Tentang Negara Syinqith

Fakta menarik tentang al-qur’an yang tidak kita sadari bahwasanya al-qur’an merupakan salah satu kitab suci yang di hafal oleh jutaan manusia di dunia. Sejak awal diturunkannya—lima belas abad yang lalu—hingga detik ini, para penghafal al-qur’an tidak akan pernah ada habisnya.

                Meski begitu, menghafal al-quran bukanlah perkara mudah. Belum nanti ketika sudah mendapatkan 30 juz, bisa dipastikan akan lebih sulit lagi dalam menjaganya agar hafalan tersebut tidak hilang dari memori.

Salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori mengatakan: “Jagalah al-quran, karena demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Al-quran itu sangat mudah lepas dibanding seekor unta lepas dari kandangnya.” (H.R al-Bukhari)

                Karena sulitnya menghafal itulah, Nabi Muhammad SAW mengapresiasi umat muslim yang belajar dan mengajarkan al-quran kepada orang lain.

                “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan al-Quran.” (H.R Bukhori).

                Di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim, menghafal al-quran telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. 12,3 juta atau sekitar 18,5 persen dari total 67 juta jiwa penduduk mesir adalah hafidz al-qur’an. 7 juta jiwa penduduk Pakistan adalah hafidz al-qur’an. 1juta jiwa atau sekitar 20 persen penduduk libya adalah hafidz al-qur’an.

                Namun, dari sekian banyaknya negara di dunia ini, ada sebuah negara di benua Afrika yang memiliki tradisi menghafal al-qur’an yang luar biasa. Sebut saja negara syinqith atau yang lebih kita kenal dengan meuritania.

                Negara syinqith dihuni oleh penduduk yang mayoritas berasal dari suku-suku arab dimana kebanyakan dari mereka bernasab kepada Sayyid Hasan dan Husein, yang merupakan putra dari Sayyid Ali bin Bi Thalib. Sebagian yang lain bernasab kepada sahabat Anshar. Sisanya bernasab kepada Humair.

                Sebagai negara yang memiliki tradisi menghafal al-quran terbaik di dunia, Syinqith sangat dihormati dan disegani oleh tokoh agama dari belahan dunia manapun. Selain karena kekayaan ilmu yang dimilki oleh negara Syinqith, juga system pendidikan di sana yang dikenal luar biasa dalam melahirkan para ulama yang diakui kredibilitas keilmuannya, terutama dalam kaitannya dengan al-qur’an.

                Dalam salah satu hikayah diceritakan bahwasannya, jika terdapat anak kecil yang masih berumur 7 tahun dan belum hafal al-quran, akan menjadikan orang tua mereka malu sebab merasa gagal dalam mendidik anaknya.

                Selain itu, ada cerita unik lagi tentang bagaimana cara orang tua mereka mengasihi dan menyayangi anaknya sewaktu masih dalam kandungan.

Baca juga: Hukum Khataman Al-Qur’an Online

                Dikisahkan bahwa ketika ada seorang ibu yang sedang hamil, sang ibu tersebut tidak akan membuang-buang waktunya hanya untuk tidur saja. Akan tetapi, sang ibu akan mengahabiskan waktu ketika hamil tersebut dengan muroja’ah hafalannya hingga merasa lelah dan letih.

                Bukan hanya itu saja, Ketika bayi sudah lahir, satu keluaraga akan bersama-sama mengulang-ulang hafalannya. Dilanjut nanti ketika sudah mulai bisa membaca al-quran dan mampu menghafalnya, ia kan muroja’ah langsung di depan orang tuanya.

                Apa yang terjadi di negara syinqith bukanlah suatu kebetulan belaka. Banyak faktor yang mendukungnya hingga menjadikan negara mereka menajdi salah satu negara terbaik dalam menghafal al-quran. Selain karena faktor orang tua, factor lingkungan dan factor tradisi yang diteruskanoleh para leluhur juga sangat membantu mereka.

                Dengan adanya tradisi menghafal yang sudah mendarah daging di hati para penduduk Syinqith, sudah sepantasnya bagi kita untuk meniru dan berkiblat pada mereka. Allah SWT sangat memuliakan para penghafal al-quran. Bahkan, Allah SWT akan meninggikan drajat suatu kaum karena kaum tersebut menjaga al-quran mereka dengan baik. Entah itu dari menghafal, membaca, atau men-tadabburi setiap makna yang terkandung di dalam al-quran. Dan allah SWT akan merendahkan derajat kaum yang menganggap al-quran itu perkara yang sepele, perkara yang rendah karena malas atau bahkan tidak mau menghafal, membaca, ataupun men-tadabburi setiap petikan ayat yang tertera dalam al-quran.

