Isyarat Thariqoh Suci Ta’lim Wa Ta’alum

Isyarat Thariqoh Suci Ta’lim Wa Ta’alum

            “Qiyamul lail ora mung sholat tok! Muthola’ah yo termasuk qiyamul lail” KH. Mahrus Aly

Teguran diatas bukan sekedar teguran. Bagaimana beliau menegur putra beliau, Yakni K. H. Abdullah Kafa Bihi Mahrus yang sekarang menjadi penerus heroik keislamannya. Nasihat yang diucapkan oleh beliau kepada putranya dikarenakan beliau pernah melihat putranya mengisi malamnya dengan sholat sunnah, bukan untuk belajar. Cerita ini pula yang sering K.H. Abdullah Kafa Bihi Mahrus sampaikan kepada para santrinya diberbagai kesempatan. Lantas apa rahasianya?

 Ilmu adalah sebuah fase di mana akal merasa telah menemukan jalan. Jalan ini yang diklaim manusia sebagai cara terwahid untuk menerka segala sesuatu. Meskipun terkadang mereka luput bahwa kemampuan terka itu sendiri tak lebih jauh dari tabiat sebuah makhluk yang penuh keterbatasan.

 Agama dan akal sepakat akan satu hal, yakni pengetahuan pantas diapreasi. Peran pengetahuan sangat konkret meruntuhkan dinding-dinding bias mitos yang selama ini mengurung realitas. Maka tak heran, baik agama ataupun akal sama-sama menyanjungnya. Serta secara otomatis membuat pemiliknya keluberan berkah. Contoh kecil, orang sebodoh apapun akan marah bila dipanggil “bodoh”. Dan yang tak kalah penting, belajar adalah keniscayaan bagi setiap orang yang menginginkan kemuliaan. Karena pengetahuan sebagai perwujudan satu-satunya cara terlogis.

Dalam Islam para penyandang pengetahuan, khususnya tentang agama menempati posisi mulia. Merekalah yang telah dikultus oleh syariat sebagai para pewaris para nabi. Mereka ini yang disebut banyak orang sebagai “ulama’

Banyak dalil-dalil fundamental yang menceritakan keutamaan-keutamaan para ulama, serta dogma-dogma tata krama bermasyarakat. Semuanya kompak menyanjung para pemilik pengetahuan yang bagaikan dewa-dewa dimitologi Yunani. Namun apakah ini merupakan Happy ending?

baca juga: Dawuh KH. M. Anwar Manshur: Cara Bersyukur Seorang Pelajar

Klasifikasi Ulama

Ternyata pangkat ”ulama” sendiri masih butuh klasifikasi sehingga nanti akan tampak mereka yang benar-benar pantas mendapatkan apresiasi positif seperti di atas.

Dalam kode etik Agama Islam ternyata memang tidak semua ulama dipuja. Mereka yang orentasinya non ukhrowi justru mendapat ancaman berat. Para ulama ibarat harimau dengan senjata bawaan yang tajam, taring serta kuku perobek yang kuat. Tetapi apakah semua harimau akan menggunakan cakar dan taringnya untuk kepentingan kepahlawanan yang mulia.

Semisal menjaga keluarga, koloni, atau minimal dirinya sendiri? Semestinya tidak! Sabda hukum naluri bawaan jelas bahwa “senjata alamiah bukan hanya untuk menjaga, melainkan juga untuk merusak. Harimau juga bernaluri melukai. Ulama dalam hal ini pun demikian. Mereka mempunyai naluri heroik khusus yang secara garis besar diistilahkan “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”.

Disamping mereka juga kreatif menggunakan ilmu mereka untuk melukai. Baik secara fisik atau metafisik. Ilmu mereka berpotensi disalah gunakan karena motif-motif tertentu. Baik kepentingan pribadi atau komunitas. Kita ambil contoh sederhana bahwa para koruptor sangat menindas rakyat kecil. Mereka bukanlah orang bodoh atau seorang maling ayam. Mereka orang berpengetahuan tinggi namun dengan pengetahuan itu mereka gunakan untuk memeras rakyat dengan korupsi.

Sampai titik inilah kita harus sadar untuk tidak puas hanya telah ber-ta’alum (belajar) tanpa ber-ta’lim (mengajarkan) pengetahuan kita. Dengan itu minimal kita mengajarkan ilmu kita kepada diri sendiri sebelum kepada orang-orang sekitar kita, serta menjadikan keduanya sebagai jalan hidup (thoriqoh). Dan mungkin itu yang dimaksud oleh beliau KH. Mahrus Aly.[]

jangan lupa tonton: Rahasia Sukses Dunia & Akhirat | KH. Abdullah Kafabihi Mahrus

Penulis: M. Idrus Salim

Isyarat Thariqoh Suci Ta’lim Wa Ta’alum
Isyarat Thariqoh Suci Ta’lim Wa Ta’alum

Kapan saja Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat

Kapan Saja Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya Azizah, ingin bertanya tentang pada waktu kapan saja disunahkan membaca do’a qunut pada waktu sholat?

Admin| Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Do’a Qunut merupakan bacaan yang senantiasa dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika beliau melaksanakan sholat shubuh. Namun, do’a qunut juga dianjurkan dibaca selain shalat subuh, yaitu ketika terjadi sebuah tragedi besar yang menimpa manusia.

Qunut ini dinamakan sebagai qunut nazilah atau qunut petaka. Ketika terjadi sebuah bencana, qunut ini sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk dibaca. Hal ini sebagai wujud rasa kepedulian seorang Muslim kepada saudara seiman ketika sedang ditimpa musibah.

Namun perlu digaris bawahi bahwa bacaan qunut nazilah ini hanya dapat dikerjakan ketika melaksanakan ibadah sholat fardlu saja, tidak pada shaat sunnah.

baca juga: Mengusap Wajah Setelah Qunut
baca juga: Instruksi Qunut Nazilah Untuk Palestina
baca juga: Instruksi Qunut Nazilah Dan Hizib Nashar

Keterangan demikian bisa ditemukan dalam kitab Muhadzzab karya dari imam Abu Ishaq Ibrohim bin ‘Aly bin Yusuf As-Syairozi yang kemudian dikupas secara terperinci dalam kitab Al-Majmu’ Syarkh Muhadzzab sebagaimana berikut:

وَأَمَّا غَيْرُ الصُّبْحِ مِنْ الْفَرَائِضِ فَلَا يُقْنَتُ فيه من غير حاجة فان نزلت بالمسملين نَازِلَةٌ قَنَتُوا فِي جَمِيعِ الْفَرَائِضِ لِمَا رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَقْنُتُ إلَّا أَنْ يَدْعُوَ لِأَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ عَلَى أحد كَانَ إذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمْدَهُ قَالَ ربنا لك الحمد وذكر الدعاء

“Membaca do’a qunut tidak dianjurkan diselain sholat shubuh tanpa ada alasan tertentu, namun disaat terjadi sebuah musibah yang dihadapi oleh orang-orang Muslim, maka dianjurkan untuk membaca do’a qunut dalam semua sholat fardlu sebagaimana riwayat yang berasal dari sahabat Abu Hurairah”

tonton juga: Rahasia Sukses Dunia & Akhirat | KH. Abdullah Kafabihi Mahrus
tonton juga: Prasangka Buruk Salah Satu Penyebab Su’ul khatimah

Kapan Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat
Kapan Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat

Pentingnya Menghapal Dasar-dasar Agama

Pentingnya Menghapal Dasar-dasar Agama | KH  M. Abdul Aziz Manshur

Permasalahan hafalan atau muhafadzah merupakan ciri khas daripada pondok pesantren. Sehingga barokah ilmu yang diperoleh melalui hafalan itu lain daripada yang diperoleh tidak melalui hafalan.

Imam Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin berkata  bahwa “Dalam tarbiyyah anak kecil, berilah mereka hafalan-hafalan sebanyak mungkin. Karena ketika anak kecil diberi hapalan yang banyak, walaupun yang dihafalakan hanya sebatas ilmu pokoknya saja, ketika ia sudah besar, ilmu pokok melekat kuat dalam hati dan otaknya, yang kemudian nanti ketika sudah besar, akan berkembang dengan sendirinya.”

Yang paling utama bagi anak-anak kecil dipelajajri dan diberi hapalan tentang ilmu tauhid. Sifat wajib dan mustahilnya Allah SWT dihafalkan, nama-nama rasul dihafalkan, nama malaikat dihafalkan, nama kitab Allah SWT dihafalkan, dan seluruh yang terdapat ilmu tauhid dihafalkan semua.

Bisa dilihat perbedaannya, mereka yang langsung belajar tauhid dengan perbandingan- perbandingan menurut Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan lain sebagainya, tetapi tidak memiliki hafalan sama sekali, hal semacam itu pemahaman yang diperoleh kebanyakan kurang kuat. Berbeda jika sebelumnya pernah dihapalkan.

Sehingga sangat tepat pendapat Imam Ghazali di atas bahwa “Latihlah anak-anka kecil itu dengan hafalan-hafalan pelajaran yang penting dan pokok bagi dia.”

Seperti juga anak-anak kecil dipelajari dan disuruh untuk menghafal surat-surat pendek. Sehingga untuk memudahkan anak-anak tersebut dalam menghafal, para ulama membalik urutan surat dengan mendahulukan surat An-Nas dan mengakhirkan surat An-Naba. Hal ini dimaksudkan agar ayat-ayat pendek tersebut dihafalkan dan mudah dalam menghafalkannya.

baca juga: Dawuh KH. M. Abdul Aziz Manshur

Kisah KH. M. Abdul Aziz Manshur dalam menghafal

“Dahulu, saya dipelajari kitab Jurumiyyah oleh bapak saya sampai saya hafal sampai khatam kitab tersebut. Tetapi pada saat itu saya belum tahu huruf. Disuruh untuk menunjuk huruf ba’ saja saya tidak tahu.

Dengan menghafal itu, barokahnya sangat saya rasakan betul. Sehingga naik ke pelajaran Imrithi dan Alfiyyah, ada barokahnya (mudah dalam memahami pelajaran tersebut).”

tonton juga: Pentingnya Menghafal Dasar-dasar Agama I Almaghfurlah KH. M. Abdul Aziz Manshur

Pentingnya Menghapal Dasar-dasar Agama

Khutbah Jumat: Keutamaan Memiliki Nikmat Iman

Khutbah Jumat: Keutamaan Memiliki Nikmat Iman

Khutbah Jumat I

اَلْحَمْدُ للهِ الْعَظِيْمِ الْمَنَّانِ الَّذِى رَفَعَ دَرَجَاتِ اَهْلِ الْإِيْمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ جَعَلَى اَهْلَ الْإِيْمَانِ عَلَى مَنَابِرِ مِنْ نُوْرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُوَحِّدِيْنَ، صَلُّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ  وَنَفْسِيْ  بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ – (النحل: ٩٧)

Hadirin jama’ah sholat jum’at yang dirahmati Allah

Marilah sama-sama kita panjatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman kepada kita, dan telah memilih kita sebagai hamba yang paling beruntung, karena dapat meniti perjalanan yang lurus.

وَاِنَّ اللّٰهَ لَهَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”  (Surat al-Hajj: 54)

Nikmat iman merupakan suatu nikmat yang paling utama yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Keimanan akan membawa kehidupan seorang hamba memiliki ketenangan dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Dengan nikmat iman, juga dapat memberikan kebahagian dalam hati. Yaitu akan menemukan kehidupan yang baik dan balasan yang baik ketika di dunia maupun di akhirat.

Dijelaskan di dalam Al-Qur’an:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Hadirin jama’ah Jum’at rohimakumulloh

Perlu diketahui bahwa tidak bisa dikatakan beragama Islam kecuali memiliki iman. Dan iman, memiliki beberapa rukun yang harus kita imani. Rukun-rukun tersebut di antaranya:

1. Beriman kepada Allah SWT
2. Beriman kepada Malaikat Allah SWT
3. Beriman kepada Kitab-kitab Allah SWT
4. Beriman kepada Utusan Allah SWT
5. Beriman kepada Hari Kiamat
6. Beriman kepada Takdir baik dan takdir buruk.

Ketika seorang Mukmin mengimani akan hal ini, maka ia tidak menyembah sesuatu kecuali kepada Allah. Meyakini bahwa tidak ada yang memberikan rezeki kecuali hanya Allah. Dan Allah tidak akan memberikan rezeki kepada orang-orang yang tercegah menerima rezeki, dan akan memberikan rezeki kepada orang-orang yang telah ditetapkannya.

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah SWT rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Dengan memiliki iman, kita mengetahui bahwa seorang hamba tidak akan mengalami kematian kecuali atas izin Allah SWT.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ

“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah SWT, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (QS. Al-Hujarat: 145)

Hadirin jama’ah sholat jum’at yang dirahmati Allah

Keimanan adalah suatu aqidah yang menancap di dalam hati. Yang kemudian dapat diamalkan melalui ucapan dan tindakan dengan melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, serta mengikuti segala sesuatu yang telah datang pada diri Rasulullah SAW.

Untuk mendapatkan manisnya iman, Rasulullah Saw pernah bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Dari Anas bin Malik dari Nabi shallalahu  ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga (perkara) yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Allah SWT dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya. Bisa ia mencintai seseorang, ia tidak menaruh kecintaan kecuali karena Allah Swt. Dan ia membenci untuk kembali kepada kekufuran, seperti halnya ia membenci ketika akan dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Bukhari)

Hadirin jama’ah sholat jum’at yang dirahmati Allah

Keimanan haruslah selalu melekat pada seorang hamba sampai akhir hayatnya. Seperti yang disabdakan oleh Nabi:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِيِّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ –  قَالَ: ” قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، فَاسْتَقِمْ

Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqfi, beliau berkata: Aku berkata: ”Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku satu perkataan dalam Islam, yang aku tidak pernah bertanya kepada seorang pun selain engkau.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah Swt kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Untuk memperkuat keimanan, kita dianjurkan untuk selalu melakukan kesunahan-kesunahan yang telah dilakukan oleh Nabi, memperbaiki ketakwaan, dan selalu bero’a akan kebaikan-kebaikan yang bisa dicecap manisnya baik di dunia maupun di akhirat.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِيْمَانِهِمْۚ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS. Yunus: 9)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. إِنَّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيم.

baca juga: Khutbah Jumat: Senyum Adalah Obat

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. وأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيَّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ. اللهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا عَلَى عَبْدِكَ  وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ مَااتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أَمَّا بَعْدُ ) فَيَآاَيُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمُعَةِ وَالجَمَاعَةِ . وَاعْلَمُوْا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ.

فَقالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اَللهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَ عُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ السِتَّةِ الْمُتَمِّمِيْنَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرَامِ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ.

اَللهمَّ لَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَةً ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوَالِ يَومِ الْقِيَامَةِ اَللهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. ودَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ. اَللهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا. وَاجْعَلِ اللهمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. اَللهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِميْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اَللهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً  وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

baca juga: Khutbah Jum’at: Menjalin Kerukunan
tonton juga: Prasangka Buruk Salah Satu Penyebab Su’ul Khatimah

Khutbah Jumat: Keutamaan Memiliki Nikmat Iman
Khutbah Jumat: Keutamaan Memiliki Nikmat Iman
Khutbah Jumat: Keutamaan Memiliki Nikmat Iman

Hikmah Taat pada Guru

Hikmah Taat pada Guru | Taat pada guru merupakan kewajiban bagi seorang murid. Dalam sebuah hikayat, Syaikh Kholil Bangkalan–yang termasuk guru besar pada zamannya–banyak sekali menerima tamu di kediaman beliau.

Di suatu malam, hujan turun deras sekali. Saat itu, orang tua dengan kondisi lumpuh, berjalan merayap di pelataran. Ia bertujuan ingin menemui Syaikh Kholil.

Kiai Kholil pun melihatnya, lalu berkata pada para santri, “Siapa yang menghendaki untuk menggendongnya?” Seorang santri lalu menjawab, “Aku bersedia.”

Baca juga: Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa

Ketika santri itu datang membawa orang tua tak dikenal tadi, Kiai Kholil menyambutnya dan memuliakan orang tua tersebut. Setelah sekian lama berbincang. Kiai Kholil lalu bertanya pada para santri, “Siapa yang menghendaki mengantar orang tua ini pulang?”, Seorang santri yang tadi menggendong orang tua kepada Kiai Kholil pun menyanggupinya kembali.

Ketika Santri tersebut berangkat, Kiai Kholil lantas berkata kepada para santri, “Bersaksilah, bahwa ilmuku telah dibawa oleh Santri tadi.”

Setelah kejadian itu, diketahui bahwa ternyata orang tua yang lumpuh tersebut adalah Nabi Khidir As. Lalu Santri yang membawa orang tua tersebut kembali, tidak lain adalah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, yang menjadi Rais Akbar Nahdlatul Ulama.

Hikmah Taat pada Guru

Tonton juga: Nasionalisme Religius | Ensiklopedia Buku Lirboyo

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah