Category Archives: Angkring

Mendoakan Kebaikan untuk Pemimpin Bangsa

Suatu ketika, Imam Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, niscaya aku tidak menggunakan doa itu kecuali untuk kebaikan pemimpin.”

“Mengapa bisa begitu?” tanya seseorang.

“Sebab, jika aku menggunakan doa itu hanya untukku, maka kemanfaatannya juga pada diriku saja. Namun jika aku menggunakan doa itu untuk pemimpinku, maka kemanfaatannya akan kembali pada rakyat dan negara.” jawab Fudhail bin ‘Iyadh.

Ketika ditanyakan tentang maksudnya, maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Jika saya jadikan doa itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri,”


Disarikan dari kitab Hilyah al-Aulia’, VIII/91, karya Abu Nu’aim al-Ashfihani.

Baca juga: METODE SALAT KHUSYUK HATIM AL-ASHAM

Simak juga: Prinsip dalam Beramal

Metode Salat Khusyuk Hatim al-Asham

Dikisahkan, Hatim al-Asham ditanya mengenai salatnya. Ia pun berkata,

“Ketika sudah masuk waktu salat, aku menyempurnakan wudu, kemudian mendatangi tempat yang aku inginkan salat di situ sehingga seluruh tubuhku berkumpul (dalam semangat). Setelah itu aku mendirikan salatku. Kujadikan Ka’bah di depanku, Shirat di bawah kakiku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut di belakangku. Aku merasa seorang itulah salatku yang terakhir. Aku berdiri di antara harapan dan ketakutan. Aku bertakbir dengan tenang, membaca surah dengan tartil, sujud dengan tenang, duduk tawarruk di atas kaki kiri, duduk iftirasy dengan mengeluarkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan yang ditopang jempol, dan disertai keikhlasan. Setelah itu, aku tidak tahu apakah salatku diterima atau tidak.”

Aku berkata, “Lantas bagaimana seseorang yang salat sambil menoleh kanan dan kiri, lupa, bermain-main, dan disertai rasa bosan dari awal sampai akhir?”

Ia berkata, “Hendaknya engkau memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai kekhusyukan dan ketawaduan untuk taat kepada-Nya. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita, baik yang kecil maupun yang besar.”


Disarikan dari kitab An-Nail al-Hatsits fi Hikayah al-Hadits, hal. 45-46, karya Abu Hafsh Umar bin Husein as-Samarqandi.

Baca juga:
RAHASIA AYAT KEEMPAT SURAT AL-FATIHAH

Follow juga:
ig @pondoklirboyo

Motivasi Semangat dari Seorang Ayah

Menanamkan cita-cita yang tinggi menjadi modal kesusksesan bagi setiap orang. Apalagi jika hal itu telah terpatri sejak dini.

Dalam suatu kisah, demi menanamkan semangat cita-cita yang tinggi kepada sang buah hati, seorang ayah bertanya kepada anaknya yang masih berusia belia, “Nak, di masa mendatang, kamu ingin seperti siapa?”

“Aku ingin seperti engkau, wahai ayah.” jawab anak tersebut.

“Jangan. Jangan sekali-kali kau berkata seperti itu, Nak. Karena ketika ayah masih kecil, ayah bercita-cita ingin seperti Sayyidina Ali RA. Perbedaan antara aku dan dirimu seperti perbedaan antara aku dan Sayyidina Ali RA. Tinggikanlah cita-citamu. Lihatlah orang yang lebih tinggi lagi.” pesan sang ayah kepada anaknya.


Disarikan dari kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah, hal. 29.

Baca juga:
KEIKHLASAN IMAM AL-MAWARDI DALAM BERKARYA

Simak juga:
NGAJI KEMIS LEGI

Keikhlasan Imam Al-Mawardi dalam Berkarya

Imam al-Mawardi (974-1058 M) memiliki nama lengkap Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib al-Bashri al-Baghdadi. Salah satu karyanya berjudul Al-Hawi al-Kabir, penjelas (Syarh) kitab Mukhtasar al-Muzani, yang terdiri dari beberapa jilid sering menjadi rujukan hukum dalam lingkup Mazhab Syafi’i. Dalam menelurkan karyanya, Imam Al-Mawardi terkenal akan kemurnian atau keikhlasan niatnya.

Imam Tajuddin As-Subki dalam kitabnya Thabaqat Syafi’iyah al-Kubra juz 5 halaman 268 menceritakan:

Imam Al-Mawardi tidak langsung mempublikasikan semua naskahnya. Beliau menyembunyikannya di suatu tempat. Ketika ajalnya sudah dekat, beliau berpesan kepada orang kepercayaannya, “Naskah yang terdapat di tempat si Fulan semuanya itu karanganku. Aku belum menerbitkannya karena aku belum mendapati niat yang bersih. Jika aku dalam sakratul maut, letakkan tanganmu pada tanganku. Nanti kalau aku menggenggam tanganmu maka ketahuliah bahwa tidak ada satupun karanganku itu yang diterima Allah. Jadi, ambillah semua kitabku itu dan lemparkanlah ke sungai Dijlah. Tetapi kalau tanganku membuka dan aku tidak menggenggam tanganmu maka ketahuilah karya-karyaku itu telah Allah terima dan aku sudah mendapatkan niat bersih yang aku harapkan.”

Orang kepercayaan Al-Mawardi itu berkata, “Ketika sudah dekat saat wafatnya, aku meletakkan tanganku pada tangan beliau. Ternyata beliau membuka tangannya dan tidak menggenggam tanganku. Dari situ aku tahu bahwa amal beliau telah diterima Allah. Karenanya, aku pun mempublikasikan kitab-kitab beliau setelah wafatnya”. []waAllahu a’lam

Baca juga:
NASIHAT IMAM AHMAD BIN HANBAL UNTUK KELOMPOK PENANTANG PEMERINTAH

Dawuh Masyayikh:
Generasi Masa Depan

# KEIKHLASAN IMAM AL-MAWARDI DALAM BERKARYA
# KEIKHLASAN IMAM AL-MAWARDI DALAM BERKARYA

Wanita Terbaik Sepanjang Masa

Di dalam beberapa literatur tentang pernikahan, terdapat sebuah kisah Asiyah, istri Firaun. Ini karena kisahnya sungguh istimewa.

Bayangkan. Ia adalah istri dari seorang yang paling terkutuk di bumi: seorang yang mendaku diri sebagai tuhan seumur hidupnya. Hidup di tengah kemewahan kerajaan dan kesombongan sang raja seharusnya membuatnya menjadi wanita yang suka bersenang-senang. Berfoya-foya. Sewenang-wenang. Asal dia bahagia.

Tetapi tidak bagi Asiyah putri Muzachim. Di tengah kungkungan kehidupan kafir itu, Allah menghendakinya menjadi seorang yang beriman kepada-Nya.

Karenanya, ia disebut-sebut sebagai salah satu wanita terbaik di dunia yang pernah ada. Rasulullah saw. sendiri pernah menyebutnya sebagai satu dari tiga wanita terbaik: Khadijah, istri Rasulullah Saw.; Maryam, ibunda Nabi Isa as.; dan Asiyah, istri Firaun.

Jika melihat sejarah hidupnya, tidaklah mengherankan jika ia disebut sebagai wanita terbaik. Dialah yang menyelamatkan nabi Musa a.s. dari tindakan sadis Firaun yang membunuh seluruh bayi bani Israil. Ia juga menyelamatkannya saat masih kecil, saat akan dihukum oleh Firaun karena telah mempermainkan jenggotnya. Ia juga menyelamatkan nabi Musa a.s. dari sihir-sihir yang dialamatkan padanya.

Bahkan, saking istimewanya Asiyah di mata Allah, ia dijadikan semacam standar pahala bagi perempuan-perempuan yang sudah menikah.

من صبرت على سوء خلق زوجها أعطاها الله من الأجر مثل ثواب آسية امرأة فرعون

Bagi perempuan yang bisa bersabar atas prilaku buruk suaminya, Allah akan memberikan pahala setara pahala Asiyah istri Firaun.

Seberapa besar pahala Asiyah? Entah. Tapi kisah di bawah ini bisa menjelaskannya.

Telah sekian lama keimanan Asiyah tersembunyi dari mata Firaun. Dan hari itu tiba juga: hari di mana keimanan Asiyah tampak di mata sang suami.

Seketika itu Firaun murka.

Dicencangnya kedua tangan dan kaki Asiyah. Tubuhnya ditelentangkan di atas tanah. Dibentangkannya kedua tangan dan kaki Asiyah ke empat arah. Di atasnya, matahari sedang terik-teriknya.

Firaun tidak bisa menahan murka. Tak cukup siksaan Asiyah sampai di situ saja. Diperintahkannya para hulubalang untuk mencari batu besar. Ia ingin menumbuk tubuh istrinya itu. Sungguh kejam nian.

Hulubalang berhasil menemukan batu yang dikehendaki. Mereka menggotongnya ke tubuh Asiyah.

Sebelum batu itu menimpanya, Asiyah berdoa kepada Tuhannya, “Tuhanku. Bangunkan aku rumah di samping-Mu. Rumah di surga-Mu.”

Asiyah kemudian diperlihatkan oleh Allah apa yang dimintanya: Rumah besar dibangun dengan bebatuan mulia.

Seketika itu malaikat mencabut ruhnya. Asiyah telah tiada sebelum batu besar menimpanya. Maka saat batu itu ditumbukkan, batu itu hanyalah menemui jasad tak bernyawa. Ia telah lebih dulu wafat dengan bahagia.

Referensi:
Uqud al-Lujain. Hal. 5.

Baca juga:
GENERASI SHOLEH UMMU SULAIM

Follow juga:
@pondoklirboyo