Refleksi Isra Mi’raj; Pulang ke Bumi Membawa Kado Tuhan

Refleksi Mi'raj; Pulang Ke Bumi Membawa Kado Tuhan

Refleksi Isra Mi’raj; Pulang ke Bumi Membawa Kado Tuhan

Seperti kebahagiaan seorang ayah dalam perjalanan pulang ke rumah membawa bingkisan istimewa untuk sang anak, atau seperti kebahagiaan seekor burung pipit memungut biji-biji padi demi menyuapi si bayi, atau seperti kebahagiaan mempelai laki-laki yang hendak menghadiahi kekasihnya cincin emas bertabur mutiara lalu disematkan di jari manisnya.

Seperti itulah barangkali kebahagiaan yang menyelimuti Rasulullah Saw dalam perjalanan pulang ke bumi setelah menghirup taburan-taburan wahyu di angkasa tinggi jagat raya: menemui umat terkasihnya, menghadiahi mereka dengan “kado” istimewa dari Tuhan. Atau, tamsil-tamsil itu sebenarnya masih kurang tepat dan benar. Sebab, kebahagiaan Rasulullah Saw adalah kebahagiaan yang lain dari pada yang lain. Kebahagiaan yang lahir bukan dari persoalan duniawi yang remeh remeh.

Seperti terisap oleh kekuatan tak terbatas, Rasulullah Saw dan Jibril melesat turun ke bumi, menembus konstelasi-konstelasi langit. Dan layaknya seorang raja besar mengitari penjuru kota, di setiap tingkatan-tingkatan langit Rasulullah Saw disambut meriah oleh para malaikat Allah.

Para malaikat beramai-ramai mengucapakan salam, menaburkan doa kebaikan, dan melemparkan kata-kata penghormatan kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Alam malakut mendadak seperti sedang menggelar pawai agung. Pawai agung yang diadakan demi menaruh rasa hormat kepada baginda Nabi Muhammad Saw yang baru saja menjadi tamu agung Allah, dan hendak pulang ke bumi membawa “Kado Tuhan” untuk segenap umat terkasihnya.

Ketika Rasululllah Saw dan Jibril secara sempurna telah melewati seluruh konstelasi langit, keanehan terjadi. Di bawah langit pertama, beliau melihat kepulan-kepulan asap yang amat tebal dan banyak sekali, disertai suara gemuruh dan berdentum- dentum sangat keras, hampir memecahkan gendang telinga.

“Apa ini, Jibril?” tanya Rasulullah  Saw penasaran. “Kepulan-kepulan asap ini adalah setan-setan yang menutupi penglihatan manusia sehingga mereka tak bisa berfikir dan merenungi kerajaan-kerajaan langit dan bumi. Seandainya tidak ada setan-setan itu, niscaya manusia akan bisa melihat dengan jelas keajaiban-keajaiban ciptaan Allah, (seperti aktifitas naik-turunnya malaikat dari langit ke bumi)” terang Jibril.

Rasulullah Saw terus melesat turun ke bumi, dan mendarat tepat di atas sebongkah batu besar (sakhrah) di dalam Masjid al- Aqsha. Ya, sebongkah batu besar yang menjadi pijakan Nabi mi’raj ke langit itu.

Keberkahan Baitul Maqdis - Adara Relief International

Mikail, dan Buraq yang ditambatkan ke sahkrah itu, langsung menyambut kedatangan Rasulullah. Beliau pun bersegera menaiki Buraq, lalu disusul Jibril mengambil posisi sayap sebelah kanan memegang sanggurdi, lalu Mikail mengambil posisi sayap sebelah kiri memegang kendali. Dengan sekali kepakan sayap, Buraq berderap melesat secepat kilat mengantar Rasulullah Saw menuju arah selatan, pulang ke kota Makah al-Mukarramah.

Dalam perjalanan Jerusalem-Mekah ini, Rasulullah Saw bertemu dengan tiga kafilah yang membawa barang-barang dagangan klan Quraisy. Tiga kafilah ini rupanya habis perjalanan dari negeri Syam dan hendak pulang ke Mekah.

Kafilah pertama dari klan Bani Makhzum. Di tengah perjalanan pulang ke Mekah ini, mereka kehilangan unta dan berbondong-bondong mencarinya. Rasulullah mengetahui hal ini, lalu menyapa mereka dengan mengucapkan salam penghormatan sebelum kemudian mengabarkan keberadaan unta yang hilang itu.

“Unta kalian ada di lembah kurma (wādī an-nakhl),” kata Rasulullah.

Kafilah Bani Makhzum tidak menangkap sosok baginda Nabi Muhammad Saw, tapi mereka yakin akan satu hal: suara yang barusan terdengar adalah suara milik Muhammad bin Abdullah.

“Ini adalah bau aroma dan suara Muhammad,” ucap salah seorang dari kafilah itu.

Kisah Jenaka Sahabat Nu'aiman, Sembelih Unta Milik Tamu Rasulullah SAW - Regional Liputan6.com

Tanpa pikir panjang lagi, semua orang dari kafilah itu pun mengikuti saran Rasulullah, pergi ke wādī an-nakhl. Dan memang benar, unta yang hilang itu ditemukan di sana. Sementara mereka di wādī an-nakhl, Rasulullah Saw menghampiri perkemahan milik mereka yang dibuat untuk melepas lelah di tengah perjalanan. Di perkemahan itu beliau mendapati cawan berisi air putih, lalu beliau meneguknya dan meletakkan kembali ke tempat semula, lalu pergi.

Ketika semua orang dari kafilah itu kembali ke perkemahan, mereka mendapati cawan itu kosong, tak berisi air sama sekali. Mereka yakin, ada seorang musafir yang telah lewat dan meminum air di cawan itu. Tetapi siapakah seorang musafir itu? Mereka hanya bisa menebak.

Kafilah kedua adalah segerombolan orang yang membawa unta merah dan diikat dengan dua karung: karung hitam dan karung putih. Unta merah itu terlihat ketakutan akibat diliputi oleh cahaya terang benderang yang melintas secara tiba-tiba, lalu lari terbirit-birit dan terjatuh menghunjam di atas tanah sehingga sebagian kakinya patah.

Kafilah ketiga adalah segerombolan orang yang dilihat Rasulullah Saw sedang berada di Tan’im. Kafilah ini membawa seekor unta warna keabu-abuan yang diselimuti kain tenunan kasar penghangat berwarna hitam, dan memikul dua karung hitam.

Ketiga kafilah inilah yang nantinya akan berbicara sendiri tentang kebenaran perjalanan malam mulia Nabi Muhammad Saw ini, dan menjadi bukti tak terbantahkan.

Sebelum fajar benar-benar terbit, Rasulullah telah tiba di sumur Zamzam di dekat Ka’bah. Di sana Israfil yang sedari tadi menunggu kedatangan Rasulullah, lantas menyambut takzim. Beliau lalu turun dari Buraq dan dibopong dengan penuh penghormatan oleh ketiga malaikat itu, menuju Hijr Ismail, tempat di mana beliau tidur sebelum perjalanan malam mulia ini dimulai.

Ketiga malaikat itu pun dengan penuh kelembutan menelentangkan Rasulullah di Hijr Isma’il seperti posisi semula, yaitu telentang di antara dua orang: Hamzah dan Ja’far yang masih terlelap tidur dan tak terusik sama sekali dengan kehadiran mereka berempat. Anehnya, tempat di mana Rasulullah berbaring itu masih menyimpan kehangatan, bagai selingkar tempat di sebuah ruangan yang baru saja ditinggal beberapa detik oleh orang yang mendudukinya.

Ketiga malaikat itu sempat menyematkan simbol perpisahan sebelum betul-betul meninggalkan Rasulullah. Jibril As, Mikail, dan Israfil secara bergantian mengecup kening Rasulullah Saw, lalu dipungkasi dengan kalimat perpisahan dari Jibril, “Ya Muhammad, jika pagi sudah menjelang, ceritakanlah kepada kaum-mu apa yang sedang terjadi tadi malam. Allah akan menguatkanmu dan menolongmu.”

Dalam sekejap mata, ketiga malaikat itu pun pergi meninggalkan Rasulullah Saw.

Referensi: Badr Muhammad ‘Asl, As-Sirāj Al-Wahhāj, Hal. 101.-Ahmad ad-Dardir, Hasyiah ad-Dardir, Hal.  26.

 

Baca Juga; Amalan Jumat Terakhir di Bulan Rajab, Wajib Tahu

Follow Instagram; @pondoklirboyo

Subscribe; Pondok Lirboyo

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.