Waktu dan Tata Cara Merayakan Maulid Nabi

Mayoritas ulama menilai perayaan maulid Nabi Muhammad Saw. sebagai amaliah legal dalam syariat yang bernilai pahala bagi yang melakukannya. Hal tersebut telah dijelaskan oleh beberapa ulama, seperti Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Kitab Al-Hawi li al-Fatawi, Sayyid Abi Bakar Syato ad-Dimyati dalam kitab I’anah at-Thalibin, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Fatawi Rasail, dan lain-lain.

Perihal waktunya, pada umumnya masyarakat memahami bahwa maulid Nabi SAW dapat dilakukan hanya pada tanggal 12 Rabiul Awwal. Begitu pula terkait cara merayakan maulid Nabi, sudah menjadi pemahaman yang mengakar di masyarakat bahwa merayakan maulid Nabi hanya bisa dilakukan dengan cara membaca bacaan maulid seperti ad-Diba’i, al-Barzanji, Simtud Duror dan semacamnya.

Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW memasuki kota Madinah, beliau menemui orang-orang Yahudi yang berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram). Ketika Rasulullah SAW bertanya kepada mereka perihal puasa tersebut, mereka menjawab bahwa hal itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan Nabi Musa dan tenggelamnya pasukan Firaun. (Lihat: Syarh An-Nawawi’ala Shahih Muslim, VIII/10)

Dari hadis tersebut, Syekh Abdul Hamid asy-Syarwani mengurainya dalam kitab Hawasyi asy-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj:

فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَحَرَّى الْيَوْمَ بِعَيْنِهِ حَتَّى يُطَابِقَ قِصَّةَ مُوسَى فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَمَنْ لَمْ يُلَاحِظْ ذَلِكَ.
.لَا يُبَالِي بِعَمَلِ الْمَوْلِدِ فِي أَيِّ يَوْمٍ مِنْ الشَّهْرِ بَلْ تَوَسَّعَ قَوْمٌ فَنَقَلُوهُ إلَى يَوْمٍ مِنْ السَّنَةِ وَفِيهِ مَا فِيهِ
.هَذَا مَا يَتَعَلَّقُ بِأَصْلِ عَمَلِهِ وَأَمَّا مَا يُعْمَلُ فِيهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَصِرَ فِيهِ عَلَى مَا يُفْهِمُ الشُّكْرَ لِلَّهِ تَعَالَى
مِنْ نَحْوِ مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ مِنْ التِّلَاوَةِ وَالْإِطْعَامِ وَالصَّدَقَةِ وَإِنْشَادِ شَيْءٍ مِنْ الْمَدَائِحِ النَّبَوِيَّةِ وَالزُّهْدِيَّةِ الْمُحَرِّكَةِ لِلْقُلُوبِ إلَى فِعْلِ الْخَيْرِ وَالْعَمَلِ لِلْآخِرَةِ

“Sepatutnya dalam memperhatikan hari perayaan (Maulid Nabi) sehingga cocok dengan cerita Nabi Musa pada hari Asyura’. Namun orang yang tidak begitu memperhatikan (tanggal perayaan maulid Nabi) itu, ia tidak masalah untuk merayakan maulid pada hari apa pun sepanjang bulan. Bahwa kebanyakan orang justru melakukannya pada hari apa pun sepanjang tahun. Hal ini berkaitan dengan pokok perayaannya. Adapun yang dapat dilakukan dalam merayakan maulid sebisa mungkin melakukan hal yang dapat menunjukkan rasa syukur kepada Allah dari penjelasan yang telah lewat, yakni merayakan dengan bacaan Alquran, memberi makan, bersedekah, bersenandung dengan pujian-pujian pada Nabi dan pujian-pujian bernuansa zuhud yang mampu menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amal akhirat.” (Lihat: Hawasyi asy-Syarwani ala Tuhfah al-Muhtaj, VII/423)

Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki pun menegaskan:

