HomeSantri MenulisWesternisasi dalam Pendidikan Islam di Indonesia (Bag-1)

Westernisasi dalam Pendidikan Islam di Indonesia (Bag-1)

0 3 likes 606 views share

Pendidikan Islam di Indonesia mengalami krisis dewasa ini. Mental gagah para terdidik muslim dalam mengacuhkan dunia kebendaan dan pasrah dalam penghambaan kepada Tuhan, menjadi rikuh dan gagu di hadapan realitas kemodernan. Konsep-konsep dasar yang diperjuangkan Walisongo lewat langgar, dan para penerusnya lewat pesantren, retak dan hampir tumbang. Modernitas, sebuah wacana mutakhir yang salah satu ujungnya adalah materialisme, tidak dapat diterjemahkan, lalu dipahami dengan baik oleh muslim. Tujuan pendidikan dewasa ini bukan lagi untuk menyemaikan hubungan mesra antara batin dengan sang Khalik, tetapi lebih kepada pertimbangan-pertimbangan duniawi dan materialistik.

Sementara, pola dan kebijakan pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat lepas dari apa yang diilustrasikan oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Kedatangan Belanda yang membawa kemajuan teknologi, pada saat yang sama dibenci oleh kaum santri. Karena, di samping membawa manfaat teknologi, mereka menyertakan penghancuran mental muslim Nusantara lewat pembaratan nilai (westernisasi). Nilai-nilai Barat (western) dinilai membahayakan karena banyak tema-tema buruk yang menjadi ujung tombak. Rasionalisme, empirisme, dan materialisme didewakan oleh para intelektual Barat sebagai akar-akar kebahagiaan. Nilai-nilai ini bertolak belakang dengan apa yang sedang diperjuangkan kiai, santri dan pesantren. Iming-iming berupa kekuasaan dan kekayaan material dari Barat membuat pribumi, yang telah sengsara fisik dan batin selama ratusan tahun, mengalihkan pandangan mereka dari pendidikan pesantren menuju sekolah ala Belanda. Dampaknya, kiai, santri dan pesantren yang sebelumnya menjadi kekuatan utama dalam menolak kehadiran penjajah, menjadi usang dan terpinggirkan. Tanggungjawab penanaman nilai moral dan etika yang sebelumnya diemban oleh para kiai, tidak mampu diteruskan oleh pemimpin-pemimpin lembaga pendidikan baru, yakni para lulusan sekolah Barat.

Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam Indonesia

Islam, atau Timur—dalam dikotomi Timur-Barat sementara pakar sejarah—pernah memberi pengertian pada “ilmu pengetahuan” secara rinci dan sistematis. Al-Ghazali, dengan berpijak pada pengalaman intelektual dan spiritualnya yang serius lagi panjang, menuliskan pengertian-pengertian itu di beberapa lembar kitab Ihya.

Pertama-tama, ia menyebut perlunya membagi ilmu pengetahuan berdasar pada seberapa penting peran ilmu itu dalam mewujudkan kebutuhan-kebutuhan manusia. Kebutuhan (al-marghub ilaihi) itu bisa jadi kepingan emas, atau kebutuhan duniawi yang lain. Namun Al-Ghazali kemudian mewanti-wanti umat muslim bahwa ihwal duniawi, yang terindera dan bersifat kebendaan, tidaklah patut untuk dijadikan kebutuhan, lalu dengan masif diperjuangkan[1].

Hanya satu hal bagi Al-Ghazali yang layak untuk benar-benar diperjuangkan: pertemuan dengan dzat Tuhan. Pertemuan ini pada hakikatnya akan muncul dalam rupaan kedamaian sejati (al-sa’adah fi al-akhirah) dan nikmatnya berhadap-hadapan denganNya (ladzat al-nadhri li wajhillah). Pada satu titik inilah segala ilmu pengetahuan harus bermuara. Jika tidak, maka tak akan berarti apa-apa selain sebuah kesia-siaan.

Sementara itu, Prof. Naquib al-Attas memberikan gambaran singkat tentang tujuan ilmu, yang inheren dengan kepentingan adab:

“the purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man…the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”[2]

 

[1] Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din, (Surabaya: Al-Haramain), hlm. 15.

[2] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), hlm. 150-151.

<h2 style=”color: white; background-color: green;”>Bersambung ke <a href=”https://lirboyo.net/westernisasi-dalam-pendidikan-islam-di-indonesia-bag-2/”>Bagian II</a></h2>

 

Penulis, Farhan Al-Fadhil, Syukron Hamid, Hisyam Syafiq, III Aliyah, Pemenang II Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Presentasi Ponpes Lirboyo, Maret 2017.