Tag Archives: Internet

Fasilitas WiFi Bersama di Balai Desa

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya memiliki beberapa permasalahan terkait keberadaan akses internet (WiFi) yang berada di balai desa. Di desa saya terdapat sebuah akses internet yang disediakan oleh kepala desa yang baru menjabat. Dan ia bertujuan ingin mengenalkan kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) kepada seluruh masyarakat demi kemaslahatan bersama. Di balik semua itu, muncullah kenakalan anak-anak muda yang sering kali mengakses jaringan bersama tanpa seizin pak Kades. Mereka membobol privasi yang telah disimpan dan menggunakan kesempatan itu untuk hal-hal yang dibilang tidak bermaslahat, bahkan merugikan masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana perspektif fiqih mengenai status internet di atas? apakah tindakan pak Kades dapat dibenarkan meninjau maraknya kerugian dan pandangan jelek oleh para warga? terima kasih atas jawabannya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pertanyaan yang diajukan tersebut merupakan sebuah problematika yang sangat marak untuk saat ini. Yang mana sesuai perkembangan zaman, sebagian besar balai atau pun kantor desa memiliki akses internet (WiFi).

Realita di lapangan pun begitu beragam, di sebagian tempat ada yang membatasi hanya diperuntukkan kepada perangkat desa serta pihak-pihak yang memiliki kepentingan terkait. Untuk yang semacam ini, biasanya pihak Pemerintah Desa memasang password terhadap akses Wireless Fidelity (WiFi) tersebut demi menghindari penyalahgunaan di luar kepentingan pihak-pihak terkait. Namun di sebagian tempat yang lain ada yang tidak memberikan batasan terhadap akses internet ini. Sehingga setiap saat siapapun dapat dengan mudah mengakses jaringan WiFi yang ada di balai desa tersebut.

Sesuai dengan konteks pertanyaan, status internet di atas dikategorikan sebagai sarana untuk membantu kinerja aparat desa, serta sebagai sarana untuk mengenalkan kemajuan teknologi kepada masyarakat yang memiliki nilai mashlahat. [1] Karena segala bentuk kebijakan dan wewenang pemerintah, harus didasarkan pada kemaslahatan bersama. Sesuai kaidah fiqih:

تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

Alokasi (kebijakan) pemimpin (pemerintah) haruslah digantungkan atas dasar kemaslahatan”.[2]

Mengenai  penyediaan akses internet untuk yang ditujukan untuk membantu kinerja dan pelayanan aparatur desa, hukumnya diperbolehkan. Karena dalam hal ini, kemaslahatan yang dihasilkan dari adanya akses internet tersebut sudah sangat jelas, baik kemaslahatan untuk desa maupun masyarakat umum.[3]

Adapun status internet sebagai sarana untuk memperkenalkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat tidak dapat dibenarkan kecuali lebih dominan kemaslahatannya.[4] Karena bagaimanapun, pembebasan mengakses bagi masyarakat desa secara umum terutama bagi kalangan anak-anak dan remaja akan rawan disalahgunakan untuk hal-hal yang negatif dan merugikan. Maka dari itu, untuk permasalahan yang ini perlu adanya pengawasan lebih ketat dari seluruh pihak.[5] [] waAllahu a’lam

Referensi:

[1] Mughni al-Muhtaj, IV/221.

[2] Al-Asybah wa an-Nadhoir Lii as-Suyuti, hlm 121.

[3] Fatawa as-Subki, I/185, Maktabah Syamilah.

[4] Qowaid al-Ahkam Fii Masalih al-Anam, I/156.

[5] Bughyah al-Mustarsyidin, hlm 252, al-Haromain.

Pahala dan Dosa Saling Gencet di Internet

Komunikasi lewat dunia maya itu telah digandrungi semua lapisan masyarakat, khususnya para remaja. Penyebabnya adalah internet yang menjajakan, menjanjikan, sekaligus menyajikan banyak kemudahan. Mulai dari e-mail (electronic mail), chatting, browsing, face book, twitter, dan lain-lain. Dengan internet, komunikasi di seluruh dunia bisa berlangsung hanya dalam hitungan detik. Gratis pula.

Walau begitu, sebagai warga Indonesia yang beragama harus menyadari bahwa kemajuan apapun yang telah dicapai manusia di bidang teknologi jangan sampai melalaikan aspek moral. Kita harus tetap mempertimbangkan baik buruknya berinternet. Sebab, teknologi itu sifatnya netral. Bisa digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. Tergantung niat pemakainya. Itulah rumus yang berlaku di bidang teknologi.

Demikian juga internet. Kita bisa memanfaatkannya untuk media dakwah secara tertulis maupun dalam bentuk video dan audio. Kita dapat mengirimkan karya tulis ke berbagai media massa di seluruh penjuru dunia dengan layanan e-mail. Naskah kita bisa sampai ke komputer redaktur media massa yang nun jauh di sana hanya dalam hitungan detik. Gratis pula!

[ads script=”1″ align=”center”]

Kita bisa menjalin hubungan internasional dengan orang mancanegara. Juga bisa memperoleh informasi terbaru dari berbagai belahan dunia dari situs-situs yang menyediakan berita. Juga dapat menggali ilmu pengetahuan dan penemuan iptek, kesehatan, dan lain-lain. Masih banyak lagi nikmat internet yang bisa kita reguk kapan pun kita mau. Itulah anugerah Tuhan yang Maha Pemurah kepada kita dalam bentuk internet. Alhamdulillah.

Di sisi lain, internet juga menyimpan bongkahan keburukan. Karena sifatnya yang tanpa batas, internet bisa dijadikan ajang obral informasi mesum dan gambar-gambar porno. Bisa juga untuk menyebarluaskan berbagai modus operandi kejahatan. Misalnya, membobol bank dan kartu kredit, transaksi PSK remaja, teknik meracik bom yang pernah dipraktekkan oleh almarhum Imam Samudra, dan tindak kejahatan lainnya. Na’uuzubillah!

Pada akhirnya, baik buruknya pemakaian internet tergantung pada nawaitu pemakainya. Di internet, tidak ada pilih kasih antara yang baik dan buruk. Tidak ada seleksi mana pahala dan dosa. Tak ada filter mana yang benar dan salah. Mau yang baik, ada. Ingin yang buruk, juga tersedia. Baik dan buruk saling mendesak satu sama lain. Pendek kata, pahala dan dosa saling gencet di internet.

Nah, sebagai warga Indonesia yang masih kuat memegang moral, terutama nilai-nilai religi, kita harus selalu ingat bahwa Tuhan itu tidak pernah tidur dan sangat teliti perhitungannya. Bagi umat Islam misalnya, penting memperhatikan firman Allah swt. dalam Al Quran surat Az Zalzalah ayat 7 dan 8. Isinya, apa pun yang kita lakukan, pasti kita akan memperoleh balasannya. Maka, kalau kita mempergunakan internet dengan niat baik dan kita laksanakan dengan baik pula, pasti Dia akan menganugerahi pahala. Sebaliknya, jika menyalahgunakan internet untuk kemungkaran, kejahatan, kezaliman, atau bentuk keburukan lainnya, maka pasti Dia akan menghukum kita karena telah berbuat dosa. Pahala dan dosa kita selama berinternet akan ditimbang-Nya dengan sangat adil walaupun seberat dzarrah (atom) sekali pun!

Oleh karena itu, tiada jalan lain supaya aman dan bermanfaat dalam berinternet, baik di dunia maupun di akhirat, kita harus memiliki prinsip moral dan agama yang kuat. Biar pun pahala dan dosa saling gencet di internet, ajaran Tuhan harus tetap bersemayam di hati. Kita harus tetap memergunakan parameter atau tolok ukur yang Dia tetapkan dalam menentukan baik-buruk dalam berinternet. Patokan dasarnya sudah ada, yaitu kita harus berniat untuk berbuat baik dalam berinternet serta melaksanakan niat baik itu selama berselancar dalam internet.

Kita memang dituntut lincah berbelok, bahkan menikung tajam, tatkala bersurfing di internet. Terutama jika sudah kemasukan gambar-gambar porno maupun informasi mesum lainnya yang sering sengaja dimasukkan penyedia jasa internet. Pada saat seperti itu, kita dituntut tegas dan tangkas mengalihkan kursor komputer ke arah tanda “X” di pojok kanan atas untuk menutup informasi sesat tersebut. Jangan malah bingung, linglung, melamun, bersikap bodoh, atau malah mencoba-coba membukanya. Jika yang terakhir ini yang dipilih, maka kita akan kerasukan info laknat tersebut. Lama-lama kita ketagihan untuk melihat, menatap, memandang, dan terus memperhatikan, bahkan mempraktekkannya. Na’uuzubillah!

Maka, selama berinternet, hati kita harus tetap lekat dan lengket dengan Tuhan. Dialah Pengendali terbaik dalam menuntun diri kita selama berinternet. Ingat, benang merah sebagai pembeda baik dan buruk sudah sangat tipis di internet. Pahala dan dosa sudah demikian serunya saling gencet di internet. Tinggal tergantung kita jualah yang harus pandai-pandai menyiasati dan memanfaatkan internet hanya demi kebaikan semata.

Nah, kalau bisa memetik pahala yang melimpah ruah dengan mudah dari internet, mengapa kita malah bersusah payah menuai gencetan dosa dari internet? Sayang, bukan?

Penulis, Saiful Asyhad