وَجَرَى النَّاسُ عَلَى قِرَاءَتِهَا لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … وَالأََنَاشِيْدِ فِى مَدْحِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْمَسَاجِدِ وَالْجَوَامِعِ.
وَتَوَسَّعُوْا فِى ذَلِكَ حِرْصًا عَلَى اسْتِجْلَابِ بَرَكَتِهِ فَصَارُوْا يَقْرَءُوْنَهَا فِي الدَّوْرِ وَالْبُيُوْتِ فِي أَيِّ يَوْمٍ كَانَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ بَلْ فِي أَيِّ يَوْمٍ مِنَ الْعَامِ

“Umat Islam biasa membaca Maulid pada malam kelahiran Nabi SAW … Dan senandung pujian kepadanya di berbagai masjid dan perkumpulan. Mereka memperluas lagi demi mendapatkan berkahnya. Untuk itu, mereka membacanya di rumah-rumah setiap hari di bulan Rabiul Awwal bahkan pada hari apapun sepanjang tahun. ” (Lihat: Kanz an-Najah wa as-Surur, hal. 132)

Dengan demikian, sudah jelas bahwa maulid Nabi tidak terbatas waktu. Hanya saja, pada tanggal 12 Rabiul Awwal memiliki keutamaan lebih. Begitu pula cara merayakannya bisa dilakukan dengan cara apapun yang terpenting menunjukkan bentuk syukur atas kelahiran Nabi SAW. []waAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM BERDIRI SAAT MAULID NABI

Youtube:
Pondok Pesantren Lirboyo

Salat Disentuh Anak Kecil yang Belum Khitan, Benarkah Salatnya Batal?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mohon maaf sebelumnya, saya mau menanyakan bagaimana kalau ada anak kecil yang belum khitan menyentuh atau merangkul orang yang salat, apakah menjadikan salatnya batal? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ajeng, Demak)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Sering kali ditemukan anak laki-laki yang belum dikhitan menyentuh atau merangkul orang tuanya yang sedang salat. Yang mana, di dalam kulit kemaluan (qulfah) anak tersebut kemungkinan besar masih terdapat sisa najis kencing yang belum tersucikan sepenuhnya.

Dalam permasalahan, Syekh Ismail Zain menjawab:

اَلْجَوَابُ إِذَا كَانَ مَعْلُوْمًا أَنَّ الصَّبِيَّ الْمَذْكُوْرَ يَحْمِلُ نَجَاسَةً ظَاهِرَةً فِي جِلْدَةِ قُلْفَةِ الْخِتَانِ اَوْ فِي ظَاهِرِ فَرْجِهِ مَثَلًا فَصَلَاةُ مَنْ يَحْمِلُهُ بَاطِلَةٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعْلُوْمًا وَلَا مَظْنُوْنًا ظَانًّا غَالِبًا فَصَلَاةُ مَنْ يَحْمِلُهُ صَحِيْحَةٌ عَمَلًا بِأَصْلِ الطَّهَارَةِ
أَمَّا مُجَرَّدُ مُمَاسَّةُ لِبَاسِ الصَّبِي وَتَعَلُّقِهِ بِالْمُصَلِّي دُوْنَ أَنْ يَحْمِلَهُ فَلَا تَبْطُلُ بِهِ الصَّلَاةُ

“Jawaban: apabila diyakini bahwa anak tersebut membawa najis yang nampak pada kulit penutup kemaluannya atau najis yang nampak pada bagian luar kemaluannya, maka salatnya orang yang menggendong anak tersebut batal. Namun apabila tidak diyakini atau tidak ada dugaan kuat terhadap hal tersebut, maka salatnya orang yang menggendong anak tersebut tetap sah. Adapun jika yang terjadi hanya pakaian anak kecil menyentuh dan menempel pada orang yang salat tanpa menggendong (bergelantungan), maka salatnya tidak batal.” (Lihat: Qurrah Al-‘Ain bi Fatawa Ismail Zain, hal. 55)

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan:

Pertama, apabila anak kecil yang belum dikhitan tersebut sekedar menyentuh atau menempel, maka tidak membatalkan salat. Sebab hal tersebut tidak dikategorikan salat dengan membawa perkara yang bersentuhan dengan najis.

Kedua, apabila anak kecil yang belum dikhitan tersebut bergelantungan atau merangkul orang yang salat dan ada keyakinan atau dugaan kuat bahwa terdapat najis di bawah qulfah (kulit penutup kemaluan pria yang belum khitan) maka dapat membatalkan salat sebab dianggap tengah membawa najis. Namun apabila tidak ada keyakinan atau tidak ada dugaan kuat atas hal itu, maka salatnya tetap sah. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM MELANTUNKAN DZIKIR SAAT MENGIRINGI JENAZAH

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

# Salat disentuh anak kecil
# Salat disentuh anak kecil

Khutbah Jumat: CERDAS MENGGALI HIKMAH DALAM SETIAP PERISTIWA

الْحمدُ لله رَبِّ الْعالَمينَ قَيُّوْمِ السَّمواتِ والأَرَضِيْنَ , مُدَبِّرِ الْخَلَائِقِ الْأَجْمَعِيْن, باعِثِ الرُّسُلِ صلَواتُ اللهِ وسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ إِلَى الْمُكَلَّفِيْن, لِهِدايَتِهِمْ وبيانِ شَرائِعِ الدِّيْنِ,  في الدَّلائِلِ الْقَطْعِيَّةِ, وَاضِحاتِ الْبَراهِيْن,  أحْمَدُهُ على جَميعِ نِعَمِهِ ,  وأَسْأَلُهُ الْمَزِيْدَ مِنْ فَضْلِهِ وكَرَمِهِ.

أمّا بَعْدُ,  فَيا عِبادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ  ونَفْسِي  بِتقوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَقَدْ قالَ الله تعالى في كِتابِهِ الكَرِيْمِ : يَا أيُّه الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُو اللهَ ولْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَاقَدَّمَتْ لِغَدٍ.

Hadirin Jama’ah sholat Jum’at yang dirahmati Allah …

Marilah pada kesempatan yang mulia ini kita senantiasa tak henti-hentinya untuk meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Swt. dengan selalu berusaha mejalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab Iman Seseorang itu sebagaimana ombak, kadang pasang dan kadang surut. Oleh karenanya  dengan iman dan ketakwaan yang semakin bertambah, maka kita akan semakin dekat dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang  dalam  meraih ridha-Nya. Amin.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

Setiap peristiwa yang kita alami senantiasa selalu mengandung hikmah yang diselipkan oleh Allah Swt. Tujuan Allah meletakkan hikmah itu, tidak lain agar menjadi pelajaran bagi kita sebagai manusia dan mengambil manfaat darinya untuk kemudian dijadikan dasar dalam menapaki kehidupan.

Dalam cerita-cerita yang disampaikan Allah Swt. melalui al-Qur’an, Allah senantiasa menekankan betapa pentingnya kecerdasan sebagai wasilah untuk memahami hikmah di balik peristiwa–peristiwa yang terjadi. Allah Swt. berfirman :

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya : Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.( Q.S. Yusuf : 111 )

Dalam ayat lain Allah Swt. menegaskan :

وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Artinya : Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman “.( Q.S Huud : 120 ).

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang bersahaja …

Ayat ini diturunkan oleh Allah Swt. untuk menguatkan hati Nabi Muhammad Saw. Agar jangan sampai terpengaruh oleh cacian orang-orang yang memusuhinya. Dalam ayat ini, Allah juga menjelaskan bahwa para rasul terdahulu juga mengalami peristiwa sama yang di alami oleh Nabi Muhammad Saw. Sehingga diharapkan Nabi Muhammad Saw. Benar-benar memperhatikan kisah-kisah para Nabi terdahulu yang telah diwahyukan kepada Beliau. Beliau menghayati segala peristiwa yang menimpa para pendahulunya, dan menjadi tahu bahwa medan perjuangan yang dialami penyampai ajaran Allah sangatlah berat. Berbagai bentuk ujian dan rintangan harus mereka hadapi dengan penuh kesabaran dan ketawakalan. Semunya telah diatur oleh Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

            Kecerdikan Nabi dalam menghayati setiap peristiwa yang telah terjadi pada para pendahulunya ternyata berpengaruh besar dalam menentukan sikap ketika menangani setiap persoalan yang sedang menimpa. Buah penghayatan Nabi dari setiap kisah para Nabi terdahulu antara lain adalah menjadi lebih sabar dalam menghadapi umatnya, bijak dalam bertindak, cerdas dalam mengambil langkah-langkah strategis, dan tak kalah penting adalah kesadaran akan sebuah peran serta Allah dalam setiap peristiwa yang di alaminya.

Kesadaran akan peran serta Allah dalam setiap peristiwa, hendaknya diiringi dengan prasangka baik kepada Allah Swt. Sebab, manusia yang hidupnya selalu diliputi prasagka buruk, jangankan memperoleh hikmah dari peristia-peristiwa yang dialaminya, mendapatkan hidayah saja boleh dikatakan hal yang sulit bahkan mustahil. Sehingga hidupnya selalu dirundung kegalauan berkala. Karenanya, untuk mengetahui hikmah setiap peristiwa yang sedang menimpa, hendaknya kita yang merupakan manusia selalu mengedepankan sikap prasangka baik kepada Allah Sang Maha Penguasa. Terlebih berprasangka baik kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang lain. Nabi Muhammad Saw. Bersabda :

إِنَّ حُسْنَ الظَّنِّ بِاللهِ مِنْ حُسنِ عِبادَةِ اللهِ.

Artinya : Sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah sebagian baiknya beribadah kepada Allah “.(H.R. Ahmad ).

            Selain itu jika kita telah berbuat baik sangka kepada Allah, maka berarti kita telah percaya terhadap semua kepastian Allah. Dan tentunya kita juga harus yakin bahwa di balik tindakan Allah pasti terkandung hikmah, kebaikan, dan manfa’at bagi diri kita. Karena tidak ada tindakan Allah tergolong sia-sia. Allah Swt. berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ

Arinya :Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main ”. ( Q.S al-Anbiya’ : 16 ).

 Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman :

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلا

Artinya :Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. ( Q.S. Sdod : 27 ).

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

            Di antara kelompok yang dikenal sebagai ahli dalam mencari hikmah adalah Ulama Sufi. Para ulama memiliki teknis khusus dalam menggali hikmah. Yakni dengan mengamalkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari. Karena Nabi Muhammad mengatakan :

مَنْ عَملَ بِمالَمْ يَعْلَمْ وَرَّثَهُ اللهُ عِلْمَ مالَمْ يَعْلَمْ

Artinya : Barang iapa yang mengamalkan ilmu yang telah ia dapat, maka Allah akan memberikan pengetahuan yang belum ia ketahui.( H.R. Imam Ahmad )

            Imam al-Ghozali mengatakan bahwa, hikmah terbesar terjadi dimana-mana dan tak terhitung jumlahnya, karena terlalu banyak dan begitu luasnya. Hikmah hanya akan dibuka dengan mujahadah, muraqabah, dan mengerjakan amalan-amalan baik lahir maupun bathin. Duduk bersama Allah dalam kesendirian dan penuh kesadaran, itulah pintu ilham dan sumber keterbukaan ( Hikmah). Banyak sekali pelajar-pelajar yang belama-lama dalam menuntut ilmu, namun tidak mampu untuk mengamalkan ilmu yang telah ia peroleh, meski hanya satu kalimat. Sementara tidak sedikit orang-orang yang membatasi dirinya dengan hal-hal yang penting, namun maksimal dalam beramal mengawasi hati. Allah telah membukakan pintu hatinya sebuah rahasia, hikmah, dan pengetahuan yang halus, yang membuat bingung orang-orang yang berotak cemerlang.

            Di balik sebuah peristiwa pasti ada hikmahya. Ulama Ushul Fiqh mengartikan hikmah sebagai manfaat yang diperoleh dan marabahaya yang dapat dijauhi. Jika kita terapkan dalam setiap peristiwa yang kita alami, berarti ada pengamalan-pengamalan yang dapat kita ambil manfaatnya, dan dapat kita gunakan dalam menangkal hal-hal yang membahayakan serta membuat usaha kita gagal. Dengan demikian, kita telah berusaha menjadi orang yang cerdas  dalam memanfaatkan hikmah Ilahiyyah, yaitu pengajaran Allah untuk kita sebagai makhluk yang lemah. Sunguh beruntung orang-orang yang dianugrahi hikmah. Allah Swt. brfirman :

يُؤۡتِي ٱلۡحِكۡمَةَ مَن يَشَآءُۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرًا كَثِيرًاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

Artinya: “Allah memberikan hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” ( Q.S al-Baqoroh : 269 ).

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah Swt. …

            Syehk Ibrahim an-Nakha’i mengatakan bahwa, arti al-hikmah dalam ayat di atas adalah pemahaman. Jadi oarang yang dianugerahi pemahaman terutama hal-hal yang menjadikan lebih dekat kepada Allah telah mendapatkan anugerah dan karunia yang banyak, baik karunia keduniawian amuapu karunia keukhrowian.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

            Mungkin itu saja khutbah pada kesempatan hari ini semaoga kita semua bisa menjadi orang yang mampu megambil hikmah dari setiap peristiwa.

أَعُوذُ بِاالله مِنَ الشَّيطانِ الرَّجِيمِ. وَلِكُلِّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيها فَاسْتَبِقُوا الْخَيْراتِ أَيْنَ ما تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَميعًا إِنَّ اللهَ علَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيرٌ. بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنِي وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ أَقُلُ قَوْلِي  هذا وَأَسْتَغفِرُ اللهَ لِيْ ولَكُمْ ولِجَمِيعِ الْمٌسلِمِين فاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ. فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ.

اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Baca juga :

KHUTBAH JUMAT: SEJARAH SEEBAGAI PEMBANGKIT JIWA

Dawuh Masyayikh:
Puncaknya Ilmu | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Menyikapi Kepercayaan Rebo Wekasan

Istilah Rebo Wekasan merupakan sebutan bagi hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Dulu, masyarakat jahiliyah kuno mempercayai jika hari tersebut termasuk hari nahas atau keburukan. Dengan tegas, Rasulullah SAW memberikan sikap atas kepercayaan yang beredar tersebut dengan salah satu hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ المَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ

“Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, VII/126)

Menurut Syekh Sulaiman al-Bujairami, hadis tersebut ditujukan untuk menolak anggapan orang-orang yang mempercayai bahwa sesuatu dapat memberikan pengaruh dengan sendirinya, baik kebaikan atau keburukan. (Lihat: Hasyiyah al-Bujairami’ala al-Khatib, III/431)

Adapun kepercayaan masyarakat kuno terhadap adanya hari nahas atau sial yang jatuh pada Rabu terakhir bulan Shafar tidak dapat dibenarkan apabila mengarah pada Tathayur (merasa sial) karena hal tersebut termasuk berprasangka buruk terhadap Allah SWT. Sebagaimana disampaikan Syekh Abdurrauf al-Munawi dalam karyanya yang berjudul Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ash-Shaghir:

وَالْحَاصِلُ أَنَّ تَوَقِّيَ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ عَلَى جِهَةِ الطِّيَرَةِ وَظَنِّ اعْتِقَادِ الْمُنَجِّمِيْنَ حَرَامٌ شَدِيْدَ التَّحْرِيْمِ إِذِ الْأَيَّامُ كُلُّهَا للهِ تَعَالَى لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ بِذَاتِهَا وَبِدُوْنِ ذَلِكَ لَا ضَيْرَ وَلَا مَحْذُوْرَ

“Kesimpulannya. Sesungguhnya menghindari hari Rabu dengan cara merasa sial dan meyakini prediksi para peramal adalah haram, sangat terlarang. Sebab semua hari milik Allah. Tidak ada hari yang bisa mendatangkan marabahaya atau manfaat karena faktor harinya. Kalau bukan karena di atas, maka tidak apa-apa dan tidak dilarang.” (Lihat: Faidl al-Qadir, I/45)

