Category Archives: Santri Menulis

Cerpen: Purnama Tanpa Bintang

Malam kian dingin. Bintang-gemintang menghilang satu-satu. Kabut mulai menyelimuti pedukuhan kecil itu. Rumah anyaman bambu di ujung dukuh begitu lenggang. Suara malam bersahutan riuh dengan ku-ku­ burung hantu dari rumpun bambu di belakang rumah.

            Sarindi terbangun. Titik-titik keringat di dahinya satu-dua mulai meleleh. Wajah ayunya pucat dengan pandangan nanar. Baru satu jam dia terlelap, namun mimpi-mimpi itu hadir lagi. Desahan napas tertahan bercampur tetesan peluh dalam dinginnya udara malam, mengiringi gerakan ritmis dua insan yang coba menggapai nirwana. Sarindi begidik! Mengingatnya membuat tubuh dengan perut yang mulai membuncit itu bergetar. Dipeluknya tubuh berbalut daster itu. Begitu erat! Mencengkeramnya, berharap tubuh hina itu remuk tak bersisa. Dan air matanya pun ikut membanjir, menggigil, meraung dalam tangisan pilu tanpa suara. Satu lagi, malam-malam yang dia lalui dengan sejuta sesal.

            Keesokan harinya Sarindi berjalan ke rumah Sang Sesepuh di dampingi ibunya. Wajahnya begitu tenang meski kantung mata menggantung disana. Dia berjalan selangkah demi selangkah dengan seribu keyakinan yang tak tergoyahkan.

            Sutri memucat, gemetar menggandeng erat tangan anak semata wayangnya. Seolah dia tengah digiring ke tiang gantungan. Berkali-kali dia membujuk anaknya itu semenjak subuh-subuh tadi saat mengutarakan keputusannya. Namun sedikit pun anaknya tak goyah. Saat dia terpukul akan nasib anaknya dengan linangan air mata, suaminya hanya terdiam mendengar keputusan itu dan memutuskan pergi ke sawah lebih pagi tanpa sepatah kata.

            “Tidakkah kita pulang saja, Sarindi?”

            Sarindi tak menjawab. Langkah kakinya kian mantap. Lagi-lagi Sutri mengusap matanya yang sudah teramat sembab. Malu, marah, luka, sedih, kehilangan, semuanya campur aduk jadi satu. Masalah ini begitu membingungkan. Mau bagaimana lagi? Saat takdir sudah menggariskan seorang janda muda yang ditinggal mati suaminya yang mandul, tergoda janji-janji busuk pemuda tampan dukuh sebelah yang entah dimana sekarang dia berada!

            Sang Sesepuh di dalam kamar saat Drapto, salah seorang muridnya, mengetuk pintu kamar. Dengan langkah yang termakan usia, Sang Sesepuh menemui Sarindi dan Sutri yang tengah bersimpu di atas tikar pandan di ruang depan.

            “Sepagi ini, ada maksud apa kalian kemari?” tanya Sang Sesepuh dengan lantang setelah duduk bersila di depan mereka. Hati Sang Sesepuh amat janggal. Perasaan aneh tiba-tiba menerkamnya.

            Sarindi angkat bicara. Dengan begitu gamblang dia mengakui semua yang telah diperbuatnya pada Sang Sesepuh.

            Sang Sesepuh diam sejenak setelah mendengar penjelasan Sarindi, “Apa kau yakin?” Harusnya Sang Sesepuh tak perlu lagi bertanya. Dari tatapan mata Sarindi, caranya bertutur dan ketenangan yang menyelimutinya, dia tahu perempuan itu lebih dari sekedar yakin. Dia benar-benar siap.

            “Hari ini aku telah datang ke rumahmu, maka biarlah aku menjalani apa yang memang harus aku jalani!” ucap Sarindi mantap. Sutri hanya menunduk di sebelah Sarindi.

            “Baikllah! Sutri, jaga anakmu baik-baik. Saat waktunya tiba, bawalah dia kemari. Dan sekarang, pulanglah!”

            Sutri mengangangguk murung. Hari itu takdir telah mencatatnya untuk berjumpa dengan sebuah perpisahan.

            Waktu terus berlalu seiring dengan perut Sarindi yang makin membesar. Kabar itu sudah mulai menyebar. Sutri jadi jarang keluar rumah, tak tahan mendengar cemooh dan pertanyaan-pertanyaan menohok yang menusuk telinga. Sedangkan suami Sutri kini benar-benar menutup mata, telinga dan hatinya. Dia berangkat ke sawah tiap subuh dan pulang saat petang menjelang, seolah tak pernah terjadi apapun.

            Sarindi hanya berdiam di dalam rumah. Sesekali duduk-duduk di teras depan rumah. Hari-hari terasa amat lamban. Tiap detik yang berlalu membuat jantungnya berdetak lincah. Dia sudah tidak sabar lagi menunggu hari yang dinanti-nanti.

Malam itu tepat ketika bulan purnama bersinar terang bagai raja diatas singga sana. Dibantu Sutri, susah payah Sarindi melahirkan putranya. Dengan keringat yang masih menetes, Sarindi mencium bayi mungil yang dibaringkan di sampingnya.

            “Anak kamu ganteng, Sari!”

            Sarindi tersenyum. “Iya, bu. Beri nama dia “purnama”, bu! Karena dia begitu tampan, indah seperti bulan purnama!”

            Genap empat puluh hari setelah kehadiran Purnama, akhirnya Sutri akan benar-benar kehilangan dalam hidupnya. Suratan takdir benar-benar akan terjadi. Subuh-subuh dia melihat Sarindi memeluk erat Purnama dalam gendongannya. Sutri tahu, itu adalah hari terakhir Purnama bertemu ibunya, juga hari terakhir Sutri melihat wajah ayu anaknya.

            Pagi itu Sarindi sungkem pada kedua orang tuanya, mengutarakan seribu kata maaf dengan cucuran air mata. Setelah sekali lagi mencium putranya Sarindi benar-benar tak sabar lagi. Dengan tangan yang diikat menggunkan lengan bajunya, dia berjalan menyusuri jalanan pedukuhan diiringi kedua orang tuanya. Penduduk yang melihatnya langsung ikut mengiring Sarindi. Mereka tahu, ini adalah harinya, upacara adat akan segera dilaksanakan. Sebagian menggunjing, sebagian ikut berduka.

            Dengan iringan penduduk yang makin banyak, Sarindi sampai di rumah Sang Sesepuh. Mendengar keramaian, Sang Sesepuh keluar rumah. Kepada Drapto, Sang Sesepuh menyuruh untuk mengarak Sarindi ke lapangan dan menggali lubang sedalam dada disana. Tak perlu dua kali, Drapto segera menjalankan perintah.

            Pukul sembilan pagi. Seluruh penduduk berkumpul di lapangan, meninggalkan semua aktifitas untuk sebuah upacara adat. Di tengah lapangan Sarindi telah dikubur sebatas dada. Sang Sesepuh membuka upacara adat itu, penduduk berkerumun memutari Sarindi dengan jarak yang telah ditentukan, membawa bongkahan-bongkahan batu sekepalan tangan. Dan saat Sang Sesepuh memberi aba-aba, penduduk mulai melempari Sarindi dengan batu!

            Sutri menjerit, melengking tinggi ditengah keramaian, meronta-ronta dalam pelukan suaminya. Hatinya remuk melihat nasib anak semata wayangnya.

            Di sela jerit tangis Sutri dan gemuruh lemparan batu penduduk, Sarindi menunduk, begitu takzim merasai setiap jengkal rasa. Tanpa ada seorang pun yang tahu, Sarindi tersenyum begitu indah. Senyuman paling indah dalam hidupnya. Dia begitu bahagia. Akhirnya, hari yang dinanti-nanti telah tiba! Semerbak wewangian bunga menyusup kedalam hidungnya. Matanya menangkap cahaya putih yang menyilaukan. Sarindi menangis, sebuah senyuman dengan tangisan bahagia. Hari ini, dia benar-benar akan kembali, menginggalkan jeritan ibunya yang samar-samar menghilang dan bayangan sosok Purnama yang kian memudar.

            Malam harinya Sutri memeluk Purnama yang terlelap di pangkuannya. Menatap kosong jalanan gelap. Sesekali matanya basah, meratapi perpisahannya dengan Sarindi.

