Sayyidah ‘Aisyah Rawiyah Hadits Terbanyak

Sayyidah ‘Aisyah binti Abu Bakr as-Shiddiq Ra, adalah salah satu istri yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah figur yang istimewa. Karena termasuk yang paling berjasa sebagai salah satu ulama perempuan yang alim fikih, dan satu dari enam sahabat senior yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Menurut sebuah keterangan, Sayyidah ‘Aisyah ra meriwayatkan hingga 2210 hadis. Dan yang masuk dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim menurut sebuah penelitian mencapai 174 hadis.

Pujian terhadap beliau luar biasa. Az Zuhri, salah satu tabiin yang menjadi murid Sayyidah ‘Aisyah mengatakan, “Seandainya ilmu Aisyah, ilmu semua istri Nabi Saw. dan ilmu semua wanita dikumpulkan, maka ilmu Aisyah lebih afdhal.”

Tidak diragukan, kealiman beliau dalam bidang agama. Karena beliau juga termasuk tokoh utama dalam penyebaran keilmuan. Beliau memberikan pengaruh besar kepada ulama tabi’in era selanjutnya, yang dikenal sebagai fuqaha as-sab’ah al-madinah. Ke tujuh tabi’in tersebut nantinya memberikan pengaruh besar pada pondasi madzhab fikih ahlussunah wal jama’ah yang kita kenal sekarang.

Menurut pengakuan ‘Urwah bin Zubair, Sayyidah ‘Aisyah ra adalah orang paling tahu dalam urusan hadis, Al-Qur’an, bahkan syair-syair Arab. Para sahabat senior juga tak sungkan untuk bertanya masalah agama kepada beliau. Termasuk dalam perihal ilmu faraidh, ilmu waris yang dikenal sulit. Hal tersebut sesuai keterangan dari Masruq bin al-Ajdza’. Sahabat Abu Musa Al Asy’ari juga mengatakan hal yang kurang lebih sama. Dikutip dari sunan At-Tirmidzi, beliau mengatakan, “tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadits lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban darinya.”

Beliau menikah dengan nabi Muhammad Saw dalam usia yang masih relatif muda. Beliau menjadi istri ketiga setelah Sayyidah Khadijah al-Kubra, dan Sayyidah Saudah binti Zam’ah. Beliau tidak langsung hidup bersama nabi setelah menikah, namun masih bersama orang tua beliau Sahabat Abu Bakr Ra. Dan baru bersama nabi setelah berusia sembilan tahun menurut sebuah riwayat.

Tiga Buku Baru Terbitan Ma’had Aly Lirboyo

LirboyoNet, Kediri- Telah banyak diketahui, Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri, sejak dulu hingga sekarang berupaya mempertahankan tradisi literasi dalam berbagai bentuk, salah satunya dengan menerbitkan kitab dan buku-buku keislaman. Melalui Ma’had Aly Lirboyo, setiap tahunnya Pondok Pesantren Lirboyo menelurkan berbagai karya ilmiah.

Di tahun ini, Ma’had Aly Lirboyo angkatan ketiga (Autad Lirboyo) mengeluarkan tiga buku baru, yakni Menyegarkan Peradaban, Membela Indonesia, dan Sangu Urip.

  1. MENYEGARKAN PERADABAN (Upaya Mengembalikan Orientasi Pendidikan Nusantara)
    Di sinilah upaya untuk mewacanakan nilai-nilai pesantren sebagai pola pendidikan yang representatif. Dengan menggunakan pendekatan sejarah Nusantara dari sektor pendidikan, buku ini berusaha menggali nilai-nilai prinsip pendidikan Nusantara yang diulas mulai dari zaman kapitayan, hindu, budha, hingga datangnya islam dengan sistem pesantrennya. Buku ini juga menjelaskan tentang tuntutan akhir sebuah pendidikan, yakni dakwah. Fokus pada prinsip, cara dan relasi dakwah serta implementasinya sesuai arus perubahan zaman.
  2. MEMBELA INDONESIA (Mencintai, Merawat, Menjaga, dan Mensyukuri Anugerah Nusantara)
    Buku ini diawali kajian detail tentang cinta tanah air dengan mengambil nabi Muhammad sebagai tokoh utama, menjadi teladan sekaligus inspirasi para cendekiawan Indonesia dalam memahami dengan baik makna cinta tanah air. Dilanjutkan dengan pandangan-pandangan logis menjaga tanah air dg mencoba memadukan kajian fikih-argumentatif dengan tasawuf-persuasif.
    Buku ini disarikan lebih dari 150 referensi kitab klasik yang otentik untuk menjawab kenapa Indonesia harus dibela? Dengan cara apa Indonesia dibela?
  3. SANGU URIP (Bekal Hidup Masyarakat Sesuai Syariat)
    Buku ini disusun dengan sistematika berbeda dari kebanyakan buku tanya jawab keagamaan yang sudah ada. Terdapat dua bagian besar dalam buku ini; Tuntunan berisi kajian tematik seputar isu-isu keagamaan dan sosial yang dilengkapi dengan hikayat, renungan dan petuah bijak salafussholih. Rujukan berisi tanya jawab keagamaan yang disusun berdasarkan urutan bab pada kitab fikih. Dalam buku ini pembaca akan menemukan lebih dari 1500 kajian yang semuanya dilengkapi referensi dari kitab turats islami.

Informasi selengkapnya ikuti akun Instagram @autadlirboyo

Hukum Salat Menggunakan Masker

Di tengah wabah virus corona atau covid-19, penggunaan masker merupakan hal yang sangat lumrah di kalangan masyarakat, bahkan pada saat salat sekalipun.

Pada dasarnya, memakai penutup mulut ketika salat, seperti masker dan semacamnya, hukumnya adalah makruh berdasarkan hadis berikut:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah Saw. melarang seseorang menutup mulutnya ketika salat.” (Faidah al-Qadir, VI/315)

Imam Nawawi menegaskan:

وَيُكْرَه أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَمِهِ فِي الصَّلَاةِ إلَّا إذَا تَثَاءَبَ فَإِنَّ السُّنَّةَ وَضْعُ الْيَدِ … وَهَذِهِ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ لا تمنع صحة الصَّلَاةِ

“Dan dimakruhkan menurut mulut dengan tangan dalam salat kecuali saat ia menguap… Makruh di sini adalah makruh tanzih (tidak haram) sehingga tidak menghalangi keabsahan salat.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, III/719)

Meskipun demikian, jika pemakain masker dalam salat sangat dibutuhkan, seperti karena khawatir terpapar virus corona, maka hal itu tidak masalah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah:

أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ عَلَى الْمَرْأَةِ أَنْ تَكْشِفَ وَجْهَهَا فِي الصَّلاَةِ وَالإِْحْرَامِ، وَلأَِنَّ سَتْرَ الْوَجْهِ يُخِل بِمُبَاشَرَةِ الْمُصَلِّي بِالْجَبْهَةِ وَيُغَطِّي الْفَمَ ، وَقَدْ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُل عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ كَحُضُورِ أَجَانِبَ، فَلاَ كَرَاهَةَ

“Para ulama sepakat bahwa wanita harus membuka wajahnya ketika salat dan ihram. Karena sesungguhnya penutup wajah itu menghalangi seseorang yang melaksanakan salat (untuk menempelkan) secara langsung dahi dan hidung serta dapat menutupi mulut. Nabi Saw. juga melarang seorang laki-laki melakukan hal itu. Jika ada kebutuhan, seperti adanya laki-laki lain (bukan mahramnya bereda di dekatnya ketika salat), maka tidak makruh.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXXI/136)

Dengan demikian, menutup mulut menggunakan masker apabila ada kebutuhan semisal mengantisipasi penyebaran virus corona atau covid-19 diperbolehkan.
waAllahu a’lam.

Tentang Amalan di Bulan Sya’ban

Tak terasa bulan Rajab telah berlalu. Hanya tinggal satu bulan lagi menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tutup tanggal bulan Rajab, menandai masuknya bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban adalah bulan yang istimewa. Bulannya Nabi Muhammad Saw.

Di Bulan Sya’ban Rasulullah saw. melakukan puasa, ada yang mengatakan penuh sampai disambung dengan Ramadhan, ada pula yang mengatakan sebagian besar. Dalam salah satu kesaksian istri Nabi Muhammad Saw, Sayyidah ‘Aisyah ra, didawuhkan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu, mengapa Rasûlullâh mengistimewakan Sya’ban dengan puasa sunah?