                “Sungguh Allah SWT meninggikan derajat sebagian kaum dengan al-Quran dan merendahkan derajat kaum yang lain dengannya.” (H.R Muslim).[]

Penulis: Hasan al-Kafrowi

Simak juga: Buah Keikhlasan dalam Mendidik | KH. M. Anwar Manshur

Tentang Ali Bin Hamzah cahaya dari kuffah

“Kuffah menjadi bercahaya disebabkan adanya tiga ulama besar. Ketiga ulama ini membuat nama kota Kuffah semerbak harum, laksana minyak kesturi dan bunga anyelir.“

Beliau bernama lengkap Ali bin Hamzah bin Abdulloh bin Utsman bin Bahman bin Fairuz. Beliau lahir di kota Kuffah pada tahun 120 H. Namun, dikemudian hari beliau hijrah dan menetap di kota Baghdad. Dari segi silsilah, beliau merupakan keturunan bangsa Persia, yang menetap di As-sawad, Iraq.

Qira’ah Al-Kisa’i bersumber dari qira’ah yang beliau kumpulkan dari berbagai macam qira’ah, baik qira’ah Hamzah maupun qira’ah guru-gurunya yang lain. Beliau memadukan qira’ah-qira’ah itu dengan cara memilah dan memilih secara teliti dan cermat. Tak mengherankan, jika kemudian banyak yang mengganggap qira’ah beliau adalah salah satu qira’ah yang paling indah diantara yang lain.

Ada sebuah kisah mengapa nama “Ali” beliau tak terungkap, sehingga beliau lebih dikenal dengan nama Al-Kisa’i. Suatau hari, Ali menunaikan ibadah ihram. Orang-orang yang memandang beliau dengan heran–karena beliau menganakan pakaian ihram yang tak lazim. Ketika orang-orang memakai kain putih kasar, beliau justru memakai kain wol (al-kasa’i).  Maka sejak itulah orang-orang mengenal beliau dengan julukan “al-kisa’i.”

Beliau adalah pakar intelektual terkemuka dimasa Dinasti Abbasiyyah. Beliau juga adalah imam besar dari ulama nahwu dan qira’ah. Kalam-kalam beliau, menjadi rujukan utama masyarakat Kuffah di abad ke-2 Hijriyyah.

Bukan hanya masyarakat Kuffah saja, penduduk Baghdad pun ikut serta mengambil sanad Al-Qur’an pada beliau. Mereka membaca Al-Qur’an kepada beliau secara runtut. Bahkan meniru bacaan beliau sampai pada potongan-potongan ayat dimana beliau waqof dan ibtida’ dalam membaca Al-Qur’an.

Beliau mengambil sanad Al-Qur’an dari beberapa pembesar tabi’inpada masa itu. Diantaranya adalah al-Amasy Sulaiman bin Mihran, ‘Ashim bin Abi Najud, Hamzah bin Hubaib az-Zayyati, Muhammad bin Sahl, Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, ‘Isa bin ‘Umar al-Hamdani, Ya’qub bin Ja’far bin Abi Katsir, Abu Bakar Syu’bah bin ‘Iyash dan masih banyak lagi.

Selain mengambil sanad Al-Qur’an, beliau juga mengambil sanad hadist dari pembesar tabi’in dizamannya. Mereka adalah Sulaiman bin Arqom, as-Sayyid Ja’far ash-Shidiq, Sufyan bin ‘Uyaynah, Muhammad bin ‘Ubaidillah al-Arzami dan bebrapa guru lainnya. Beliau termasuk perawi hadist yang berkualitas tsiqqoh, meskipun hadis-hadis yang beliau riwayatkan berderajat ‘aziz.

Dalam perjalanan beliau mencari ilmu untuk menyelesaikan sanad Al-Qurannya, beliau berguru kepada Hamzah dikota Kuffah. Setelah, beliau mencari kedalaman ilmu nahwu ke kota Bashroh, tempat sang maha guru nahwu, Khalil bin Ahmad al-Farahidi tinggal.

Setelah bertahun-tahun menimba ilmu kepada Kholil, beliau melanjutkan rihlah ta’alumnya ke berbagai daerah pedalaman Arab Badui. Tibalah beliau didaerah Najd dan Tihamah, daerah yang sempurna untuk meneliti Bahasa arab murni. Disana beliau mencatat berbagai kosakata Arab yang jarang dipergunakan pada umumnya.

Baca juga: Doa Penghapus Siksa.

Setelah begitu lama hidup dalam pengembaraan, beliau akhirnya menetap di kota Baghdad. Tumpukan ilmu pengetahuan selama mengembara menjadikan beliau sebagai pakar gramatika Arab disana. Selain itu, beliau juga menjadi penasehat kerjaaan di era kepemimpinan Harun ar-Rasyid.

Selama menjadi penasehat kerajaan, beliau juga mendapat tugas dari sang khalifah, pangeran al-Amin. Semenjak itulah beliau menjelma sebagai pemimpin utama, yang juga menjadi penentu utama arah kebijakan dinasti Abbasiyyah di zamannya.

Di tengah-tengah kesibukannya, beliau banyak menulis berbagai kitab yang sangat berpengaruh. Baik dalam ilmu Al-Qur’an, ilmu nahwu, dan lain sebagainya. Beberapa kitab beliau yang masyhur antara lain; Ma’anill Qur’an al-Mutasyabih fil Qur’an, Maqtu’ul Qura’an, al-Mukhtashar fi Nahwi, Mayalhanu fihil Awam, an-Nawadhiril Kabir wal Ausat wa Shagir, al-Mashadir, al-Huruf, al-Qira’at, al-Adad, al-Hija’, al-Ha’at, dan masih banyak lagi.

Simak juga: Puncaknya Ilmu | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Namun, kala terjadi penyerangan tentara Mongol ke kota Bahgdad, banyak karya beliau yang tersimpan di berbagai perpustakaan kota Bahgdad ataupun yang tersimpan di pusat literasi, yang kala itu bernama Bait al-Hikmah hangus terbakar.

Beliau wafat pada tahun 189 H. pada usia 70 tahun. Beliau wafat dalam perjalanan bersama Khalifah Harun ar-Rasyid menuju daerah Khurasan. Tepatnya ketika sampai disebuah dataran yang bernama Ranbawaih, sebuah daerah diprovinsi Rai.

Hari wafat beliau bertepatan dengan wafatnya salah satu murid Abu Hanifah, yang bernama Syaikh Abu Abdulloh Muhammad bin al-Hasan Asy Syaibani diprovinsi yang sama. Dalam hari yang dipenuhi denan  berkabungnya umat islam ini, Khalifah Harun ar-Rasyid berkata “Sungguh pada hari ini, kita memakamkan tokoh besar nahwu dan fiqih diprovinsi Rai”.

Menjelang hari kewafatan beliau, murid beliau sempat menjenguk dan mendengar beliau mendendangkan sya’ir:

قدر احلك ذا النخيل وقد ارى * وابي ومالك ذو النخيل بدار
            الا كداركم بذي بقر اللوى * هيهات داركم من المزوار

“Tatkala manisnya hidup yang engkau inginkan. Duhai pemilik pohon kurma, sungguh engkau telah melihatnya. Demi ayahku, kini engkau tak memiliki rumah untuk singgah. Duhai pemilik pohon kurma. Kecuali hanya seperti rumahmu diperkampungan Liwa. Perkampungan yang memiliki banyak sapi. Sungguh jauh sekali, rumah kalian semua dari layaknya untuk diziarahi”.

Beliau juga memberi murid-muridnya sebuah petuah: “Jagalah lisanmu, janganlah engkau mengatakan perkara yang menyebabkanmu celaka. Sesungguhnya marabahaya selalu mengintai dari ujung perkataan.”[]

Penulis: Nugroho Nizar Ilman Yasit

Zakat Manifestasi Islam

Pembatasan sosial bersekala besar membuat kita tidak bisa bergerak bebas dalam beraktifitas. Pandemi Covid-19 menjadi pemicu, menggerus tatanan ekonomi di segala sektor. Para pengusaha banyak yang gulung tikar, sebab pemasukan tidak memadahi dengan modal yang telah dikeluarkan. Kebanyakan dari mereka terpaksa memberhentikan kontrak kerja kepada buruh, agar pemasukan dan pengeluaran dapat berjalan seimbang.

Data yang dikumpulkan oleh KOMPAS.com mewartakan sebanyak 1,7 juta pekerja terkena pemutusan kerja (PHK) atau dirumahkan. Pengangguran menyeruak. Untuk mencari pekerjaan lain—dalam masa pandemi ini—mereka sangat kesulitan. Grafik kemiskinan naik signifikan. Permasalahan ini sangat perlu untuk direspon sesegera mungkin. Sebab, jika berlarut-larut, aksi kekerasan akan terjadi di mana-mana. Ulah pencurian, penjarahan, dan bentuk anarkis lainnya akan marak.

