HomeArtikelToleransi Sebagai Solusi

Toleransi Sebagai Solusi

0 3 likes 171 views share

Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ 118 إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ 119

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya.” (QS. Hud: 118-119)

Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan (sunnatullah) yang tidak dapat dipungkiri. Al-Qur’an mengakui keniscayaan perbedaan yang ada di alam semesta, termasuk perbedaan dalam beragama dan pandangan keagamaan. Sebagaimana ungkapan Ismail bin Umar bin Katsir dalam kitabnya, Tafsir Ibnu Katsir:

وَلَا يَزَالُ الْخُلْفُ بَيْنَ النَّاسِ فِيْ اَدْيَانِهِمْ وَاعْتِقَادِ مِلَلِهِمْ وَنِحَلِهِمْ وَمَذَاهِبِهِمْ وَآرَائِهِمْ

Tidak akan hilang perbedaan di antara umat manusia dalam beragama, keyakinan keagamaan, madzhab, dan pandangan keagamaan mereka”.[1]

Kenyataan yang seperti ini secara otomatis akan membutuhkan kedewasaan berpikir untuk menyikapinya. Ahlussunnah wal Jama’ah ketika menyikapi perbedaan tersebut lebih mengedepankan sikap menyayangi dan toleransi, merajut tali persaudaraan serta membangun hubungan yang harmonis, karena inilah sikap Islam yang sebenarnya. Terbukti, Imam as-Syathibi dalam salah satu kitabnya, al-Muwafaqat, mengatakan:

أَنَّ اْلِإسْلَامَ يَدْعُوْ اِلَى الْأُلْفَةِ وَالتَّحَابِّ وَالتَّرَاحُمِ وَالتَّعَاطُفِ فَكُلُّ رَأْيٍ اَدَى اِلَى خِلَافِ ذَلِكَ فَخَارِجٌ عَنِ الدِّيْنِ

Sesungguhnya agama Islam itu mengajak untuk saling menciptakan keharmonisan, mencintai, menyayangi, dan berbuat lembut. Maka setiap pemikiran yang menyalahi beberapa hal tersebut dianggap keluar dari ajaran agama”. [2]

Namun sayang, oleh sebagian kalangan sikap seperti ini terkadang dipahami sebagai upaya menebar paham pluralisme agama dalam artian semua agama benar. Anggapan itu justru sangat keliru. Karena sebenarnya sikap toleran (Tasamuh) adalah cerminan nyata dalam menunjukkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Jawaban ini didasari atas pemahaman mengenai toleransi dalam konteks sosial dan budaya yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda pandangan.

Walaupun demikian, dalam menerapkan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk perlu memperhatikan batas-batas yang telah ditetapkan syariat. Salah satunya ialah tidak melampaui koridor akidah sehingga terjerumus dalam kekufuran, keharaman, dan penyimpangan dari paham Ahlussunnah wal Jama’ah. []waAllahu a’lam

 

___________________

[1] Tafsir Ibnu Katsir, I/391, Maktabah Syamilah.

[2] Al-Muwafaqat, IV/463.