KH. Abdulloh Kafabihi: Dewasa dalam Menghadapi Tahun Demokrasi

demokrasi dan politik

Lirboyo.net,- Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi: Dewasa dalam Menghadapi Tahun Demokrasi

Kerukunan adalah Perintah Allah

Kerukunan harus kita bangun. Tanpa kerukunan, kita tidak akan kuat, tidak akan mendapatkan rahmat dan barakah dari Allah.

Orang rukun adalah perintah Allah.

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ

“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Makna sebuah Perbedaan

Adapun perbedaan itu pasti.

اختلاف الأئمة رحمة

Artinya: “Perbedaan di antara pemimpin adalah rahmat.”

Ada orang yang jadi alim. Ada yang bodoh, ada yang tukang batu. Ini ada hikmahnya. Coba bagaimana kalau alim semua. Bagaimana kita belajar-mengajar?

Baca Juga: Kiai Anwar; Pesantren dan Memperjuangkan Kemerdekaan

Pesta Demokrasi

Sebentar lagi kita menghadapi pemilu, pilpres . Kita harus memaklumi perbedaan. Jangan sampai perbedaan pilihan, kita menimbulkan konflik. Masak lima tahun kita bertengkar terus. Perbedaan tidak bisa kita hindari.

Sampai di suatu daerah, kalau bukan dari kelompoknya, tidak boleh jadi imam masjid tidak boleh jadi khatib. Ini berbahaya.

Kita akan lemah. Apalagi baru-baru ini ada pembenturan antara ulama dan habaib. Dulu antara Banser dan FPI.

Dalam menghadapi pilpres, kita harus dewasa.

العلماء إذا دخلوا فى السياسة لا يجوز لهم بينهم العداوة

Artinya: “Ulama bilamana masuk ke ranah politik, maka tidak boleh saling menimbulkan permusuhan. Saling hasad. Saling dengki.”

Kita pemilihan umum itu juga melakukan ibadah. Untuk memilih pemimpin. Pemerintahan. Bilamana ini dikotori dengan meremehkan yang lain, menghujat yang lain, maka nilai ibadah akan hilang. Kita akan rugi sendiri.

Baca Juga: Ijazah Sholawat dan Do’a KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Dewasa dalam Demokrasi

Kita harus dewasa dengan perbedaan-perbedaan. Kita lelah terus menerus konflik.

Mengishlahkan itu sangat sulit. Mendamaikan ini yang sulit. Padahal kita diperintah oleh Allah untuk mendamaikan.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS. Al-Hujurat: 10)

والصلح خير

Artinya: “Perdamaian itu lebih baik.”

Perdamaian

Mendamaikan orang muslim itu pahalanya besar.

Mahrus Aly pernah mendamaikan konflik di Probolinggo. Di Jember juga. Tokoh di sana mengatakan, “Ini kalau bukan KH Mahrus Aly, tidak bisa mendamaikan.”

Artinya, sudah menjadi tugas kiai supaya mendamaikan orang yang konflik. Jangan sampai kita menambah permasalahan, problem dan lain-lain.

Baca Juga: Sampaikan Risalah dan Do’akan Guru

Politik dan Demokrasi

Presiden berhubungan dengan rakyat. Bilamana rakyatnya fi thaatillah, maka Allah akan kasih pemimpin yang baik. Artinya, siyasah kita siyasah kebangsaan. Siapapun pemimpinnya kita wajib menaati.

Politik kekuasaan tidak sepele. Tidak main-main.

Tonton juga:  MEMPERINGATI 1000 HARI WAFATNYA KH. A. HABIBULLAH ZAINI

Contoh saja di Saudi dulu, ahlussunnah berkembang. Aswaja boleh diajarkan di masjid. Boleh sowan ke sayyid Muhammad al-Maliki. Sekarang dilarang.

Di Iran dulu ahlussunnah berkembang. Imam Ghazali dari Iran. Imam Syairazi dari Iran. Sekarang dikuasai Syiah, ahlussunnah dimarjinalkan. Dipinggirkan.

Kita mengalami orde baru, NU dimarjinalkan. Depag kalau bukan partai mereka, dicopot. Pegawai kalau bukan partai mereka, langsung dicopot. Inilah pentingnya politik kekuasaan.

Peran Nahdlatul Ulama

Sebab demikian Indonesia sejarahnya. Dulu ulama mengusir Portugis, Jepang, Belanda. K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Jihad untuk mengusir penjajah. Bukan tidak mungkin jika tidak ada K.H. Hasyim Asy’ari, kita akan tetap dijajah.

KH. Wahab Hasbulloh ditanya, “Mengapa repot-repot mengurusi NU?” “Kamu bisa maulidan, ziarah kubur, madrasah, sebab saya melakukan siyasah.”

Bahkan makam Nabi Muhammad saw. boleh diziarahi oleh seluruh umat islam di dunia, itu berkah siyasah yang dilakukan K.H. Wahab.

Siyasah kebangsaan, siyasah keagamaan, itu penting. Tapi sesuai dengan porsi masing masing. Kiai yang thariqah, silakan konsentrasi di thariqahnya masing-masing.

Baca Juga: Do’a KH. M. Anwar Manshur Kepada Santri Diberikan Kemudahan Ziarah Ke Baitullah

KH. Mahrus Aly pernah mencegah para kiai thariqah untuk ikut di ranah siyasah, “Sudah, kiai thariqah menghadap kepada Allah saja. Berdoa. Jika dikabulkan, maka kita akan diberikan pemimpin yang baik.”

Menghina Pemerintah

Kadang kita latah, kiai jika masuk pemerintah dianjing-anjingkan. Ini kan terlalu. Kiai itu punya niat yang baik.

Kalau semua kiai yang dekat dengan pemerintahan dianggap anjing, bagaimana dengan Rasulullah yang memegang pemerintahan? Sahabat Abu Bakar memegang pemerintahan. Sahabat Umar memegang pemerintahan. Sahabat Utsman memegang pemerintahan. Sahabat Ali memegang pemerintahan.

Tokoh dekat dengan pemerintah, asal tidak menjual agama, itu baik-baik saja.

Ridha Guru

Kita harus husnuzhan kepada para ulama. Ini ajaran Islam. Dan ujung dari ajaran Islam adalah cinta kepada Allah. Bilamana kalian mencintai Allah, maka akan dicintai oleh Allah. Bilamana orang dicintai oleh Allah, maka tidak diragukan lagi dia masuk surga.

Kita mendapatkan kebaikan, ini sebab guru-guru kita. Bila guru meridhai, Allah pun meridhai. Kalau orang diridhai Allah, maka segalanya dimudahkan.

Rahasia KH. Abdul Karim itu, selalu meminta doa dari santri-santrinya agar diridhai oleh guru-gurunya. Guru kalian akan bahagia jika kalian mengamalkan ilmunya.

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.”

Santri-santri yang mengamalkan ilmunya, mendoakan gurunya, juga termasuk di dalam cakupan waladin shalihin tersebut.

____

Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi tentang Dewasa dalam Menghadapi Tahun Demokrasi ini ditranskrip dari mauidhah hasanah beliau dalam acara Halal Bihalal Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo). Di Malang, pada hari Kamis, tanggal 18 Mei 2023 di Singosari, Malang Jawa Timur.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “KH. Abdulloh Kafabihi: Dewasa dalam Menghadapi Tahun Demokrasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses