Sakit yang diperbolehkan Tayamum

Assalamualaikum Ustadz, maaf sebelumnya, perkenalkan nama saya Ferdy, saya ingin bertanya mengenai kriteria sakit yang diperbolehkan melakukan tayamum, terima kasih, semoga bisa direspon.
Wassalamualaikum wr. wb.

Ferdy — Tangerang.

Wassalamualaikum wr. wb.

———

Waalaikumsalam wr. wb.

Penanya yang budiman, terimakasih telah berkenan untuk menghubungi kami, semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Amiin.

Kita langsung ke inti pertanyaan yang Anda ajukan saja, mengenai hal lain yang berkaitan dengan tayamum, seperti syarat, sebab maupun hal-hal yang membatalkan tayamum bisa kita bahas lain waktu, insya allah.

Salah satu sebab seseorang diperbolehkan melakukan tayamum sebagai media bersuci pengganti dari mandi maupun wudhu adalah sakit, sementara sakit itu sendiri, seperti yang telah kita sepakati terdapat beberapa tingkatan, dipandang dari berat dan ringannya.

Hanya saja, kita musti perlu mengetahui secara pasti pandangan syara berkaitan dengan klasifikasi sakit seseorang yang diperbolehkan melakukan tayamum dan yang tidak boleh.

Tentang ini, Syekh al-Mawardiy menjelaskan dengan rinci dalam kitab legendaris beliau, al-Hawiy al-Kabir juz 1 hal. 733 cet. Darul Fikr.

Sakit Ringan

(فصل) أَقْسَامُ الْمَرَضِ فَإِذَا ثَبَتَ جَوازُ التَّيَمُّمِ فِي الْمَرَضِ مَعَ وُجُوْدِ الْمَاءِ فَالْمَرَضُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ : أَحَدُهَا يَكُوْنُ يَسِيْرًا لَا يَسْتَضِرُّ بِاسْتِعْمَالِ الْمَاءِ فِيْهِ كَالْيَسِيْرِ مِنَ الْحُمَّى وَوَجَعِ الضَّرْسِ أَو نُفُوْرِ الطِّحَالِ فَلَا يَجُوْزُ لَهُ أَنْ يَتَيَمَّمَ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ.

Ibrah di atas, beliau membagi sakit ketika kaitannya dengan kewenangan melakukan tayamum menjadi 4 (empat) bagian.
Pertama adalah sakit ringan. Sekira jika menggunakan air sebagai media bersuci tidak berdampak buruk pada tubuh, penyakit demikian dicontohkan seperti sakit panas ringan dan sakit gigi.

Sakit seperti ini tidak diperkenankan tayamum bagi penderitanya.

Akan tetapi, jika kita melirik pendapat lintas mazhab, dari golongan malikiyyah memperbolehkan tayamum meski sakitnya tergolong ringan. Beliau melihat keumuman lafad مرضى pada Q.S. al-Maidah ayat ke-6 yang menjadi dalil tayamum itu sendiri. Berikut ibaratnya ;

َوقَالَ مَالِكُ وَدَاوُدُ : يَجُوْزُ أنْ يَتَيَمَّمَ لِعُمُوْمِ قَوْلِهِ تَعَالٰى “وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْعلٰى سَفَرٍ …(المائدة : ٠٦)

Sakit yang Mengkhawatirkan

وَالْقِسْمُ الثَّانِي منَ الْمَرَضِ أَنْ يَخَافَ التَّلَفِ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ فِيْهِ، فَيَجُوْزُ فِيْه أَنْ يَتَيَمَّمَ سَوَاءٌ كَانَ قُرُوْحًا أَوْ جِرَاحًا أَوْ كَانَ غيٰرَ قُرُوْحٍ وَلَا جِرَاحٍ

Kriteria sakit kedua adalah sakit yang jika seseorang memaksakan diri untuk menggunakan air sebagai media bersuci maka khawatir dapat menyebabkan kematian, hilangnya anggota tubuh (amputasi mungkin) atau fungsi dari anggota tubuh tersebut.

Maka dalam kondisi seperti ini, diperkenankan baginya untuk bertayamum.

Sakit Sedang

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مِنَ الْمَرَضِ أَنْ يَخَافَ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاء فِيْهِ شِدَّةَ الْأَلَمِ وتَطَاوُلَ الْبُرْءِ وَيَأْمَنَ التَّلَفِ

Jenis sakit berikutnya yakni sakit yang jika terkena air akan memperpanjang masa pemulihan, atau dapat menyebabkan pembekasan terhadap anggota tubuh yang tampak dalam aktifitas sehari-hari, seperti wajah dan kedua tangan.

Pada jenis sakit ini, ulama bersilang pendapat soal kewenangan melakukan tayamum bagi lenderita. Pendapat imam mazhab tidak memperkenankan tayamum. Dan banyak imam lain yang membolehkan.

Sakit Ringan tapi Berat

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ مِنَ الْمَرَضِ أنْ يَخَافَ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ فَيَنْدُرُ الشَّيْنُ والشَّلَلُ وَيَأْمَنُ التَّلَفَ وَشِدَّةَ الْأَلمِ

Kok bisa, ringan tapi berat?
Ya, jenis dari pembagian sakit yang terakhir ini memang ringan. Tapi sebenarnya berat jika dipandang dari dampak penggunaan air pada anggota sakitnya.

Yakni sakit yang penderitanya meyakini tidak akan terjadi kematian atau sakit yang teramat sangat jika ia menggunakan air, akan tetapi ia justru malah takut timbul penyakit yang mengkhawatirkan. Dicontohkan timbulnya kelumpuhan atau kecacatan, yang demikian terbilang langka. Jika terjadi seperti ini, ulama juga berbeda pendapat, ada yang mengatakan boleh tayamum dan sebagian tidak memperbolehkan

Demikian pembagian sakit yang dipaparkan oleh Syekh al-Mawardiy, sehingga kita dapat menggolongkan sakit sesuai kadar kekhawatiran dan dampak lainnya ke dalam empat macam sakit di atas. Sekian. Wallahua’lam []

Baca juga:
TATO DAN HUKUM WUDLUNYA

Simak juga:
Dawuh Masyayikh

Pemberangkatan Santri ke Cabang Santren Blitar

Lirboyo.net (19/06) Pagi ini, sebanyak 30 Santri diberangkatkan ke Pondok Lirboyo IV Cabang Santren Blitar.
Para santri tersebut merupakan santri yang masuk ke kelas III dan IV Ibtidaiyah, berdasarkan hasil tes masuk 3 gelombang yang diadakan beberapa hari lalu.

Dalam pelepasan tersebut tampak beberapa Mudir Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo.

Ini merupakan program zonasi Pondok Lirboyo yang diadakan mulai tahun ini.

Untuk tahap pengiriman santri selanjutnya baik yang ke Majalengka maupun ke Blitar menunggu hasil tes masuk berikutnya sekitar seminggu mendatang.

Baca juga:
PERESMIAN MADRASAH HIDAYATUL MUBTADIIN PONDOK LIRBOYO IV CABANG SANTREN BLITAR

PERESMIAN MADRASAH HIDAYATUL MUBTADIIN PONDOK PESANTREN LIRBOYO V CABANG MAJALENGKA

Simak juga:
PROGRAM ZONASI PONDOK PESANTREN LIRBOYO CABANG IV & V

Peresmian Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren Lirboyo V Cabang Majalengka

Rabu, 16 Juni 2021 M. / 05 Dzulqo’dah 1442 H. Masyayikh Lirboyo meresmikan Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang berada di Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka. Bertempat di desa Tegalaren, kec. Ligung, kab. Majalengka, Jawa Barat.

KH. Abdullah Kafabihi Mahrus mengungkapkan: “Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka didirikan dengan dasar untuk menciptakan kaderisari yang bertaqwa kapada Allah Swt. Pondok Lirboyo juga mengadopsi pendidikan dan keilmuan kebangsaan, yang secara otomatis (santri Lirboyo, red.) punya jiwa nasionalisme.”

Sambutan Mudir ‘Am

Selaku Mudir ‘Am Madrasah Hidayatul Mubtadiin, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar mengutarakan:

Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) yang diselenggarakan di Pondok Lirboyo Cabang Majalengka V adalah bagian yang terintegrasi dengan Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang berada di Pondok Lirboyo Kota Kediri.

Sehingga untuk sistem, kurikulum, pengajar, tenaga pendidik, dan metode, menggunakan ketentuan yang sama dengan yang ada di Pondok Lirboyo Pusat.

Jenjang pendidikan MHM yang dibuka Pondok Cabang Majalengka adalah kelas 3 dan 4 Ibtidaiyyah dengan peserta didik santri dari daerah Jawa Barat. Dan untuk jenjang berikutnya para santri akan melanjutkan pendidikannya di Pondok Lirboyo Pusat.

Fasilitas mendasar yang telah disiapkan Pondok Lirboyo V Cabang Majalengka untuk para santri meliputi:

  1. Asrama dengan kamar berjumlah 6
  2. Dapur
  3. Kantin
  4. Kos makan
  5. Kamar mandi ada 15

KH. Drs. Ubaidillah Harist, M.Pd. dalam sambutannya meyakinkan kepada masyarakat khususnya wali santri yang buah hatinya dititipkan di Pondok Lirboyo Cabang V Majalengka ini pada dasarnya sama dengan Pondok Lirboyo yang berada di Kediri. Sebab semua asatidz yang mengajar didatangkan langsung dari Pondok Lirboyo. Sistem dan kurikulum yang dijadikan sebagai bahan ajar juga sama, tidak ada yang berbeda dengan Pondok Lirboyo Pusat.

Beliau kemudian menyadur ungkapan ulama:

اَلْمَادَّةُ مُهِمَّةٌ وَلَكِنْ اَلطَّرِيْقَةُ أَهَمُّ مِنَ المَادَّةِ، اَلطَّرِيْقَةُ مُهِمَّةٌ وَلَكِنْ اَلْمُدَرِّسُ أَهَمُّ مِنَ الطَّرِيْقَةِ، اَلْمُدَرِّسُ مُهِمٌّ وَلَكِنْ رُوْحُ الْمُدَرِّسِ أَهَمُّ مِنَ الْمُدَرِّسِ

“Isi itu penting, tetapi sistematika lebih penting. Sistem itu bagus, namun jauh lebih bagus dari itu adalah pengajar. Pengajar itu sangat penting, tetapi lebih penting lagi adalah ruh jihad dari pengajar.”

Sistematika yang berada di pondok pesantren ini menggunakan sistem salaf dengan mempelajari karya-karya ulama yang sering disebut dengan kitab kuning. Sedangkan dari pengajarnya, dikirimkan langsung satu paket dari Pondok Lirboyo. Dan jauh dari pada itu adalah ruh jihad dari pengajar. Di Lirboyo sudah bukan hal yang jarang diketahui bahwa menjadi pengajar di sini dilatih untuk ikhlas, dalam mengabdi ditempa untuk sabar. Ruh jihad, pengabdian dengan niat mendapat ridho Allah Swt. dan para masayikh, akan mengeluarkan energi positif yang sangat baik bagi siswa yang diajarnya.

Tampak hadir dalam acara ini di antaranya KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. An’im Falahuddin Mahrus, KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar, Agus HM. Ibrahim Hafidz, Agus Zulfa Ladai Rabbi, Agus H. Syarif Hakim, KH. Sarkosi Subki, KH. Amiruddin Abdul Karim, Kyai Wawan Arwani (Rois Syuriah PCNU Cirebon), KH. Husein Muhammad, KH. Maman Imanul Haq (DPR RI).

Peresmian Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren Lirboyo V Cabang Majalengka ditandai penandatanganan prasasti oleh KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH An’im Falahudin Mahrus, dan Bupati Majalengka Dr. H. Karna Sobahi yang pada kesempatan kali tersebut diwakili oleh Bapak Kumkum SH. M.pd.[]

Baca juga: Lawatan Pimpinan Pondok ke Majalengka
Saksikan video: Program Zonasi Pondok Pesantren Lirboyo Cabang IV & V

Khutbah Jumat : Mempersiapkan Bekal Akhirat

Khutbah Jumat I

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي قَهَّرَ وَغَلَبَ. فَلَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَى وَلَا مُعْطِيَ لِمَا سَلَبَ. فَسُبحَانَهُ مِنْ إِلهٍ وَفَّقَ أَحْبَابَهُ لِمَرَاضِيهِ وَيَسَّرَ لَهُمُ الْمُسَبَّبَاتِ وَالسَّبَب. وَحَمَاهُمْ عَنْ مَسَاخِطِهِ فَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ فِيهَا إِرَادَةٌ وَلَا أَرَب. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ مَنْ تَابَ إِلَيْهِ وَهَرَب. وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا يَفُوقُ عَدَّ مَنْ عَدَّ وَحِسَابَ مَنْ حَسَب. وَأَشْهَدُ أَن لَا إِله إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَه فَارِجُ الْكُرَب. وَالمُنجِي مِنَ الْوَرْطَاتِ وَالْعَطَب. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْعَجَمِ وَالْعَرَب. المَخْصُوصُ بِالزُّلْفَى وَالتَّشْرِيفِ وَعُلُوِّ الرُّتَبِ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اقْتَفَى شَرْعَهُ المُطَهَّرَ وَإِلَى دِينِهِ الْحَنِفِيِّ انتَسَب. (أَمَّا بَعْدُ) فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى. عِبَادَ الله. مَا هذِهِ الْأَخْلَادُ وَالطُّمَأْنِينَةُ إِلَى دَارِ الْبَلَاءِ وَالفُتُون.

Hadirin jama’ah Jumat rohimakumulloh…

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan selalu menjalankan perintah-perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Jama’ah jumat rohimakumulloh…

Apakah kita masih merasa tenang dan santai dengan kehidupan dunia yang penuh dengan cobaan dan fitnah? Tidakkah kita bisa merasakan bahwa kita semakin lama semakin dekat dengan alam akhirat dan semakin jauh dari alam dunia? Apakah cerita umat-umat terdahulu tidak menjadikan kita sadar? Cerita dari hal-hal yang pernah terjadi, semua itu sudah lewat serasa mimpi ketika kita tertidur. Semua hal yang dilakukan telah dicatat dalam buku catatan amal. Selanjutnya dia akan dikembalikan kepada Allah Swt. untuk menerima konsekuensi dari apa yang telah ia lakukan.

Allah Swt. berfirman:

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ ۚ وَرُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ۖ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Artinya: “Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan.

Jama’ah Jumat yang berbahagia…

Perlu kita ketahui bahwa dalam cerita umat-umat terdahulu mengandung pelajaran untuk kita semua, apabila kita mau menjadikannya sebagai bahan renungan. Perlu kita ingat bahwa semakin hari kiamat semakin dekat, akan tetapi mengapa kita masih sering tenggelam dalam perilaku maksiat? Apabila kita masih seperti itu, maka amal apa yang akan kita bawa saat menghadap Allah Swt. di akhirat kelak? Kehidupan seperti apa yang kita inginkan di akhirat nanti?

Waktu penghitungan amal semakin dekat, akan tetapi apakah masih banyak di antara kita yang tidak memperhatikannya?

Allah Swt. berfirman:

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ

 Artinya: “Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat).

Hadirin rohimakumulloh….

Sebenarnya kita semua akan dikumpulkan bersama orang-orang terdahulu hingga orang yang paling akhir. Kita akan dihitung dan ditanya mengenai amal-amal yang telah kita kerjakan, baik amal yang ringan maupun yang berat. Lalu kita akan dimasukan ke surga yang penuh dengan kenikmatan atau dimasukkan ke neraka yang penuh dengan siksaan. Maka dari itu, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. serta mengoreksi diri kita masing-masing sebelum kita menghadap kehadirat Allah Swt.

Amirul Mu’minin Umar bin Khotob r.a. berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوهَا قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَأَهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ عَلَى اللهِ يَومَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا يَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَة.

Artinya: “Koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi. Timbanglah (amal) kalian sebelum amal kalian ditimbang. Dan persiapkanlah bekal untuk pertemuan akbar (besar). Hari di mana akan ditampakkan semua dari kalian dan tidak ada yang tersembunyi.”

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيم. فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. إِنَّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيم.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ.

فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ.

اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ       وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Baca juga:
KHUTBAH JUMAT: PERJUANGAN UMAT

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# Khutbah Jumat # Khutbah Jumat

Tahfidz Sebagai Kontributif Pemahaman

Tahfidz Sebagai Kontributif Pemahaman

Menghafal sudah menjadi budaya kaum Salafussholih. Menghafal bukan metode pembelajaran yang menyandera akal dan harus paten akan ketetapan itu. Menghafal menjadikan performa gairah kita dalam belajar lebih giat. Membuat kita berusaha untuk men-takror (mengulang-ulang) dalam memuthola’ah, sehingga kita bisa dengan cepat memahami kandungan isi yang sedang kita pelajari.

Salah satu kriteria yang paling utama untuk dihafalkan adalah matan. Sebab, matan merupakan pijakan pertama sebelum kita memperlebar pembahasan. Di dalamnya menggagas susunan pokok pembahasan fan ilmu yang dirangkai seringkas mungkin untuk memudahkan pemahaman. Ia bagaikan pondasi—yang kegunaannya, menopang cabangan-cabangan ilmu lain. Ulama berpendapat dalam Kitab Kaifa Tuhfadzul al-Ilmu:

من حفظ المتون حاز الفنون

“Barang siapa yang menghafal beberapa matan, maka ia akan mendapatkan berbagai macam fan”. (at-Thorfaawi, tt)

Tidak hanya sebatas satu matan saja. Sebab, cabangan ilmu banyak variasinya. Alangkah eloknya jika kita dapat menghafalkan setiap matan dari beragam ilmu yang dianggap penting. Seperti matan aqidah, nahwu shorof—sebagai acuan awal untuk mengetahui nuktah yang berada dalam penulisan berbahasa Arab, matan fiqh, ushul fiqh, qiro’ah dan tajwid, mustolahul hadist, ulumul qur’an dan masih banyak lagi.

Namun, menghafal beberapa matan saja bukan berarti kita menguasai seluruh rangkaian ilmu. Dalam Fatawi As-Subkati al-Islamiyyah dijelaskan: “Menghafal beberapa matan saja tidak cukup bagi seorang pencari ilmu. Diperlukan juga pemahaman dan melihat kembali syarahnya. Karena, banyak kita lihat paraحافظ للمتون  (Penghafal Matan) tetapi tidak mengetahui apa yang terkandung dalam matan tersebut”.

Rasulullah  صلى الله عليه وسلم menyinggung perihal ini:

وقد قال صلى الله عليه وسلم: فرب حامل فقه ليس بفقيه.

“Terkadang orang yang menghafal ilmu fiqih, tidak bisa dinisbatkan sebagai seorang Faqih (Ahli Fiqih)”. (al-Islamiyah, tt)

Hafal dan faham beberapa jenis matan, akan mampu istihdhorul hukmi fi ayyi waktin (menghadirkan hukum setiap saat). Ketika kita ditanya oleh orang lain—di mana pun berada, kita tidak harus bingung membuka kitab atau mencari referensi sebagai argument jawaban kita. Kita bisa langsung menjawabnya dengan tepat tanpa menyimpang dari jalur qoidah yang telah ditetapkan.

Tempat Bersemayamnya Ilmu

Abi Hilal al-‘Askari mengutarakan;

كل علم لا يدخل مع صاحبه الحمّام, فلا تعّده علما

“Setiap ilmu yang tidak bisa masuk bersama pemiliknya ke dalam tempat pemandian, maka tidak dianggap sebagai ilmu”. (al-‘Askari, tt)

Mualif menghendaki penuturannya, bahwa bisa dikatakan berilmu ketika ilmu tersebut bersemayam di dalam hati, yakni ilmu-ilmu yang dihafalkan. Kita bisa membawanya ke mana-mana tanpa takut ada yang melarangnya, walaupun di tempat yang dianggap kotor—kamar mandi, misalnya. Sebab, kita tidak diperbolehkan memasuki khammam (tempat pemandian) dengan membawa buku.

Pengetahuan yang kita tulis di dalam buku, tidak bisa dianggap sebagai ilmu. Buku hanya sebatas alat penambat tulisan, untuk bisa kita tinjau kembali ketika kita menginginkannya.

Pendapat ini, serupa dengan kisah Sahabat Abdullah bin Mas’ud ra. ketika beliau mengajarkan hadist. Muridnya, tidak diperkenankan untuk menuliskan perkataannya di buku catatan. Namun seketika itu diharuskan untuk menghafalkannya.

خذوا من حيث أخذنا، واحفظوا كما حفظنا، فإنما العلم في الصدور لا في السطور

“Ambillah sesuatu yang saya peroleh dan hafalkan sebagaimana saya menghafal, karena ilmu, bertempat di dalam hati bukan di tempatmu menulis (buku)”. (az-Zuhairi, tt)

Tahfidz sebagai kontributif pemahaman

Baca juga: Kompetisi Perspektif Ulama Salaf
Tonton juga: Buah Keikhlasan dalam Mendidik | KH. M. Anwar Manshur

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah