Category Archives: Santri Menulis

Menyadari ‘saat ini’

Kebanyakan orang sering kali kehilangan momen ‘saat ini’. Yakni di mana saat kita berada sekarang. Mereka sepertinya belum menyadari bahwa hakikat hidup mengalir dari saat ke saat, waktu ke waktu. Akhirnya mereka kehilangan kebahagiaan, kedamaian, dan tidak dapat mencapai semua tujuan hidup yang dia impikan. Hal ini disebabkan mereka tidak menyadari tentang keadaan ‘saat ini’.

Tulisan ini, ingin mengajak kepada pembaca agar mampu melakukan apapun secara tepat sesuai dengan keadaan yang ada. Yaitu tentang kesadaran bahwa momen yang sangat jelas terlihat hanyalah ‘saat ini’. Bukan masa lalu dan masa depan. Karena keduanya tidak nyata.

Masa lalu merupakan waktu yang telah terlewat dan tidak akan pernah kembali. Ia bermetamorfosis menjadi sebuah kenangan hampa, yang tidak ada seorangpun dalam catatan sejarah diberi kesempatan untuk mengulanginya. Hal inilah yang membuat masa lalu menjadi tidak nyata. Sayangnya, justru banyak orang yang pikirannya terlempar ke dalam masa ini.

Mereka tertipu, kenapa hal yang tidak jelas selalu ia pikirkan? Padahal hal ini hanya menyia-nyiakan waktunya saja. Yang tidak ada titik untung kembali kepadanya. Dan hanya kerugian yang didapatnya. Yaitu hilangnya waktu secara percuma. Kenyataan ini berlaku bagi mereka yang di batok kepalanya selalu terbiasa memikirkan derita perjalanan hidup kepribadiannya. Yang sungguh, sebenarnya hal itu hanyalah sekedar ilusi. Sehingga ia tidak dapat memfokuskan apa yang seharusnya ia lakukan waktu ini. Membuatnya masuk kembali pada lingkaran kecemasan, penderitaan dan ragu-ragu dalam melangkah menapaki hidup. Akibat ia tidak dapat memperbarui situasi yang dijalaninya. Mengutip perkataan Gusdur “terus meratapi nasib tidak akan mengubah keadaan”.

Untuk dapat keluar dari hal-hal yang tidak diinginkan di atas, perlu adanya kesadaran tentang ‘saat ini’. Seperti kelanjutan kutipan Gusdur yang telah tertera. Yaitu dengan “terus berjuang dan bekerja agar hidup lebih bermakna”. Dengan mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan pada saat itu juga, membuat suatu keefektifan dalam menggunakan waktu sebaik-baiknya. Menjadikan hidup kita menjadi lebih bermanfaat dan bermakna. Bukan melulu meratapi nasib dan mengingat-ingat masa lalu yang hanya mengandung kekosongan.

Sedangkan ketidaknyataan masa depan, disebabkan karena ia hanya sekedar harapan. Memberikan janji tentang kehidupan yang lebih baik, namun di dalamnya terdapat ketidakpastian. Lantas, kenapa kita kerap kali terbawa opini untuk selalu  menyongsong memikirkan masa depan?

Orang yang selalu memikirkan masa depan, seringkali hidupnya dipenuhi dengan tekanan yang dapat membuatnya menjadi stres karena pikirannya berusaha tergerak untuk segera dapat menyentuh harapannya itu. Ia lupa bahwa hasil hanya dapat ditempuh melalui jalan berliku yang dinamakan proses.

Bukankah masa depan akan datang dengan sendirinya. Mengutip dawuh KH. M. Anwar Manshur “tidak usah memikirkan yang besok, besok akan datang sendiri”. Sengaja, beliau berusaha mengajak kepada kita  untuk sama-sama mengingat bahwa ‘saat ini’ adalah hal yang pasti. Lebih tepatnya, apa yang kita kerjakan akan menentukan nasib di masa yang akan datang. Membawa setiap pergerakan yang kita lakukan sekarang menuai hasil dikemudian hari. Ketika seseorang memahami akan hal ini, mengenyam suksespun sepertinya mudah sekali untuk dicecap.

Tetapi dari pada itu, antara masa lalu dan masa depan tidak sertamerta kita lupakan begitu saja. Karena ada saatnya, kita masih memerlukan keduanya.

Dengan masa lalu, kita dapat belajar dari sesuatu yang pernah kita lewati. Mengingatnya, membuat kita tidak terjatuh pada lubang yang sama dikemudian hari.

Kita juga perlu masa depan. Supaya kita bisa membuat rencana kerja dan rencana hidup yang tepat. Namun keduanya hanyalah alat yang bersifat sementara. Keduanya perlu ditinggalkan ketika kita tidak memerlukannya kembali. Kita bisa meninggalkan dengan memasuki keadaan ‘saat ini’.

Dengan menyadari ‘saat ini’, seseorang akan tergugah dari kelalaiannya. Apapun masa lalu seseorang, tidak bisa menentukan nasib masa depannya. Percuma saja jika ia terlalu sering untuk dipikirkan yang hanya akan mendatangkan derita dan membuang-buang waktu secara percuma. Sedang ia sudah berlalu dan tidak bisa kita ubah kembali.

Tidak usah terlalu repot-repot juga untuk memikirkan masa depan, karena hidup tidak perlu dibuat terlalu ngotot. Bawalah perasaan mengalir dengan penuh kedamaian, menikmati aspek santai dan lucu dari kehidupan. Hanya masa depanlah yang masih dapat kita ubah. Dan sekali lagi, yang dapat menentukan masa depan seseorang adalah dirinya sendiri. Yaitu dengan menyadari akan hakikat ‘saat ini’ dan melakukan apa yang perlu dikerjakan sekarang. Segeralah bertindak, jika menginginkan impian cepat terlihat depan mata.[]

Oleh: M. Nur Al-Fatih santri asal Brebes Jawa Tengah, kelas III Aliyyah

Madrasah, Asal Sejarah dan Pembentukannya

Pusat kajian umat Islam sejak zaman Rasulullah Saw hingga zaman setelahnya selalu terpusat di Masjid. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya catatan sejarah yang menjelaskan kajian-kajian intelektual muslim yang dibangun di banyak masjid-masjid peninggalan para shahabat dan generasi setelahnya.

Madrasah baru diperkenalkan di paruh kedua abad ke-empat Hijriah tepatnya semenjak berdirinya sebuah pusat pendidikan yang disebut dengan “Madrasah” di kota Naisabur pada masa kepemimpinan Raja Mahmud al-Ghaznawi. Tidak tanggung-tanggung, Raja Mahmud al-Ghaznawi membangun empat madrasah sekaligus dalam tempo waktu yang berdekatan yaitu Madrasah Baihaqiyyah, Madrasah Sa’idiyyah, Madrasah Abu Sa’id al-Ushturlab, dan Madrasah Abu Ishaq al-Isfirani.

Pembangunan Madrasah awalnya adalah sebuah langkah yang dicanangkan Raja Mahmud al-Ghaznawi untuk menyebarkan ajaran Syi’ah. Hal ini tentu sangat penting bagi sang Raja untuk menyaingi ajaran Sunni yang saat itu menjadi ajaran resmi Dinasti Abbasiyyah di Baghdad.

Uniknya, di masa setelahnya tepatnya di abad ke-lima Hijriah perdana menteri Nidzom al-Mulk juga memakai madrasah-madrasah peninggalan raja Mahmud al-Ghaznawi sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Sunni serta memberangus sisa-sisa ajaran Syi’ah di banyak wilayah dinasti Bani Saljuk.

Di abad ke-lima Hijriah, jauh di negeri Mesir sana sultan Salahuddin al-Ayyubi juga sedang berkerja keras menyebarkan ajaran sunni dengan mendirikan madrasah-madrasah yang beraliran Sunni. Tak hanya itu, sultan Salahuddin al-Ayyyubi juga menutup banyak madrasah yang sebelumnya di abad ke-Empat Hijriah digunakan untuk menyebarkan ajaran Syi’ah. Bahkan, masjid Al-Azhar saat itu resmi ditutup selama lebih dari satu abad sebagai sebuah simbol penutupan seluruh pusat pengajaran Syi’ah.

Gerakan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penyebar ajaran Sunni adalah sebuah gerakan besar. Dimana sebelumnya di dinasti Fatimiyyah, tercatat hanya Gubernur adz-Dzofir di kota Alexandria yang secara terang-terangan berani membangun madrasah dengan haluan ajaran Sunni di tahun 546 H.

Kala itu, sultan Salahuddin al-Ayyubi juga tokoh besar yang membangun madrasah al-Fadhiliyyah di Kairo dengan pengajaran madzhab Maliki dan Syafi’i dalam ilmu fiqh di madrasah yang sama pada tahun 580 H. Gagasan Salahuddin al-Ayyubi ini rupanya terinspirasi dengan gerakan pembangunan madrasah al-Asadiyyah di kota Damaskus yang dua belas tahun sebelumnya telah menerapkan pengajarab dua madzhab fiqh dalam satu tempat yang sama.

Hal ini, tentu sangat penting bagi kelanjutan keberagaman bermadzhab penduduk negeri Mesir kala itu. Karena telah jama’ terjadi gesekan antar madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) di periode sebelumnya khususnya di abad ke-tiga dan ke-empat Hijriah.

Uniknya, sultan Najmuddin as-Shalih melanjutkan estafet gagasan keberagaman bermadzhab dengan sangat apik di periode selanjutnya yaitu di tahun 639 H. Dimana, ia membangun madrasah ash-Sholihiyyah di bekas istana kesultanan Fatimiyyah di Kairo dengan pengajaran empat Madzhab di tempat yang sama. Ia membangun empat tempat di dalam masjid yang bentuknya mirip dengan mihrab yang sering disebut dengan Iwan dan setiap Iwan tersebut digunakan untuk mengajarkan empat madzhab fiqh (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali).

Walhasil, sejarah telah mengajarkan kita betapa pentingnya sebuah eksistensi madrasah sebagai ujung tombak eksistensi sebuah ajaran akidah. Dimana dahulunya, para ulama dan pemerintahan khususnya para ulama dari etnis Kurdi di Syiria dan Mesir di abad ke-Empat dan ke-lima yang berhaluan sunni atau yang kini kita kenal dengan Ahlu Sunnah wal Jama’ah sukses menyebarkan ajaran akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan berkat sistem pengajaran yang bagus dalam madrasah-madrasah yang mereka buat. Tentunya, sejarah juga mencatat ulama dan pemerintah beraliran Sunni dahulu juga menjadikan madrasah sebagai jenjang pendidikan yang mengajarkan keberagaman berpendapat dan bermadzhab. Hal ini dibuktikan dengan pengajaran beragam madzhab fiqh dalam satu madrasah yang sama.

Refrensi :

Kitab Wafayat al-A’yan karya Ibnu Khalkan

Kitab Shabhul al-‘Asya karya al-Qalqasyandi

Kitab Masajid Mishr wa Awliyaiha karya Dr. Sa’ad Mahir Muhammad

Buku The Muslim Architecture of Egypt vol II karya Creswell

Penulis: M. Tholhah Al Fayyadl, mutakharrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, mahasiswa universitas al-Azhar, Kairo.

Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut An-Nawawi

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari ’Umar bin Khatthab r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari & Muslim).

Mengomentari hadis ini, An-Nawawi di kitab Syarh al-Arba’īn menjelaskan bahwa hadis di atas menjadi dalil kuat akan pentingnya niat yang tulus (ikhlas) dalam setiap amal perbuatan. Beliau juga menerangkan tentang adanya tiga tingkat keikhlasan seorang hamba: pertama, beribadah karena takut akan siksa Allah Swt. An-Nawawi menamakan tingkatan ini dengan ’ibādatul-’abīd; ibadah para budak. Kenapa? Karena yang seperti ini—sebagaimana mental seorang budak—mematuhi perintah hanya karena takut disiksa oleh Tu(h)annya.

Kedua, beribadah karena mengharapkan surga dan pahala dari Allah Swt. Tingkatan ini oleh An-Nawawi disebut sebagai ’ibādatut-tujjār; ibadah para pedagang. Sebab, seperti halnya pedagang yang selalu mencari keuntungan, orang-orang yang berada pada tingkatan ini juga hanya memikirkan keuntungan dalam ibadahnya.

