173 views

Ulama Jawa yang Melahirkan Banyak Karya Tulis

Sebagai orang pecinta sejara, pernahkah membaca kitab “Ahla al-Musamarah”? Kitab ini memiliki muatan isi tentang sejarah Walisongo, Mojopahit, dan Demak. Narasi yang dibangun dengan bahasanya yang mudah, membuat para pembacanya seakan-akan terbawa suasana di masanya. Kitab ini sangat layak untuk dibuat sebagai kajian oleh para ahli sejarah khususnya tentang sejarah tanah Jawa.

Silsilah

Pengarang dari kitab tersebut asli orang Jawa, bernama Mbah Fadhol Senori. Nama asli beliau adalah Abu Fadhol. Beliau lahir di Sedan, Rembang Jawa Tengah.

Beliau merupakan putra kedua dari pasangan Kyai Abdul Syakur dan Nyai Sum’iah. Ayah Mbah Fadhol sendiri ternyata pernah mengenyam pendidikan di tanah Hijaz pada kurun masa yang sama dengan Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari. Kyai Abdul Syakur sendiri dikenal sangat alim, sama seperti Kyai Hasyim Asy’ari. Namun kealimannya tidak semasyhur Mu’asis Nahdlotul Ulama itu.

Pengembaraan keilmuan

Sejak kecil, Mbah Fadhol sudah dianugerahi kecerdasan yang luar biasa. Awal menempuh pendidikannya, beliau belajar kepada ayahnya sendiri sampai menguasai ilmu alat (Nahwu dan Shorof) secara mendalam. Bahkan pada usia 11 tahun, beliau sudah hafal Alfiyah Ibnu Malik[1]. Kemudian pada usia 18 tahun dalam waktu 3 bulan sudah hafal al-Qur’an. Dari sini sudah terlihat jelas, bagaimana kecerdasan beliau dalam menguasai berbagai bidang keilmuan.

Setelah menimba ilmu kepada ayahnya, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di bawah asuhan Hasyim Asy’ari untuk mendalami hadis.

Pernikahan

Mah Fadhol menikah dua kali. Pertama dengan Nyai Masihiyyah asal Sedan, Rembang, yang hanya bertahan empat tahun. Kemudian beliau mempersunting yang kedua dengan Nyai Syariati binti Kyai Jadid. Setelah pernikahan yang keduanya, beliau menetap di Senori, Tuban. Dari pernikahan kedua ini, beliau dikaruniai tujuh anak.

Pekerjaan

Dalam mencari maisyah, beliau dikenal bekerja secara serabutan, bergonta-ganti dan tidak menetap. Beliau pernah menjadi tukang jahit, berjualan benang dan kain, tukang reparasi sepeda ontel dan sepeda motor, bos becak, membuat rokok, reparasi alat elektronik, dan sebagainya.

Pada saat pekerjaannya mulai berkembang, beliau langsung berhenti dari pekerjaan tersebut kemudian beralih pada pekerjaan lainnya, begitu seterusnya.

Pekerjaan yang tidak menetap ini tidak lain bertujuan ketidakinginan beliau cinta akan dunia. Beliau lebih memilih zuhud sebagai jalan hidup.

Mengasuh Pondok Pesantren

Di samping bekerja, keseharian beliau juga diisi untuk mengajar ngaji sekaligus menjadi pengasuh pondok pesantren. Bisa dikatakan murid beliau tidak banyak. Beliau berpandangan agar pengajiannya dapat fokus dan dapat diserap secara meksimal tentang pekajaran yang beliau ajarkan kepada murid-muridnya.

Di antara santri yang pernah belajar kepada beliau adalah KH. Abdullah Faqih (Langitan), KH. Hasyim Muzadi, KH. Maimoen Zubair, KH. Habibulloh Zaini.

Penulis yang produktif

Mbah Fadhol dikenal sebagai ulama yang banyak sekali melahirkan karya tulis. Jika dikalkulasi, karangan beliau mencapai puluhan. Akan tetapi, pada satu waktu desa beliau mengalami banjir yang besar. Ini merupakan imbas dari genangan sungai bengawan solo yang menimpa daerah Senori. Akibatnya, banyak karangan Mbah Fadhol yang hilang tergenang dan tersapu oleh arus banjir.

Kitab beliau yang tersisa dan sering dikaji sampai sekarang di antaranya;

  1. Ahlal Musamarah fi Hikayah al-Auliya’ al-Asyrah;
  2. Al-Kawakib al-Lama’ah;
  3. Syar hal-Kawakib al-Lama’ah;
  4. Al-Dur al-Farid fi Syarh Alfiyah ibn Malik;
  5. Tashil al-Masalik Syarh Alfiyah ibn Malik;
  6. Kasyf al-Tabarih fi Sholah al-Tarawih;
  7. Kifayah al-Thulab fi al-Qowaid al-Fiqhiyah;
  8. Al-Wardah al-Bahiyahfi Bayan al-Ishthilahat al-Fiqhiyah;
  9. Al-Durrah al-Saniyah fi Ilm al-Nahwu;
  10. Kaifiyah al-Thulab fi Ilm al-Nahwu; dan masih banyak lagi.

Dalam satu sumber mengatakan; setiap kali merampungkan kitab yang telah ditulisnya, beliau kemudian mentashihkan krangan kitabnya kepada kakaknya yang bernama Kyai Abul Khoir. Meskipun dalam keilmuannya, Mbah Senori justru lebih alim daripada kakaknya. Perihal ini, Mbah Fadhol dikarenakan rasa ta’dzim dan hormatnya beliau kepada kakaknya melebihi pandangan kealimannya.[2]

Wafat

Mbah Fadhol wafat pada tahun 1991 M. Dimakamkan di Senori, Tuban.

Penulis: Pika B. Arbiyan

Baca juga: Menyoal Kisah Israiliyyat
Tonton juga: Teladan Almahgfurlah KH. Marzuqi Dahlan Pengasuh Pondok Lirboyo


[1] Kitab ini terkenal berat dalam penguasaan pemahaman tentang ilmu nahwu dan shorofnya.
[2] Disampaikan oleh salah satu kerabat Mbah Fadhol yang tidak mau disebutkan namanya.

Ulama Jawa yang Melahirkan Banyak Karya Tulis
Ulama Jawa yang Melahirkan Banyak Karya Tulis

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.