Perputaran ekonomi menjadi permasalahan yang paling substansial untuk direnungkan. Sebab ekonomi menjadi kebutuhan primer yang tidak akan lepas dalam kehidupan manusia. Keprihatinan dan kepekaan, rasa solidaritas, tolong-menolong kepada orang yang membutuhkan bantuan, harus menjadi tindakan nyata.

Dalam Islam, segala aspek tatanan sosial telah didesain dengan apik. Hal ini membuktikan bahwa perhatian Islam terhadap kemakmuran umatnya adalah prioritas terdepan. Penanggulangan kemiskinan bisa kita atasi dengan penyaluran zakat yang merata.

Syaikh Muhammad asy-Syathiri dalam Syrah Yaqut an-Nafis mengungkapkan bahwa zakat adalah roda perputaran ekonomi yang luar biasa besarnya dan bisa mengentaskan kemiskinan secara nyata jika diaplikasikan sesuai dengan prosedur yang benar. (Asy-Syathiri, tt)

Menjabarkan perihal hikmah zakat, Imam ar-Razi berasumsi;

أن الأغنياء لو لم يقوموا بصلاح مهمات الفقراء فربما حملهم شدة الحاجة ومضرة المسكنة على الالتحاق بأعداء المسلمين ،او على الاقدام على الأفعال المنكرة كالسرقة وغيرها فكان ايجاب الزكاة يفيد هذه الفائدة

Jika orang kaya tidak menunjang kebutuhan primer orang faqir, boleh jadi kebutuhan yang sangat mendesak, dan kemlaratan yang teramat sangat, dapat mendorong mereka bergabung bersama musuh-musuh Islam atau mereka nekat melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri dan lain sebagainya. Dengan alasan ini maka diwajibkan zakat bagi orang-orang kaya.” (Ar-Razi, tt)

Mengambil i’tibar dari ibarat di atas, tidak hanya aksi kriminal saja yang akan terjadi ketika krisis moneter berkepanjangan, respon murtad, bahkan aksi terorisme akan sangat mudah kita temui. Maka pembayaran zakat dari orang kaya menjadi tumpuan yang sangat berarti atas kelangsungan hidup bagi orang-orang fakir, di samping kewajiban yang telah dibebankan kepada setiap personal yang memenuhi syarat pembayaran zakat.

Mendermakan Zakat Kepada Non Muslim

Menjadi permasalahan baru, ketika pandemi mewabah. Melambatnya perekonomian global disertai ketidakpastiannya, akan sangat berpengaruh pada ekonomi di dalam negeri. Dampak kerugian menyeluruh di segala sendi. Banyak orang yang mengalami kemudaratan akibat kasus ini.  Mereka yang mengalami cobaan, kesialan, kesusahan, sangat mengharapkan uluran tangan.

Krisis ini menjadi kasus hangat untuk menanggapi permasalahan yang terjadi dalam tubuh Baznas (Badan Zakat Nasional). Menukil Surat Keputusan (SK) Ketua Baznas Nomor 64 Tahun 2019 tentang Pedoman Pelaksanaan Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat, tertulis, di antara asnaf fakir adalah korban bencana alam dan bencana sosial, maka meliputi orang beragama Islam dan non Muslim. (Amanda & Permana, 2020) Yang menjadi problem adalah, dapatkah penyaluran zakat diberikan kepada non Muslim?

Sebagai instrument yang masuk dalam salah satu rukun Islam, tentu saja, zakat memiliki aturan mengikat dalam fan ilmu fikihnya. Berdasarkan surat At-Taubah ayat 60, yang berhak menerima manfaat zakat adalah delapan asnaf yang sudah kita ketahui. Tetapi respon cepat mengambil jalan tengah dalam mencari solusi, adalah tanggapan paling bijak supaya tidak terjadi kesenjangan yang berkelanjutan.

Pendapat yang digunakan mayoritas ulama, dalam pemberian zakat kepada non Muslim tidak bisa dilegalkan dalam syariat Islam. Namun, Imam Abu Hanifah, Muhammad, dan ulama yang lain, memberikan celah bahwa zakat dapat ditasarufkan kepada ahli dzimmi (non Muslim yang berakad damai). Ulama yang melegalkan pemberian zakat kepada non Muslim, berlandaskan keumuman ayat 271 dari surat Al-Baqarah. (Al-Qordhowi, tt)

إن تبدوا الصدقات فنعما هي، وإن تخفوها وتؤتوها الفقراء فهو خير لكم، ويكفر عنكم من سيئاتكم (البقرة: 271).

