HomePojok LirboyoTerangi Hati dengan Mengenang Al-Jailani

Terangi Hati dengan Mengenang Al-Jailani

0 1 likes 984 views share

LirboyoNet, Kediri – Pada tahun 1999, almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus memulai perjuangannya untuk menyebar kebiasaan mengenang suri tauladan Sulthanul Auliya Syaikh Abdul Qadir Jailani. Salah satunya, dengan membaca kitab Faidu al Rahman, kitab tentang kisah hidup Syaikh Abdul Qadir. Beliau wali besar, benar. Memiliki ratusan karomah, terang. Tapi kenapa harus dikenang?

Agus H. Melvin Zainul Asyiqien menyitir sebuah maqalah, yang bermakna “mengingat para nabi adalah ibadah. Dan mengingat kisa-kisah orang saleh dapat menjadi tebusan atas dosa-dosa.” Maka tak heran, Kamis (28/07) ribuan orang berdatangan dari berbagai daerah. Tulungagung, Blitar, Malang bahkan Surabaya. Bermacam pula mereka berkendara. dari bus hingga jalan kaki. Mereka adalah para santri Ponpes Lirboyo dan sekitarnya. Tunggu, jalan kaki? Tentu saja. karena Majlis al-Ghoutsiyah bi Manaqibi Syaikh Abdul Qadir Jailani ini terlaksana di komplek Aula Al-Muktamar Ponpes Lirboyo. Jadilah aula dan lapangan penuh oleh baju putih-kopyah hitam para santri.

Sebenarnya, rutinitas manaqib ini telah dimulai sejak lama, jauh sebelum 1999. KH. Imam Yahya Mahrus berinisiatif menularkan kebiasaan membaca manaqib di pondok pesantren Al-Fitrah, Surabaya milik almaghfurlah KH. Utsman Al Ishaqi kepada santri Lirboyo. Mertua KH. Imam Yahya ini adalah pemimpin thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah semasa hidupnya.

Awalnya, kegiatan manaqib ini dilaksanakan di mushola HM, sebelah barat rumah ayah beliau, KH. Mahrus Aly. Demi menggalakkan manaqiban, beliau mendatangkan santri-santri ponpes Al Fitrah untuk mengajari para santri membaca manaqib. Selang beberapa waktu, barulah kegiatan beralih ke Aula Al Muktamar hingga sekarang.

H. Ridlwan, salah satu pengurus Jamiyah Al Khidmah Kediri yang malam itu memberikan sambutan, menyebut bahwa pembacaan manaqib adalah salah satu cara dalam membentuk karakter. “Karena dalam manaqib, kita akan tahu bagaimana hidup orang-orang saleh. Agar kita bisa meniru mereka.”

Dalam sambutan selanjutnya, Agus Melvin Zainul Asyiqien mempertegas hal ini. “Syaikh Abdul Qadir Jailani sebagaimana yang telah kita baca tadi, tiga tahun diam di satu tempat. Tidak berpindah ke mana-mana. Itu setelah beliau dipesan oleh Nabi Khidir untuk tidak meninggalkan tempat sebelum ia datang. Takdzim kepada guru seperti itu.”

Acara ini dihadiri oleh Habib Abdurrahman bin Aqil dari Surabaya, KH. Abdullah Said Malang (mertua Agus Reza Ahmad Zahid, putra sulung KH. Imam Yahya Mahrus), serta habaib dan masyayikh Kediri dan sekitarnya. Adapun Agus Reza Ahmad Zahid berhalangan hadir karena sedang berkunjung ke Amerika Serikat.][