Hukum Puasa Bagi Pekerja Berat

Hukum Puasa Bagi Pekerja Berat

Kita Tahu bahwa ibadah puasa merupakan sebuah kewajiban bagi seluruh umat Islam. Tetapi mencari nafkah untuk keluarga juga merupakan sebuah kewajiban. Dan memang kewajiban puasa itu tidak bermaksud menghalangi manusia untuk mencari nafkah.

Namun adakalanya aktivitas mencari nafkah memerlukan tenaga besar dan kondisi fisik yang prima. Karenanya untuk sejumlah orang pada profesi tertentu, dengan berpuasa akan mengurangi tenaga yang diperlukan. Mereka adalah para pekerja berat. Lalu bagaimanakah menanggapi hal yang demikian??

Syarat-syarat Boleh Membatalkan Puasa

Dalam kitab Bughyatul mustarsyidin. Sayyid `Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin `Umar al-Masyhur menjelaskan bahwa pekerja berat tidak diperbolehkan membatalkan puasanya kecuali  memenuhi 6 syarat berikut ;

  1. Pekerjaannya tidak bisa di tunda sampai bulan syawal.
  2. Tidak bisa dikerjakan di malam hari. Atau bisa di kerjakan di malam hari akan tetapi akan mengalami kerugian, seperti menimbulkan rusaknya hasil panen.
  3. Terjadi masyaqqot (kelelahan) pada waktu melakukan pekerjaan.
  1. Dimalam hari tetap wajib niat, dipagi hari berpuasa baru setelah benar-benar menemukan masyaqqot (kepayahan) boleh berbuka/membatalkan puasanya.
  2. Saat berbuka diniati melakukan keringanan hukum syariat.
  3. Bekerjanya tidak di jadikan tujuan atau membebani diri di luar batas kemampuan agar dapat keringanan berbuka puasa.

Adapun ukuran masyaqqot dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat sebagai berikut :

  • Masyaqqot yang membahayakan terhadap dirinya seukuran di perbolehkannya melakukan tayammum atau sholat dengan duduk.
  • Masyaqqot yang setara atau bahkan lebih dari masyaqqotnya puasa dalam bepergian menurut  Imam izzuddin bin abdissalam.
Sumber : Sayyid `Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin `Umar al-Masyhur, Bughyah Al-Mustarsyidin, Hal. 112, Darul Fikr, Beirut, Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, Al-Asybah Wa An-Nadzair, Hal. 81, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut.

بغية المسترشدين ص 112

مسألة : لا يجوز الفطر لنحو الحصاد وجذاذ النخل والحراث إلا إن اجتمعت فيه الشروط. وحاصلها كما يعلم من كلامهم ستة: أن لا يمكن تأخير العمل إلى شوّال، وأن يتعذر العمل ليلاً، أو لم يغنه ذلك فيؤدي إلى تلفه أو نقصه نقصاً لا يتغابن به، وأن يشق عليه الصوم مشقة لا تحتمل عادة بأن تبيح التيمم أو الجلوس في الفرض خلافاً لابن حجر، وأن ينوي ليلاً ويصحب صائماً فلا يفطر إلا عند وجود العذر، وأن ينوي الترخص بالفطر ليمتاز الفطر المباح عن غيره، كمريض أراد الفطر للمرض فلا بد أن ينوي بفطره الرخصة أيضاً، وأن لا يقصد ذلك العمل وتكليف نفسه لمحض الترخص بالفطر وإلا امتنع، كمسافر قصد بسفره مجرد الرخصة، فحيث وجدت هذه الشروط أبيح الفطر، سواء كان لنفسه أو لغيره وإن لم يتعين ووجد غيره، وإن فقد شرط أثم إثماً عظيماً ووجب نهيه وتعزيره لما ورد أن: “من أفطر يوماً من رمضان بغير عذر لم يغنه عنه صوم الدهر.

الأشباه والنظائر في قواعد وفروع فقه الشافعية للإمام السيوطي ص 81

الثَّالِثَةُ: مُتَوَسِّطَةٌ بَيْنَ هَاتَيْنِ الْمَرْتَبَتَيْنِ. فَمَا دَنَا مِنْ الْمَرْتَبَةِ الْعُلْيَا، أَوْجَبَ التَّخْفِيفَ، أَوْ مِنْ الدُّنْيَا، لَمْ يُوجِبْهُ كَحُمَّى خَفِيفَةٍ وَوَجَعِ الضِّرْسِ الْيَسِيرِ، وَمَا تَرَدَّدَ فِي إلْحَاقِهِ بِأَيِّهِمَا اُخْتُلِفَ فِيهِ وَلَا ضَبْط لَهَذِهِ الْمَرَاتِبِ، إلَّا بِالتَّقَرُّبِ. وَقَدْ أَشَارَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ إلَى أَنَّ الْأَوْلَى فِي ضَبْطِ مَشَاقِّ الْعِبَادَاتِ: أَنْ تُضْبَطَ مَشَقَّةُ كُلِّ عِبَادَةٍ بِأَدْنَى الْمَشَاقِّ الْمُعْتَبَرَةِ فِي تَخْفِيفِ تِلْكَ الْعِبَادَةِ فَإِنْ كَانَتْ مِثْلَهَا، أَوْ أَزْيَدَ، ثَبَتَتْ الرُّخْصَةُ، وَلِذَلِكَ اُعْتُبِرَ فِي مَشَقَّةِ الْمَرَضِ الْمُبِيحِ لِلْفِطْرِ فِي الصَّوْمِ: أَنْ يَكُونَ كَزِيَادَةِ مَشَقَّةِ الصَّوْمِ فِي السَّفَرِ عَلَيْهِ فِي الْحَضَرِ وَفِي إبَاحَةِ مَحْظُورَاتِ الْإِحْرَامِ: أَنْ يَحْصُلَ بِتَرْكِهَا، مِثْلُ مَشَقَّةِ الْقَمْلِ الْوَارِدِ فِيهِ الرُّخْصَةُ

Pekerja Berat Yang Mendapat Keringanan Syariat

Kemudian Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba ‘Ali Ba’asyan al-Daw’ani al-Hadhrami [1270H] dalam Busyrol Karim mengatakan,

Bagi para pekerja berat saat di bulan romadlon, seperti buruh panen, maupun pekerja berat lainnya, wajib di malam harinya berniat untuk melakukan puasa ramadhan (esok hari). Kemudian apabila di siang harinya dia mengalami kesulitan yang sangat berat, maka ia boleh berbuka (membatalkan puasanya), namun sebaliknya apabila dia tidak mengalami kesulitan saat berpuasa, maka ia boleh tidak membatalkan puasanya.

Tiada perbedaan antara buruh, orang kaya, atau sekedar pekerja berat yang bersifat relawan meskipun mereka menemukan orang lain untuk menggantikan posisinya bekerja, dan juga pekerjaan itu bisa dilakukannya pada malam hari, sebagaimana pendapat Syekh Syarqawi.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Tuhfah menjelaskan bahwa mereka boleh membatalkan puasa apabila mereka tidak mungkin memindah aktivitas pekerjaannya pada malam hari. Apabila seseorang bisa atau tidaknya bekerja tergantung pada berbukanya dia (apabila tetap puasa, dia tidak bisa kerja), sedangkan hasil kerjanya sangat dia butuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang mendesak untuk dirinya dan orang yang wajib dinafkahinya, maka dalam kondisi ini orang tersebut boleh berbuka (membatalkan puasanya). Bahkan jika dia mengalami kesulitan maka dia wajib berbuka (membatalkan puasanya), namun hal ini berlaku jika masyaqqohnya pada kondisi darurat saja.

Kemudian bagi mereka yang kondisinya wajib berbuka, namun dia tetap berpuasa, maka puasanya tetap sah, karena keharaman untuk berpuasa itu berupa faktor eksternal. Dan tidak ada pengaruhnya terhadap hukum ini semisal sakit kepala, atau sakit ringan lainnya yang tidak mengkhawatirkan.,”

Sumber : Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba ‘Ali Ba’asyan al-Daw’ani al-Hadhrami, Busyrol Karim Bisyarh Masa’il At-Ta’lim, Hal. 559, Darul Minhaj, Jeddah.

ويلزم أهل العمل المشق  في رمضان كالحصادين ونحوهم تبييت النية ثم من لحقه منهم مشقة شديدة أفطر، وإلا فلا. ولا فرق بين الأجير والغني وغيره والمتبرع ، وإن وجد غيره وتأتي لهم العمل ليلا كما قاله الشرقاوي. وقال في التحفة إن لم يتأت لهم ليلا، ولو توقف كسبه لنحو قوته المضطر إليه هو أو ممونه علي فطره جاز له، بل لزمه عند وجود المشقة الفطر، لكن بقدر الضرورة ومن لزمه الفطر فصام صح صومه لأن الحرمة لأمر خارج، ولا أثر لنحو صداع ومرض خفيف لا يخاف منه ما مر

Kondisi Pekerja Berat Diukur dari Keadaan Orang Sakit

Kemudian, Imam Nawawi Al-Bantani dalam Nihayatuz Zain fi Irsyadin Mubtadi’in memiliki penjelasan yang lebih spesifik. Sebelum membahas pekerja, beliau membahas terlebih dahulu status wajib puasa bagi orang sakit. Karena, menurut penjelasan beliau kondisi pekerja berat akan diukur dari keadaan orang sakit sejauh mana tingkat kesulitan yang dialami keduanya. Berikut keterangannya :

Ulama membagi tiga keadaan orang sakit (dalam hal puasa). Pertama, kalau misalanya penyakit diprediksi kritis yang memperbolehkan melakukan tayammum, maka penderita makruh untuk berpuasa. Ia diperbolehkan tidak berpuasa. Kedua, jika penyakit kritis itu benar-benar terjadi, atau ada dugaan kuat terjadi kritis, atau kondisi kritisnya dapat menyebabkannya kehilangan nyawa atau menyebabkan disfungsi salah satu organ tubuhnya, maka penderita haram berpuasa. Ia wajib membatalkan puasanya. Ketiga, kalau sakit ringan yang sekiranya tidak sampai keadaan kritis yang membolehkannya tayammum, penderita haram membatalkan puasanya dan tentu wajib berpuasa sejauh ia tidak khawatir penyakitnya bertambah parah. Sama status hukumnya dengan penderita sakit adalah buruh tani, petani tambak garam, buruh kasar, dan orang-orang dengan profesi seperti mereka,”

Sumber : Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Nihayatuz Zein fi Irsyadil Mubtai’in, Al-Ma’arif, Bandung, Halaman 189.

فللمريض ثلاثة أحوال إن توهم ضررا يبيح التيمم كره له الصوم وجاز له الفطر وإن تحقق الضرر المذكور أو غلب على ظنه أو انتهى به العذر إلى الهلاك أو ذهاب منفعة عضو حرم الصوم ووجب الفطر وإن كان المرض خفيفا بحيث لا يتوهم فيه ضررا يبيح التيمم حرم الفطر ووجب الصوم ما لم يخف الزيادة وكالمريض الحصادون والملاحون والفعلة ونحوهم

Kesimpulan

Bagaimanapun wajibnya mencari nafkah, kewajiban puasa Ramadhan juga harus dilaksanakan. Dalam artian, seorang pekerja berat tetap memasang niat puasa di malam hari. Kalau memang di siang hari berpuasa betul-betul terasa berat, serta tidak dapat ditolerir, maka yang berprofesi sebagai pekerja berat diperbolehkan membatalkan puasanya serta menggantinya di luar bulan puasa. Uraian ulama tersebut menunjukkan betapa mulianya ibadah puasa Ramadhan kendati mereka yang udzur tetap mendapat keringanan untuk berbuka puasa.

Baca Juga : Jadwal Ngaji dan Pesantren Ramadhan Pondok Lirboyo 1445 H

Jangan Lupa Kunjungi Media Sosial Pondok Pesantren Lirboyo : InstagramFacebookYoutube.

2 thoughts on “Hukum Puasa Bagi Pekerja Berat

  1. kalau kita mau mengkaji dan memahami hukum syar’i pasti ada jalan keluar untuk beban kehidupan didunia ini, keberkahan riski tergantung pada niyat dan proses dalam mencari. Ibadah itu mudah bila didasari pasrah pada IIlahi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.