            Angin berhembus kian dingin membawa kabut malam. Langit tampak indah berhiaskan purnama. Namun, malam ini tak satu pun bintang-gemintang terlihat. Hanya purnama sendiri di atas sana yang bersinar. Sendirian. Dia benar-benar telah kehilangan bintang-gemintangnya![]

Penulis: San Bashori (Penulis adalah santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri sejak 2015 hingga sekarang).

Baca juga: Nasehat Hidup dalam Ilmu Nahwu.

Simak juga: Hakikat Ulama ; KH. Aziz Manshur

Cerpen: KEPADA BURUNG JENIS LAIN

Bayang senja surut mengiring langkah mentari sebagai tanda kepulangan para nelayan. Di tepi pantai, beberapa bangku tersusun rapi hiasi lautan. Pada salah satunya, seseorang terduduk takzim tanpa sedikitpun memandang laut dihadapannya. Ia tampak berjibaku dengan bias wasangka, seolah menerka selaksa masalah untuk diubahnya menjadi solusi.

            Memang, masalah tak kenal waktu datang, tak pasti kapan ia pergi. Manusia dituntut untuk terus menghadapi. Namun jika tubuh sudah tak tahan, apakah pasrah adalah kunci untuk menjawab segalanya?

            “Pasrah bukanlah menyerah. Pasrah adalah fase terakhir yang harus dilakukan. Usaha, doa dan pasrah akan takdir harus saling terikat.” Ungkap salah satu ustadz yang kudengar dari surau tempatku dulu.

            Di hari yang lalu, tak jauh dari tempat yang sama. Kulihat orang itu asyik bercerita. Entah apa yang ada dalam pikirannya, ia acuhkan apapun, begitu syahdi dalam obrolan-obrolannya sendiri. Kukatakan “sendiri” karena memang benar-benar sendiri, tanpa satupun kulihat orang menemani-mendengarnya bercerita.

            Kuingat, hari itu gerimis rintik menghujam begitu pelan. Disaat yang lain berhambur pergi berteduh di bawah atap-atap warung yang ada, ia malah berdiri gagah menantang lautan. Anehnya, semakin lantang ia bercerita, semakin deras hujan turun.

            “Oh, angin. Oh, hujan. Oh, ombak.” Begitu seterusnya ia berucap.

            Dari jarak tak begitu jauh, aku mengamati laku orang itu. Aku takjub, ternyata bukan hanya hujan, angin juga sangat berteman baik dengannya. Bayangkan, saat ia menyapa “Oh, angin.” Seketika itu pula tetiba angin berhembus kencang, balik menyapa. Aku heran kenapa demikian bisa terjadi, angin-hujan kusaksikan mufakat untuk menghiburnya.

            Aku tak dapat menebak “oh” apalagi yang akan ia katakan. Orang kita, ia sudah gila. Berbeda, kurasa itulah yang disebut manusia sebagai seni. Seni penceritaan tanpa pencitraan.

            Hujan tetap berlangsung, ombak semakin meninggi. Sementara angin bertiup dengan suara mendebarkan hati, tetapi siapa kiranya yang akan mendengarnya? Alam berbicara sendiri tak peduli apakah ada atau tiada manusia menghuni. Lihat, bahkan sekarang alam seolah menyimak khusyuk keluh-kesah seseorang. Berbanding dengan manusia yang hanya mau mendengarkan jika itu sesuai dengan persepsi yang dimiliki.

            Hari-hari berikutnya aku tak menemukan orang itu disana. Aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga, yang aku pun tak mengerti rasa kehilangan itu. Karena sampai detik ini, aku tak pernah memiliki keberhargaan yang sering disebut-sebut manusia. Lalu hari ini, setelah sekian waktu ia menghilang, kudapati orang itu lagi. Betapa bahagianya aku. Bahagia yang aneh. Bagaimana tidak, di saat kulihat orang itu nampak bersedih kenapa aku merasakan kesebalikannya? “Oh, sial. Aku terkena hipnotis, tapi aku sadar.”

***

            Aku semakin dibuat penasaran dengannya. Lalu kuputuskan untuk terbang mendekat, agar dapat kudengar kalimat apa saja yang ia ungkapkan. Sadar tak ada apapun di dekatnya, aku bertengger saja pada bangku sebelah, menjaga jarak agar tak dicurigai. Dari dulu memang aku dikenal sebagai “si pencuri dengar” di surau, rumah penduduk, atau pun masjid, bagiku sama saja. Menangkap hal yang menarik lalu menarasikannya pada segerombolan burung jenis lain adalah kehebatanku sebagai burung gereja.

