SALAT LIL UNSIL QABR, RINGANKAN BEBAN MAYIT

Mayoritas ulama sepakat bahwa doa, kalimat thayyibah maupun pahala dari amaliyah seperti sedekah dan lain-lain yang ditujukan kepada ahli kubur, akan sampai dan bisa memberi keringanan siksa dan memberikan sebuah kebahagiaan kepada penghuni alam barzah. Sudah banyak juga persaksian-persaksian orang saleh terdahulu maupun sekarang tentang hal ini, entah itu lewat mimpi dengan melihat perubahan yang sedemikian drastis pada diri mayit setelah dikirim pahala-pahala amaliyah tadi atau melihat dengan mata hati mereka yang bersih.

Sungguh, kehidupan di alam sana jauh lebih berat. Mayit laksana sedang berada di tegah samudera yang luas. Kondisi mereka tengah karam, mereka mengharap bantuan dari kita yang masih hidup. Entah itu berupa doa, sedekah maupun amaliyah lainnya. Seperti yang digambarkan dalam sebuah riwayat berikut :

مَا الْمَيِّتُ فِي الْقَبْرِ إِلَّا كَالْغَرِيقِ الْمُتَغَوِّثِ، يَنْتَظِرُ دَعْوَةً تَلْحَقُهُ مِنْ أَبٍ أَوْ أُمٍّ أَوْ أَخٍ أَوْ صَدِيقٍ، فَإِذَا لَحِقَتْهُ كَانَتْ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيُدْخِلُ عَلَى أَهْلِ الْقُبُورِ مِنْ دُعَاءِ أَهْلِ الْأَرْضِ أَمْثَالَ الْجِبَالِ، وَإِنَّ هَدِيَّةَ الْأَحْيَاءِ إِلَى الْأَمْوَاتِ الِاسْتِغْفَارُ لَهُمْ

“Tidaklah semata-mata mayat di alam kubur melainkan laksana orang yang sedang tenggelam yang minta bantuan, mereka menanti doa (pahala) yang dilakukan orang hidup yang disampaikan kepadanya, baik dari bapak, ibu, saudara atapun kawan. Apabila ada doa dan pahala kebaikan dikirimkan kepadanya maka itulah yang mereka sukai daripada dunia beserta isinya. Sesungguhnya Allah akan memasukkan kepada penghuni kubur dari pada doa-doa penghuni bumi seperti gunung kebaikan, sesungguhnya pemberian hadiah orang hidup terhadap orang mati ialah memohonkan ampunan untuk mereka. ” (HR. Al-Baihaqi, Ad-Daelami)

Sebagian masyarakat mungkin mentradisikan amaliyah kafarat atau penebusan dan doa atas segala dosa yang dilakukan almarhum saat di dunia, seperti membaca surat Al-Ikhlas sekian ribu kali dan sebagainya. Termasuk di antaranya adalah salat Unsil al-Qadr, yakni salat yang dilakukan sehari setelah mayit meninggalkan dunia ini. Salat ini dilakukan juga dengan tujuan meringankan siksa kubur bagi si mayit. Syekh Muhammad Nawawi, ulama kawakan Nusantara menerangkan tata cara salat ini dalam master piece beliau, Nihayatuzzain hal. 701 Cet. Haramain sebagaimana berikut ;

ومنه صلاة ركعتين للانس في القبر روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا يأتي علي الميت أشد من الليلة الأولي فارحموا بالصدقة من يموت قمن لم يجد فليصلي ركعتين يقرأ فيهما أي في كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة وأية الكرسي مرة و الهاكم التكاثر و قل هو االله أحد عشرى مرات

Pada keterangan di atas, beliau Syekh Nawawi menukil ungkapan Nabi Saw. yang berbunyi kurang lebih sebagai berikut :
“Termasuk dari salat sunah adalah dua rakaat salat Lilunsi Fil Qabr. Riwayat dari Nabi Saw. bahwa sabda beliau ; “Tidak datang suatu hal yang lebih berat bagi mayit ketimbang malam pertama (dia dikebumikan). Kasihanilah mereka dengan sedekah, bagi yang tidak mampu melakukannya, bisa dengan mengerjakan salat dua rakaat. Masing-masing setelah membaca al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca Ayat Kursi satu kali, Surat at-Takatsur satu kali dan Surat al-Ikhlas sepuluh kali.

TATA CARA

Niat salat Unsil Qabr :

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِلْأُنْسِ فِي اْلقَبْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالىٰ
Usholli sunnatan lil unsi fil qobri rok’ataini lillahi ta’ala.
Saya shalat sunah untuk ketenangan mayit dalam kuburnya dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Setelah membaca surat al-Fatihah, disusul Ayat Kursi dan Surat at-Takatsur masing-masing satu kali kemudian membaca Surat al-Ikhlas sepuluh kali, runtutan ini juga dikerjakan pada rakaat ke dua.
Setelah salam, dilanjutkan dengan membaca doa sebagaimana kelanjutan dalam keterangan yang disampaikan oleh beliau :

اَللَّهُمَّ إِنِّي صَلَّيْتُ هَذِهِ الصَّلَاةَ وَتَعْلَمُ مَا أُرِيْدُ اَللَّهُمَّ اِبْعَثْ ثَوَابَهَا إِلَي قَبْرِ فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ

Allahumma inni shollaitu hadzihis shalata wa ta’lamu ma uridu allahummab’ats tsawabaha ila qobri fulan ibni fulan (sebut nama jenazah).

“Ya Allah, saya melakukan shalat ini dan Engkau tahu apa yang saya maksudkan. Ya Allah, kirimkanlan pahala shalat ini kepada fulan bin fulan (sebut nama mayit).”

KEUTAMAAN

Fadhilah atau keutamaan salat ini tidak hanya dirasakan oleh almarhum,

فيبعث الله من ساعته إلي قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلي يوم ينفخ في الصور

“Maka pada saat itu juga Allah mengirimkan ribuan malaikat ke kuburan mayit. Setiap malaikat membawa seberkas cahaya dan hadiah, mereka semua menghibur dan menenangkan si mayit hingga kelak terompet hari kiamat ditiup.”

Namun juga orang yang mengerjakannya mendapatkan banyak pahala.

و في الحديث أن فاعل ذلك له ثواب جسيم منه انه لا يخرج من الدنيا حتي يرى مكانه في الجنة قال بعضهم فطوبي لعبد واظب علي هذه الصلاة كل ليلة واهدى ثوابها لكل ميت من المسلمين

“Pada sebuah hadis diterangkan, bahwa siapa yang mengerjakan salat ini, baginya pahala yang sangat agung. Termasuk darinya, ia tidak akan keluar dari kehidupan dunia kecuali setelah melihat tempatnya di surga. “

Sebagian ulama menambahkan ; “Sungguh sangat beruntung, seseorang yang mengerjakan salat ini setiap malam, dan menghadiahkan pahalanya kepada setiap mayit dari orang-orang muslim.”

Demikianlah keterangan yang beliau sampaikan, semoga bermanfaat dan kita bisa menjadikannya sebagai rutinitas amalan tambahan kita, sebagai bekal hidup kelak di kehidupan abadi. Allahu A’lam.[]

SALAT LIL UNSIL QABR, RINGANKAN BEBAN MAYIT

Baca juga:
METODE SALAT KHUSYUK HATIM AL-ASHAM

Simak juga:
Sejarah dan Fadilah Tahlil | KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

SALAT LIL UNSIL QABR, RINGANKAN BEBAN MAYIT
SALAT LIL UNSIL QABR, RINGANKAN BEBAN MAYIT

Norma Manusia yang Tercatat dalam Al-Qur’an

Manusia akan selalu membuat kemajuan baru dalam kehidupannya. Dengan akal yang mereka miliki, ia tidak akan segan-segan berhenti berfikir untuk membuat inovasi-inovasi baru yang akan mendatangkan kemudahan dalam menjalani hidup ini. Mereka akan terus membangun peradabannya sampai tidak ada kehidupan lagi di dunia.

Al-Qur’an telah mencatat, mempercayakan manusia untuk dijadikan sebagai khalifah di bumi. Mereka diperintahkan oleh Allah Swt. untuk mendirikan norma-norma (hukum) yang telah ditetapkan, dan melestarikan keharmonisan dalam mengatur segala hal yang ada di dalamnya.

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (al-Baqarah: 30)

Sebagai manusia, seharusnya dapat berperilaku dengan bijak, memanfaatkan dengan baik apa saja yang telah Tuhan berikan kepada kita dan tidak menyia-nyiakannya. Yang memiliki kekayaan lebih, harus bisa berlaku adil dengan membagi sebagian hartanya kepada yang membutuhkan. Yang diberikan anugerah kecerdasan, jangan sampai lupa membaginya dengan orang lain.

Namun sebagai manusia, melihat dari tatanan peradabannya, mereka selalu diliputi sifat serakah. Ia selalu menginginkan kenikmatan hanya untuk dirinya atau kelompoknya saja. Mereka tidak mau berbagi dengan saudaranya. Hal ini yang selalu memunculkan krisis dan konflik yang tidak ada habisnya. Mulai dari krisis ekonomi hingga lunturnya rasa perdamaian, yang diikuti menyebarnya kekacauan hanya karena ia ingin menguasai dunia. Hal tersebut membuat penciptaan manusia jauh dari keterangan yang berada dalam al-Qur’an (Al-Buthi, tt).

Orang yang memiliki kekayaan berlebihan, akan terus menambah kekayaan dan tidak peduli bahwa banyak orang yang menderita akibat keserakahannya. Mereka seperti menginginkan dunia berada dalam genggaman tangannya. Bahkan, jika pun ada pekerjaan yang dapat memuaskan hasratnya dengan menindas kelompok lain, hal tersebut akan dilakukan.

Kompetisi yang diwujudkan dari inovasi dalam peradaban manusia, seringkali memunculkan persaingan yang tidak sehat. Kompetisi seperti ini biasanya ditenggarai atas sifat serakah dan hanya ingin menang sendiri. Pembangunan yang ada, hanya akan membuat kemajuan di satu pihak saja, dan merugikan dipihak yang lain.

Said Buthi Ramadhan dalam Manhaj Hadhorotil Insaniyyah, mengatakan kurang lebih: “Tak henti-hentinya kita temukan sebuah bangsa yang melebarkan pembangunan peradaban dengan cara demikian. Ia akan menyibukkan satu tangannya untuk mengembangkan peradaban dan segala faktor penyebabnya. Dan di waktu yang sama, bangsa tersebut mengulurkan tangan yang lain untuk menyalakan api permusuhan dan peperangan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain.”

Ketika ada bangsa dalam keadaan aman dan tidak ada sedikit yang menampiknya, pasti ada negara yang sedang mengalami peperangan. Penyebab dari hal ini ialah kerakusan nafsu manusia.

Penggambaran saja seperti ini, mereka saling berlomba-lomba menciptakan alat paling canggih dalam segala hal. Tidak kurang semisal ingin menciptakan pengghancur massal atau nuklir. Dengan pengetahuan dan keilmuan, hal tersebut bisa kita dapatkan. Tetapi ketika penemuan telah wujud, jika didiamkan saja, atau tidak diuji coba, bagaimana bisa mengetahui kemanfaatan, atau sekedar melihat dan mengetahui sebatas mana pencapaian itu. Maka Ia menjadikan daerah lain sebagai tempat uji coba. Sebab, ia juga tidak sudi dan tidak mau ketika negaranya hancur. Ia menggunakan beberapa umpan dengan kelompok lain, supaya ia tidak didakwa sebagai dalang. Sehingga diri dan negaranya tetap dalam keadaan aman. Masih banyak negara-negara yang menjadi teror atas kebiadaban dan ketamakan manusia.

Kecenderungan kepada dunia yang menggelora, menyebabkan kenyataan yang diwujudkan manusia tidak seperti asal penciptaannya. Meraka salah pengertian bahwa dunia adalah hal yang mereka cari. Padahal, tidak seperti itu.

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى

“Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (An-Nisa: 77)

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ  (197)

“Jangan sekali-kali kamu terperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) diseluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara. Kemudian tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam. (Jahannam) itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (Ali-Imran: 196-197)

Kompetisi memang baik, membikin suatu pekerjaan yang lebih dinamis dan mampu memberikan gerak agar terus tergerak maju. Kompetisi membuat inovasi-inovasi baru untuk perubahan dalam peradaban manusia. Tetapi jika kompetisi dibuat tidak untuk saling menyejahterakan dan hanya mengerahkan pemiliknya agar bisa menjadi yang paling berkuasa, ini hanya akan mengalami kemunduran dalam peradaban.

Maka, perlu kembali perenungan dengan lebih hikmat untuk mewujudkan bahwa kita memang benar-benar layak untuk dijadikan kholifah di atas muka bumi ini. Kemajuan peradaban manusia dan keharmonisan yang ada di dalamnya, bisa dengan mudah kita dapat, yaitu melalui kompetisi yang dibarengi tidak hanya dengan akal sehat, tetapi juga dengan kerja sama. Bukan disertai dengan syahwat (nafsu) atau dengan rasa dendam (marah).

Seperti yang dipaparkan oleh Imam Sulaiman bin Umar al-Ajily dalam Tafsir Futuhatil Ilahiyyah “Sesungguhnya dalam setiap jiwa manusia, ada tiga perkara yang paling kuat dalam menentukan arah peradaban. Di antaranya; syahwat, marah, dan akal. Dua perkara yang awal, hanya akan menghasilkan kemunduran dalam kepribadian manusia. Sedangkan urutan yang terakhir, mengantarkan kesempurnaan dan keutamaan dalam kehidupan manusia.”[]

Norma Manusia yang Tercatat dalam Al-Qur’an
Norma Manusia yang Tercatat dalam Al-Qur’an
Norma Manusia yang Tercatat dalam Al-Qur’an

Baca juga: Sejarah Peradaban Kalender Arab
Jangan lupa like & subcribe youtube Pondok Lirboyo

Peraturan Allah yang Aneh

Dalam mempertautkan hubungan-Nya dengan hamba-hamba-Nya, Allah memiliki dua peraturan aneh:

Pertama, ketika hamba-Nya melakukan satu pekara kecil akhirat, Allah mengganjarnya berkali-kali lipat lebih banyak dari apa yang dilakukan hamba-Nya. Bahkan melebihi nilai dunia apapun yang bisa dibayangkan.

Kedua, ketika hambanya meninggalkan satu perkara kecil dunia, Allah menahan pahala amal akhirat yang telah dilakukan. Bahkan seribu rakaat siang-malam pun tak ada artinya.

Yang pertama itu contohnya banyak. Allah memberi pahala berkali lipat bagi orang yang mau shalat wajib dengan berjamaah. Atau delapan rakaat shalat dhuha. Atau bahkan dua rakaat shalat sunnah sebelum shalat shubuh. Tentu telah masyhur bagi kita hadits berikut:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat shalat fajar (qabliyah subuh) lebih baik dari dunia seisinya.”
Beberapa ulama mencoba mengurai makna dari “lebih baik dari dunia seisinya” itu. Salah satunya memberi pemisalan: Jika kita memiliki harta duniawi sebanyak apapun, lalu harta itu dinafkahkan ke jalan Allah, itu masih terlampau sedikit. Bahkan dalam satu riwayat, harta itu sangat kecil artinya dibandingkan pahala takbiratul ihramnya shalat qabliyah shubuh.

Loh, kok bisa begitu? Kenapa dengan amal sekecil itu pahalanya demikian besar? Cuma dua rakaat loh. Dua rakaat! Lamaan juga dapetin chicken dinner.

Kecil Tapi Besar

Untuk menjawabnya, ada sebuah kisah dari Imam Syafii ra. Suatu hari, ketika beliau berjalan-jalan, tiba-tiba cambuk miliknya terjatuh. Seseorang menghampirinya. Mengambilkan cambuk itu. Diberikannya kepada sang pemilik. Imam Syafi’i tersenyum. Berterima kasih. Sebagai tanda terima kasihnya, beliau memberikan sejumlah benda mulia miliknya.

Ada kawannya yang heran. “Wahai imam, bagaimana bisa engkau memberi harta sebanyak itu sebagai balasan pertolongan yang remeh?”
“Sungguh, saat ia melakukannya, ia telah mengorbankan seluruh kesempatannya. Sementara apa yang kuberikan hanya sebagian kecil dari apa yang kumiliki.”

Imam Syafi’i saja, seorang makhluk-Nya, melakukan hal seperti ini. Bagaimana dengan Allah, Tuhan dari segala makhluk?
Peraturan aneh yang kedua terdapat dalam kisah pengembaraan Nabi Musa as.

Di tengah pengembaraannya, beliau bertemu dengan seseorang. Ia tampak tekun beribadah. Nabi Musa heran melihat apa yang dilakukannya. Ibadahnya tanpa cela. “Duhai Tuhan, sungguh sempurna ibadahnya,” pujinya.

Tetapi seketika Allah menegur Nabi Musa as. “Wahai Musa! Kalau toh ia sholat seperti itu siang malam seribu rakaat, memerdekakan seribu budak, menyalati seribu jenazah, bahkan ikut dalam seribu pertempuran, tak akan bermanfaat sedikitpun.”
Tidak sedikitpun?
“Amal-amal itu tak berguna sedikitpun jika ia enggan menzakati hartanya.”

Jawaban

Kenapa bisa begitu? Harta dunia yang tidak seberapa itu tidakkah terlalu hina dibandingkan ibadah yang begitu banyak?
Tunggu dulu. Ribuan tahun setelah peristiwa itu, Allah menjawab pertanyaan semacam ini lewat sabda Nabi Muhammad saw., utusan terakhir-Nya.

حب الدنيا رأس كل خطيئة
“Cinta dunia adalah pokok dari segala keburukan.”

Dan enggan menunaikan zakat adalah sebagian dari tanda cinta dunia.
Hmmm, Allah memang seringkali membuat peraturan aneh. Yang tak bisa dijangkau oleh nalar manusia seperti kita. Tetapi yang lebih aneh tentu manusianya. Sudah tahu Allah “obral pahala”, eh tetap nggak rajin ibadah juga. Dasar makhluk paling sempurna. Hehe.

Disarikan dari kitab Durrotun Nasihin, halaman 130-131.

Baca juga:
KISAH IMAM SYAFI’I MENULIS DENGAN JARI DAN TELAPAK TANGANNYA

Simak juga:
Sejarah dan Fadilah Tahlil | KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Teladan Sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Pada suatu malam ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang menjalankan tugas pemerintahan, datang seorang pemuda untuk membicarakan persoalan keluarganya. Kemudian Khalifah Umar berkata kepada pemuda tersebut: “Padamkan lenteranya (alat penerangan di zaman dahulu), dan berceritalah.”

Beliau memilih memadamkan pencahayaan di ruangan tersebut bukan tanpa alasan. Hal ini karena sifat adil yang dimiliki oleh Khalifah dalam mengemban amanah sebagai Kepala Pemerintahan.

Beliau beranggapan bahwa minyak yang digunakan sebagai bahan bakar untuk menghidupkan lentera berasal dari Baitul Mall (harta umat Muslim pada saat itu), sehingga hanya dapat digunakan untuk kepentingan umat Muslim.

Pelajaran yang dapat diteladani adalah sikap kehati-hatian seorang pemimpin dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Pemimpin di sini bukan orang yang berada di lingkungan pemerintahan saja, namun bagi seluruh orang yang telah mendapat mandat sebagai pemimpin.

Sosok pemimpin yang adil selalu dapat membedakan harta yang ia miliki dan yang bukan. Menjauhi perbuatan syubhat dan mampu memposisikan pekerjaan yang sedang dijalankannya dengan baik.[]

Hikayah disarikan dari kitab At-Tibru al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk.

Baca juga: Kebijaksanaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Tonton Video: Sejarah dan Fadilah Tahlil | KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Sejarah Kurban Idul Adha

Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim bermimpi tiga malam berturut-turut, seakan ada yang berkata “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu ini. ” Pada pagi harinya beliau berfikir dan merenung. Apakah ini dari Allah atau dari setan? Oleh karena itu, hari ini disebut dengan hari berfikir (Tarwiyah).

Kemudian pada malam berikutnya beliau mengalami mimpi yang sama. Lalu beliau tahu bahwa mimpi tersebut adalah dari Allah. Maka hari itu disebut dengan hari ‘arofah (mengetahui).

Selanjutnya pada malam ketiganya beliau kembali mengalami mimpi yang sama. Maka pada hari itu beliau melaksanakan penyembelihan. Sehingga hari itu disebut dengan hari Nahr (penyembelihan).

Bagaimana berdebarnya perjalanan  kisah tersebut? Mari kita simak alurnya di bawah ini yang dinukil dari Kitab Tafsir Al-Khozin.

Pada tanggal 10 Dzul Hijjah Nabi Ibrahim AS memerintah Nabi Isma’il As agar mengambil tali dan pisau, kemudian mengajaknya mencari kayu bakar ke lereng gunung. Siti Hajar istri Nabi Ibrahim As juga menyangka bahwa kepergian mereka berdua untuk mencari kayu bakar.

Siti Hajar, Ibunda Nabi Isma’il As tidak luput dari godaan setan. Dikabarkan dari Ka’bul Akhbar dan Ibnu Ishaq, bahwa ketika setan melihat Nabi Ibrahim As hendak melaksanakan perintah penyembelihan ini, ia berkata: “Sungguh, jika aku tidak sanggup menggoda keluarga Ibrahim dalam masalah ini, niscaya setelah ini aku tidak akan mampu selamanya menggoda salah satu keluarganya. ” Setan kemudian menyamar sebagai seorang lelaki dan mendatangi ibu Nabi Isma’il As., yakni Siti Hajar, dan ia berkata: “Apakah kamu tahu ke mana Ibrahim membawa anakmu?” Siti Hajar menjawab: “Ia membawanya untuk mencari kayu bakar bersama di lereng gunung ini.” Setan berkata: “Tidak, demi Allah! Ia tidak membawanya melainkan untuk disembelih!” Siti Hajar menimpali: “Tidak akan! Dia lebih menyayanginya dan lebih mencintainya (dari pada aku).” Setan berkata: “Ia menyangka bahwa Tuhannya lah yang memerintahkan itu!” Siti Hajar menjawab: “Jika Tuhannya memerintahnya dengan itu, maka sungguh ia begitu baik dalam menaati Tuhannya.”

Keputusasaan Setan

Setan pun merasa putus asa dari Siti Hajar. Kemudian ia pergi menyusul Nabi Isma’il As yang ketika itu berjalan di belakang ayahnya. Setan berkata: “Wahai anak kecil (usia Nabi Isma’il mendekati baligh), apakah kamu tahu, kamu akan dibawa ke mana oleh ayahmu?” Nabi Isma’il menjawab: “Kami akan mencari kayu bakar bersama di lereng gunung ini.” Setan berkata: “Tidak, demi Allah, ia tidak menginginkan kecuali menyembelihmu.” Nabi Isma’il As Balik bertanya: “Mengapa?” Setan menjawab: “Sesungguhnya Tuhannya memerintahkan itu padanya.” Nabi Isma’il As Berkata: “Maka ayah harus melaksanakan perintah itu. Aku siap mendengarkan dan menaatinya. “

Ketika setan merasa putus asa dari Nabi Isma’il As ia pun menghadang Nabi Ibrahim As. Setan bertanya: “Wahai orang tua, engkau ingin ke mana?” Beliau menjawab: “Ke lereng gunung ini, karena ada sebuah keperluan.” Setan berkata: “Demi Allah, sungguh aku melihat setan telah datang dalam mimpimu dan memerintahmu untuk menyembelih anakmu ini.” Maka, Nabi Ibrahim As pun tahu bahwa lelaki itu adalah setan, lalu beliau berkata: “Menyikirlah dariku wahai musuh Allah. Maka demi Allah, sungguh aku akan melaksanakan perintah Tuhanku ini!” Dikabarkan bahwa Nabi Ibrahim Melempar setan tersebut ketika sampai di Jumrah ‘Aqobah dengan tujuh batu sampai ia menghilang. Kemudian setan menampakkan dirinya lagi di Jumroh Wustho, dan Nabi Ibrahim melemparinya kembali dengan tujuh batu sampai ia menghilang. Lalu setan menampakkan dirinya lagi di Jumroh Kubro, dan Nabi Ibrahim As. Melemparinya kembali dengan tujuh batu sampai ia menghilahng. Untuk mengenang peristiwa ini, disyariatkanlah melempar Jumroh saat pelaksanaan haji dan umroh.

Kesanggupan Nabi Isma’il

Pembaca yang Budiman, Nabi Isma’il pun menyanggupi ajakan Nabi Ibrahim As karena ia mengetahui akan ketinggian derajat ayahnya sebagai Nabi dan Rasul yang mimpinya tidak akan disisipi bisikan setan. Nabi Isma’il As tidak mengajukan banding kepada Allah agar perintah itu diperingan. Beliau sadar betul bahwa perintah Allah pasti akan mendatangkan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, kata-kata Nabi Isma’il As yang diabadikan dalam Al-Quran:

ستجدني إن شاء الله من الصابرين

 “Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. “ juga merupakan usaha Nabi Isma’il As untuk mendorong ayahnya agar juga sabar dalam menerima dan menjalankan perintah Allah.

Bahkan, Nabi Isma’il As mendukung apa yang dilakukan Nabi Ibarahim dengan berkata: “Wahai ayahku, kuatkanlah tali ikatku supaya aku tidak bergerak meronta. Jagalah bajumu dariku supaya tidak ada bercak darah padanya, sehingga jika ibuku melihatnya ia akan sedih. Tajamkanlah pisaumu dan cepatlah dalam menjalankan pisaumu pada leherku supaya lebih mudah bagiku. Sungguh, kematian adalah hal yang berat. Jika engkau menemui ibuku, maka sampaikanlah salam padanya dariku. Jika engkau ingin mengembalikan bajuku pada ibuku, maka lakukanlah. Semoga hal itu lebih memudahkan Ibu (dalam menahan kesedihan). “

Nabi Ibrahim As berkata: “Engkau adalah pembantu terbaik dalam melaksanakan perintah Allah. “ Kemudian Nabi Ibrahim As menghadap Nabi Isma’il As seraya beliau menangis dan beliau mengikat Nabi Isma’il dan Nabi Isma’il juga menangis. Lalu Nabi Ibrahim meletakkan pisau pada leher Nabi Isma’il, tetapi apa yang terjadi? Leher Nabi Isma’il tidak tergores sama sekali. Kemudian Nabi Ibrahim menajamkan pisaunya kembali dua / tiga kali dengan batu. Akan tetapi tetap saja pisau tersebut tidak mampu menggoresnya sama sekali.

Ketika itu, Sang Putra berkata: “Wahai ayahku, telungkupkanlah aku, karena jika engkau melihat wajahku, aku khawatir engkau akan mengasihiku dan merasa tidak tega. Dan aku khawatir perasaan itu menghalangimu dari melaksanakan perintah Allah. “

Kemudian ketika Nabi Ibrahim meletakkan pisau pada tengkuk Nabi Isma’il, maka pisau tersebut terbalik dengan sendirinya. Saat itu juga Nabi Ibrahim dipanggil: “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah melaksanakan perintah dalam mimpimu. “

Kemudian sebagai ganti Nabi Isma’il, didatangkanlah domba besar dari surga yang pernah menjadi persembahan Habil, putra Nabi Adam As. Nabi Ibrahim pun menyembelih domba tersebut dengan membaca takbir.

Wallohu a’lam bishshowab. Betapa besar kepatuhan keluarga Nabi Ibrahim As. Semoga keluarga kita bisa meneladani Keluarga Nabi Ibrahim As. Amin.

# Sejarah Kurban Idul Adha

Baca juga:
BOLEHKAH SATU KAMBING UNTUK KURBAN SEKELUARGA?

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal | KH. M. Anwar Manshur

# Sejarah Kurban Idul Adha # Sejarah Kurban Idul Adha

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah