HomeSantri MenulisTidurnya Orang Berpuasa Ibadah, Apa Maksudnya?

Tidurnya Orang Berpuasa Ibadah, Apa Maksudnya?

0 11 likes 730 views share

Ada sebuah kalimat yang populer dan santer dikutip oleh umat Islam ketika memasuki bulan Ramadan. Kalimat tersebut berbunyi:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبادَةٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.”

Bahkan sebagian orang mengutipnya sebagai hadis Rasulullah saw. Beberapa orang pun dibuat bingung dengan pernyataan semacam ini. Masa, iya, Nabi Muhammad saw. menganjurkan umatnya untuk beribadah dengan tidur.

Faktanya kalimat di atas memang telah dikutip sebagai hadis oleh ulama-ulama abad pertengahan, Imam Al-Gazali dalam kitab Iḥyā’ misalnya. Namun, sebagaimana lazimnya beliau dalam mengutip hadis, beliau tidak menjelaskan apakah hadis tersebut sahih atau lemah.

Hadis tersebut juga dinukil oleh Imam As-Suyuti dalam kitab Al-Jāmi’ aṣ-Ṣaghīr. Di sana As-Suyuti secara tegas menyatakan hadis tersebut ḍa’īf; lemah. Selaras dengan As-Suyuti, Al-Minawi dalam Faiḍul-Qadīr dan Al-’Iraqi dalam Takhrīj Aḥādīśil-Iḥyā‘ menyebutkan hadis di atas ḍa’īf.

Bahkan, belakangan ini beredar pernyataan salah satu ustaz yang memiliki banyak pengikut serta ribuan penggemar di jaringan Youtube, menyatakan hadis tersebut tidak hanya lemah, namun juga mauḍū’; palsu. Ustaz kondang tersebut juga menerangkan bahwa makna hadis ini bertentangan dengan spirit dari ibadah puasa. Puasa seharusnya diisi dengan amal saleh, bukan tidur.

Dari sini, ada suatu hal yang mengganjal pikiran saya. Jika memang makna hadis ini keliru, untuk apa Imam Al-Gazali mengutipnya? Al-Gazali justru mengutipnya dalam rangka menjelaskan besarnya fadilah puasa.

Az-Zabidi yang dalam Ittiḥāf-nya mengatakan sanad hadis itu memang lemah, justru membenarkan maknanya. Pada bab adab makan misalnya, Az-Zabidi mengutip hadis di atas dalam rangka menjelaskan pentingnya makan agar kuat beribadah. Lalu beliau mengutip hadis “Tidurnya orang puasa itu ibadah” dan menjelaskan bahwa tidur itu akan bernilai ibadah jika menjadi perantara kuatnya beribadah. Artinya, menurut Al-Gazali dan Az-Zabidi, secara makna—bukan status sahih/tidaknya—tidak ada yang salah dengan hadis ini.

Kita tahu bahwa puasa, dari terbitnya fajar sampai Magrib, adalah ibadah. Mau diisi dengan tidur, belajar atau berselancar di dunia maya, puasa tetaplah ibadah. Lalu, jika dengan tidur saja puasa tetap bernilai ibadah, apalagi jika sambil kita isi dengan salat sunah, baca Quran, dan amal-amal saleh lainnya, maka nilai ibadahnya semakin berlipat-lipat.

Dengan demikian, kita bisa memahami bahwa hadis “Tidurnya orang puasa itu ibadah” sebenarnya adalah motivasi untuk memperbanyak ibadah, bukan untuk memperbanyak tidur. Wallahu A’lam.

Penulis: M. Abdul Rozzaaq, S.Ag. lulusan Ma’had Aly Lirboyo, Mengabdi di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat.