang kehidupan sehari-harinya begitu sangat religius.

Spiritual penduduk Tarim

Dalam hal ibadah, masjid-masjid di sana selalu ramai. Bahkan toko-toko pun tutup saat adzan berkumandang. Dalam hubungan masyarakatnya dengan al-Quran, setiap ada waktu luang para pedagang, satpam, dokter dan lapisan masyarakat lainnya menyibukan waktu dengan membaca al-Quran juga wirid sehari-harinya. Di sana masyarakat awam selau menjaga kegiatan pagi-sorenya agar tak pernah terlepas dari ibadah.

Itu “orang biasa”nya Tarim, lalu bagaimana dengan orang “istimewa”nya dari kalangan santri, ulama dan habaibnya?

Di Zanbal ini, “pusat”nya adalah makam Syaikh Faqih Muqodam. Ibarat kata, wuquf Arafah adalah inti ibadah haji. Maka makam Faqih Muqodam adalah inti dari makam Zanbal. Beliau adalah ulama besar, ahli fiqih yang mencapai derajat kewalian yang amat tinggi. Konon, amalan Syaikh Faqih Muqodam dalam sehari adalah membaca Laa Ilaaha illa Allah 25 ribu kali, dan sholawat 25 ribu kali.

Sampai saat ini makam Zanbal selalu diziarahi setiap hari. Ada juga jadwal ziarah rutinan mungguan pada hari jum’at pagi. Khusus jum’at terakhir di setiap bulan Hijriyahnya, dilaksanakan ziarah akbar ke tiga komplek sekaligus; Zanbal, Furait, dan Akbar. Rutinitas tahunan juga ada. Tepatnya jum’at terakhir bulan Sya’ban, untuk menyambut bulan Ramadhan—kalau kita menyebutnya, Nyekar.

Khusus di bulan Ramadhan, ziarah mingguan dilakukan pada jum’at sore hari. Juga jum’at yang jatuh pada 6 hari awal bulan Syawal yang mana kegiatan ziarah tersebut juga Dilakukan pada sore harinya. Pada  6 hari itu suasana Tarim persis seperti Ramadhan, semua warganya berpuasa. Alhasil ziarah makam wali pun di samakan pada sore harinya.

Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis: Sayid Abdurrahman

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “Tentang Kota Dengan Seribu Satu Wali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses