Category Archives: Angkring

Samnun, Sufi yang Menantang Tuhan

Ibrahim bin Fatak adalah ulama yang hidup sezaman dengan Samnun, seorang ahli ibadah yang kadang bertingkah menggelikan. Ia seperti menjadi juru tulis dari kisah hidup Samnun. Buktinya, banyak kisah Samnun yang ia kisahkan kembali, dan menjadi khazanah pengetahuan bagi kaum muslim setelahnya.

Salah satu kisahnya adalah ketika Samnun beribadah di suatu malam. Sebagai orang yang selalu mencoba mendekat kepada Tuhannya, hatinya tentu lebih sensitif dan lebih akrab dengan tanda-tanda dari Tuhan. Malam itu hatinya berbunga-bunga karena ia merasa ada segumpal sabar yang berdiam di hatinya.

“Tuhan, tak maukah engkau menguji diriku? Uji aku dengan apapun yang Engkau mau. Sungguh aku orang yang mampu bersabar.”

Samnun merasa percaya diri, karena dengan kesabaran yang ia miliki, tentu tak akan sulit menahan gelisah dan susah dari penderitaan duniawi.

Sampai suatu saat, tak berapa lama setelah doa malam itu, ia didera satu penyakit. Penyakit kecil sebenarnya. Hanya sembelit. Namun semakin lama penyakit itu bertambah parah. Sembelit itu terus menyiksa diri dan kesabarannya. Hingga kemudian ia terhuyung-huyung, mondar-mandir di pasar-pasar di kota Bashrah.

Ia tak betah. Penyakit sembelit itu dirasa sudah keterlaluan. Maka sembari berkeliling pasar itu ia berseru, “Tuhan, aku hanya bercanda. Kemarin itu aku berbohong padamu. Aku berbohong. Tak akan aku ulangi permintaan seperti itu, wahai Tuhanku.” Ia kapok meminta hal yang aneh-aneh kepada Tuhannya. Walhasil, ia terus melakukannya—berkeliling pasar sembari mengadu–sampai penyakit itu dihilangkan darinya.

Toh, Samnun adalah seorang sufi, yang hari-harinya dihabiskan dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Prilakunya memang terkadang aneh, dan absurd untuk dilakukan oleh seorang yang dikenal dekat dengan Tuhan. Tapi sering sekali dari mulutnya keluar perkataan-perkataan bijak. Bahkan, kebanyakan perkataannya adalah syair-syair ungkapan cintanya kepada Sang Khalik. Seperti satu syair ini, yang juga diceritakan kembali oleh Ibrahim bin Fatak.

Ruhku dengan dirimu telah menyatu, seutuhnya

Bahkan hingga jiwamu hancur, kita tetap tak terpisah.

Kau menangis dengan sepenuh dirimu, seluruh jiwamu

Sampai-sampai orang-orang menganggap kau tercipta dari air mata.

Maka pandanglah jiwamu dengan kasih dan cinta

Kadang, pandangan itu bisa memberi kenikmatan yang menggembirakannya.

Sufi memang seperti itu. Bahasa mereka bebas nan suci, karena hati mereka tak terbelenggu nafsu amarah dan dunia yang penuh kepentingan-kepentingan. Mereka mudah berbincang dengan Tuhan dengan bahasa-bahasa kasmaran. Bahkan perkataan yang terdengar sebagai keangkuhan, itu tak lebih dari arti dekatnya seorang sufi dengan Tuhan.

Uqala’ al-Majanin, 231-234.

Baca juga: Dahsyatnya Doa Ibu.

Simak juga: Rendah Hati: KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Bersikap Tuli

“دع ما يريبك إلى ما لا يريبك”

“Tinggalkan perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu.”

(H.R. Tirmidzi)

Bersikap tuli tidak lain adalah keadaan dimana kita memilih untuk bersikap acuh tak acuh pada apapun, atau bisa juga diartikan dengan sikap tidak peduli, menganggap apa-apa yang terlontar dari ucapan orang lain hanyalah angin lalu belaka.

Dalam kitab Siraj at-Thalibin, Syaikh Muhammad Ihsan al-Jampesy menukil kisah sufistik Lukman al-Hakim bersama anaknya:

Suatu hari Lukman al-Hakim hendak pergi ke pasar bersama anak laki-lakinya. Ia membawa seekor keledai sebagai kendaraan. Ia menunggangi keledai tersebut sementara anaknya berjalan kaki, menuntun keledai.

“Dasar orang tua yang tidak sayang pada anaknya!” Ucap orang-orang yang berpapasan di tengah jalan. “Ia enak-enakan di atas keledai, sementara anaknya disuruh untuk berjalan.”

Mendengar perkataan mereka, Lukman al-Hakim menaikan anaknya, dan ikut menunggang keledai, berboncengan di belakang.

“Dua orang menunggang satu keledai secara bersamaan? Kenapa tidak sekalian ditambah tiga orang. Biar keledainya mampus!” Komentar yang lain saat berpapasan di jalan menuju pasar.

Lukman al-Hakim pun turun dari keledai. Sekarang tinggal si anak sendirian di atas punggung keledai tersebut.

“Dasar anak tidak tahu diuntung! Ayahnya yang sudah tua malah dibiarkan berjalan, sementara ia enak-enakan duduk di atas keledai!” Kata yang lain lagi di tengah jalan menuju pasar.

Kemudian Lukman al-Hakim menurunkan anaknya dari keledai. Ia biarkan keledai itu kosong tanpa tumpangan. Keduanya berjalan menuju pasar dengan menuntun seekor keledai.

“Seekor keledai dibiarkan kosong. Sedangkan dua orang berjalan kaki di belakangnya. Bodoh sekali!” Ucap orang lain lagi dalam perjalanan berikutnya menuju pasar.

Dari potongan cerita di atas, dapat kita ambil hikmah tentang pentingnya untuk bersikap tuli. Karena menuruti perkataan orang lain tidak akan pernah ada habisnya, kecuali waktu itu sendiri yang akan habis sia-sia.

Bahkan dalam meraih cita-cita, sikap tersebut sangat berpengaruh sebagai penunjang, karena dapat membulatkan tekad dan keyakinan kita. Sehingga tidak mudah digoyahkan oleh cobaan, terlebih hanya sebuah komentar orang.

“Kalau mau melakukan perubahan, jangan tunduk pada kenyataan. Lawan kenyataan itu jika benar, dan buat kenyataan baru.”[]

Baca juga: https://lirboyo.net/dawuh-kh-m-anwar-manshur-senantiasa-berdoa-saat-pandemi/

Simak juga: https://www.youtube.com/watch?v=A3i5abqCqRM

Penulis: Ahmad Qomarudin siswa kelas III Tsanawiyah bagian B.02

Menyentuh Sayap Malaikat

Menyentuh Sayap Malaikat |
Suatu waktu Syeikh Ahmad bin Abil Ja’di kedatangan dua orang muridnya, yaitu Abdulloh Ba’ Abbad dan saudaranya. Mengetahui kedatangannya, Syeikh Ahmad segera mengambil berkah dan mengusap telapak kaki kedua muridnya itu dengan tangannya.
Kedua muridnya merasa sungkan dan heran dengan sikap gurunya, “Mengapa anda melakukan ini, kami ini datang kepada anda untuk mengambil berkah dan belajar ilmu serta akhlak dari anda?’’ tanya Abdulloh Ba’ Abbad.

Syeikh Ahmad menjelaskan sikapnya itu, “Aku tidak melakukan ini kecuali karena aku melihat malaikat meletakkan sayapnya untuk kalian. Aku melihat kedua telapak kaki kalian bersentuhan dengan sayap malaikat. Sehingga aku ingin mengambil berkah dan menyentuh bagian yang bersentuhan langsung dengan sayap malaikat.”
Disebutkan dalam hadis, Rasulullah bersabda:

وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ

“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah).

Baca juga:
KISAH SAYYIDINA ALI RA DAN SEORANG NASRANI TUA

Tonton juga:
NYAMBANG Short Movie

Kisah Imam Syafi’i Menulis dengan Jari dan Telapak Tangannya

Di usianya yang masih belia, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’ atau biasa dikenal dengan sebutan Imam Syafi’i mengikuti pengajian Kitab Al-Muwaththa’ yang diasuh oleh penulisnya, yakni Imam Malik bin Anas RA, pendiri Mazhab Maliki, di Madinah.

Pada saat itu, Imam Malik menyampaikan materi sebanyak 18 hadis lengkap dengan penjelasannya yang panjang lebar. Di tengah-tengah penjelasannya, Imam Malik melihat sosok Imam Syafi kecil yang memain-mainkan jari-jari dan telapak tangannya di antara kerumunan orang-orang yang mendengarkan pengajiannya.

Ketika pengajian telah usai, Imam Malik memanggil Imam Syafi’i dan ditanya siapakah namanya dan dari mana ia berasal. Imam Syafi’i pun memperkenalkan dirinya kepada sang guru.

Lantas, Imam Malik pun mengungkapkan rasa penasarannya. “Tadi aku lihat kamu memainkan jari-jarimu di atas telapak tanganmu. Benarkah itu?”

“Tidak.” jawab Imam Syafi’i.

“Justru ketika engkau menjelaskan sebuah hadis maka aku menulisnya dengan jari di telapak tanganku. Apabila engkau menghendaki, aku akan menyampaikan kembali apa yang telah engkau ajarkan kepada kami.” lanjut Imam Syafi’i meyakinkan gurunya.

“Silahkan.” perintah Imam Malik kepada Imam Syafi’i.

Akhirnya, Imam Syafi’i pun menjelaskan ulang 18 hadis lengkap dengan penjelasannya sama persis seperti apa yang telah dijelaskan oleh Imam Malik.

Melihat hal itu, Imam Malik pun takjub melihat kecerdasan yang dimiliki murid barunya, yakni Imam Syafi’i kecil. Bahkan Imam Malik berpesan, “Wahai Muhammad (bin Idris asy-Syafi’), bertakwalah kepada Allah SWT. Sungguh di waktu yang akan datang, kau akan menjadi orang besar.” []WaAllahu a’lam


Disarikan dari kitab Al-Manhaj As-Sawi, karya Habib Zein bin Ibrahim bin Smith, halaman 146.

Baca juga:

IMAM SYAFI’I; TOKOH FIKIH DAN BAHASA

Nikmati Juga:
IRBOYO BERSHOLAWAT BERSAMA HABIB SYECH BIN ABDUL QODIR ASSEGAF

Sebuah Kisah:
KISAH IMAM SYAFI’I MENINGGALKAN QUNUT SUBUH KARENA MENGHORMATI IMAM ABU HANIFAH

MENGENAL KONSTRUKSI MADZHAB SYAFI’I

DISPENSASI PUASA BAGI IBU HAMIL DAN MENYUSUI

# KISAH IMAM SYAFI’I MENULIS DENGAN JARI DAN TELAPAK TANGANNYA
# KISAH IMAM SYAFI’I MENULIS DENGAN JARI DAN TELAPAK TANGANNYA

Fisik Tetap Prima Hingga Lanjut Usia

Fisik Tetap Prima Hingga Lanjut Usia |
Di usianya yang telah menginjak kisaran angka 102 tahun, Syekh Al-Muhib At-Thabari memiliki fisik yang prima. Tidak ada satu pun anggota tubuhnya yang melemah, baik kekuatan tangan, kaki, penglihatan atau pendengarannya. Di usianya yang lebih dari satu abad tersebut, Syekh Al-Muhib At-Thabari tetap mengajar dan berfatwa yang telah menjadi aktivitas kesehariannya.

Melihat hal itu, para murid Syekh Al-Muhib At-Thabari pun penasaran.

“Wahai guruku, bagaimana Allah SWT tetap menjaga tubuh engkau di usia lanjut ini?” tanya salah seorang murid Syekh Al-Muhib At-Thabari yang memberanikan diri untuk bertanya.

“Bagaimana Allah tidak menjaga tubuh ini, sementara aku selalu menjaganya dengan tidak melakukan maksiat sama sekali.” jawab Syekh Al-Muhib At-Thabari singkat. []WaAllahu a’lam


Disarikan dari Kitab Al-Manhaj As-Sawi, halaman 283, Karya Habib Zain bin Ibrahim bin Smith.

Baca juga:
KISAH KAWANAN PERAMPOK TOBAT BERKAT KEJUJURAN SYEKH ABDUL QODIR AL-JILANI

Simak juga:
“Santri Paku”nya Kyai Abdul Aziz Manshur

# Fisik Tetap Prima Hingga Lanjut Usia