Category Archives: Konsultasi

Status Tanaman Buah-buahan di Halaman Masjid

Status Tanaman Buah-buahan di Halaman Masjid | Sebagian pengurus masjid seringkali memanfaatkan lahan yang masih luang di areal masjid. Dia menanaminya dengan bermacam buah-buahan maupun tanaman lain guna mempercantik lingkungan masjid.

Selain itu, tanaman yang berbatang tinggi juga bisa menjadi tempat berteduh bagi para pengunjung masjid. Terlebih bila jamaah tidak mampu tertampung keseluruhannya saat shalat jumat. Keberadaan pohon yang rindang bisa dijadikan tempat favorit untuk menghalau terik sambil menunggu shalat didirikan. Dan masih banyak manfaat lainnya akan keberadaan pohon di areal masjid.

Sebenarnya ketika pohon yang ditanam berupa buah-buahan seperti tanaman buah kelengkeng, jambu, rambutan dan sebagainya, bolehkah bagi pengunjung untuk mengambil lalu memakan buahnya yang seringkali ngawe-ngawe untuk dipetik?

Mengenai kasus ini, Syekh Abu Bakar Syatho memerinci penghukumannya dalam kitab I’anah at-Thalibin juz 3 hal. 381 cet. al-Hidayah

إعانة الطالبين للشيخ أبي بكر بن محمد شطا الدمياطي ج ٣ ص ٣٨١ الهداية

(فرع) الى ان قال …. وَثَمَرُ الْمَغْرُوْس فىِ الْمَسْجِدِ مِلْكُهُ إنْ غُرِسَ لَهُ فَيُصْرَفُ لِمَصَالِحِهِ وَإنْ غُرِسَ لِيُؤْكَلَ أَوْ جُهِلَ الْحَالُ فَمُبَاحٌ.

Kurang lebih artinya begini “Buah-buahan yang ditanam di lingkungan masjid merupakan hak milik masjid jika waktu penanaman memang diperuntukkan bagi masjid. Maka hasil buahnya harus dialokasikan untuk kemaslahatan masjid. Dan bila waktu penanaman bertujuan untuk dimakan buahnya, atau tidak diketahui secara pasti tujuan penanamannya maka boleh bagi pengunjung masjid untuk memakannya.”

Ketika buah itu milik masjid maka tidak diperkenankan mengambilnya untuk dimakan. Sedang bila waktu penanaman disengaja untuk siapapun yang berkenan maka boleh mengambil dan memakannya. Sekian. Allahu a’lam []

Baca juga:
HUKUM MENUMPANG JARINGAN WIFI

Follow juga instagram:
@pondoklirboyo

Status Tanaman Buah-buahan di Halaman Masjid
Status Tanaman Buah-buahan di Halaman Masjid

Lebih Khusyuk Shalat Sendiri Daripada Berjamaah

Sebagian orang mungkin merasa lebih nyaman dan khusyuk untuk melaksanakan shalat sendiri di rumah dengan kondisi sepi jauh dari keramaian daripada salat berjamaah di masjid yang tak lepas dari hiruk pikuk atau bahkan teriakan anak kecil dan tangisannya.

Yang pasti hal demikian menimbulkan kebimbangan, shalat yang dilakukan dengan berjamaah sudah barang tentu kita ketahui memiliki banyak pahala dan keutamaan. Belum lagi hal lain seperti itikaf, bertemu dan silaturrahim dengan dengan saudara sesama muslim, berbuat baik kepada mereka dan sebagainya.

Lalu, manakah yang lebih utama antara semua kebaikan dan pahala yang kita dapat dengan shalat berjamaah dibanding dengan shalat sendiri di rumah namun dengan kondisi tenang dan khusyuk?

Dalam kitab Asnal Mathálib, Syekh Zakariya al-Anshari menyampaikan perkhilafan yang terjadi antar ulama menyikapi hal ini ;

وَأَفْتَى الْغَزَالِي بِأَنَّهُ إِذَا كَانَ لَوْ صَلَّى مُنْفَرِدًا خَشَعَ وَلَوْ صَلّى فِي جَمَاعَةٍ لَمْ يَخْشَعْ فَالْإِنْفِرَادُ أَفْضَلُ وَتَبِعَهُ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ

Kurang lebih begini artinya : “Imam al-Ghazaliy berfatwa bahwa jika ada seseorang ketika shalat sendirian merasa lebih khusyuk, dan sebaliknya, tidak khusyuk tatkala berjamaah, maka salat sendiri lebih utama. Pendapat beliau ini juga didukung oleh Imam ibn Abdissalam.”

Namun, lebih lanjut beliau juga menyampaikan sanggahan Imam az-Zarkasyiy akan pendapat Imam al-Ghazaliy dan ibn Abdissalam di atas.

قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَالْمُخْتَارُ بَلِ الصَّوَابُ خِلَافُ مَا قَالَاهُ إِلَّا إِنْ تَعَاطَلَ الْمَسْجِدُ الْقَرِيْبُ مِنْهُ لِغَيْبَتِهِ عَنْهُ لِكَوْنِهِ إِمَامَهُ اَوْ يَحْضُرُ النَّاسُ بِحُضُوْرِهِ

“Az-Zarkasyiy berkomentar ; “Pendapat yang dipilih bahkan yang benar adalah sebaliknya dari pendapat kedua imam di atas. Kecuali jika kondisinya masjid akan menjadi sepi tanpa kehadirannya, sebab ia menjadi imam atau jamaah akan semangat hadir sebab ia hadir di masjid.”

Kesimpulannya, Imam Ghazaliy kukuh dengan pendapat beliau bahwa shalat sendiri dengan hasil maksimal itu lebih utama, sedangkan Imam az-Zarkasyiy berpendapat sebaliknya. Silakan ingin mengikuti pendapat yang mana dari dua opsi pendapat imam besar di atas. Sekian. Allahu a’lam.[]

Baca juga:
PENGGUNAAN MUKENA POTONGAN YANG HARUS KITA PERHATIKAN

Simak juga:
Buah Keikhlasan dalam Mendidik | KH. M. Anwar Manshur

LEBIH KHUSYUK SHALAT SENDIRI
LEBIH KHUSYUK SHALAT SENDIRI

Penggunaan Mukena Potongan yang Harus Diperhatikan

Hukum Penggunaan Mukena Potongan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya hendak bertanya, bagaimana hukumnya jika salat menggunakan mukena potongan atau sambungan? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Hilyah, Palembang)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di dalam salat, aurat perempuan yang harus ditutup adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi menjelaskan dalam kitab Fath al-Qarib sebagai berikut:

وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ فِي الصَّلَاةِ مَا سِوَى وَجْهِهَا وَكَفَيْهَا ظَهْرًا وَبَطْنًا إِلَى الْكُوْعَيْنِ

“Aurat perempuan merdeka dalam salat ialah seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan, baik luar maupun dalam, sampai pergelangan tangannya.” (Lihat: Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib, [Beirut: Dar Al-Minhaj, 2019] hlm. 122)

Yang menjadi salah satu tradisi di sekitar kita adalah menggunakan mukena sebagai media penutup aurat perempuan ketika salat, salah satunya ialah mukena potongan atau sambungan. Sebagai mana fungsinya sebagai penutup aurat, penggunaan mukena potongan perlu diperhatikan. Sebab bagian lengan wanita yang salat akan terlihat dari arah bawah ketika posisi rukuk atau takbir jika menggunakan mukena potongan.

Dalam kasus demikian, ulama Mazhab Syafi’i menghukumi salatnya batal. Sebab pada kasus tersebut ada aurat yang terbuka. Sebagaimana penjelasan Sayyid Abdurrahman al-Masyhur dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin berikut:

لَوْ رُؤِيَ صَدْرُ الْمَرْأَةِ مِنْ تَحْتِ الْخِمَارِ لِتَجَافِيْهِ عَنِ الْقَمِيْصِ عِنْدَ نَحْوِ الرُّكُوْعِ أَوِ اتَّسَعَ الْكَمُّ بِحَيْثُ تُرٰى مِنْهُ الْعَوْرَةُ بَطَلَتْ صَلَاتُهَا

“Apabila dada wanita terlihat dari bawah bajunya yang longgar ketika posisi rukuk atau lengan baju yang lebar sehingga terlihat aurat dari sela-selanya, maka salat wanita tersebut batal.” (Lihat: Abdurrahman al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 85)

Oleh karena itu, bagi para perempuan muslimah hendaklah berhati-hati dan memperhatikan apakah auratnya dalam salat terlihat atau tidak. Jika terpaksa menggunakan mukena potongan, cara untuk mengantisipasinya adalah dengan mengenakan pakaian lengan panjang sebelum memakai mukena potongan atau sambungan. Hal tersebut ditujukan untuk mengantisipasi adanya aurat yang terlihat dari arah bawah ketika rukuk atau takbir.[]waAllahu a’lam

Baca juga:
TERBUKANYA DAGU WANITA DALAM SALAT

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal

Penggunaan Mukena Potongan
Penggunaan Mukena Potongan

Hukum Menggabungkan Puasa Qadla’ Ramadhan dengan Puasa Sunah Rajab (Bag 2)

Saat memasuki bulan Rajab, banyak dijumpai masyarakat yang menggabungkan dua niat dalam satu ibadah puasa, yakni puasa Qadla’ Ramadhan dan puasa Sunnah Rajab dalam satu rangkaian ibadah puasa.

Dalam masalah ini, Syekh Abi Bakar Syato ad-Dimyati menjelaskan dalam kitab I’anah at-Thalibin sebagai berikut:

اَلصَّوْمُ فِي الْأَيَّامِ الْمُتَأَكَّدِ صَوْمُهَا مُنْصَرِفٌ إِلَيهَا، بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَتْ إلخ: زَادَ فِي الْإِيْعَابِ وَمِنْ ثَمَّ أَفْتَى الْبَارِزِى بِأَنَّهُ لَوْ صَامَ فِيْهِ قَضَاءً أَوْ نَحْوَهُ حَصَلَا، نَوَاهُ مَعَهُ أَوْ لَا

“Berpuasa pada hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa secara otomatis tertuju pada hari-hari tersebut, bahkan apabila seseorang berniat puasa beserta niat puasa lainnya, maka pahala keduanya berhasil didapatkan. Dalam kitab al-I’ab ditambahkan, dari kesimpulan tersebut, Syekh al-Barizi berfatwa bahwa apabila seseorang berpuasa Qadha’ (Ramadhan) atau lainnya di hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa, maka pahala keduanya bisa didapat, baik disertai niat berpuasa sunah atau tidak. Ulama lain menyebutkan, demikian pula apabila berketepatan bagi seseorang dalam satu hari dua puasa rutin, seperti puasa hari Arafah dan puasa hari Kamis.” (Lihat: Abu Bakar Syato ad-Dimyati, I’anah at-Thalibin, II/224)

Sayyid Abdurrahman al-Masyhur pun menegaskan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin:

ظَاهِرُ حَدِيْثٍ وَاَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ وَغَيْرِهِ مِنَ الْأَحَادِيْثِ عَدَمُ حُصُوْلِ السِتِّ اِذَا نَوَاهَا مَعَ قَضَاءِ رَمَضَانَ، لَكِنْ صَرَّحَ ابْنُ حَجَرَ بِحُصُوْلِ اَصْلِ الثَّوَابِ لِإِكْمَالِهِ اِذَا نَوَاهَا كَغَيْرِهَا مِنْ عَرَفَةَ وَعَاشُوْرَاءَ بَلْ رَجَّحَ (م ر) حُصُوْلَ اَصْلِ ثَوَابِ سَائِرِ التَّطَوُّعَاتِ مَعَ الْفَرْضِ وَإِنْ لَمْ يَنْوِهَا

“Tekstual hadis dan mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal’ dan hadis-hadis sesamanya mengindikasikan tidak sahnya puasa sunah 6 hari bulan Syawal jika niatnya digabung dengan Qadla’Ramadhan. Namun Imam Ibnu Hajar menegaskan keduanya tetap mendapatkan pahala (sah) jika puasa sunahnya diniati juga, seperti pada puasa Arafah dan Asyura. Bahkan Imam ar-Ramli mengunggulkan bahwa semua puasa sunah yang digabung dengan puasa fardu (Qadla’) tetap akan mendapatkan pahala.” (Lihat: Abdurrahman al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, h. 186)

Dengan demikian, menggabungkan puasa Qadla’ Ramadhan dengan puasa sunah Rajab hukumnya sah dan mendapatkan pahala keduanya, baik niat keduanya atau niat niat puasa Qadla’ Ramadhan saja tanpa niat puasa sunah Rajab. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
MENGGABUNGKAN PUASA RAJAB DAN PUASA QADLA

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal

# HUKUM MENGGABUNGKAN PUASA QADLA’ RAMADHAN DENGAN PUASA SUNAH RAJAB (BAG 2)
# HUKUM MENGGABUNGKAN PUASA QADLA’ RAMADHAN DENGAN PUASA SUNAH RAJAB (BAG 2)

Menggabungkan Puasa Rajab dan Puasa Qadla

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukumnya menggabung puasa Rajab dan puasa Qadla’ Ramadhan yang pernah ditinggalkan? Mohon jawabannya, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Sarah, Denpasar Bali)

__________________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Memasuki bulan Rajab, sering dijumpai masyarakat yang menggabungkan dua niat dalam satu ibadah puasa. Misalkan seseorang memiliki kewajiban untuk menqodlo’ puasa Ramadhan, kemudian ia melakukannya di bulan Rajab dengan menggabungkan dalam satu ibadah puasa. Atau seseorang melakukan puasa Rajab yang kebetulan hari itu adalah hari Senin atau Kamis, kemudian ia menggabungkan kedua niat dalam satu puasa.

Menanggapi kasus tersebut, para ulama berbeda pendapat. Sebagian besar para ulama mengatakan bahwa praktek tersebut diperbolehkan dan orang yang melakukan akan mendapatkan kedua pahala puasa sekaligus, baik ia niat atas kedua puasa tersebut atau salah satunya. Imam al-Bujairomi menjelaskan dalam salah satu kitabnya:

قَدْ يُوجَدُ لِلصَّوْمِ سَبَبَانِ كَوُقُوعِ عَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ يَوْمَ اثْنَيْنِ أَوْ خَمِيسٍ وَكَوُقُوعِهِمَا فِي سِتَّةِ شَوَّالٍ فَيَتَأَكَّدُ صَوْمُ مَا لَهُ سَبَبَانِ رِعَايَةً لِكُلٍّ مِنْهُمَا فَإِنْ نَوَاهُمَا حَصَلَا كَالصَّدَقَةِ عَلَى الْقَرِيبِ صَدَقَةً وَصِلَةً وَكَذَا لَوْ نَوَى أَحَدَهُمَا فِيمَا يَظْهَرُ

Terkadang dalam puasa itu terdapat dua sebab, seperti puasa Arafah atau ‘Asyuro yang jatuh pada hari senin atau kamis, atau puasa hari senin dan kamis yang dilakukan dalam tanggal enam hari pertama di bulan Syawal (selain tanggal 1 Syawal). Maka puasa yang memiliki dua sebab tersebut memiliki anjuran lebih demi menjaga kesunahan dua sebab tersebut. Apabila kedua puasa itu diniati maka ia akan mendapatkan kedua pahalanya, seperti seseorang yang bersedekah pada kerabatnya ia akan mendapatkan pahala sedekah sekaligus pahala silaturrahim. Menurut pendapat yang lain, meskipun ia niat salah satu saja ia akan mendapat pahala keduanya.”[1]

Keterangan yang telah disebutkan di atas hanya berlaku pada dua puasa yang hukumnya sama-sama sunah. Sehingga akan berbeda lagi jika salah satunya adalah puasa wajib (Qodlo’ atau Kafarat).  Menurut Imam Abi Makhromah berpendapat jika puasa sunah dan wajib diniati sekaligus maka hukumnya tidak sah. Akan tetapi pendapat mayoritas ulama yang diunggulkan oleh Imam ar-Romli mengatakan apabila kedua puasa itu terdiri dari puasa wajib (Qodlo’ atau Kafarat) dan puasa sunah, maka cukup dengan niat puasa wajib akan mendapatkan pahala puasa sunahnya.[2] []waAllahu a’lam


[1] Hasyiyah al-Bujairomi ‘ala al-Khotib, II/404.

[2] Bughyah al-Mustarsyidin, hlm 114.