Tag Archives: Ilmu

Mengkaji Hadis “Ḥubbul Waṭan Minal Īmān”


Ada sebuah “hadis” yang sering dikutip oleh beberapa orang sebagai dalil untuk meningkatkan rasa nasionalisme. Hadis tersebut berbunyi:

حُبُّ الْوطنِ مِنَ الإيمان

“Cinta tanah air sebagian dari iman.”

Sejauh ini memang belum ada ulama yang menjelaskan kesahihannya. Bahkan Syekh Ash Shaghani mengatakan hadis ini adalah hadis mauḍū’ (palsu); tidak boleh dinisbatkan pada Rasulullah saw. Maka tidak keliru bila ada ulama yang mengatakan itu bukan sabda Nabi.

Lalu, ketika hadis tersebut mauḍū’, apakah lantas rasa cinta tanah air (ḥubbul waṭan) tidak dapat dibenarkan? Jawabannya jelas tidak, karena meskipun dinyatakan mauḍū’, banyak ulama menjelaskan bahwa maknanya sah-sah saja.

Untuk penafsiran maknanya sendiri ada dua. Pertama seperti dijelaskan Ibn Allan dalam Dalīl Al Fāliḥīn:

والإنسان في الدنيا غريب على الحقيقة لأن الوطن الحقيقي هو الجنة كما حمل عليه كثير «حب الوطن من الإيمان» على الجنة وهي التي أنزل الله بها الأبوين ابتداء وإليها المرجع إن شاء الله تعالى

“Manusia di dunia hakikatnya hanyalah pengembara, karena tanah air yang hakiki adalah surga, seperti penafsiran banyak ulama terhadap ‘Ḥubbul waṭan minal īmān’. Surga adalah tempat Allah Swt. menurunkan bapak dan ibu kita pertama kali. Dan ke sanalah tempat (kita) kembali, insyaallah.”

Kedua, tanah air yang dimaksud adalah tanah yang kita kenal dan kita tempati, sebagaimana penjelasan Al‘Ajluni dalam Kasyf Al Khafā`:

أو المراد به الوطن المتعارف ولكن بشرط أن يكون سبب حبه صلة أرحامه، أو إحسانه إلى أهل بلده من فقرائه وأيتامه

“Atau yang dimaksud adalah tanah air yang kita kenal, tapi dengan syarat sebab cintanya adalah menyambung tali silaturahim, berbuat baik kepada penduduknya, lebih-lebih kaum fakir sertaanak-anak yatim.”

Kedua referensi di atas tidak terlalu meributkan soal kesahihan lafal “hadis” tersebut. Sebab, meski dinyatakan maudū’, tidak ada yangsalah dengan maknanya. Hal ini dikuatkan dengan hadis riwayat Imam Bukhari, bahwa ketika Rasulullah saw. datang dari bepergian dan memandang tembok kota Madinah, beliau mempercepat laju untanya; dan bila mengendarai tunggangan(seperti kuda), beliau gerak-gerakkan karena cintanya pada Madinah.

Dalam mengomentari riwayat ini, Ibn Hajar Al ‘Asqalani berkata, “Dari hadis ini ada petunjuk atas keutamaan Madinah serta atas disyariatkannya cinta tanah air.”

Karena maknanya yang sahih sebagaimana telah sedikit dijelaskan penulis, tak heran jika salah satu pahlawan nasional, K.H. M. Hasyim Asy’ari juga pernah mengutip kalimat ini dalam salah satu karyanya. Tentu sebagai ulama hadis yang diakui pada zamannya, beliau tahu ini bukan hadis sahih; beliau tidak menisbatkannya pada Rasulullahsaw.

Walhasil, nasionalisme tak usah dipertentangkan dengan Islam, karena justru dapat menjadi media pengamalan ajaran Islam secara kāffah. Dan, sebagai penutup, penulis akan mengutip pernyataan Sayyidina Umar r.a. terkait pentingnya ḥubbul waṭan:

لولا حب الوطن لخرب بلد السوء، فبحب الأوطان عمرت البلدان

“Tanpa cinta tanah air, niscaya akan hancur suatu negeri yang terpuruk. Maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan.”

Penulis: M. Abdul Rozzaaq, Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Semester VIII. Mengabdi di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat.

kontak twitter @mad_rojak

Semangat Menularkan Ilmu

Pengajaran dan pendidikan merupakan elemen terpenting dalam rangka membumikan ilmu pengetahuan. Sebagai pemegang estafet keilmuan untuk generasi masa depan, seorang guru atau pendidik memiliki keistimewaan yang begitu tinggi. Bahkan banyak sekali ayat al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW yang mengapresiasi peran dan jasanya.

Dalam rangka memberikan spirit dalam mengemban amanah mengajar, setidaknya para guru atau pendidik dapat memahami hal-hal berikut:

Mengajar adalah Ibadah

Mengajar ilmu agama merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin pernah mengutip salah satu hadis yang berbunyi:

لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا، خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dan jika berkat pengajaranmu Allah SWT memberi petunjuk kepada seseorang, maka bagimu itu lebih baik dari pada dunia beserta isinya”.[1]

Selain itu mengajar merupakan salah satu bentuk dari upaya untuk mengamalkan ilmu yang dijanjikan Allah SWT untuk mendapatkan ilmu yang belum diketahuinya. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW pernah bersabda:

مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللَّهُ تَعَالَى عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Barang siapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan memberikan ilmu yang belum pernah diketahuinya”.[2]

Mengajar adalah Proses Belajar

Salah satu metode belajar paling efektif adalah mengajar. Sebagaimana pernyataan Ibnu Abbas dan Ibnu Yusuf dari madzhab Hanafiyah:

بِمَا اَدْرَكْتُمُ الْعِلْمَ ؟ قَالَ مَا اسْتَنْكَفْتُ مِنَ الْإِسْتِفَادَةِ وَمَا بَخِلْتُ مِنَ الْإِفَادَةِ. وَقِيْلَ لِإِبْنِ عَبَّاسَ بِمَا اَدْرَكْتَ الْعِلْمَ ؟ قَالَ بِلِسَانٍ سُؤُوْلٍ وَقَلْبٍ عُقُوْلٍ

Abu Yusuf ditanya; Dengan apa kau mendapatkan ilmu?. Ia menjawab; Dengan tidak henti-hentinya belajar dan tidak pelit untuk mengajarkan. Ibnu Abbas juga pernah ditanya; Dengan apa engkau mendapatkan ilmu?. Ia menjawab; Dengan banyak bertanya dana akal yang jenius”.

Jawaban yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Yusuf sangat benar. Karena pada kenyataannya, ketika seseorang memiliki tuntutan mengajar secara otomatis ia memiliki tuntutan untuk menguasai materi yang harus diajarkan. Bahkan banyak sekali realita yang mengatakan ketika seorang guru banyak mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru di tengah-tengah proses mengajar.

Mengajar adalah Kegiatan Paling Bermanfaat

Manfaat mengajar tidak hanya kembali kepada para santri atau murid. Namun pada hakikatnya proses mengajar memiliki kemanfaatan yang kembali kepada dirinya sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri“. (QS. Al-Isro’: 7) []waAllahu a’lam

 

__________

[1] Ihya’ Ulumuddin, I/10, cet. Darul Fikr.

[2] Bahru al-Fawaid, hlm 100.

Dawuh KH. M. Anwar Manshur Saat Pengarahan Liburan

Sebaik-baiknya orang di dunia itu orang yang mau ngaji.

Kalian mau mengaji merupakan pilihannya Allah SWT maka dari itu kalian yang ngaji ini harus disyukuri dengan cara mempeng.

Ngaji itu harus benar-benar kangelan.

Orang yang baik di dunia itu ada dua, pertama orang yang mulang ngaji yang kedua orang yang mengaji.

Orang beribadah tidak memakai ilmu, ibadahnya tidak diterima.

Kalian adalah pilihane Allah karena kalian mau mengaji jangan berkecil hati, kalian harus mensyukuri itu, dengan cara mengamalkan ilmu yang telah kalian peroleh dan ditambahi ilmu-ilmu yang masih belum diperoleh.

Saat liburan yang masih sekolah disini, kalian di pondok saja menghafalkan pelajaran yang akan datang.

Supaya ringan, saat ramadlon kalian menghafalkan Imrithy, Alfiyyah atau maknun sampai khatam, nanti Syawal sudah enak tinggal nglalar saja tinggal ngaji sudah dapat hafalannya.

Disamping belajar pelajaran yang wajib di pondok, kalian juga pelajari ilmu kemasyarakatan, seperti mengimami tahlilan, berzanji, dibaiyyahan, belajar khotib, selagi masih di pondok.

Jika kalian memiliki ilmu yang cukup dimanapun berada kalian merasa enak, makannya yang mempeng selagi masih di pondok.

Kalian dipondok ada ngaji ada jamaah ada juga yang belajar kalau diluar godaannya macam-macam.

Gunakan kesempatan dipondok belajar macam- macam ilmu terutama situasi masyarakat, kalian pelajari.

Jangan pernah buat mainan di pondok itu daripada menyesal sendiri nantinya.

Terkadang tujuan kita mondok 15 tahun akan tetapi tiba-tiba baru 10 tahun harus pulang , kalau tidak mempeng tinggal menyesalnya saja dan menangis.

Jika dari pondok tidak bisa apa-apa nanti hanya bisa membingungkan orang saja. Namanya orang dari pondok pasti menjadi rujukan masyarakat, karena sudah dianggap belajar syari’at agama islam.

Kalian kalau pulang dari pondok akhlaknya dijaga, jangan pulang tidak memakai peci, celanaan, yang benar kalau pulang seperti di pondok memakai peci, tunjukkan bahwa kalian benar-benar santri, itu merupakan dakwah bil hal.

Dengan menunjukkan sikap dan akhlak yang baik maka masyarakat akan tertarik memondokkan anaknya di pesantren lirboyo.

Jangan sampai melakukan sesuatu yang membuat jelek nama pondok, kalian mondok harus menunjukkan akhlakul karimah, memakai celana boleh tapi yang benar juga pecinya jangan dislempitkan, tunjukkan kalian pondok pesantren, masyarakat biar mau memondokkan anaknya, dimanapun tunjukkan akhlak yang baik.

Jangan sombong, tawadluk itu tidak merasa, meskipun kamu pintar tidak merasa pintar, meskipun kamu alim tapi tidak merasa alim, menghargai orang lain.

Tawadluk itu bukan rendah akan tetapi kita merasa sama-sama tidak memiliki, sama-sama menghormati kepada orang lain.

Dimanapun tempatnya yang terpenting adalah akhlak, sepintar apaun jika tak berakhlak tidak ada harganya.

Mulai keluar dari pondok yang baik, do’a bepergian di baca karena di jalan banyak macam-macam kendaraan.

Sampai di rumah yang pertama dilakukan salaman kepada kedua orang tua, meminta maaf jika mengecewakan orang tuanya ketika di pondok.

Jika orang tua mengerjakan pekerjaan kalian minta, jangan hanya tidur saja itu tidak baik, orang tua sudah merawat kalian dari kandungan, kalian dibawa kemana-mana, kalian harus berangan-angan kalian tidak akan bisa membalas jasa mereka.

Orang tua merawat  anak itu dengan rohmah, merasa welas supaya anaknya bisa menjadi soleh solehah, kalian merawat orang tuanya ketika sakit selama 2 bulan saja pasti sudah merasa gak enak, makanya jangan sampai membantah orang tua.

Dawuhnya orang tua, kalian dengarkan jika kalian mampu laksanakan jika belum mampu kalian utarakan.

Dari pondok kalian salaman kepada orang tua berterima kasih atas biaya yang diberikan kepada kalian di pondok.

Kalian harus sadar, jangan mudah-mudah untuk meminta bekal, kalian sudah bukan kewajiban orang tua jika kalian tidak ngaji, kalian harus bersyukur telah dikirimi.

Birul walidain itu tidak membantah dan mengecewakan hati orang tua.

Yang sebelumnya mondok belum bertuturkata baik (boso kromo) kepada orang tua besok pulang harus bertutur kata baik (boso kromo).

Siapapun orang yang bisa birrul walidain hidupnya barokah.

Kalian di pondok di didik akhlakul karimah jadi kalian harus bisa menerapkan akhlakul karimah dimana saja.

Nanti ketika sudah waktunya berangkat pondok jangan telat, jika sudah waktunya segeralah berangkat ke pondok, kalian disiplin mengikuti peraturan itu sudah terlihat memulyakan para masyayikh dengan apa yang dikehendaki masyayikh.

Kalain berada di pondok itu biar kalian bisa menjadi orang baik, orang tua kalian ingin memiliki waladun solih solihah.

Di pondok yang sungguh-sungguh biar menjadi orang soleh menjadi orang yang bisa menjalani kebenaran.

 

 

 

 

 

 

Mendulang Manfaat di Lirboyo Bersholawat

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Pepatah itulah yang paling tepat untuk menggambarkan majlis  “Lirboyo Bersholawat”. Pasalnya, dalam majlis  yang luar biasa tersebut terdapat banyak fadilah (keutamaan) yang jarang disadari oleh para jamaah yang hadir. Yang mereka sadari ialah bersholawat bersama demi mengharap syafaat baginda Rasulullah SAW. Namun pada kenyataannya, mereka akan mendapatkan pundi-pundi amal yang lebih dari itu. Di antaranya ialah:

Majlis Dzikir

Sudah menjadi sebuah tradisi, di setiap acara yang digelar oleh Pondok Pesantren Lirboyo selalu diselingi dengan pembacaan pembacaan dzikir yang berupa Tahlil dan doa. Tahlil dan doa tersebut ditujukan untuk Muassis (pendiri) dan para Masyayikh yang telah wafat, dan segenap ahli kubur muslimin dan muslimat. Pembacaan al-Qur’an, tahlil, dan doanya akan menjadi pembuka acara “Lirboyo Bersholawat”.

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, al-Ghazali mengutip salah satu hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik RA mengenai keutamaan majlis dzikir:

 إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ مَجَالِسُ الذِّكْرِ

Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang. Para sahabat bertanya: Apakah taman-taman surga itu?. Beliau menjawab: (yaitu) majlis-majlis dzikir.” (lihat: Ihya’ Ulumuddin, I/34)

Dalam hadis lain disebutkan:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالىَ فَيَقُوْمُوْنَ حَتَّى يُقَالُ لَهُمْ: قُوْمُوْا قَدْ غَفَرَ اللهُ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَبُـدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

Tidaklah duduk suatu kaum, kemudian mereka berzikir kepada Allah Ta’ala dalam duduknya hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka: Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan.” (HR. At-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir, VI/212)

Majlis Ilmu

Bersholawat bukan menjadi alasan untuk tidak menambah ilmu. Namun alangkah indahnya ketika keduanya dapat beriringan bersama. Seperti halnya mauidzotul hasanah dalam acara “Lirboyo Bersholawat” yang tidak akan pernah terlewatkan.

Pengarang kitab al-Hikam, Ibnu Athoillah Assakandari pernah mengeluarkan kalam hikmahnya dalam kitab Taj al-‘Arus al-Hawi Litahdzib an-Nufus:

لَا يَفْتَكْ مَجْلِسَ الْحِكْمَةِ وَلَوْ كُنْتَ عَلَى مَعْصِيَةٍ ، فَلَا تَقُلْ : مَا الْفَائِدَةُ فِي السِّمَاعِ الْمَجْلِسَ ، وَلَا أَقْدِرُ عَلَى تَرْكِ الْمَعْصِيَةِ ؟ بَلْ عَلَى الرَّامِيْ أَنْ يَرْمِيَ فَإِنْ لَمْ يَأْخُذِ الْيَوْمَ يَأْخُذْ غَدًا ، وَلَوْ كُنْتَ كَيِّسًا فَطَنًا لَكَانَتْ حُقُوْقُ اللهِ عِنْدَكَ أَحْظَى مِنْ حُظُوْظِ نَفْسِكَ

Janganlah kamu menghentikan langkahmu untuk menghadiri majlis ilmu yang penuh hikmah,meskipun kamu dalam keadaan maksiat. Janganlah berkata “Apa guna mendengarkan dalam majlis ta’lim? Dan janganlah hadirmu di majlis ta’lim diukur dengan ukuran kamu meninggalkan maksiat. Tetapi Bagi seorang pelempar, yang melemparkan suatu barang, maka ketika dia tidak mendapatkan barang tersebut hari ini, maka ia akan mendapatkanya besok. Meskipun kamu adalah seorang yang sangat pintar, tetapi Allah lebih punya hak untuk dirimu, melebihi hakmu atas dirimu.”

Majlis Sholawat

Bersholawat, bukan hanya sekedar doa untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Bersholawat juga adalah bukti kecintaan sorang hamba kepada Nabinya. Betapa besar dan agungnya kehebatan sholawat, ia yang memiliki ribuan macam jenis dan nama juga memiliki ribuan macam jenis dan khasiat yang berbeda-beda serta saling melengkapi. Ada sholawat yang jika dibaca akan menghilangkan kesusahan, menarik rizki, bahkan ada yang dijelaskan khasiatnya dapat menjadi wasilah mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.

Imam Ibnu Hajar menukil maqalah para ulama mengatakan, “Membaca sholawat merupakan bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, dan cara untuk mengagungkan Beliau.” Imam Ibnu Hajar juga mengatakan, “Pada hakikatnya orang yang membaca sholawat adalah orang yang mendoakan dirinya sendiri karena selama kita mau bersholawat kepada Nabi, maka Allah akan membalas pahala sholawat kita. Dan kita yang bersholawat pada hakikatnya juga sedang mengucapkan dzikir. Kala kita mencintai sesuatu, maka kita akan banyak-banyak menyebutkannya.” Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Dabbagh memperkuat argumen ini, “Sebenarnya Allah tidak mensyari’atkan sholawat agar manfaatnya kembali kepada Nabi. Namun agar manfaatnya kembali kepada hamba itu sendiri.” []waAllahu a’lam
__________________________

Catatan: Jangan lupa hadir pada “Lirboyo Bersholawat” bersama Habib Syech yang akan diselenggarakan besok, Kamis 15 Maret 2018 di lapangan barat Aula Al-Muktamar, Lirboyo.

Kajian Tafsir; Tiada Paksaan dalam Beragama

Allah Swt berfirman dalam Alqur’an:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقى لَا انْفِصامَ لَها وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan di dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang (teguh) kepada tali yang kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 256).

Meskipun ayat tersebut memiliki kaitan yang erat dengan asbabun nuzul(latar belakang penurunan ayat), namun tidak menafikan kontekstualisasi dari esensial ayat itu sendiri. Hal ini senada dengan konsep kaidah Fiqih bahwa yang menjadi pertimbangan dalam hukum adalah keumuman suatu kata (lafadz), bukan karena sebab khusus.[1]

Sekilas, pemahaman atas ayat tersebut menjelaskan bahwa umat Islam tidak diperbolehkan memaksakan seseorang untuk beriman dan masuk agama Islam. Mengapa bisa demikian, bukankah Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menyerukan dan mensyiarkan agama Islam?.

Sebenarnya, dalam  penggalan ayat tersebut Allah Swt secara tegas telah menyampaikan bagaimana sikap Islam terhadap konsep keimanan. Di awal ayat sudah dikatakan bahwa “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Dalam aspek literatur kebahasaan, kata paksaan (Ikrah) memiliki pengertian memperlakukan orang lain dengan sebuah pekerjaan yang tidak disukai. Sebuah pemaksaan tidak akan dapat dibuktikan secara empiris kecuali dalam bentuk pekerjaan anggota lahiriyyah yang hanya dapat ditangkap oleh panca indra. Sementara keimanan adalah sebuah urusan keyakinan yang wilayahnya ada di dalam hati.  Sehingga dari aspek kebahasaan ini saja sudah menunjukkan bahwa tidak mungkin adanya keimanan yang dihasilkan dari sebuah paksaan.[2]

Pada lanjutan ayat ini juga dipaparkan “Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. Artinya, berbagai argumentasi dan bukti-bukti atas kebenaran agama Islam sudah sangat jelas bahwa keimanan adalah sebuah petunjuk yang mengarahkan kepada keselamatan abadi. Begitu juga sebaliknya, sudah sangat jelas bahwa kekufuran merupakan sebuah kesesatan yang mengantarkan kepada kesengsaraan abadi.

Ketika hal tersebut sudah sangat jelas, maka bagi orang yang memiliki akal sehat dan sempurna secara otomatis akan memilih terhadap jalan yang akan mengantarkannya kepada keselamatan abadi, yaitu dengan jalan keimanan. Dengan demikian, tidak diperlukan lagi adanya sebuah paksaan dalam konsep keimanan.[3]

Selanjutnya, walaupun tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam, bukan berarti pilihan seseorang untuk tidak memeluk agama Islam tidak berkonsekuensi apa-apa. Karena orang yang telah memeluk agama Islam berarti telah memegang teguh pedoman yang kuat. Begitu juga sebaliknya orang yang kufur yang enggan beriman maka dia akan tetap di lembah kesesatan.

Sebagian ahli Tafsir lain menafsiri redaksi “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)” sebagai bentuk larangan, sehingga sejalan dengan arti “Janganlah kalian memaksa dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Karena sebuah keimanan tidak bisa dibangun di atas sebuah paksaan, maka paksaan tersebut sudah tidak bermanfaat lagi. Selain itu, para ulama juga melarang sebuah paksaan dalam keimanan dikarenakan bertendensi bahwa di dunia merupakan wahana ujian atas keimanan setiap manusia. Sehingga adanya paksaan akan meniadakan konsep ujian tersebut, sesuai dengan firman allah Swt:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah; Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) maka hendaklah ia beriman. Dan barang siapa yang ingin (kufur) biarlah dia kafir” (QS. Al-Kahfi: 29).[4]

Dalam ayat laian, Allah swt berfirman:

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?,” (QS. Yunus: 99).

Ayat tersebut menjadi sebuah bukti yang tidak dapat terbantahkan dalam ranah keimanan. Disebutkan bahwa keimanan adalah hak mutlak yang menjadi wilayah kehendak Allah Swt. Dan ayat ini juga diklaim menjadi dalil argumentasi  paling kuat dalam mendukung sebuah konsep bahwa tidak ada paksaan dalam urusan keimanan.[5] Dan dari Surat Al-baqarah 256 itu pula akan memunculkan konsep politik Islam untuk mengembangkan sayap dakwah Islam yang ramah, bukan Islam yang mudah marah.[6]

Dalam aktualisasi ayat dalam konteks kekinian, sudah saatnya umat Islam menunjukkan identitas kebenarannya dalam berbagai aspek kehidupan. Semuanya dilakukan dengan tetap berpedoman pada prinsip rahmatan lil ‘alamin, tanpa memaksakan kehendak atas keimanan yang sudah menjadi wilayah ketuhanan. Karena sesungguhnya melakukan intervensi terhadap sebuah perkara yang bukan menjadi wilayahnya tidak akan berguna dan hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka.[] sekian, waAllahu a’lam.

____________________________

[1] Al-Ashbah wa An-Nadhoir, juz 2 hal 134.

[2] Tafsir Al-Mudzohhiri, juz 1 hal 362.

[3] Tafsir Al-Baidhowi, juz 1 hal 154.

[4] Tafsir Ar-Razi, juz 7 hal 13.

[5] Tafsir Az-Zamahsyari, juz 1 hal 303.

[6] Tafsir Al-Manar, juz 3 hal 33.