Category Archives: Angkring

Warisan Rasulullah

Suatu ketika Sahabat Abu Hurairah Ra. lewat di pasar Madinah. Tempat itu penuh akan lalu lalang manusia. Seperti biasa tentunya, aktifitas perdagangan sudah dimulai. Ada penjual dan pembeli yang menawarkan dan mencari kebutuhan sehari-hari.

Sahabat Abu Hurairah Ra berdiri di sana. Seraya memandang kesibukan pasar, beliau berkata agak keras ke semua orang. “Hei penghuni pasar, kenapa sih kalian malah nggak bersemangat?”

Mendengar itu, orang-orang di pasar bingung, apa yang dimaksud sebenarnya oleh sahabat Abu Hurairah Ra. Mereka bertanya, “Memangnya ada apa ya Abu Hurairah?”

Sahabat Abu Hurairah Ra segera menimpali, “Itu loh, Rasulullah Saw sedang bagi-bagi warisan. Kalian kok malah cuma diam disini gak pergi ke sana untuk ikut ambil bagian.”

Orang-orang di pasar menjadi antusias. Mereka jadi bersemangat mendengar bahwa Rasulullah Saw ternyata sedang bagi-bagi harta warisan.

Dengan penuh harap mereka mengejar pertanyaan ke Sahabat Abu Hurairah Ra. “Dimanakah beliau membagi warisan nya?”

“Itu loh, di masjid Nabawi.” Kata sahabat Abu Hurairah Ra singkat saja.

Mengetahui hal tersebut, berbondong-bondong banyak masyarakat yang ada di pasar segera menuju masjid. Mereka meninggalkan dagangan mereka. Mereka ingin segera dulu-duluan berebut untuk mendapatkan “warisan” Rasulullah Saw.

Sementara sahabat Abu Hurairah Ra hanya berdiri dan tidak mengikuti mereka. Beliau tidak beranjak kemana-mana. Tidak ikut berebut “warisan”.

Agak berapa lama, satu persatu penghuni pasar tadi kembali dari masjid dengan tangan kosong. Mungkin ada diantara mimik wajah mereka yang nampak kecewa karena tidak kebagian “warisan”. Ataukah mungkin warisan yang dimaksud sahabat Abu Hurairah Ra sudah habis? Mereka menuntut jawaban.

Mungkin mendapati wajah-wajah muram yang kembali dengan tangan hampa, sahabat Abu Hurairah Ra akhirnya bertanya kepada mereka. “Loh, kalian kenapa?”

Mungkin sambil tertunduk lesu karena sudah “dikerjai”, mereka mengatakan, “Gini loh, kami udah kesana. Ke masjid. Sudah sampai masuk ke dalam. Tapi kok kami gak melihat ada yang dibagi-bagikan sama sekali?”

“Mosok kalian gak lihat ada orang di masjid?” Tanya Sahabat Abu Hurairah Ra.

“Iya sih, lihat. Tapi ya cuma lihat orang-orang sedang salat, ada juga yang sedang baca Alquran, dan ada yang lagi mbahas hukum masalah halal dan haram.” Jawab mereka.

“Loh, pie toh kalian ini? Ya itu dia warisan Rasulullah Saw…!” Jawab sahabat Abu Hurairah Ra spontan.

(Disarikan oleh Imam Thabrani dalam kitab Mu’jam al-Awsath)

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أنه مر بسوق المدينة، فوقف عليها، فقال: يا أهل السوق ما أعجزكم. قالوا: وما ذاك يا أبا هريرة؟ قال: ذاك ميراث رسول الله صلى الله عليه وسلم يقسم، وأنتم هاهنا لا تذهبون فتأخذون نصيبكم منه. قالوا: وأين هو؟ قال: في المسجد. فخرجوا سراعا إلى المسجد، ووقف أبو هريرة لهم حتى رجعوا، فقال لهم: ما لكم؟ قالوا: يا أبا هريرة فقد أتينا المسجد، فدخلنا، فلم نر فيه شيئا يقسم. فقال لهم أبو هريرة: أما رأيتم في المسجد أحدا؟ قالوا: بلى، رأينا قوما يصلون، وقوما يقرءون القرءان، وقوما يتذاكرون الحلال والحرام، فقال لهم أبو هريرة: ويحكم، فذاك ميراث محمد صلى الله عليه وسلم.
رواه الطبراني في الأوسط 2/114، وقال الهيثمي في مجمع الزوائد 1/123 : إسناده حسن.

Al-Adzkar: Beruntungnya Badui yang Ziarah ke Makam Nabi Saw.

Syaikh ‘Atiby bercerita, bahwa ia pernah duduk-duduk di dekat makam Nabi Saw. Beberapa waktu kemudian, datanglah seorang A’rabiy (sebutan untuk orang Arab yang berasal dari kampung, ndeso, -red). Ia hendak berziarah ke makam Nabi.
Sesampainya di depan makam, ia berucap salam. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah. Aku pernah mendengar ayat Allah berbunyi,

‎ۗوَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا

Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’ [4]: 64)

Maka hari ini aku datang di depan makammu. Memohon ampunan-Nya atas dosa-dosaku, dan memohon padamu agar engkau turut memohonkan ampun kepada Tuhanku.”
Ia kemudian menembangkan syair,

يا خير من دفنت بالقاع أعظمه
فطاب من طيبهن القاع والأكم
نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه
فيه العفاف وفيه الجود والكرم

“Wahai sebaik-baik manusia yang belulangnya di kuburkan di tanah ini
Sungguh tanah dan bumi menjadi mulia karena kemuliaannya
Jiwaku sebagai tebusan bagi makam, tempat jasadmu bersemayam
tempat penuh penjagaan dan kemuliaan.”

Selepas menumpahkan pintanya, lelaki itu pergi. “Mataku berat,” kisah syaikh ‘Atiby. “Aku mengantuk.” Syaikh ‘Atiby lalu tidur seketika itu.
“Di dalam mimpiku, aku bertemu Nabi. Beliau bersabda kepadaku, ‘Wahai ‘Atiby, temui orang A’rabiy tadi. Berikan kabar gembira baginya. Allah telah mengampuninya.”

Sayyidah Khadijah: Dua Sosok Paling Berpengaruh dalam Hidupnya

Sebelum bertemu Rasulullah Saw., sayyidah Khadijah telah menikah dengan ‘Atiq bin ‘Abid. Ia masih berumur belasan tahun ketika itu. Sayang, ‘Atiq wafat setelah ia melahirkan putra pertamanya, Abdullah. Hindun bin Zurarah kemudian mengkhitbahnya. Dengan Hindun, ia memiliki dua putra-putri: al-Harits dan Zainab.
Namun bukan kedua suaminya itu yang memberi peran penting di hidup Khadijah. Sepanjang catatan sejarah, hanya ada dua orang yang benar-benar berpengaruh: Hakim bin Hizam, keponakannya, dan Waraqah bin Naufal, sepupunya.

Hakim adalah pemuda yang pandai. Pandangannya luas. Perangainya halus. Sejak usia 15 tahun, sudah kentara sifat dermawannya. Hanya segelintir penderma dalam kaumnya yang sedermawan dia. Di usia itu, dia sudah masuk dalam perkumpulan para dermawan (dar an-nadwah). Padahal, sebelumnya perkumpulan itu hanya menerima anggota di atas usia 40 tahun.

Dengan diterimanya dia sebagai anggota dar an-nadwah, itu menunjukkan betapa unggul pemikirannya. Abu Sufyan, seorang yang mendapat tempat tertinggi di antara kaum Quraisy, menaruh hormat kepadanya. Ia sangat ingin mendapat prestasi yang sama dengan Hakim.

Dari sosok Hakim inilah Khadijah mendapatkan pengetahuan yang luas. Tak terkecuali ilmu dagang. Karena Hakim sendiri memanfaatkan kecerdasannya itu untuk berdagang.
Hakim memiliki banyak kafilah dagang. Kafilah itu sudah mencapai negara Syam. Bahkan sampai Persia. Meski keuntungannya berlipat, ia tidaklah memakai cara culas untuk mendapatkan keuntungan itu. Justru ia bersedekah kepada fakir miskin Makkah, tamu-tamunya, dan orang-orang yang ingin mendapat belas kasihnya.
Hal ini yang membuat Khadijah kagum, dan semakin giat mempelajari ilmu keponakannya itu.

Jika ia belajar hal-hal duniawi kepada Hakim, maka ia belajar hal-hal ukhrawi kepada sang sepupu, Waraqah bin Naufal. Usia Waraqah yang tua diimbangi dengan ilmu dan ruhaniyahnya yang matang.
Waraqah adalah sosok yang antimaterialistis, zuhud. Seluruh hidupnya ia gunakan untuk tafakkur atas ciptaan Tuhan. Beribadah pada-Nya. Mempelajari dua kitab suci: Taurat dan Injil.

Ia tidak terpengaruh oleh peribadatan yang dilakukan kaumnya. Ia sama sekali tidak mendekati berhala, patung pemujaan, tumbal dan sesembahan. Ia hanya menyembah Sang Maha Tunggal. Hatinya yang bersih, karena hanya dipenuhi kerinduan akan surga dan kekhawatiran akan neraka, membuatnya dicintai banyak orang dari kaumnya. Jika ia lewat di depan orangorang, mereka menghormatinya. Andai saja bukan karena keyakinan mereka berbeda, orang-orang itu ingin bersama Waraqah, berhadap-hadapan dengannya dalam waktu yang lama.

Dari seluruh pengetahuan yang ia dapatkan, satu hal yang paling ia idam-idamkan. Ia telah mengetahui ciri-ciri Nabi yang akan lahir kemudian sebagai nabi terakhir. Ia baca di kitab Taurat, Injil, ia dapat dari diskusi dengan para agamawan. Nabi terakhir itu berasal dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim as.
Ia sangat merindukan detik-detik itu. Detik-detik di mana ia akan bertemu dengan sang Nabi sebelum nafasnya berhembus.
Dua menara ini menjadi titik tolak sayyidah Khadijah dalam memutuskan seperti apa hidup yang akan dijalaninya. ia mendapat ilmu duniawi yang sempurna dari Hakim, dan pengetahuan ukhrawi yang tinggi lagi arif dari Waraqah.

Sumber:
Dr. Muhammad Abduh Yamani, Innaha Fathimah az-Zahra’, al-Manar li an-Nasyr wa at-Tanwir.

Renungan Ajaran Kemanusiaan

Suatu ketika, nabi Muhammad Saw sedang duduk. Dan hari itu lewat di depan beliau jenazah seseorang yang hendak dikuburkan. Seketika nabi Muhammad Saw berdiri. Dalam budaya Arab zaman dulu, berdiri saat ada seseorang yang lewat atau datang adalah sebuah bentuk penghormatan dan penghargaan.

Melihat nabi berdiri, sahabat yang mendampingi di samping beliau kemudian memberi tahu bahwa yang lewat ternyata adalah jenazah seorang non muslim yang beragama Yahudi.

“Kanjeng nabi, itu adalah jenazah seorang yang beragama Yahudi.” Demikian dawuh sahabat kurang lebih saat itu.

Apakah respon nabi Muhammad Saw?

Mendengar sahabat beliau berkata demikian, nabi tidak lantas duduk. Beliau tetap berdiri. Beliau bahkan bersabda, “bukankah itu juga jiwa (manusia)?”

Sebuah sikap yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw tentang kemanusiaan.

Gambaran peristiwa tersebut diabadikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan imam Bukhari.

حدثنا آدم ، حدثنا شعبة ، حدثنا عمرو بن مرة قال : سمعت عبد الرحمن بن أبي ليلى قال: كَانَ سَهْل بن حنيف وقيس بن سعد قَاعِدَينِ بِالقَادِيسِيَّة فَمَرُّوا عَلَيهِما بِجَنَازَةٍ فَقَامَا. فَقِيلَ لهُمَا اِنَّهَا مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ اى مِنْ أَهْلِ الذِّمَّة. فَقَالَتْ : أَنَّ النَّبِي صلى الله عليه وسلم مَرَّتْ به جَنَازةٌ فَقَامَ فَقِيلَ له : اِنَّها جَنَازَةُ يَهُودي . فقال : أَلَيْسَتْ نَفْساً؟. رواه البخاري “

“Di kota Qadisiyah, Sahl bin Hanif dan Qais bin Saad duduk-duduk untuk beristirahat. Kemudian lewatlah sekelompok orang yang sedang memikul jenazah. Sahl dan Qais pun lantas berdiri. Keduanya diberitahu bahwa jenazah tersebut ternyata adalah warga non muslim. Rawi hadis mengatakan, ‘kami pernah bersama Nabi, lalu ada jenazah orang Yahudi lewat, Nabi berdiri. Kami katakan, ‘Nabi, itu kan jenazah orang Yahudi?’ Nabi bersabda, ‘Bukankah ia juga adalah jiwa (manusia)?.” (HR. al-Bukhari).

Dalam hadis lain juga disebut pesan penting tentang kemanusiaan. Dan ajakan untuk menghormati sesama umat manusia.

عن جابر بن عبد الله قال : مَرَّتْ جَنَازَةٌ فَقَامَ لهَا رَسولُ الله صلى الله عليه وسلم وَقُمْنَا مَعه فَقُلْنَا : يَارَسولَ الله اِنَّهَا يَهُودِية فَقَالَ إِنَّ المَوْتَ فَزَعٌ . فَاِذَا رَاَيْتُمْ الجَنَازَةَ فَقُومُوا “. رواه مسلم “

Sahabat Jabir bin Abdullah mengatakan, “Suatu hari kami melihat keranda jenazah lewat. Nabi kemudian berdiri. Kami pun ikut berdiri bersama beliau. Lalu kami katakan, ‘Wahai Nabi, itu jenazah orang Yahudi’. Beliau kemudian bersabda, ‘Kematian membawa kesedihan yang mendalam. Bila kalian melihat jenazah, berdirilah.'” (HR. Muslim.)

Demikian pesan dari nabi Muhammad Saw, untuk selalu menjunjung tinggi kehormatan manusia. Meskipun berbeda agama. Lihatlah pesan tersiratnya. Apalagi jika manusia yang tertimpa musibah itu satu iman dan satu keyakinan dengan kita. Apalagi jika mereka sama-sama adalah umat Islam. Tentunya perintah tersebut lebih kuat.

Jangan sampai karena suatu hal dan kondisi, kita mengabaikan sikap kemanusiaan. Kepada jenazah non muslim saja, nabi Muhammad Saw menyempatkan untuk berdiri. Apalagi jika ada kawan sesama muslim kita yang tertimpa musibah.

Allah SWT telah berfirman,

(وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا)

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”

Seorang ulama salaf, Imam Ayub Al-Sikhtiyani berkata, “Bentuk menghormati mayit adalah memakamkannya.”

(إكرام الميت دفنه)

Jangan sampai di masa krisis malah kita kehilangan sesuatu yang sangat penting dan kita junjung tinggi sebagai identitas makhluk yang berakal: rasa kemanusiaan.

RASA KEMANUSIAAN, PILAR KEHIDUPAN

Islam mengajarkan tentang kemanusiaan. Dalam interaksi sosial antar sesama makhluk hidup, kita diajarkan untuk selalu menghormati dan menjunjung tinggi kerukunan. Ini dilakukan kapanpun dan dimanapun. Kepada manusia yang hidup, atau bahkan yang sudah mati.

Dalam hadis muttafaq ‘alaih disebutkan,

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari sahabat Anas, nabi Muhammad Saw bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. 
(hadis Bukhari dan Muslim)

Sebuah kisah indah dituturkan dalam sejarah. Dulu ada seorang sahabat perempuan yang sudah sepuh. Beliau tidak begitu dikenal oleh para sahabat nabi lain. Saya tidak menemukan referensi bahwa beliau pernah turut serta dalam jihad. Para sahabat sendiri sebatas mengenal beliau dengan panggilan Ummu Mahjan. Beliau ini memiliki keistiqomahan membersihkan masjid Nabawi. Menyapu tempat mulia tersebut. Dan kanjeng nabi Muhammad Saw sendiri memperhatikan beliau.

Dalam salah satu riwayat disebutkan, pada suatu hari, Ummu Mahjan sakit. Rasulullah saw pun berpesan “Apabila ia meninggal dunia, maka jangan kuburkan ia sebelum aku menyalatkannya”.

Dan benar saja, suatu ketika sahabat Ummu Mahjan tidak nampak. Nabi lantas bertanya kepada para sahabat lain. Nabi kemudian diberi tahu bahwa beberapa saat yang lalu, sahabat Ummu Mahjan baru saja meninggal. Dalam salah satu keterangan dari al-Habib Ali Al-Jufri, waktu itu para sahabat sungkan untuk memberi tahu nabi karena nabi Muhammad Saw sedang istirahat. Mereka tidak ada yang berani membangunkan nabi.

Akhirnya sahabat Ummu Mahjan dimakamkan di Baqi’ tanpa Nabi Muhammad Saw sempat mensalatkan.

Mengetahui hal itu, nabi Muhammad Saw nampak kecewa. “Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku?” Tanya Nabi dalam sebuah riwayat.

Beliau kemudian meminta ditunjukkan dimana sahabat Ummu Mahjan dimakamkan. Sahabat lain kemudian mengantarkan beliau.

Dari atas makam, nabi mendoakan. Dalam sebuah catatan sejarah, nabi Muhammad Saw melaksanakan salat jenazah di tempat tersebut. Sedangkan para sahabat lain menjadi makmum di belakang nabi Muhammad Saw.

Peristiwa tersebut mengajarkan kita betapa rasa kemanusiaan tidak mengenal siapa. Dan tidak memandang apa. Kepada siapapun kita dituntut untuk selalu menjujung tinggi nilai-nilai kehormatan.