945 views

Tips Bertemu Kekasih

Adzan telah berkumandang shalat Dzuhur telah memasuki waktunya. Namun tak jarang saat mendengar adzan hati tak bergegas untuk melaksanakan shalat. Ada yang berdalih karena shalat merupakan ibadah yang muwassa’ dengan durasi waktu yang panjang.


Padahal tak sedikit dari kita yang telah mengetahui kebesaran fadhilah melakukan shalat di awal waktu. Sebagaimana tertuang dalam kitab hadits Sunan Al-Daroquthni,

عن أم فروة كذا قال , قالت: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أسمع عن أفضل الأعمال , فقال: «الصلاة لأول وقتها»


Artinya: Diriwayatkan dari Farwah sebagaimana ia katakan Rasulullah Saw pernah suatu ketika ditanya oleh seseorang mengenai amal yang paling mulia dan aku mendengarnya, maka Rasulullah menjawab “Sholat diawal waktu“. HR Al-Daroquthni


Sepertinya telah banyak yang mengetahui hadis tersebut bagaimana menyegerakan shalat di awal waktu merupakan amal terbaik. Namun realita berkata lain, hal ini bisa kita lihat dari sedikitnya orang yang mau melakukan shalat tepat setelah adzan dikumandangkan.


Lantas apa sebenarnya yang salah dari kita?


Cinta, karena kita belum mencintai Tuhan kita sepenuhnya. Hal ini pernah suatu ketika dijelaskan oleh Maulana Al-Habib Luthfi bin Yahya dalam pengajiannya saat bulan Ramadhan. Sangat tepat apa yang beliau sampaikan kepada santri-santri posonan kala itu.


Sedikit yang kami ingat dari penjelasan Habib Luthfi adalah dimana beliau menganalogikan permasalahan sholat dengan sesuatu yang biasa kita alami dalam kehidupan sehari-hari.


Salah satunya adalah menggambarkan bagaimana sikap kita saat janjian dengan orang yang kita cintai. Ya, bayangkan saja saat kita telah janjian dengan seorang yang sangat kita cintai pastilah semangat membara akan salalu terasa sebelum waktu ketemuan dengan sang terkasih. Semisal saja janjian ketemuannya jam 12.00 siang pasti mulai jam 10.00 atau mungkin mulai jam 09.00 kita sudah melakukan persiapan.


Mandi agar tubuh tetap bersih dan wangi, memilih pakaian terbaik yang dimilikinya, parfum setengah botol disemprot sana sini, merapikan wajah rambut dan semua hal yang berkaitan dengan penampilan. Yang tak lain ia siapkan guna bertemu kekasih pujaan hati.


Tak berhenti disitu, saat waktu menunjukkan jam 12.00 tepat sesuai dengan jam yang dijanjikan ia akan dengan semangatnya menanti panggilan dari sang idaman hati. Menunggu dengan khidmat sampai akhirnya hpnya berbunyi. Tak menunggu lama langsung saja panggilan itu dijawabnya dengan segera.


Lalu kemudian berangkatlah ia dengan hati berbunga-bunga menuju tempat kekasihnya. Menemuinya dengan hati yang berseri-seri, dan kemudian bermesraan dengannya hingga sedikitpun tak memikirkan apapun lagi.


Begitupun saat ia mengadakan janji dengan orang yang ia hormati sebagaimana semisal ia mau bertemu dengan seorang presiden. Tentunya ia akan melakukan persiapan dengan sangat maksimal sebelum acara dimulai dan secara tepat waktu hadir untuk menghormati sang presiden tersebut.


Hal inilah yang seharusnya ditumbuhkan dalam diri tiap muslim. Kalau dengan seorang kekasih saja ia bersikap sangat antusias ketika hendak ketemuan, dengan presiden ia persiapkan diri sebelum melakukan pertemuan, bagaimana saat kita hendak bertemu Dzat Yang Maha Indah Raja Diraja yang melebihi semuanya. Yang bahkan rela lima kali dalam sehari memberikan waktu kepada hambanya untuk bersua dengan-Nya.


Layaknya dengan seorang kekasih, hendaknya kita justru lebih mencintai Allah dengan sepenuh hati melebihi para makhluk-Nya. Sehingga bila rasa cinta telah ada di hati kita maka besar kemungkinan ibadah shalat akan kita rasakan begitu nikmat karena merupakan waktu kita bertemu dengan Dzat Yang Maha Pengasih.


Nah, dari sinilah seorang akan bergairah dalam menanti waktu shalat. Mempersiapkan diri dengan maksimal, mandi membersihkan diri kemudian bagaimana ia memilih pakaian terbaik yang hendak ia kenakan saat shalat. Memakai parfum agar menambah performa penampilan, merapikan rambut wajah dan seluruh aspek penampilan.


Hingga kemudian saat panggilan kekasih telah berkumandang (Adzan) ia akan langsung menyambut panggilan itu dan menjawabnya dengan penuh rasa cinta. Hingga saat ia berangkat menuju rumah terkasihnya (masjid), ia pun akan dengan hikmat bercengkrama dengan Tuhan melalui ibadah shalat.


Karena memang shalat adalah waktu kita bermunajat, bercengkrama dengan Tuhan Semesta Alam. Segala fikiran selain Allah ia tinggalkan dan fokus serta khusu’ dikala menghadap Dzat Ilahi.


Setelah selesai shalat pun ia tak akan bersegera pergi namun akan terus-menerus berdzikir memuja menyanjung serta meminta kepada Kekasih hatinya.
Begitulah semestinya perasaan kita saat hendak melakukan shalat. Penuh kesadaran akan cinta dan rasa hormat kepada Dzat yang lima kali dalam sehari telah memanggil kita untuk saling bercengkrama.


Selamat mencintai dan menghormati Allah SWT.
Wallahu a’lam.

35

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.