34 views

Tentang Meniti Jalan Ilmu

Hidup yang berguna bagi seorang hamba adalah kehidupan yang digunakan untuk menggapai ridho Allah Swt. Untuk menggapainya, seorang hamba harus menempuh jalan panjang kehidupan. Melewati suka-duka, juga tipu muslihat gemerlap dunia.

Untuk mengetahui apakah seorang hamba sudah mendapatkan ridho dari Allah Swt, pertama-tama, ia harus mengetahui apakah sesuatu yang telah dilakukannya telah sesuai menurut timbangan syari’at Islam atau belum. Hujjatul Islam, Imam Ghozali dalam kitab Bidayatul hidayah mengingatkan; seyogyanya, bagi seorang hamba harus mengetahui, bahwa hidayah—yang merupakan indikator keridhaan Allah Swt adalah buah dari ilmu.

Untuk menikmati buah dari ilmu tersebut, seorang hamba harus melalui banyak proses. Imam Ghozali mengistilahkan proses tersebut dengan bidayah dan nihayah. Seorang hamba tidak akan merasakan sebuah akhir dari perjalanan menggapai ridha Allah Swt yang merupakan hakikat kesejatian sebagai manifestasi dari taufiq dan ridha Allah Swt sebelum memulai sebuah permulan yaitu, meneguhkan permulaan seorang pejalan. Mengamalkan syariat Islam.

Agar dapat mengamalkan syariat dengan benar, seorang hamba harus belajar. Kesediaan pergi dari rumah untuk mencari ilmu pengetahuan tentang syari’at adalah sebuah permulaan seorang hamba meniti jalan menggapai ridho Allah Swt.

Baca Juga: Pentingnya Mengamalkan Ilmu.

Belajar juga merupakan sebuah thoriqoh atau jalan yang ditempuh seorang hamba untuk menggapai ridho Allah Swt. Sebagaimana sebuah syair yang ada dalam kitab Hidayatul Adzkiya’;

لكل واحد منهم طريق من طرق # يختاره فيكون من ذا وصلا

كجلوسه بين الانام مربيا # وككثرة الاوراد كالصوم والصلا           

وكخدمة للناس والحمل الحطب # لتصدق بمحصل متمولا           

Setiap orang mempunyai jalan. Dari sekian jalan,ia memilih sebuah jalan untuk menggapai keridhaanNya. Seperti belajar kepada sang guru atau memperbanyak wirid seperti puasa dan berdoa. Juga berkhidmah pada sesama, mencari kayu untuk bersedakah dengan kebaikan yang berlipat ganda.

            Mengutip dari kitab tadzkirah nafi’ah, diantara 45 thoriqoh mu’tabaroh, salah satunya adalah ta’limu fath al qorib, kifayatul awam dan kitab-kitab lainnya. Thoriqoh yang bermakna jalan yang ditempuh seorang hamba untuk menggapai ridha Allah Swt tidak hanya sebatas dengan mengamalkan wirid-wirid tertentu atau puasa-puasa tertentu. Berkhidmah kepada sesama dan belajar merupakan sebuah thoriqoh untuk mendekat dan menggapai ridhoNya.

            Diceritakan pada suatu hari, Rasulullah Saw keluar menuju masjid bersama para sahabat dan menjumpai dua perkumpulan. Yang satu merupakan majelis dzikir dan yang lainnya adalah menjelis fiqh. Kemudian Rasulullah Saw bersebda, ”dua perkumpulan itu merupakan perkumpulan yang mulia, namun perkumpulan yang membahas fiqh itu yang lebih mulia dan aku sukai. Sebab aku diutus untuk itu (menyampaikan dan mengajarkan syari’at).” Kisah ini menunjukkan betapa mulia dan agungnya sebuah thoriqoh ta’lim dan ta’allum.

            Apabila derajat ma’rifat adalah ma’rifatu haqoiqu syai’, mengetahui hakikat dari sesuatu, maka jalan yang paling rasional untuk mencapai derajat itu adalah dengan mengaji dan belajar. Sebab dengan mengaji dan belajar, seorang hamba akan menyingkap tabir ke-tidak tahu-an, ia akan keluar dari gelap kebodohan. Dan dengan ilmu, seorang hamba akan terus bisa memberbaiki diri agar selamat dalam meniti jalan yang diridhaNya, yang penuh godaan dan tipu daya.

Simak Juga: Syarat Orang Mengaji | KH. M. Anwar Manshur.

            Sebagaimana guru-guru kita meneladankan semangat tak kenal lelah dalam meniti jalan ilmu untuk mendekat dan menggapai ridhaNya. Al-maghfur lah KH Abdul Karim selalu mengisi hari-harinya dengan muthola’ah dan nderes banyak kitab. Bahkan ketika berangkat mondok, beliau rela berjalan kaki menuju Bangkalan, lantaran uang yang digunakan untuk bekal perjalanan beliau gunakan untuk membeli kitab baru. Begitu juga KH Marzuqi Dahlan dan KH Mahrus Aly, juga segenap dzurriyah al-maghfur lah KH Abdul Karim. Semuanya adalah sosok pecinta ilmu yang tekun dalam belajar dan mengamalkannya. Sudah seharusya bagi pecintanya selalu mutaba’ah dengan yang dicintainya, yaitu semangat tak kenal lelah meniti jalan ilmu untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki. Wa billahi at-taufiq, lahum al-fatihah..[]

Penulis: Nida Muhammad Santri Ma’had Aly Lirboyo Semester I

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.