368 views

Ibadah Nggak Ada Nikmat-nikmatnya?

Ibadah Nggak Ada Nikmat-nikmatnya?

Setiap tindak laku kita, maksiat maupun taat, sejatinya sangat berdampak terhadap naik dan turunnya keimanan. Ibarat kaca benggala. Lelaku lahir merupakan refleksi dari apa yang ada dalam batin. Keduanya sangat erat berkaitan.

Kali ini kita berbicara soal ibadah, yang menjadi pola dasar diciptakannya manusia dan jin. Seperti dalil yang sudah jamak kita ketahui. Sebagai mukmin dengan derajat iman pas-pasan—untuk tidak mengatakan rendah—kita tentu menyadari kualitas ibadah sehari-hari yang kita tunaikan.

Bagaimana shalat yang sekedar menggugurkan kewajiban. Bagaimana puasa yang hanya menunda jadwal makan dan minum. Bagaimana yang mungkin sudah pernah berhaji sebatas menaikkan level sosial di tengah masyarakatnya. Bagaimana semua amal itu begitu nyata tanpa memiliki ruh yang menjiwainya.

Ya, bagaimana pun juga, kita tetap bersyukur dengan nikmat iman dan islam ini, meminjam bahasa Gus Baha’, nikmat terbesar berupa sujud. Lanjutkan saja sujud itu, sampai ia benar-benar merasuk dan nikmat.

baca juga: Agama dan Kebudayaan; Tidak Perlu Dibenturkan

Pandangan Syekh Ibn Atha’illah as-Sakandari

Menurut Syekh Ibn Atha’illah as-Sakandari dengan Al-Hikamnya, ibadah yang menimbulkan rasa kenikmatan luar biasa bagi pelakunya, menjadi tanda bahwa ibadah tersebut diterima dan mendapat ridha dari-Nya kelak di akhirat. Karena itulah buah manis daripada beribadah. Balasan dari amal baik tersebut seperti diberikan terlebih dahulu saat di dunia, berupa rasa lezat saat beribadah. Jadi semacam pesan notifikasi jikalau amal telah terkirim dan diterima.

مَنْ وَجَدَ ثَمْرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلًا دَلِيْلٌ عَلَى وُجُوْدِ الْقَبُوْلِ آجِلًا

“Seorang salik (pencari Tuhan) yang menemukan buah amalnya disegerakan, maka menjadi tanda atas diterimanya amal tersebut dan mendapatkan balasannya kelak.”

Jika demikian, maka kenyataan sebaliknya juga berlaku. Pengabdian yang tidak didasari keikhlasan dan ketulusan, akan terasa berat, serta tiada kenikmatan di dalamnya. Ibadah semacam inilah milik kebanyakan dari kita. Semua atas dasar keterpaksaan dan ketertekanan, atau setidaknya karena ada maunya. Mari kita korek masing-masing pada diri kita.

Bagaimana untuk menjadi ikhlas dalam beribadah, tidak karena riya’, pujian dan lain sebagainya dari rentetan penyakit hati? Obatnya ya sebaliknya, kita terus beribadah dengan terus mengawasi penyakit-penyakit tersebut jangan sampai terkecoh. Itulah mujahadatun nafsi, perang melawan nafsu. Jihad yang sesungguhnya bagi kita.

Sebagai penutup, pengalaman sepiritual dari sebagian ulama berikut, mungkin bisa kita tiru dan terapkan ;

“Aku menderas al-Qur’an namun tak kutemukan kenikmatan di dalamnya, sehingga suatu waktu aku menderasnya dengan menumbuhkan rasa seakan aku mendengarnya langsung dari Baginda Nabi Saw. saat beliau membaca di hadapan sahabatnya. Allah menganugerahiku naik pada level selanjutnya. Aku membaca al-Quran seakan aku menerimanya langsung dari Malaikat Jibril As. saat menurunkannya kepada Baginda Nabi. Lalu Allah menaikkan levelku. Sekarang aku merasa seperti mendengarkan langsung dari Allah Swt. Aku merasa berdialog langsung dengan-Nya. Saat itulah kurasakan kenikmatan yang tiada tara.”  Semoga bermanfaat. Sekian. []

tonton juga: Tujuan Diutusnya Rasulullah SAW | KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Ibadah Nggak Ada Nikmat-nikmatnya?
Ibadah Nggak Ada Nikmat-nikmatnya?

2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.