Category Archives: Santri Menulis

Syaikh Nawawi Ulama Nusantara Harum Ke Penjuru Dunia

Momentum peradaban Islam pada abad 16 M sampai 18 M ternyata tidak hanya digaungkan bagi kaum Jazirah Arab saja, melainkan ada sebagian kaum muslim non arab ikut berkiprah dalam peradaban tersebut. Salah satunya Syaikh Nawawi Al Bantani Al Jawi Al Makki.

            Kiprah Syaikh Nawawi dalam keilmuan Islam tidak hanya dirasakan bagi kaum muslim pada masa tersebut. Tetapi hingga masa sekarang, umat muslim seluruh dunia masih merasakan manfaat keilmuan beliau melalui karya-karyanya yang masyhur.

            Syaikh Nawawi merupakan seorang ulama Haramain yang lahir di Indonesia pada tahun 1230 H / 1813 M. Beliau berasal dari Tanara, Serang, Banten. Dalam garis keturunan jalur ayah yakni Syaikh Nawawi bin Kyai Umar bin Kyai Arabi bin Kyai Ali bin Ki Jamad bin Ki Janta bin Ki Mas Buqil bin Ki Masqun bin Ki Maswi bin Tajul Arsyi (pangeran Sunyararas) bin Sultan Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah (sunan Gunung Jati).

            Dalam pemberian nama beliau, Kyai Umar sebagai ayahnya bertafa’ulan dengan nama ulama yang masyhur pada masa sebelumnya, yaitu Imam An-Nawawi. Karena kekagumannya beliau kepada ulama ahli fiqih dalam bidang masyhurnya asal Damaskus tersebut. Sehingga Kyai Umar memberi nama putranya dengan nama tersebut.

Pencarian Ilmu

            Pada masa kecilnya, Syaikh Nawawi dididik ayahnya dengan pendidikan dasar-dasar ilmu agama seperti membaca al-Qur’an, gramatika Arab, fiqih, teologi, dan lain-lain. Pada tahun 1821 M tepat usia delapan tahun bersama kedua saudaranya berangkat ke pesantren Kyai Haji Sahal Banten. Kemudian beliau melanjutkan belajar kepada Kyai Haji Yusuf ulama asal Purwakarta. Setelah itu Beliau menempuh belajar di Cikampek dengan mengembangkan ilmu bahasa Arab. Setelah merampungkan pendidikannya di Cikampek, Syaikh Nawawi beserta kedua saudaranya diminta pulang oleh kedua orang tuanya untuk membantu mengajar di pesantren yang diasuh oleh sang ayah.

            Karena kondisi politik di Nusantara yang tidak kondusif, pada tahun 1828 M, beliau meminta izin kepada ibunya untuk pergi menuntut ilmu ke Hijaz. Hingga sampailah beliau di tanah Hijaz dan bertempat tinggal di kampung Al Jawi serta mendapat pembinaan dari kaum muslim Nusantara yang sudah lama mukim di sana.

            Ketika di Hijaz, beliau berguru kepada banyak ulama. Di antaranya adalah Syaikh Junaid Al Batawi, Syaikh Mahmud bin Kannan Al Palimbangi, Syaikh Abdush Shomad bin Abdurrohman Al Palimbangi, Syaikh Yusuf bin Arsyad  Al Banjari, Syaikh Muhammad Shalih Al Mufti Al Hanafi , Syaikh Ahmad Al Dimyati, Syaikh Syaikh Hasbullah, Syaikh Zaini Dahlan, Syaikh Abdul Hamid Daghastani, Syaikh Muhammad Khatib Hambali.

Perjalanan Dakwah

            Pada tahun 1830 M, Syaikh Nawawi Al Bantani sempat pulang ke Nusantara serta ingin mengabdikan dirinya untuk mengajar di pesantren ayahnya. Akan tetapi, karena akses beliau terbatas ketika mengajarkan agama Islam dan dakwahnya di Banten yang disebabkan adanya pembatasan gerak serta dimata-matai oleh pihak Belanda, maka beliau lebih memilih kembali ke Hijaz dan bermukim di sana.

            Ketika mengajar di Hijaz, Syaikh Nawawi sangat berpengaruh sekali keilmuannya, sehingga ribuan murid dari penjuru dunia banyak yang menimba ilmu dan keberkahan darinya. Tidak hanya itu, beliau sampai dijuluki imam An-Nawawi shoghir. Dalam berpenampilan, pakaian beliau sangat sederhana, tidak menampakkan ciri khas ulama pada umumnya di tanah Hijaz. Meskipun begitu, hal tersebut tidak menyurutkan nyali beliau untuk mengajar di serambi Masjidil Haram. Karena yang dicari bagi muridnya adalah ilmunya bukan model pakaiannya.

Karya

            Terbukti dalam karyanya total ada 155 kitab (ada yang mengatakan 99 kitab). Di antara karyanya yang masyhur di kalangan pesantren yaitu Tafsir Al-Munir, Kasyifatu Al-Saja, Mirqoth Al-Shu’ud Al-Tashdiq, Nihayatu al-Zain, Al-Tausyekh ala fathu al-qorib, Uqudu Al- Lujain, Sullam Al-Munajat, Bahjatul Wasail, Tijan Al-Durari, Qomi’ Al- Tughyan, Salalim Al-Fudhola’, Nashaihu Al-Ibad, dan Muraqi Al-Ubudiyah.

            Begitu Tekunnya beliau dalam berkarya, sekali beliau menuliskan karya, di sampingnya beliau sediakan minyak untuk menyalakan lentera penerangan yang banyak. Sehingga ketika minyak dalam tong tersebut habis, maka rampunglah beliau dalam menuliskan karya tersebut. Ketika lentera tersebut belum mati, beliau tidak akan berhenti untuk menulis.

            Syaikh Nawawi wafat pada usia 66 tahun tepat pada tanggal 25 Syawal 1314 H / 29 Maret 1879 M. Beliau dimakamkan di Ma’la berdekatan dengan makam Syaikh Ibnu Hajar dan Sayyidah Asma binti Abu Bakar Ra. Syaikh Nawawi meninggalkan karya yang bermanfaat bagi dunia Islam, sehingga masih dirasakan dan diabadikan sampai sekarang. Dari karya tersebut, banyak bermunculan ulama dan ilmuan muslim yang terilhami darinya. Kita sepatutnya harus melanjutkan estafet di masa mendatang sebagai generasi penerus dari kaum milenial yang bermanfaat bagi agama dan bangsa.

Referensi:
  • Nawawi Al-Jawi, Muraqi Al-Ubudiyah, Al-Hidayah,Surabaya
  • Ulum Amirul,Al-Jawi Al-Makki Kiprah Ulama Nusantara Di Haramain, Yogyakarta.Global Press
  • Maftuhin Adhi, Sanad Ulama Nusantara, Sahifa, Bandung

Penulis: Muhammad Fahim Bariklana (Asrama Nganjuk)
Editor: M. Chozinul Fahmi

Baca juga:
KITAB SIRAJUT THOLIBIN, KITAB KLASIK KARYA ULAMA NUSANTARA

Simak juga:
Santri Kudu Wani Mlarat

# Syaikh Nawawi Ulama Nusantara Harum Ke Penjuru Dunia
# Syaikh Nawawi Ulama Nusantara Harum Ke Penjuru Dunia

KEBENARAN DI KELAS SYAMSUL

Kelas Syamsul sedang kosong, Bapak Mustahiq tidak masuk kelas, entah ke mana beliau. Syamsul sebagai ketua kelas maju membawa kitab, agar teman-temannya tidak ramai ia ingin mengajukan pertanyaan sebagai bahasan diskusi mereka untuk mengatasi kegabutan.

“Menurut kalian, bagaimana arti kebenaran itu?” Sesampainya di depan, Syamsul lekas saja membuka percakapan. Teman-temannya tetiba diam, demi melihat Syamsul berbicara seperti serius. Munir yang tadinya rebahan, mengangkat tubuhnya.

“Kebenaran itu saat kita melakukaan sesuatu sesuai keinginan ibu.” Munir teringat ibunya di rumah. Ia mengusap muka, tampaknya ia rindu.

Dimas si penggemar ikan koi mengejek, “Pasti ibumu mempunyai banyak aturan.” Teman-teman menertawakannya. Dimas ikutan, saat tertawa, perutnya bergoyang-goyang seolah terkena terpaan angin.

“Kebenaran adalah apa yang diputuskan oleh Yang Mulia dalam persidangan.” Fajar yang hobi mendengarkan musik dangdut itu angkat bicara. Saat ia masih kecil, Pak De-nya pernah dimejahijaukan soal sengketa tanah, namun berhasil lolos dari jeratan hukum. Mudah saja yang seperti itu bagi Pak De. Beliau mempunyai banyak rekan dan uang.

“Benar, karena Yang Mulia adalah ahli hukum, pasti beliau lebih tahu mana yang benar.” Rafi mendukung Fajar, sambil tangannya membenarkan letak songkoknya yang miring. Songkok itu pemberian kakek, warnanya sudah merah, usianya mungkin sama dengan HUT RI.

“Tidak bisa, hakim memutuskan perkara sesuai dengan yang dia lihat. Kita tidak pernah tahu sejatinya perkara yang tidak pernah kita lihat.” Munir kembali lagi ngeyel.

“Kalau seperti itu, tidak pernah ada masalah yang telah diselesaikan Pak Hakim.” Mbah Rahmat tidak terima. Eh, dia bukan sudah tua, teman-teman memang memanggilnya dengan imbuhan ‘mbah’ karena menghormatinya sebagai yang tertua di antara mereka.

“Lalu bagaimana dengan masalah-masalah manusia? kita, kan, juga memerlukan keputusan, walau putusan itu salah.” Dimas menyela lagi.

Hanyut

Di luar hujan mulai mengguyur, beberapa hari ini, hampir setiap sore hujan datang ke bumi pondok dan sekitar, membawa cerita kelas Syamsul hanyut bersama aliran airnya.

“Berarti kebenaran itu apa yang telah kita sepakati bersama.” Fajar menyimpulkan angannya sendiri tanpa meminta persetujuan yang lain. Sedang Rafi yang ada di sebelahnya manggut-manggut saja layaknya paham.

“Jadi bagaimana jika ada sekawanan penjahat yang tertangkap polisi, mereka sepakat untuk tidak mengakui perbuatannya. Apa mereka benar juga?” Rijal yang tadinya diam tidak tahan juga. Teman-temannya melirik. Rafi menggaruk rambut kepalanya hingga jatuh songkok merah itu.

“Tapi kalau kelompok yang menyepakati kebenaran itu mayoritas, mereka tetaplah yang paling benar. Atau setidaknya hampir benar. Mendekati benar. Kan, nabi menjamin bahwa umatnya tidak akan sepakat dalam kesesatan.” Kali ini Mbah Rahmat benar-benar mau menyudahi diskusi mereka. Karena lonceng akan berdenting beberpa menit lagi.

Di depan, Syamsul mulai capek berdiri. “Kebenaran milik Allah dan Rasulnya, kita sekadar berspekulasi…” Belum tuntas omongan Syamsul, Munir menyela.

“Kita, kan, juga diberi kitab suci dan hadis nabi sebagai pembimbing.” Tangan Munir mengemasi kitab-kitabnya. “Hakikat segalanya akan tampak kelak. Jadi berbuat saja sesuai kaidah agama kita.” Munir melangkah mendahului mereka, lonceng sudah berdenting.

“Woy, tidak semua dijelaskan oleh agama, mungkin sih, semua, tapi, kan, hanya muatan-muatan.” Fajar masih tidak terima teman-teman meninggalkannya keluar kelas paling akhir. Hujan rintik. Mereka keluar kelas agak berlarian.[ABNA]

Baca juga:
CERPEN SANTRI: RAHASIA BAPAK

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# CERPEN SANTRI: KEBENARAN ITU ….
# CERPEN SANTRI: KEBENARAN ITU ….

Studi Ilmu Balaghoh

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar ilmu balaghoh? Sekilas kita akan mengingat kembali kajian ilmu balaghoh yang sudah menjadi objek pembelajaran di madrasah kita. Kami tidak bermaksud mengajak Anda membuka kembali kitab Jauharul Maknun atau Uqudul Juman yang sudah tertata rapi di rak kitab. Atau mungkin sudah Anda masukan ke dalam kemasan kardus. Sayang kan, kalau berantakan lagi malah repot jadinya. 🙂 Belum lagi menurut pengalaman penulis pelajaran ini memang cukup sulit untuk dicerna. Paling tidak, kita tahu betapa pentingnya ilmu ini kaitannya dalam memahami bahasa dan makna ayat Alqur’an secara tersirat. Ketika dorongan rasa ingin tahu menggelora, maka pengembaraan pengkajian itu terasa indah dan bergairah.

Kalau pelajaran ini sangat sulit sangatlah wajar. Karena setiap orang akan merasa kesukaran apabila menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Kendala untuk mengerti ilmu Balaghah atau bahasa mengenai sastra akan lebih sulit dimengerti apabila tidak mempunyai dasar pengetahuan awal. Dalam tradisi ilmu sastra arab, balaghoh telah menjadi ilmu pengetahuan yang mempunyai formulasi sebagai basis konkretisasi sastra dan tolak ukur keindahan. Oleh karena itu secara teori prasyarat mempelajari balaghoh harus menguasai morfologi (nahwu) dan sintaksis (shorof) sebagai faktor penunjang.

Dengan kemampuan menguasai konsep-konsep balaghoh, kita bisa mengetahui rahasia-rahasia bahasa Arab dan seluk beluknya. Serta akan terbuka rahasia-rahasia kemu’jizatan Al-Quran dan Al-Hadits. Bahkan para pakar sastra era kenabian telah mengakui betul akan keindahan bahasa Al-Quran. Dari situ mereka yakin betul bahwa apa yang tertera dalam Al-Qur’an bukanlah karya manusia. Dengan begitu Al-Qur’an merupakan inspirator bagi para ahli bahasa Arab untuk mengkonsep berbagai macam pengetahuan yang dapat digunakan untuk menjaga keasliannya.

Bahkan, sebelum ilmu-ilmu tersebut dikenal, esensinya telah mendarah daging dalam praktek berbahasa orang-orang Arab dulu. Berbagai macam pengetahuan manusia, mulai dari ilmu, filsafat, seni, dan lainnya telah berada dalam akal dan lisan manusia dalam kehidupannya jauh sebelum diajarkan dan dikodifikasikan. Pada perkembangan selanjutnya, semakin luasnya percampuran orang Arab dengan non-Arab seiring kemajuan peradaban Islam menjadikan perlunya penyusunan sebuah ilmu pengukur ketepatan dan keindahan berbahasa Arab. Hal ini karena mereka orang-orang non-Arab tidak dapat mengetahui keindahan bahasa Arab kecuali jika terdapat kaidah ataupun pembanding. Hal ini penting terutama karena mereka punya keinginan besar untuk mengetahui kemukjizatan Al-Quran.

Mempelajari balaghoh tidak ubahnya mempelajari bidang seni yang lain yang tidak cukup dengan kemampuan bawaan, akan tetapi memerlukan latihan dalam waktu yang panjang.Praktek merupakan instrumen penting untuk tercapainya langkah awal. Dalam pengajian tafsir yang digelar di pesantren semisal, ini bisa kita jadikan acuan untuk menerapkan ilmu balaghoh yang kita perloleh.

Jika kita perhatikan, pembahasan ilmu ini tidak keluar dari ruang lingkup studi kalimat (jumlah). Dengan begitu kita akan terbiasa melihat retorika bahasa al-Qur’an dan pesan-pesan yang tertuang di dalamnya.

Para pakar bahasa ketika menghendaki menafsirkan satu ayat atau menetapkan makna dari satu kata yang sulit dipahami, maka mereka mendatangkan syair jahiliy yang memuat kata tersebut beserta makna dan gaya bahasanya. Banyak yang menyebut bahwa Yusuf Assakaki sebagai tokoh yang mengubah balaghoh dari shina’ah (induktif) menjadi ma’rifah (deduktif). Studi balaghah terbatas pada tiga pokok dasar keilmuan, yaitu ma’ani, bayan, dan dengan badi’. Dan umumnya faidah yang terkandung di dalamnya berporos pada intuisi ( dzauq ) orang arab sebagai standarisasi. Selain itu juga mengungkapkan penerapan bahasa yang indah, nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hal (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya.

Pengetahuan tentang sisi sejarah balaghah perlu kita pahami agar muncul kesadaran bahwa ilmu ini memang bukan benda mati yang yang tidak dapat diperbarui. Kesadaran inilah yang dapat menjamin perkembangan ilmu ini yang lebih maju, tidak mengalami kejumudan atau bahkan kepunahan. Kemajuan yang dimaksud di sini meliputi berbagai segi, entah dari segi pengajarannya yang lebih mudah, cakupan materi yang lebih luas, ataupun hasil penerapan dari ilmu itu sendiri yang memuaskan. Atau bahkan munculnya ilmu baru dari ilmu yang telah ada.

Bahwa sebagian teori balaghah mengkaji tentang bahasa. Lebih banyaknya merupakan bagian dari seni sastra dan gaya bahasa seperti terjemahan catatan khitobah dan syair yang di dalamnya memiliki makna falsafah bukan makna sastra. Beitu pula hubungan penyair, cerpenis, dan orang-orang yang berprofesi dengan tulisan atau lisan. Apa kegunaan mempelajari ilmu ini? Apakah manusia tidak akan mampu bertutur dengan baik tanpa mempelajari kaidah-kaidah balaghah? Seperti yang dikatakan oleh ahli mantik yang telah menetapkan metode berpikir yang lurus dan tak ada seorangpun yang mengingkari keabsahan berpikir dan keindahan tutur kata meskipun tidak merujuk pada kaidah-kaidah ilmu mantik dan ilmu balghah. Ahli mantik pun menjawab bahwasanya ilmu mantik itu sebagai media untuk melatih akal terhadap metode penelitian keilmuan yang valid.

Para ahli balaghoh menjawab, ”Kita mengetahui bahwa mereka berbakat dalam memberikan penjelasan dan jiwa mereka siap menciptakan sastra yang esteteis,. Akan tetapi mereka seolah membiarkan diri mereka terjerambab dalam kesalahan yang bermacam-macam ketika berpidato, menulis cerpen atau kisah.
Dilihat dari karakteristiknya bahwa balaghah mencakup keselarasan yang tampak dalam keserasian di antara ucapan dan kebutuhan pembaca dan pendengar dalam kondisi yang jelas. Sehingga gerakan penutur memberikan ekspresi retorik. Balaghah memperkuat hubungannya dengan seni estetik karena pada hakikatnya balaghah merupakan salah satu dari seni seperti tulisan, lukisan, musik, ukiran dan juga kemampuan mengungkapkan ungkapan yang indah dengan watak bawaannya sendiri seperti mendengarkan musik, melihat warna lukisan dan keserasian warna tersebut. Kemampuan ini mempertajam kefasihan.

Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa balaghoh termauk kajian keilmuan yang membahas hubungan antara manusia dengan jaman dan tempatnya, serta hubungan individu dengan kehidupan sosialnya.

Penulis: Luthfi Hakim
# STUDI ILMU BALAGHOH

Baca juga:
DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# STUDI ILMU BALAGHOH
# STUDI ILMU BALAGHOH

Santri Pengawal NKRI

Penulis: Muhammad Habibullah Mahmud
Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebuah bangsa dimana berbagai macam suku, ras, budaya, dan agama berkumpul secara majemuk. Bhineka Tunggal Ika tertanam di dalam jiwa disetiap penduduknya, sehingga rukun dalam berbangsa dan bernegara. Tanpa ada kecemburuan sosial, penindihan hukum dan penindasan hak-hak yang dilandasi perbedaan.

Menurut sejarah, KH. Hasyim Asy’ari melalui pesantren dan Jamiyah Nahdlatul Ulama, melalui resolusi jihad yang beliau utarakan, bahwa “wajib bagi setiap warga Indonesia untuk menjaga NKRI”, menjadi salah seorang tokoh pemantik berkobarnya jiwa santri untuk selalu menjadi garda terdepan dalam mengawal NKRI, juga dari jargon beliau:

حب الوطن من الايمان

“Cinta tanah air merupakan sebagian dari iman”
Mengapa demikian? Apakah beliau tidak mempersoalkan sistem bangsa Indonesia? Ternyata tidak, karena tatanan bangsa Indonesia sudah sesuai dengan norma-norma ajaran Islam. Maka tidaklah mengherankan jika beliau mengeluarkan fatwa ”membela tanah air Indonesia hukumnya wajib.”

Keserasian

Mengenai keserasian tatanan bangsa Indonesia dengan syariat Islam terbukti dari beberapa aspek. Dari penyetaraan kasta sosial dalam bingkai NKRI tanpa memandang perbedaan promodial misalnya. Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad Saw. pernah membentuk bangsa di Madinah ketika hijrah, yang tatanannya sama dengan NKRI. Karena dari penduduk Madinah yang konotasinya terdiri dari berbagai macam suku, dan kepercayaan—mereka dapat disatukan melalui tekad dan keinginan yang kuat untuk membangun masa depan yang cerah dan hidup bersama dengan damai di bawah naungan bangsa Madinah. Sesuai butir isi Piagam Madinah yang mengikat perdamaian di antara mereka:

إنهم أمة واحدة من دون الناس

“Sesungguhnya mereka (penduduk Madinah) adalah satu umat, bukan komunitas yang lain.”

وإن يهود بني عوف أمة مع المؤمنين. لليهود دينهم وللمسلمين دينهم. إلا من ظلم وأثم فإنه لا يوتغ إلا نفسه وأهله بيته

“Kaum Yahudi dari Bani Auf adalah satu umat dengan Mukminin. Bagi Yahudi agama mereka, dan bagi orang-orang Muslim agama mereka (kebebasan ini juga berlaku bagi sekutu dan diri mereka sendiri(. Kecuali yang dzalim dan jahat, maka hal itu akan merusak diri dan keluarganya.”

Kesamaan tekad dan cita-cita masyarakat Madinah, membuat mereka bahu-membahu dalam mempertahankan tanah airnya dari serangan pihak luar:

وأن بينهم النصر من ذهب يثرب

“Mereka bahu-membahu dalam menghadapi penyerang kota Yastrib.” (Al-Hidayah wan Nihayah karya Imam Ibn Katsir)
Mengenai bentuk bangsa Indonesia yang berupa Repubik, juga tidak lepas dari norma-norma ajaran Islam. Republik berasal dari kata ‘re’ yang berarti kembali dan ‘publik’ bermakna kepentingan umum atau masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan fundamental pembentukan pemerintahan adalah untuk kepentingan umum. Filosofi ini merupakan analogi dari salah satu kaidah fikih:

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

“Kebijakan pemerintah haruslah berorientasi kepada kemaslahatan publik.”

Estafet

Dengan demikian, sudah jelas bahwa rumusan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara-bangsa yang digagas oleh para pahlawan termasuk para ulama, merupakan manifestasi daripada ajaran Islam yang selayaknya harus diteruskan, dijaga, dan dipertahankan oleh generasi pengganti. Bukan malah mempersoalkan kedamaian dan pesaudaraan yang timbul karenanya. Bukankah kedamaian adalah kenikmatan yang sangat besar? Di mana kita dapat memenuhi apa yang kita butuhkan, beribadah, dan bersenda gurau dengan leluasa. Lihatlah negara-negara lain yang terus-menerus dilanda konflik berkepanjangan. Suara kicauan burung dan senda gurau, berganti dengan desingan tank dan peluru tembak. Tanah yang semula terhiasi rerumputan, tergantikan dengan simpahan darah. Dan seluruh penjuru negara menjadi sarang burung gagak kematian juga kehancuran.

Kendati demikian, sudah bukan saatnya mempersoalkan eksistensi negara. Maka tidaklah mengherankan jika Allah Swt. menyandingkan bunuh diri dengan pergi dari tanah air. Dalam firmannya:

ولو أن كتبنا عليهم أن اقتلوا أنفسكم أو اخرجوا من دياركم ما فعلوه إلا قليل منهم

“Dan sekalipun kami perintahkan kepada mereka “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu’ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka.” (QS. An-Nisa: 66)

Syekh Wahbah Az-Zuhaili menafsiri ayat tersebut bahwa Allah Swt. menjadikan terusir dari tanah air, setara dengan bunuh diri. Maka siapapun tidak akan membiarkan sebutir tanah bangsanya direbut pihak lain (Tafsir al-Wasith). Diceritakan juga bahwa Nabi Muhammad Saw. ketika tiba di Madinah setelah berpergian, beliau menggerak-gerakkan untanya karena sangat bahagianya. Dalam menafsiri hadis tersebut, Imam an-Nawawi memaparkan perihal penanaman jiwa nasionalisme merupakan sebuah anjuran syara’ (Fath al-Bari).

Peran Santri

Lantas sebagai santri, kita sudah selayaknya memberikan sumbangsih kepada bangsa untuk selalu mengawal terjaganya NKRI. Seperti halnya yang telah dicontohkan oleh pembesar-pembesar kita yang senantiasa memberikan komitmennya untuk bangsa dalam merawat bingkai NKRI. Mengenai hal ini, bisa dilakukan dengan berbagai cara, sesuai dengan bidang dan kemampuan kita. Yang terpenting ihwal tersebut tidak sampai menimbulkan perpecahan dan kegaduhan.

Kita harus mengingatkan pada diri kita bahwa perdamaian di Indonesia merupakan harga hidup sekaligus sampai mati yang harus ditunaikan. Sayyidina Umar berkata:

لولا حب الوطن لخرب بلد السوء فبحب الأمطان عمرت البلدان

“Andai tanpa adanya cinta tanah air, niscaya akan tersungkur negeri yang terpuruk. Maka, dengan melalui cinta tanah airlah negara akan makmur.”

Mencari ilmu pengetahuan sebagaimana kiprah santri umumnya, juga merupakan sebagian bentuk sumbangsih santri untuk negeri. Karena jika seseorang tidak memiliki ilmu, ia tidak akan pernah ada harganya. Orang bodoh jelas tidak bisa membedakan mana yang bermanfaat dan yang merugikan terhadap bangsa. Maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa langkah pertama yang harus kita lakukan untuk menjaga bangsa adalah menuntut ilmu.

Kontribusi

Selain adanya tuntutan untuk fokus mengembangkan potensi diri, kita juga harus mulai berkontribusi dalam ruang dakwah yang bebas ini. Saat ini adalah era di mana dunia virtual lebih berpengaruh dari pada dunia nyata. Banyak sekali berita, tulisan, dan informasi yang implikasinya negatif. Sehingga berpotensi merongrong keharmonisan yang telah terajut rapi sekian lama. Diakui atau tidak, media dakwah yang seharusnya kita jadikan sebagai lahan dakwah, menyebarkan pesan-pesan perdamaian, kini lebih didominasi oleh ujaran-ujaran kebencian, dan pemikiran yang menepis jiwa nasionalisme. Bagaimana tidak? Karena bangsa kita adalah bangsa yang makmur sehingga banyak pihak luar yang menginginkan runtuhnya persatuan kita. Seperti kata pepatah “di mana ada gula, pasti di situ ada semut.” Kita sebagai santri harus bisa tampil menjadi oase penyejuk jiwa di tengah gurun hiruk pikuk ini.

Bekal

Ketika menimba ilmu di pesantren, kita sebenarnya memiliki bekal yang cukup untuk membumikan perdamaian dan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Karena kita terlahir dari kultur dinamis, tidak kaku. Jika apa yang telah kita ketahui di pesantren tidak kita kembangkan dengan menyebar luaskannya, lalu untuk apa kita mencari sesuatu yang belum kita tahu? Bukannya pesan positif yang kita sampaikan kemungkinan akan bisa menggugah hati yang keruh? Tentu bisa saja, Nabi bersabda:

بلغوا عني ولو آية

“Sampaikan (ilmu) dariku walau satu ayat.”
Analoginya, jika kita telah menyampaikan pesan perdamaian semampu kita, berarti kita telah mengamalkan perintah Nabi. Karena kedamaian dalam berbangsa dan bernegara merupakan tuntunan syariat Islam.
Dalam menjaga dan mengawal keharmonisan NKRI, kita harus bisa mengerahkan jiwa dan raga secara totalitas:

من جد وجد

“Barang siapa bersungguh-sungguh, dia akan menemukan hasil kesungguhannya.”
Juga selalu mengedepankan kepentingan bangsa dari pada kepentingan kita sendiri. Karena berhasil tidaknya suatu keinginan individual kita, tergantung keadaan bangsa. Sebagaimana penggambaran di atas. Artinya kemajuan atau kemunduran bangsa, merupakan tanggung jawab kita bersama. Karena martabat kita sebagai pewaris bangsa.

Kunci Perdamaian

Sebenarnya santri adalah kunci perdamaian, persatuan, keharmonisan dan kesuksesan bangsa Indonesia. Karena santrilah yang lebih mengetahui letak di mana ridho Allah Swt. Sehingga Allah menjadikan bangsa Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negara yang makmur dan mendapat ampunan Allah). Allah Swt. bersabda:

هل يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون إنما يتذكّر أولوا الألباب

“Tidaklah sama orang-orang yang mengetahui dangan orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Namun, kita masih tertinggal jauh dan belum bisa hadir secara maksimal sebagai penyeimbang. Oleh karena itu, mulai saat ini kita harus meneguhkan lebih giat kembali peran santri dalam menjaga keutuhan NKRI.[]

Baca juga:
NASIONALISME RELIGUS MANHAJ KEBANGSAAN ULAMA’ NUSANTARA

Subscribe juga:
Channle Pondok Pesantren Lirboyo

# SANTRI PENGAWAL NKRI
# SANTRI PENGAWAL NKRI

Bulan Gus Dur | Meneladani Gus Dur sebagai Santri

Beliau menjadi sosok yang enigmatik, penuh kejutan, kontroversial, namun banyak orang menaruh kepercayaan dan harapan padanya. Gagasannya yang genial melampaui zaman, menjadikan banyak orang yang melihat tindakan dan kelugasan sikapnya (seolah dipaksa untuk) berhati-hati untuk memahami “labirin pandangannya” agar tidak gagal paham ataupun bersikap. Bahkan tidak jarang mereka semua dibuat ketar-ketir dan gemas atas pernyataan dan tindakannya.

Pergaulannya tak terbatas pada lapisan kebudayaan ataupun isme tertentu. Beliau merupakan seorang yang lugas dan apa adanya. Maka tak heran, beliau dekat dengan siapa saja, bahkan orang-orang yang memusuhinya. Namun perjalanan hidupnya tak pernah mulus, Beliau seolah selalu hidup dalam petualangan yang penuh badai dan onak berduri untuk menabur ajaran yang telah dibawa oleh junjungannya, kanjeng nabi Muhammad SAW; Islam cinta, untuk menyemai kehidupan damai yang adil dan beradab. Semua kalangan merasa kehilangan pada waktu kepergiaannya, para pecinta dan pencacinya memberikan doa terbaik untuk mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Ialah Almaghfurlahu, KH Abdurrahman Wahid, atau yang lebih masyhur dengan panggilan Gus Dur. Sebagai putra kyai besar sekaligus cucu pendiri Nahdlatul Ulama, perkembangan gus Dur tidak hanya terbatas pada lingkungungan pesantren saja.

Potret Masa Kecil

Pada akhir tahun 1944, ketika kyai Wahid Hasyim diutus oleh Hadratus syaikh Hasyim Asyari untuk mengurusi Shumubu, sebuah departemen keagamaan yang dibentuk oleh Jepang di Indonesia pada saat itu. Dan kyai Wahid Hasyim mengajak Gus Dur yang pada waktu itu baru berusia empat tahun. Sebagai seorang tokoh nasional yang berlatar belakang dan lingkungan pesantren tradisional, kyai Wahid Hasyim mempunyai lingkup persahabatan yang sangat luas. Rumah beliau selalu dipenuhi tamu-tamu dari berbagai golongan, termasuk orang-orang Eropa. Pergaulan seperti itu memungkinkan Gus Dur tumbuh menjadi seorang yang berwawasan luas dan sangat menghargai perbedaan, seorang kosmopolitan.

Adapun kegemaran membaca yang dimiliki oleh Gus Dur, seperti yang diungkap oleh Greg Barton dalam biografi Gus Dur yang ditulisnya, merupakan didikan dari ibu nyai Solicahah Wahid, ibunya Gus Dur. Koleksi buku dan surat kabar yang banyak di kediaman beliau, mendorong Gus Dur menjadi seorang yang gemar membaca buku. Gus Dur remaja jarang pergi keluar tanpa membawa buku. Bila ada sesuatu yang tak dapat Beliau temukan di perpustakaan di kediamannya, beliau mencarinya di toko-toko yang menjual buku-buku bekas di Jakarta. Kegemaran tersebut dilakukan hingga akhir hayat beliau.

Jejak Masa Remaja

Pada masa remajanya, beliau dikirim oleh ibundanya ke Jogjakarta. Di kota ini, beliau dititipkan di rumah salah satu teman ayah beliau. Seorang Muhammadiyah tulen, kyai Junaidi. Selain mengikuti sekolah formal dan belajar kepada kyai Junaidi, setiap tiga kali dalam seminggu, Gus Dur mengaji kepada KH. Ali Ma’shum, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

Setelah menamatkan pendidikan formalnya, Gus Dur mulai mengikuti pendidikan pesantren secara penuh. Beliau nyantri di Pesantren API Tegalrejo di Magelang. Di sini, beliau mengaji kepada kyai Chudori. Di Tegalrejo, mampu menyelesaikan pelajarannya dalam waktu yang sangat singkat, hanya dua tahun. Kebanyakan santri-santri lain memerlukan waktu empat tahun untuk menyelesaikan pelajaran yang ada.

Kemampuan untuk menyelesaikan pendidikan dengan waktu yang cepat itu bukan semata-mata merupakan previlese yang Beliau dapat dari keluarganya di Jombang, tapi karena—selain kecerdasan dan daya hafalnya yang kuat, merupakan buah ketekunan dan kegemarannya membaca. Hal ini Beliau buktikan setiap di luar kelas, di sela-sela menulis pelajar sekaligus menghafal pelajaran tersebut, sebagai pengusir rasa lelah ataupun bosan, beliau mengalihkan bacaannya kepada buku-buku barat.

Usaha Dzohir Batin

Selain kegiatan mengaji dan belajar, di pesantren Tegalrejo ini, Gus Dur membiasakan diri melakukan tirakat, riydloh, semacam laku untuk mengekang hawa nafsu dan hasrat materil melalui cara berpuasa dan ngrowot. Sebab, walaupun semenjak kecil Gus Dur terbiasa dengan buku-buku barat atau bacaan berbahasa non Arab, Gus Dur tetap mempunyai ketertarikan pada sisi sufistik dunia pesantren, selain laku tirakat, beliau juga rutin berziarah ke makam-makam auliya’illah.

Terbentuknya sisi intelektual seorang Gus Dur bukan saja Beliau dapat dari kegemaran membaca dan tirakatnya saja. Tetapi juga melalui pendiskusian yang Beliau lakukan bersama teman-temannya. Sewaktu di pesantren, selain diskusi ringan di luar kelas bersama-sama teman beliau, diskusi juga Beliau lakukan dalam bentuk sorogan kitab.

Sorogan merupakan sebuah metode khas pesantren di mana seorang santri membaca sebuah kitab di hadapan gurunya. Di situ, sang guru memberi pertanyaan-pertanyaan seputar gramatika dan pemahaman. Dan melalui tanya jawab itulah terjadi sebuah tahqiq pemahaman.

Kepribadian

Kegemaran Gus Dur dalam membaca, berdiskusi, dan tirakat melalui hidup sederhana juga Beliau lakukan ketika belajar di Kairo dan Baghdad. Dan melalui semua itu, terbentuklah sosok Gus Dur yang serius namun santai. Menjadi seorang yang sangat sederhana dan apa adanya. Namun sifat yang tenang, santai, dan kesederhanaannya itulah yang membuat semua orang menaruh hormat dan mengakui kebesarannya, bahkan termasuk orang-orang yang berseberangan dengan beliau.

Bulan ini haul Gus Dur diadakan. Bukan untuk mengenang dari di mana beliau meninggalkan para pecintanya. Bahkan bukan hanya untuk mengenang semasa beliau hidup. Tetapi untuk diteladani. Untuk terus menjaga sanad sikap seorang santri. Lahu Alfu Al-Fatihah. []

Baca juga:
GUS DUR DAN PERAN DRAMATIS KYAI IDRIS

Dawuh Masyayikh:
@Pondok Pesantren Lirboyo

# BULAN GUS DUR | MENELADANI GUS DUR SEBAGAI SANTRI
# BULAN GUS DUR | MENELADANI GUS DUR SEBAGAI SANTRI