Ketika Ibn Sina Mengatasi Delusi

Kisah berikut menceritakan tentang kehebatan Ibn Sina, tokoh islam yang terkenal keahliannya dalam bidang kedokteran, ketika Ibn Sina Mengatasi Delusi. Mari kita simak.

Tersebutlah seorang pangeran yang bernama Buyhid. Dia adalah orang yang mengalami gangguan jiwa. Gangguan itu bermula dari Melankoli dan halusinasinya yang untuk kemudian berkembang menjadi delusi.

Delusi adalah jenis gangguan mental di mana penderitanya tidak dapat membedakan kenyataan dan imajinasi, sehingga ia meyakini dan bersikap sesuai dengan hal yang ia halusinasikan. Akibat delusi, sang pangeran merasa dan berpikir bahwa dirinya adalah seekor sapi.

la tak lagi mau makan makanan sebagaimana biasanya makanan manusia, bahkan ia minta untuk disembelih. Alhasil kering kerontang badannya, sangat lemah, dan sama sekali tak memiliki tenaga. Faktor ini pula yang menambah delusi sang pangeran.

Beberapa dokter telah datang untuk mendiagnosis penyakit sang pangeran, tetapi tak seorang pun dari mereka memahami penyakitnya. Mereka tak mampu mendiagnosis penyakit apa yang menyerang sang pangeran, dan satu per satu undur diri.

Keadaan ini membuat gelisah orang-orang istana, betapa tidak, telah banyak dokter yang datang, namun jangankan menyembuhkan, mengetahui penyakitnya saja tidak mampu. Dalam keadaan seperti itu, seorang pejabat tinggi bernama Allau Dullah memerintahkan kepada pejabat di bawahnya, Khwaja Abu Ali, untuk memohon izin sang Raja mendatangkan Ibnu Sina guna menangani penyakit sang pangeran.

Gayung bersambut, Ibnu Sina menyanggupi permintaan kerajaan dengan catatan tidak boleh ada seorang pun yang turut campur tangan terhadap caranya dalam memberikan psikoterapi terhadap sang pangeran. Kesanggupan itu sangat penting sebab pada saat itu belum banyak orang paham bagaimana penerapan psikoterapi.

Metode ini sama sekali baru dan sering kali mengejutkan dan menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan tertentu bagi yang belum paham prinsip-prinsip dasar psikoterapi.

Ketika telah sampai di samping tempat pangeran, Ibnu Sina berkata kepadanya: “Engkau akan segera disembelih, tukang jagal telah tiba.” Berbinarlah mata sang pangeran demi mendengar kabar yang telah sekian lama dinantikan. Tanpa menunggu lama Ibnu Sina lantas memerintahkan kedua temannya untuk mengikat kedua lengan sang pangeran.

Tak lama setelah itu Ibnu Sina keluar dan kembali lagi sambil mengacung-acungkan sebilah belati, tanpa lupa mengasahnya dahulu di samping sang pangeran agar terlihat meyakinkan.

Pangeran telah siap di pembaringan, golok telah diasah, prosesi penyembelihan sang pangeran akan segera dilaksanakan sebelum tiba- tiba Ibnu Sina mengatakan, “Sapinya sangat lemah dan mudah remuk, tidak memiliki daging sama sekali, tiada gunanya menyembelih binatang yang sedemikian kurus seperti ini.” Ibnu Sina lalu menyarankan agar si sapi makan terlebih dahulu hingga segar dan banyak dagingnya, baru kemudian dapat disembelih.

Sang pangeran yang dalam imajinasinya adalah seekor sapi tak menunggu lama untuk setuju atas usul sang jagal dan kemudian mulai memakan apa saja dari makanan yang ada.

Makanan itu telah tercampuri obat yang tepat dengan dosis yang pas oleh Ibnu Sina. Sang pangeran pun perlahan-lahan membaik keadaannya dan akhirnya sembuh baik secara jasmani maupun rohani.

Baca Juga; Sejarah Lengkap Bulan Rajab dan Penyebab

Subscribe: Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.