Ketiga, beribadah karena malu kepada Allah Swt. dan demi memenuhi keharusannya sebagai hamba Allah yang bersyukur disertai rasa khawatir sebab amal ibadahnya belum tentu diterima di sisi-Nya. An-Nawawi mengatakan, tingkatan ini adalah ’ibādatul-akhyār; ibadah orang-orang pilihan (dari berbagai cetakan Syarh al-Arba’īn yang beredar ada yang memiliki redaksi berbeda dan di sana tertulis ’ibādatul-ahrār yang memiliki arti ‘ibadah orang-orang merdeka’).

Tingkatan yang terakhir ini sebenarnya merupakan manifestasi dari hadis riwayat Imam Muslim yang disabdakan Rasulullah saw. saat ditegur oleh Aisyah r.a. ketika melihat beliau salat malam ‘kelewatan’ hingga kedua kakinya bengkak.

“Wahai Rasulullah, kau terlalu memaksakan hal ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu.” kata Aisyah.

Rasulullah saw. menjawab: “Bukankah sudah seharusnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?!” (HR Muslim).

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, perlu kami ingatkan lagi bahwa tiga tingkatan di atas kesemuanya tergolong ikhlas. Buat orang awam seperti kami, bisa istikamah pada tingkatan pertama saja sudah sangat bersyukur. Wallahu a’lam.()

Penulis: Abdul Rozaq, mutakharijin Ma’had Aly Lirboyo tahun 2018 asal Bangkalan

Allah Pasti Melakukan Lima Hal ini Pada Hamba-Nya

Ada lima perkara yang sudah dipastikan akan disiapkan oleh Allah kepada seorang hamba:

1.Allah akan memberikan tambahan (nikmat) kepada hamba-Nya yang selalu bersyukur.

Allah berfirman : لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.( QS. Ibrahim :7).

2. Allah akan mengijabahi doa seorang hamba tatkala ia berdoa.

Allah Swt berfirman : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “

Tuhan kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. (Al Ghaafir 60).

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw berdoa :

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْساً مُطْمَئِنَّةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ.

3. Allah akan memberikan ampunan (Maghfiroh) tatkala seorang hamba memohon ampun kepada-Nya.

Di dalam Al Qur’an, Allah berfirman : اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً

“Memintalah ampunan kepada tuhanmu, sesungguhnya tuhanmu adalah dzat yang maha pengampun. ” (QS. Nuh:10).

Di dalam sebuah Hadits diriwayatkan: Nabi Muhammad Saw bersabda:

 ﻟﻮْ ﺃَﺧْﻄَﺄْﺗُﻢ ﺣﺘَّﻰ ﺗﺒﻠﻎَ ﺧَﻄَﺎﻳَﺎﻛُﻢْ اﻟﺴَّﻤَﺎءَ ﺛﻢَّ ﺗُﺒْﺘُﻢْ ﻟﺘَﺎﺏَ اللّه ﻋﻠﻴﻜﻢ

“Seandainya dosa-dosamu se-langit, kemudian engkau bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatmu” (HR. Ibnu Majah).

4. Allah akan menerima taubat seorang hamba ketika ia hendak bertaubat. Nabi Muhammad Saw bersabda :

مَكْتُوْبٌ حَوْلَ الْعَرْشِ قَبْلَ اَنْ تُخْلَقَ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ آلَافِ عَامٍ وَاِنِّى لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى .

5. Allah akan menerima sedekah seorang hamba, tatkala ia mau bersedekah. Rasulullah saw bersabda :

 كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda :

مَا مِنْ عبدٍ تصدَّقَ بصدقةٍ يَبْتغِي بِها وجهَ اللّهِ إلاّ قَالَ اللّهُ يومَ القيامةِ عبدِي رجوتَنِي فلنّ أُحقِرَكَ حَرَّمْتُ جَسَدَكَ عَلَى النّارِ وَ ادْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الجَنَّةِ إِنْ شِئْتَ

” Tidaklah seorang hamba yg bersedekah karena Allah kecuali Allah akan berkata kepadanya pada hari Qiyamat :”Hambaku!engkau telah berharap kepadaku, maka aku tak kan menghinakanmu, jasadmu haram atas api neraka. Masuklah kedalam surga melalui pintu yg kamu mau.” (HR. Ibnu Lal).

” Sebelum dunia diciptakan empat ribu tahun lagi, telah tertulis disekeliling ‘Arsy: Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, kemudian ia mendapatkan petunjuk.” (HR. Ad Dailami).

_______________

Kitab Irsyadul Ibad hal 29.

Penulis: M. Nuruddin Yusuf, Mutakhorrijin Ma’had Aly Lirboyo. Asal Malang.

Santri Sebagai Cermin Pemimpin Negeri

Euforia pengakuan pemerintah pada elektabilitas pelajar-pelajar pesantren menjadi kebahagiaan tersendiri bagi dunia kaum tradisional. Meski pengakuan bukanlah tujuan akhir dari seluruh kinerja lulusan pesantren, setidaknya hal ini dapat menjadi cambuk penyemangat untuk terus berkarya dan mengabdi kepada bangsa.


Pesantren, dengan kurikulum-kurikulum yang secara garis besar dapat menggambarkan kualitas lulusannya, sekarang ini menjadi barometer pendidikan di Indonesia. Ketidakpuasan atas kredibilitas lulusan di luar pesantren yang ketika diberi kesempatan untuk berkarya justru cenderung merugikan negara, mendorong pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada pesantren untuk mengirimkan lulusan terbaiknya, guna turut berkarya untuk kemajuan bangsa. Terlebih dalam masalah moralitas anak-anak bangsa. Meski begitu, saat ini masih sedikit sekali lulusan pesantren yang mengabdikan diri dalam jajaran kepemerintahan.


Pencederaan nilai-nilai pancasila banyak sekali dilakukan oleh para peminmpin negeri, mulai dari korupsi, tindak asusila, dan masih banyak tindakan tak beradab lainnya. Para alumni pesantren dituntut untuk mengisi kekosongan pemimpin yang berprinsip tegas sesuai dengan nilai-nilai pancasila—terutama kandungan dalam kutipan sila keempat yaitu “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan, dalam permusyawaratan, perwakilan.” Sila keempat adalah wujud gambaran ideal seorang pemimpin. Dengan “hikmat,” seorang pemimpin akan menjaga amanat kepemimpinan melalui penjagaan nila-nilai agama, serta sesuai dengan tatanan negara.


Wujud kebijaksanaan dalam diri seorang pemimpin menjadi prinsip dasar munculnya keputusan-keputusan yang bersifat toleran dan menjaga persatuan. Pemimpin negara besar dengan aneka ragam suku, budaya, dan agama, haruslah memiliki sikap kepemimpinan yanng penuh hikmat serta kebijaksanaan dan beberapa faktor pendukung lainnya. Melihat betapa sulit memenuhi kriteria ideal seorang pemimpin, mengharuskan penanaman prinsip-prinsip dasar sejak dini. Hal inilah yang menjadikan pemerintah Indonesia memberikan apresiasi dan kesempatan kepada pesantren.


Dalam kajian sejarah, sejak era kepemimpinan berada dalam garis komando Nabi sebagai panjang tangan kebijakan Tuhan hingga era kebijakan Pak Jokowi, telah mengalami beberapa perubahan dalam konteks “keterkaitan pemimpin dengan agama,” yang secara tidak langsung menghasilkan kriteria ideal bagi seorang pemimpin. Era pertama dalam kepemimpinan Nabi, seluruh keputusan yang diambil dan dilaksanakan di masa itu merupakan wujud keputusan Tuhan. Maka tidak janggal jika semuanya menghasilkan kebijakan yang penuh maslahah dan keadilan.


Nabi Muhammad saw selaku sosok imam yang menjadi gambaran kriteria pemimpin ideal, dengan kesempurnaan berfikir dan penguasaan ilmu tata negara, serta sebagai utusan Tuhan yang secara tidak langsung dalam semua kebijakannya mengandung kebenaran yang tidak bisa disalahkan. Kajian sejarah yang mengambarkan kemajuan-kemajuan Madinah, banyak ditemukan dalam tinta emas islam. Pembentukan “Piagam Madinah” menjadi tonggak awal dunia sebagai sikap bijaksana untuk menjaga persatuan sebuah negara yang di dalamnya terdapat beberapa suku, budaya, dan agama. Dengan ide cemerlang ini, Madinah menjadi satu-satunya negara yang memiliki garis-garis demokrasi bagi setiap warga negaranya.


Kesejahteraan tidak menjadi khayalan bak lautan tidak bertepi. Peraturan-peraturan yang tertuang di dalamnya adalah gambaran kecil dari proses demokrasi terpimpin. Kesepakatan untuk hidup bersama dengan peraturan-peraturan yang menghilangkan fanatik kesukuan dan digantikan dengan semangat kenegaraan adalah langkah besar dalam dunia ketatanegaraan. “Sempurna” adalah kata dari nilai pemerintahan era Rasulullah saw, dengan struktural yang diisi oleh para ahli dalam bidangnya—menjadi faktor penting dari keputusan-keputusan yang cemerlang.


Berlanjut pada era Sahabat, kepemimpinan masih berada dalam jalur yang benar. Di mana tonggak kepemimpinan di bawah komando para ahli. Baik dari sistem tata negara, politik, hingga bekal pemahaman agama secara mendalam. Masa Sahabat Abu Bakar ra menjadi awal perubahan dalam tata cara mengambil kebijakan-kebijakan baru. Jika di zaman Nubuwwah, semua melalui perantara Nabi sebagai panjang tangan dari peraturan-peraturan Tuhan, di masa para sahabat semua keputusan merupakan hasil dari permusyawarahan yang dilakukan oleh para sahabat. Dengan kejelian dalam melihat maslahat dan madhorot, serta didasarkan kepada keputusan bersama, mewujudkan kebijakan-kebijakan baru menjadi lebih efektif untuk merubah tatanan kehidupan masyarakat.


Di era Sahabat Umar ra, kemajuan Madinah semakin terlihat. Dalam kepemimpinannya yang relatif sebentar, Umar dapat memberikan gambaran atas sikap patriotisme sebagai seorang pemimpin yang dapat mengesampingkan kepentingan pribadi. Di masanya, islam dengan kota Madinah menjadi pusat kemajuan bangsa Arab. Kebijaksanaannya semakin terlihat saat mengambil keputusan untuk tidak memberlakukan hukum potong tangan bagi pencuri ketika Madinah mengalami krisis moneter. Kontekstualisasi hukum islam menjadi semakin mudah ketika pemimpin juga ahli dalam penguasaan ajaran agama. Namun, semakin jauh dari era Nabi serta para sahabatnya, tidak ditemukan sosok pemimpin yang dapat memenuhi kriteria sebagai pemimpin ideal.


Relasi umara (pemimpin) dengan ulama menjadi benang merah dalam sejarah kepemimpinan. Di era sahabat hampir semua pemimpin memiliki dua komponen tersebut. Sehingga menciptakan sosok pemimpin yang tidak hanya ahli dalam sistem tata negara, namun juga menguasai ajaran serta aturan agama. Kejayaan negara menjadi hal yang dapat diperoleh dengan tanpa melewati garis-garis agama. Permasalah muncul ketika islam berada dalam negara yang pemimpinnya tidak memiliki dua komponen di atas. Seperti gambaran kecil di era kerajaan islam (sistem monarki), dalam setiap keputusannya seringkali akan membawa kerusakan yang muncul karena tidak adanya kredibilitas, serta kepemimpinan mutlak—yang menghilangkan tuntunan nabi untuk memusyawarahkan setiap keputusan. Kandungan nilai demokrasi islam pada saat itu kehilangan kekuataannya.


Hubungan yang seharusnya dapat menjadi solusi untuk menutupi kekurangan kualitas pemimpin, tidak sepenuhnya dilakukan oleh sultan-sultan di masa itu. Meski mereka tetap memberi tempat tinggi kepada para ulama, namun tidak semua masukan para ulama diterapkan (kendati secara riil merupakan keputusan terbaik). Hampir setiap keputusan yang diambil adalah wujud usaha mereka untuk mempertahankan kekuasaan.

Begitu juga dalam kajian sejarah kepemimpinan kemerdekaan Indonesia. Di era awal kemerdekaan, sulit sekali ditemukan sosok yang kredibel sebagai pemimpin negara sekaligus ahli agama. Akhirnya semua itu ditutupi dengan semangat gotong royong untuk saling bahu membahu antar ahli dalam setiap bidangnya. Para umara selalu meminta pertimbangan ulama dalam setiap keputusan yang akan diambil. Sehingga tercipta buah terbesar dari kuatnya relasi keduanya, kemerdekaan.


Memasuki era Orde Baru, kerenggangan terjadi antara dua komponen ini. Para ulama memilih untuk menjauhi umara karena mereka semakin jauh dari prinsip awal dibentuknya negara Indonesia. Semua nilai-nilai pancasila hingga arti semboyan Bhineka Tunggal Ika tidak berlaku lagi. Masukan-masukan dari para ulama hanyalah angin berhembus yang tidak perlu diambil kebijaksaannya. Kerusakan-kerusakan pun terjadi hingga Indonesia berada dalam titik nadir dengan maraknya peristiwa dan pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di masa itu.


Belum ada perubahan signifikan hingga memasuki akhir tahun 2019 masehi ini. Meski secara tidak langsung, relasi dari keduanya saat ini nampak semakin kokoh dengan tampilnya lulusan pesantren yang menempati beberapa posisi strategis. Namun, semua itu tidak bisa menjadi solusi akhir dari kekacauan yang sering terjadi di negara Indonesia. Diperlukan seorang pemimpin yang dapat menyelesaikan problem-problem masyarakat dengan bijaksana dan pemegang amanat dengan hikmat.


Melihat kenyataan ini, sudah saatnya kepemimpinan berada di bawah komando sosok yang menjadi gambaran nilai-nilai pancasila serta dapat mengibarkan semboyan bangsa. Para alumni pesantren dengan bekal agama kuat, sudah seharusnya membuka diri untuk juga mempelajari ilmu-ilmu trias politika, serta ilmu-ilmu lain. Karena banyak klaim bahwa sebagian besar teori siasat dalam kitab kuning sudah tidak relevan dengan zaman. Perlunya bukti bahwa relevansi ilmu fiqh selalu dapat menjawab permasalahan baru. Tidak cukup dengan kita hanya menyampaikan sebatas teori, namun hanya cenderung kepada pengaplikasiaan teori-teori yang menurut banyak pihak yang sedemikian rumit.


Sebagian pesantren memang masih merasa antipati terhadap proses pemerintahan Indonesia. Bukankah KH. Wahab Hasbullah sudah memberikan contoh dalam memperjuangkan kebenaran dan usaha merubah kemungkaran yang mengharuskan kita untuk bersentuhan langsung, meski dalam beberapa fase kita juga akan turut dalam pelaksaan kemungkaran tersebut. Namun dalam agama hal seperti ini bukanlah larangan.

Perubahan-perubahan mindset alumni pesantren harus menjadi agenda besar di setiap tahun. Karena berdiam atas kemungkaran bisa jadi merupakan gambaran kerelaan wujudnya mungkar itu sendiri. Pemerintah telah memberikan peluang besar untuk para alumnus pesantren guna terjun dalam kabinet pemerintah. Program penyetaraan lulusan Ma’had Aly menjadi jalan terkonkret keseriusan pemerintah. Saat ini, para santri bukanlah sosok yang dianggap kolot, cupu, serta tidak cakap dalam bidang selain agama. Mereka adalah bibit unggulan yang menjadi harapan bangsa untuk memimpin negeri. Dengan kurikulum pesantren yang syarat akan makna persatuan, sudah seharusnya menjadikan mereka tampil sebagai yang terdepan di negeri ini.


Dunia tidak akan berhenti untuk sekedar menunggu kita. Jika tidak mengubah mindset, kita akan semakin tertinggal dengan perubahan-perubahan baru yang tidak dapat kita hentikan. Tuntunan agama untuk menjadi sosok yang mengamalkan amr bil ma’ruf wan nahyu anil munkar mengharuskan kita untuk siap dan sedia sebagai jawaban atas kerusakan moral masyarakat.


Analogi sederhana, kebaikan yang kita serukan dengan posisi kita hanya sebatas rakyat jelata—tidak jauh berbeda dengan mereka yang menghabiskan tenaga serta dana untuk berteriak-teriak tanpa kepastian akan tersampaikannya aspirasi dan usulan. Tindakan kita bisa lebih efektif jika kita pemengang otoritas atas setiap kebijakan yang diambil. Kita dapat menentukan besarnya maslahat dan kecilnya madhorot. Kabur dari semua permasalahan ini bukanlah solusi terbaik. Bom waktu akan meledak saat semua kemungkaran menguasai. Kita yang bersembunyi dari semua kewajiban ini hanya akan menunggu waktu untuk tersingkir dari persaingan.


Kita perlu belajar kepada sosok KH. Wachid Hasyim. Sosok santri yang dapat memberi perubahan dan pengabdian penuh totalitas kepada bangsa Indonesia. Berada di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari menjadikannya sebagai sosok intelektual. Bahkan sampai menguasai ilmu-ilmu dari negara barat, yang saat itu cenderung dilarang untuk dipelajari karena wujudnya sentimen terhadat ajaran penjajah. Bekerja sama dengan berbagai ahli dari luar pesantren menjadikannya mengerti, bahwa cita-cita bangsa tidak akan bisa tercipta jika kita berdiam diri tanpa ada semangat perubahan. Banyak pemimpin yang menjadi pejuang intelektual dari kalangan santri, seperti halnya KH. Mahrus Ali yang mempunyai inisiatif untuk mendirikan Sekolah Tinggi di tengah lingkungan pendidikan salaf. Hal ini merupakan gebrakan luar biasa. Ada lagi KH. Badrus Sholeh yang mendirikan pondok pesantren putri pertama di Karesidenan Kediri. Beliau memberikan kesempatan bagi perempuan-perempuan bangsa untuk turut belajar ilmu agama dan memiliki cita-cita mengabdi pada bangsa.


Pembaharusan seperti ini, juga perlu diterapkan dalam konteks kepemimpinan negara Indonesia. Dengan kesempatan yang diberikan oleh pemerintah, tidak ada salahnya bagi lulusan pesantren untuk berusaha mengabdikan diri kepada negara. Meski dalam kajian sejarah banyak sekali ulama yang lebih memilih untuk menghindari jabatan-jabatan pemerintah. Namun sekali lagi, bukan jabatan yang kita tuju. Semangat untuk membawa Indonesia kepada peradaban yang lebih maju, dengan tanpa menyalahi aturan agama, salah satunya dapat dicapai dengan masuk ke jajaran elit pemegang kekuasaan dan pemutus setiap permasalahan.


Dalam kajian fiqh, bukanlah larangan bagi orang-orang yang memiliki kecakapan dalam bidangnya untuk mengajukan diri sebagai calon pemimpin bangsa. Bahkan jika ia adalah sosok yang memiliki kreadibilitas serta memiliki keyakinan mampu memberi perubahan, maka wajib baginya untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa dalam konsep untuk membawa kepada yang lebih baik.


Bangsa Indonesia telah menyematkan kepercayaan tinggi kepada lulusan pesantren untuk memberi sentuhan perubahan. Tidak ada yang harus diperdebatkan. Semua itu hanya perlu pembuktian atas kepercayaan serta amanat bangsa. Tidak ada waktu lagi untuk menghindari atau lari dari tanggung jawab. Prinsip kuat yang ditanamkan para ulama kepada lulusan-lulusan pesantren seharusnya menjadikan semangat untuk berjuang dan mengabdi kepada negara semakin bergelora.


Terkekang dalam ketakutan yang menguasai pikiran, menjadikan kita tidak berani mengambil langkah efektif. Meski dengan sedikit kontroversi bukanlah hal yang perlu ditakuti. Semua itu hanyalah sebagai jalan menuju arah yang lebih baik. Prinsip sederhana yang harus ditanamkan dalam mindset para santri; “Berfikirlah untuk langkah yang memberi perubahan, bukan hanya mengolok-ngolok mereka yang berkorban untuk satu kebenaran dengan perubahan”.

Penulis: Muhammad Hasbullah Siswa Ma’had Aly Smt. IV