“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang faqir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian dari kesalahan-kesalahanmu.” (Al-Baqarah: 271)

Pendapat ini bisa jadi sangat mencengangkan, dan tidak bisa diterima oleh mayoritas orang Islam. Apalagi dalam nuansa akhir-akhir ini dengan sensitifitas agama yang semakin hari tambah memanas. Anggapan ini bukan hal yang baru, bahwa sejak dulu, memang pendapat ini dianggap bertentangan dengan ijma’ (konsensus seluruh ulama). Tetapi, dakwaan ijma’ yang dilontarkan banyak ulama tentang ketidakbolehan memberikan zakat kepada non Muslim juga tidak sah. Ketidaksahan dakwaan ijma’ dilatarbelakangi sokongan pendapat yang sama dengan Abu Hanifah dari beberapa Mujtahid lain, seperti; Ibnu Sirrin dan az-Zuhri. (An-Nawawi, tt)

Sementara dalam perspektif Yusuf al-Qordhowi, memperbolehkan memberikan zakat kepada ahli Dzimmi, jika harta zakat mencukupi dan tidak membahayakan untuk orang fakir yang Muslim. (Al-Qordhowi, Fiqih Zakat, tt)

Pemberian zakat kepada non Muslim, hanya merupakan opsi ketika tidak menemukan—belum memastikan tidak ada—orang muslim yang berhak menerima zakat. Pendapat ini seperti yang dipaparkan oleh Syekh al-Jassos.  (Al-Jassos, tt)

Sedang daripada itu, yang perlu diingat adalah, pendapat ulama yang menyatakan bahwa tidak boleh memberikan zakat kepada kafir, bukan berarti membiarkan mereka dalam keadaan miskin dan terlunta-lunta. Mereka berhak untuk disantuni, diberikan tunjangan dari kas negara; seperti pendapatan dari pajak, dan hal ini sesuai yang diimplementasikan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Bahkan, beliau melakukan hal tersebut, tanpa harus menunggu permintaan dari orang non Muslim. (Al-Qordhawi , tt)

Perluasan Sektoral Zakat

Di masa pandemi dengan grafik kemiskinan yang makin meningkat, secara otomatis, untuk mengentaskan kemiskinan juga dibutuhkan dana yang besar. Problem ini, dapat kita carikan solusi melalui perluasan sektoral zakat.

Menurut Wahbah az-Zuhaily, jika tidak mencukupi kebutuhan orang-orang yang berhak mendapatkan zakat dari harta-harta yang wajib dizakati menurut pandangan konvensional (tanaman, buah-buahan, hewan ternak, dagangan, emas dan perak), maka untuk menambah kas zakat  demi menutupi kebutuhan mereka, kita dapat mengaplikasikan pendapat ulama kontemporer yang mewajibkan zakat mesin industri (temasuk bus, mobil jasa ekspedisi, pesawat, kapal tanker, kargo, pesiar dan alat-alat transportasi yang lain), uang (seperti brusa saham, surat obligasi atau surat berharga), pekerja tetap atau karyawan, dan pekerja lepas atau serabutan (wirausaha), perumahan atau apartemen, dan tempat-tempat yang disewakan (hotel dan wisma). (Az-Zuhaily, tt)

Dan maklum kita ketahui, bahwa pendapatan dari sektoral tersebut lebih banyak dan jauh dari hasil pendapatan tani, dan segala bidang yang wajib dizakati menurut konvensional. Maka sangat realistis dan mau tidak mau harus diterapkan kewajiban zakat sektor di atas.

Gerakan Aksi

Hari ini kita menyaksikan kemiskinan masih menjadi polemik utama kaum Muslimin. Padahal masyarakat Muslim adalah mayoritas di dunia ini. Hal ini disebabkan tidak adanya gerakan sosial ekonomi yang diterapkan dalam lingkup bermasyarakat. Padahal, Rasulullah Saw. bersabda:

لا يقبل إيمان بلا عمل ولا عمل بلا إيمان

“Iman tidak bisa diterima dengan tanpa amal (aksi nyata). Begitupun amal tidak diterima tanpa iman.” (HR. At-Thabroni)

Maka untuk menjadi Muslim yang baik, bukan sekedar pengunaan aksesoris saja (seperti gamis, dan cadar), atau diskusi-diskusi keislaman yang melelahkan, tetapi harus disertai aksi nyata berupa kepedulian sosial kepada sesama. Tanpa itu, Islam hanya terlihat nyata di panggung mimbar khotbah, dan tidak pernah terasa dalam kehidupan kita.

Jika menginginkan tatanan dunia yang baik, selayaknya ada prinsip saling tolong menolong, membantu orang yang mengalami kesulitan, dan peka dengan keadaan orang disekitar. Dengannya, kesalehan sosial dalam Islam akan tampak mewarnai hidup seluruh orang. Melaluinya, nafas Islam menjadi apa yang diharapkan Nabi Muhammad Saw. bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

Zakat menjadi bukti validitas dalam menjalin keintiman dan belas kasih di antara sesama. Ia juga dapat memotong aksi kejahatan yang dipicu akibat kemiskinan. Jika zakat dapat direalisasikan dengan tepat, diharapkan kesenjangan sosial akan hilang. Keamanan dan kemakmuran akan dapat kita raih. Sikap moral kepada sesama juga akan terbentuk dengan manis.[]

Penulis: : Nur Muhammad Alfatih

Baca juga: Ringkasan Fikih Zakat Fitrah.

Simak juga: Renungan mengisi bulan Ramadhan oleh KH. M. Anwar Manshur

Cerpen: Purnama Tanpa Bintang

Malam kian dingin. Bintang-gemintang menghilang satu-satu. Kabut mulai menyelimuti pedukuhan kecil itu. Rumah anyaman bambu di ujung dukuh begitu lenggang. Suara malam bersahutan riuh dengan ku-ku­ burung hantu dari rumpun bambu di belakang rumah.

            Sarindi terbangun. Titik-titik keringat di dahinya satu-dua mulai meleleh. Wajah ayunya pucat dengan pandangan nanar. Baru satu jam dia terlelap, namun mimpi-mimpi itu hadir lagi. Desahan napas tertahan bercampur tetesan peluh dalam dinginnya udara malam, mengiringi gerakan ritmis dua insan yang coba menggapai nirwana. Sarindi begidik! Mengingatnya membuat tubuh dengan perut yang mulai membuncit itu bergetar. Dipeluknya tubuh berbalut daster itu. Begitu erat! Mencengkeramnya, berharap tubuh hina itu remuk tak bersisa. Dan air matanya pun ikut membanjir, menggigil, meraung dalam tangisan pilu tanpa suara. Satu lagi, malam-malam yang dia lalui dengan sejuta sesal.

            Keesokan harinya Sarindi berjalan ke rumah Sang Sesepuh di dampingi ibunya. Wajahnya begitu tenang meski kantung mata menggantung disana. Dia berjalan selangkah demi selangkah dengan seribu keyakinan yang tak tergoyahkan.

            Sutri memucat, gemetar menggandeng erat tangan anak semata wayangnya. Seolah dia tengah digiring ke tiang gantungan. Berkali-kali dia membujuk anaknya itu semenjak subuh-subuh tadi saat mengutarakan keputusannya. Namun sedikit pun anaknya tak goyah. Saat dia terpukul akan nasib anaknya dengan linangan air mata, suaminya hanya terdiam mendengar keputusan itu dan memutuskan pergi ke sawah lebih pagi tanpa sepatah kata.

            “Tidakkah kita pulang saja, Sarindi?”

            Sarindi tak menjawab. Langkah kakinya kian mantap. Lagi-lagi Sutri mengusap matanya yang sudah teramat sembab. Malu, marah, luka, sedih, kehilangan, semuanya campur aduk jadi satu. Masalah ini begitu membingungkan. Mau bagaimana lagi? Saat takdir sudah menggariskan seorang janda muda yang ditinggal mati suaminya yang mandul, tergoda janji-janji busuk pemuda tampan dukuh sebelah yang entah dimana sekarang dia berada!

            Sang Sesepuh di dalam kamar saat Drapto, salah seorang muridnya, mengetuk pintu kamar. Dengan langkah yang termakan usia, Sang Sesepuh menemui Sarindi dan Sutri yang tengah bersimpu di atas tikar pandan di ruang depan.

            “Sepagi ini, ada maksud apa kalian kemari?” tanya Sang Sesepuh dengan lantang setelah duduk bersila di depan mereka. Hati Sang Sesepuh amat janggal. Perasaan aneh tiba-tiba menerkamnya.

            Sarindi angkat bicara. Dengan begitu gamblang dia mengakui semua yang telah diperbuatnya pada Sang Sesepuh.

            Sang Sesepuh diam sejenak setelah mendengar penjelasan Sarindi, “Apa kau yakin?” Harusnya Sang Sesepuh tak perlu lagi bertanya. Dari tatapan mata Sarindi, caranya bertutur dan ketenangan yang menyelimutinya, dia tahu perempuan itu lebih dari sekedar yakin. Dia benar-benar siap.

            “Hari ini aku telah datang ke rumahmu, maka biarlah aku menjalani apa yang memang harus aku jalani!” ucap Sarindi mantap. Sutri hanya menunduk di sebelah Sarindi.

            “Baikllah! Sutri, jaga anakmu baik-baik. Saat waktunya tiba, bawalah dia kemari. Dan sekarang, pulanglah!”

            Sutri mengangangguk murung. Hari itu takdir telah mencatatnya untuk berjumpa dengan sebuah perpisahan.

            Waktu terus berlalu seiring dengan perut Sarindi yang makin membesar. Kabar itu sudah mulai menyebar. Sutri jadi jarang keluar rumah, tak tahan mendengar cemooh dan pertanyaan-pertanyaan menohok yang menusuk telinga. Sedangkan suami Sutri kini benar-benar menutup mata, telinga dan hatinya. Dia berangkat ke sawah tiap subuh dan pulang saat petang menjelang, seolah tak pernah terjadi apapun.

            Sarindi hanya berdiam di dalam rumah. Sesekali duduk-duduk di teras depan rumah. Hari-hari terasa amat lamban. Tiap detik yang berlalu membuat jantungnya berdetak lincah. Dia sudah tidak sabar lagi menunggu hari yang dinanti-nanti.

Malam itu tepat ketika bulan purnama bersinar terang bagai raja diatas singga sana. Dibantu Sutri, susah payah Sarindi melahirkan putranya. Dengan keringat yang masih menetes, Sarindi mencium bayi mungil yang dibaringkan di sampingnya.

            “Anak kamu ganteng, Sari!”

            Sarindi tersenyum. “Iya, bu. Beri nama dia “purnama”, bu! Karena dia begitu tampan, indah seperti bulan purnama!”

            Genap empat puluh hari setelah kehadiran Purnama, akhirnya Sutri akan benar-benar kehilangan dalam hidupnya. Suratan takdir benar-benar akan terjadi. Subuh-subuh dia melihat Sarindi memeluk erat Purnama dalam gendongannya. Sutri tahu, itu adalah hari terakhir Purnama bertemu ibunya, juga hari terakhir Sutri melihat wajah ayu anaknya.

            Pagi itu Sarindi sungkem pada kedua orang tuanya, mengutarakan seribu kata maaf dengan cucuran air mata. Setelah sekali lagi mencium putranya Sarindi benar-benar tak sabar lagi. Dengan tangan yang diikat menggunkan lengan bajunya, dia berjalan menyusuri jalanan pedukuhan diiringi kedua orang tuanya. Penduduk yang melihatnya langsung ikut mengiring Sarindi. Mereka tahu, ini adalah harinya, upacara adat akan segera dilaksanakan. Sebagian menggunjing, sebagian ikut berduka.

            Dengan iringan penduduk yang makin banyak, Sarindi sampai di rumah Sang Sesepuh. Mendengar keramaian, Sang Sesepuh keluar rumah. Kepada Drapto, Sang Sesepuh menyuruh untuk mengarak Sarindi ke lapangan dan menggali lubang sedalam dada disana. Tak perlu dua kali, Drapto segera menjalankan perintah.

            Pukul sembilan pagi. Seluruh penduduk berkumpul di lapangan, meninggalkan semua aktifitas untuk sebuah upacara adat. Di tengah lapangan Sarindi telah dikubur sebatas dada. Sang Sesepuh membuka upacara adat itu, penduduk berkerumun memutari Sarindi dengan jarak yang telah ditentukan, membawa bongkahan-bongkahan batu sekepalan tangan. Dan saat Sang Sesepuh memberi aba-aba, penduduk mulai melempari Sarindi dengan batu!

            Sutri menjerit, melengking tinggi ditengah keramaian, meronta-ronta dalam pelukan suaminya. Hatinya remuk melihat nasib anak semata wayangnya.

            Di sela jerit tangis Sutri dan gemuruh lemparan batu penduduk, Sarindi menunduk, begitu takzim merasai setiap jengkal rasa. Tanpa ada seorang pun yang tahu, Sarindi tersenyum begitu indah. Senyuman paling indah dalam hidupnya. Dia begitu bahagia. Akhirnya, hari yang dinanti-nanti telah tiba! Semerbak wewangian bunga menyusup kedalam hidungnya. Matanya menangkap cahaya putih yang menyilaukan. Sarindi menangis, sebuah senyuman dengan tangisan bahagia. Hari ini, dia benar-benar akan kembali, menginggalkan jeritan ibunya yang samar-samar menghilang dan bayangan sosok Purnama yang kian memudar.

            Malam harinya Sutri memeluk Purnama yang terlelap di pangkuannya. Menatap kosong jalanan gelap. Sesekali matanya basah, meratapi perpisahannya dengan Sarindi.

            Angin berhembus kian dingin membawa kabut malam. Langit tampak indah berhiaskan purnama. Namun, malam ini tak satu pun bintang-gemintang terlihat. Hanya purnama sendiri di atas sana yang bersinar. Sendirian. Dia benar-benar telah kehilangan bintang-gemintangnya![]

Penulis: San Bashori (Penulis adalah santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri sejak 2015 hingga sekarang).

Baca juga: Nasehat Hidup dalam Ilmu Nahwu.

Simak juga: Hakikat Ulama ; KH. Aziz Manshur

Adilnya Kaisar China yang Tuli

Tiap penguasa membutuhkan penasehat moral. Untuk menjaga kebeningan hatinya dalam menjalankan pemerintahannya. Sebagaimana kebiasaan para raja terdahulu, mereka memanggil ulama, sufi, ahli zuhud, atau golongan semacamnya untuk memberikan nasehat moral itu. Maka pada suatu masa, seorang ahli zuhud (zahid) diundang untuk datang ke istana seorang khalifah. Ia diminta untuk memberikan asupan bagi jiwa sang raja yang tengah kering.

Sang zahid kemudian memulai nasihatnya dengan bercerita. Ia mengisahkan perjalanannya ke suatu negara jauh. Kerajaan Cina.

Ketika ia sedang mengembara di sana, sang kaisar dari kerajaan itu tertimpa musibah. Telinganya tuli. Dia tak bisa mendengar apa-apa. Sampai kemudian sang ahli zuhud ini mengetahui bahwa pada suatu malam, sang kaisar ini merintih. Dia menangis. Mengadu pada tuhannya.

“Tuhanku, demi Dirimu. Tidaklah aku menangis karena kehilangan pendengaranku. Aku menangis karena aku telah dzalim kepada rakyatku. Kepada mereka yang berhenti di depan pintuku. Mereka meminta pertolonganku, tapi aku tak mendengar permintaan mereka.” Sang kaisar mengeluh, karena ia merasa tak bisa menjalankan amanah sebagai penguasa dengan cara sebaik-baiknya.

“Tetapi aku bersyukur, masih Engkau sisakan penglihatan yang sehat untukku.”

Ia kemudian memanggil juru bicaranya. Menyuruhnya memberitahukan kepada seluruh rakyatnya, bahwa “Siapa saja yang hidupnya teraniaya, hendaklah berpakaian berwarna merah.”

Tentu saja ini sebagai upaya sang raja untuk peduli terhadap rakyatnya. Tak bisa gunakan telinga untuk mendengar, ia gunakan matanya untuk menyerap kesusahan rakyatnya. Karenanya, ia kemudian berkeliling ke penjuru negaranya. Ia menaiki gajahnya, tunggangan yang hanya digunakan pembesar kerajaan pada zaman itu. Setiap orang yang ia lihat memakai baju merah, ia memanggilnya. Menyelesaikan setiap keluhan mereka. Ia ingin memastikan keadilan ditegakkan di depan matanya dari setiap perselisihan di antara rakyatnya.

“Lihatlah wahai Amirul Mukminin,” sang zahid menghentikan kisahnya. “Betapa belas kasihnya pemimpin kafir itu kepada para hamba Allah.” Ia memungkasi nasehat hari itu dengan permohonan yang indah, “Sementara engkau adalah seorang mukmin yang mewarisi sifat-sifat kenabian, maka bagaimana engkau akan menunjukkan belas kasih kepada rakyatmu?”

Al-Tibr al Masbuk fi Nashihati al Mamluk. Hujjah al-Islam Muhammad al-Ghazali. DKI. Lebanon. Hal. 20.

Baca juga: Berkah Pernikahan.

Simak juga: Momen Mengharukan KH. M. Anwar Manshur dan Habib Ali Al-Jufri.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah