Category Archives: Konsultasi

Hukum Melantunkan Dzikir saat Mengiringi Jenazah

Assalamualaikum Wr. Wb.

Maaf sebelumnya, mohon maaf. Apa hukumnya mengiringi jenazah ke kuburan dengan bacaan tahlil? Bukankah yang lebih baik adalah diam untuk tafakur dan mengambil pelajaran atas peristiwa kematian? Mohon penjelasannya terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wb. Wb.

(Sofi, Surakarta)


Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Dalam salah satu hadis riwayat Imam Al-Baihaqi disebutkan bahwa para Sahabat Rasulullah SAW tidak menyukai perilaku mengeraskan suara di samping jenazah, ketika perang, dan ketika zikir. Atas dasar itu, para ulama mengatakan bahwa hukum beramai-ramai ketika mengiringi jenazah adalah makruh. Segala bentuk kegaduhan dan keramaian masuk di dalamnya, tak terkecuali bacaan Alquran, dzikir, atau bacaan sholawat. Karena pada dasarnya, yang disunnahkan dalam keadaan itu adalah bertafakkur tentang ihwal kematian. (Nihayah al-Muhtaj, III/23)

Meskipun demikian, sebagian umat Islam seperti yang biasa terlaku di Indonesia memiliki kebiasaan berdzikir “Laa ilaha illallah” selama proses pengiringan jenazah dengan suara keras. Untuk itu, Syekh Nawawi Banten menjelaskan permasalahan ini dalam kitab Nihayah az-Zain:

وَيُكْرَهُ اللَّغَطُ فِي الْجَنَازَةِ بَلِ الْمُسْتَحَبُّ التَّفَكُّرُ فِي الْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ قَالَ الْقُلْيُوْبِيْ وَيُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الْمُدَابِغِيْ وَهَذَا بِاِعْتِبَارِ مَا كَانَ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ وَأَمَّا الْآنَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

“Dimakruhkan beramai-ramai di samping jenazah. Karena yang disunnahkan ialah bertafakkur tentang kematian dan kejadian setelahnya. Al-Qulyubi berkata: Bahkan dimakruhkan mengeraskan bacaan al-Qur’an, dzikir, dan bacaan sholawat kepada baginda Nabi SAW. Imam al-Mudabighi berkata: Hukum ini hanya berlaku di masa-masa awal Islam, adapun di masa sekarang maka hukumnya tidak apa-apa karena yang demikian itu merupakan syiar terhadap peristiwa kematian.” (Nihayatuz Zain, h. 153)

Menanggapi persoalan itu, secara bijaksana Imam Ibnu ‘Allan menjelaskan :

فَالَّذِي اخْتَارَهُ أَنَّ شُغْلَ أِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ الْمُؤّدِّيْ إِلَى تَرْكِ الْكَلَامِ وَتَقْلِيْلِهِ أَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِي الْكَلَامِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَابًا لِأَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ كَمَا هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ

“Adapun pendapat yang dipilih sebagai berikut: Sesungguhnya menyibukkan pengiring jenazah dengan bacaan dzikir yang dapat menjauhkan mereka dari pembicaraan masalah dunia itu lebih utama dari pada membiarkan mereka membicarakan masalah duniawi. Pendapat ini merupakan alternatif yang mengambil resiko lebih kecil, sebagaimana kaidah syariat yang lain.” (Al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, IV/183)

Dengan demikian, membaca dzikir “Laa Ilaha illa Allah” dengan suara keras ketika mengiring jenazah adalah hal yang diperbolehkan bahkan menurut sebagian ulama lebih utama. []waAllahu a’lam

Baca juga:
FANATIK KEBANGSAAN, BASIS MILITANSI SANTRI MEMBELA NEGERI

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

Hukum Membaca Al-Fatihah bagi Makmum yang Datang Terlambat

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ketika jamaah salat fardhu digelar, kadang kala kita datang terlambat. Sehingga ketika kita baru takbir dan masih membaca Surah Al-Fatihah, tak lama kemudian imam rukuk. Bagaimana hukum bacaan Al-Fatihah tersebut, dilanjutkan atau langsung rukuk?
Mohon penjelasannya karena ini ini sering terjadi, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ghofur, Salatiga)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam salat jamaah, tertinggal takbiratul ihram bersama imam adalah hal yang lumrah terjadi. Sehingga tidak berselang lama setelah makmum yang datang terlambat tersebut takbir, sang imam pun akhirnya rukuk.

Mengenai bacaan Surah Al-Fatihah dalam kondisi tersebut, maka status makmum dibagi menjadi dua:

Pertama, makmum muwafiq, yaitu makmum yang mendapati imam ketika berdiri sebelum rukuk dan waktunya cukup untuk membaca Al-Fatihah. Dalam kondisi itu, makmum harus menyempurnakan bacaan Al-Fatihah. Dan baginya ditolerir untuk tertinggal tiga rukun panjang, yaitu rukuk, sujud pertama dan sujud kedua.

Kedua, makmum masbuq, yaitu makmum yang mendapati imam ketika berdiri sebelum rukuk dan waktunya tidak cukup untuk membaca Al-Fatihah. Dalam kondisi itu, makmum membaca Surah Al-Fatihah sekedarnya dan jika imamnya rukuk maka ia harus rukuk mengikuti imam. Karena bacaan Al-Fatihah makmum sudah ditanggung oleh imam.

Kedua rincian ini sebagaimana penjelasan Syekh Nawawi Banten berikut dalam kitab Nihayah az-Zain berikut:

وَإِِنْ وجد الإِمَام فِي الْقيام قبل أَن يرْكَع وقف مَعَه فَإِن أدْرك مَعَه قبل الرُّكُوع زَمنا يسع الْفَاتِحَة بِالنِّسْبَةِ للوسط المعتدل فَهُوَ مُوَافق فَيجب عَلَيْهِ إتْمَام الْفَاتِحَة وَيغْتَفر لَهُ التَّخَلُّف بِثَلَاثَة أَرْكَان طَوِيلَة كَمَا تقدم وَإِن لم يدْرك مَعَ الإِمَام زَمنا يسع الْفَاتِحَة فَهُوَ مَسْبُوق يقْرَأ مَا أمكنه من الْفَاتِحَة وَمَتى ركع الإِمَام وَجب عَلَيْهِ الرُّكُوع مَعَه

“Apabila makmum menemui imam ketika berdiri maka makmum juga berdiri bersamanya. Apabila makmum menemukan waktu cukup untuk membaca Al-Fatihah dengan bacaan sedang maka disebut makmum muwafiq dan wajib untuk menyempurnakan bacaan Al-Fatihah. Dan ia dimaafkan tertinggal tiga rukun panjang dari imam sebagaimana penjelasan terdahulu. Dan apabila makmum tidak menemukan waktu cukup untuk membaca Al-Fatihah maka disebut makmum masbuq dan cukup membaca Al-Fatihah sekedarnya. Jika imam rukuk maka wajib bagi makmum rukuk bersama imam.” (Nihayah az-Zain, hlm. 124)

Untuk itu, bacaan Al-Fatihah makmum tergantung apakah ia menemukan waktu yang cukup untuk membacanya atau tidak. []waAllahu a’lam

Bacaan terkait:
Tentang Shalat Jama’ah

Follow juga instagram:
@pondoklirboyo

Hukum Membersihkan Make Up Sebelum Wudhu

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mohon maaf sebelumnya. Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya bekas make up ketika akan wudu? Wajib dibersihkan atau tidak? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Tika, Sukabumi)

___________________________________________

Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Umumnya, kehidupan wanita tidak terlepas dari make up. Namun masalah muncul ketika mereka melakukan wudhu sementara terdapat sisa make up yang menghalangi sampainya air pada anggota wudhu.

Untuk menjawab hal tersebut, yang perlu dipahami adalah karakteristik dari jenis make up yang dipakai. Jika make up tersebut membentuk lapisan baru, misalkan make up waterproof dan sejenisnya, maka wajib dihilangkan terlebih dahulu sebelum wudhu. Karena hal tersebut menunjukkan ada sesuatu yang menghalangi sampainya air pada kulit. Imam an-Nawawi menjelaskan dalam karyanya yang berjudul Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab:

إذَا كَانَ عَلَى بَعْضِ أَعْضَائِهِ شَمْعٌ أَوْ عَجِيْنٌ أَوْ حِنَاءٌ وَاشْتِبَاهُ ذَلِكَ فَمَنِعَ وُصُوْلَ الْمَاءِ اِلَى شَيْئٍ مِنَ الْعُضْوِ لَمْ تَصِحَّ طَهَارَتُهُ سَوَاءٌ كَثُرَ ذَلِكَ أَمْ قَلَّ وَلَوْ بَقِيَ عَلَى الْيَدِ وَغَيْرِهَا أَثَرُ الْحِنَّاءِ وَلَوْنُهُ دُونَ عَيْنِهِ أَوْ أَثَرُ دُهْنٍ مَائِعٍ بِحَيْثُ يَمَسُّ الْمَاءُ بَشَرَةَ الْعُضْوِ وَيَجْرِي عَلَيْهَا لَكِنْ لَا يَثْبُتُ صَحَّتْ طَهَارَتُهُ

“Apabila pada sebagian anggota wudhu terdapat lapisan lilin, adonan, inai (kutek), dan sesamanya dan hal tersebut mencegah sampainya air pada anggota, maka wudhunya tidak sah, baik banyak atau sedikit. Dan apabila di tangan atau sesamanya terdapat bekas inai (kutek) dan warnanya, bukan lapisannya, atau terdapat bekas minyak cair sekiranya air masih bisa mengenai kulit anggota wudhu dan mampu mengalir di atasnya meskipun tidak menetap, maka wudunya sah.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, I/468)

Sebaliknya, jika make up tersebut tidak membentuk lapisan baru, namun hanya sekedar bekas yang dapat hilang atau menyerap air dengan mudah, maka tidak wajib dibersihkan terlebih dahulu. Kecuali keberadaan make up yang tipis tersebut dapat bercampur dan merubah sifat air, maka juga wajib dibersihkan. Imam Ibnu Hajar juga menegaskan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj demikian:

وَأَنْ لَا يَكُونَ عَلَى الْعُضْوِ مَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ تَغَيُّرًا ضَارًّا أَوْ جُرْمٌ كَثِيفٌ يَمْنَعُ وُصُولَهُ لِلْبَشَرَةِ

“Hendaklah pada anggota tubuh tidak ada sesuatu yang dapat merubah air dengan perubahan yang berpengaruh (pada sifat air) atau sesuatu yang tebal yang mencegah sampainya air pada kulit.” (Tuhfah al-Muhtaj Hamisy Asy-Syarwani, I/187) []waAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM NUMPANG TOILET MASJID

Subscribe juga keluarga channel kami
Pondok Pesantren Lirboyo
Santri Mengaji
LIM Production

Hukum Numpang Toilet Masjid

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukumnya menumpang toilet masjid yang ada di pinggir jalan? Mohon penjelasannya karena ini sering terjadi di masyarakat.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Fuad, Bojonegoro)


Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Bagi orang yang sedang dalam perjalanan, berhenti dan beristirahat di masjid pinggir jalan adalah hal yang lumrah. Baik sekedar melepas lelah, salat, atau keperluan buang hajat. Namun persoalan muncul ketika mereka menggunakan fasilitas toilet masjid tanpa melakukan ibadah di masjid tersebut.

Pada dasarnya, air di masjid disediakan khusus untuk orang yang beribadah di masjid, baik salat, iktikaf dan semacamnya. Sehingga memanfaatkan air masjid tanpa beribadah di masjid tidak diperbolehkan. Syekh As-Syarwani menjelaskan:

وَكَذَا يُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ حُرْمَةُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِنْ أَنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ يَدْخُلُونَ فِي مَحَلِّ الطَّهَارَةِ لِتَفْرِيغِ أَنْفُسِهِمْ ثُمَّ يَغْسِلُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَيْدِيَهُمْ مِنْ مَاءِ الْفَسَاقِيِ الْمُعَدَّةِ لِلْوُضُوءِ لِإِزَالَةِ الْغُبَارِ وَنَحْوِهِ بِلَا وُضُوءٍ وَلَا إرَادَةِ صَلَاةٍ

“Begitu juga keharaman yang menjadi kebiasaan bahwa orang-orang masuk ke tempat bersuci untuk merampungkan hajatnya, membasuh wajah serta tangannya dari debu dan sesamanya menggunakan air yang dikhususkan untuk wudu tanpa melakukan wudu dan tanpa tujuan salat.” (Hawasyi asy-Syarwani, I/231)

Namun apabila sumber air tersebut diwakafkan untuk kemaslahatan umum atau penggunaan semacam itu sudah mentradisi tanpa ada yang mengingkari, maka hukumnya boleh. Syekh Zainuddin al-Malibari mengutip dalam kitab Fath al-Mu’in:

إِنَّهُ إِذَا دَلَّتْ قَرِيْنَةٌ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ مَوْضُوْعٌ لِتَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ جَازَ جَمِيْعُ مَا ذُكِرَ مِنَ الشَّرْبِ وَغَسْلُ النَّجَاسَةِ وَغَسْلُ الْجِنَابَةِ وَغَيْرُهَا وَمِثَالُ الْقَرِيْنَةِ: جِرْيَانُ النَّاسِ عَلَى تَعْمِيْمٍ لِاِنْتِفَاعٍ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ مِنْ فَقِيْهٍ وَغَيْرِهِ

“Sesungguhnya apabila terdapat indikasi bahwa air tersebut disediakan untuk kemanfaatan umum, maka boleh menggunakannya untuk semua kepentingan di atas, semisal untuk minum, membasuh najis, mandi junub dan lain sebagainya. Contoh dari indikasi tersebut adalah kebiasaan manusia untuk memanfaatkannya secara umum tanpa ada pengingkaran, baik dari ahli fikih atau yang lainnya.” (Fathul Muin, hlm. 88)

Meskipun demikian, dianjurkan untuk melakukan ibadah di masjid tersebut atau memasukkan sejumlah uang yang setara dengan penggunaan toilet umum ke dalam kotak infaq. []waAllahu a’lam

Baca juga:

HUKUM AMPLOP KONDANGAN, TERMASUK HUTANG ATAU HADIAH?

Follow juga:
instagram: PondokLirboyo

Hukum Membatalkan Pertunangan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukum membatalkan pertunangan karena sebuah alasan tertentu? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Laila, Sukoharjo)

___________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Salah satu kesunahan sebelum melangsungkan pernikahan adalah prosesi khitbah (lamaran). Namun dalam perjalanannya, tidak semua apa yang diharapkan berjalan mulus sesuai harapan. Namun dikarenakan berbagai penyebab, tak jarang dari kedua belah pihak terjadi sebuah permasalahan. Sehingga tak jarang permasalahan tersebut menyeret pada tindakan pembatalan ikatan pertunangan.

Dalam masalah ini, perlu dipahami bahwa sebenarnya sebuah pertunangan bukanlah sesuatu yang mengikat karena belum adanya akad nikah. Dengan artian ada legalitas untuk menarik kembali persetujuan atas pertunangan. Imam al-Buhuti pun menjelaskan dalam kitab Kasyaf al-Qana’ demikian:

( وَلاَ يُكْرَهُ لِلْوَلِيِّ ) الْمُجْبِرِ الرُّجُوْعُ عَنِ اْلإِجَابَةِ لِغَرَضٍ ( وَلاَ ) يُكْرَهُ ( لِلْمَرْأَةِ ) غَيْرَ الْمُجْبَرَةِ ( الرُّجُوْعُ عَنْ اْلإِجَابَةِ لِغَرَضٍ) صَحِيْحٍ ِلأَنَّهُ عَقْدُ عُمْرٍ يَدُوْمُ الضَّرَرُ فِيْهِ فَكَانَ لَهَا اْلاحْتِيَاطُ لِنَفْسِهَا وَالنَّظَرُ فِيْ حَظِّهَا وَالْوَلِيُّ قَائِمٌ مَقَامَهَا فِيْ ذَلِكَ (وَبِلاَ غَرَضٍ ) صَحِيْحٍ ( يُكْرَهُ ) الرُّجُوْعُ مِنْهُ وَمِنْهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ إخْلاَفِ الْوَعْدِ وَالرُّجُوْعِ عَنِ الْقَوْلِ وَلَمْ يَحْرُمْ ِلأَنَّ الْحَقَّ بَعْدُ لَمْ يَلْزَمْ

“Tidak dimakruhkan bagi pihak wali yang memiliki kuasa atas perempuan untuk menarik kembali lamaran yang sudah disetujui sebab sebuah tujuan. Tidak pula dimakruhkan bagi perempuan yang independen. Keduanya itu jika dengan tujuan yang dibenarkan. Sebab pernikahan merupakan ikatan berkelanjutan yang dampaknya akan dirasakan selamanya. Maka seorang perempuan atau wali bisa lebih berhati-hati dalam mempertimbangkannya. Dan bila tanpa adanya tujuan yang dibenarkan, maka dimakruhkan menarik kembali dari lamaran yang sudah disetujui. Sebab hal ini termasuk bentuk pengingkaran terhadap janji ataupun menarik kembali kata-kata yang telah terucap. Namun tidak sampai mencapai taraf haram, sebab hak yang ada dalam lamaran yang telah disetujui itu bukanlah hak yang mengikat.” (Kasyaf al-Qana’, V/20)

Untuk itu, hukum membatalkan pertunangan diperinci, jika tidak ada alasan yang dapat dibenarkan maka makruh karena termasuk mengingkari kesepakatan. Dan jika ada alasan yang dapat dibenarkan maka tidak makruh. Dalam hal ini tidak ada hukum haram sebab pertunangan bukanlah hal yang mengikat. []waAllahu a’lam.

Baca juga:
HUKUM MENGGELAR AKAD NIKAH DI MASJID

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo