Kapankah Seseorang Dianggap Memutus Silaturahim

Silaturahim bisa diartikan sebagai bentuk menjalin hubungan yang baik antar sesama kerabat dan sanak keluarga. Lalu Kapankah seseorang dianggap memutus silaturahim? Hal ini yang akan kita kupas nanti.

Dalam Alquran, Allah SWT telah berfirman:

وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

“Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. an-Nisa’: 1)

Menjalin tali silaturahim memiliki beberapa hikmah. Di antaranya adalah dilapangkan rezeki serta dipanjangkan umurnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka bersilaturrahimlah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Manifestasi Silaturahim

Dalam sudut pandang syariat, silaturahim dapat diaplikasikan sesuai keadaan, situasi dan kondisi. Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَأَمَّا صِلَةُ الرَّحِمِ فَهِيَ الْإِحْسَانُ إِلَى الْأَقَارِبِ عَلَى حَسَبِ حَالِ الْوَاصِلِ وَالْمَوْصُولِ

“Adapun menyambung kekerabatan (silaturahim) ialah berbuat baik pada para kerabat sesuai keadaan orang yang menyambung dan orang yang disambung.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, II/201)

Dengan demikian, tak heran jika silaturrahim dapat dilakukan dengan banyak cara. Tidak harus saling berkunjung ke rumah antara satu dengan yang lain. Imam Syihabuddin ar-Ramli menuturkan:

وَتُسَنُّ صِلَةُ الْقَرَابَةِ وَتَحْصُلُ بِالْمَالِ وَقَضَاءِ الْحَوَائِجِ وَالزِّيَارَةِ وَالْمُكَاتَبَةِ وَالْمُرَاسَلَةِ بِالسَّلَامِ وَنَحْوِ ذَلِكَ

“Disunahkan menyambung tali kekerabatan. Hal itu dapat dilakukan dengan media harta, memenuhi kebutuhannya, mengunjunginya, saling mengirim pesan dan ucapan salam atau sesamanya.” (Nihayah al-Muhtaj, V/422)

Sebaliknya, memutus tali silaturahim merupakan hal yang dilarang. Bahkan termasuk salah satu dari dosa besar. Dalam dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW mengingatkan:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali persaudaraan.“ (HR. Muslim)

Kriteria Putusnya Silaturahim

Namun yang perlu dicermati, sebatas manakah batasan memutus tali silaturahim. Dalam hal ini, Syekh Muhammad bin Salim menjelaskan demikian:

وَمِنْهَا قَطِيْعَةُ الرَّحِمِ وَاخْتُلِفَ فِي الْمُرَادِ بِهَا فَقِيْلَ يَنْبَغِيْ أَنْ تَخُصَّ بِالْإِسَاءَةِ وَقِيْلَ لَا بَلْ يَنْبَغِيْ أَنْ تَتَعَدَّى اِلَى تَرْكِ الْإِحْسَانِ … وَاسْتُوْجِهَ فِي الزَّوَاجِرِ أَنَّ الْمُرَادَ بِهَا قَطْعُ مَا أَلَّفَهُ الْقَرِيْبُ مِنْ سَاِبٍق لِغَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ

“Termasuk sebuah kemaksiatan ialah memutus tali persaudaraan. Kategori memutus silaturrahim pun masih dipersilisihkan. Ada yang mengatakan bahwa memutus silaturrahim adalah dengan berbuat jelek. Menurut pendapat lain, memutus silaturrahim adalah meninggalkan perbuatan baik… Pendapat lain dalam kitab Az-Zawajir, bahwa yang dimaksud memutus silaturrahim ialah memutus kebiasaan baik terhadap kerabat tanpa adanya udzur yang dibenarkan syariat.” (Is’adur Rofiq, II/117)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa apabila tidak memiliki kesempatan untuk bersilaturrahim kepada kerabat karena keterbatasan waktu, tempat, biaya, ataupun alat komunikasi, maka tidak termasuk kategori perbuatan memutus tali silaturahim yang diharamkan. []waAllahu a’lam

Baca juga:
APAKAH CUKUP SILATURAHIM VIA ONLINE?

Follow juga instagram:
@pondoklirboyo

# KAPANKAH SESEORANG DIANGGAP MEMUTUS SILATURAHIM
# KAPANKAH SESEORANG DIANGGAP MEMUTUS SILATURAHIM
# KAPANKAH SESEORANG DIANGGAP MEMUTUS SILATURAHIM

Islam Adalah Kepatuhan

Fikih secara khusus, dan syariat Islam secara umum—adalah derivasi praktikal dari al-Qur’an dan hadits. Kita sebagai pemeluk agama Islam tidak serta merta mampu melepaskan kesinambungan itu secara mutlak. Sebab bagaimanapun juga, fikih membutuhkan al-Qur’an dan hadits sebagai harga mati untuk acuan pertama.
Kitapun dalam bersyariat butuh akan bimbingan Nabi Muhammad Saw. dan beliau sebagai pembawa syariat, mutlak membutuhkan wahyu dari Allah Swt. Sang Pemilik Alam Semesta. Artinya, agama bukan produk sembarangan. Tidak bisa asal gagasan dan opini menciptakan adanya kebenaran mutlak di mata umat manusia, pada hakikatnya.

Tapi kemudian, perlu digaris bawahi jika ulamalah yang merumuskan adanya hukum baru. Mereka memakai gagasan ijtihad menggunakan akal—mengurai benang kusut, dan menghasilkan suatu kodifikasi yang juga dipraktikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semacam solusi bagi permasalahan aktual yang tidak tertulis secara langsung dalam al-Qur’an dan hadits. Sebuah tuntunan hidup, muaranya tak pernah lepas dari al-Qur’an dan hadits.

Ijtihad

Nabi Muhammad Saw. dahulu memuji sikap Sahabat Mu’adz bin Jabal Ra. ketika hendak didelegasikan berdakwah ke negeri Yaman. Sahabat Mu’adz Ra. yang diberi amanat dan mandat menyebarkan Islam ini ditanyai oleh Nabi, “Bagaimana kamu nanti memberikan keputusan?” Sahabat Mu’adz menjawab, “Dengan apa yang tertera dalam Kitabullah.” Nabi kembali bertanya, “Jika tidak terdapat dalam Kitabullah?” Sahabat Mu’adz melanjutkan, “Dengan apa yang ada dalam sunnah Rasulullah.” Nabi pun kembali bertanya, “Jika tidak terdapat di dalam Sunnah?” Sahabat Mu’adz memberikan jawaban yang menggembirakan Nabi, “Aku berijtihad dengan pendapatku.”
Beliau memuji Sahabat Mu’adz yang lebih dahulu merujuk kepada al-Qur’an dan hadits sebelum memutuskan masalah lewat pendapatnya sendiri. Pendapat yang tentunya tak lepas dari garis pemikiran al-Quran dan hadits. “Alhamdulillah, yang telah memberikan taufiq kepada utusannya Rasulullah.” Sabda Nabi.

Islam sejatinya adalah kepatuhan secara mutlak. Ada semacam kaidah umum yang dipelopori oleh ulama, bahwa al-dîn mabniyy ‘alâ al-ittibâ’. Agama berpondasi di atas kepatuhan terhadap firman-Nya. Mushannif kitab Al-Asyâ’irâh fî Mîzâni Ahl as-Sunnah mengemukakan pendapat ulama Ahlussunnah tentang poin penting dalam Islam bahwa; ”Adapun ahli sunnah, mereka mengatakan bahwa pondasi dalam agama adalah mengikuti tuntunan Nabi, sedangkan akal hanya mengikuti pondasi ini. Andaikan saja pokok agama adalah akal, maka makhluk tak akan lagi membutuhkan wahyu dan para Nabi, hakikat perintah dan larangan akan sirna, dan siapapun orang akan mengatakan apa yang mereka mau. Dan andaikan saja agama berpondasi pada akal, sudah barang tentu tidak diperbolehkan bagi kaum Mukminin untuk menerima sesuatu sebelum mereka memikirkannya.”

Kita bisa meraih konklusi dari beberapa kejadian-kejadian yang terjadi di masa Nabi Muhammad Saw. Sebuah contoh kecil adalah tentang sholat dhuha, yang lebih baik jika dikerjakan hanya empat rakaat saja, dari pada bila kita kerjakan dua belas rakaat. Bilangan yang lebih banyak justru keutamaannya tidak lebih besar daripada bilangan yang lebih kecil. Padahal logikanya, kalau kita melaksanakan salat dengan kuantitas lebih banyak, akan mendapatkan lebih banyak pula fadhilah.

Kuncinya, adalah dulu Nabi selalu melaksanakan sholat dhuha ini sebanyak empat rakaat saja. Memang beliau pernah mengerjakan hingga delapan atau dua belas rakaat, tapi yang sering beliau lakukan adalah empat. Kita juga bisa melihat pendapat ulama yang mengatakan bahwa melempar jumrah sambil mengendarai unta lebih baik dari pada dengan berjalan kaki. Padahal logikanya jika kita berjalan kaki, kita akan lebih merasa kepayahan. Artinya ada esensi lebih dalam taraf ibadah kita. Namun dulu menurut riwayat, Nabi melempar jumrah dengan menunggang unta. Maka hal ini lebih utama dengan alasan ittiba’ menurut segelintir ulama.

Kita bisa menangkap esensi dari perkataan Sayyidina ‘Ali Krw.

وعن علي رضي الله عنه ، أنه قال : لو كان الدين بالرأي لكان أسفل الخف أولى بالمسح من أعلاه ، وقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح على ظاهر خفيه . رواه أبو داود ، وللدارمي معناه .

Dari Sahabat ‘Ali Ra., beliau berkata,“Andaikan saja agama hanya bermodalkan akal, niscaya bagian bawah muzah lebih patut untuk dibasuh dari pada bagian atasnya. Sedangkan aku melihat Rasulullah Saw. membasuh bagian atas kedua muzah beliau.” (HR. Abu Dawud)
Imam Abu Hanifah sendiri mengatakan, “Andaikan saja aku berpendapat (berijtihad) hanya dengan akal, pastinya aku akan mewajibkan mandi sebab kencing (bukan sebab keluarnya mani seperti dalam hadis Nabi), karena air kencing jelas najisnya. Mewajibkan wudhu sebab keluarnya mani sebab air mani hukum najisnya masih diperselisihkan. Dan aku akan memberikan harta warisan hanya separuh bagian dari perempuan untuk kaum laki-laki, sebab kaum perempuan lebih lemah .”

Tapi agama bukanlah masalah akal atau naluri. Agama adalah masalah kepatuhan. Demikianlah syariat, ia menguji kita akan seberapa besar nilai kepatuhan yang kita persembahkan kepada-Nya. Dan Allah lah yang berhak menilai kita atas seberapa besar himmah dan rasa peduli kita akan firman-Nya. Pada awal-awal Islam mulai tumbuh di negeri Makkah, Allah “menguji’ keimanan kaum Quraisy akan berita adanya hari akhir, dan kehidupan setelah mati. Sesuatu yang ditentang habis-habisan oleh kaum Musyrik. Namun kaum yang beriman tetap percaya.

Fikih barulah contoh kecil dari agama dan syariat. Masih banyak lingkup lain yang menggaris bawahi kaidah syari’at mabniyy ‘ala ittiba’. Seperti dunia tasawwuf sebagai contoh lain.
Pelajaran dan pesan penting yang ingin penulis sampaikan adalah dalam masalah agama, kita jangan mudah gegabah dan buru-buru mengambil keputusan dan kesimpulan. Harus lebih dulu memperhatikan betapa luasnya samudara agama Islam. Jangan-jangan yang kita ketahui baru segenggam atau bahkan hanya setetes dari lautan tersebut, lalu kita sudah berani berfatwa dan dengan mudahnya berani menyalahkan orang lain. Seolah kebenaran mutlak hanya ada pada hal yang kita tahu saja.

Dahulu para ulama dan sahabat berebut untuk menolak berfatwa. Mereka takut akan jawaban yang dikemukakan. Kelak jika dimintai pertanggung jawaban apa yang akan mereka katakan dihadapan Dzat Yang Maha Besar? Tapi hari ini, banyak dari kita yang dengan mantap dan percaya diri berebut untuk berfatwa dan menjadi pemimpin, meskipun sejatinya belum begitu bisa dikatakan layak secara kualitas.
Semoga saja kita termasuk yang mengikuti generasi salaf as-soleh yang do’anya tercantum dalam al-Qur’an,

آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ – آل عمران:53

“Kami beriman atas apa yang Engkau turunkan, dan kami mengikuti Rasul. Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas keesaan Allah).” (QS. Ali Imran: 53).[]

Penulis: Muhammad Khoirul Wafa

Baca juga:
ATMOSFER ISLAM DI BUMI NUSANTARA

Follow juga ig:
@pondoklirboyo

Islam Produktif dalam Persaingan Budaya yang Fluktuatif

Umat Muslim dalam keresahan, terutama para kaum cendekia, baik yang biasa dipanggil ulama atau yang bukan. Bagaimana tidak, peradaban Islam yang pernah agung itu, saat ini mengalami kemerosotannya yang paling tajam. Keresahan ini bisa dipahami karena sudah tercetak dalam keyakinan orang Muslim bahwa agama mereka adalah agama yang menyeluruh, universal dalam setiap waktu dan tempat (shālih li kulli zamān wa makān). Adagium ini bukanlah isapan jempol belaka. Dilihat dari penganutnya, agama Islam tidak tersekat batas-batas genealogis dan geografis. Segala macam ras dan berbagai macam suku bangsa bisa menganut agama Islam.

Realitas ini semakin membuat adagium itu mendapatkan tempatnya, meskipun ia bukan nash. Apalagi, akan sangat aneh jika kita melihat orang Aborigin menganut agama Yahudi atau pun orang Negro dari Zimbabwe menganut agama Tokugawa di Jepang. Jadi realitas-realitas sosial semacam itu membuat prinsip universalitas Islam semakin menemukan relevansinya. Bahkan Allah Swt. menyebut hal itu sebagai tanda-tanda-Nya.

Maka ketika eksistensi peradaban agama Islam terancam oleh invasi-invasi yang bersifat inovatif dan modern, reaksi pertama umat Islam adalah resistensi serta penolakan mentah-mentah. Paradoks ini sangat membingungkan; di sisi lain ada doktrin-doktrin yang meyakini bahwa agama ini universal dan selalu unggul (ya’lū wa lā yu’lā alaih), namun reaksi yang ditunjukkan terhadap inovasi modernisme adalah penolakan. Oleh karena itu, reaktualisasi dan reinterpretasi (meskipun hal ini telah didengungkan beribu-ribu kali) menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Keluhuran agama Islam tidak bisa dicapai dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional sambil meninggalkan keagungan kebudayaan modern. Agama Islam haruslah dinamis. Hal ini bukanlah hal yang asing bagi Islam. Sahabat Ali Ra. pernah berkata dalam satu kesempatan:

علّموا أولادكم في زمانهم فإنهم يعيشون في غير زمانكم

“Ajarilah anak kalian sesuai dengan zamannya. Karena mereka tidak hidup di zaman kalian.”

Keharusan Pembaruan

Pembaruan (tajdīdiyyah, renewal) bukanlah sesuatu yang aneh dalam Islam. Syaikh Abdullah bin Bayyah menyebut hal itu sebagai sebuah keniscayaan Ilahi. Hal ini menurut beliau, bersandar pada hadis Nabi Saw:

إنّ الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها أمر دينها

“Sesungguhnya Allah Swt mengutus bagi umat ini di setiap awal seratus tahun seseorang yang membarui urusan-urusan agamanya.”

Oleh karena itu, menutup diri dari pembaruan merupakan perlawanan terhadap kenyataan Ilahi. Pembaruan-pembaruan yang disasar di sini haruslah sesuatu yang bersifat match dengan perkembangan zaman. Karena, seperti sering dikatakan, al-ālim ibnul waqti. Orang pandai adalah dia yang memahami masanya; Putera Zaman. Begitu juga, setiap usaha pembaruan yang melawan dan bertentangan dengan zaman bukanlah merupakan pembaruan secara nyata. Melainkan retorika yang diulang-ulang. Keharusan pembaruan ini harus dilakukan agar dua doktrin yang telah disebutkan di atas (universalitas dan keluhuran Islam) tidak kehilangan relevansinya. Apabila ini yang terjadi, hal ini tentulah tidak akan bisa diterima oleh kalangan Islamis.

Seiring dengan berkembangnya budaya dan ilmu pengetahuan, old lifestyle dengan segala cara-cara dan langkahnya yang kuno tidak lagi relevan dengan kehidupan era modern ini. Peradaban modern selalu menuntut suatu hal yang kreatif-inovatif. Begitu pula karakter masyarakatnya yang cepat bosan dengan hal-hal monoton. Berangkat dari kenyataan seperti itu, maka upaya-upaya dalam menjadikan Islam sebagai yang terdepan haruslah menggunakan cara yang modern pula. Cara yang diminati masyarakat pada masa sekarang ini, bukanlah menundukkan agama pada realita. Namun langkah-langkah seperti ini sejatinya adalah upaya agar Islam tetap menapak bumi dan relevan (shalih likulli zaman), tidak menjadi hal yang mengambang dan absurd. Sehingga segala sesuatu yang bersifat destruktif terhadap kondisi sosial juga harus ditolak. Ada beberapa pola dasar yang bisa menjadi contoh konkret bagi hal-hal yang destruktif ini.

Contoh Klasik

Contoh klasik, tanggal 25 Desember dan 14 Februari selalu menjadi hari yang kontroversial di negeri kita yang mayoritas Muslim ini. Hampir setiap tahun, dua hari besar yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam itu selalu melahirkan fatwa haram, atau bahkan kafir bagi umat Islam yang ikut memeriahkan atau bahkan sekedar memberi ucapan selamat. Alih-alih menunjukkan independensi dan keteguhan agama Islam, fatwa ini malah menggambarkan kekalahan umat Islam dalam percaturan peradaban. Fatwa ini semakin memperlihatkan kegagalan “ulama” dalam mengawal umat. Beberapa orang Muslim seakan-akan menganggap hal itu sebagai ancaman yang membahayakan sehingga umat harus dibentengi dari hal itu dengan fatwa haram. Ada subyektifitas yang terselubung dari fatwa itu. Memang, kita harus melindungi diri kita sendiri dari invasi budaya di luar apa yang kita miliki. Tetapi tidak dengan cara destruktif dan kontra produktif. Tidak dengan cara menyerang mereka dengan selusin berondongan fatwa-fatwa agama.

Contoh lain yang bisa kita ambil adalah fatwa pelarangan pemimpin non-Muslim. Pelarangan ini menunjukkan bahwa kondisi agama Islam seakan kalah dalam pertarungan politik dan merasa terancam. Karena, seperti telah dijelaskan di muka—agama Islam adalah agama yang selalu luhur. Maka segala hal yang membuat agama Islam merosot dan tidak luhur harus dibentengi dan dilindungi. Kesalahan penerapan prinsip ini (ya’lu wala yu’la ‘alaih) adalah penyakit yang sedang melanda umat Islam saat ini.

Anggapan ancaman terhadap setiap sesuatu yang dianggap tidak Islami dan pelarang terhadap hal itu adalah sumber gejala kemunduran umat Islam yang semakin membuat Islam tampak terperosok ke bawah. Bukan malah semakin membuat Islam tampak sebagai agama yang luhur dan teguh memegang prinsip tapi semakin membuat Islam tampak sebagai pesakitan.

Analogi

Sebuah perumpamaan klasik sering dikatakan untuk menggambarkan hal ini: andaikan kita seorang pemilik restoran, kebetulan ada restoran milik orang lain yang tak jauh letaknya dari restoran kita, dan ternyata restoran milik orang lain lebih diminati konsumen, maka cara agar restoran kita bisa unggul bukanlah dengan menyebar fitnah bahwa restoran “tetangga” menjual makanan yang telah dicampuri bahan pengawet atau zat kimia berbahaya, ini persaingan amatir dan tidak sehat. Cara yang tepat dalam kasus di atas adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas restoran kita misalkan dengan tampilan fisik restoran yang baru, menambahkan menu baru, atau menyajikan menu lama dengan cara yang baru. Cara yang sehat inilah yang bisa menjadi obat bagi umat Islam dalam menghadapi era modern agar agamanya tidak kehilangan relevansi serta selalu unggul, sesuai dengan doktrinnya.

Dengan kasus fatwa-fatwa tadi, persaingan secara sehat harus dilakukan dengan meningkatkan kualitas penganut agama Islam. Peningkatan kualitas ini, dalam konteks fatwa di atas, bukan dengan menggalakkan fatwa bahwa Natal atau Valentine itu haram dirayakan, melainkan dengan membuat fatwa yang bisa meningkatkan kualitas umat. Sebagai contoh, fatwa untuk merayakan 10 Muharram atau Maulid Nabi harus dibuat dan dipromosikan dengan gencar tanpa perlu memfatwakan melarang merayakan Natal.

Begitu juga dengan permasalahan pemimpin, yang harus dilakukan bukanlah melarang untuk memilih non-Muslim. Melainkan umat Islam harus meningkatkan kualitas menciptakan kader-kader berkompeten yang mampu bersaing. Persaingan-persaingan secara sehat inilah yang harus digalakkan umat Islam agar ia bisa luhur dan universal.

Jika umat Islam sudah senang dan bangga dengan syiar dan kebudayaan Islam sendiri, tanpa fatwa pun mereka dengan sendirinya akan meninggalkan kebudayaan dan segala hal yang kontras dengan Islam.[]

Penulis: Arif Rahman Hakim Syadzili

Baca juga:
FANATIK KEBANGSAAN, BASIS MILITANSI SANTRI MEMBELA NEGERI

Follow juga:
@pondoklirboyo

# Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif

Hukum Melantunkan Dzikir saat Mengiringi Jenazah

Assalamualaikum Wr. Wb.

Maaf sebelumnya, mohon maaf. Apa hukumnya mengiringi jenazah ke kuburan dengan bacaan tahlil? Bukankah yang lebih baik adalah diam untuk tafakur dan mengambil pelajaran atas peristiwa kematian? Mohon penjelasannya terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wb. Wb.

(Sofi, Surakarta)


Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Dalam salah satu hadis riwayat Imam Al-Baihaqi disebutkan bahwa para Sahabat Rasulullah SAW tidak menyukai perilaku mengeraskan suara di samping jenazah, ketika perang, dan ketika zikir. Atas dasar itu, para ulama mengatakan bahwa hukum beramai-ramai ketika mengiringi jenazah adalah makruh. Segala bentuk kegaduhan dan keramaian masuk di dalamnya, tak terkecuali bacaan Alquran, dzikir, atau bacaan sholawat. Karena pada dasarnya, yang disunnahkan dalam keadaan itu adalah bertafakkur tentang ihwal kematian. (Nihayah al-Muhtaj, III/23)

Meskipun demikian, sebagian umat Islam seperti yang biasa terlaku di Indonesia memiliki kebiasaan berdzikir “Laa ilaha illallah” selama proses pengiringan jenazah dengan suara keras. Untuk itu, Syekh Nawawi Banten menjelaskan permasalahan ini dalam kitab Nihayah az-Zain:

وَيُكْرَهُ اللَّغَطُ فِي الْجَنَازَةِ بَلِ الْمُسْتَحَبُّ التَّفَكُّرُ فِي الْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ قَالَ الْقُلْيُوْبِيْ وَيُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الْمُدَابِغِيْ وَهَذَا بِاِعْتِبَارِ مَا كَانَ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ وَأَمَّا الْآنَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

“Dimakruhkan beramai-ramai di samping jenazah. Karena yang disunnahkan ialah bertafakkur tentang kematian dan kejadian setelahnya. Al-Qulyubi berkata: Bahkan dimakruhkan mengeraskan bacaan al-Qur’an, dzikir, dan bacaan sholawat kepada baginda Nabi SAW. Imam al-Mudabighi berkata: Hukum ini hanya berlaku di masa-masa awal Islam, adapun di masa sekarang maka hukumnya tidak apa-apa karena yang demikian itu merupakan syiar terhadap peristiwa kematian.” (Nihayatuz Zain, h. 153)

Menanggapi persoalan itu, secara bijaksana Imam Ibnu ‘Allan menjelaskan :

فَالَّذِي اخْتَارَهُ أَنَّ شُغْلَ أِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ الْمُؤّدِّيْ إِلَى تَرْكِ الْكَلَامِ وَتَقْلِيْلِهِ أَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِي الْكَلَامِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَابًا لِأَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ كَمَا هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ

“Adapun pendapat yang dipilih sebagai berikut: Sesungguhnya menyibukkan pengiring jenazah dengan bacaan dzikir yang dapat menjauhkan mereka dari pembicaraan masalah dunia itu lebih utama dari pada membiarkan mereka membicarakan masalah duniawi. Pendapat ini merupakan alternatif yang mengambil resiko lebih kecil, sebagaimana kaidah syariat yang lain.” (Al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, IV/183)

Dengan demikian, membaca dzikir “Laa Ilaha illa Allah” dengan suara keras ketika mengiring jenazah adalah hal yang diperbolehkan bahkan menurut sebagian ulama lebih utama. []waAllahu a’lam

Baca juga:
FANATIK KEBANGSAAN, BASIS MILITANSI SANTRI MEMBELA NEGERI

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

Fanatik Kebangsaan, Basis Militansi Santri Membela Negeri

Telah mainstream di negeri ini bahwa sikap “fanatik” teridentifikasi sebagai tindakan yang tidak baik. Padahal sebagian besar warga Indonesia memiliki kecenderungan terhadap jargon “NKRI Harga Mati” atau “Ideologi Pancasila sudah Final”. Meskipun pada hakikat yang sebenarnya, hal sedemikian ini juga menunjukkan sebuah kefanatikan. Buya Hamka dalam salah satu bukunya menyebutkan:

“Tuanku Imam Bonjol melawan Belanda adalah karena fanatik. Tengku Cik Ditiro melawan Belanda adalah karena fanatik, Pangeran Diponegoro melawan Belanda adalah karena fanatik. Semuanya adalah karena fanatik. Yang habis mati bertimbun mayat, menegakkan kemerdekaan adalah orang-orang fanatik. Kalau tak ada lagi orang-orang fanatik di negeri ini, maka segala sampah, segala kurap akan masuk kemari, tidak dapat ditahan-tahan”.

Pernyataan demikian hendak menegaskan bahwa Indonesia dapat merdeka dan berdaulat tidak lain lantaran perjuangan mati-matian para pejuangnya. Jika tanpa perjuangan fanatik para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan, mungkin negeri ini telah jatuh kembali pada genggaman penjajah. Sebab secara logistik, kekuatan penjajah berlipat-lipat lebih kuat daripada kekuatan para pejuang. Para pahlawan bangsa ini yakin seyakin-yakinnya bahwa bumi pertiwi harus merdeka, kemanusiaan harus dibela, penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi.

Walhasil, sejarah telah mencatat perihal kunci keberhasilan para pejuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah keyakinan yang teramat kuat, serta tekad yang bulat bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik jika merdeka. Kemanusiaan pribumi akan lebih terjaga jika penjajah terusir dari negeri ini.

Di masa penjajahan yang begitu panjang, santri muncul sebagai sosok yang memiliki andil besar bagi keberhasilan Nusantara dalam menjaga budayanya. Walaupun telah ratusan tahun dijajah, dijarah oleh Belanda—budaya Nusantara tetap berhasil dipertahankan dan mayoritas penduduknya masih Islam. Berkat sikap kalangan pesantren yang non koperatif total terhadap semua budaya Belanda—jati diri dan tradisi Nusantara tetap terjaga. Baik dalam sistem pengetahuan, kepercayaan, hukum, dan politik juga tetap lestari.

Militansi Santri

Militansi santri dalam membela Indonesia, dapat diselidiki dari keberhasilannya membangun tradisi perlawanan terhadap berbagai pihak yang berniat menghancurkan Indonesia. Santri selalu hadir dalam berbagai perlawanan melawan penjajah. Perlawanan-perlawanan sporadis terhadap penjajahan tak pernah berhenti, yang berlangsung sepanjang 3 abad. Di tanah Jawa, jejak perlawanan besar terjadi pada tahun 1825-1830. Kolonial Belanda menyebutnya sebagai perang Jawa. Saat itu jejak perlawanan umat Islam terhadap hegemoni kolonial dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (seorang bangsawan Mataram yang berlatar belakang santri).

Dalam sejarah perlawanan bersenjata terhadap kolonial Belanda di Indonesia, hampir tidak ada perlawanan yang tidak melibatkan pemimpin tarekat (tokoh pesantren). Dalam Koloniaal Archive yang mencatat kasus-kasus pemberontakan yang berlangsung antara tahun 1800-1900, terjadi tidak kurang dari 112 kali pemberontakan yang dipimpin tokoh pesantren tarekat.

Dalam membuktikan loyalitas untuk negeri, konsolidasi nasionalisme kaum santri menjadi tren utama pendidikan pesantren saat itu. Bahkan, sejumlah ulama menjadikan Mekkah sebagai kota transit pemantapan ideologi nasionalisme keIslaman santri. Di tanah suci, selain menuntut ilmu—jamaah haji asal Indonesia juga melakukan konsolidasi pengembangan jaringan perlawanan terhadap kolonialisme. Dengan harapan, jika tiba di tanah air, mereka dapat memimpin umat untuk secara perlahan dan pasti mengumandangkan anti kolonialisme.

Catatan sejarah ini seakan menjadi latar belakang dari apa yang pernah disampaikan oleh salah satu ulama Nusantara generasi saat ini, Maulana Habib Muhammad Lutfi bin Yahya: “Fanatik kebangsaan itu melebihi nuklir. Nuklir itu bisa meledakan mana saja, tapi tidak akan bisa melenturkan keIndonesiaan”.
Pernyataan ini, menarik untuk direnungkan secara adil oleh setiap bangsa Indonesia. Sebab, bukanlah hal yang bijak jika sikap “fanatik” mutlak dianggap sebagai hal yang salah. Untuk membuka cakrawala berfikir, Ibnu Khaldun menawarkan buah pemikiran seperti berikut: “Negara dan pemerintahan tidak akan mewujud tegak tanpa pertolongan jamaah dan sikap fanatik para pembelanya. Sikap fanatik adalah faktor kunci tercapainya dominasi sebuah negara dalam menaklukkan berbagai ancaman musuh. Sebab, lantaran fanatiklah seseorang akan rela mengorbankan nyawa sekalipun”.

Ashabiyyah yang Dilarang

Memang benar dalam perspektif ajaran Islam terdapat larangan ashabiyyah (fanatik). Namun larangan tersebut tidak lantas difahami ashabiyyah harus dibuang secara keseluruhan. Akan tetapi menurut Ibnu khaldun, fanatisme harus diarahkan pada porsi yang tepat dalam menegakkan kebenaran dengan sekuat tenaga. Bahkan dalam hadits shahih disebutkan:

ما بعث الله نبياً إلا في منعة من قومه

“Allah tidak mengutus Nabi kecuali Ia berada dalam naungan pembelaan fanatik kaumnya”.

Tidak hanya Ibnu Khaldun, Imam al-Mawardi pun turut memaparkan pemikirannya tentang ashabiyyah. Menurut beliau, ashabiyyah adalah “kesetiaan tinggi terhadap sebuah bangsa dalam menghadapi bangsa lain”. Sikap tersebut dilarang oleh syariat jika mendorong sebuah bangsa terhadap pembelaan yang membabi buta, tanpa memilah—apakah dalam posisi benar atau salah. Namun jika ashabiyyah tersebut menjadi semangat membela kebenaran, maka statusnya tidak lagi dilarang bahkan menjadi sebuah anjuran (mustahab). Semua itu berdasar pada firman Allah Swt:

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

“Tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan. dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan kedzaliman”.

Dengan demikian, santri bisa dianggap berhasil memahami fanatisme kebangsaan dalam arti dan porsi yang tepat, juga dalam implementasi yang diukur oleh neraca maslahat dan mafsadah. Fanatisme kebangsaan santri—bukan dalam arti semangat merendahkan bangsa lain. Justru fanatik kebangsaan dalam perspektif santri adalah kukuhnya pendirian menolak siapapun yang hendak menghancurkan Indonesia, sekalipun mengatas-namakan Islam. Jika para santri millenial berhasil mempertahankan prinsip ini, maka santri akan senantiasa berada di garda terdepan untuk membela NKRI.[]

penulis: Firdaus Asrori Ma’shum

Artikel Terkait:
CAKRAWALA SANTRI INDONESIA

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

# Fanatik Kebangsaan # Fanatik Kebangsaan

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah