Tugas Santri untuk Negeri

Tugas Santri Untuk Negeri

Indonesia adalah negera dengan tingkat kemajemukan dan pluralitas yang tinggi. Bangsa besar yang melingkup 17.504 pulau ini, terdiri dari berbagai ragam agama, suku, dan budaya. Untuk mewadahi kemajemukan tersebut, didirikanlah sebuah negara kesatuan. Negara kesatuan merupakan sebuah wadah yang melindungi dan menyatukan seluruh aspek kehidupan sosial.

Keputusan memilih negara kesatuan tersebut, merupakan pilihan paling tepat dan maslahat dalam mewadahi dan mengakomodir ide persatuan sebuah bangsa yang plural dan majemuk.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila sebagai hasil perjuangan yang melelahkan, menguras tenaga, dan pemikiran para pendiri bangsa, mendapatkan berbagai tantangan dan terus diuji eksistensinya. Bisa dirasakan sampai sekarang, rongrongan dari berbagai pihak terus menerus menggerogoti sejak awal pembentukan NKRI dan perumusan Pancasila.

Dalam sebuah rekam jejak penelitian, gerakan Islam trans-nasional telah berhasil melakukan infiltrasi pembanding ke dalam dakwah NU dan Muhammadiyah. Tamsilnya, pada permasalahan penyerobotan masjid secara bengis dalam tingkat yang cukup memprihatinkan. Islam trans-nasional ini, cenderung berpotensi mengancam Pancasila, UUD 45’ serta keutuhan NKRI.

Maka, dari balik “tembok kokoh” pesantren, secara langsung mapun tidak, para santri secara continue menggelar telaah ilmiah atas berbagai persoalan yang terjadi hari ini, meningkatnya sentimen SARA, ujaran kebencian, perundungan dan lain sebagainya untuk membuat problem solving yang tidak berhenti hanya sebagai gagasan dan cita-cita.

Semua itu dilakukan sebagai bentuk dari konsistensi Pesantren dalam menjaga umat agar tetap istiqomah dalam menjalankan dan melestarikan ajaran Ahlussunnah wal jama’ah ala Nahdlatul Ulama guna mewujudkan sebentuk masyarakat yang kosmopolitan, baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur.

Kawah Candradimuka

Seperti sebuah “kawah candradimuka”, Pesantren adalah sebuah tempat menempa karakter, emosi, pengetahuan, sekalingus sikap manusia agar kelak—ia siap menghadapi kehidupan dengan intelektual keilmuan yang dimilikinya. Dalam dunia pewayangan, “kawah candradimuka” dikenal sebagai tempat penggodokan Gatot Kaca.

Hal tersebut diimplikasikan—agar kelak ia menjadi sosok yang kuat, berotot kawat, dan tahan banting, serta dapat terbang tinggi di samudra angkasa. Demikian sama halnya dengan pesantren, santri dididik sedemikian rupa dengan pola kulturnya, dengan harapan—kelak memiliki pengetahuan luas dan pemahaman yang mendalam terhadap ilmu agama untuk disebar dan diamalkan.

Selain menjadi manusia saleh, maka seorang santri mempunyai tugas (yang sebenarnya integral sebagai suatu proses untuk menjadi manusia saleh) untuk menjaga kerukunan dalam berbangsa dan bernegara sebagai pengejawentahan atas prinsip pendidikan pesantren, ‘anfauhum linnas. Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan dakwah diantaranya:

Pertama, perlunya keahlian (kepekaan) melihat kondisi kebutuhan, titik lemah masyarakat, faktor lingkungan—juga keahliannya dalam memanfaatkan potensi yang dimiliknya.

Sebab, dakwah merupakan wujud interaksi sosial dengan masyarakat yang tentu beragam tabiat yang dimiliki dalam pembawaan setiap individu. Kepekaan dan sikap kritis terhadap persoalan yang dihadapi, dapat membantunya dalam menentukan sikap bijak atas kondisi dan situasi yang sedang dituju.