Tafaul Ajaran Nabi

Tidak heran, Rasulullah SAW justru mengajarkan pada umatnya untuk berprasangka baik dan tafa’ul (mengharapkan kebaikan). Dalam salah satu hadis ditulis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لاَ طِيَرَةَ ، وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ » . قَالُوْا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ »

“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: Tidak ada kesialan. Sebaik-baik merasa sial adalah tafa’ul” Sahabat bertanya: “Apa Tafaul?” Nabi menjawab: “Yaitu kalimat yang baik yang didengar oleh kalian. (HR al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, VII/135) []WaAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM SALAT “REBO WEKASAN”

SALAT ‘REBO WEKASAN’ DALAM TINJAUAN FIKIH

Dawuh Masyayikh:
Puncaknya Ilmu | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

# MENYIKAPI KEPERCAYAAN REBO WEKASAN
# MENYIKAPI KEPERCAYAAN REBO WEKASAN

Islam Agama yang Akomodatif dengan Budaya

Penulis: Rif’an Haqiqi

Islam yang lahir beberapa abad lalu di suatu kota di semenanjung Arab, sekarang sudah masuk ke segala penjuru dunia. Dalam perjalanannya dari kota asal menuju daerah yang dimasuki, tentunya Islam bertemu, bersinggungan, dan bergaul dengan berbagai macam budaya dan peradaban.

Hal ini merupakan sebuah keniscayaan. Layaknya orang yang ingin memiliki banyak teman dan relasi, dia harus bergaul dan beradaptasi dengan banyak orang dengan karakter beragam. Jika tidak ingin bersentuhan dengan hal asing—diam saja dalam gua.

Maka, menyimpan dan mengeksklusifkan Islam agar tidak bersentuhan dengan banyak hal (yang dianggap mengurangi nilai ke-Islaman oleh sebagian kalangan) sama saja menutup atau paling tidak mempersempit pintu dakwah Islam. Prof. Nadirsyah Hosen memberi tamsil, Kentucky Fried Chicken (KFC) yang ada di Kentucky, USA tentu berbeda dengan KFC Indonesia. Jika di sana disajikan dengan kentang, di Indonesia disajikan bersama nasi. Namun menu utamanya sama, ayam goreng.

Saat masuk ke Indonesia dan sekitarnya, otomatis Islam pun beradaptasi dengan budaya setempat. Adaptasi di negeri ini pada saat itu bukanlah hal yang mudah, karena budaya daerah setempat sudah tercampur ajaran kepercayaan lain seperti Hindu. Kemenangan Islam dalam pertarungan budaya demi memperebutkan tempat di bumi Nusantara ini adalah hasil jerih payah yang tak kenal lelah para pendakwah, dalam waktu yang tak sebentar pula.

Di samping keilmuan, tentu kesabaran, ketelatenan, keikhlasan, dan kebijaksanaan menjadi modal pokok para pendakwah Islam di bumi Nusantara kala itu. Maka kita sudah sepantasnya bersyukur dan menghormati jasa-jasa para wali tersebut. Langkah yang diambil beliau-beliau tentu sudah melalui proses pemikiran yang matang. Tidak sepatutnya kita dengan congkaknya mengubah tatanan yang sudah sedemikian mapan.

Metode dakwah demikian terbukti efektif menarik banyak massa, seperti yang dicatatkan Kiai Abul Fadhl Senori, Tuban dalam bukunya Ahla al-Musamarah:

فلم يزل السيد رحمة يدعون الناس إلى دين الله تعالى وإلى عبادته حتى أتبعه في الإسلام
.جميع أهل عمفيل وما حوله وأكثر أهل سوربايا وما ذلك إلا بحسن موعظته وحكمته في الدعوة
وحسن خلقه مع الناس وحسن مجادلتهم إياهم.

“Sayyid Rahmat (Sunan Ampel) tak henti-hentinya mengajak orang-orang untuk masuk ke-agama Allah dan menyembah-Nya, hingga seluruh penduduk Ampel dan mayoritas penduduk Surabaya masuk Islam. Hal tersebut tak lain karena bagusnya nasihat, kebijaksanaan dalam berdakwah, akhlak yang luhur, dan perundingan (adu argumen) santun yang beliau lakukan jika diperlukan”.

Seperti itulah Islam mula-mula merebak ke penjuru Nusantara, maka bukan sesuatu yang mengejutkan jika karakteristik Islam masyarakat Indonesia cenderung santun dan luwes, di samping juga karena karakteristik penduduknya yang santun dan bersahabat. Itu merupakan hasil adaptasi Islam dengan kultur Nusantara, hal ini bukan berarti mengubah Islam dari watak originalnya, akan tetapi merupakan sebuah perantara agar Islam dapat diterima dengan lapang dada tanpa paksaan oleh penduduk Nusantara. Inilah manifestasi khuluqin hasan yang diperintahkan Nabi Saw.:

وخالق الناس بخلق حسن

“Dan perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik”
Sayyidina ‘Ali sebagaimana dikutip oleh Syekh Nawawi Banten dalam Mirqat Su’ud al-Tashdiq menjelaskan makna dari kata khuluqin hasan (ahlak yang baik) adalah:

موافقة الناس في كل شيئ ما عدا المعاصي

“Mengikuti (adat) orang-orang dalam segala hal selain kemaksiatan”
Maka, selagi kultur dan budaya Nusantara tidak melanggar rambu-rambu syari’at, hal itu tetap dipertahankan sebagai penghormatan terhadap budaya setempat, juga pelestarian keberagaman yang sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah). Dan jika ada praktik atau ritus budaya yang melanggar rambu-rambu syariat, langkah yang diambil adalah membersihkan ritus tersebut dari kemaksiatan, bukan menghilangkan praktiknya secara keseluruhan.

Dalam misi penyebaran, Islam mau tidak mau harus berinteraksi dengan berbagai budaya. Bahkan, interaksi antara Islam dan budaya setempat sudah ada sejak di tempat kelahirannya. Ada beberapa budaya orang pada masa itu yag diakomodir dalam syariat. Seperti tradisi akikah, tradisi ini sudah ada sejak sebelum Islam datang. Lalu ketika Islam datang, tradisi yang tadinya mengandung unsur keharaman ini dibersihkan tanpa menghilangkan asalnya.
Seperti halnya kisah dari Abdullah bin Buraidah yang ada dalam Sunan Abi Dawud dan Sunan Al-Nasa’i memaparkan:

عن عبد الله بن بريدة عن أبيه قال: كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسه بدمها.
فلما جاء الله بالإسلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران . حديث حسن صحيح (سنن أبي داود، سنن البيهقي)

“Diceritakan dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ayahnya bercerita, “Pada masa Jahiliyah, jika ada bayi yang baru lahir, kami menyembelih kambing dan mengoleskan darahnya pada kepala bayi tadi. Lalu setelah Allah datangkan Islam pada kami, yang kami lakukan adalah menyembelih kambing dan mengolesi kepala bayi dengan minyak Za’faron” (Hadis Hasan Shahih).

Contoh di atas adalah bentuk akomodasi Islam terhadap budaya, di mana yang tadinya tradisi akikah diwarnai dengan perbuatan haram berupa pengolesan darah yang dalam fikih dikategorikan sebagai tadhammukh binnajasah (berlumur dengan perkara najis), digantikan dengan minyak Za‘faran tanpa menghilangkan tradisi itu sendiri, yang justru tradisi tersebut diakomodir menjadi kesunahan.

Lalu budaya dan warisan yang tidak mengandung kemungkaran—namun juga tidak bernuansa Islam, tetap dilestarikan sebagai bentuk pelestarian keanekaragaman yang sudah menjadi ketetapan Allah. Juga sebagai bentuk manifestasi dari khuluqin hasan (perilaku yang baik) yang disabdakan Nabi Saw. seperti dijelaskan Sayidina ‘Ali bahwa makna khuluqin hasan adalah mengikuti apa saja yang dilakukan orang lain kecuali maksiat.[]

Baca juga:
IMAM AN-NAWAWI: SANG IDOLA FUQOHA MASA KINI

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Beserta keluarga channel kami untuk mendapatkan video-video terbau darinya

Santri Mengaji
LIM Production

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah