Category Archives: Santri Menulis

Mengenal Studi Tafsir di Pesantren

Oleh: A. Zaeni Misbaahuddin A*

Kajian tafsir di pesantren bukanlah hal yang asing bagi kita, terlebih di Pondok Lirboyo tercinta ini. Bagaimana tidak? Sejak tingkatan Aliyah kita sudah dijejali dengan Itmam al-Dirayah gubahan Imam as-Suyuthi. Meski kitabnya tergolong tipis tapi tidak dengan isinya.

Para Masyayikh pun turut serta membacakan Tafsir al-Jalalain karya monumental dari dua “Jalal”—guru dan murid—yakni Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi. Hal ini merupakan tradisi yang sudah mengakar di pesantren, mengaji dengan sistem bandongan; yakni sang Kyai membaca dan santri memaknai kitabnya dengan makna gandul. Ini menandakan bagitu eratnya hubungan santri dengan kitab-kitab tafsir.

Di tingakatan Ma’had Aly yang notabene merupakan jenjang tertinggi di Lirboyo, kita dikenalkan dengan mustholahah tafsir yang lebih konkret dan komprehensif yaitu at-Tahbir fi Ilmi Tafsir karangan Jalaluddin as-Suyuti. Di dalamnya dijelaskan apa itu muthlaq, muqoyyad, munasabah, dan apa itu muthobaqoh beserta contoh-contohnya secara rinci.
Kemudian terdapat kitab Mukhtasor Tafsir Ayat al-Ahkam yang biasa disingkat MTA. Ini adalah ringkasan dari Rawa’i al-Bayan karya mufassir kontemporer kenamaan asal Makkah, Ali al-Shabuni. Kitab ini bisa dikatakan paling lengkap dan sistematis dalam penulisannya. Sebab, isinya tidak hanya menafsiri ayat al-Qur’an secara tekstual, melainkan ada uraian lafadh (tahlil al-Lafdzi), sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) yang diselaraskan dengan dalil-dalil hukum fikih. Terkadang juga menanggapi isu-isu kekinian. semisal teori evolusinya Charles Darwin, isu poligami, dan lain-lain.

Definisi Tafsir

Menurut Ibn ‘Athiyyah dalam kitabnya al-Muharrar al-Wajiz, ilmu tafsir secara etimologi adalah derivasi dari masdar ‘fassara’ yang bermakna ‘jelas’ (idloh) dan ‘menjelaskan’ (al-Bayan). Sedangkan menurut terminologi adalah disiplin ilmu yang membahas teknis mengucapkan lafad-lafad al-Qur’an, madlul, hukum, tarkib, serta maknanya.
Az-Zarkasyi, sebagaimana dikutip dalam Majma’ al-Zawaid mendefinisikan ilmu tafsir dengan ilmu yang digunakan untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menjelaskan makna dan hukum-hukumnya. Berlandaskan ilmu bahasa, nahwu, shorof, ilmu balaghah, ushul fikih, qiraat, asbabun nuzul, nasikh-mansukh, dan seperangkat disiplin ilmu lainnya.

Corak Metode Penafsiran

Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D (Rais Syuriah PCINU Australia dan New Zealand serta Dosen Senior di Monash Law School Australia), atau yang akrab dengan sapaan Gus Nadir ini, dalam bukunya: Tafsir al-Qur’an di Medsos, memberikan gambaran kepada kita secara umum terdapat dua metode tafsir dalam Islam. Yakni tafsir bir riwayah dan tafsir bir ra’yi.

1. Tafsir bir Riwayah

Tafsir bir riwayah maksudnya adalah tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur’an lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur’an dan riwayat hadis. Isi tafsir dengan metode ini penuh dengan riwayat hadis dan jarang sekali pengarang tafsir menaruh pemikirannya. Tafsir ath-Thobari misalnya, dianggap mewakili corak penafsiran model ini.
Dari model tafsir bir riwayah dikelompokkan lagi menjadi dua macam bentuk penafsiran; yakni tafsir at-tahlili, artinya mufassir (ahli tafsir) memulai kitab tafsirnya dari al-Fatihah sampai surah an-Nas. Ia uraiankan sesuai urutan surah dalam al-Qur’an. Selanjutnya adalah tafsir maudhu’i (tematik). Artinya mufassir tidak memulai dari surah pertama sampai surah ke-114, tetapi memilih satu tema dalam al-Qur’an untuk kemudian menghimpun seluruh ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan tema tersebut.

2. Tafsir bir Ra’yi

Dari namanya saja terlihat jelas bahwa tafsir model ini kebalikan dari tafsir bir riwayah, ia lebih menitikberatkan pada pemahaman akal (ra’yu) dalam memahami kandungan nash. Tetap saja ia memakai ayat dan hadis, tetapi porsinya lebih pada akal. Contoh tafsir model ini adalah Tafsir al-Kasyaf karya az-Zamakhsyari dari kalangan Mu’tazilah, Tafsir al-Manar karangan Rasyid Ridho dan lain-lain.

Jika ingin kita pilah lagi, maka tafsir model ini terbagi menjadi tiga. Pertama, tafsir bil ‘ilmi (seperti menafsirkan fenomena alam dengan merujuk ayat al-Qur’an). Kedua, tafsir falsafi (menggunakan pisau filsafat untuk membedah ayat al-Qur’an). Ketiga, tafsir sastra (lebih menekankan aspek sastra dari ayat al-Qur’an). Ketiga model penafsiran ini dapat kita temukan di kalangan kontemporer baru-baru ini.

Pengelompokkan Kitab-Kitab Tafsir

Secara garis besar, ada dua pengelompokkan kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh kalangan mufassirin. Pertama, salaf (klasik). Kedua khalaf (modern).

Salaf

Corak penafsiran dengan gaya salaf bisa kita temukan dalam Tafsir ar-Razi karya Fakhruddin ar-Razi, Tahrir wa at-Tanwir karya Ibnu ‘Asyur, Tafsir Ibn Katsir karya Ibu Katsir, Tafsir al-Qurtubhi karya al-Qurtubhi, Tafsir al-Khozin karya al-Khozin, Tafsir Fathul Qodir karya al-Syaukani, Tafsir al-Baidhowi karya al-Baidhowi, Tanwir al-Miqbas min Tafsir ibn Abbas karya Ibn Abbas, Tafsir ath-Thobari karya ibn Jarir ath-Thobari, Tafsir at-Tsa’labi karya at-Tsa’labi, Tafsir al-Qosimi karya Al-Qosmi, Tafsir al-Mawardi karya Abu Hasan Ali al-Mawardi, Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Alusi, Tafsir Bahrul Ulum karya al-Samarqandi, dan masih banyak yang lainnya.

Khalaf

Sedangakan corak penafsiran dengan gaya khalaf (modern), bisa kita temukan dalam Tafsir al-Munir, karangan ulama kenamaan asal Syiria, Wahbah al-Zuhaili, dan Tafsir al-Wasit yang berdasarkan kajian tafsir beliau lewat radio di Damaskus, Suriah. Dapat kita temukan pula dalam Shafwatut Tafaasir karya Ali as-Shobuni, Zahrat at-Tafsir-nya Muhammad Abu Zahrah, seorang ulama terkemuka dari Mesir. Tafsir al-Wasit gubahan Sayyid Thantowi yang semasa hidupnya pernah menjadi Grand Syaikh Al-Azhar, serta Tafsir as-Say’rawi karya Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi. Di Indonesia sendiri ada Tafsir al-Misbah karya Habib Prof. Dr. Quraisy Shihab dan lain sebagainya.

Demikian sederet kitab-kitab tafsir yang dipelajari di pesantren. Ini menandakan luasnya khazanah keilmuan pesantren. Khususnya dalam bidang mustholahah tafsir al-Qur’an. Terlebih di pesantren tidak hanya mempelajari tafsirnya saja, melainkan juga nahwu shorof, balaghoh dan ushul fikih sebagai piranti untuk memahami al-Qur’an.

Kesimpulan

Walhasil, kaum sarungan dalam hal ini memiliki transmisi keilmuan yang jelas serta kredibilitasnya tak perlu diragukan lagi. Fenomena munculnya ustadz-ustadz virtual yang serampangan dalam menafsiri serta menjelaskan al-Qur’an patut kita sayangkan. Mereka tidak pernah mengenyam bangku pesantren, bahkan hanya bermodalkan terjemahan saja. Konten-konten dakwah yang semestinya diisi oleh orang yang memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang mumpuni seperti kalangan santri ini malah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, sudah saatnya santri mengisi dan meramaikan konten-konten di medsos guna men-counter ideologi yang tidak sesuai dengan manhaj ulama nusantara.

*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Semester III-IV bagian C 02, asal Purwakarta, Jawa Barat yang juga menjabat sekretaris tim FKI.

Baca juga:
NGAJI TAFSIR; MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT

Simak juga:
Dawuh Masyayikh

# Mengenal Studi Tafsir di Pesantren # Mengenal Studi Tafsir di Pesantren # Mengenal Studi Tafsir di Pesantren

Tawakal : Sebuah Penghambaan Diri Kepada Allah

TAWAKAL : SEBUAH PENGHAMBAAN DIRI KEPADA ALLAH

Oleh: Mohammad Hasan Alkafrowi*

Syahdan, ada seekor rusa yang sedang berlari kencang untuk menghindar dari amukan api yang tiba-tiba saja melahap habis hutan yang selama ini ia tempati. Rusa tersebut tetap berusaha mengayunkan kakinya untuk bisa keluar dari hutan agar ia bisa selamat. Api yang berkobar hebat di belakangnya sudah tidak terkendali lagi. Yang bisa ia lakukan hanya berlari dan berlari supaya api tersebut tidak sampai membumihanguskan dirinya.