            Nahas, ia menyadari keberadaanku. “Duhai burung, kemarilah mendekat.” Ucapnya menyapa. “Kemarilah, aku tak akan menyakitimu.” Katanya lagi.

            Selama ini aku tak pernah percaya pada manusia, tetapi kenapa aku merasa begitu yakin padanya? Tanpa daya tubuhku terbang begitu saja hinggap pada jemarinya. Dan aneh, saat bertengger, kakiku tak merasakan adanya tulang pada pangkal ibu jarinya.

            “Wahai, kenapa kau tampak begitu heran denganku?”

            Sungguh, bahkan ia bisa menangkap ekspresi wajahku—yang kata orang—sebegitu rupa semua burung tampak sama. “Siapa gerangan orang ini?” Tanyaku dalam hati.

***

            Kupandang langit yang mulai tampak petang. Segala hal yang sebelumnya terlihat jelas kini samar. Kesamaran yang membuat mata ayam-ayam ternak buta semalaman. Kesamaran yang menjadikan manusia kadang salah menyebut nama. Atau bahkan kesamarasn inilah yang menyebabkanku disebut sebagai burung gereja, seekor burung yang meski tiap hari pulang-pergi ke surau-masjid, akan tetap dipanggil sebagai burung penganut agama yang ada di gereja. Aku putus asa, lalu pergi dari surau mencari tempat baru. Kutelusuri seluruh pelosok tempat yang pada akhirnya singgah disini, di antara atap warga yang ada di tepi pantai Rembat. Tempat dimana aku bertemu dengan orang itu.

            Rasanya ingin sekali kuceritakan semua hal yang terjadi saat itu pada kalian, wahai burung-burung yang bukan satu jenis denganku. Namun, dengan keterbatasan, ini aku sampaikan. Jika suatu saat nanti kalian bertemu dengan seseorang yang senang bercerita sendiri, maka dia lah yang pernah berjumpa denganku. Ucapkan salamku padanya.[]

Penulis: Muhammad Abdu Fadlillah

Baca juga: Rahasia Bapak.

Simak juga: Kilas Pandang Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri 

Bus yang Membawa Kerinduan (Bagian 2)

Dirogohnya ponsel dari saku bajunya, dilihatnya layar ponsel, didekatkannya alat komunikasi tesebut di telingannya. Mulailah ia bergumam menjawab panggilan yang ia terima. “Ya, mah ini baru sampai terminal tirtonadi…Pasti dibawain…Ya dong…Papa juga…Dah…”

Si penelpon itu pasti istrinya, bukan yang lain-lain. Melalui kata “papa juga” kodektur itu membalas dengan ucapan “I love you mamah” dengan nada yang penuh kerinduan. Hey, seorang kondektur juga berhak ber “papa-mamah” dengan mesra kepada istrinya bukan? Apalagi—berbeda dengan sopir—kondektur boleh bertugas dua atau lebih secara berturut-turut. Jelas alasannya; jika sopir harus segar sepanjang jalan, kondektur boleh sekali tidur di perjalanan. Bukan tidak mungkin kondektur ini sudah meninggalkan istri dan anak-anaknya seminggu lebih. Tahu kan bagaimana rasanya memendam kerinduan selama itu?

Seorang lelaki membawa buntalan muncul dari belakang, lalu berdiri di ujung depan lorong, menghadap penumpang. Usianya 20-an dengan toleransi sampai 36 tahun. Dari dalam buntalan yang tidak terlalu besar tersebut, dirogohnya sesuatu yang kemudian ia perlihatkan kepada para penumpang. Wajahnya lelah, tapi ia samarklan dengan senyum dan sura yang mapan. “Ini suatu paket Berisi pulpen, pensil penggaris, penghapus dan lain-lain. Sangat cocok buat anak sekolah. Kalau bapak dan ibu beli barang ini satu-satu, dijamin harganya lebih dari Rp. 10.000, berhubung langsung ambil dari agen, saya tawarkan satu paketnya cukup Rp. 5.000 perak. Maaf saya bagikan satu-satu. Kalau tertarik, silahkan. Kalau tidak, barang akan saya ambil kembali.“ Ucapnya menarik minat para penumpang bus.

Dibagikannya alat paket tulis itu kepada semua penumpang kecuali penumpang yang tidur dan yang pura-pura tidur. Setelah membagikan dagangannya, ia kembali ke deret bangku terdekat mengambil lagi satu persatu paket alat tulisnya. Baik kepada yang membeli maupun yang tidak, ia mengucapkan terimakasih. Bedanya kepada yang membeli, ia tambahkan ucapan alhamdulilah disertai doa semoga mendapat limpahan rezeki.

Ia turun lewat pintu belakang saat bus menepi sejenak. Dan di luar sana ia akan menunggu bus dengan arah sebaliknya, menawarkan kembali barang yang tidak laku kepada para penumpang di bus tersebut, lalu turun di tempat ia naik bus ini, untuk kemudian naik bus lagi dengan arah yang sama dengan bus ini. Begitu seterusnya sampai ia berjualannya di malam itu dirasa telah cukup, lalu pulang ke rumah menemui istri dan anaknya yang mungkin masih kecil. Ia akan disambut istrinya dengan penuh harap dan rindu.

Seorang perempuan menyelinap sedikit bergegas di lorong bus sambil menenteng ukulele. Tercium bau parfum bercampur keringat ketika ia lewat.. Punggungnya disandarkan di tepi sandaran jok depan sisi kiri. Ia berkaos abu-abu lengan panjang dan celana jeans biru, dengan rambut sebahu yang disisir ke belakang dengan wajah yang dipoles bedak tipis. Kutaksir usianya 30-an. Tapi kalau ia jenis wanita yang punya beban hidup berat, bisa saja usianya baru 25 tahun.

Ia mulai petik ukulelenya. Lewat alat musik itu, keluarlah nada-nada intro yang dinamis. Lalu mengalun dari bibirnya yang berpola merah “kalau hatiku sedang rindu pada siapa ku mengadu, karena hati bertanya selalu, bertenanglah air mataku.”

Perlahan celotehan penumpang bus mereda, lalu senyap. Yang terdengar kemudian hanya suara jernih sang pengamen dan genjrengan ukulelenya. Bahkan sopir sengaja melepaskan injakan gas sehingga deru mesin bus nyaris tak terdengar. Mungkin inilah yang disebut, seluruh bus terkena sihir nyanyian sang pengamen.

Suaranya sangat merdu untuk ukuran pengamen biasa. Cengkok dangdutnya pas, lengkingannya jernih, mengingatkanku kepada diva terkenal Ike Nurjannah. Tunggu, apakah ia ternyata penyanyi dangdut betulan? Atau ia mengamen hanya sebagai sampingan di tengah sepinya orderan pangguang.

Tak seperti kepada pengamen umumnya, para penumpang memberikan tepuk tangan ketika pengamen itu menyelesaikan lagunya, seakan-akan mereka baru saja menonton konser dangdut. Hampir semua penumpang memberikan rupiah kecuali mereka yang tidak menghargai indahnya nyanyian. Kurelakan dengan ikhlas selelmbar 10 ribuan kepada bungkus permen yang disodorkan perempuan itu, “terimah kasih mas” desaknya, sambil tersenyum tulus.

Ia turun di Cileunyi ketika bus berhenti. Ia menyebrang jalan dan pasti menunggu bus ke arah semula. Setelah bolak-balik dua atau tiga kali, mungkin ia akan pulang. Bisa saja ia mengamen untuk membantu suaminya yang baru kena PHK. Mungkin juga ia janda dengan seorang bocah yang menunggu di rumahnya. Bagaimanapun, ia akan pulang dengan penuh rasa rindu dan segumpal uang saku yang cukup buat makan beberapa hari ke depan.

Lepas dari Jatinangor, bus memasuki jalan raya yang menanjak, berliku dan lenganang. Sopir masih sesekali menyandungkan tembang cianjuran. Aih, jangan-jangan sopir itu punya pekerjaan sampingan sebagai juru pawil.

senandung sopir itu membuatku—begitu juga penumpang lain—mengantuk. Apakah sopir sengaja membuat penumpang mengantuk dan tertidur lelap? Beberapa saat sebelum kehilangan kesadaran, yang kudengar hanyalah deru mesin bus dan desis samar angin yang menyelinap lewat kaca sebelah kanan sopir. Selebihnya, kami lelap.

Pastilah tidurku sangat nyenyak. Dua jam berikutnya, diantara sayup-sayup, aku hanya mendengar suara pedagang menawarkan tahu sumedang. Setelah itu, aku juga setengah sadar ketika bus melaju kencang di jalan tol. Sudah melewati Cikande rupanya. Tak sampai lebih dari 3 jam lagi, kami akan sampai di kota yang dituju. Masih kurasakan guncangan-guncanagn kecil bus dan senandung cianjuran dari bibir sopir. saat aku terlelap lagi…

Ketika ku buka mata, kondisi badan terasa segar. Jam di atas kaca bus hampir menunjukan angka 9. Beberapa puluh menit lagi, bus akan tiba di tujuan. Namun suasana begitu lengang kurasakan.

Tak ada suara, selain deru mesin bus yang melaju di jalan lurus tengah hutan. Gelap sekeliling, kecuali sorot lampu jauh bus. Tunggu, di mana ini? aku tak pernah mengenal tempat seperti ini selain jalan tol, jalan yang biasa kutempuh adalah jalan berliku. Aku celingukan, semua penumpang masih terlelap. “Pak sopir, kita sudah sampai mana?” Ucapku sambil berdiri. Tak ada jawaban. “Pak sopir…” lirihku lagi.

Tak ada siapapun di bangku sopir. Bus melaju kencang sendiri. Membawa rindu kami entah menuju kemana.()

Bus yang Membawa Kerinduan (Bagian 1)

Oleh: Wildan Nur Shofwani

Ketika bus merayap keluar dari terminal, jarum jam yang menggantung di atas kaca menunjukan angka 10: 12.  Dan jam baru akan dapat menuntaskan rindu untuk kota yang kutuju. Rindu yang berulang, rindu yang hampir membatu.

Di antara deru mesin, berpekik klakson di tengah padatnya jalan raya. Bibir sopir samar-samar kudengar menyandungkan tembang kasono—nyanyikan rindu. Dari spion di atas kaca depan, wajah sang sopir tampak bersih dan bersinar. Rambut dan kumisnya berhiasan garis-garis putih tapi mata dan bibirnya terus tersenyum, tembang kasono—kepada siapa dia merindu—Ah! Tentu kepada istrinya.

Dia tentunya bukan sopir bus malam dalam cerita-cerita rekaan; laki-laki yang hatinya mudah singgah pada perempuan lain di manapun bus singgah. Boleh jadi dia berangkat dari rumah berbekal peluk, cium, doa dan cinta dari sang istri. Mungkin istrinya wanita canitik yang setia menjaga pernikahan yang sudah merumur belasan tahun, setia menunggu sang suami dari perjalanan sehari-semlam.

Sekali bertugas, sopir akan berada di jalan raya setidaknya 18 jam, ditambah 3 atau 4 jam di kota tujuan sebelum kembali ke kota asal. Itu sebabnya sopir tidak boleh bawa bus 2 kali berturur-turut. Jika benar ia merindukan sang istri, hati para penumpang tentunya tenang dan tentram karena yakin sopir akan menjalankan bus dengan hati-hati, dengan kecepatan sedang dan tidak ugal-ugalan. Karena baginya ada rindu yang harus pulang dengan selamat.

Aku duduk di bangku kedua dari depan di deret kanan. Aku tidak suka duduk di baris paling depan karena cahaya mobil-mobil dari arah berlawanan akan selalu menganggu penglihatan. Aku ingin tidur pulas di perjalan, lalu turun dalam kodisi badan segar sesampai di tujuan.

Di sebelahku duduk merapat jendela seorang lelaki berusia 50 tahun. Ah, bisa saja baru 40 atau justru sudah 60 tahun. Cahaya remang memang selalu mengaburkan pendapat dan pandangan sebenarnya tentang seseorang. Ia tampak sudah terlelap sebelum bus benar-benar meninggalkan keramaian lalu lintas kota, kepalanya menyandung ke belakang dan mulutnya terbuka.

Mungkian ia sama denganku; naik bus dengan tujuan menuntaskan rindu. Bisa saja ia bekerja berjualan bakso, menyusuri gang-gang kota dengan dorongannya, lalu pulang seminggu, dua minggu atau sebulan sekali karena istri dan anaknya tinggal jauh di luar kota. Tiap pulang pasti ia membawa segepok uang dan sekeranjang rindu.

Di jok depanku, duduk sepasang lelaki dan perempuan dengan seorang bocah di apit di tengah-tengah, tak banyak yang mereka percakapkan selain mereka hendak menuju kota yang sama dengaku setelah seminggu menikmati liburan si bocah di kota. “Aku sudah kangen teman-teman.” Mungkin gumam si bocah di benaknya.

Para penumpang asyik dengan pembicaraannya sendiri. Suara mereka sudah seperti dengung lebah. Namun hanya satu hal yangk kutangkap dari dengung suara mereka; sama-sama rindu kampung halaman.

Keluar dari keramaian kota, bus melaju lebih kencang di jalan yang agak lengang. Kondektur mulai menagih ongkos dari arah depan ke belakang. Kepalanya separuh botak, tapi kumisnya tebal dan hitam. Di bawah cahaya lampu temaram, wajahnya lebih menunjukan jenaka daripada menyeramkan. Baru saja ia hendak menangih ongkosku, tiba-tiba mengalun lagu lama The Mercy—dalam kerinduan. (Bersambung)

Syaikh Nawawi Ulama Nusantara Harum Ke Penjuru Dunia

Momentum peradaban Islam pada abad 16 M sampai 18 M ternyata tidak hanya digaungkan bagi kaum Jazirah Arab saja, melainkan ada sebagian kaum muslim non arab ikut berkiprah dalam peradaban tersebut. Salah satunya Syaikh Nawawi Al Bantani Al Jawi Al Makki.

            Kiprah Syaikh Nawawi dalam keilmuan Islam tidak hanya dirasakan bagi kaum muslim pada masa tersebut. Tetapi hingga masa sekarang, umat muslim seluruh dunia masih merasakan manfaat keilmuan beliau melalui karya-karyanya yang masyhur.

            Syaikh Nawawi merupakan seorang ulama Haramain yang lahir di Indonesia pada tahun 1230 H / 1813 M. Beliau berasal dari Tanara, Serang, Banten. Dalam garis keturunan jalur ayah yakni Syaikh Nawawi bin Kyai Umar bin Kyai Arabi bin Kyai Ali bin Ki Jamad bin Ki Janta bin Ki Mas Buqil bin Ki Masqun bin Ki Maswi bin Tajul Arsyi (pangeran Sunyararas) bin Sultan Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah (sunan Gunung Jati).

            Dalam pemberian nama beliau, Kyai Umar sebagai ayahnya bertafa’ulan dengan nama ulama yang masyhur pada masa sebelumnya, yaitu Imam An-Nawawi. Karena kekagumannya beliau kepada ulama ahli fiqih dalam bidang masyhurnya asal Damaskus tersebut. Sehingga Kyai Umar memberi nama putranya dengan nama tersebut.

Pencarian Ilmu

            Pada masa kecilnya, Syaikh Nawawi dididik ayahnya dengan pendidikan dasar-dasar ilmu agama seperti membaca al-Qur’an, gramatika Arab, fiqih, teologi, dan lain-lain. Pada tahun 1821 M tepat usia delapan tahun bersama kedua saudaranya berangkat ke pesantren Kyai Haji Sahal Banten. Kemudian beliau melanjutkan belajar kepada Kyai Haji Yusuf ulama asal Purwakarta. Setelah itu Beliau menempuh belajar di Cikampek dengan mengembangkan ilmu bahasa Arab. Setelah merampungkan pendidikannya di Cikampek, Syaikh Nawawi beserta kedua saudaranya diminta pulang oleh kedua orang tuanya untuk membantu mengajar di pesantren yang diasuh oleh sang ayah.

            Karena kondisi politik di Nusantara yang tidak kondusif, pada tahun 1828 M, beliau meminta izin kepada ibunya untuk pergi menuntut ilmu ke Hijaz. Hingga sampailah beliau di tanah Hijaz dan bertempat tinggal di kampung Al Jawi serta mendapat pembinaan dari kaum muslim Nusantara yang sudah lama mukim di sana.

            Ketika di Hijaz, beliau berguru kepada banyak ulama. Di antaranya adalah Syaikh Junaid Al Batawi, Syaikh Mahmud bin Kannan Al Palimbangi, Syaikh Abdush Shomad bin Abdurrohman Al Palimbangi, Syaikh Yusuf bin Arsyad  Al Banjari, Syaikh Muhammad Shalih Al Mufti Al Hanafi , Syaikh Ahmad Al Dimyati, Syaikh Syaikh Hasbullah, Syaikh Zaini Dahlan, Syaikh Abdul Hamid Daghastani, Syaikh Muhammad Khatib Hambali.

Perjalanan Dakwah

            Pada tahun 1830 M, Syaikh Nawawi Al Bantani sempat pulang ke Nusantara serta ingin mengabdikan dirinya untuk mengajar di pesantren ayahnya. Akan tetapi, karena akses beliau terbatas ketika mengajarkan agama Islam dan dakwahnya di Banten yang disebabkan adanya pembatasan gerak serta dimata-matai oleh pihak Belanda, maka beliau lebih memilih kembali ke Hijaz dan bermukim di sana.

            Ketika mengajar di Hijaz, Syaikh Nawawi sangat berpengaruh sekali keilmuannya, sehingga ribuan murid dari penjuru dunia banyak yang menimba ilmu dan keberkahan darinya. Tidak hanya itu, beliau sampai dijuluki imam An-Nawawi shoghir. Dalam berpenampilan, pakaian beliau sangat sederhana, tidak menampakkan ciri khas ulama pada umumnya di tanah Hijaz. Meskipun begitu, hal tersebut tidak menyurutkan nyali beliau untuk mengajar di serambi Masjidil Haram. Karena yang dicari bagi muridnya adalah ilmunya bukan model pakaiannya.

Karya

            Terbukti dalam karyanya total ada 155 kitab (ada yang mengatakan 99 kitab). Di antara karyanya yang masyhur di kalangan pesantren yaitu Tafsir Al-Munir, Kasyifatu Al-Saja, Mirqoth Al-Shu’ud Al-Tashdiq, Nihayatu al-Zain, Al-Tausyekh ala fathu al-qorib, Uqudu Al- Lujain, Sullam Al-Munajat, Bahjatul Wasail, Tijan Al-Durari, Qomi’ Al- Tughyan, Salalim Al-Fudhola’, Nashaihu Al-Ibad, dan Muraqi Al-Ubudiyah.

            Begitu Tekunnya beliau dalam berkarya, sekali beliau menuliskan karya, di sampingnya beliau sediakan minyak untuk menyalakan lentera penerangan yang banyak. Sehingga ketika minyak dalam tong tersebut habis, maka rampunglah beliau dalam menuliskan karya tersebut. Ketika lentera tersebut belum mati, beliau tidak akan berhenti untuk menulis.

            Syaikh Nawawi wafat pada usia 66 tahun tepat pada tanggal 25 Syawal 1314 H / 29 Maret 1879 M. Beliau dimakamkan di Ma’la berdekatan dengan makam Syaikh Ibnu Hajar dan Sayyidah Asma binti Abu Bakar Ra. Syaikh Nawawi meninggalkan karya yang bermanfaat bagi dunia Islam, sehingga masih dirasakan dan diabadikan sampai sekarang. Dari karya tersebut, banyak bermunculan ulama dan ilmuan muslim yang terilhami darinya. Kita sepatutnya harus melanjutkan estafet di masa mendatang sebagai generasi penerus dari kaum milenial yang bermanfaat bagi agama dan bangsa.

Referensi:
  • Nawawi Al-Jawi, Muraqi Al-Ubudiyah, Al-Hidayah,Surabaya
  • Ulum Amirul,Al-Jawi Al-Makki Kiprah Ulama Nusantara Di Haramain, Yogyakarta.Global Press
  • Maftuhin Adhi, Sanad Ulama Nusantara, Sahifa, Bandung

Penulis: Muhammad Fahim Bariklana (Asrama Nganjuk)
Editor: M. Chozinul Fahmi

Baca juga:
KITAB SIRAJUT THOLIBIN, KITAB KLASIK KARYA ULAMA NUSANTARA

Simak juga:
Santri Kudu Wani Mlarat

# Syaikh Nawawi Ulama Nusantara Harum Ke Penjuru Dunia
# Syaikh Nawawi Ulama Nusantara Harum Ke Penjuru Dunia