Kedua, Berdakwah dengan kelemahlembutan dan jiwa pitutur sejuk yang dapat membawanya untuk lebih dapat diterima dikalangan masyarakat.

Kelemahlembutan harus mewarnai proses dalam berdakwah. Dan melalui jiwa pitutur yang sejuk, dapat mengajak masyarakat untuk tidak bersikap anarki. Sehingga dapat mempengaruhi mereka agar tetap patuh pada pemerintah dan melarang untuk memberontak pemerintahan yang telah ditetapkan kesahannya.

Walaupun ada sebuah landasan jika ada perbuatan pemimpin yang menyimpang—membuatnya pantas untuk dibenci oleh rakyatnya. Namun Rasulullah Saw. dengan tegas memperingatkan bahwa betapapun seorang pemimpin salah dan menyeleweng, pembiaran berupa sabar dan tetap taat terhadapnya adalah hal yang lebih urgen untuk ditampakkan.

Pembiaran bukanlah bagian dari kerelaan kita kepada hal munkar (ridha bil munkar). Peringatan Rasulullah ini harus kita terjemahkan sebagai bentuk dakwah antisipatif sekaligus orgesif. Rasulullah mencoba memberi tahu kepada kita untuk lebih memilih meminimalisir dampak buruk dari suatu kasus daripada mempersalahkan, menumbangkannya secara terang-terangan, apalagi menggunakan tindakan frontal dan radikal dalam sebuah tindakan. Bagaimanakah sikap seharusnya yang kita pilih, jika kondisi seorang pemimpin seperti diatas?.

Tindakan yang harus kita tempuh adalah cara memilih suatu perkara yang memiliki resiko dharar terendah dari pada mengambil suatu maslahat, akan tetapi berdampak pada dharar yang lebih besar.

Ketiga, Melestarikan tradisi budaya lokal yang tidak bertentangan.

Berdakwah di area kebhinekaan masyarakat tidak bisa tidak; wajib untuk menghargai tradisi budaya lokal.

Keempat, pemupukan rasa nasionalisme.

Agar paham ke-Islaman dan paham kebangsaan berjalan bersama, jika paham ke-Islaman dan paham kebangsaan tidak bergandengan, maka gejolak konflik Negara akan lahir. Dari sikap ini, akan memunculkan mengamankan pengertian yang benar tentang arti Pancasila dan pengamalannya yang murni. Memberikan pemahaman pada lapisan masyarakat—bahwa Pancasila dan Islam bukanlah dua hal yang harus dipilih satu dan membuang yang lain.

Keduanya harus berjalan beriringan dan saling mengukuhkan. Tidak bertentangan dan juga tidak boleh dipertentangkan. Pancasila dan agama Islam, berjalan dan tidak saling mengalahkan, bahkan keduanya saling menjunjung, saling mempererat dalam keutuhan, melengkapi dalam bingkai kenegaraan.

Tugas yang terakhir ialah menyikapi perbedaan dengan akhlaqul karimah dan berusaha semaksimal mungkin agar perbedaan tidak menimbulkan perpecahan, permusuhan, pertengkaran saling mencela, dendam antar berbeda kolompok. Dengan begitu, perbedaan diaplikasikan untuk saling melengkapi kekurangan.

Sebab ihwal inilah, santri akan berhasil menjadi ‘anfauhum linnas. Dan seseorang yang memiliki pandangan yang luas, akan lebih adatif terhadap perkembangan situasi zaman, tempat, dan waktu yang terus berjalan. Ia akan menjadi cahaya penuntun pagi siapa saja yang dikehendakiNya untuk merawat dan melestarikan kehidupan yang adil dan beradab.[]

*Penulis Siti Nuriah santri Pondok Unit Putri Mubtadi’at Lirboyo, asal Pandeglang, Banten.

Baca juga:
– BELAJAR SABAR DARI ANAK KECIL

Subscribe juga channel kami di:
Pondok Pesantren Lirboyo

Tugas Santri untuk Negeri. Tugas Santri untuk Negeri. Tugas Santri untuk Negeri. Tugas Santri untuk Negeri. Tugas Santri untuk Negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.