Category Archives: Santri Menulis

Cerpen: SUMPAH SERAPAH DI MALAM BUTA

Oleh: Rozzaaq Imam

“Brak …!” suara pintu ditutup dengan keras. Semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu yang dari balik daunnya Kimi muncul dengan wajah gugup.

“Pelan-pelan nutupnya, Mi. Kayak habis kejar-kejaran sama keamanan aja,” kata Iyung.
Kimi tidak menggubris omongan Iyung. “Mana Rozi? Mendesak banget nih.”
“Apa?” orang yang dicari Kimi menjawab.
“Tadi sore aku udah bilang kan, Zi, kalau hapemu ilang?”
“Iya, terus?”
“Barusan aku telepon nomormu, aktif loh!”
“Eeeh …,” semuanya heran, maling macam apa yang
mencuri hape, tapi nomor pemiliknya masih dipakai.
“Kapan kamu telepon nomorku, Mi?” Rozi penasaran.
“Barusan, nggak ada lima menit. Kalau sekarang kita
telepon lagi gimana?” kata Kimi.
“Bentar dulu, Mi, tadi pas kamu telepon diangkat, nggak?”
“Nggak sih, soalnya tadi aku coba-coba missed call, gitu.”

Kiki yang dari tadi tak kebagian kesempatan bicara, akhirnya bicara juga, “Emang kalau entar diangkat, kamu mau ngomong apa, Zi?”
“Ya, tinggal tanya aja: „Kamu siapa?‟, gitu.” Alfa juga angkat bicara.
“Fa, Alfa, selama ini kukira kamu wahwoh,” Iyung menyahut.
“Emangnya gimana, Yung?”
“Ya, ternyata superwahwoh!” jawab Iyung sekenanya,
“Mana ada maling mau ngaku gitu aja?”
“Hahaha …,” tiba-tiba tawa semua orang pecah di dalam ruangan itu.

Beberapa detik kemudian sepi menyerang ruangan itu. Semua orang diam. Kimi bingung dengan teman-temannya yang semuanya diam. “Kok pada diam, gimana nih hapenya Rozi? Gimana menurut kamu, Ki?” tanya Kimi pada Kiki.

“Ini semuanya juga pada mikir, Mi. Liatin aja mukanya pada kayak anak-anak yang ditanya jumlah hafalan nadhom sama mustahiq.”
“Serius dikit bisa nggak?” Kimi nggak terima sejak tadi teman-temannya bercanda terus.
“Telepon sekarang aja, Mi, biar aku yang ngomong,” Rozi memutuskan.
“Siap,” jawab Kimi sambil mengambil hapenya, “ini udah masuk, Zi.”
“Tut … tut … tut …,”
“Nomor yang Anda tuju …,” lalu Rozi menutup teleponnya.
“Nggak diangkat nih,” keluh Rozi.
“Udah malam sih, ya,” kata Alfa sambil manggut-manggut,
“udah, Zi, besok lagi aja.” 

“Kan si Alfa mulai lagi,” Iyung lagi-lagi mau menyerang Alfa,
“kalau besok, keburu dibuang sim card-nya sama si maling, Fa.”
Lagi-lagi tawa semua orang pecah, kecuali Rozi yang masih belum menyerah. Dengan sekuat tenaga ia usap-usap hape Kimi dan mencari namanya di daftar kontak.
“Tut … tut … tut …,”
“Halo,” suara wanita dari seberang telepon.
“Ha-halo,” Rozi sedikit gagap, karena bingung harus bagaimana ia memulai percakapan. Sedangkan yang lain mulai tenang demi memerhatikan percakapan.
“Iya …?” tanya suara di seberang.
“Ini siapa, ya?” Rozi balik bertanya.
Wanita di sana menjawab, “Loh …,” dan tiba-tiba berganti suara lelaki, “Halo?”
“Ini siapa, ya?” tanya Rozi lagi.
“Loh, kok malah tanya? Bukannya situ yang telepon?”
“Pak, itu nomor yang lagi Bapak pakai punya saya. Kok bisa sekarang di tangan Bapak?”
“Ini nomor saya kok,”
“Bapak ini dikasih tahu, malah ngeyel. Itu nomor saya, Pak, dan sudah terdaftar atas nama KTP saya. Atau Bapak mau saya lapor polisi?”
“Ya, sama, saya juga sudah daftarkan nomor ini ke operator bersangkutan. Silakan saja lapor polisi kalau mau.”

Rozi mulai bingung karena hujjah-nya ternyata tidak berhasil menakuti orang yang diduga maling itu. Ia pun melunak. Dia bilang, “Pak, hape saya hilang, dan nomornya katut. Waktu barusan saya telepon, ternyata masih aktif dan sekarang dipegang Bapak. Jadi, kalau memang Bapak merasa tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, saya mohon kerjasamanya.”

Sebentar kemudian Rozi melirik ke arah Iyung. Di mata Iyung, lirikan itu isyarat butuh bantuan; semacam ratapan pengemis di pinggir jalan. “Tanya posisinya, Zi.” Iyung memberi komando.

Tanpa membalas omongan Iyung, Rozi meneruskan bicaranya, “Gini aja, Pak, bagaimana kalau kita ketemuan saja. Bapak sekarang posisinya di mana?”

“Katanya mau lapor polisi? Sana lapor saja. Lagian sejak awal situ sudah nggak percaya sama saya. Sekarang, mau saya bilang saya lagi di Jakarta, situ juga nggak akan percaya.”
“Fa, Alfa, jangan-jangan itu keamanan,” Kiki berbisik ke Alfa yang duduk di sebelahnya.
“Iya, Ki. Bisa aja itu keamanan mau mancing biar yang punya hape mau ngaku,”

“Sssttt …,” Iyung menyela obrolan mereka berdua, “nggak mungkin itu keamanan. Kalau memang iya dia keamanan, pastinya dia udah dari kemarin menciduk Rozi. Di hapenya kan ada foto-fotonya dia. Lagian, tadi yang ngangkat telepon pertama kali cewek kan. Pikir coba, keamanan macam apa yang malam-malam begini lagi sama cewek.” Iyung mengakhiri presentasi analisisnya dengan membenarkan posisi kacamatanya.

“Dia mulai gugup itu, Zi. Omongannya mulai ngawur,” Iyung lagi-lagi mengomando Rozi.

Rozi yang sebenarnya juga cukup gugup—terlihat dari tangannya yang gemetaran memegang hape Kimi, berusaha tegar dan berkata, “Ah, Bapak ini mulai ngawur omongannya. Sudah, Pak, nggak usah gugup. Santai saja bicaranya.”

“Ngawur gimana? Sudahlah, jangan suka ngerjain orang malam-malam. Situ juga nggak usah gugup.”

Tidak hanya tangannya yang gemetaran, sekarang tingkat kegugupan Rozi bahkan membuat pori-pori kulitnya memeras keringat.

Melihat muka Rozi sudah mirip peserta Muhafadhah Akhirussanah yang tidak bisa melanjutkan bacaannya, Iyung mengambil hape di tangan Rozi.

Dengan nada suara sedikit mengancam, Iyung berkata, “Pak, kalau Bapak memang nggak merasa bersalah, jujur saja. Bapak sekarang posisinya di mana? Nanti kita bisa ketemuan dan bicara baik-baik. Sebelum kami lapor polisi.”

“Kan saya sudah bilang, kalaupun saya bilang posisi saya sekarang di Jakarta, situ juga nggak percaya.”
“Kalau Bapak tetap nggak jelas, nanti saya laporin Gus Miftah!”
“Gus Miftah siapa?”
“Gus Miftah ketua GASMUN”

Orang di seberang telepon tidak segera menjawab, barulah setelah lima detik dia berkata, “Ya, nggak apa-apa lapor saja. Saya nggak salah kok.”

“Zi, dari logatnya sih, ini kayaknya orang Madura,” bisik Iyung pada Rozi. Iyung yang masih keturunan Madura itu punya ide baru.

Dalam bahasa Madura, Iyung bertanya, “Pak, Sampean Madhuráh, ghi?” Benar apa kata Iyung. Orang itu membalasnya juga dengan bahasa Madura, “Engghi,” dan sepertinya ia mulai melunak.

Masih dalam bahasa Madura, Iyung merayu, “Ayolah, Pak, kalau memang Bapak orang baik-baik pasti mau bantu kami.”

“Gini saja. Coba sebutkan nomornya berapa.”
“Zi, Rozi, cepetan!” Iyung mendekatkan hape Kimi ke bibir Rozi.
Dengan cepat Rozi menyebutkan nomornya, “08789XXXXXXX”
“Salah! Hahaha …, bukan itu nomornya. Situ salah sambung!”

Buru-buru Rozi memeriksa nomor yang bertulis-kan namanya itu. Ternyata memang bukan nomornya yang tertera di sana. Dipencetnya tombol warna merah yang bergambar telepon menutup di hape Kimi. Wajahnya yang memang cocok jadi karakter antagonis anime itu segera menyerang Kimi.

“Aku oleh seko In’am, Zi,” Kimi membela diri.
“Wah …! Terus piye iki, rek? Jaluk sepuro ae, yo?!”
Entah berapa kali air muka Rozi berubah-ubah dari tadi, tapi sekarang semacam ada rasa bersalah yang membebani air mukanya.

Rozi memutuskan meneleponnya lagi.
“Tut … tut … tut …,” dan telepon pun diangkat.

Tanpa berucap salam atau menunggu orang di seberang telepon berbicara, Rozi yang memang asli Madura langsung meminta maaf. Dalam bahasa Madura ia berkata, “Pak, maafkan saya, ya. Sungguh saya mohon maaf yang tiada batasnya. Maafkan saya, maafkan, ma-af-kan ….”

Bukannya memaafkan, orang di seberang telepon justru tertawa, “Hahaha …, salah nomor kan.” Percakapan antara keduanya berlanjut dalam bahasa Madura,
“Maafkan saya, Pak, tadi teman saya salah kasih nomornya”

“Kamu sih, nggak dibenerin dulu nomornya, hahaha …,” orang itu masih dengan tawa kemenangannya dan Rozi baru menyadari sesuatu.

“Rek, rek,” seraya berbisik, Rozi meminta perhatian teman-temannya, “iki bapakku,” lanjut Rozi dengan nada suara yang tak jelas tangga nadanya.

Teman-temannya melongo mendengar apa yang barusan Rozi katakan. Mulut mereka otomatis dalam mode senyap.

Dengan seluruh sisa tenaga yang nyaris habis karena pembicaraan dari tadi yang melelahkan, pada orang yang dicurigai sebagai bapaknya itu, Rozi berkata, “Abi, ariah ngko’, Bi,” Rozi memanggilnya dengan sebutan akrabnya pada bapaknya: ’Abi’.

Seolah tidak ada pembicaraan apa-apa sebelumnya, orang itu menjawab, “Oh, bá’nah, Zi,” (“Oh, kamu, Zi,”) tapi setelah itu, “eh, antos ghálluh, bá’nah sapah?” (“eh, tunggu dulu, kamu siapa?”) orang itu bertanya lagi. Bukan karena ragu apa benar itu suara anaknya, tapi lebih karena bingung. Bingung yang disertai kagum, karena humoristis Tuhan sama dengan hikmah kebijaksanaan-Nya; bisa dijumpai di mana saja dan kapan saja, bahkan pada waktu tengah malam di mana jarum pendek jam dinding sudah hampir lurus dengan angka 12.

“Ngko’, Bi.” (“Aku, Bi,”)

Bapaknya menjawab, “Oh …,” dan semua orang pun tertawa terpingkal-pingkal. Mulut mereka yang sedari tadi dalam mode senyap, sekarang dalam mode outdoor ala hape Cina.

Dari sepiker hape Kimi itu juga terdengar tawa wanita yang pertama kali mengangkat telepon; wanita yang ternyata ibunya Rozi. Dia hanya bilang, “Zi,” dan tertawa lagi.

Aku, yang sejak tadi hanya mengamati apa yang terjadi dengan teman-temanku dari jarak tiga meter, juga tertawa. Membayangkan andai hal semacam itu juga menimpaku. Kuperhatikan Rozi masih asyik bergurau dengan Abi-Umminya.

“Eh, Afid, lo dari tadi di sini? Dari tadi diam aja sih,” semua orang—kecuali Rozi—mengarahkan kalimatnya padaku dengan suara terputus-putus bercampur gelak tawa yang sepertinya akan bertahan sampai fajar.

Akhirulkalam, “sialan!” teriakku pada mereka semua.

Menyadari ‘saat ini’

Kebanyakan orang sering kali kehilangan momen ‘saat ini’. Yakni di mana saat kita berada sekarang. Mereka sepertinya belum menyadari bahwa hakikat hidup mengalir dari saat ke saat, waktu ke waktu. Akhirnya mereka kehilangan kebahagiaan, kedamaian, dan tidak dapat mencapai semua tujuan hidup yang dia impikan. Hal ini disebabkan mereka tidak menyadari tentang keadaan ‘saat ini’.

Tulisan ini, ingin mengajak kepada pembaca agar mampu melakukan apapun secara tepat sesuai dengan keadaan yang ada. Yaitu tentang kesadaran bahwa momen yang sangat jelas terlihat hanyalah ‘saat ini’. Bukan masa lalu dan masa depan. Karena keduanya tidak nyata.

Masa lalu merupakan waktu yang telah terlewat dan tidak akan pernah kembali. Ia bermetamorfosis menjadi sebuah kenangan hampa, yang tidak ada seorangpun dalam catatan sejarah diberi kesempatan untuk mengulanginya. Hal inilah yang membuat masa lalu menjadi tidak nyata. Sayangnya, justru banyak orang yang pikirannya terlempar ke dalam masa ini.

Mereka tertipu, kenapa hal yang tidak jelas selalu ia pikirkan? Padahal hal ini hanya menyia-nyiakan waktunya saja. Yang tidak ada titik untung kembali kepadanya. Dan hanya kerugian yang didapatnya. Yaitu hilangnya waktu secara percuma. Kenyataan ini berlaku bagi mereka yang di batok kepalanya selalu terbiasa memikirkan derita perjalanan hidup kepribadiannya. Yang sungguh, sebenarnya hal itu hanyalah sekedar ilusi. Sehingga ia tidak dapat memfokuskan apa yang seharusnya ia lakukan waktu ini. Membuatnya masuk kembali pada lingkaran kecemasan, penderitaan dan ragu-ragu dalam melangkah menapaki hidup. Akibat ia tidak dapat memperbarui situasi yang dijalaninya. Mengutip perkataan Gusdur “terus meratapi nasib tidak akan mengubah keadaan”.

Untuk dapat keluar dari hal-hal yang tidak diinginkan di atas, perlu adanya kesadaran tentang ‘saat ini’. Seperti kelanjutan kutipan Gusdur yang telah tertera. Yaitu dengan “terus berjuang dan bekerja agar hidup lebih bermakna”. Dengan mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan pada saat itu juga, membuat suatu keefektifan dalam menggunakan waktu sebaik-baiknya. Menjadikan hidup kita menjadi lebih bermanfaat dan bermakna. Bukan melulu meratapi nasib dan mengingat-ingat masa lalu yang hanya mengandung kekosongan.

Sedangkan ketidaknyataan masa depan, disebabkan karena ia hanya sekedar harapan. Memberikan janji tentang kehidupan yang lebih baik, namun di dalamnya terdapat ketidakpastian. Lantas, kenapa kita kerap kali terbawa opini untuk selalu  menyongsong memikirkan masa depan?

Orang yang selalu memikirkan masa depan, seringkali hidupnya dipenuhi dengan tekanan yang dapat membuatnya menjadi stres karena pikirannya berusaha tergerak untuk segera dapat menyentuh harapannya itu. Ia lupa bahwa hasil hanya dapat ditempuh melalui jalan berliku yang dinamakan proses.

Bukankah masa depan akan datang dengan sendirinya. Mengutip dawuh KH. M. Anwar Manshur “tidak usah memikirkan yang besok, besok akan datang sendiri”. Sengaja, beliau berusaha mengajak kepada kita  untuk sama-sama mengingat bahwa ‘saat ini’ adalah hal yang pasti. Lebih tepatnya, apa yang kita kerjakan akan menentukan nasib di masa yang akan datang. Membawa setiap pergerakan yang kita lakukan sekarang menuai hasil dikemudian hari. Ketika seseorang memahami akan hal ini, mengenyam suksespun sepertinya mudah sekali untuk dicecap.

Tetapi dari pada itu, antara masa lalu dan masa depan tidak sertamerta kita lupakan begitu saja. Karena ada saatnya, kita masih memerlukan keduanya.

Dengan masa lalu, kita dapat belajar dari sesuatu yang pernah kita lewati. Mengingatnya, membuat kita tidak terjatuh pada lubang yang sama dikemudian hari.

Kita juga perlu masa depan. Supaya kita bisa membuat rencana kerja dan rencana hidup yang tepat. Namun keduanya hanyalah alat yang bersifat sementara. Keduanya perlu ditinggalkan ketika kita tidak memerlukannya kembali. Kita bisa meninggalkan dengan memasuki keadaan ‘saat ini’.

Dengan menyadari ‘saat ini’, seseorang akan tergugah dari kelalaiannya. Apapun masa lalu seseorang, tidak bisa menentukan nasib masa depannya. Percuma saja jika ia terlalu sering untuk dipikirkan yang hanya akan mendatangkan derita dan membuang-buang waktu secara percuma. Sedang ia sudah berlalu dan tidak bisa kita ubah kembali.

Tidak usah terlalu repot-repot juga untuk memikirkan masa depan, karena hidup tidak perlu dibuat terlalu ngotot. Bawalah perasaan mengalir dengan penuh kedamaian, menikmati aspek santai dan lucu dari kehidupan. Hanya masa depanlah yang masih dapat kita ubah. Dan sekali lagi, yang dapat menentukan masa depan seseorang adalah dirinya sendiri. Yaitu dengan menyadari akan hakikat ‘saat ini’ dan melakukan apa yang perlu dikerjakan sekarang. Segeralah bertindak, jika menginginkan impian cepat terlihat depan mata.[]

Oleh: M. Nur Al-Fatih santri asal Brebes Jawa Tengah, kelas III Aliyyah

Madrasah, Asal Sejarah dan Pembentukannya

Pusat kajian umat Islam sejak zaman Rasulullah Saw hingga zaman setelahnya selalu terpusat di Masjid. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya catatan sejarah yang menjelaskan kajian-kajian intelektual muslim yang dibangun di banyak masjid-masjid peninggalan para shahabat dan generasi setelahnya.

Madrasah baru diperkenalkan di paruh kedua abad ke-empat Hijriah tepatnya semenjak berdirinya sebuah pusat pendidikan yang disebut dengan “Madrasah” di kota Naisabur pada masa kepemimpinan Raja Mahmud al-Ghaznawi. Tidak tanggung-tanggung, Raja Mahmud al-Ghaznawi membangun empat madrasah sekaligus dalam tempo waktu yang berdekatan yaitu Madrasah Baihaqiyyah, Madrasah Sa’idiyyah, Madrasah Abu Sa’id al-Ushturlab, dan Madrasah Abu Ishaq al-Isfirani.

Pembangunan Madrasah awalnya adalah sebuah langkah yang dicanangkan Raja Mahmud al-Ghaznawi untuk menyebarkan ajaran Syi’ah. Hal ini tentu sangat penting bagi sang Raja untuk menyaingi ajaran Sunni yang saat itu menjadi ajaran resmi Dinasti Abbasiyyah di Baghdad.

Uniknya, di masa setelahnya tepatnya di abad ke-lima Hijriah perdana menteri Nidzom al-Mulk juga memakai madrasah-madrasah peninggalan raja Mahmud al-Ghaznawi sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Sunni serta memberangus sisa-sisa ajaran Syi’ah di banyak wilayah dinasti Bani Saljuk.

Di abad ke-lima Hijriah, jauh di negeri Mesir sana sultan Salahuddin al-Ayyubi juga sedang berkerja keras menyebarkan ajaran sunni dengan mendirikan madrasah-madrasah yang beraliran Sunni. Tak hanya itu, sultan Salahuddin al-Ayyyubi juga menutup banyak madrasah yang sebelumnya di abad ke-Empat Hijriah digunakan untuk menyebarkan ajaran Syi’ah. Bahkan, masjid Al-Azhar saat itu resmi ditutup selama lebih dari satu abad sebagai sebuah simbol penutupan seluruh pusat pengajaran Syi’ah.

Gerakan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penyebar ajaran Sunni adalah sebuah gerakan besar. Dimana sebelumnya di dinasti Fatimiyyah, tercatat hanya Gubernur adz-Dzofir di kota Alexandria yang secara terang-terangan berani membangun madrasah dengan haluan ajaran Sunni di tahun 546 H.

Kala itu, sultan Salahuddin al-Ayyubi juga tokoh besar yang membangun madrasah al-Fadhiliyyah di Kairo dengan pengajaran madzhab Maliki dan Syafi’i dalam ilmu fiqh di madrasah yang sama pada tahun 580 H. Gagasan Salahuddin al-Ayyubi ini rupanya terinspirasi dengan gerakan pembangunan madrasah al-Asadiyyah di kota Damaskus yang dua belas tahun sebelumnya telah menerapkan pengajarab dua madzhab fiqh dalam satu tempat yang sama.

Hal ini, tentu sangat penting bagi kelanjutan keberagaman bermadzhab penduduk negeri Mesir kala itu. Karena telah jama’ terjadi gesekan antar madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) di periode sebelumnya khususnya di abad ke-tiga dan ke-empat Hijriah.

Uniknya, sultan Najmuddin as-Shalih melanjutkan estafet gagasan keberagaman bermadzhab dengan sangat apik di periode selanjutnya yaitu di tahun 639 H. Dimana, ia membangun madrasah ash-Sholihiyyah di bekas istana kesultanan Fatimiyyah di Kairo dengan pengajaran empat Madzhab di tempat yang sama. Ia membangun empat tempat di dalam masjid yang bentuknya mirip dengan mihrab yang sering disebut dengan Iwan dan setiap Iwan tersebut digunakan untuk mengajarkan empat madzhab fiqh (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali).

Walhasil, sejarah telah mengajarkan kita betapa pentingnya sebuah eksistensi madrasah sebagai ujung tombak eksistensi sebuah ajaran akidah. Dimana dahulunya, para ulama dan pemerintahan khususnya para ulama dari etnis Kurdi di Syiria dan Mesir di abad ke-Empat dan ke-lima yang berhaluan sunni atau yang kini kita kenal dengan Ahlu Sunnah wal Jama’ah sukses menyebarkan ajaran akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah dengan berkat sistem pengajaran yang bagus dalam madrasah-madrasah yang mereka buat. Tentunya, sejarah juga mencatat ulama dan pemerintah beraliran Sunni dahulu juga menjadikan madrasah sebagai jenjang pendidikan yang mengajarkan keberagaman berpendapat dan bermadzhab. Hal ini dibuktikan dengan pengajaran beragam madzhab fiqh dalam satu madrasah yang sama.

Refrensi :

Kitab Wafayat al-A’yan karya Ibnu Khalkan

Kitab Shabhul al-‘Asya karya al-Qalqasyandi

Kitab Masajid Mishr wa Awliyaiha karya Dr. Sa’ad Mahir Muhammad

Buku The Muslim Architecture of Egypt vol II karya Creswell

Penulis: M. Tholhah Al Fayyadl, mutakharrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, mahasiswa universitas al-Azhar, Kairo.

Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut An-Nawawi

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari ’Umar bin Khatthab r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari & Muslim).

Mengomentari hadis ini, An-Nawawi di kitab Syarh al-Arba’īn menjelaskan bahwa hadis di atas menjadi dalil kuat akan pentingnya niat yang tulus (ikhlas) dalam setiap amal perbuatan. Beliau juga menerangkan tentang adanya tiga tingkat keikhlasan seorang hamba: pertama, beribadah karena takut akan siksa Allah Swt. An-Nawawi menamakan tingkatan ini dengan ’ibādatul-’abīd; ibadah para budak. Kenapa? Karena yang seperti ini—sebagaimana mental seorang budak—mematuhi perintah hanya karena takut disiksa oleh Tu(h)annya.

Kedua, beribadah karena mengharapkan surga dan pahala dari Allah Swt. Tingkatan ini oleh An-Nawawi disebut sebagai ’ibādatut-tujjār; ibadah para pedagang. Sebab, seperti halnya pedagang yang selalu mencari keuntungan, orang-orang yang berada pada tingkatan ini juga hanya memikirkan keuntungan dalam ibadahnya.

Ketiga, beribadah karena malu kepada Allah Swt. dan demi memenuhi keharusannya sebagai hamba Allah yang bersyukur disertai rasa khawatir sebab amal ibadahnya belum tentu diterima di sisi-Nya. An-Nawawi mengatakan, tingkatan ini adalah ’ibādatul-akhyār; ibadah orang-orang pilihan (dari berbagai cetakan Syarh al-Arba’īn yang beredar ada yang memiliki redaksi berbeda dan di sana tertulis ’ibādatul-ahrār yang memiliki arti ‘ibadah orang-orang merdeka’).

Tingkatan yang terakhir ini sebenarnya merupakan manifestasi dari hadis riwayat Imam Muslim yang disabdakan Rasulullah saw. saat ditegur oleh Aisyah r.a. ketika melihat beliau salat malam ‘kelewatan’ hingga kedua kakinya bengkak.

“Wahai Rasulullah, kau terlalu memaksakan hal ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu.” kata Aisyah.

Rasulullah saw. menjawab: “Bukankah sudah seharusnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?!” (HR Muslim).

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, perlu kami ingatkan lagi bahwa tiga tingkatan di atas kesemuanya tergolong ikhlas. Buat orang awam seperti kami, bisa istikamah pada tingkatan pertama saja sudah sangat bersyukur. Wallahu a’lam.()

Penulis: Abdul Rozaq, mutakharijin Ma’had Aly Lirboyo tahun 2018 asal Bangkalan

Allah Pasti Melakukan Lima Hal ini Pada Hamba-Nya

Ada lima perkara yang sudah dipastikan akan disiapkan oleh Allah kepada seorang hamba:

1.Allah akan memberikan tambahan (nikmat) kepada hamba-Nya yang selalu bersyukur.

Allah berfirman : لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.( QS. Ibrahim :7).

2. Allah akan mengijabahi doa seorang hamba tatkala ia berdoa.

Allah Swt berfirman : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ “

Tuhan kalian berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; niscaya akan Kukabulkan”. (Al Ghaafir 60).

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw berdoa :

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْساً مُطْمَئِنَّةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ.

3. Allah akan memberikan ampunan (Maghfiroh) tatkala seorang hamba memohon ampun kepada-Nya.

Di dalam Al Qur’an, Allah berfirman : اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً

“Memintalah ampunan kepada tuhanmu, sesungguhnya tuhanmu adalah dzat yang maha pengampun. ” (QS. Nuh:10).

Di dalam sebuah Hadits diriwayatkan: Nabi Muhammad Saw bersabda:

 ﻟﻮْ ﺃَﺧْﻄَﺄْﺗُﻢ ﺣﺘَّﻰ ﺗﺒﻠﻎَ ﺧَﻄَﺎﻳَﺎﻛُﻢْ اﻟﺴَّﻤَﺎءَ ﺛﻢَّ ﺗُﺒْﺘُﻢْ ﻟﺘَﺎﺏَ اللّه ﻋﻠﻴﻜﻢ

“Seandainya dosa-dosamu se-langit, kemudian engkau bertaubat, niscaya Allah akan menerima taubatmu” (HR. Ibnu Majah).

4. Allah akan menerima taubat seorang hamba ketika ia hendak bertaubat. Nabi Muhammad Saw bersabda :

مَكْتُوْبٌ حَوْلَ الْعَرْشِ قَبْلَ اَنْ تُخْلَقَ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ آلَافِ عَامٍ وَاِنِّى لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى .

5. Allah akan menerima sedekah seorang hamba, tatkala ia mau bersedekah. Rasulullah saw bersabda :

 كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda :

مَا مِنْ عبدٍ تصدَّقَ بصدقةٍ يَبْتغِي بِها وجهَ اللّهِ إلاّ قَالَ اللّهُ يومَ القيامةِ عبدِي رجوتَنِي فلنّ أُحقِرَكَ حَرَّمْتُ جَسَدَكَ عَلَى النّارِ وَ ادْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الجَنَّةِ إِنْ شِئْتَ

” Tidaklah seorang hamba yg bersedekah karena Allah kecuali Allah akan berkata kepadanya pada hari Qiyamat :”Hambaku!engkau telah berharap kepadaku, maka aku tak kan menghinakanmu, jasadmu haram atas api neraka. Masuklah kedalam surga melalui pintu yg kamu mau.” (HR. Ibnu Lal).

” Sebelum dunia diciptakan empat ribu tahun lagi, telah tertulis disekeliling ‘Arsy: Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, kemudian ia mendapatkan petunjuk.” (HR. Ad Dailami).

_______________

Kitab Irsyadul Ibad hal 29.

Penulis: M. Nuruddin Yusuf, Mutakhorrijin Ma’had Aly Lirboyo. Asal Malang.