All posts by abdul basit na

SALAT LIL UNSIL QABR, RINGANKAN BEBAN MAYIT

Mayoritas ulama sepakat bahwa doa, kalimat thayyibah maupun pahala dari amaliyah seperti sedekah dan lain-lain yang ditujukan kepada ahli kubur, akan sampai dan bisa memberi keringanan siksa dan memberikan sebuah kebahagiaan kepada penghuni alam barzah. Sudah banyak juga persaksian-persaksian orang saleh terdahulu maupun sekarang tentang hal ini, entah itu lewat mimpi dengan melihat perubahan yang sedemikian drastis pada diri mayit setelah dikirim pahala-pahala amaliyah tadi atau melihat dengan mata hati mereka yang bersih.

Sungguh, kehidupan di alam sana jauh lebih berat. Mayit laksana sedang berada di tegah samudera yang luas. Kondisi mereka tengah karam, mereka mengharap bantuan dari kita yang masih hidup. Entah itu berupa doa, sedekah maupun amaliyah lainnya. Seperti yang digambarkan dalam sebuah riwayat berikut :

مَا الْمَيِّتُ فِي الْقَبْرِ إِلَّا كَالْغَرِيقِ الْمُتَغَوِّثِ، يَنْتَظِرُ دَعْوَةً تَلْحَقُهُ مِنْ أَبٍ أَوْ أُمٍّ أَوْ أَخٍ أَوْ صَدِيقٍ، فَإِذَا لَحِقَتْهُ كَانَتْ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيُدْخِلُ عَلَى أَهْلِ الْقُبُورِ مِنْ دُعَاءِ أَهْلِ الْأَرْضِ أَمْثَالَ الْجِبَالِ، وَإِنَّ هَدِيَّةَ الْأَحْيَاءِ إِلَى الْأَمْوَاتِ الِاسْتِغْفَارُ لَهُمْ

“Tidaklah semata-mata mayat di alam kubur melainkan laksana orang yang sedang tenggelam yang minta bantuan, mereka menanti doa (pahala) yang dilakukan orang hidup yang disampaikan kepadanya, baik dari bapak, ibu, saudara atapun kawan. Apabila ada doa dan pahala kebaikan dikirimkan kepadanya maka itulah yang mereka sukai daripada dunia beserta isinya. Sesungguhnya Allah akan memasukkan kepada penghuni kubur dari pada doa-doa penghuni bumi seperti gunung kebaikan, sesungguhnya pemberian hadiah orang hidup terhadap orang mati ialah memohonkan ampunan untuk mereka. ” (HR. Al-Baihaqi, Ad-Daelami)

Sebagian masyarakat mungkin mentradisikan amaliyah kafarat atau penebusan dan doa atas segala dosa yang dilakukan almarhum saat di dunia, seperti membaca surat Al-Ikhlas sekian ribu kali dan sebagainya. Termasuk di antaranya adalah salat Unsil al-Qadr, yakni salat yang dilakukan sehari setelah mayit meninggalkan dunia ini. Salat ini dilakukan juga dengan tujuan meringankan siksa kubur bagi si mayit. Syekh Muhammad Nawawi, ulama kawakan Nusantara menerangkan tata cara salat ini dalam master piece beliau, Nihayatuzzain hal. 701 Cet. Haramain sebagaimana berikut ;

ومنه صلاة ركعتين للانس في القبر روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا يأتي علي الميت أشد من الليلة الأولي فارحموا بالصدقة من يموت قمن لم يجد فليصلي ركعتين يقرأ فيهما أي في كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة وأية الكرسي مرة و الهاكم التكاثر و قل هو االله أحد عشرى مرات

Pada keterangan di atas, beliau Syekh Nawawi menukil ungkapan Nabi Saw. yang berbunyi kurang lebih sebagai berikut :
“Termasuk dari salat sunah adalah dua rakaat salat Lilunsi Fil Qabr. Riwayat dari Nabi Saw. bahwa sabda beliau ; “Tidak datang suatu hal yang lebih berat bagi mayit ketimbang malam pertama (dia dikebumikan). Kasihanilah mereka dengan sedekah, bagi yang tidak mampu melakukannya, bisa dengan mengerjakan salat dua rakaat. Masing-masing setelah membaca al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca Ayat Kursi satu kali, Surat at-Takatsur satu kali dan Surat al-Ikhlas sepuluh kali.

TATA CARA

Niat salat Unsil Qabr :

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِلْأُنْسِ فِي اْلقَبْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالىٰ
Usholli sunnatan lil unsi fil qobri rok’ataini lillahi ta’ala.
Saya shalat sunah untuk ketenangan mayit dalam kuburnya dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Setelah membaca surat al-Fatihah, disusul Ayat Kursi dan Surat at-Takatsur masing-masing satu kali kemudian membaca Surat al-Ikhlas sepuluh kali, runtutan ini juga dikerjakan pada rakaat ke dua.
Setelah salam, dilanjutkan dengan membaca doa sebagaimana kelanjutan dalam keterangan yang disampaikan oleh beliau :

اَللَّهُمَّ إِنِّي صَلَّيْتُ هَذِهِ الصَّلَاةَ وَتَعْلَمُ مَا أُرِيْدُ اَللَّهُمَّ اِبْعَثْ ثَوَابَهَا إِلَي قَبْرِ فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ

Allahumma inni shollaitu hadzihis shalata wa ta’lamu ma uridu allahummab’ats tsawabaha ila qobri fulan ibni fulan (sebut nama jenazah).

“Ya Allah, saya melakukan shalat ini dan Engkau tahu apa yang saya maksudkan. Ya Allah, kirimkanlan pahala shalat ini kepada fulan bin fulan (sebut nama mayit).”

KEUTAMAAN

Fadhilah atau keutamaan salat ini tidak hanya dirasakan oleh almarhum,

فيبعث الله من ساعته إلي قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلي يوم ينفخ في الصور

“Maka pada saat itu juga Allah mengirimkan ribuan malaikat ke kuburan mayit. Setiap malaikat membawa seberkas cahaya dan hadiah, mereka semua menghibur dan menenangkan si mayit hingga kelak terompet hari kiamat ditiup.”

Namun juga orang yang mengerjakannya mendapatkan banyak pahala.

و في الحديث أن فاعل ذلك له ثواب جسيم منه انه لا يخرج من الدنيا حتي يرى مكانه في الجنة قال بعضهم فطوبي لعبد واظب علي هذه الصلاة كل ليلة واهدى ثوابها لكل ميت من المسلمين

“Pada sebuah hadis diterangkan, bahwa siapa yang mengerjakan salat ini, baginya pahala yang sangat agung. Termasuk darinya, ia tidak akan keluar dari kehidupan dunia kecuali setelah melihat tempatnya di surga. “

Sebagian ulama menambahkan ; “Sungguh sangat beruntung, seseorang yang mengerjakan salat ini setiap malam, dan menghadiahkan pahalanya kepada setiap mayit dari orang-orang muslim.”

Demikianlah keterangan yang beliau sampaikan, semoga bermanfaat dan kita bisa menjadikannya sebagai rutinitas amalan tambahan kita, sebagai bekal hidup kelak di kehidupan abadi. Allahu A’lam.[]

SALAT LIL UNSIL QABR, RINGANKAN BEBAN MAYIT

Baca juga:
METODE SALAT KHUSYUK HATIM AL-ASHAM

Simak juga:
Sejarah dan Fadilah Tahlil | KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus

SALAT LIL UNSIL QABR, RINGANKAN BEBAN MAYIT
SALAT LIL UNSIL QABR, RINGANKAN BEBAN MAYIT

Bacaan Tawassul dan Tahlil Lirboyo

Sejak ratusan tahun yang lalu masyarakat kita sudah akrab dengan bacaan yang ada dalam acara tahlilan, boleh jadi terdapat banyak perbedaan kalimat yang dibaca dan jumlah pembacaannya. Tapi yang jelas semua memiliki tujuan yang sama, yakni mengirim pahala dari kalimat yang kita baca untuk arwah orang-orang yang terdahulu. Berikut kami cantumkan runtutan dari bacaan tahlil yang digunakan di Pondok Lirboyo yang mungkin lebih panjang dari tahlil kebanyakan.

إلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ ثُمَّ إلَى حَضْرَةِ أبائهِ وَاُمَّهَاتِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ وَإِخْوَانِهِ مِنَ النبيين واَلْمُرْسَلِيْنَ وَأَلِ كُلِّ وَأَصْحَابِ كُلِّ أَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى ي الدِّيْنِ لَهُمُ الْفَاتِحَة

ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ أَئِمَّةِ الْاَرْبَعَةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ وَمُقَلِّدِيْهِمْ فِى الدِّيْنِ وَإِلَى حَضْرَةِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالْأَوْلِيَاءِ أَيْنَمَا كَانُوْا مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ اِلَي مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا وَبِلَادِهَا وَجِبَالِهَا وَأَوْدِيَاتِهَا خُصُوْصًا اِلَي حَضْرَةِ السَّيِدِ الْقُطْبِ الرَّبَّانِيْ وَ الْعَارِفِ الصَّمَدَنِي الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِالجَيْلاَنِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُم اَجْمَعِيْنَ أَعَادَ اللهُ عَلَيْنَا بِبَرَكَاتِهِمْ وَكَرَمَاتِهِمْ وَشَفَاعَتِهِمْ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اَلْفَاتِحَة

ثُمَّ إلَى حَضْرَةِ آبَائِنَا وَآبَاءِ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأًمَّهَاتِ أًمَّهَاتِنَا وَاَجْدَادِنَا وَاَجْدَادِ اَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَ جَدَّاتِ جَدَّاتِنَا وَأَخْوَالِنَا وَخَالَتِنَا وَاَعْمَامِنَا وَعَمَّاتِنَا وَ مَشَايِخِنَا وَ مَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ خُصُوْصًا اِلَى حَضْرَةِ مَنْ كَانَتِ الْقِرَاءَةُ وَالتِّلَاوَةٌ لهم {فلان بن فلان} الفاتحة

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ
بـــِــــسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَد

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ
بــــــِـسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ * مِن شَرِّ مَا خَلَقَ * وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ * وَمِن شَرِّ النَّفَّـثاتِ فِى الْعُقَدِ * وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ
بــِـــــسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ * مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ * مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرْ وَلِلّهِ اْلحَمْدُ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين. أمِينْ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. الم. ذَلِكَ اْلكِتَابُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. اَلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْاخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ. اُولئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَاُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
وَإِلهُكُمْ إِلهُ وَاحِدٌ لاَإِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ اللهُ لاَ إِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَتَأْخُذُه سِنَةٌ وَلاَنَوْمٌ. لَهُ مَافِى السَّمَاوَاتِ وَمَافِى اْلأَرْضِ مَنْ ذَالَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَيُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ.
لِلّهِ مَافِى السَّمَاوَاتِ وَمَا في اْلأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوْا مَافِى أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللهِ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ. وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا أُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَبَّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ. كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَنُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ. لاَيُكَلِّفُ الله نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَتُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ.

وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا (21 مرة)
أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْن بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
إِرْحَمْنَا يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ (21 مرة)

وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا

أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ نُوْرِ الْهُدَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ

أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ شَمْسِ الضُّحَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْعَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ.

أَللّهُمَّ صَلِّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَاتِكَ بَدْرِ الدُّجَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ. عَدَدَ مَعْلُوْمَاتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ. وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ

وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. وَحَسْبُنَا الله وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

حَسْبُنَا الله وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ (33 مرة)
لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (33 مرة)
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم (33 مرة)

نَوَيْتُ الذِّكْرِ تَقَرُّبًا إِلَى اللهِ وَخُرُوْجًا مِنْ جَمِيْعِ الْمَعَاصِي أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَوْجُوْدٌ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ مَعْبُوْدٌ لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ حَيٌّ بَاقٍ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسلم

لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ (7/11/33 مرة)

لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ حَبِيْبُ الله
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ نَبِيُّ الله
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ خَلِيْلُ الله
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ صَفِيُّ الله
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ نُوْرُ الله
لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ حُجَّةُ الله

أَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ (45 مرة)

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ (45 مرة)
أَللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِالَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبً وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ : كَلِيْمَتَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِى الْمِيْزَانِ :
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (21 مرة)
يَا حَفِيْظُ يَا لَطِيْفُ يَا نَصِيْرُ يَا وَكِيْلُ يَا اَللهُ (21 مرة)

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ (2 مرة)

أَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ أَجْمَعِيْنَ. (اَلْفَاتِحَة….)

Doa Setelah Tahlil

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْد الشَّاكِرِيْنَ حَمْدَ النَّاعِمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِك اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد صَلَاة ً تٌنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ وَتَقْضِى لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرٌنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّأَتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاتِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ.

اللهم َصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلآخِرِيْنَ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ. وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْملاَءِ اْلاَعْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللهُمَّ اجْعَلْ وَاَوْصِلْ وَتَقَبَّلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ مِنَ الْفَاتِحَةِ وَسُوْرَةِ الْإِخْلَاصِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَمَا هَلَّلْنَاهُ وَمَا سَبَّحْنَاهُ وَحَمِدْنَاهُ وَمِنْ قَوْلِنَا حَسْبُنَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.
وَمَا قُلْنَاهُ مِنْ قَوْلِنَا لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ.

وَمَا صَلَّيْنَاهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اجْعَلْ ثَوَابَ ذَلِكَ كُلَّهُ هَدِيَّةً وَّاصِلَةً وَّرَحْمَةً نَازِلَةً وَبَربكَةً شَامِلَةً وَصَدَقَةً مُتَقَبَّلَةً اِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أعْيُنِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِلَى حَضْرَةِ أَبَائِهِ وَإِخْوَانِهِ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَآلِ كُلِّ وَأَصْحَابِ كُلِّ أَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

وَإِلَى حَضْرَةِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَالْعُلَمَاِءِ الْعَامِلِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا. خُصُوْصًا إِلَى حَضْرَةِ أَوْلِيَاءِ اللهِ تَعَالَى أَيْنَمَا كَانُوْا مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا وَبِلَادِهَا وَجِبَالِهَا وَأَوْدِيَاتِهَا خُصُوْصًا اِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِ الْقُطْبِ الرَّبَّانِيِّ وَ الْعَارِفِ الصَّمَدَنِيِّ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلاَنِي رَضِيَ الله عَنهُ أَعَادَ اللهُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِمْ وَكَرَمَاتِهِمْ وَشَفَاعَتِهِمْ فِى الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ آمِيْن.
خُصُوْصًا خَاصَّةً إِلَى حَضْرَةِ آبَائِنَا وَآبَاءِ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأُمَّهَاتِ أُمَّهَاتِنَا وَاَجْدَادِنَا وَاَجْدَادِ اَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَ جَدَّاتِ جَدَّاتِنَا وَأَخْوَالِنَا وَخَالَتِنَا وَاَعْمَامِنَا وَعَمَّاتِنَا وَ مَشَايِخِنَا وَ مَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ. وَنَخُصُّ خُصُوْصًا خَاصَّةً إِلَى حَضْرَةِ مَنْ كَانَتِ الْقِرَاءَةُ وَالتِّلَاوَةُ بِسَبَبِهِ أَنْتَ تَعْلَمُ بِهِ وَبِاسْمِهِ (فلان بن فلان)

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ ذَلِكَ فِدَاءً لَنَا وَلَهُ مِنَ النَّارِ وَحِجَابًا لَنَا وَلَهُ مِنَ النَّارِ وَسِتْرًا لَنَا وَلَه مِنَ النَّارِ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهَ وَاسْتُرْ عُيُوْبَهُ وَتُبْ تَوْبَتَهُ وَتَقَبَّلْ اَعْمَالَهُ وَنَوِّرْ قَبْرَهُ وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَأْوَاهُ وَمَدْخَلَهُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجِنَانِ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهُ حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِّيْرَانِ (3 مرة)

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلْفَاتِحَة

Contoh-contoh pembacaan Tahlil:
Tahlil dan Doa
HAUL
Tahlil dan Doa | Memperingati 100 hari

Artikel lainnya:
HUKUM MELANTUNKAN DZIKIR SAAT MENGIRINGI JENAZAH

# BACAAN TAWASSUL DAN TAHLIL LIRBOYO
# BACAAN TAWASSUL DAN TAHLIL LIRBOYO

Baca juga:
275 CHANNEL YOUTUBE MENAYANGKAN HAUL KH. ABD. WAHAB HASBULLAH SECARA VIRTUAL

# BACAAN TAWASSUL DAN TAHLIL LIRBOYO
# BACAAN TAWASSUL DAN TAHLIL LIRBOYO


Sakit yang diperbolehkan Tayamum

Assalamualaikum Ustadz, maaf sebelumnya, perkenalkan nama saya Ferdy, saya ingin bertanya mengenai kriteria sakit yang diperbolehkan melakukan tayamum, terima kasih, semoga bisa direspon.
Wassalamualaikum wr. wb.

Ferdy — Tangerang.

Wassalamualaikum wr. wb.

———

Waalaikumsalam wr. wb.

Penanya yang budiman, terimakasih telah berkenan untuk menghubungi kami, semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Amiin.

Kita langsung ke inti pertanyaan yang Anda ajukan saja, mengenai hal lain yang berkaitan dengan tayamum, seperti syarat, sebab maupun hal-hal yang membatalkan tayamum bisa kita bahas lain waktu, insya allah.

Salah satu sebab seseorang diperbolehkan melakukan tayamum sebagai media bersuci pengganti dari mandi maupun wudhu adalah sakit, sementara sakit itu sendiri, seperti yang telah kita sepakati terdapat beberapa tingkatan, dipandang dari berat dan ringannya.

Hanya saja, kita musti perlu mengetahui secara pasti pandangan syara berkaitan dengan klasifikasi sakit seseorang yang diperbolehkan melakukan tayamum dan yang tidak boleh.

Tentang ini, Syekh al-Mawardiy menjelaskan dengan rinci dalam kitab legendaris beliau, al-Hawiy al-Kabir juz 1 hal. 733 cet. Darul Fikr.

Sakit Ringan

(فصل) أَقْسَامُ الْمَرَضِ فَإِذَا ثَبَتَ جَوازُ التَّيَمُّمِ فِي الْمَرَضِ مَعَ وُجُوْدِ الْمَاءِ فَالْمَرَضُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ : أَحَدُهَا يَكُوْنُ يَسِيْرًا لَا يَسْتَضِرُّ بِاسْتِعْمَالِ الْمَاءِ فِيْهِ كَالْيَسِيْرِ مِنَ الْحُمَّى وَوَجَعِ الضَّرْسِ أَو نُفُوْرِ الطِّحَالِ فَلَا يَجُوْزُ لَهُ أَنْ يَتَيَمَّمَ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ.

Ibrah di atas, beliau membagi sakit ketika kaitannya dengan kewenangan melakukan tayamum menjadi 4 (empat) bagian.
Pertama adalah sakit ringan. Sekira jika menggunakan air sebagai media bersuci tidak berdampak buruk pada tubuh, penyakit demikian dicontohkan seperti sakit panas ringan dan sakit gigi.

Sakit seperti ini tidak diperkenankan tayamum bagi penderitanya.

Akan tetapi, jika kita melirik pendapat lintas mazhab, dari golongan malikiyyah memperbolehkan tayamum meski sakitnya tergolong ringan. Beliau melihat keumuman lafad مرضى pada Q.S. al-Maidah ayat ke-6 yang menjadi dalil tayamum itu sendiri. Berikut ibaratnya ;

َوقَالَ مَالِكُ وَدَاوُدُ : يَجُوْزُ أنْ يَتَيَمَّمَ لِعُمُوْمِ قَوْلِهِ تَعَالٰى “وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْعلٰى سَفَرٍ …(المائدة : ٠٦)

Sakit yang Mengkhawatirkan

وَالْقِسْمُ الثَّانِي منَ الْمَرَضِ أَنْ يَخَافَ التَّلَفِ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ فِيْهِ، فَيَجُوْزُ فِيْه أَنْ يَتَيَمَّمَ سَوَاءٌ كَانَ قُرُوْحًا أَوْ جِرَاحًا أَوْ كَانَ غيٰرَ قُرُوْحٍ وَلَا جِرَاحٍ

Kriteria sakit kedua adalah sakit yang jika seseorang memaksakan diri untuk menggunakan air sebagai media bersuci maka khawatir dapat menyebabkan kematian, hilangnya anggota tubuh (amputasi mungkin) atau fungsi dari anggota tubuh tersebut.

Maka dalam kondisi seperti ini, diperkenankan baginya untuk bertayamum.

Sakit Sedang

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ مِنَ الْمَرَضِ أَنْ يَخَافَ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاء فِيْهِ شِدَّةَ الْأَلَمِ وتَطَاوُلَ الْبُرْءِ وَيَأْمَنَ التَّلَفِ

Jenis sakit berikutnya yakni sakit yang jika terkena air akan memperpanjang masa pemulihan, atau dapat menyebabkan pembekasan terhadap anggota tubuh yang tampak dalam aktifitas sehari-hari, seperti wajah dan kedua tangan.

Pada jenis sakit ini, ulama bersilang pendapat soal kewenangan melakukan tayamum bagi lenderita. Pendapat imam mazhab tidak memperkenankan tayamum. Dan banyak imam lain yang membolehkan.

Sakit Ringan tapi Berat

وَالْقِسْمُ الرَّابِعُ مِنَ الْمَرَضِ أنْ يَخَافَ مِنِ اسْتِعْمَالِ الْمَاءِ فَيَنْدُرُ الشَّيْنُ والشَّلَلُ وَيَأْمَنُ التَّلَفَ وَشِدَّةَ الْأَلمِ

Kok bisa, ringan tapi berat?
Ya, jenis dari pembagian sakit yang terakhir ini memang ringan. Tapi sebenarnya berat jika dipandang dari dampak penggunaan air pada anggota sakitnya.

Yakni sakit yang penderitanya meyakini tidak akan terjadi kematian atau sakit yang teramat sangat jika ia menggunakan air, akan tetapi ia justru malah takut timbul penyakit yang mengkhawatirkan. Dicontohkan timbulnya kelumpuhan atau kecacatan, yang demikian terbilang langka. Jika terjadi seperti ini, ulama juga berbeda pendapat, ada yang mengatakan boleh tayamum dan sebagian tidak memperbolehkan

Demikian pembagian sakit yang dipaparkan oleh Syekh al-Mawardiy, sehingga kita dapat menggolongkan sakit sesuai kadar kekhawatiran dan dampak lainnya ke dalam empat macam sakit di atas. Sekian. Wallahua’lam []

Baca juga:
TATO DAN HUKUM WUDLUNYA

Simak juga:
Dawuh Masyayikh

Status Tanaman Buah-buahan di Halaman Masjid

Status Tanaman Buah-buahan di Halaman Masjid | Sebagian pengurus masjid seringkali memanfaatkan lahan yang masih luang di areal masjid. Dia menanaminya dengan bermacam buah-buahan maupun tanaman lain guna mempercantik lingkungan masjid.

Selain itu, tanaman yang berbatang tinggi juga bisa menjadi tempat berteduh bagi para pengunjung masjid. Terlebih bila jamaah tidak mampu tertampung keseluruhannya saat shalat jumat. Keberadaan pohon yang rindang bisa dijadikan tempat favorit untuk menghalau terik sambil menunggu shalat didirikan. Dan masih banyak manfaat lainnya akan keberadaan pohon di areal masjid.

Sebenarnya ketika pohon yang ditanam berupa buah-buahan seperti tanaman buah kelengkeng, jambu, rambutan dan sebagainya, bolehkah bagi pengunjung untuk mengambil lalu memakan buahnya yang seringkali ngawe-ngawe untuk dipetik?

Mengenai kasus ini, Syekh Abu Bakar Syatho memerinci penghukumannya dalam kitab I’anah at-Thalibin juz 3 hal. 381 cet. al-Hidayah

إعانة الطالبين للشيخ أبي بكر بن محمد شطا الدمياطي ج ٣ ص ٣٨١ الهداية

(فرع) الى ان قال …. وَثَمَرُ الْمَغْرُوْس فىِ الْمَسْجِدِ مِلْكُهُ إنْ غُرِسَ لَهُ فَيُصْرَفُ لِمَصَالِحِهِ وَإنْ غُرِسَ لِيُؤْكَلَ أَوْ جُهِلَ الْحَالُ فَمُبَاحٌ.

Kurang lebih artinya begini “Buah-buahan yang ditanam di lingkungan masjid merupakan hak milik masjid jika waktu penanaman memang diperuntukkan bagi masjid. Maka hasil buahnya harus dialokasikan untuk kemaslahatan masjid. Dan bila waktu penanaman bertujuan untuk dimakan buahnya, atau tidak diketahui secara pasti tujuan penanamannya maka boleh bagi pengunjung masjid untuk memakannya.”

Ketika buah itu milik masjid maka tidak diperkenankan mengambilnya untuk dimakan. Sedang bila waktu penanaman disengaja untuk siapapun yang berkenan maka boleh mengambil dan memakannya. Sekian. Allahu a’lam []

Baca juga:
HUKUM MENUMPANG JARINGAN WIFI

Follow juga instagram:
@pondoklirboyo

Status Tanaman Buah-buahan di Halaman Masjid
Status Tanaman Buah-buahan di Halaman Masjid

Lebih Khusyuk Shalat Sendiri Daripada Berjamaah

Sebagian orang mungkin merasa lebih nyaman dan khusyuk untuk melaksanakan shalat sendiri di rumah dengan kondisi sepi jauh dari keramaian daripada salat berjamaah di masjid yang tak lepas dari hiruk pikuk atau bahkan teriakan anak kecil dan tangisannya.

Yang pasti hal demikian menimbulkan kebimbangan, shalat yang dilakukan dengan berjamaah sudah barang tentu kita ketahui memiliki banyak pahala dan keutamaan. Belum lagi hal lain seperti itikaf, bertemu dan silaturrahim dengan dengan saudara sesama muslim, berbuat baik kepada mereka dan sebagainya.

Lalu, manakah yang lebih utama antara semua kebaikan dan pahala yang kita dapat dengan shalat berjamaah dibanding dengan shalat sendiri di rumah namun dengan kondisi tenang dan khusyuk?

Dalam kitab Asnal Mathálib, Syekh Zakariya al-Anshari menyampaikan perkhilafan yang terjadi antar ulama menyikapi hal ini ;

وَأَفْتَى الْغَزَالِي بِأَنَّهُ إِذَا كَانَ لَوْ صَلَّى مُنْفَرِدًا خَشَعَ وَلَوْ صَلّى فِي جَمَاعَةٍ لَمْ يَخْشَعْ فَالْإِنْفِرَادُ أَفْضَلُ وَتَبِعَهُ ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ

Kurang lebih begini artinya : “Imam al-Ghazaliy berfatwa bahwa jika ada seseorang ketika shalat sendirian merasa lebih khusyuk, dan sebaliknya, tidak khusyuk tatkala berjamaah, maka salat sendiri lebih utama. Pendapat beliau ini juga didukung oleh Imam ibn Abdissalam.”

Namun, lebih lanjut beliau juga menyampaikan sanggahan Imam az-Zarkasyiy akan pendapat Imam al-Ghazaliy dan ibn Abdissalam di atas.

قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَالْمُخْتَارُ بَلِ الصَّوَابُ خِلَافُ مَا قَالَاهُ إِلَّا إِنْ تَعَاطَلَ الْمَسْجِدُ الْقَرِيْبُ مِنْهُ لِغَيْبَتِهِ عَنْهُ لِكَوْنِهِ إِمَامَهُ اَوْ يَحْضُرُ النَّاسُ بِحُضُوْرِهِ

“Az-Zarkasyiy berkomentar ; “Pendapat yang dipilih bahkan yang benar adalah sebaliknya dari pendapat kedua imam di atas. Kecuali jika kondisinya masjid akan menjadi sepi tanpa kehadirannya, sebab ia menjadi imam atau jamaah akan semangat hadir sebab ia hadir di masjid.”

Kesimpulannya, Imam Ghazaliy kukuh dengan pendapat beliau bahwa shalat sendiri dengan hasil maksimal itu lebih utama, sedangkan Imam az-Zarkasyiy berpendapat sebaliknya. Silakan ingin mengikuti pendapat yang mana dari dua opsi pendapat imam besar di atas. Sekian. Allahu a’lam.[]

Baca juga:
PENGGUNAAN MUKENA POTONGAN YANG HARUS KITA PERHATIKAN

Simak juga:
Buah Keikhlasan dalam Mendidik | KH. M. Anwar Manshur

LEBIH KHUSYUK SHALAT SENDIRI
LEBIH KHUSYUK SHALAT SENDIRI