All posts by Nasikhun Amin

Pembagian Air dalam Fikih

Dalam fikih, keberadaan air memiliki peran penting sebagai salah satu media utama yang digunakan dalam bersuci, baik bersuci dari hadas atau bersuci dari najis. Karena itu, Islam memberikan aturan yang sangat ketat terhadap kriteria air yang dapat digunakan untuk bersuci.

Dari karakteristiknya, dalam Mazhab Syafi’i air terbagi menjadi empat kategori:

Pertama, air suci dan mensucikan serta tidak makruh untuk digunakan. Nama lainnya adalah air mutlak. Yaitu air murni yang menetapi sifat aslinya serta tidak terikat dengan nama yang selalu mengikat. Air Mutlak termasuk air suci dan mensucikan serta tidak makruh untuk digunakan. Menurut Imam Ibnu Qasim al-Ghazi, ada tujuh macam air yang termasuk air mutlak, yakni air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air salju, dan air dari hasil hujan es.

Air Mutlak

Secara ringkas air mutlak adalah air yang turun dari langit atau yang bersumber dari bumi dengan sifat asli penciptaannya. Bila sifat asli penciptaannya berubah maka ia tak lagi disebut air mutlak dan hukum penggunaannya pun berubah. Hanya saja perubahan air bisa tidak menghilangkan kemutlakannya apabila perubahan itu terjadi karena air tersebut diam pada waktu yang lama, karena tercampur sesuatu yang tidak bisa dihindarkan seperti lempung, debu, dan lumut, atau karena pengaruh tempatnya seperti air yang berada di daerah yang mengandung banyak belerang.

Air Musyammas

Kedua, air suci dan mensucikan namun makruh untuk digunakan, yakni Air Musyammas. Secara definisi, air Musyammas ialah air yang dipanaskan di bawah terik sinar matahari dengan menggunakan wadah yang terbuat dari logam selain emas dan perak, seperti besi atau tembaga. Air ini hukumnya suci dan menyucikan, hanya saja makruh bila dipakai untuk bersuci. Secara umum air ini juga makruh digunakan bila pada anggota badan manusia atau hewan yang bisa terkena kusta seperti kuda, namun tak mengapa bila dipakai untuk mencuci pakaian atau lainnya. Meski demikian air ini tidak lagi makruh dipakai bersuci apabila telah dingin kembali.

Air Musta’mal & Air Mutaghayyir

Ketiga, air suci namun tidak dapat mensucikan. Dalam hal ini ada dua macam yakni Air Musta’mal (yang telah digunakan) dan Air Mutaghayyir (yang telah berubah).

Air Musta’mal yaitu air yang telah digunakan untuk bersuci baik untuk menghilangkan hadas seperti wudlu dan mandi ataupun untuk menghilangkan najis bila air tersebut tidak berubah dan tidak bertambah volumenya setelah terpisah dari air yang terserap oleh barang yang dibasuh. Air Musta’mal ini tidak bisa digunakan untuk bersuci apabila tidak mencapai dua Qullah. Sedangkan bila volume air tersebut mencapai dua Qullah maka tidak disebut sebagai air Musta’mal dan bisa digunakan untuk bersuci.

Para ulama Madzhab Syafi’i menyatakan bahwa air dianggap banyak atau mencapai dua Qullah apabila volumenya mencapai kurang lebih 192,857 kilogram atau 191,25 liter.

Adapun air Mutaghayyir adalah air yang mengalami perubahan salah satu sifatnya yang disebabkan tercampur dengan barang suci yang lain dengan perubahan yang menghilangkan kemutlakan nama air tersebut. Berdasarkan sebabnya, air muthaghayyir dibagi menjadi tiga macam, yaitu;

(a) Mutaghayyir bi al-Mukhalith

Mutaghayyir bi al-Mukhalith merupakan air yang berubah sifat-sifatnya sebab bercampur dengan benda suci lainnya hingga mempengaruhi terhadap nama dan statusnya, semisal air teh dan semacamnya.

(b) Mutaghayyir bi al-Mujawir

Mutaghayyir bi al-Mujawir merupakan air yang berubah sifat-sifatnya sebab terpengaruh benda lain yang ada di sekitarnya. Contohnya adalah air yang berdekatan dengan bunga mawar sehingga tercium aroma mawar pada air tersebut.

(c) Mutaghayyir bi Thuli al-Muktsi

Mutaghayyir bi Thuli al-Muktsi merupakan air yang berubah sifat-sifatnya sebab terlalu lama diam. Seperti air kolam yang tidak pernah digunakan oleh seseorang sehingga berubah sifatnya.

Di antara ketiga jenis air Mutaghayyir tersebut hanya dua yang bisa kita gunakan untuk bersuci yaitu air Mutaghayyir bi al-Mujawir dan Mutaghayyir bi Thuli al-Muktsi. Dan yang tidak bisa digunakan untuk bersuci adalah air mutaghayyir bi al-Mukhalith.

Air Mutanajis

Keempat, Air Mutanajis. Yaitu air yang terkena barang najis yang volumenya kurang dari dua qullah atau volumenya mencapai dua qullah atau lebih namun berubah salah satu sifatnya—warna, bau, atau rasa—karena terkena najis tersebut. Air sedikit apabila terkena najis maka secara otomatis air tersebut menjadi Mutanajis meskipun tidak ada sifatnya yang berubah. Sedangkan air banyak bila terkena najis tidak menjadi mutanajis bila ia tetap pada kemutlakannya, tidak ada sifat yang berubah. Adapun bila karena terkena najis ada satu atau lebih sifatnya yang berubah maka air banyak tersebut menjadi air Mutanajis.

Air Mutanajis ini tidak bisa digunakan untuk bersuci, karena dzatnya air itu sendiri tidak suci sehingga tidak bisa dipakai untuk menyucikan. []waAllahu a’lam


Referensi:
Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, I/25-37, cet. al-Haramain.
Al-Fiqh al-Manhaji, I/34, cet. Dar al-Qalam.

# PEMBAGIAN AIR DALAM FIKIH

Baca juga:
KOTORAN DI BAWAH KUKU, BAGAIMANA WUDLUNYA?

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal

# PEMBAGIAN AIR DALAM FIKIH
# PEMBAGIAN AIR DALAM FIKIH

Mendoakan Kebaikan untuk Pemimpin Bangsa

Suatu ketika, Imam Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, niscaya aku tidak menggunakan doa itu kecuali untuk kebaikan pemimpin.”

“Mengapa bisa begitu?” tanya seseorang.

“Sebab, jika aku menggunakan doa itu hanya untukku, maka kemanfaatannya juga pada diriku saja. Namun jika aku menggunakan doa itu untuk pemimpinku, maka kemanfaatannya akan kembali pada rakyat dan negara.” jawab Fudhail bin ‘Iyadh.

Ketika ditanyakan tentang maksudnya, maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Jika saya jadikan doa itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri,”


Disarikan dari kitab Hilyah al-Aulia’, VIII/91, karya Abu Nu’aim al-Ashfihani.

Baca juga: METODE SALAT KHUSYUK HATIM AL-ASHAM

Simak juga: Prinsip dalam Beramal

Berkenalan dengan Ilmu Mantiq

Ilmu Mantiq (logika) disebut juga Mi’yar al-‘Ulum (standar beberapa ilmu) dan ilmu Mizan (ilmu pengukur). Cabang ilmu ini dinamakan mantiq, karena secara bahasa, ‘mantiq‘ memiliki keterkaitan dengan tiga
pemaknaan :

  1. Beberapa pemahaman yang bersifat menyeluruh (al-idzrakat al-kulliyat);
  2. Kemampuan berpikir (al-quwwah al-‘aqilah), sebagai sumber lahirya beberapa pemahaman yang bersifat menyeluruh.
  3. Penyampaian (pengucapan) atas beberapa pemahaman tersebut. [Lihat: Al-Malawi, Syarh as-Sullam, hlm. 31]

Sedangkan pengertian ilmu mantiq secara istilah diartikan sebagai berikut:

أَلَةٌ قَانُوْنِيَّةٌ تَعْصِمُ مُرَاعَتُهُ الذَّهْنَ عَنِ الْخَطَاءِ فِى فِكْرِهِ

“Suatu alat yang berisi aturan-aturan di mana dengan menjaganya kita dapat melindungi hati dari kesalahan berpikir.” [Lihat: Al-Ahdlari, Syarh al-‘Allamah al-Ahdlari ‘ala as-Sullam, hlm. 24]

Manfaat mempelajari ilmu Mantiq di antaranya :
a. Melindungi hati (pikiran) agar tidak terjerumus pada kesalahan pola berpikir;
b. Sebagian Ulama mengatakan, apabila ilmu ini kita kuasai dan kita terapkan maka ilmu ini bisa membantu membedakan antara karangan shahih (benar) dan fasid (rusak).

llmu ini pertama kali muncul di negara Yunani dan sebagai pencetusnya adalah Aristoteles. Tema pembahasan dalam ilmu ini mengenai pengetahuan-pengetahuan yang bersifat tashawwur (memahami makna tanpa penyandaran hukum) dan tashdiq (memahami penyandaran hukum).

Sumber dari ilmu ini berasal dari akal manusia. Sedangkan pembahasan di dalamnya berkisar mengenai keputusan-keputusan yang bersifat penalaran, yang mengulas tentang sifat al-mu’arrifat (beberapa definisi), al-aqyisat (beberapa qiyas), dan hal-hal lain yang terkait dengan keduanya.

Ilmu ini lebih utama dari pada cabang ilmu lain karena memiliki aspek kegunaan yang bersifat umum. Setiap cabang ilmu berisi tashawwur (konsepsi) atau tashdiq (legalitas), sedangkan ilmu Mantiq menggabungkan keduanya. Meskipun ketika kita pandang dari aspek lain, sebagian cabang ilmu juga lebih unggul dari pada ilmu Mantiq.

Dengan demikian, memandang dari tema pembahasannya, cabang ilmu ini bersifat menyeluruh (kulli) dibandingkan dengan cabang ilmu lain. []waAllahu a’lam

Baca juga:
33 TAHUN MONDOK ‘HANYA’ DAPAT 8 ILMU?

STUDI ILMU BALAGHOH

Simak juga:
Kisah Kafur Seorang Budak yang Diangkat Menjadi Raja

# BERKENALAN DENGAN ILMU MANTIQ
# BERKENALAN DENGAN ILMU MANTIQ

Metode Salat Khusyuk Hatim al-Asham

Dikisahkan, Hatim al-Asham ditanya mengenai salatnya. Ia pun berkata,

“Ketika sudah masuk waktu salat, aku menyempurnakan wudu, kemudian mendatangi tempat yang aku inginkan salat di situ sehingga seluruh tubuhku berkumpul (dalam semangat). Setelah itu aku mendirikan salatku. Kujadikan Ka’bah di depanku, Shirat di bawah kakiku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut di belakangku. Aku merasa seorang itulah salatku yang terakhir. Aku berdiri di antara harapan dan ketakutan. Aku bertakbir dengan tenang, membaca surah dengan tartil, sujud dengan tenang, duduk tawarruk di atas kaki kiri, duduk iftirasy dengan mengeluarkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan yang ditopang jempol, dan disertai keikhlasan. Setelah itu, aku tidak tahu apakah salatku diterima atau tidak.”

Aku berkata, “Lantas bagaimana seseorang yang salat sambil menoleh kanan dan kiri, lupa, bermain-main, dan disertai rasa bosan dari awal sampai akhir?”

Ia berkata, “Hendaknya engkau memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai kekhusyukan dan ketawaduan untuk taat kepada-Nya. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, baik yang kecil maupun yang besar.”


Disarikan dari kitab An-Nail al-Hatsits fi Hikayah al-Hadits, hal. 45-46, karya Abu Hafsh Umar bin Husein as-Samarqandi.

Baca juga:
RAHASIA AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH

Follow juga:
ig @pondoklirboyo

Sekilas Tentang Kitab Fathul Wahhab

Fathul Wahhab merupakan kitab yang sudah familiar di kalangan masyarakat pesantren. Kitab fikih tingkat lanjut ini adalah salah satu karya agung Syaikh Zakaria al-Anshari (w. 926 H), salah satu ulama terkemuka mazhab Syafi’i.

Kitab yang memiliki nama lengkap “Fath al-Wahhab bi Syarhi Manhaj ath-Thullab” ini merupakan Syarah (penjelas) dari karya Syekh Zakaria al-Anshari sebelumnya, yakni Manhaj ath-Thullab yang merupakan ringkasan dari kitab Minhaj Ath-Thalibin karya Imam An-Nawawi.

Sebagaimana telah beliau dalam mukadimah kitab Fathul Wahhab, salah satu hal yang mendasari Syekh Zakaria al-Anshari menulis kitab ini adalah permintaan sebagian muridnya agar ia menulis karya yang lebih memperluas kitab Manhaj ath-Thullab. Sebuah karya yang diharapkan mampu mengurai kata, memperjelas maksud, dan menyempurnakan penjelasan informasi yang ada dalam kitab Manhaj ath-Thullab.

Secara umum, pokok pembahasan yang ada dalam kitab Fathul Wahhab sama dengan kitab-kitab fikih yang lain. Hanya saja, metodologi penulisan yang digunakan Syekh Zakaria al-Anshari dalam kitab Fathul Wahhab cenderung lebih komprehensif. Misalkan pada setiap bab pembahasan, Syekh Zakaria al-Anshari berusaha mengurai maknanya, baik dari aspek bahasa maupun istilah, mencantumkan dalil secara umum, mengurai alur pembahasan secara sistematis, dan memaparkan pendapat ulama Madzhab Syafi’i terkait isu yang beliau bahas.

Kehadiran kitab Fathul Wahhab sebagai literatur fikih Mazhab Syafi’i berhasil mencuri perhatian para ulama. Sehingga wajar, sebagian ulama pun membuat komentar (Hasyiyah) atas kitab ini, di antaranya adalah Hasyiyah al-Jamal ‘ala al-Manhaj karya Syekh Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H) dan Hasyiyah Al-Bujairami ‘ala al-Manhaj karya Syekh Sulaiman al-Bujairami (w. 1221 H), dan lain-lain. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
MENGENAL AL-ASYBAH WA AN-NADHAIR: KITAB KAIDAH FIKIH FENOMENAL KARYA IMAM JALALUDDIN AS-SUYUTHI

Simak juga:
Kisah Seorang Budak yang Diangkat Menjadi Raja

# Sekilas tentang Kitab Fathul Wahhab
# Sekilas tentang Kitab Fathul Wahhab