               Saat tiba di ujung hutan, takdir sepertinya tidak memihak padanya. Sewaktu ia menatap sebuah laut memanjang, menghentikan gerak kakinya. Saat ia menoleh ke belakang, kobaran yang menyala-nyala juga sudah siap untuk melahap tubuh mungilnya. Bukan hanya itu saja, dari kejauhan terlihat seorang pemburu yang sudah mulai menarik anak panah untuk bisa melumpuhkannya.

               Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menggeleng-gelengkan kepalanya karena kebingungan mencari cara agar selamat dari kejadian ini. Karena api sudah berada tepat di belakangnya, dan anak panah dari pemburu tadi sudah hendak dilepaskan, ia berteriak lantang:

“Allah Akbar.”

               Dari celah cakrawala, langit menyambar. Suara dari kilat petir membuat mata siapa saja yang melihatnya terperangah, disusul dengan tetesan gerimis yang mulai turun dengan derasnya.

               Mendengar suara gemuruh petir yang begitu dahsyatnya, sang pemburu tersentak kaget. Arah incaran anak panaknya meleset jauh. Dan api besar yang hendak memmbungihanguskan seekor rusa tadi seketika padam sebab turunnya gerimis yang berjatuhan dari langit.

***

               Setiap kali masalah datang menimpa, kalimat terakhir yang keluar dari mulut kita adalah “Ya Allah!”. Setiap kali dalam keadaaan sedih, dalam keadaan tepuruk, atau sedang menghadapi masa-masa krisis, dengan santun dan penuh harap, kita meneriaki nama-Nya khusyu’, dengan disertai segenap semoga, semoga Allah akan mengabulkan do’a-do’a kita. Sebab dalam keadaan demikian, hanya “jari-jemari” Allah yang bisa mengubah semuanya.

               Sayangnya kebanyakan dari kita selalu saja lupa tentang hal ini. Kita selalu mendahulukan akal daripada iman. Kita selalu dikalahkan oleh ego yang selalu mengatakan bahwa kita bisa menyelesaikan semua masalah kita sendiri, bahwa kita bisa mengubah keadaan dengan usaha kita.

               Inilah yang menjadi penyebab awal munculnya istilah menyerah dalam kamus kehidupan. Dan tanpa merasa bersalah sedikit pun, kita selalu mengatasnamakan istilah tawakkal di akhirnya.

Tak Sadar

               Kita lupa, siapa yang telah menyelamatkan Nabi Muhammad Saw. ketika bersembunyi di dalam gua dengan sahabatnya untuk menghindari kejaran para kafir Quraisy; yang menjaga Ashabul Kahfi di dalam gua saat tertidur selama ratusan tahun lamanya; yang memberikan jalan keluar terhadap tiga orang yang terjebak di dalam gua ketika tidak ada lagi jalan keluar bagi mereka; yang menyelamatkan Nabi Ibrahim dari panasnya api dunia dan mendinginkannya; yang menyelamatkan Nabi Musa saat pasukan Fir’aun mengejarnya; yang menyelamatkan Nabi Nuh dari banjir bandang; yang menyelamatkan Nabi Yusuf dari pengapnya sumur yang disebabkan oleh kedengkian saudara-saudaranya sendiri; yang menyelamatkan Nabi Ayyub dari penyakit yang sudah bertahun-tahun bersahabat dengannya.

               Sangat disayangkan bila kita hanya mengingat-Nya sewaktu kita sudah mencapai titik akhir dari apa yang sering kita sebut sebagai perjuangan. Harusnya, sejak awal kita sudah mengajak Allah untuk membersamai kita dalam semua cobaan yang menghadap. Dalam bahasa tawakal, keikutsertaan Allah dipandang sebagai syarat mutlak bagi seseorang sebelum mencari jalan keluar dari masalah yang sedang ia hadapi.

               Namun realitanya, kita hanya ingat kepada Allah setelah kita berusaha sebisa mungkin melawan masalah yang ada, seakan-akan kita mampu menyelesaikannya tanpa bantuan Allah. Antara mengakui atau pun tidak, begitulah kenyataan yang ada.

Penerapan Tawakal

               Kita masih belum bisa melawan nafsu kita yang senantiasa terus berupaya untuk berkata bahwa “Aku bisa.” Tanpa mengikut sertakan Allah di dalamnya. Kita selalu saja berdalih bahwa tawakal ditempatkan di akhir saja. Kalau memang begitu adanya, lalu kenapa Allah menyuruh kita untuk mengucapkan bismillah sebelum memulai segala sesuatu? Bukankah itu menandakan bahwa apa pun yang kita lakukan, masalah apa pun yang sedang kita hadapi, sudah selayaknya membawa nama Allah, dengan harapan bahwa setelah kita melewatinya kita akan semakin dekat dengannya.

               Inilah yang dimaksud oleh Ibnu Qoyyim al-Jauzi ketika mendefinisikan tawakal sebagai “Amalan dan ubudiyah (penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah. ” Dalam artian kita meletakan Allah dan menyandarkan segala urusan padanya. Di awal sebelum kita benar-benar mulai melangkah, bukan di tengah, atau di akhir ketika kita merasa tersesat seperti kebanyakan orang lakukan, ketika mengamalkan konsep tawakal karena tidak menemukan jalan keluar terhadap apa yang sedang dihadapinya.

               Dengan seperti itu, kita bisa menjadi hamba yang sempurna imannya. Tidak hanya menjadi hamba yang memasrahkan segala hal yang tidak bisa kita lakukan selain atas pertolongan Allah Swt. Menjadi hamba yang selalu ingat kepada Allah pada saat akan, sedang, atau telah mengalami sesuatu—yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya dan akan berakhir lewat izin-Nya.

               Maka seberat apa pun Allah menguji kita, kita akan selalu bisa berprasangka baik kepada-Nya. Dan semoga saja, lewat prasangka baik itulah Allah memudahkan kita dalam menjalani setiap ujian atau cobaan yang menerpa kita, dan tidak menyesatkan kita sehingga kita jauh dari rahmat dan hidayah-Nya.

﴿ قُلْ هُوَ الرَّحْمٰنُ اٰمَنَّا بِهٖ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَاۚ فَسَتَعْلَمُوْنَ مَنْ هُوَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٢٩ ﴾

“Katakanlah, “Dialah Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya kami bertawakal. Maka kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.” []

                                                                                                         *Penulis adalah santri Pondok HMP kamar M 35 asal Nganjuk.

Baca juga:
EMPAT HAL INI BISA MERUSAK SIFAT TAWAKAL

Saksikan juga:
Haul Ke-36 Almaghfurlah KH. Mahrus Aly

Cerpen: Purnama Tanpa Bintang

Malam kian dingin. Bintang-gemintang menghilang satu-satu. Kabut mulai menyelimuti pedukuhan kecil itu. Rumah anyaman bambu di ujung dukuh begitu lenggang. Suara malam bersahutan riuh dengan ku-ku­ burung hantu dari rumpun bambu di belakang rumah.

            Sarindi terbangun. Titik-titik keringat di dahinya satu-dua mulai meleleh. Wajah ayunya pucat dengan pandangan nanar. Baru satu jam dia terlelap, namun mimpi-mimpi itu hadir lagi. Desahan napas tertahan bercampur tetesan peluh dalam dinginnya udara malam, mengiringi gerakan ritmis dua insan yang coba menggapai nirwana. Sarindi begidik! Mengingatnya membuat tubuh dengan perut yang mulai membuncit itu bergetar. Dipeluknya tubuh berbalut daster itu. Begitu erat! Mencengkeramnya, berharap tubuh hina itu remuk tak bersisa. Dan air matanya pun ikut membanjir, menggigil, meraung dalam tangisan pilu tanpa suara. Satu lagi, malam-malam yang dia lalui dengan sejuta sesal.

            Keesokan harinya Sarindi berjalan ke rumah Sang Sesepuh di dampingi ibunya. Wajahnya begitu tenang meski kantung mata menggantung disana. Dia berjalan selangkah demi selangkah dengan seribu keyakinan yang tak tergoyahkan.

            Sutri memucat, gemetar menggandeng erat tangan anak semata wayangnya. Seolah dia tengah digiring ke tiang gantungan. Berkali-kali dia membujuk anaknya itu semenjak subuh-subuh tadi saat mengutarakan keputusannya. Namun sedikit pun anaknya tak goyah. Saat dia terpukul akan nasib anaknya dengan linangan air mata, suaminya hanya terdiam mendengar keputusan itu dan memutuskan pergi ke sawah lebih pagi tanpa sepatah kata.

            “Tidakkah kita pulang saja, Sarindi?”

            Sarindi tak menjawab. Langkah kakinya kian mantap. Lagi-lagi Sutri mengusap matanya yang sudah teramat sembab. Malu, marah, luka, sedih, kehilangan, semuanya campur aduk jadi satu. Masalah ini begitu membingungkan. Mau bagaimana lagi? Saat takdir sudah menggariskan seorang janda muda yang ditinggal mati suaminya yang mandul, tergoda janji-janji busuk pemuda tampan dukuh sebelah yang entah dimana sekarang dia berada!

            Sang Sesepuh di dalam kamar saat Drapto, salah seorang muridnya, mengetuk pintu kamar. Dengan langkah yang termakan usia, Sang Sesepuh menemui Sarindi dan Sutri yang tengah bersimpu di atas tikar pandan di ruang depan.

            “Sepagi ini, ada maksud apa kalian kemari?” tanya Sang Sesepuh dengan lantang setelah duduk bersila di depan mereka. Hati Sang Sesepuh amat janggal. Perasaan aneh tiba-tiba menerkamnya.

            Sarindi angkat bicara. Dengan begitu gamblang dia mengakui semua yang telah diperbuatnya pada Sang Sesepuh.

            Sang Sesepuh diam sejenak setelah mendengar penjelasan Sarindi, “Apa kau yakin?” Harusnya Sang Sesepuh tak perlu lagi bertanya. Dari tatapan mata Sarindi, caranya bertutur dan ketenangan yang menyelimutinya, dia tahu perempuan itu lebih dari sekedar yakin. Dia benar-benar siap.

            “Hari ini aku telah datang ke rumahmu, maka biarlah aku menjalani apa yang memang harus aku jalani!” ucap Sarindi mantap. Sutri hanya menunduk di sebelah Sarindi.

            “Baikllah! Sutri, jaga anakmu baik-baik. Saat waktunya tiba, bawalah dia kemari. Dan sekarang, pulanglah!”

            Sutri mengangangguk murung. Hari itu takdir telah mencatatnya untuk berjumpa dengan sebuah perpisahan.

            Waktu terus berlalu seiring dengan perut Sarindi yang makin membesar. Kabar itu sudah mulai menyebar. Sutri jadi jarang keluar rumah, tak tahan mendengar cemooh dan pertanyaan-pertanyaan menohok yang menusuk telinga. Sedangkan suami Sutri kini benar-benar menutup mata, telinga dan hatinya. Dia berangkat ke sawah tiap subuh dan pulang saat petang menjelang, seolah tak pernah terjadi apapun.

            Sarindi hanya berdiam di dalam rumah. Sesekali duduk-duduk di teras depan rumah. Hari-hari terasa amat lamban. Tiap detik yang berlalu membuat jantungnya berdetak lincah. Dia sudah tidak sabar lagi menunggu hari yang dinanti-nanti.

Malam itu tepat ketika bulan purnama bersinar terang bagai raja diatas singga sana. Dibantu Sutri, susah payah Sarindi melahirkan putranya. Dengan keringat yang masih menetes, Sarindi mencium bayi mungil yang dibaringkan di sampingnya.

            “Anak kamu ganteng, Sari!”

            Sarindi tersenyum. “Iya, bu. Beri nama dia “purnama”, bu! Karena dia begitu tampan, indah seperti bulan purnama!”

            Genap empat puluh hari setelah kehadiran Purnama, akhirnya Sutri akan benar-benar kehilangan dalam hidupnya. Suratan takdir benar-benar akan terjadi. Subuh-subuh dia melihat Sarindi memeluk erat Purnama dalam gendongannya. Sutri tahu, itu adalah hari terakhir Purnama bertemu ibunya, juga hari terakhir Sutri melihat wajah ayu anaknya.

            Pagi itu Sarindi sungkem pada kedua orang tuanya, mengutarakan seribu kata maaf dengan cucuran air mata. Setelah sekali lagi mencium putranya Sarindi benar-benar tak sabar lagi. Dengan tangan yang diikat menggunkan lengan bajunya, dia berjalan menyusuri jalanan pedukuhan diiringi kedua orang tuanya. Penduduk yang melihatnya langsung ikut mengiring Sarindi. Mereka tahu, ini adalah harinya, upacara adat akan segera dilaksanakan. Sebagian menggunjing, sebagian ikut berduka.

            Dengan iringan penduduk yang makin banyak, Sarindi sampai di rumah Sang Sesepuh. Mendengar keramaian, Sang Sesepuh keluar rumah. Kepada Drapto, Sang Sesepuh menyuruh untuk mengarak Sarindi ke lapangan dan menggali lubang sedalam dada disana. Tak perlu dua kali, Drapto segera menjalankan perintah.

            Pukul sembilan pagi. Seluruh penduduk berkumpul di lapangan, meninggalkan semua aktifitas untuk sebuah upacara adat. Di tengah lapangan Sarindi telah dikubur sebatas dada. Sang Sesepuh membuka upacara adat itu, penduduk berkerumun memutari Sarindi dengan jarak yang telah ditentukan, membawa bongkahan-bongkahan batu sekepalan tangan. Dan saat Sang Sesepuh memberi aba-aba, penduduk mulai melempari Sarindi dengan batu!

            Sutri menjerit, melengking tinggi ditengah keramaian, meronta-ronta dalam pelukan suaminya. Hatinya remuk melihat nasib anak semata wayangnya.

            Di sela jerit tangis Sutri dan gemuruh lemparan batu penduduk, Sarindi menunduk, begitu takzim merasai setiap jengkal rasa. Tanpa ada seorang pun yang tahu, Sarindi tersenyum begitu indah. Senyuman paling indah dalam hidupnya. Dia begitu bahagia. Akhirnya, hari yang dinanti-nanti telah tiba! Semerbak wewangian bunga menyusup kedalam hidungnya. Matanya menangkap cahaya putih yang menyilaukan. Sarindi menangis, sebuah senyuman dengan tangisan bahagia. Hari ini, dia benar-benar akan kembali, menginggalkan jeritan ibunya yang samar-samar menghilang dan bayangan sosok Purnama yang kian memudar.

            Malam harinya Sutri memeluk Purnama yang terlelap di pangkuannya. Menatap kosong jalanan gelap. Sesekali matanya basah, meratapi perpisahannya dengan Sarindi.

            Angin berhembus kian dingin membawa kabut malam. Langit tampak indah berhiaskan purnama. Namun, malam ini tak satu pun bintang-gemintang terlihat. Hanya purnama sendiri di atas sana yang bersinar. Sendirian. Dia benar-benar telah kehilangan bintang-gemintangnya![]

Penulis: San Bashori (Penulis adalah santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri sejak 2015 hingga sekarang).

Baca juga: Nasehat Hidup dalam Ilmu Nahwu.

Simak juga: Hakikat Ulama ; KH. Aziz Manshur

Cerpen: KEPADA BURUNG JENIS LAIN

Bayang senja surut mengiring langkah mentari sebagai tanda kepulangan para nelayan. Di tepi pantai, beberapa bangku tersusun rapi hiasi lautan. Pada salah satunya, seseorang terduduk takzim tanpa sedikitpun memandang laut dihadapannya. Ia tampak berjibaku dengan bias wasangka, seolah menerka selaksa masalah untuk diubahnya menjadi solusi.

            Memang, masalah tak kenal waktu datang, tak pasti kapan ia pergi. Manusia dituntut untuk terus menghadapi. Namun jika tubuh sudah tak tahan, apakah pasrah adalah kunci untuk menjawab segalanya?

            “Pasrah bukanlah menyerah. Pasrah adalah fase terakhir yang harus dilakukan. Usaha, doa dan pasrah akan takdir harus saling terikat.” Ungkap salah satu ustadz yang kudengar dari surau tempatku dulu.

            Di hari yang lalu, tak jauh dari tempat yang sama. Kulihat orang itu asyik bercerita. Entah apa yang ada dalam pikirannya, ia acuhkan apapun, begitu syahdi dalam obrolan-obrolannya sendiri. Kukatakan “sendiri” karena memang benar-benar sendiri, tanpa satupun kulihat orang menemani-mendengarnya bercerita.

            Kuingat, hari itu gerimis rintik menghujam begitu pelan. Disaat yang lain berhambur pergi berteduh di bawah atap-atap warung yang ada, ia malah berdiri gagah menantang lautan. Anehnya, semakin lantang ia bercerita, semakin deras hujan turun.

            “Oh, angin. Oh, hujan. Oh, ombak.” Begitu seterusnya ia berucap.

            Dari jarak tak begitu jauh, aku mengamati laku orang itu. Aku takjub, ternyata bukan hanya hujan, angin juga sangat berteman baik dengannya. Bayangkan, saat ia menyapa “Oh, angin.” Seketika itu pula tetiba angin berhembus kencang, balik menyapa. Aku heran kenapa demikian bisa terjadi, angin-hujan kusaksikan mufakat untuk menghiburnya.

            Aku tak dapat menebak “oh” apalagi yang akan ia katakan. Orang kita, ia sudah gila. Berbeda, kurasa itulah yang disebut manusia sebagai seni. Seni penceritaan tanpa pencitraan.

            Hujan tetap berlangsung, ombak semakin meninggi. Sementara angin bertiup dengan suara mendebarkan hati, tetapi siapa kiranya yang akan mendengarnya? Alam berbicara sendiri tak peduli apakah ada atau tiada manusia menghuni. Lihat, bahkan sekarang alam seolah menyimak khusyuk keluh-kesah seseorang. Berbanding dengan manusia yang hanya mau mendengarkan jika itu sesuai dengan persepsi yang dimiliki.

            Hari-hari berikutnya aku tak menemukan orang itu disana. Aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga, yang aku pun tak mengerti rasa kehilangan itu. Karena sampai detik ini, aku tak pernah memiliki keberhargaan yang sering disebut-sebut manusia. Lalu hari ini, setelah sekian waktu ia menghilang, kudapati orang itu lagi. Betapa bahagianya aku. Bahagia yang aneh. Bagaimana tidak, di saat kulihat orang itu nampak bersedih kenapa aku merasakan kesebalikannya? “Oh, sial. Aku terkena hipnotis, tapi aku sadar.”

***

            Aku semakin dibuat penasaran dengannya. Lalu kuputuskan untuk terbang mendekat, agar dapat kudengar kalimat apa saja yang ia ungkapkan. Sadar tak ada apapun di dekatnya, aku bertengger saja pada bangku sebelah, menjaga jarak agar tak dicurigai. Dari dulu memang aku dikenal sebagai “si pencuri dengar” di surau, rumah penduduk, atau pun masjid, bagiku sama saja. Menangkap hal yang menarik lalu menarasikannya pada segerombolan burung jenis lain adalah kehebatanku sebagai burung gereja.

            Nahas, ia menyadari keberadaanku. “Duhai burung, kemarilah mendekat.” Ucapnya menyapa. “Kemarilah, aku tak akan menyakitimu.” Katanya lagi.

            Selama ini aku tak pernah percaya pada manusia, tetapi kenapa aku merasa begitu yakin padanya? Tanpa daya tubuhku terbang begitu saja hinggap pada jemarinya. Dan aneh, saat bertengger, kakiku tak merasakan adanya tulang pada pangkal ibu jarinya.

            “Wahai, kenapa kau tampak begitu heran denganku?”

            Sungguh, bahkan ia bisa menangkap ekspresi wajahku—yang kata orang—sebegitu rupa semua burung tampak sama. “Siapa gerangan orang ini?” Tanyaku dalam hati.

***

            Kupandang langit yang mulai tampak petang. Segala hal yang sebelumnya terlihat jelas kini samar. Kesamaran yang membuat mata ayam-ayam ternak buta semalaman. Kesamaran yang menjadikan manusia kadang salah menyebut nama. Atau bahkan kesamarasn inilah yang menyebabkanku disebut sebagai burung gereja, seekor burung yang meski tiap hari pulang-pergi ke surau-masjid, akan tetap dipanggil sebagai burung penganut agama yang ada di gereja. Aku putus asa, lalu pergi dari surau mencari tempat baru. Kutelusuri seluruh pelosok tempat yang pada akhirnya singgah disini, di antara atap warga yang ada di tepi pantai Rembat. Tempat dimana aku bertemu dengan orang itu.

            Rasanya ingin sekali kuceritakan semua hal yang terjadi saat itu pada kalian, wahai burung-burung yang bukan satu jenis denganku. Namun, dengan keterbatasan, ini aku sampaikan. Jika suatu saat nanti kalian bertemu dengan seseorang yang senang bercerita sendiri, maka dia lah yang pernah berjumpa denganku. Ucapkan salamku padanya.[]

Penulis: Muhammad Abdu Fadlillah

Baca juga: Rahasia Bapak.

Simak juga: Kilas Pandang Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri 

Bus yang Membawa Kerinduan (Bagian 2)

Dirogohnya ponsel dari saku bajunya, dilihatnya layar ponsel, didekatkannya alat komunikasi tesebut di telingannya. Mulailah ia bergumam menjawab panggilan yang ia terima. “Ya, mah ini baru sampai terminal tirtonadi…Pasti dibawain…Ya dong…Papa juga…Dah…”

Si penelpon itu pasti istrinya, bukan yang lain-lain. Melalui kata “papa juga” kodektur itu membalas dengan ucapan “I love you mamah” dengan nada yang penuh kerinduan. Hey, seorang kondektur juga berhak ber “papa-mamah” dengan mesra kepada istrinya bukan? Apalagi—berbeda dengan sopir—kondektur boleh bertugas dua atau lebih secara berturut-turut. Jelas alasannya; jika sopir harus segar sepanjang jalan, kondektur boleh sekali tidur di perjalanan. Bukan tidak mungkin kondektur ini sudah meninggalkan istri dan anak-anaknya seminggu lebih. Tahu kan bagaimana rasanya memendam kerinduan selama itu?

Seorang lelaki membawa buntalan muncul dari belakang, lalu berdiri di ujung depan lorong, menghadap penumpang. Usianya 20-an dengan toleransi sampai 36 tahun. Dari dalam buntalan yang tidak terlalu besar tersebut, dirogohnya sesuatu yang kemudian ia perlihatkan kepada para penumpang. Wajahnya lelah, tapi ia samarklan dengan senyum dan sura yang mapan. “Ini suatu paket Berisi pulpen, pensil penggaris, penghapus dan lain-lain. Sangat cocok buat anak sekolah. Kalau bapak dan ibu beli barang ini satu-satu, dijamin harganya lebih dari Rp. 10.000, berhubung langsung ambil dari agen, saya tawarkan satu paketnya cukup Rp. 5.000 perak. Maaf saya bagikan satu-satu. Kalau tertarik, silahkan. Kalau tidak, barang akan saya ambil kembali.“ Ucapnya menarik minat para penumpang bus.

Dibagikannya alat paket tulis itu kepada semua penumpang kecuali penumpang yang tidur dan yang pura-pura tidur. Setelah membagikan dagangannya, ia kembali ke deret bangku terdekat mengambil lagi satu persatu paket alat tulisnya. Baik kepada yang membeli maupun yang tidak, ia mengucapkan terimakasih. Bedanya kepada yang membeli, ia tambahkan ucapan alhamdulilah disertai doa semoga mendapat limpahan rezeki.

Ia turun lewat pintu belakang saat bus menepi sejenak. Dan di luar sana ia akan menunggu bus dengan arah sebaliknya, menawarkan kembali barang yang tidak laku kepada para penumpang di bus tersebut, lalu turun di tempat ia naik bus ini, untuk kemudian naik bus lagi dengan arah yang sama dengan bus ini. Begitu seterusnya sampai ia berjualannya di malam itu dirasa telah cukup, lalu pulang ke rumah menemui istri dan anaknya yang mungkin masih kecil. Ia akan disambut istrinya dengan penuh harap dan rindu.

Seorang perempuan menyelinap sedikit bergegas di lorong bus sambil menenteng ukulele. Tercium bau parfum bercampur keringat ketika ia lewat.. Punggungnya disandarkan di tepi sandaran jok depan sisi kiri. Ia berkaos abu-abu lengan panjang dan celana jeans biru, dengan rambut sebahu yang disisir ke belakang dengan wajah yang dipoles bedak tipis. Kutaksir usianya 30-an. Tapi kalau ia jenis wanita yang punya beban hidup berat, bisa saja usianya baru 25 tahun.

Ia mulai petik ukulelenya. Lewat alat musik itu, keluarlah nada-nada intro yang dinamis. Lalu mengalun dari bibirnya yang berpola merah “kalau hatiku sedang rindu pada siapa ku mengadu, karena hati bertanya selalu, bertenanglah air mataku.”

Perlahan celotehan penumpang bus mereda, lalu senyap. Yang terdengar kemudian hanya suara jernih sang pengamen dan genjrengan ukulelenya. Bahkan sopir sengaja melepaskan injakan gas sehingga deru mesin bus nyaris tak terdengar. Mungkin inilah yang disebut, seluruh bus terkena sihir nyanyian sang pengamen.

Suaranya sangat merdu untuk ukuran pengamen biasa. Cengkok dangdutnya pas, lengkingannya jernih, mengingatkanku kepada diva terkenal Ike Nurjannah. Tunggu, apakah ia ternyata penyanyi dangdut betulan? Atau ia mengamen hanya sebagai sampingan di tengah sepinya orderan pangguang.

Tak seperti kepada pengamen umumnya, para penumpang memberikan tepuk tangan ketika pengamen itu menyelesaikan lagunya, seakan-akan mereka baru saja menonton konser dangdut. Hampir semua penumpang memberikan rupiah kecuali mereka yang tidak menghargai indahnya nyanyian. Kurelakan dengan ikhlas selelmbar 10 ribuan kepada bungkus permen yang disodorkan perempuan itu, “terimah kasih mas” desaknya, sambil tersenyum tulus.

Ia turun di Cileunyi ketika bus berhenti. Ia menyebrang jalan dan pasti menunggu bus ke arah semula. Setelah bolak-balik dua atau tiga kali, mungkin ia akan pulang. Bisa saja ia mengamen untuk membantu suaminya yang baru kena PHK. Mungkin juga ia janda dengan seorang bocah yang menunggu di rumahnya. Bagaimanapun, ia akan pulang dengan penuh rasa rindu dan segumpal uang saku yang cukup buat makan beberapa hari ke depan.

Lepas dari Jatinangor, bus memasuki jalan raya yang menanjak, berliku dan lenganang. Sopir masih sesekali menyandungkan tembang cianjuran. Aih, jangan-jangan sopir itu punya pekerjaan sampingan sebagai juru pawil.

senandung sopir itu membuatku—begitu juga penumpang lain—mengantuk. Apakah sopir sengaja membuat penumpang mengantuk dan tertidur lelap? Beberapa saat sebelum kehilangan kesadaran, yang kudengar hanyalah deru mesin bus dan desis samar angin yang menyelinap lewat kaca sebelah kanan sopir. Selebihnya, kami lelap.

Pastilah tidurku sangat nyenyak. Dua jam berikutnya, diantara sayup-sayup, aku hanya mendengar suara pedagang menawarkan tahu sumedang. Setelah itu, aku juga setengah sadar ketika bus melaju kencang di jalan tol. Sudah melewati Cikande rupanya. Tak sampai lebih dari 3 jam lagi, kami akan sampai di kota yang dituju. Masih kurasakan guncangan-guncanagn kecil bus dan senandung cianjuran dari bibir sopir. saat aku terlelap lagi…

Ketika ku buka mata, kondisi badan terasa segar. Jam di atas kaca bus hampir menunjukan angka 9. Beberapa puluh menit lagi, bus akan tiba di tujuan. Namun suasana begitu lengang kurasakan.

Tak ada suara, selain deru mesin bus yang melaju di jalan lurus tengah hutan. Gelap sekeliling, kecuali sorot lampu jauh bus. Tunggu, di mana ini? aku tak pernah mengenal tempat seperti ini selain jalan tol, jalan yang biasa kutempuh adalah jalan berliku. Aku celingukan, semua penumpang masih terlelap. “Pak sopir, kita sudah sampai mana?” Ucapku sambil berdiri. Tak ada jawaban. “Pak sopir…” lirihku lagi.

Tak ada siapapun di bangku sopir. Bus melaju kencang sendiri. Membawa rindu kami entah menuju kemana.()