Nabi Muhammad saw menjawab setidaknya dengan dua alasan:

Pertama, bulan Sya’ban adalah bulan laporan amal. Hari yang istimewa. Selalu kita sambut tiap tahun dengan merayakan malam nishfu Sya’ban. Dalam sebuah hadis didawuhkan,

ﻭَﻫُﻮَ ﺷَﻬْﺮٌ ﺗُﺮْﻓَﻊُ ﻓِﻴﻪِ اﻷَْﻋْﻤَﺎﻝُ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺏِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ، ﻓَﺄُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳُﺮْﻓَﻊَ ﻋﻤﻠﻲ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺻَﺎﺋِﻢٌ

“Sya’ban adalah bulan diangkatnya (dilaporkan) amal kepada Tuhan yang menguasai seluruh alam. Maka saya senang saat amal saya dilaporkan saya sedang berpuasa” (HR An-Nasa’i)

Hadis ini secara kandungan hampir mirip dengan hadis tentang anjuran puasa Senin Kamis. Hari Senin adalah hari kelahiran beliau, dan Kamis adalah hari diangkat amal dalam waktu satu minggu. Namun pada malam nishfu Sya’ban, menurut riwayat, yang diangkat adalah amal selama satu tahun penuh.

Kedua, Sya’ban adalah bulan catatan ajal

ﻗَﺎﻝَ: ” ﺇِﻥَّ اﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻜْﺘُﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻧَﻔْﺲٍ ﻣﻨﻴﺔ ﺗِﻠْﻚَ اﻟﺴَّﻨَﺔَ، ﻓَﺄُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗِﻴَﻨِﻲ ﺃَﺟَﻠِﻲ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺻَﺎﺋِﻢٌ».

“Sesungguhnya Allah menentukan kematian setiap jiwa pada tahun itu (ditentukan di bulan sya’ban). Maka saya senang jika ajal mendatangi saya dalam keadaan berpuasa”

Terkait status hadis ini diberi penilaian oleh Al-Hafidz Al-Haitsami:

ﺭَﻭَاﻩُ ﺃَﺑُﻮ ﻳَﻌْﻠَﻰ، ﻭَﻓِﻴﻪِ ﻣُﺴْﻠِﻢُ ﺑْﻦُ ﺧَﺎﻟِﺪٍ اﻟﺰَّﻧْﺠِﻲُّ، ﻭَﻓِﻴﻪِ ﻛَﻼَﻡٌ، ﻭَﻗَﺪْ ﻭُﺛِّﻖَ.

“Diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Didalamnya terdapat perawi bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji (guru dari Imam Syafi’i), ia dikomentari oleh ulama lain dan juga ada yang menilai perawi terpercaya”

Bulan Sya’ban sangat dianjurkan untuk berpuasa. Kita sebagai umat nabi Muhammad Saw tentu saja selalu mengikuti sunah-sunah beliau.

Adapun redaksi niat puasa bulan Sya’ban jika kita melafalkan niat di malam hari adalah,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Sya‘bana lillâhi ta‘âlâ.

“Aku berniat puasa sunah Sya‘ban esok hari karena Allah SWT.”

Sedangkan jika melafalkan niat di siang hari sebelum masuk waktu dzuhur, dengan catatan belum melakukan hal yang membatalkan puasa adalah,

 صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Sya‘bana lillâhi ta‘âlâ.

“Aku berniat puasa sunah Sya‘ban hari ini karena Allah SWT.”

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Menyadari ‘saat ini’

Kebanyakan orang sering kali kehilangan momen ‘saat ini’. Yakni di mana saat kita berada sekarang. Mereka sepertinya belum menyadari bahwa hakikat hidup mengalir dari saat ke saat, waktu ke waktu. Akhirnya mereka kehilangan kebahagiaan, kedamaian, dan tidak dapat mencapai semua tujuan hidup yang dia impikan. Hal ini disebabkan mereka tidak menyadari tentang keadaan ‘saat ini’.

Tulisan ini, ingin mengajak kepada pembaca agar mampu melakukan apapun secara tepat sesuai dengan keadaan yang ada. Yaitu tentang kesadaran bahwa momen yang sangat jelas terlihat hanyalah ‘saat ini’. Bukan masa lalu dan masa depan. Karena keduanya tidak nyata.

Masa lalu merupakan waktu yang telah terlewat dan tidak akan pernah kembali. Ia bermetamorfosis menjadi sebuah kenangan hampa, yang tidak ada seorangpun dalam catatan sejarah diberi kesempatan untuk mengulanginya. Hal inilah yang membuat masa lalu menjadi tidak nyata. Sayangnya, justru banyak orang yang pikirannya terlempar ke dalam masa ini.

Mereka tertipu, kenapa hal yang tidak jelas selalu ia pikirkan? Padahal hal ini hanya menyia-nyiakan waktunya saja. Yang tidak ada titik untung kembali kepadanya. Dan hanya kerugian yang didapatnya. Yaitu hilangnya waktu secara percuma. Kenyataan ini berlaku bagi mereka yang di batok kepalanya selalu terbiasa memikirkan derita perjalanan hidup kepribadiannya. Yang sungguh, sebenarnya hal itu hanyalah sekedar ilusi. Sehingga ia tidak dapat memfokuskan apa yang seharusnya ia lakukan waktu ini. Membuatnya masuk kembali pada lingkaran kecemasan, penderitaan dan ragu-ragu dalam melangkah menapaki hidup. Akibat ia tidak dapat memperbarui situasi yang dijalaninya. Mengutip perkataan Gusdur “terus meratapi nasib tidak akan mengubah keadaan”.

Untuk dapat keluar dari hal-hal yang tidak diinginkan di atas, perlu adanya kesadaran tentang ‘saat ini’. Seperti kelanjutan kutipan Gusdur yang telah tertera. Yaitu dengan “terus berjuang dan bekerja agar hidup lebih bermakna”. Dengan mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan pada saat itu juga, membuat suatu keefektifan dalam menggunakan waktu sebaik-baiknya. Menjadikan hidup kita menjadi lebih bermanfaat dan bermakna. Bukan melulu meratapi nasib dan mengingat-ingat masa lalu yang hanya mengandung kekosongan.

Sedangkan ketidaknyataan masa depan, disebabkan karena ia hanya sekedar harapan. Memberikan janji tentang kehidupan yang lebih baik, namun di dalamnya terdapat ketidakpastian. Lantas, kenapa kita kerap kali terbawa opini untuk selalu  menyongsong memikirkan masa depan?

Orang yang selalu memikirkan masa depan, seringkali hidupnya dipenuhi dengan tekanan yang dapat membuatnya menjadi stres karena pikirannya berusaha tergerak untuk segera dapat menyentuh harapannya itu. Ia lupa bahwa hasil hanya dapat ditempuh melalui jalan berliku yang dinamakan proses.

Bukankah masa depan akan datang dengan sendirinya. Mengutip dawuh KH. M. Anwar Manshur “tidak usah memikirkan yang besok, besok akan datang sendiri”. Sengaja, beliau berusaha mengajak kepada kita  untuk sama-sama mengingat bahwa ‘saat ini’ adalah hal yang pasti. Lebih tepatnya, apa yang kita kerjakan akan menentukan nasib di masa yang akan datang. Membawa setiap pergerakan yang kita lakukan sekarang menuai hasil dikemudian hari. Ketika seseorang memahami akan hal ini, mengenyam suksespun sepertinya mudah sekali untuk dicecap.

Tetapi dari pada itu, antara masa lalu dan masa depan tidak sertamerta kita lupakan begitu saja. Karena ada saatnya, kita masih memerlukan keduanya.

Dengan masa lalu, kita dapat belajar dari sesuatu yang pernah kita lewati. Mengingatnya, membuat kita tidak terjatuh pada lubang yang sama dikemudian hari.

Kita juga perlu masa depan. Supaya kita bisa membuat rencana kerja dan rencana hidup yang tepat. Namun keduanya hanyalah alat yang bersifat sementara. Keduanya perlu ditinggalkan ketika kita tidak memerlukannya kembali. Kita bisa meninggalkan dengan memasuki keadaan ‘saat ini’.

Dengan menyadari ‘saat ini’, seseorang akan tergugah dari kelalaiannya. Apapun masa lalu seseorang, tidak bisa menentukan nasib masa depannya. Percuma saja jika ia terlalu sering untuk dipikirkan yang hanya akan mendatangkan derita dan membuang-buang waktu secara percuma. Sedang ia sudah berlalu dan tidak bisa kita ubah kembali.

Tidak usah terlalu repot-repot juga untuk memikirkan masa depan, karena hidup tidak perlu dibuat terlalu ngotot. Bawalah perasaan mengalir dengan penuh kedamaian, menikmati aspek santai dan lucu dari kehidupan. Hanya masa depanlah yang masih dapat kita ubah. Dan sekali lagi, yang dapat menentukan masa depan seseorang adalah dirinya sendiri. Yaitu dengan menyadari akan hakikat ‘saat ini’ dan melakukan apa yang perlu dikerjakan sekarang. Segeralah bertindak, jika menginginkan impian cepat terlihat depan mata.[]

Oleh: M. Nur Al-Fatih santri asal Brebes Jawa Tengah, kelas III Aliyyah

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah