All posts by abdul basit na

KEBENARAN DI KELAS SYAMSUL

Kelas Syamsul sedang kosong, Bapak Mustahiq tidak masuk kelas, entah ke mana beliau. Syamsul sebagai ketua kelas maju membawa kitab, agar teman-temannya tidak ramai ia ingin mengajukan pertanyaan sebagai bahasan diskusi mereka untuk mengatasi kegabutan.

“Menurut kalian, bagaimana arti kebenaran itu?” Sesampainya di depan, Syamsul lekas saja membuka percakapan. Teman-temannya tetiba diam, demi melihat Syamsul berbicara seperti serius. Munir yang tadinya rebahan, mengangkat tubuhnya.

“Kebenaran itu saat kita melakukaan sesuatu sesuai keinginan ibu.” Munir teringat ibunya di rumah. Ia mengusap muka, tampaknya ia rindu.

Dimas si penggemar ikan koi mengejek, “Pasti ibumu mempunyai banyak aturan.” Teman-teman menertawakannya. Dimas ikutan, saat tertawa, perutnya bergoyang-goyang seolah terkena terpaan angin.

“Kebenaran adalah apa yang diputuskan oleh Yang Mulia dalam persidangan.” Fajar yang hobi mendengarkan musik dangdut itu angkat bicara. Saat ia masih kecil, Pak De-nya pernah dimejahijaukan soal sengketa tanah, namun berhasil lolos dari jeratan hukum. Mudah saja yang seperti itu bagi Pak De. Beliau mempunyai banyak rekan dan uang.

“Benar, karena Yang Mulia adalah ahli hukum, pasti beliau lebih tahu mana yang benar.” Rafi mendukung Fajar, sambil tangannya membenarkan letak songkoknya yang miring. Songkok itu pemberian kakek, warnanya sudah merah, usianya mungkin sama dengan HUT RI.

“Tidak bisa, hakim memutuskan perkara sesuai dengan yang dia lihat. Kita tidak pernah tahu sejatinya perkara yang tidak pernah kita lihat.” Munir kembali lagi ngeyel.

“Kalau seperti itu, tidak pernah ada masalah yang telah diselesaikan Pak Hakim.” Mbah Rahmat tidak terima. Eh, dia bukan sudah tua, teman-teman memang memanggilnya dengan imbuhan ‘mbah’ karena menghormatinya sebagai yang tertua di antara mereka.

“Lalu bagaimana dengan masalah-masalah manusia? kita, kan, juga memerlukan keputusan, walau putusan itu salah.” Dimas menyela lagi.

Hanyut

Di luar hujan mulai mengguyur, beberapa hari ini, hampir setiap sore hujan datang ke bumi pondok dan sekitar, membawa cerita kelas Syamsul hanyut bersama aliran airnya.

“Berarti kebenaran itu apa yang telah kita sepakati bersama.” Fajar menyimpulkan angannya sendiri tanpa meminta persetujuan yang lain. Sedang Rafi yang ada di sebelahnya manggut-manggut saja layaknya paham.

“Jadi bagaimana jika ada sekawanan penjahat yang tertangkap polisi, mereka sepakat untuk tidak mengakui perbuatannya. Apa mereka benar juga?” Rijal yang tadinya diam tidak tahan juga. Teman-temannya melirik. Rafi menggaruk rambut kepalanya hingga jatuh songkok merah itu.

“Tapi kalau kelompok yang menyepakati kebenaran itu mayoritas, mereka tetaplah yang paling benar. Atau setidaknya hampir benar. Mendekati benar. Kan, nabi menjamin bahwa umatnya tidak akan sepakat dalam kesesatan.” Kali ini Mbah Rahmat benar-benar mau menyudahi diskusi mereka. Karena lonceng akan berdenting beberpa menit lagi.

Di depan, Syamsul mulai capek berdiri. “Kebenaran milik Allah dan Rasulnya, kita sekadar berspekulasi…” Belum tuntas omongan Syamsul, Munir menyela.

“Kita, kan, juga diberi kitab suci dan hadis nabi sebagai pembimbing.” Tangan Munir mengemasi kitab-kitabnya. “Hakikat segalanya akan tampak kelak. Jadi berbuat saja sesuai kaidah agama kita.” Munir melangkah mendahului mereka, lonceng sudah berdenting.

“Woy, tidak semua dijelaskan oleh agama, mungkin sih, semua, tapi, kan, hanya muatan-muatan.” Fajar masih tidak terima teman-teman meninggalkannya keluar kelas paling akhir. Hujan rintik. Mereka keluar kelas agak berlarian.[ABNA]

Baca juga:
CERPEN SANTRI: RAHASIA BAPAK

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# CERPEN SANTRI: KEBENARAN ITU ….
# CERPEN SANTRI: KEBENARAN ITU ….

Generasi Sholeh Ummu Sulaim

Nama lengkap beliau Ummu Sulaim binti Milhan Al-Anshary Ra., salah seorang sahabat wanita dari golongan Anshar. Beliau merupakan Srikandi Islam, turut serta dalam peperangan, di antaranya perang Hunain dan Uhud. Hal itu menjadikan beliau termasuk tokoh perempuan yang disegani di kalangan sahabat nabi.

Konon kala mengajukan diri sebagai veteran perang, suami beliau, Abu Thalhah Ra. mengajaknya menemui Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, ini Ummu Sulaim (ikut peperangan) berbekal belati.”

“Wahai Rasulullah, jika ada orang musyrik yang mendekat kepadaku, akan kutusuk perutnya menggunakan belati ini.” Begitu timpal Ummu Sulaim dengan semangat jihad yang membara tanpa rasa takut sedikit pun meski ia perempuan.

Abu Thalhah adalah suaminya yang kedua setelah Malik meninggal, Abu Thalhah melamarnya karena terpesona dengan perangai Ummu Sulaim yang baik. Namun saat itu Abu Thalhah masih belum masuk Islam, sehingga lamarannya ditolak.

Hidayah

“Sungguh tidak pantas bagiku menikah dengan seorang musyrik.” Begitu kiranya penolakan dari Ummu Sulaim, bukan berarti beliau membenci. “Abu Thalhah, coba kau pikirkan. Tuhan kalian yang dibuat dengan cara dipahat itu, jika kalian nyalakan api padanya pastilah terbakar. ” Pesan logis ini ternyata mampu mengendap dalam pikiran Abu Thalhah setelah mereka berpisah dalam pertemuan itu.

Selang beberapa hari kemudian Abu Thalhah datang kembali. “Apa yang kau utarakan kemarin, sungguh aku sependapat.” Akhirnya mereka berdua menikah dengan mahar berupa Islamnya Abu Thalhah.

Hari-hari selanjutnya kehidupan mereka diwarnai dengan perjuangan dan keringat dalam membantu dakwah Nabi membumikan Islam.

Kepergian Sang Anak

Sampai suatu ketika, putra mereka jatuh sakit, sedang Abu Thalhah sedang keluar dalam peperangan bersama Nabi. Tidak lama setelah itu sang putra menghembuskan nafas terakhirnya. Dibantu orang-orang di sekitarnya Ummu Sulaim memandikan putranya.

Setelah semua prosesi tajhiz selesai, ia memerintahkan agar putranya diletakkan di sudut kamar dan menutupinya dengan kain sambil berpesan, “Jangan beritahu kabar kematian ini kepada Abu Thalhah. ” Sore harinya Abu Thalhah datang dari perjalanan jihadnya dengan kondisi yang jelas sangat melelahkan.

Mengetahui situasi ini, pikir Ummu Sulaim tidak mungkin serta-merta memberitahu suaminya yang sedang letih, sebagai istri yang salehah ia mencari cara agar ketika tahu kabar kematian putra tercinta, suaminya tidak kaget.

Ia segera berdandan demi menyambut kedatangan suaminya. Dandanannya kali ini tidak seperti biasanya, ia memaksimalkan semuanya.

“Bagaimana keadaan putra kita?” Abu Thalhah menanyakan kondisi putranya yang memang sudah jatuh sakit sejak kepergiannya.

“Sungguh malam ini ia lebih tenang daripada malam-malam sebelumnya.” Jawab Ummu Sulaim. Jelas suaminya mengira si kecil sudah sembuh dari sakitnya.

Selesai itu, Ummu Sulaim mempersiapkan hidangan makan malam. Mereka makan dengan tenang sambil melepas rindu tanpa beban sama sekali, seakan tidak terjadi apa-apa.

Makan malam usai dengan syahdu. Ummu Sulaim menawarkan dirinya kepada sang suami, “Adakah engkau ‘menginginkannya’ malam ini?. Tawarannya disambut, mereka menuai kerinduannya dalam rengkuhan berpahala.

Kecerdasan Ummu Sulaim

Usai itu, Ummu Sulaim menemukan celah untuk membuka kabar dukanya.

“Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang tetangga kita?”

“Kenapa dengan mereka?” tanggap Abu Thalhah.

“Mereka meminjam sesuatu, namun saat pinjaman tersebut akan diambil kembali oleh pemiliknya, mereka enggan untuk mengembalikan. Mereka mengklaim barang pinjaman itu adalah milik mereka.”

“Sungguh jelek sekali apa yang mereka perbuat.” Jawab Abu Thalhal.

“Putramu merupakan titipan Allah, Ia mengambilnya darimu.” Deg, perkataan itu memukul perasaan suaminya. Namun ia sudah berkata-kata atas pancingan pertanyaan istrinya tadi.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Alhamdulillah.”

Keesokan harinya, saat petang masih pekat, Abu Thalhah buru-buru mendatangi Rasulullah dan menceritakan kejadian yang ia alami kepada beliau mulai awal hingga akhir.

Kebahagiaan menaungi Abu Thalhah dan keluarganya, Rasulullah mendoakan mereka.

“Ya Allah berkahilah malam keduanya (saat berhubungan intim).” Begitu bunyi doa Rasul, singkat namun berdampak begitu besar terhadap keturunan mereka.

Kehadiran Buah Hati

Beberapa bulan kemudian, Ummu Sulaim melahirkan seorang anak dari malam berkah yang telah nabi doakan. Keesokannya, Ummu Sulaim menyuruh putranya dari suami yang pertama, Anas bin Malik, yang juga menjadi khadim Rasulullah, untuk membawa adik lain ayahnya yang baru lahir itu menghadap Rasulullah untuk didoakan.

Anas menggendong adiknya sambil membawa kurma ajwah menemui Rasulullah. Sesampainya di hadapan nabi, beliau segera memamah kurma yang telah ada lalu mentahniknya. Tidak cukup dari itu, beliau juga menamai bayi itu dengan nama Abdullah. Lengkapnya Abdullah bin Abu Thalhah.

Sungguh keberuntungan menyelimuti bayi Abdullah ini, sejak awal ia telah mendapatkan doa dari nabi. Hingga setelah lahir pun ia mendapatkan barakah langsung dari nabi dengan tahnik tersebut.

Generasi Unggul

Dari Abdullah bin Abu Thalhah, yang berjuluk ‘Putra Pemilik Malam Berkah’ inilah, lahir darinya putra-putra hebat pemegang panji keilmuan Islam. Abdullah mempunyai sepuluh orang putra yang keseluruhannya hafal kitab suci Al-Quran. Subhanallah.

Yang paling masyhur dari putra Abdullah adalah Ishaq, beliau menjadi guru besarnya Imam Malik, pendiri mazhab Malikiyyah.

Begitulah balasan Allah dari seorang istri yang salehah, seorang pejuang perang, pencari berkah nabi yang tak kenal lelah. Konon juga Ummu Sulaim menyimpan kepingan dari wadah air yang pernah digunakan Rasulullah minum, dengan tujuan mencari berkah.

Mari mencari berkah sebanyak-banyaknya dari orang-orang saleh, agar cerah kehidupan dunia akhirat kita, bernaung dengan doa-doa mereka yang dekat dengan Allah. [ABNA]

# GENERASI SHOLEH UMMU SULAIM

Baca juga:
RAHASIA ABU HURAIRAH HAFAL 5374 HADIS

Follow juga instagram milik @pondoklirboyo

# GENERASI SHOLEH UMMU SULAIM
# GENERASI SHOLEH UMMU SULAIM

SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN

Nabi sebagai cerminan, yang akhlaknya merupakan Al-Quran, sangat memukau dalam kesehariannya saat menghadapi umat yang bermacam-macam karakter. Seperti yang kita ketahui, beliau itu pemalu. Bahkan digambarkan lebih pemalu dari seorang perempuan dalam sekat. Namun jangan salah, beliau juga manusia yang sangat pemberani mengalahkan siapa pun.

Seperti saat beliau dan pasukannya terkepung oleh bala musuh, pasukan beliau banyak yang mundur, sedang beliau sendiri tak gentar menghadang, sehingga menyalakan kembali keberanian pasukannya. Itulah sifat manusia terbaik, manusia pilihan Tuhan semesta, beruntung kita menjadi umatnya.

Konsultasi

Pernah suatu saat beliau didatangi seorang wanita dari golongan Anshar. Ia ingin berkonsultasi dengan nabi tentang hal-hal yang berhubungan dengan kewanitaan.

Ia mengeluhkan tentang darah (kewanitaan) yang merembes di pakaian. Mungkin darah yang keluar itu saat Ia di masa istihadhah. Sehingga Ia bertanya kepada nabi bagaimana cara menyucikan diri dari darah itu, karena salat lima waktu bagi perempuan yang sedang istihadhah tetaplah wajib.

Ia bingung sebab darah tersebut masihlah terus mengalir, bagaimana nanti dengan salatnya? Bukankah jika memaksa untuk salat berarti sama halnya Ia sedang membawa najis?

Merasa tidak menemukan jawaban atas kejanggalan yang Ia alami, Ia mendatangi Nabi dan segera mengajukan pertanyaannya itu.

“Ambillah selembar kain yang telah diolesi minyak wangi dan gunakan untuk bersuci. ” Nabi singkat saja menjawab.

Akan tetapi perempuan itu masih bingung. “Bagaimana caraku bersuci menggunakan kain itu, wahai Rasulullah?” Ia bertanya lagi.

“Bersucilah dengannya.” Nabi tidak sanggup menjelaskan lebih lanjut.

“Bagaimana caranya?” Ternyata ia terus mendesak Nabi. Bukan karena apa, memang Ia masih kurang paham.

Saat seperti inilah tampak dari ucapan nabi, betapa beliau sangat tidak rela kalau-kalau dari mulut sucinya terucap perkataan yang kurang layak. Meski toh kaitannya dengan ilmu dan praktik ibadah.

“Subhanallah, bersucilah dengan kain itu.” Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu beliau ucapkan.

Ketika ada sesuatu hal yang tidak pantas untuk diucapkan, beliau selalu bertasbih. Demi menyucikan Allah dari sifat-sifat kurang.

Detail Jawaban

Saat mengetahui Nabi tidak mungkin bisa menjelaskan dengan detail jawaban atas pertanyaan dari perempuan itu, Sayyidah Aisyah meraih tangan perempuan dari kalangan Anshar tersebut dan berjalan menjauh dari Nabi. Sayyidah Aisyah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana praktik bersuci yang ia tanyakan kepada Nabi.

Di sinilah istri-istri Nabi mengambil peran dengan membantu beliau dalam berdakwah yang mungkin sangat sulit kalau hanya beliau sendiri. Ada area-area tertentu yang akan berat untuk bisa beliau jangkau.

Beliau Nabi menghendaki agar perempuan tadi menggunakan selembar kain untuk menyumbat darah, agar tidak merembes keluar saat melakukan ibadah. Hal ini tidak mungkin bisa dengan rinci beliau sampaikan.

Di sisi lain, Sayidah Aisyah Ra. yang dikenal paling cerdas di antara istri-istri beliau, memuji wanita-wanita Anshar yang tidak malu untuk belajar agama dan bertanya kala kejanggalan menyapa. [NA]

Baca juga:
AL-ADZKAR: BERUNTUNGNYA BADUI YANG ZIARAH KE MAKAM NABI SAW.

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN
# SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 Hadis

Bangsa Arab, sebelum datangnya Islam yang merombak seluruh lini kehidupannya, merupakan bangsa yang tidak diperhitungkan peranan dan kiprahnya di dunia timur maupun barat. Peradaban mereka masih tertinggal jauh. Jangankan minat mengembangkan bidang keilmiahan dan penemuan-penemuan, justru mereka masih sibuk dengan konflik internal yang berkepanjangan. Perang antar suku yang setiap detiknya bisa tercetus, seperti api yang menemukan dedaunan kering untuk disantap. Bahkan pemantiknya bisa datang dari perkara-perkara yang remeh temeh.

Bukannya latah hendak berkata “semua berubah setelah negara api menyerang”, tapi memang nyatanya demikian. Tentu perubahan yang dimaksud tidaklah yang berkonotasi negatif seperti dalam cerita film The Legend itu. Islam hadir membawa cahaya kehidupan baru bagi bangsa kakbah ini. Mereka yang awalnya hanya direpotkan dengan perang, kini Islam mampu mempersaudarakan mereka dengan begitu mengharukan tiada dua.

Perubahan yang divisikan Islam merambah di segala porsi kemanusiaan mereka. Dalam sekejap, mereka bertransformasi menjadi bangsa super power yang mencengangkan. Menggulung kemusyrikan di timur dan barat. Namun demikian tanpa berlaku vandalisme seperti kebanyakan bangsa yang tengah berada di atas angin sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Fotomemory

Cukuplah, sebenarnya saya ingin mengulas soal lain, yakni daya hafalan yang dimiliki penduduk bangsa ini yang sangat luar biasa. Sudah tidak perlu ambil contoh jauh-jauh, Al-Quran dan ribuan hadis yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir itu saja bisa menjadi bukti kualitas mereka. Terlepas dari jaminan Allah untuk menjaga keotentikan Al-Quran itu sendiri.

Padahal, mungkin di masa yang sama, di negeri kita ini, sedikit sekali perkataan-perkataan moyang kita yang sampai ditelinga kita dengan selamat tanpa penambahan maupun pengurangan.

Mula-mula, sebelum mengenal istilah tulis menulis lebih dalam, yang diimpor dari bangsa Persia saat mendapati tawanan mereka pandai akan hal ini dan dijadikan sebagai tebusan pembebasan dengan syarat mau mendidik beberapa orang arab untuk belajar menulis dan membaca, bangsa Arab sangat malu-kalau enggan mengatakan antipati- terhadap bidang kepenulisan.

Mencatat informasi dalam selembar pelepah kurma atau kulit binatang, bagi mereka adalah sebuah aib, sebab hal tersebut menandakan lemahnya daya ingat yang mereka banggakan itu. Konon sampai sekarang, orang-orang dengan gen kekuatan hafalan yang luar biasa ini masih bisa kita jumpai di sana. Jadi, pada waktu itu, kalau mau membawa pensil dan mencatat, seseorang harus sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan orang lain, kalau tidak ia akan mendapatkan cemoohan.

Isyarat Al-Quran menjelaskan :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 hadis

Nama aslinya sebelum masuk Islam adalah Abdul Syam, datang dari tanah wali, Yaman. Setelah masuk Islam namanya berubah menjadi Abdul Rahman, lalu lebih dikenal dengan Abu Hurairah Ra.

Beliau adalah Sahabat yang paling banyak periwayatan hadisnya, sejumlah 5374 hadis yang beliau hafal. Bahkan, sahabat Abdullah ibn Umar Ra yang jumlah hafalannya 2630 hadis dan tepat di urutan setelahnya hanya mencapai hitungan separuh dari keseluruhan hafalan milik Abu Hurairah. Karena memang beliau sangat totalitas dalam bidang ini.

Saat kebanyakan Sahabat Muhajirin sibuk dengan urusan transaksi di pasar, dan Sahabat Anshar dengan perniagaannya, beliau tak pernah menjauh dari mengais mutiara-mutiara yang keluar dari lisan orang termulia, Nabi. Seharusnya memang seperti itu semangat seorang santri. Mendekatkan diri pada mata air.

Tak heran nama kunyah yang familiar terhadap beliau adalah Abu Hurairah yang artinya bapaknya kucing. Sebab beliau selalu mengikuti di mana pun Nabi pergi, yang seperti ini mirip dengan perilaku kucing yang mengincar seekor ikan teri. Tapi kenyataannya memang beliau sangat menyukai hewan yang juga dicintai Nabi tersebut.

Kunyah itu memang nama anugerah bagi Abu Hurairah yang disematkan langsung oleh baginda nabi saat menjumpainya sedang membawa ia seekor anak kucing, hingga setelah itu tiada seorang pun yang memanggilnya dengan nama asli.

Pemacu

Dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh beliau sendiri, pernah suatu ketika beliau ingin menemui Nabi untuk mengadukan permasalahan dari hafalannya yang sering lupa. Ia sangat takut akan hal ini. Padahal spiritnya untuk memperbanyak untaian mutiara dari kalam nabi itu agar ia tidak tergolong dari kelompok yang diancam Allah dengan siksaan yang pedih, yakni kelompok yang menyembunyikan ilmu tanpa menyebar dan mengajarkannya kepada orang lain.

Akhirnya beliau beranjak pergi menemui Nabi. Setelah berjumpa, ia ungkapkan kekhawatirannya itu.

“Wahai Rasulullah, sungguh aku telah menghafalkan banyak hadis dari engkau, namun aku sering dibuat lupa. ” Begitu keluhnya, yang bisa ditangkap nabi kalau Abu Hurairah meminta solusi kepada beliau tentang permasalahannya itu.

Tanpa banyak berbicara, beliau meminta Abu Hurairah menggelar selendang miliknya.

“Gelarlah selendangmu.” perintah Nabi yang segera disambut Abu Hurairah. Setelah selendang tergelar di tanah, beliau Nabi mendekat. Lalu menyaukkan kedua telapak tangan suci beliau di udara, seakan beliau sedang mendapatkan sesuatu. Lalu ‘sesuatu’ yang beliau ‘ambil’ dari udara itu di letakkan di atas selendang.

“Dekaplah selendang itu.” ujar baginda Nabi. Mendengar perintah dari orang yang paling dicintainya melebihi apa pun, Abu Hurairah lekas menaati titah. Ia mendekap selendangnya. Ajaib, dengan izin Allah, setelah kejadian ini, Abu Hurairah tidak pernah mengalami kelupaan dalam meriwayatkan ribuan hadis yang telah rapi terkodifikasi dalam memori otaknya.

“Setelah itu aku tak pernah mengalami kelupaan.”

Berselera humor tinggi

Mungkin selama ini kita tahu kalau Abu Hurairah selalu berkutat dengan ilmu saja, sangat wirai dan zuhud terhadap dunia. Karena memang datang ke kota nabi tanpa membawa harta bendanya. Ia khusus mengkhidmahkan diri kepada nabi dan cukup baginya hanya bertempat tinggal di shuffah Masjid Nabawi bersama kawan-kawannya.

Namun ternyata ada sisi lain yang mungkin jarang kita ketahui, Abu Hurairah adalah seorang yang periang dan humoris. Seakan kehidupannya serba kekurangan dan tanpa memiliki materi. Bahkan untuk makan pun harus menunggu uluran tangan para dermawan, bukanlah alasan bagi beliau untuk tetap bisa berkelakar.

Setiap berjumpa dengan bocah-bocah sahabat Anshar-Muhajirin, beliau pasti membuat mereka tertawa. Ketika bertemu orang-orang yang sedang beraktivitas di pasar, beliau menghibur mereka hingga bisa membuat lupa beban pikiran.

Dan dari tingkahnya yang selalu menjadi penghibur banyak orang itu, beliau akan menjadi hamba yang penuh pasrah kala malam menjelang, khusyuk bermunajat kepada Rabbul izzah menyingkirkan kerikil-kerikil hubbuddunya. [ABNA]

Sebaik-baik Perhiasan Dunia

Perempuan itu berlian, akan tampak lebih indah jika dibalut dengan akhlak terpuji. Pahala mereka melimpah ruah meski hanya di dalam rumah. Komunikasi yang baik dalam rumah tangga merupakan ceruk yang harus dibangun sejak dini agar lekas tercipta Chemistry antara suami-istri. Semua bisa dicapai dengan saling menjaga perasaan satu sama lain. Mau menerima kondisi dan keadaan pasangannya, dan sebagainya. Bagaimanapun itu merupakan lahan pahala.
Bersabar dengan apa yang ada dalam diri pasangannya. Materi, fisik maupun hal-hal indrawi lainnya hanyalah penunjang kebahagiaan. Semua dapat diatasi dengan penyikapan yang telah dituntunkan agama.

Bagi istri, ketaatan kepada suami adalah modal besar kelak di hadapan Tuhan. Dalam kesehariannya, ada banyak poin mengenai etika terhadap suami. Diantaranya hanya bersolek untuk suami. Menjaga martabat suami di depan orang lain. Tidak menghina kondisi fisik suami jika memang kurang begitu menyenangkan untuk dipandang. Bahkan janganlah membanggakan kecantikannya kepada suami.

Sebuah kisah menarik diceritakan oleh Syekh Asmu’i. : “Suatu ketika aku masuk pada sebuah perkampungan. Di sana aku bertemu dengan seorang wanita yang kecantikannya sungguh sangat. Dia menjadi istri dari sosok lelaki yang (maaf) buruk rupa.” Beliau heran kenapa ia mau diambil istri.
“Duhai, kenapa engkau mau menjadi istri dari seorang suami yang macam dia.” Pertanyaan beliau ini sungguh menyinggung perasaan perempuan itu.

“Diam kau!. Buruk sekali perkataanmu itu.” Jelas ia tidak terima. Namun ia menjawab kenapa mau dijadikan istri dengan jawaban yang mempesona nan bijaksana.
“Bisa saja suamiku itu saleh dan taat. Memenuhi segala hak-hak Allah Sang Khaliq. Sebagai pahalanya (mungkin) Allah menjadikanku istrinya. Sedangkan aku, bisa saja aku telah berlaku buruk dan tidak taat kepada Allah. Untuk balasannya (mungkin) menjadikannya sebagai suamiku. Kenapa aku tidak rida dengan sesuatu yang Allah rida terhadapnya?. ” Jawabanya begitu menohok sanubari Syekh Asmu’i.
“Sungguh ia membuatku diam seribu bahasa.” Tandas beliau.
Sekian, semoga bisa menjadi renungan agar bisa bersikap positif terhadap kenyataan yang pahit dalam segala lini kehidupan kita.

الدُّنْيَا مَتاَعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

[ABNA]

Baca juga:
ISTRI YANG PALING SABAR

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

# Sebaik-baik Perhiasan Dunia