Upacara Pemberangkatan Jenazah

Lirboyo.net | Tuntunan Ibadah Tentang Prosesi Pemakaman

Dalam kesempatan ini, admin akan mengulas mengenai prosesi upacara pemberangkatan jenazah, sebuah tradisi yang telah menjadi bagian integral dari budaya masyarakat Jawa.

Meskipun demikian, masih banyak yang belum mengetahui tujuan di balik pelaksanaan upacara ini.

Tujuan Upacara Pemberangkatan Jenazah

Tujuan Prosesi Upacara Jenazah
Unplash.com

Salah satu adat yang umum dilakukan oleh komunitas Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) adalah upacara pemberangkatan jenazah yang dilanjutkan dengan pendampingan hingga ke tempat pemakaman. Upacara ini biasanya diawali dengan pidato dari pihak keluarga.

Tujuan dari pidato tersebut adalah untuk memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan oleh si mayyit selama hidup, serta untuk memohon doa agar amal kebaikannya diterima oleh Allah SWT.

Selanjutnya, keluarga juga memohon kesaksian baik tentang perilaku si mayyit selama berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Hal ini merujuk pada ajaran Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa mayyit yang mendapatkan kesaksian baik akan masuk surga, sementara yang mendapatkan kesaksian buruk akan mendapat siksa. [1]

Pada akhir acara, sebelum jenazah diantarkan menuju pemakaman, upacara ditutup dengan doa.

Kalimat yang Dibaca Ketika Mengiring Jenazah

Prosesi Upacara Pemberangkatan Jenazah
pexels.com

Dalam perjalanan ketika mengiring jenazah ke pemakaman, para pengiring umumnya mengumandangkan kalimah thayyibah dengan menggunakan lagu khas yang terkait dengan kematian, disertai suara yang melankolis.

Seruan ini memiliki kekuatan untuk menggetarkan hati dan mengingatkan setiap orang bahwa kematian tidak dapat dihindari.

Kalimat thayyibah yang biasa digangkan ketika mengiring jenazah adalah kalimat tahlil, yang berbunyi:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata.”

Pro Kontra Melafadzkan Kalimat Thayyibah Ketika Mengiring Jenazah

Prosesi Pemberangkatan Jenazah
pexels.com

Dalam menyampaikan kalimat thayyibah ketika mengiring jenazah, seringkali muncul pro dan kontra di kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) dan kelompok yang menentangnya.

Pertanyaan mendasar muncul: apakah tradisi membaca kalimat thayyibah yang telah berakar sejak zaman nenek moyang merupakan anjuran agama, ataukah hanya merupakan tradisi dari masa lampau yang diagamakan?

Perlu pemahaman yang mendalam mengingat banyak kritik terhadap tradisi pemakaman yang semakin meluas, dengan tuduhan takhayul, bid’ah khufarat, yang menghantam ajaran teologi Aswaja.

Beberapa literatur fikih menyatakan bahwa saat mengiring jenazah, disarankan untuk bersikap diam dan lebih banyak merenungkan kematian yang akan datang. Juga, disarankan untuk memikirkan persiapan diri menghadapi Allah di Hari Esok.

Maka, dari mana asal-usul komunitas Aswaja mengadopsi tradisi membaca kalimat thayyibah sebagai bagian dari upacara pemakaman?

Menanggapi hal ini, Syaikh Ibnu ‘Allan menyatakan:

فالذي أختاره أنّ شغل أسماعهم بالذكر المؤدي إلى ترك الكلام وتقليله أولى من استرسالهم في الكلام الدّنيويّ ارتكابا بأخف ضررين

Artinya: “Aku cenderung memilih pendapat bahwa mengisi pendengaran dengan bacaan zikir dapat menolong orang-orang agar tidak membicarakan hal-hal duniawi. Yang demikian lebih utama daripada membiarkan mereka membicarakan masalah duniawi. Sesuai dengan kaidah, memilih yang lebih kecil mafsadahnya.”[2]

Selain argumen di atas, sebuah hadis Riwayat al-Imam al-Hafiz az-Zali’i dalam kitab Nasbu ar-Raayah fi Takhrij Ahadisi al-Hidayah menyebutkan:

عن ابن عمر، قال‏:‏ لم يكن يسمع من رسول اللّه ـ صلى اللّه عليه وسلم ـ، وهو يمشي خلف الجنازة، إلا قول‏:‏ لا إله إلا اللّه، مبديًا، وراجعًا، انتهى‏.‏

Artinya: “Sahabat Ibnu Umar berkata: ‘Kami tidak mendengar dari Rasulullah SAW saat beliau berjalan mengiringi jenazah, kecuali kalimat laa ilaaha illalah secara jelas dan diulang ulang.(HR. Ibnu ‘Adi)

Kesimpulan Hadis

Prosesi Pemberangkatan Jenazah
pexels.com

Hadis di atas mengandung dua kesimpulan:

  1. Zikir yang dibaca Rasulullah SAW saat mengiring jenazah adalah kalimat thoyyibah.
  2. Saat Rasulullah SAW membaca zikir, sahabat dapat mendengarnya. Hal ini membuktikan bahwa saat Rasulullah membaca zikir sebenarnya bukan dengan suara pelan, tapi dengan suara keras.

Melalui kajian ini, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan mengantar jenazah sambil mengucapkan kalimat thoyyibah adalah tradisi masyarakat yang berakar pada prinsip-prinsip moralitas yang diikuti oleh Rasulullah SAW, bukan hanya merupakan warisan tradisional semata.

Oleh karena itu, pandangan dari pihak lain yang menganggap tradisi ini sebagai bid’ah dhalalah yang dilarang dalam agama tidak dapat benarkan.

[1] Ibnu Hajar al-Haitamy, Fath al-Bari (CD: Maktabah Syamilah), 440/II
[2] Muhammad bin Allan as-Shiddiqy, Al-Futuhat ar-Rabbaniyyah ‘ala al-Adzkar an-Nawawiyah (Beirut: Dar al-Fikr, 1978), 183/IV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.