482 views

Wasiat Abu Hanifah kepada Abu Yusuf yang Membuatnya Menjadi Penasihat Kerajaan

Imam Abu Hanifah adalah salah satu ulama yang memiliki banyak sekali murid. Banyak dari murid-murid beliau yang menjadi ulama besar pada zamannya. Di antara jajaran murid-murid beliau adalah Imam Abu Yusuf.

Imam Abu Yusuf dikenal sebagai seorang santri paling miskin dari seluruh santri-santri Imam Abu Hanifah. Bahkan dikisahkan dalam kitab Ta’lim Muata’alim, untuk menyambung hidup sehari-harinya sampai memunguti kulit-kulit semangka yang berserakan, sekedar mengganjal perutnya yang belum terisi.

Kisah Imam Abu Hanifah dan Wasiat Sebelum Wafat

Suatu hari, ketika Imam Abu Hanifah mendekati ajalnya, beliau memanggil seluruh murid-muridnya untuk mendekat. Lalu beliau membagikan seluruh harta yang beliau miliki tanpa meninggalkan suatupun kecuali selembar baju yang beliau kenakan.

Di antaranya ada yang mendapatkan kitab, beberapa harta, dan lainnya. Namun, salah satu dari murid Imam Abu Hanifah, yakni Imam Abu Yusuf tidak mendengar kabar tentang kejadian tersebut, karena beliau sedang berada di luar pesantren.

Ketika beliau sudah pulang, beliau pun kaget melihat para murid Imam Abu Hnifah yang sedang bubar dari kediaman beliau. Imam Abu Yusuf pun bertanya pada salah satu murid yang dia temui. Apa yang telah saya lewatkan?” “Tadi, Guru telah membagikan seluruh hartanya pada murid-muridnya.”  Kata murid tersebut.

Imam Abu Yusuf tercengang dengan apa yang telah dikatakan oleh murid tersebut. Lalu, dia pun berinisiatif untuk pergi mengunjungi gurunya. Ketika sudah berada dihadapan Imam Abu Hanifah, Imam Abu yusuf berakata. ”Wahai guruku, engkau telah memberikan seluruh harta peninggalanmu kepada murid-muridmu. Sedangkan aku belum mendapatkannya. Maka dari itu, saya meminta nasihat yang akan selalu saya bawa sampai akhir hayat saya.” Imam Abi Hanifah tertegun sesaat.

Lalu beliau berkata. “Kalau kau menginginkan benda peninggalanku, maka baju ini akan menjadi milikmu setelah aku wafat nanti. Dan aku berwasiat padamu. Wasiat yang insya allah akan sangat bermanfaat bagimu kelak. Maka mendekatlah kesini.”  Imam Abu Yusuf mendekatkan dirinya kepada guru tercintanya. Lalu dengan suara yang lirih, Imam Abu Hanifah berkata. “Al-wad-wadul manniyyi kal maniyyi rojuli.” Begitulah pesan Imam Abu Hanifah ysng disampaikan pada Abu yusuf sebelum beliau wafat.

Imam Abu Yusuf pun tercengang dengan wasiat yang diberikan kepadanya. Alwad-wadul maniyyi kaminyyi rojuli yang mana jika diartikan maka berbunyi. “Sperma kelelawar seperti halnya sperma seorang lelaki.” Lama sekali Imam Abu Yusuf memikirkan apa maksud Imam Abu Hanifah berkata demikian. Namun semakin lama dipikirkan, Abu Yusuf semakin tak mengerti. Akhirnya beliau berbaik sangka saja dan tetap mengingat-ngingat pesan yang disampaikan oleh sang guru.

Sepeninggalan Imam Abu Hanifah, murid-murid beliau banyak yang menjadi ulama besar yang berpengerauh di zamannya. Namun tidak dengan  Abu Yusuf. Abu Yusuf menjadi ulama di sebuah desa terpencil yang jauh dari perkotaan. Sehingga nama beliau pada waktu itu belum begitu masyhur seperti halnya murid-murid Imam Abu Hanifah yang lain.

Suatu ketika, Raja Harun ar-Rosyid yang menjadi Khilafah pada masa itu memiliki seorang permaisuri yang terkenal sangat cantik pada zamannya yang bernama Zubaidah. Suatu hari, Raja Harun ar-Rosyid melakukan sebuah perjalanan jauh yang memakan waktu cukup lama, sehingga terpaksa beliau meninggalkan permaisuri tercintanya.

Lama sekali perjalanan beliau sehingga beliaupun merasakan kerinduan dan kekhawatiran terhadap permaisuri tercintanya. Kekhawatiran pun menjelma menjadi kenyataan. Ketika Raja Harun ar-Rosyid telah pulang, beliau tercengang ketika melihat kasur yang ditempati permaisuri tercintanya terdapat noda seperti sperma.

Seketika seluruh istana gempar dengan kasus tersebut. Lalu didatangkanlah seluruh ulama dari seluruh negeri. Segala pendapat telah diutarakan. Namun, tidak ada satupun jawaban yang berhasil memuaskan hati Raja Harun ar-Rosyid. Raja Harun ar-Rosyid pun semakin gelisah. Sampai salah satu dari ulama yang telah dipanggil mengutarakan pendapatnya. “Wahai raja! Jikalau engkau ingin menyelesaikan permasalahan ini, maka panggillah Imam Abu Yusuf. Beliau adalah salah satu dari murid Imam Abu Hanifah.”

Imam Abu Yusuf pun dipanggil menghadap raja. Beliau pun dipaparkan tentang duduk masalah yang tengah terjadi. Dan ketika belau sudah memahami akar dari permasalahnnya, seketika beliau pun teringat dengan pesan yang dikatakan oleh guru beliau sebelum wafat. ‘Sperma kelelawar seperti halnya sperma seorang lelaki.’ 

Beliau pun meminta izin untuk melihat kamar permaisuri. Raja Harun ar-Rosyid memperislahkan Imam Abu Yusuf  untuk melihat kamar permaisuri. Imam Abu Yusuf melihat keadaan sekitar kamar, dan pandangan beliau terfokuskan pada atap ruangan kamar yang berongga. Beliau pun meminta izin pada Raja Harun ar-Rosyid untuk melihat bagian dalam atap yang berongga tersebut.

Dan ketika beliau melihat bagian dalam dari atap tersebut, beliau mendapati seekor kelelawar yang berukuran besar yang mana air spermanya menetes dan membasahi sekitarnya. Imam Abu Yusuf pun turun dan berkata pada Raja Harun ar-Rosyid.

“Wahai raja, hewan inilah yang membasahi kasur permaisuri. Dan cairan yang menempel pada kasur tersebut bisa dipastikan bukan milik seorang lelaki.” Raja Harun ar-Rosyid pun takjub dengan ilmu yang dimiliki oleh Imam Abu Yusuf sehingga Raja Harun ar-Rosyid mengangkat beliau sebagai penasihat kerajaan. Wallau A’lam.

baca juga: Drama, Siapa yang Bicara di bawah Pohon Wudhunya Batal
tonton juga: Tahlil & Kirim Doa Memperingati 7 Hari Wafatnya Alm. KH. M. Ma’ruf Zainuddin

Wasiat Abu Hanifah kepada Abu Yusuf yang Membuatnya Menjadi Penasihat Kerajaan
Wasiat Abu Hanifah kepada Abu Yusuf yang Membuatnya Menjadi Penasihat Kerajaan

Wasiat Abu Hanifah kepada Abu Yusuf yang Membuatnya Menjadi Penasihat Kerajaan
1