HomeArtikelToleransi dalam Dakwah

Toleransi dalam Dakwah

0 3 likes 101 views share

Mengapa di kota Kudus hanya ada sate kerbau? Tidak ada sapi? Penjagal sapi juga mungkin tak bisa kita temukan disana. Usut punya usut, konon hal tersebut adalah saksi hidup wujud toleransi yang hingga kini tetap lestari. Sisa-sisa bukti strategi dakwah Sunan Kudus mengislamkan masyarakat kota Kretek tersebut, yang dulunya masih didominasi agama Hindu dan Budha.

Beliau, Sattid Ja’far Shadiq, atau biasa dipanggil Sunan Kudus luar biasa memahami syariat Islam, tabahhur dan alim masalah agama. Dan strategi dakwah yang beliau terapkan jadi bukti kealiman beliau dalam urusan fikih. Kita semua tentu tahu, daging sapi halal hukumnya. Mengkonsumsi daging sapi tidaklah berdosa. Tidak haram. Tapi lantas mengapa beliau melarang para pengikut beliau waktu itu mengkonsumsinya? Ternyata, ini merupakan langkah jitu untuk menarik simpati masyarakat Hindu agar mau mengenal Islam. Dalam ajaran agama Hindu, sapi adalah hewan yang disucikan. Karena menurut keyakinan mereka, sapi menjadi tunggangan dewa Wisnu. Dalam membangun masjid juga beliau sampai meniru arsitektur pura, tempat ibadah orang Hindu. Nyatanya, bentuk bukanlah masalah, yang penting adalah esensinya. Mau dibangun dengan desain seperti apapun, masjid tetaplah masjid.

Beliau memperhatikan adat istiadat dan budaya yang melekat di masyarakat hingga ke sendi-sendinya. Tidak ingin menyinggung hati masyarakat yang terlanjur mengkeramatkan sapi. Akhirnya, strategi beliau berhasil. Meskipun sekarang di Kudus hampir semua orang memeluk Islam, “wasiat” Sunan Kudus tersebut tidak lantas hilang. Hari ini, jika hendak mencari pemeluk agama Hindu di Kudus, anda akan cukup kesulitan. Tapi menyembelih sapi tetaplah jadi hal tabu sampai sekarang.

Startegi semacam ini ternyata pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW juga dahulu dalam berdakwah amat menjaga perasaan masyarakatnya. Beliau tahu betul, bangunan Kakbah waktu itu tidaklah sesuai bentuknya dengan pondasi yang didirikan oleh Nabi Ibrahim AS. Kakbah yang dibangun Nabi Ibrahim AS. bentuknya persegi panjang, bukan kubus. Kakbah jadi berbentuk kubus karena dahulu pernah direnovasi. Namun beliau tidak mau begitu saja mengembalikan bentuk Kakbah kembali seperti pondasi semula. Demi menjaga perasaan penduduk Mekah yang baru memeluk Islam, dan amat mengkeramatkan Kakbah. Ingatkah kejadian ketika peletakan batu hajar aswad pasca pemugaran Kakbah? Hampir-hampir terjadi tumpah darah gara-gara semua orang ingin berebut mengembalikan “sebongkah batu” ke tempat asalnya. Beliau mengutarakan alasannya kepada istri terdekat beliau, Aisyah RA. ”Kalau saja kaummu tidak baru keluar dari kekufuran, niscaya aku sempurnakan Kakbah seperti pondasinya Nabi Ibrahim.”[1]

Dalam berdakwah dulu, sering kali justru Nabi Muhammad SAW mengambil pilihan yang lebih diterima masyarakat, dan mengesampingkan pendapat beliau yang lebih baik. Qadhi ‘Iyadh dalam kitab As-Syifa bi Ta’rifi Huquqil Musthafa membeberkan hal tersebut. “Nabi mengambil keputusan terkait permasalahan dunia, karena alasan menolong umat beliau, berpolitik, atau alasan ketidak mauan beliau akan adanya perpecahan umat, padahal sejatinya beliau punya pendapat lain yang lebih baik.”[2] Qadhi Iyadh mencontohkan keputusan Nabi untuk tidak memusuhi kaum munafik sebagai salah satu buktinya. Padahal beliau sudah tahu seluk beluk dan bagaimana bencinya hati kaum munafik terhadap Islam. Ini dilakukan demi menjaga perasaan kamu muslimin lain yang berkerabat dengan kaum munafik, dan demi menjaga agar jangan sampai muncul persepsi bahwa Nabi Muhammad SAW telah memerangi sahabatnya sendiri.

Nabi telah berwasiat kepada para sahabat beliau,

(اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الترمذي

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kau berada. Susullah perbuatan buruk dengan melakukan kebaikan, maka kebaikan tersebut akan melebur keburukan tadi. Dan berakhlaklah kepada masyarakat dengan budi pekerti yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Menafsiri dawuh Nabi “berakhlaklah kepada masyarakat dengan budi pekerti yang baik”, sahabat Ali KRW mengatakan, “Maksudnya adalah, mengikuti masyarakat dalam segala hal, selain perbuatan maksiat.[3] Senada dengan hal ini, Imam al-Ghazali juga mengartikan husnul khuluq, atau berbudi pekerti luhur sebagai tidak egois memaksakan kehendak masyarakat sesuai kemauan diri sendiri. Akan tetapi husnul khuluq adalah mengalah mengikuti apa yang menjadi kemauan masyarakat, dalam konteks ini adalah mengikuti adat dan budaya, selagi tidak bertentangan dengan syariat Islam.[4]

Kita bisa lihat, apa yang dipraktikkan Sayyid Ja’far Shadiq kepada masyarakat Kudus merupakan pengamalan hadis tersebut sesuai tafsiran sahabat Ali KRW.

Sebagai wujud strategi dakwah, seperti yang telah dijelaskan oleh Syaikh Ramadhan al-Buthy, bahwa hal terpenting yang harus diperhatikan pertama kali bagi pendakwah adalah mendapatkan tanah air. Mendapatkan posisi. Diterima di hati masyarakat. Baru dakwah bisa berlanjut ke fase selanjutnya.

Jika agama sudah sirna dan terkalahkan, tak ada lagi artinya tanah air, harta, benda dan negri. Semua itu akan sirna dengan cepat tanpa keberadaan agama. Sebaliknya, jika agama kokoh, sendi-sendinya berdiri tegak ditengah masyarakat, dan akidahnya kokoh dalam hati para pemeluknya, maka harta benda, tanah dan negri yang dikorbankan dijalannya pasti akan didapatkan kembali. Bahkan semua itu diraih kembali dalam keadaan lebih kuat daripada sebelumnya, karena dilindungi oleh benteng kehormatan, kekuatan, dan kesadaran.”[5]

Berdakwah tentu butuh pengorbanan. Dan percayalah setiap pengorbanan yang kita berikan akan diganti dengan hasil yang lebih baik dan lebih besar. Kadang tak perlu kita mengedepankan simbol dan bentuk. Yang penting adalah esesi dan hakikat.

 

 

[1] Al-Adab as-Syarat Juz 2. Hal 114.

[2] As-Syifa bi Ta’rifi Huquqil Musthafa. Juz 2. hal 200

[3] Mirqatu Shu’udi Tashdiq. Hal 61.

[4] Ayyuhal Walad. Juz 1. Hal 12.

[5] Fiqh Siroh Nabawiy. Juz 1 Hal 92.