Biaya Kuota Smart Phone Dan Kosmetik Bagi Istri

Biaya Kuota Smart Phone Dan Kosmetik Bagi Istri

Di era milenial, Kuota Smart Phone sudah menjadi salah satu kebutuhan setiap harinya. Aktifitas setiap hari yang tidak terlepas dari Smart Phone membuat pengguna “kotak ajaib” ini membutuhkan kuota untuk biaya operasionalnya.
Sementara itu sejak dulu bagi kaum hawa, kosmetik, scren care dan tetekbengeknya adalah benda wajib yang harus ada di depan kaca hias mereka.
Setelah menikah, pada umumnya biaya hidup setiap hari perempuan akan ditanggung oleh suaminya sebagai bentuk tanggung jawab seorang laki-laki atas perempuan yang telah ia halalkan.
Bermaksud untuk mengulas sedikit tentang salah satu kewajiban suami saat menikah, penulis ingin menyampaikan tentang apa saja yang menjadi kewajiban suami atas istrinya terkait nafkah. Apakah kuota dan kosmetik termasuk nafkah yang wajib diberikan kepada istri? Berikut penjelasan singkatnya.

Kewajiban suami setelah menikahi istrinya adalah memberi Nafkah. Dalam KBBI kata Nafkah memiliki arti bekal hidup sehari-hari. Kata Nafkah sendiri serapan dari kata arab Nafaqoh yang memiliki arti mengeluarkan. Dalam istilah Fiqh Nafaqoh diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan manusia tanpa berlebihan.

Dalam rumah tangga kewajiban memberi Nafkah dibebankan kepada suami sebagaimana bunyi ayat Al-Quran;

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

“Dan bagi para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.”

Rosululloh saw suatu saat juga pernah berpesan;

فَاتَّقُوْا اللهَ فِيْ النِّسَاءِ فَإنَّكُمْ أخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوْطِئَنَّ فَرْشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُوْنَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبْرِحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

“Bertakwalah kepada Allah SWT. dalam urusan perempuan, sesungguhnya kalian mengikat mereka dengan amanah Allah SWT. Dan kalian menghalalkan tubuh mereka dengan kalimat Allah SWT, kalian berhak melarang mereka tidur dengan orang lain. Apabila mereka melakukan tindakan yang demikian itu maka pukullah mereka tanpa menyakiti. Dan wajib atas kalian menanggung rizki dan pakaian mereka dengan baik.”

Dalam kajian Fiqh kewajiban Nafkah atas suami untuk istrinya tergolong dalam dua jenis; pertama, pemberian meliputi; Makanan pokok beserta lauk pauknya, camilan, perabot rumah dan alat mandi. Kedua, fasilitas meliputi; Tempat tinggal dan asisten rumah tangga andai sang istri dari kalangan orang yang biasa dilayani.

Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Khotib as-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj,

وَلَمّا أَبَاحَ اللَّهُ تَعَالَى لِلزَّوْجِ أنْ يَضُرَّ الْمَرْأةَ بِثَلَاثِ ضَرائِرَ ويُطَلِّقَهَا ثَلَاثًا جَعَلَ لَهَا عَلَيْهِ ثَلاثَةَ حُقُوْقٍ مُؤَكَّدَاتٍ: النَّفَقَةَ، والكِسْوَةَ، وَالإسْكَانَ وَهُوَ يَتَكَلَّفُهَا غَالِبًا، فَكَانَ لَهُ عَلَيْهَا ضِعْفُ مَا لَهَا عَلَيْهِ مِنَ الحُقُوْقِ لِضْعْفِ عَقْلِهَا، وَالحُقُوْقُ الوَاجِبَةُ بِالزَّوْجِيَّةِ سَبْعَةٌ: الطَّعَامُ، وَالإدَامُ، وَالكِسْوَةُ، وَآلَةُ التَّنْظِيْفِ، ومَتَاعُ البَيْتِ، والسُّكْنَى، وَخَادِمٌ إنْ كانَتْ مِمَّنْ تُخْدَمُ

“Allah SWT. telah membolehkan suami untuk memadu istrinya dengan tiga madu dan mentalak istrinya dengan tiga hak talak. Maka dari itu Allah SWT. memberi mereka tiga hak; nafkah, pakaian dan tempat tinggal. Dan suami umumnya mengusahakan hal itu. Sehingga suami berhak atas sesuatu yang sesuai dengan hak yang didapat istri. (Pembagian hak dan kewajiban yang demikian) sebab lemahnya akal istri. Adapun hak yang wajib sebab hubungan suami istri ada tujuh. Makanan pokok, lauk pauk, pakaian, alat mandi, perabot rumah, tempat tinggal dan pelayan andai istri adalah orang yang biasa dilayani.”

Semua kategori nafkah di atas merupakan nafkah yang tsabitah (yang sudah menentu, tertakar) dan diperlukan setiap harinya secara berkala. Sehingga kebutuhan yang tidak menentu dan tidak dibutuhkan setiap harinya melainkan hanya dalam beberapa keadaan maka tidak tergolong dalam nafkah yang wajib.