HomeArtikel Memaknai Tahun Baru Islam; Antara Euforia dan Hikmah

 Memaknai Tahun Baru Islam; Antara Euforia dan Hikmah

0 2 likes 275 views share

Datangnya tahun baru Hijriyyah menandai dimulainya sebuah babak baru dalam episode-episode kehidupan yang akan dijalani oleh setiap orang, setiap umat, atau setiap bangsa dalam suatu periode tertentu. Pergantian tahun ini juga dapat dijadikan sebagai momentum untuk menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan begitu, suatu babak yang akan dimulai ini menjadi sebuah ajang evaluasi pembenahan diri untuk lebih meningkatkan kualitas, pencapaian target, taraf kehidupan, dan lain sebagainya.

Dari beberapa hal tersebut, aspek evaluasi menjadi sangat penting untuk dijadikan prioritas. Semuanya perlu melakukan langkah nyata dalam aspek terpenting ini, mulai dari individu perorangan, organisasi, umat, maupun bangsa. Karena hanya dalam aspek ini yang akan menjadi pijakan dasar dalam melangkah dan menentukan sikap serta tindakan di tahun berikutnya. Karena sudah menjadi realita yang tak terbantahkan, tanpa evaluasi yang benar dan matang akan nyaris mustahil atau setidaknya sangat mustahil bagi siapapun untuk melakukan pembenahan-pembanahan dan peningkatan-peningkatan secara maksimal pada tahun mendatang.

Namun, hal terpenting yang sangat urgen dalam aspek ini adalah upaya evaluasi untuk membenahi beberapa kekurangan dan meningkatkan kualitas diri sendiri.  Dengan demikian, datangnya tahun baru seharusnya menjadi  kesempatan untuk melakukan Muhasabah An-Nafs (intropeksi diri) bagi setiap individu manusia guna memperbaiki kualitas diri yang pada gilirannya mengantarkan umat pada kemajuan dan kejayaannya. Dalam menangani problematika umat tersebut, Allah Swt telah berfirman di dalam Alqur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”, (QS. Ar-Ra’du: 11).

Dengan demikian, selama umat tidak melakukan evaluasi diri dan membenahi kemunduran serta ketertinggalannya, maka Allah Swt tidak akan menjadikan mereka umat yang maju. Dalam konteks ini, bukan berarti Allah Swt tidak mampu untuk memajukan umat dengan kekuasaan-Nya. Karena pada dasarnya Allah Swt maha mampu untuk memajukan umat-Nya tanpa campur tangan dan partisipasi mereka. Hanya saja, Allah Swt telah menjadikan hukum sebab-akibat menyatu dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan ini. Maka dari itu pada ayat selanjutnya Allah Swt berfirman:

وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚوَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

 “Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka sendiri”, (QS Ar-Ra’du: 11).

Sehingga tahun baru Islam adalah momentum penting sebagai ajang untuk memajukan umat, bangsa dan negara. Inilah cara islami yang mesti dilakukan umat Islam setiap menyambut tahun baru Islam.

Bukan Euforia Semata

Fenomena yang berkembang di kalangan masyarakat Islam selalu menarik untuk dikaji. Karena bagaimanapun, semuanya tidak pernah terlepas dari perkembangan syariat dan corak kehidupan sosial yang ada di dalamnya. Salah satu diantaranya adalah sikap mereka saat memasuki awal tahun dalam hitungan kalender Islam, yakni tahun baru Hijriyah.

Tidak seperti tahun baru masehi yang dirayakan dengan berbagai euforia kemeriahan dalam perayaan. Menyambut tahun baru Islam cenderung berbanding terbalik. Fenomena tersebut bukan berarti tanpa dasar, namun dalam konteks ini, umat Islam begitu memahami apa yang seharusnya diperbuat dalam menentukan sikap dan tindakan yang harus mereka perbuat.

Dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur fi al-Ad’iyah al-Ma’tsurah allati Tasyrahu al-Shudur, karya Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Qudus al-Makki al-Syafi’i, (1277-1335 H), salah satu amalan yang dianjurkan para ulama salaf dalam menyambut tahun Baru Islam adalah dengan memanjatkan doa yang dibaca di akhir tahun (setelah salat Ashar di akhir bulan Dzulhijjah) dan awal tahun (setelah salat Maghrib di malam pertama bulan Muharram).

Senada dengan hal itu, ada juga beberapa kegiatan positif dan bermanfaat lainnya yang sering dilakukan dalam menyambut tahun baru Islam, seperti pengajian umum, istighosah bersama, selamatan dan doa bersama, dan lain sebagainya. Pada intinya, semua itu diselenggarakan dengan tujuan untuk mengagungkankan tahun baru Islam serta menghayati dan memahami hikmah yang terkandung di dalamnya. Suatu pepatah Arab mengatakan:

فَإِذَا عَرَفْتَ السَّبَبَ تَعَيَّنَ الْمُرَادُ

“Ketika engkau tahu latarbelakangnya, maka akan jelaslah sesuatu yang dimaksud didalamnya”.

Namun yang perlu digarisbawahi, segala bentuk perayaan yang dilakukan umat Islam tidak pernah terlepas untuk selalu berpijak pada dasar legalitas hukum yang kuat. Secara otomatis upaya pengagungan yang dikemas dalam bentuk perayaan tersebut tidak hanya sebatas simbolis syiar Islam belaka. Akan tetapi lebih menitikberatkan pada pertimbangan dampak dan manfaatnya bagi umat Islam ke depannya.

Dengan memahami arti dan spirit dasar yang sebenarnya, umat Islam tidak akan mudah terjebak dalam kemeriahan euforia tanpa makna. Namun lebih dari itu, yakni mereka menjadikan momentum tahun baru Hijriyah sebagai ajang untuk membangun kemajuan dan integritas umat. [] waAllahu a’lam.