Category Archives: Santri Menulis

Nasihat Mualif Simtu ad-Duror

Nasihat Mualif Simtu ad-Duror | Pernah dalam sebuah ceramah beliau memberi nasehat-nasehat wasiat bagi seorang penuntut ilmu. Di antaranya dalam wasiat tersebut:

“Ketauhilah, aku senang kepada kalian karena kalian mau membawa buku. Ku do’akan kalian berumur panjang dan memperoleh futuh. Katauhilah, setiap orang yang mengajarkan ilmu yang dimilikinya, kelak (di hari qiamat) akan mendapat pertolongan Rasullullah Saw.”

Bahkan dalam kesempatan yang lain beliau pernah berkata: “Aku menempatkan para penuntut ilmu di atas kepalaku. Jika bertemu pelajar yang membawa kitabnya, ingin rasanya aku mencium kedua matanya. Bagaimana mungkin kita tidak mengagumi meraka, sedangkan Rasulullah Saw bersabda: “Agama ini pada awalnya asing dan kelak akan kembali asing. Sungguh beruntung orang-orang yang (dipandang) asing. Yakni orang-orang yang menghidupkan kembali sunnahku yang telah dimatikan oleh masyarakat.“

Betapa beliau sangat menjunjung dan memuji para penuntut ilmu. Hal ini dibuktikan oleh nasihat beliau pada hari ahad, 11 syawal 1322 H. dalam sebuah majelis di Anisah, Habib Ali mengundang dan menjamu para pelajar. Saat itu, Habib Ali berkata:

“Ketahuilah, hari ini aku mengundang kalian dengan tujuan agar kalian bangkit dengan penuh semangat untuk menuntut ilmu. Dan ketahuilah, aib bagi seorang pelajar adalah jika ia tidak membawa buku.

Giatlah belajar, semoga Allah memberkahi kalian. Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu, dan perhatikanlah salat kalian.”

Sanjungan untuk Santri

Lalu beliau kembali menuturkan tentang kelebihan-kelebihan dari para santri. “Mereka menghafal berbagai matan (naskah). Mereka telah hafal kitab Zubad, Mulhah, Alfiyah, Jurmiyah, dan kitab lainnya di masa kecil mereka. Setelah dewasa, di antara mereka ada yang hafal kitab al Minhaj, al Irsyad, dan ada pula yang telah hafal al-Ubad. Sedangkan kalian (selain santri)? Satu kitab pun takada yang hafal, andai kata ada yang hafal, ia tidak akan faham dan tidak akan mengamalkan isinya.”

Beliau memang sangat menjunjung para santri hal itu tercermin dalam nasihat-nasihat beliau di antaranya: “Aku ingin setiap pelajar membawa alat tulisnya ketika mengikuti pelajaran, kemudian mencatat persoalan-persoalan yang telah dihafalnya. Ketahuilah, manfaat sebuah ilmu terletak pada pengalaman dan pencatatannya.”

 “Pelajarilah cara mematikan hawa nafsu, pelajarilah adab. Tuntunlah ilmu, baik dari orang dewasa maupun anak-anak. Jika yang mengajarakan ilmu jauh lebih muda, janganlah berkata: ‘Kami tidak mau belajar kepadanya, itu aib bagi kami.’ Ketahuilah Allah telah memberinya ilmu, meski ia masih kecil. Dengan belajar kepadanya, mengakui dan menghormatinya, Allah akan memuliakanmu sebagaimana Allah telah memuliakannya.”

“Jauhilah dengki dan iri hati. Ketahuilah, kedua sifat ini dapat mencabut keberkahan ilmu. Ambilah manfaat dari setiap orang yang dapat memberimu manfaat. Bahkan andaikan seorang yang pekerjaannya merabuk tanah dengan kotoran hewan hendak memberimu manfaat, maka ambilah manfaat darinya.”

“Pelajarilah pelajaran yang hendak kalian bacakan di hadapan guru kalian (sorogan), dengan demikian kalian akan memetik banyak manfaat. Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi membaca pelajarannya sebanyak 25 kali sebelum mengikuti pelajaran gurunya, dan beliau mengulang pelajarannya sebanyak 25 kali seusainya. Jika kalian, hanya membuka-buka kitab kalian ketika telah berada di depan guru kalian. Maka lihatlah Syeikh Fakhrurrazi, beliau mengulang pelajarannya sebanyak 1000 kali”.

“Ketika masih menuntut ilmu di Mekkah, setiap malam aku bersama kakakku Husein dan Alwi as-Seggaf mempelajari 12 kitab syarah mulai dari al-Minhaj. Lalu menghafalkan semuanya. Suatu ketika, di akhir malam, ayahku keluar dari kamarnya dan mendapati kami sedang belajar. Beliau berkata: ‘Wahai anak-anakku, kalian masih belajar? Semoga Allah memberkati kalian’.”

“Ketahuilah, menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, manfaatkanlah masa muda kalian, masa lapang kalian dan tenaga kalian. Perhatikanlah bagaimana orang-orang tua menghadapi kesulitan ketika menghafal.”

Demikian sedikit nasihat dan wasiat beliau. Semoga kita termasuk orang yang diberkati oleh Allah karena mengenal, mengenang kekasih Allah ini. Menjadi umat baginda Nabi Muhammad Saw. yang dicintai dan disayang karena keberkahan dari para guru kita, para Ulama’, para Habaib-habaib, terutama Habib Ali al-Habsyi. []
Nasihat Mualif Simtu ad-Duror

Penulis: Sayyid Abdurrohman as-Seggaf

baca juga: KUPAS TUNTAS PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW
baca juga: MENGENAL MUALIF MAULID SIMTU AD-DUROR
tonton juga: Rahasia Sukses Dunia & Akhirat | KH. Abdullah Kafabihi Mahrus

Mengenal Mualif Maulid Simtu ad-Duror

Mualif Maulid Simtu ad-Duror adalah seorang tokoh yang terkenal di kalangan ulama, habaib dan masyarakar luas, terutama lewat karangan beliau berupa kitab bacaan maulid Simtud ad-Duror yang ditulis kurang lebih 100 tahun yang lalu di sebuah kota kecil bernama Seiwun Hadromaut, Yaman. Buku maulid ini kemudian tersebar pesat ke berbagai negara di Jazirah Arab, Afrika, Asia hingga kini keberadaannya menembus Eropa, Amerika Latin dan belahan bumi lainnya.

Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi dilahirkan di desa Qasam, suatu desa yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Alwi Khali’ Qasam (592H). Habib Ali bin Alwi bercocok tanam, dan mulai membangun keluarga.

Kedua Orang Tua Habib Ali

Kedua orang tua Habib Ali bin Muhammad, juga termasuk salah satu ulama yang masyhur di zamannya. Ibu beliau seorang Sayyidah Shalihah, al-Ariffah Billah dan Da’iyah ilallah, beliau bernama Sayyidah Alawiyah binti Husein bin Ahmad al-Jufry(1240H). Beliau berasal dari kota Syiban, ayah beliau bernama Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi. Beliau membaktikan seluruh usianya untuk beribadah dan berdakwah ke berbagai kota dan plosok desa.

Diceritakan dari Habib Ali Ra, “Dahulu ketika menuntut ilmu, ayahku tidak tidur malam. Jika diserang kantuk, beliau mengambil tempat di atas tungku pembakaran lalu meletakan wajahnya menghadap tungku tersebut, hingga asap dari tungku tersebut masuk ke mata beliau.”

Membangun Ribath dan Masjid

Ketika Habib Ali berusia 37 tahun, beliau membangun ribath (pondok) yang pertama di Hadromaut. Beliau membangun sebuah ribath di kota Seiwun untuk para penuntut ilmu dari dalam dan luar kota. Ketika usia beliau menginjak 44 tahun, beliau membangun masjid yang dinamakan Masjid Riyadh. Beliau membangun masjid di samping ribath yang telah dibangun lebih dahulu. Masjid itu bersampingan, bahkan menjadi satu dengan ribath.

Menulis Kitab Simtu ad-Duror

Pada usia beliau yang ke 68 tahun, beliau menulis kitab maulid yang diberi nama Simtu ad-Duror. pada hari Kamis 26 Safar 1327 H. Habib Ali mendiktekan paragraf awal dari kitab maulid tersebut setelah memulainya dengan bacaan basmalah:

الحمد لله القوي سلطانه   الواضح البرهانه

Sampai dengan ucapan beliau:

وهو من فوق علم ما قد راته رفعة في شؤونه وكمالا

Kemudian beliau memerintahkan agar tulisan tersebut dibacakan di hadapannya. Setelah pendauhulan yang berupa khutbah itu selesai dibacakan, beliau berkata, “Insyaallah aku akan segera menyempurnakannya, sudah sejak lama aku berkeinginan untuk menyusun kitab maulid. Sampai suatu hari anakku Muhammad datang menemuiku dengan membawa pena dan kertas, kemudian berkata kepdaku, ‘mulailah sekarang’. Sampai aku pun mulai mengarangnya”.

Kemudian Pada hari Selasa awal di bulan Robiul Awal 1327 H dalam sebuah majelis beliau mendiktekan maulidnya mulai dari:

فسبحان الذي ابرز من حضرة الامتنان

  Hingga

ويكتب بها بعناية الله في حربه

Beliau memerintahkan agar maulid yang telah beliau tulis itu dibacakan. Kemudian pada malam Rabu 9 Robiul Awal, beliau mulai membacakan maulid tersebut di rumah beliau sendiri setelah maulid itu disempuranakan. Beliau berkata, “Maulid ini sangat menyentuh hati, karena baru saja selesai diceritakan.“ Besoknya, maulid itu pun oleh beliau disempurnakan lagi.

Pada malam sabtu, 12 robiul awal 1327 H. beliau membaca maulid tersebut di rumah muridnya, Sayyid Umar bin Hamid as-Seggaf. Sejak hari itu habib Ali kemudian rutin membaca maulidnya sendiri (Simtuduror), yang mana sebelumnya beliau selalu membaca maulid milik al-Hafidz ad-Dibai’. Dan setelahnya, Maulid Simtuduror yang agung ini kemudian mulai tersebar luas di Seiwun, juga di seluruh Hadrlomaut dan tempat-tempat lain yang jauh seperti Indonesia, Afrika, Dhafar, dan Yaman.

Habib Ali Ra berkata, “Dakwahku akan tersebar ke seluruh dunia, dan maulidku  ini akan tersebar ke tengah-tengah masyarakat, akan mengumpulkan mereka kepada Allah dan membuat mereka dicintai Nabi Saw. Jika seseorang menjadikan kitab mulidku ini sebagai salah satu wiridnya atau menghafalnya, maka sirri (rahasia) Nabi Saw akan tampak pada dirinya.“

baca juga: Waktu dan Tata Cara Merayakan Maulid Nabi

Tahun-tahun Terakhir dan Kewafatan Habib Ali

Pada tahun-tahun terakhir kehidupan beliau, penglihatan Habib Ali semakin kabur. Bahkan dua tahun sebelum kewafatannya, beliau sempat kehilangan penglihatnnya. Dan menjelang perpindahan beliau ke Negeri Akhirat, tanda yang pertama kali tampak adalah ‘Istihlam’ .

‘Isthlam’ ini berlangsung selama 70 hari yang mengakibatkan kesehatan beliau semakin buruk. Sampai akhirnya pada Waktu Dzuhur, Hari Minggu, 20 Robiul Tsani 1333 H. ruh beliau yang suci terbang menuju ‘illiyyin. Dan di Waktu Ashar keesokan harinya, jenazah beliau pun dikebumikan di sebelah barat masjid Riyadh dengan suatu iring-iringan yang tidak ada awal dan akhirnya.[]

tonton juga: HAUL KE-6 KH. M. ABDUL AZIZ MANSHUR
Penulis: Sayyid Abdurrohman as-Seggaf

Tentang Meniti Jalan Ilmu

Hidup yang berguna bagi seorang hamba adalah kehidupan yang digunakan untuk menggapai ridho Allah Swt. Untuk menggapainya, seorang hamba harus menempuh jalan panjang kehidupan. Melewati suka-duka, juga tipu muslihat gemerlap dunia.

Untuk mengetahui apakah seorang hamba sudah mendapatkan ridho dari Allah Swt, pertama-tama, ia harus mengetahui apakah sesuatu yang telah dilakukannya telah sesuai menurut timbangan syari’at Islam atau belum. Hujjatul Islam, Imam Ghozali dalam kitab Bidayatul hidayah mengingatkan; seyogyanya, bagi seorang hamba harus mengetahui, bahwa hidayah—yang merupakan indikator keridhaan Allah Swt adalah buah dari ilmu.

Untuk menikmati buah dari ilmu tersebut, seorang hamba harus melalui banyak proses. Imam Ghozali mengistilahkan proses tersebut dengan bidayah dan nihayah. Seorang hamba tidak akan merasakan sebuah akhir dari perjalanan menggapai ridha Allah Swt yang merupakan hakikat kesejatian sebagai manifestasi dari taufiq dan ridha Allah Swt sebelum memulai sebuah permulan yaitu, meneguhkan permulaan seorang pejalan. Mengamalkan syariat Islam.

Agar dapat mengamalkan syariat dengan benar, seorang hamba harus belajar. Kesediaan pergi dari rumah untuk mencari ilmu pengetahuan tentang syari’at adalah sebuah permulaan seorang hamba meniti jalan menggapai ridho Allah Swt.

Baca Juga: Pentingnya Mengamalkan Ilmu.

Belajar juga merupakan sebuah thoriqoh atau jalan yang ditempuh seorang hamba untuk menggapai ridho Allah Swt. Sebagaimana sebuah syair yang ada dalam kitab Hidayatul Adzkiya’;

لكل واحد منهم طريق من طرق # يختاره فيكون من ذا وصلا

كجلوسه بين الانام مربيا # وككثرة الاوراد كالصوم والصلا           

وكخدمة للناس والحمل الحطب # لتصدق بمحصل متمولا           

Setiap orang mempunyai jalan. Dari sekian jalan,ia memilih sebuah jalan untuk menggapai keridhaanNya. Seperti belajar kepada sang guru atau memperbanyak wirid seperti puasa dan berdoa. Juga berkhidmah pada sesama, mencari kayu untuk bersedakah dengan kebaikan yang berlipat ganda.

            Mengutip dari kitab tadzkirah nafi’ah, diantara 45 thoriqoh mu’tabaroh, salah satunya adalah ta’limu fath al qorib, kifayatul awam dan kitab-kitab lainnya. Thoriqoh yang bermakna jalan yang ditempuh seorang hamba untuk menggapai ridha Allah Swt tidak hanya sebatas dengan mengamalkan wirid-wirid tertentu atau puasa-puasa tertentu. Berkhidmah kepada sesama dan belajar merupakan sebuah thoriqoh untuk mendekat dan menggapai ridhoNya.

            Diceritakan pada suatu hari, Rasulullah Saw keluar menuju masjid bersama para sahabat dan menjumpai dua perkumpulan. Yang satu merupakan majelis dzikir dan yang lainnya adalah menjelis fiqh. Kemudian Rasulullah Saw bersebda, ”dua perkumpulan itu merupakan perkumpulan yang mulia, namun perkumpulan yang membahas fiqh itu yang lebih mulia dan aku sukai. Sebab aku diutus untuk itu (menyampaikan dan mengajarkan syari’at).” Kisah ini menunjukkan betapa mulia dan agungnya sebuah thoriqoh ta’lim dan ta’allum.

            Apabila derajat ma’rifat adalah ma’rifatu haqoiqu syai’, mengetahui hakikat dari sesuatu, maka jalan yang paling rasional untuk mencapai derajat itu adalah dengan mengaji dan belajar. Sebab dengan mengaji dan belajar, seorang hamba akan menyingkap tabir ke-tidak tahu-an, ia akan keluar dari gelap kebodohan. Dan dengan ilmu, seorang hamba akan terus bisa memberbaiki diri agar selamat dalam meniti jalan yang diridhaNya, yang penuh godaan dan tipu daya.

Simak Juga: Syarat Orang Mengaji | KH. M. Anwar Manshur.

            Sebagaimana guru-guru kita meneladankan semangat tak kenal lelah dalam meniti jalan ilmu untuk mendekat dan menggapai ridhaNya. Al-maghfur lah KH Abdul Karim selalu mengisi hari-harinya dengan muthola’ah dan nderes banyak kitab. Bahkan ketika berangkat mondok, beliau rela berjalan kaki menuju Bangkalan, lantaran uang yang digunakan untuk bekal perjalanan beliau gunakan untuk membeli kitab baru. Begitu juga KH Marzuqi Dahlan dan KH Mahrus Aly, juga segenap dzurriyah al-maghfur lah KH Abdul Karim. Semuanya adalah sosok pecinta ilmu yang tekun dalam belajar dan mengamalkannya. Sudah seharusya bagi pecintanya selalu mutaba’ah dengan yang dicintainya, yaitu semangat tak kenal lelah meniti jalan ilmu untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki. Wa billahi at-taufiq, lahum al-fatihah..[]

Penulis: Nida Muhammad Santri Ma’had Aly Lirboyo Semester I

Membaca Sebagai Pilar Peradaban

Membaca Sebagai Pilar Peradaban | “Bacalah!” sebuah kalimat yang menjadi risalah pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW. Dari sekian banyaknya kosa kata yang dimiliki bangsa Arab. Kata “Baca” dipilih Allah SWT sebagai permulaan dari firman-firman-Nya.

Selain itu, sang pembawa pesan agung tersebut mengulang kalimat itu hingga tiga kali. Kebetulankah? Atau memang peristiwa ini mengandung arti yang tersembunyi? Yang jelas risalah tersebut menjadi awal kemajuan peradaban bangsa Arab serta bangsa-bangsa lain setelahnya.

Hal ini bisa kita lihat bagaimana hak dan kehormatan wanita dapat kembali, yang sebelumnya mereka hanya dianggap sebagai pelepas dahaga. Bagaimana orang-orang yang menjadi umatnya memiliki kualitas keilmuan yang tinggi.

Bila kita renungkan, ajaran Agama Islam begitu royal terhadap pemeluknya terkait urusan membaca. Hal ini bisa dilihat bagaimana Nabi memerintahkan sahabatnya untuk mempelajari bahasa asing disaat mereka akan menerima buku-buku dari negara luar Arab.

Dalam hadist yang disampaikan oleh Imam Thobari di dalam kitabnya, Ghayah Al-ahkam Fi Ahadist Al-Ahkam. Nabi SAW tidak menginginkan adanya buku yang terasing dan berdebu, karena tidak ada yang membacanya.

baca: Membaca Hati Santri Karomah Kiai Mahrus

Mengintip Sejarah

Kita intip apa yang ada di balik kejayaan Islam pada awal abad ke-7. Sejarah mencatat bahwa kemajuan peradaban bangsa Arab dan agama Islam didorong adanya penerjemahan buku-buku asing, seperti buku-buku para pemikir Yunani, baik dikarang oleh Aristoteles terkait logika dan filsafat serta kajian-kajian ilmiah yang lain.

Program tersebut diawali oleh khalifah Al-Ma’mun melalui perombakan bait Al-hikmah ditambah bangunan yang didirikan oleh Raja Harun Ar-Rosyid dari perpustakaan pribadi menjadi perpustakaan negara dan pusat kajian para cendikiawan dari berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Buah dari keputusan tersebut sangatlah banyak, di antaranya; perumusan nomenklatur nahwu (gramatika Arab) dan perkembangan ilmu mantiq (ilmu logika).

Selain itu, perpustakaan yang dibangun oleh Raja Harun Ar-rosyid berhasil mencetak ilmuan-ilmuan terkemuka. Bahkan banyak dari mereka menjadi guru bagi orang-orang barat, seperti; Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Idris, Ibnu Rusydi, Ibnu Bazah dal Al-Farabi.

Pada masa inilah agama Islam memiliki pengaruh yang sangat besar bagi dunia. Hal ini tidak lain budaya membaca sangat ditekuni.

tonton juga: Pentingnya Menghafal Dasar-dasar Agama I Almaghfurlah KH. Aziz Manshur

Penulis: M. Afsal

Membaca Sebagai Pilar Peradaban

Wudhu dalam Perspektif Tasawuf

Wudhu dalam Perspektif Tasawuf | Thaharah bukan sekedar membersihkan sisi lahiriyah semata, tetapi juga hal-hal yang bersifat bathiniah. Ahli Thariqah menjelaskan bahwa wudhu, mandi, dan tayamum sekaligus dapat membersihkan segenap unsur non-lahiriah di dalam diri manusia.

Air atau debu tidak saja membersihkan kotoran fisik, tetapi secara simbolik ia membersihkan jiwa, pikiran, dosa yang menyangkut hadas kecil dan besar, serta kekhilafan, baik yang dilakukan anggota badan manusia maupun yang terselip dalam pikiran dan jiwa.

Anggota tubuh yang harus dibersihkan ketika berwudhu telah dijelaskan langsung di dalam Firman Allah Swt. Allah berfirman dalam surat Al Maidah ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman. Apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu hingga kedua sikut dan sapulah kepalamu kemudian basuh kedua kakimu hingga kedua mata kaki.”

Dalam pandangan Ahli Thariqah, anggota tubuh yang harus dibasuh ketika kita berwudhu ternyata anggota badan yang memang paling sering untuk melakukan dosa. Bayangkan saja mengapa yang pertama kali kita membasuh wajah? Karena di sekitar itu terkumpulnya panca indra yang paling rawan dalam melakukan dosa.

Pertama mulut. Berapa banyak orang menjadi korban saban hari karenanya? Baik berupa makian, fitnah, amarah, dusta dan sebagainya. Atau makan dan minum dari barang yang syubhat bahkan mungkin yang haram. Kedua mata. Ia dapat saja melihat atau mengintip objek yang sesungguhnya dilarang. Itu hanya di area wajah saja.

Kemudian kenapa harus mensucikan ‘kedua tangan’? Kita tidak tahu apa dan siapa saja yang pernah kita pegang, remas, tuding atau dipukul oleh tangan kita.

Selanjutnya telinga. Terkadang kita lebih sering menggunakannya untuk mendengarkan musik yang mengajak kita untuk melupakan Tuhan atau hal-hal yang tidak berfaidah lainnya.

 Demikian pula kaki. Ke mana saja kaki kita melangkah setiap harinya? Lebih banyak mana digunakan untuk melangkah ke masjid, tempat-tempat beribadah atau ke tempat-tempat yang penuh maksiat? Yang paling tahu tentang apa saja yang dilakukan oleh anggota badan ialah kita sendiri dan Sang Pencipta. Wajar saja apabila anggota badan tersebut yang diperintahkan oleh Tuhan untuk disucikan.

baca juga: Hukum Membersihkan Make Up Sebelum Wudhu

Kesan Ahli Thariqoh

Ternyata para Ahli Thariqoh di saat berwudhu selalu berdoa saat anggota wudhunya dibasuh atau diusap, supaya terselamatkan dari api neraka dan memberi tanda cahaya terang pada hari kebangkitan di akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda: “Seluruh anggota tubuh yang selalu dibasuh air wudhu akan menampakan cahaya terang benderang, sehingga menjadi suluh (obor) yang dapat menerangi jalan menuju padang mahsyar bagi mereka orang yang tidak pernah tersentuh oleh air wudhu, ia hanya akan meraba-raba dalam kegelapan.”

Malaikat pun diperintahkan untuk mengindentifikasikan siapa di antara mereka yang taat, yaitu dengan munculnya cahaya terang pada anggota badan yang pernah dibasuh air wudhu.

Oleh karena itu, bagi kita yang selalu berwudhu atau menjaga wudhu, maka anggota tubuh yang dibasuh air wudhu kelak akan memiliki cahaya abadi pada hari kiamat. Kita yang hanya kadang–kadang berwudhu juga akan memiliki cahaya, kadang muncul dan menghilang. Oleh sebab itu, sungguh sangat disayangkan bila seseorang yang tidak dapat mengambil kesempatan untuk mendapatkan cahaya tersebut.

Berangkat dari keterangan tersebut maka kiranya dapat penulis simpulkan bahwa orang yang menjaga wudhu (daimul wudhu) atau selalu dalam keadaan berwudhu memiliki keistiwaan yang sangat luar biasa, baik itu di dunia maupun kelak di akhirat.[]

Wudhu dalam Perspektif Tasawuf

Penulis: Kang Miftah

tonton juga: Prasangka Buruk Salah Satu Penyebab Su’ul Khatimah