Adzan Hayya Alal Jihad

Assalamualaikum Wr. Wb.

Maaf mau bertanya, bagaimana hukumnya mengganti lafal bacaan adzan? Misalkan mengganti bacaan Hayya ‘alas sholat menjadi “Hayya ‘alal jihad seperti video-video yang beredar saat ini. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Abdul Hakim, Bogor)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di media sosial telah beredar video sebuah provokasi untuk jihad. Hal ini dilakukan beberapa kelompok orang melalui seruan adzan dengan mengganti lafal “Hayya ‘alas sholat” (marilah shalat) menjadi “Hayya ‘alal jihad” (marilah berjihad).

Dalam sudut pandang fikih, permasalahan ini mirip dengan tambahan lafal “Hayya ‘ala khairil ‘amal” (marilah melakukan amal terbaik) yang hukumnya makruh serta tergolong perbuatan bid’ah. Sebagaimana Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Al-Minhaj al-Qawim berikut:

وَيُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُبْطِلُ الأَذَانَ بِشَرْطِ أَنْ يَأْتِيَ بِالْحَيْعَلَتَيْنِ أَيْضًا

“Dimakruhkan mengumandangkan Hayya ‘ala khairil ‘amal (marilah melakukan amal terbaik) karena termasuk perbuatan bid’ah. Akan tetapi tadak sampai membatalkan adzan dengan syarat tetap melafalkan Hai’alah dua, yaitu Hayya ‘alas sholah dan Hayya ‘alal falah.” (Al-Minhaj al-Qawim, hal. 83)

Dengan demikian, apabila penambahannya sampai mengganti keberadaan lafal “Hayya ‘alas sholah” dan “Hayya ‘alal falah” tersebut, seperti yang ada dalam video yang beredar, maka dapat berkonsekuensi haram.

Hal ini sesuai dengan keterangan dari Imam Ali Syibramulisi yang
memperkuat penjelasan Imam ar-Ramli:

وَيُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ مَعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ: حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ، فَإِنْ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَصِحَّ
(قَوْلُهُ: فَإِنْ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَصِحَّ) وَالْقِيَاسُ حِينَئِذٍ حُرْمَتُهُ لِأَنَّهُ بِهِ صَارَ مُتَعَاطِيًا لِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ

“Dimakruhkan menambahkan lafal Hayya ‘ala khairil ‘amal bersamaan dengan lafal Hayya ‘alas sholah dan Hayya ‘alal falah. Apabila hanya menggunakan lafal tambahan itu, maka adzannya tidak sah. (Penjelasan) perilaku ini termasuk haram sebab orang tersebut sengaja melakukan ibadah yang rusak.” (Nihayah al-Muhtaj, I/409-410)

Untuk itu, mengubah lafal adzan seperti dalam video yang beredar termasuk perbuatan yang hukumnya haram sebab melakukan amaliah yang tidak memiliki dasar legalitas dari syariat. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
MENJAWAB ADZAN DARI SPEAKER DAN TELEVISI

Dengarkan juga:
Dawuh Masyayikh | Rendah Hati

# ADZAN HAYYA ALAL JIHAD | BAGAIMANAKAH HUKUMNYA?
# ADZAN HAYYA ALAL JIHAD | BAGAIMANAKAH HUKUMNYA?

Hukum Menumpang Jaringan WiFi

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya mau bertanya, bagaimana hukum menggunakan jaringan WiFi saudara tanpa izin darinya? Mohon penjelasannya, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Hamba Allah, Bengkulu)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Salah satu hal yang sering terjadi di masyarakat, ada sebagian orang yang secara diam-diam mengakses internet menggunakan jaringan hotspot atau WiFi saudara, teman, tetangga atau orang lain tanpa izin. Hal ini sering kali disebabkan karena pemilik hotspot atau WiFi lupa mengunci jaringan internetnya dengan sandi atau password.

Dalam sudut pandang fikih, perilaku mengakses jaringan internet orang lain tanpa izin diperinci sebagai berikut:

Pertama, apabila seseorang memiliki keyakinan bahwa WiFi tersebut hanya digunakan secara pribadi dan pemilik WiFi tidak rela jika Wifi-nya dimanfaatkan olehnya, maka menggunakan WiFi tersebut hukumnya haram.

Kedua, apabila seseorang memiliki keyakinan atau dugaan kuat bahwa pemilik WiFi rela jika Wifi-nya dimanfaatkan olehnya, maka memanfaatkan WiFi tersebut diperbolehkan meski tanpa sepengetahuan pemilik WiFi.

Hal ini senada dengan Fatwa Imam Ibnu Hajar al-Haitami sebagai berikut:

(وَسُئِلَ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

“Imam Ibnu Hajar ditanya: Apakah kebolehan mengambil sesuatu dengan keyakinan adanya kerelaan pemilik itu tertentu dalam hal hidangan atau yang lainya? Maka beliau menjawab: Masalah tersebut tidak terkhusus dalam hal hidangan saja. Para Ulama menjelaskan bahwa prasangka kuat itu kapasitasnya sama dengan keyakinan. Untuk itu, apabila seseorang memiliki prasangka kuat bahwa pemilik barang memberikan keluasan untuk mengambil barang miliknya, maka ia boleh mengambilnya. Namun jika sebaliknya, maka ia wajib mengganti rugi.” (Lihat: Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, IV/116)Dengan demikian, hukum memanfaatkan jaringan internet hotspot atau WiFi tanpa sepengetahuan pemiliknya tergantung pada adanya dugaan kuat apakah pemiliknya rela ataukah tidak. []WaAllahu a’lam.

Baca juga:
FASILITAS WIFI BERSAMA DI BALAI DESA

Follow juga instagram @pondoklirboyo

# HUKUM MENUMPANG JARINGAN WIFI
# HUKUM MENUMPANG JARINGAN WIFI

SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN

Nabi sebagai cerminan, yang akhlaknya merupakan Al-Quran, sangat memukau dalam kesehariannya saat menghadapi umat yang bermacam-macam karakter. Seperti yang kita ketahui, beliau itu pemalu. Bahkan digambarkan lebih pemalu dari seorang perempuan dalam sekat. Namun jangan salah, beliau juga manusia yang sangat pemberani mengalahkan siapa pun.

Seperti saat beliau dan pasukannya terkepung oleh bala musuh, pasukan beliau banyak yang mundur, sedang beliau sendiri tak gentar menghadang, sehingga menyalakan kembali keberanian pasukannya. Itulah sifat manusia terbaik, manusia pilihan Tuhan semesta, beruntung kita menjadi umatnya.

Konsultasi

Pernah suatu saat beliau didatangi seorang wanita dari golongan Anshar. Ia ingin berkonsultasi dengan nabi tentang hal-hal yang berhubungan dengan kewanitaan.

Ia mengeluhkan tentang darah (kewanitaan) yang merembes di pakaian. Mungkin darah yang keluar itu saat Ia di masa istihadhah. Sehingga Ia bertanya kepada nabi bagaimana cara menyucikan diri dari darah itu, karena salat lima waktu bagi perempuan yang sedang istihadhah tetaplah wajib.

Ia bingung sebab darah tersebut masihlah terus mengalir, bagaimana nanti dengan salatnya? Bukankah jika memaksa untuk salat berarti sama halnya Ia sedang membawa najis?

Merasa tidak menemukan jawaban atas kejanggalan yang Ia alami, Ia mendatangi Nabi dan segera mengajukan pertanyaannya itu.

“Ambillah selembar kain yang telah diolesi minyak wangi dan gunakan untuk bersuci. ” Nabi singkat saja menjawab.

Akan tetapi perempuan itu masih bingung. “Bagaimana caraku bersuci menggunakan kain itu, wahai Rasulullah?” Ia bertanya lagi.

“Bersucilah dengannya.” Nabi tidak sanggup menjelaskan lebih lanjut.

“Bagaimana caranya?” Ternyata ia terus mendesak Nabi. Bukan karena apa, memang Ia masih kurang paham.

Saat seperti inilah tampak dari ucapan nabi, betapa beliau sangat tidak rela kalau-kalau dari mulut sucinya terucap perkataan yang kurang layak. Meski toh kaitannya dengan ilmu dan praktik ibadah.

“Subhanallah, bersucilah dengan kain itu.” Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu beliau ucapkan.

Ketika ada sesuatu hal yang tidak pantas untuk diucapkan, beliau selalu bertasbih. Demi menyucikan Allah dari sifat-sifat kurang.

Detail Jawaban

Saat mengetahui Nabi tidak mungkin bisa menjelaskan dengan detail jawaban atas pertanyaan dari perempuan itu, Sayyidah Aisyah meraih tangan perempuan dari kalangan Anshar tersebut dan berjalan menjauh dari Nabi. Sayyidah Aisyah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana praktik bersuci yang ia tanyakan kepada Nabi.

Di sinilah istri-istri Nabi mengambil peran dengan membantu beliau dalam berdakwah yang mungkin sangat sulit kalau hanya beliau sendiri. Ada area-area tertentu yang akan berat untuk bisa beliau jangkau.

Beliau Nabi menghendaki agar perempuan tadi menggunakan selembar kain untuk menyumbat darah, agar tidak merembes keluar saat melakukan ibadah. Hal ini tidak mungkin bisa dengan rinci beliau sampaikan.

Di sisi lain, Sayidah Aisyah Ra. yang dikenal paling cerdas di antara istri-istri beliau, memuji wanita-wanita Anshar yang tidak malu untuk belajar agama dan bertanya kala kejanggalan menyapa. [NA]

Baca juga:
AL-ADZKAR: BERUNTUNGNYA BADUI YANG ZIARAH KE MAKAM NABI SAW.

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN
# SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN

Khutbah Jumat: Menempuh Jalan Lurus

KHUTBAH I

الحَمْدُ لِلَّهِ الّذي جَعَلَ لِكُلِ أُمَّةٍ شِرْعَةً ومِنْهاجًا وخَصَّ هَذِهِ الْأُمَةَ بِأَوْضَحِهِما أَحْكَامًا وحُجَجًا والصَّلاةُ والسَّلامُ على سَيِّدِنا وحَبِيْبِنا مُحمَّدٍ مِفْتاحِ بَابِ رَحْمَةِ اللهِ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صلاةً وسَلامًا دائِمَيْنِ بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ. وأشهدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ شَهادَةً شاهِدَةً بِصِدْقِ شاهِدِها وإِيْقانِه. وأشهدُ أَنَّ سَيِّدَنا محمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُوْلُه الْمُطَهَّرُ سِرُّهُ وإِعْلَانُه نَبيٌّ أَظْهَرَ اللهُ بهِ الْحَقَّ وأَبانَه. اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على عَبدِك ورَسُولِك مُحَّمدٍ وعَلى آلِهِ وأَصْحَابِه  بُدُوْرِ الدُّجَى ونُجُوْمِ الاِهْتِدْاء  وَلُيُوْثِ الْعِدا وسَحائِبِ النَّدَى الْهَتَّانَه .أمّا بعدُ. يآأَيُّهاالَّذِيْنَ آمنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُوْلُوا قَوْلًا شَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ ويَغْفِرْ لَكُمْ دُنُوْبَكُمْ ومَنْ يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah …

Dalam momentum yang penuh dengan keberkahan ini, marilah kita sebagai umat Islam untuk senantiasa menguatkan iman dan takwa kita kepada Allah Swt. Cobaan dan ujian yang selalu menerpa kehidupan kita tak lain adalah cara Allah untuk mengukur kadar keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya. Berbekal iman dan takwa, kelak kita akan selamat dunia dan akhirat.

Hadirin Kaum Muslimin yang berbahagia …

Dalam mengahadapi kehidupan sehari-hari, terkadang kita berfikir untuk menghindar dari sebuah resiko yang begitu besar dan mengharapkan keuntungan yang amat besar. Padahal dalam kehidupan, segala tindakan dan perbuatan pasti akan ada sebuah resiko, tinggal bagaimana kita menimbang, mana yang lebih besar. Sebab jika dalam melangkah selalu takut akan sebuah resiko maka kehidupan kita tidak bisa berkembang. Akan tetapi juga  jika selalu menuruti gengsi semata kita bisa terombang-ambing dalam tatanan kehidupan. Maka dalam melakukan hal apapun, kita sebagai umat Islam mintalah petunjuk dan bimbingan Allah dengan banyak berdo’a dan berdzikir agar selamat sampai tujuan.

Allah Swt. berfirma  dalam al-Qur’anul Karim :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya :” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” ( Q. S. An- Nahl : 97 ).

Jalan lurus, dalam Bahasa Arab disebut shirothol mustaqim. Jalan lurus berarti bermakna jalan kebenaran, yang menghantarkan kita menuju kebahagiaan dan keberuntungan.

Hadirin Jama’ah Sholat Jumat yang berbahagia …

              Berjuta-juta perkara yang kita butuhkan di dunia ini, yang paling penting adalah jalan lurus. Di dunia ini hanya ada dua jalan yang menjadi pilihan untuk kita lewati yaitu jalan lurus atau jalan bengkong. Jika kita melewati jalan bengkong seperti halnya sering melakukan kemaksiatan dan melanggar aturan- aturan agama maka kita akan kehilangan kebahagian. Sebaliknya, jika kita melewati jalan lurus dengan selalu menjalani aturan-aturan agama tentu kita akan meraih kebahagiaan.

Akan tetapi, menempuh jalan lurus dan kebenaran itu tidaklah mudah. Di dunia ini banyak jalan yang bercabang-cabang. Sedikit terlena dan salah melangkah, pastilah kita akan terjebak ke jurang penderitaan.

               Dalam lingkungan kehidupan kita di muka bumi ini, kita pastinya selalu berdampingan dengan alam, tumbuhan, dan binatang. Ada tumbuhan yang berbuah dan ada yang tidak. Dari tumbuhan itu ada yang dapat di makan, dan ada pula yang menyimpan racun yang sangat berbahaya. Begitu pula binatang, ada yang menyimpan bisa, beracun dan mencelakakan, sementara banyak pula yang bisa dimakan. Apabila kita salah memilih dan melangkah, berarti kita tidak menempuh jalan lurus dan melakukan sebuah kesalahan.

               Dalam kancah kehidupan sehari-hari juga demikian. Salah memilih berarti salah melangkah, dan pasti menuju jalan sesat. Betapa seorang pemuda yang dibesarkan dari keluarga baik-baik akhirnya menjadi rusak karena salah memilih pergaulan di luar sana. Betapa seorang laki-laki yang awalnya begitu bakti kepada orang tuanya namun ketika salah memilih istri, akhirnya lupa kepada orang tuanya.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang bersahaja …

Dalam sehari semalam kita selalu memanjatkan permohonan do’a kepada Allah melalui sholat :

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ

Artinya: “Tunjukilah kami di jalan yang lurus.”

Tetapi sudahkah ucapan dalam setiap roka’at shalat itu benar-benar kita pahami? ataukah hanya sebuah bacaan yang tak membekas dalam hati?

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah menempuh jalan lurus itu bagaimana? Jika yang kita maksudkan adalah sebuah keselamatan, keberkahan, dan kenikmatan hidup, maka tentu jalan-jalan orang yang diberi kenikmatan bukanlah jalan orang-orang yang mendapat kemakmuran Allah.

Dalam al-Qur’anul Karim Allah Swt. berfirman :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7).

Artinya : “Tunjukkan jalan yang lurus, jalan orang yang Kauberi nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurka, dan bukan (jalan) mereka yang sesat” (Q.S. Al-Fatihah : 6-7 ).

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah …

Kita sebagai manusia memang punya akal. Tetapi tidak selamanya akal itu cerdas. Ia tidak selamanya pula dapat memastikan pilihannya menempuh jalan lurus. Kadang-kadang akal menjadi bodoh ketika hati dikuasai hawa nafsu. Sering kali jalan bengkong di sangka jalan lurus. Bahkan telah menapaki jalan lurus, hati menjadi ragu-ragu karena di hadapan kita tampak jalan yang bercabang-cabang. Terlebih hal yang paling besar yaitu memilih keimanan dan keyakinan. Oleh karena itu kita tetap membutuhkan bimbingan dan petunjuk dari Allah. Tunjukkanlah jalan yang lurus yaitu jalannya  orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan sesat.

               Yang dimaksud Allah jalan yang lurus dan jalan yang benar ialah jalan yang ditempuh, dijalani, atau digariskan oleh orang-orang yang mendapatkan nikmat dari Allah Swt. yaitu para Nabi, Rasul, Orang-orang yang saleh, serta orang–orang yang sejalan dengan pemikiran, pendapat dan kepercayaan yang sama dengan para Nabi dan Rasul. Hal ini selajan pula dengan firman Allah Swt.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (69) ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا (70).

Artinya : “Dan barang siapa taat kepada Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orangorang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yanh demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui” (Q.S. An-Nisa’ ayat 69-70).

Kaum Muslimin Yang berbagia …

               Nikmat dalam konteks ini adalah sebuah ilmu dan iman. Keduanya akan membimbing langkah kita menuju ke jalan yang benar dan bahagia. Banyak orang yang kaya tetapi hidupnya tak bahagia. Hatinya mejadi kering dalam berkasih sayang, ketika mendapai masalah ia menjadi berat dan putus asa, depresi, cemas, dan takut. Hal ini didasari karena di hati mereka tidak terdapat iman kepada Allah. Seandainya ia iman dan yakin kepada Allah, pastilah akan mengadu kepada Allah bila menemui masalah-masalah yang pelik.

               Iman adalah percaya. jika seorang telah beriman kepada Allah berarti ia percaya dengan segala sesuatu yang datang dari-Nya. Agama Islam menjelaskan tentang kebaikan dan keburukan. Kebaikan adalah jalan lurus, sedangkan keburukan adalah jalan sesat. Telah nyata ajaran tersebut dan mudah untuk diterapkan, akan tetapi sering kali diabaikan.

               Sesungguhnya Islam itu begitu sederhana dan mudah sekali diamalkan. Hanya ada dua ajaran utama dalam agama kita yaitu menjalani jalan yang lurus dan menghindari jalan yang sesat. Setiap rokaat dalam shalat, kalimat permohonan itu senantiasa kita ucapka kepada Allah. Oleh karena itu seharusnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari agar hidup kita ini berkah dan mendapat kebahagiaan yang sempurna.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

Mungkin itu saja khutbah singkat pada kesempatan kali ini, semoga kita semua selalu di mudahkan untuk menuju jalan yang lurus , jalan yang di ridhai Allah dan terhindar dari jalan yang sesat. Amin.

أَعُوذُ بِاالله مِنَ الشَّيطانِ الرَّجِيمِ. وَلِكُلِّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيها فَاسْتَبِقُوا الْخَيْراتِ أَيْنَ ما تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَميعًا إِنَّ اللهَ علَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيرٌ. بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنَا وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ.

فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ.

اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ

اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ       وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Baca juga:
KHUTBAH JUMAT: MUHASABAH MEMBUAT DIRI BERUBAH

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# KHUTBAH JUMAT: MENEMPUH JALAN LURUS
# KHUTBAH JUMAT: MENEMPUH JALAN LURUS

Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa

Allah SWT telah berfirman dalam Alquran:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)

Persatuan merupakan hal urgen dalam kehidupan manusia, tak terkecuali dalam hal berbangsa dan bernegara. Islam pun mengecam segala bentuk perpecahan antar anak bangsa. Karena sejatinya perpecahan dapat mengakibatkan kehancuran sebuah bangsa yang mempermudah para musuh untuk memporak-porandakan sebuah negara. (Lihat: Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsir al-Bahr al-Muhith, [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002] vol. IV hal. 499)

Pentingnya Persatuan

Pendiri (Muassis) Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, dalam Muqaddimah Qanun Asasi mengingatkan akan pentingnya persatuan bangsa. Sebagaimana ungkapan beliau:

وَمِنَ الْمَعْلـُوْمِ اَنَّ النَّاسَ لاَبُدَّ لَهُمْ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ وَالْمُخَالَطَةِ ِلأَنَّ الْفَرْدَ الْوَاحِدَ لاَيُمْكِنُ اَنْ يَسْتَقِلَّ بِجَمِيْعِ حَاجَاتِهِ، فَهُوَ مُضْظَرٌّ بِحُكْمِ الضَّرُوْرَةِ اِلَى اْلاِجْتِمَاعِ الَّذِيْ يَجْلِبُ اِلَى اُمَّتِهِ الْخَيْرَ وَيَدْفَعُ عَنْهَا الشَّرَّ وَالضَّيْرَ. فَاْلإِتِّحَادُ وَارْتِبَاطُ الْقُلُوْبِ بِبَعْضِهَا وَتَضَافُرُهَا عَلَى اَمْرٍ وَاحِدٍ وَاجْتِمَاعُهَا عَلَى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ أَهَمِّ اَسْبَابِ السَعَادَةِ وَاَقْوَى دَوَاعِى الْمَحَبَّةِ وَاْلمَوَدَّةِ. وَكَمْ ِبهِ عُمِّرَتِ البِلاَدُ وَسَادَتِ الْعِبَادُ وَانْتَشَرَ الْعِمْرَانُ وَتَقَدَّمَتِ اْلاَوْطَانُ وَاُسِّسَتِ الْمَمَالِكُ وسُهِّلَتِ المسَاَلِكُ وَكَثُرَ التَّوَاصُلُ اِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ فَوَائِدِ اْلاِتِّحَادِ الَّذِيْ هُوَ اَعْظَمُ الْفَضَائِلِ وَأَمْتَنُ اْلاَسْبَابِ وَالْوَسَائِلِ

“Sebagaimana diketahui, manusia adalah makhluk yang harus hidup bemasyarakat (komunal) dan berinteraksi dengan yang lain. Karena seseorang tidak akan mampu memenuhi segala kebutuhannya sendiri. Suatu keharusan baginya untuk bermasyarakat, berkumpul yang membawa manfaat bagi umatnya dan menolak kemdlaratan serta ancaman darinya. Sebab itu, persatuan, ikatan batin, saling bantu dalam suatu masalah dan kesepakatan bersama merupakan penyebab kebahagiaan dan faktor penting dalam menciptakan persaudaraan dan kasih sayang. Sungguh banyak negara-negara yang menjadi makmur, rakyat banyak yang menjadi pemimpin hebat, pembangunan merata, negeri-negeri menjadi maju, kedaulatan pemerintah ditegakkan, jalan-jalan menjadi mudah, perhubungan menjadi ramai dan masih banyak lagi manfaat dari persatuan yang merupakan keutamaan yang agung serta menjadi sarana yang paling ampuh.” (Lihat: Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun Asasi Jam’iyyah Nahdlatul Ulama pada At-Tibyan [Jombang: Maktabah at-Turats al-Islami, t.t.) hal. 22)

Bahaya Perpecahan

Apabila manfaat dari sebuah persatuan bangsa sedemikian besar, maka sebaliknya bahaya dari sebuah perpecahan tidak kalah besar. Perpecahan bangsa dapat berdampak menghancurkan sendi-sendi kehidupan, baik kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Dalam lanjutan penegasannya, KH. Hasyim Asy’ari mengatakan:

ِفاَلتَّفَرُّقُ سَبَبُ الضُّعْفِ وَالخِْذْلاَنِ وَالْفَشْلِ فِيْ جمَِيْعِ اْلأَزْمَانِ. بَلْ هُوَ مَجْلَبَةُ الْفَسَادِ وَمَطِيَّةُ الْكَسَادِ وَدَاعِيَةُ الْخَرَابِ وَالدِّمَارِ وَدَاهِيَةُ اْلعَارِ وَالشَّتَّارِ. فَكَمْ مِنْ عَائِلاَتٍ كَبِيْرَةٍ كَانَتْ فِيْ رَغَدٍ مِنَ اْلعَيْشِ وَبُيُوْتٍ كَثِيْرَةٍ كَانَتْ آهِلَةً بِأَهْلِهَا حَتّى اِذَا دَبَّتْ فِيْهِمْ عَقَارِبُ التَّنَازُعِ وَسَرَى سُمُّهَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ، وَأَخَذَ مِنْهُمُ الشَّيْطَانُ مَْأخَذَهُ تَفَرَّقُوْا شَذَرَمَذَرَ فَأَصْبَحَتْ بُيُوْتُهُمْ خَاوِيَةً عَلَى عُرُوْشِهَا.

“Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, dan penyebab kehinaan dan kenistaan. Betapa banyak keluarga-keluarga besar semula hidup dalam keadaan makmur, rumah-rumah penuh dengan penghuni, sampai suatu ketika kalajengking perpecahan merayapi mereka, bisanya menjalar meracuni hati mereka dan syaitanpun melakukan perannya, mereka porak poranda. Dan rumah-rumah mereka runtuh berantakan.” (Lihat: Asy’ari, Muqaddimah, hal. 23)

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seluruh anak bangsa kecuali bersatu-padu menjaga NKRI, mengawal Bhinneka Tunggal Ika, berpijak pada UUD 1945 dengan semangat Pancasila, mewujudkan kemaslahatan bersama melalui persatuan dan kesatuan bangsa. []waAllahu a’lam

Baca juga: NASIONALISME RELIGUS MANHAJ KEBANGSAAN ULAMA’ NUSANTARA

Subscribe juga: Pondok Pesantren Lirboyo

# PENTINGNYA MENJAGA PERSATUAN BANGSA
# PENTINGNYA MENJAGA PERSATUAN BANGSA

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah