Category Archives: Angkring

Kisah Santun Sayyid Ali Zainal Abidin

Pada suatu hari, seorang pria dengan berani menghadang Sayyid Ali Zainal Abidin yang baru saja keluar menuju ke masjid. Pria tersebut lantas mencela dan mencaci-maki salah satu cicit Rasulullah SAW tersebut.

Melihat kejadian itu, para pengawal Sayyid Ali Zainal Abidin hendak memukul dan menyakiti pria tersebut. Namun Sayyid Ali Zainal Abidin mencegah mereka dan berkata, “Cegahlah tangan kalian darinya.”

Lantas, Sayyid Ali Zainal Abidin kembali menghadap pria tadi. Dengan sikap santun dan lemah lembut, beliau berkata, “Wahai tuan, aku memiliki kekurangan lebih banyak dari yang engkau katakan. Kekuranganku yang tidak engkau ketahui justru lebih banyak lagi. Jika engkau membutuhkannya, aku akan menyebutkan semuanya kepada engkau.”

Seketika itu juga, wajah pria itu memerah karena menahan rasa malu. Kemudian Sayyid Ali Zainal Abidin memberinya gamis yang ia kenakan dan memerintahkan untuk memberikan hadiah seribu dirham untuk pria tersebut.

Pria itu pun berlalu seraya mengatakan, “Aku bersaksi bahwa pemuda ini (Sayyid Ali Zainal Abidin) adalah keturunan Rasulullah SAW.”


Disarikan dari salah satu karya Imam al-Ghazali yang berjudul At-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Mulk, hal. 25.

Baca juga:
KETIKA HABIB ALI AL-JUFRI DAN KIAI ANWAR MANSHUR BERBAGI BERKAH MELALUI AIR MINUM

Subscribe juga Youtube:
Pondok Pesantren Lirboyo

# KISAH SANTUN SAYYID ALI ZAINAL ABIDIN
# KISAH SANTUN SAYYID ALI ZAINAL ABIDIN

Berkah Pernikahan

Imam Yahya menceritakan:

Dahulu ketika aku bersama Sufyan bin Uyainah (107-198 H), ada seorang pria datang menghampiri ulama besar tersebut dan berkata, “Aku ingin mengadu padamu tentang istriku. Aku sangat rendah baginya dan tidak berharga”.

Sufyan bin Uyainah bertanya, “Apa kamu menikahinya dengan harapan mendapat keagungan?”

“Ya, betul.” Jawab pria tersebut.

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Barang siapa ingin keagungan (dalam pernikahan) maka ia diuji dengan kehinaan. Barang siapa yang memilih ingin kaya maka diuji dengan kemiskinan. Barang siapa menikah karena agamanya maka Allah himpun baginya kemuliaan, harta dan Agama.”


Disarikan dari kitab Hilyah al-Auliya’, vol. VII hal. 289.

Baca juga:
RUMAH IBADAH NON-MUSLIM DALAM PANDANGAN FIKIH KLASIK

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 Hadis

Bangsa Arab, sebelum datangnya Islam yang merombak seluruh lini kehidupannya, merupakan bangsa yang tidak diperhitungkan peranan dan kiprahnya di dunia timur maupun barat. Peradaban mereka masih tertinggal jauh. Jangankan minat mengembangkan bidang keilmiahan dan penemuan-penemuan, justru mereka masih sibuk dengan konflik internal yang berkepanjangan. Perang antar suku yang setiap detiknya bisa tercetus, seperti api yang menemukan dedaunan kering untuk disantap. Bahkan pemantiknya bisa datang dari perkara-perkara yang remeh temeh.

Bukannya latah hendak berkata “semua berubah setelah negara api menyerang”, tapi memang nyatanya demikian. Tentu perubahan yang dimaksud tidaklah yang berkonotasi negatif seperti dalam cerita film The Legend itu. Islam hadir membawa cahaya kehidupan baru bagi bangsa kakbah ini. Mereka yang awalnya hanya direpotkan dengan perang, kini Islam mampu mempersaudarakan mereka dengan begitu mengharukan tiada dua.

Perubahan yang divisikan Islam merambah di segala porsi kemanusiaan mereka. Dalam sekejap, mereka bertransformasi menjadi bangsa super power yang mencengangkan. Menggulung kemusyrikan di timur dan barat. Namun demikian tanpa berlaku vandalisme seperti kebanyakan bangsa yang tengah berada di atas angin sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Fotomemory

Cukuplah, sebenarnya saya ingin mengulas soal lain, yakni daya hafalan yang dimiliki penduduk bangsa ini yang sangat luar biasa. Sudah tidak perlu ambil contoh jauh-jauh, Al-Quran dan ribuan hadis yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir itu saja bisa menjadi bukti kualitas mereka. Terlepas dari jaminan Allah untuk menjaga keotentikan Al-Quran itu sendiri.

Padahal, mungkin di masa yang sama, di negeri kita ini, sedikit sekali perkataan-perkataan moyang kita yang sampai ditelinga kita dengan selamat tanpa penambahan maupun pengurangan.

Mula-mula, sebelum mengenal istilah tulis menulis lebih dalam, yang diimpor dari bangsa Persia saat mendapati tawanan mereka pandai akan hal ini dan dijadikan sebagai tebusan pembebasan dengan syarat mau mendidik beberapa orang arab untuk belajar menulis dan membaca, bangsa Arab sangat malu-kalau enggan mengatakan antipati- terhadap bidang kepenulisan.

Mencatat informasi dalam selembar pelepah kurma atau kulit binatang, bagi mereka adalah sebuah aib, sebab hal tersebut menandakan lemahnya daya ingat yang mereka banggakan itu. Konon sampai sekarang, orang-orang dengan gen kekuatan hafalan yang luar biasa ini masih bisa kita jumpai di sana. Jadi, pada waktu itu, kalau mau membawa pensil dan mencatat, seseorang harus sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan orang lain, kalau tidak ia akan mendapatkan cemoohan.

Isyarat Al-Quran menjelaskan :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 hadis

Nama aslinya sebelum masuk Islam adalah Abdul Syam, datang dari tanah wali, Yaman. Setelah masuk Islam namanya berubah menjadi Abdul Rahman, lalu lebih dikenal dengan Abu Hurairah Ra.

Beliau adalah Sahabat yang paling banyak periwayatan hadisnya, sejumlah 5374 hadis yang beliau hafal. Bahkan, sahabat Abdullah ibn Umar Ra yang jumlah hafalannya 2630 hadis dan tepat di urutan setelahnya hanya mencapai hitungan separuh dari keseluruhan hafalan milik Abu Hurairah. Karena memang beliau sangat totalitas dalam bidang ini.

Saat kebanyakan Sahabat Muhajirin sibuk dengan urusan transaksi di pasar, dan Sahabat Anshar dengan perniagaannya, beliau tak pernah menjauh dari mengais mutiara-mutiara yang keluar dari lisan orang termulia, Nabi. Seharusnya memang seperti itu semangat seorang santri. Mendekatkan diri pada mata air.

Tak heran nama kunyah yang familiar terhadap beliau adalah Abu Hurairah yang artinya bapaknya kucing. Sebab beliau selalu mengikuti di mana pun Nabi pergi, yang seperti ini mirip dengan perilaku kucing yang mengincar seekor ikan teri. Tapi kenyataannya memang beliau sangat menyukai hewan yang juga dicintai Nabi tersebut.

Kunyah itu memang nama anugerah bagi Abu Hurairah yang disematkan langsung oleh baginda nabi saat menjumpainya sedang membawa ia seekor anak kucing, hingga setelah itu tiada seorang pun yang memanggilnya dengan nama asli.

Pemacu

Dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh beliau sendiri, pernah suatu ketika beliau ingin menemui Nabi untuk mengadukan permasalahan dari hafalannya yang sering lupa. Ia sangat takut akan hal ini. Padahal spiritnya untuk memperbanyak untaian mutiara dari kalam nabi itu agar ia tidak tergolong dari kelompok yang diancam Allah dengan siksaan yang pedih, yakni kelompok yang menyembunyikan ilmu tanpa menyebar dan mengajarkannya kepada orang lain.

Akhirnya beliau beranjak pergi menemui Nabi. Setelah berjumpa, ia ungkapkan kekhawatirannya itu.

“Wahai Rasulullah, sungguh aku telah menghafalkan banyak hadis dari engkau, namun aku sering dibuat lupa. ” Begitu keluhnya, yang bisa ditangkap nabi kalau Abu Hurairah meminta solusi kepada beliau tentang permasalahannya itu.

Tanpa banyak berbicara, beliau meminta Abu Hurairah menggelar selendang miliknya.

“Gelarlah selendangmu.” perintah Nabi yang segera disambut Abu Hurairah. Setelah selendang tergelar di tanah, beliau Nabi mendekat. Lalu menyaukkan kedua telapak tangan suci beliau di udara, seakan beliau sedang mendapatkan sesuatu. Lalu ‘sesuatu’ yang beliau ‘ambil’ dari udara itu di letakkan di atas selendang.

“Dekaplah selendang itu.” ujar baginda Nabi. Mendengar perintah dari orang yang paling dicintainya melebihi apa pun, Abu Hurairah lekas menaati titah. Ia mendekap selendangnya. Ajaib, dengan izin Allah, setelah kejadian ini, Abu Hurairah tidak pernah mengalami kelupaan dalam meriwayatkan ribuan hadis yang telah rapi terkodifikasi dalam memori otaknya.

“Setelah itu aku tak pernah mengalami kelupaan.”

Berselera humor tinggi

Mungkin selama ini kita tahu kalau Abu Hurairah selalu berkutat dengan ilmu saja, sangat wirai dan zuhud terhadap dunia. Karena memang datang ke kota nabi tanpa membawa harta bendanya. Ia khusus mengkhidmahkan diri kepada nabi dan cukup baginya hanya bertempat tinggal di shuffah Masjid Nabawi bersama kawan-kawannya.

Namun ternyata ada sisi lain yang mungkin jarang kita ketahui, Abu Hurairah adalah seorang yang periang dan humoris. Seakan kehidupannya serba kekurangan dan tanpa memiliki materi. Bahkan untuk makan pun harus menunggu uluran tangan para dermawan, bukanlah alasan bagi beliau untuk tetap bisa berkelakar.

Setiap berjumpa dengan bocah-bocah sahabat Anshar-Muhajirin, beliau pasti membuat mereka tertawa. Ketika bertemu orang-orang yang sedang beraktivitas di pasar, beliau menghibur mereka hingga bisa membuat lupa beban pikiran.

Dan dari tingkahnya yang selalu menjadi penghibur banyak orang itu, beliau akan menjadi hamba yang penuh pasrah kala malam menjelang, khusyuk bermunajat kepada Rabbul izzah menyingkirkan kerikil-kerikil hubbuddunya. [ABNA]

Islam Agama yang Akomodatif dengan Budaya

Penulis: Rif’an Haqiqi

Islam yang lahir beberapa abad lalu di suatu kota di semenanjung Arab, sekarang sudah masuk ke segala penjuru dunia. Dalam perjalanannya dari kota asal menuju daerah yang dimasuki, tentunya Islam bertemu, bersinggungan, dan bergaul dengan berbagai macam budaya dan peradaban.

Hal ini merupakan sebuah keniscayaan. Layaknya orang yang ingin memiliki banyak teman dan relasi, dia harus bergaul dan beradaptasi dengan banyak orang dengan karakter beragam. Jika tidak ingin bersentuhan dengan hal asing—diam saja dalam gua.

Maka, menyimpan dan mengeksklusifkan Islam agar tidak bersentuhan dengan banyak hal (yang dianggap mengurangi nilai ke-Islaman oleh sebagian kalangan) sama saja menutup atau paling tidak mempersempit pintu dakwah Islam. Prof. Nadirsyah Hosen memberi tamsil, Kentucky Fried Chicken (KFC) yang ada di Kentucky, USA tentu berbeda dengan KFC Indonesia. Jika di sana disajikan dengan kentang, di Indonesia disajikan bersama nasi. Namun menu utamanya sama, ayam goreng.

Saat masuk ke Indonesia dan sekitarnya, otomatis Islam pun beradaptasi dengan budaya setempat. Adaptasi di negeri ini pada saat itu bukanlah hal yang mudah, karena budaya daerah setempat sudah tercampur ajaran kepercayaan lain seperti Hindu. Kemenangan Islam dalam pertarungan budaya demi memperebutkan tempat di bumi Nusantara ini adalah hasil jerih payah yang tak kenal lelah para pendakwah, dalam waktu yang tak sebentar pula.

Di samping keilmuan, tentu kesabaran, ketelatenan, keikhlasan, dan kebijaksanaan menjadi modal pokok para pendakwah Islam di bumi Nusantara kala itu. Maka kita sudah sepantasnya bersyukur dan menghormati jasa-jasa para wali tersebut. Langkah yang diambil beliau-beliau tentu sudah melalui proses pemikiran yang matang. Tidak sepatutnya kita dengan congkaknya mengubah tatanan yang sudah sedemikian mapan.

Metode dakwah demikian terbukti efektif menarik banyak massa, seperti yang dicatatkan Kiai Abul Fadhl Senori, Tuban dalam bukunya Ahla al-Musamarah:

فلم يزل السيد رحمة يدعون الناس إلى دين الله تعالى وإلى عبادته حتى أتبعه في الإسلام
.جميع أهل عمفيل وما حوله وأكثر أهل سوربايا وما ذلك إلا بحسن موعظته وحكمته في الدعوة
وحسن خلقه مع الناس وحسن مجادلتهم إياهم.

“Sayyid Rahmat (Sunan Ampel) tak henti-hentinya mengajak orang-orang untuk masuk ke-agama Allah dan menyembah-Nya, hingga seluruh penduduk Ampel dan mayoritas penduduk Surabaya masuk Islam. Hal tersebut tak lain karena bagusnya nasihat, kebijaksanaan dalam berdakwah, akhlak yang luhur, dan perundingan (adu argumen) santun yang beliau lakukan jika diperlukan”.

Seperti itulah Islam mula-mula merebak ke penjuru Nusantara, maka bukan sesuatu yang mengejutkan jika karakteristik Islam masyarakat Indonesia cenderung santun dan luwes, di samping juga karena karakteristik penduduknya yang santun dan bersahabat. Itu merupakan hasil adaptasi Islam dengan kultur Nusantara, hal ini bukan berarti mengubah Islam dari watak originalnya, akan tetapi merupakan sebuah perantara agar Islam dapat diterima dengan lapang dada tanpa paksaan oleh penduduk Nusantara. Inilah manifestasi khuluqin hasan yang diperintahkan Nabi Saw.:

وخالق الناس بخلق حسن

“Dan perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik”
Sayyidina ‘Ali sebagaimana dikutip oleh Syekh Nawawi Banten dalam Mirqat Su’ud al-Tashdiq menjelaskan makna dari kata khuluqin hasan (ahlak yang baik) adalah:

موافقة الناس في كل شيئ ما عدا المعاصي

“Mengikuti (adat) orang-orang dalam segala hal selain kemaksiatan”
Maka, selagi kultur dan budaya Nusantara tidak melanggar rambu-rambu syari’at, hal itu tetap dipertahankan sebagai penghormatan terhadap budaya setempat, juga pelestarian keberagaman yang sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah). Dan jika ada praktik atau ritus budaya yang melanggar rambu-rambu syariat, langkah yang diambil adalah membersihkan ritus tersebut dari kemaksiatan, bukan menghilangkan praktiknya secara keseluruhan.

Dalam misi penyebaran, Islam mau tidak mau harus berinteraksi dengan berbagai budaya. Bahkan, interaksi antara Islam dan budaya setempat sudah ada sejak di tempat kelahirannya. Ada beberapa budaya orang pada masa itu yag diakomodir dalam syariat. Seperti tradisi akikah, tradisi ini sudah ada sejak sebelum Islam datang. Lalu ketika Islam datang, tradisi yang tadinya mengandung unsur keharaman ini dibersihkan tanpa menghilangkan asalnya.
Seperti halnya kisah dari Abdullah bin Buraidah yang ada dalam Sunan Abi Dawud dan Sunan Al-Nasa’i memaparkan:

عن عبد الله بن بريدة عن أبيه قال: كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسه بدمها.
فلما جاء الله بالإسلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران . حديث حسن صحيح (سنن أبي داود، سنن البيهقي)

“Diceritakan dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ayahnya bercerita, “Pada masa Jahiliyah, jika ada bayi yang baru lahir, kami menyembelih kambing dan mengoleskan darahnya pada kepala bayi tadi. Lalu setelah Allah datangkan Islam pada kami, yang kami lakukan adalah menyembelih kambing dan mengolesi kepala bayi dengan minyak Za’faron” (Hadis Hasan Shahih).

Contoh di atas adalah bentuk akomodasi Islam terhadap budaya, di mana yang tadinya tradisi akikah diwarnai dengan perbuatan haram berupa pengolesan darah yang dalam fikih dikategorikan sebagai tadhammukh binnajasah (berlumur dengan perkara najis), digantikan dengan minyak Za‘faran tanpa menghilangkan tradisi itu sendiri, yang justru tradisi tersebut diakomodir menjadi kesunahan.

Lalu budaya dan warisan yang tidak mengandung kemungkaran—namun juga tidak bernuansa Islam, tetap dilestarikan sebagai bentuk pelestarian keanekaragaman yang sudah menjadi ketetapan Allah. Juga sebagai bentuk manifestasi dari khuluqin hasan (perilaku yang baik) yang disabdakan Nabi Saw. seperti dijelaskan Sayidina ‘Ali bahwa makna khuluqin hasan adalah mengikuti apa saja yang dilakukan orang lain kecuali maksiat.[]

Baca juga:
IMAM AN-NAWAWI: SANG IDOLA FUQOHA MASA KINI

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Beserta keluarga channel kami untuk mendapatkan video-video terbau darinya

Santri Mengaji
LIM Production

Kisah Imam Ibnu Hajar dan Seorang Yahudi Penjual Minyak

Suatu hari al-Hafidz Imam Ibnu Hajar, seorang ulama ahli hadis yang juga merangkap sebagai Qadhi agung, berjalan melewati sebuah pasar bersama rombongannya.

Di tengah pasar, seorang Yahudi penjual minyak nekad menghadang rombongan tersebut. Dengan pakaian yang kotor penuh minyak, orang Yahudi tersebut bertanya kepada Imam Ibnu Hajar.

“Wahai Syaikhul Islam (julukan Ibnu Hajar), engkau telah menyatakan jika Nabi kalian telah berkata, ‘Dunia ini penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.’ Lantas di mana neraka yang kau rasakan dan mana surga yang aku rasakan sekarang?” tanya orang Yahudi tersebut.

Dengan santai, Imam Ibnu Hajar menjawab, “Keadaanku sekarang jika dibandingkan janji Allah di akhirat adalah sebuah penjara. Keadaanmu sekarang jika dibandingkan ancaman Allah dengan siksaan pedih di akhirat adalah sebuah surga.”

Mendengar jawaban tersebut, seketika itu orang Yahudi penjual minyak itu masuk Islam.


Disarikan dari kitab Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir (III/546) karya Syekh Muhammad Abdur Rauf al-Munawi.

Baca juga:
KISAH IMAM SYAFI’I MENINGGALKAN QUNUT SUBUH KARENA MENGHORMATI IMAM ABU HANIFAH

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Beserta keluarga channel kami untuk mendapatkan video-video terbau darinya

Santri Mengaji
LIM Production