All posts by abdul basit na

Sebaik-baik Perhiasan Dunia

Perempuan itu berlian, akan tampak lebih indah jika dibalut dengan akhlak terpuji. Pahala mereka melimpah ruah meski hanya di dalam rumah. Komunikasi yang baik dalam rumah tangga merupakan ceruk yang harus dibangun sejak dini agar lekas tercipta Chemistry antara suami-istri. Semua bisa dicapai dengan saling menjaga perasaan satu sama lain. Mau menerima kondisi dan keadaan pasangannya, dan sebagainya. Bagaimanapun itu merupakan lahan pahala.
Bersabar dengan apa yang ada dalam diri pasangannya. Materi, fisik maupun hal-hal indrawi lainnya hanyalah penunjang kebahagiaan. Semua dapat diatasi dengan penyikapan yang telah dituntunkan agama.

Bagi istri, ketaatan kepada suami adalah modal besar kelak di hadapan Tuhan. Dalam kesehariannya, ada banyak poin mengenai etika terhadap suami. Diantaranya hanya bersolek untuk suami. Menjaga martabat suami di depan orang lain. Tidak menghina kondisi fisik suami jika memang kurang begitu menyenangkan untuk dipandang. Bahkan janganlah membanggakan kecantikannya kepada suami.

Sebuah kisah menarik diceritakan oleh Syekh Asmu’i. : “Suatu ketika aku masuk pada sebuah perkampungan. Di sana aku bertemu dengan seorang wanita yang kecantikannya sungguh sangat. Dia menjadi istri dari sosok lelaki yang (maaf) buruk rupa.” Beliau heran kenapa ia mau diambil istri.
“Duhai, kenapa engkau mau menjadi istri dari seorang suami yang macam dia.” Pertanyaan beliau ini sungguh menyinggung perasaan perempuan itu.

“Diam kau!. Buruk sekali perkataanmu itu.” Jelas ia tidak terima. Namun ia menjawab kenapa mau dijadikan istri dengan jawaban yang mempesona nan bijaksana.
“Bisa saja suamiku itu saleh dan taat. Memenuhi segala hak-hak Allah Sang Khaliq. Sebagai pahalanya (mungkin) Allah menjadikanku istrinya. Sedangkan aku, bisa saja aku telah berlaku buruk dan tidak taat kepada Allah. Untuk balasannya (mungkin) menjadikannya sebagai suamiku. Kenapa aku tidak rida dengan sesuatu yang Allah rida terhadapnya?. ” Jawabanya begitu menohok sanubari Syekh Asmu’i.
“Sungguh ia membuatku diam seribu bahasa.” Tandas beliau.
Sekian, semoga bisa menjadi renungan agar bisa bersikap positif terhadap kenyataan yang pahit dalam segala lini kehidupan kita.

الدُّنْيَا مَتاَعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

[ABNA]

Baca juga:
ISTRI YANG PALING SABAR

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

# Sebaik-baik Perhiasan Dunia

Peristiwa Hari : Pernikahan Fatimah Ra. dan Ali ra.

Pernikahan ideal yang terjadi pada tanggal 1 di bulan Dzulhijjah, yakni pernikahan suci antara Sayyidina Ali Kwh. Dengan putri tercinta Rasulullah Saw. Fatimah az-Zahra Ra.


Mula-mula, Abu Bakar Ra. yang berkeinginan meminang putri beliau itu dengan menemui Nabi secara langsung. Tentu Abu Bakar ingin posisinya dengan Nabi lebih dekat lagi dengan menikahi pemimpin golongan perempuan umat Rasulullah itu.

“Wahai Rasulullah, engkau telah tau perjuangan dan peranku dalam islam, aku ingin…” Abu Bakar berhenti.
“Apa itu?”
“Nikahkanlah aku dengan Fatimah.”
Namun Nabi tidak menjawab permohonan itu, juga tidak menolaknya, beliau memalingkan muka.

Kembalilah Abu Bakar dan menemui Umar Ra. ia menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Umar Ra. “Mungkin beliau sedang menunggu perintah dari Allah.” Hibur Umar Ra..
Dengan demikian, Abu Bakar pun menyarankan agar Umar ‘mengikuti jejaknya’, berangkatlah Umar Ra. dan berkata seperti yang Abu Bakar katakan, ternyata apa yang dialami oleh Umar tidak jauh beda dengan Abu Bakar Ra.

Lalu kedua pemuka islam ini mendatangi Ali Kwh. Tujuannya jelas, supaya ia melamar Sayyidah Fatimah.
“Lamarlah putri pamanmu itu.” Umar Ra. Dan Abu Bakar memberi sedikit masukan, riwayat lain mengatakan ada sedikit keraguan di benak Ali, ia takut lamarannya ditolak, namun Umar menguatkannya lagi.


“Kalau beliau Nabi tidak menikahkan putrinya denganmu, lalu siapa lagi? Engkau orang yang paling dekat dengan beliau!.” hingga pergilah Ali Kwh. Menemui Nabi.
“Wahai Rasulullah, engkau telah tau perjuangan dan peranku dalam islam, aku ingin…” Ali berhenti.
“Apa itu?”
“Nikahkanlah aku dengan Fatimah.”
Pucuk dicinta ulam pun tiba. “Apa yang kau punya? (untuk dijadikan mahar)” Nabi menyambut permintaan Ali. Ali merupakan pemuda yang tak berharta melimpah, banyak sumber yang menggambarkan kondisi rumah milik Ali Ra. yang memprihatinkan.

“Aku punya kuda dan baju zirah.”
“Biarkan saja kudamu, juallah baju zirah.”
Sebagian riwayat setelah lamarannya diterima, Ali melakukan sujud syukur.

Bergegaslah Ali menjual baju zirahnya ditambah beberapa barang yang bisa dijual hingga dari penjualan itu Ali bisa mengantongi 480 Dirham, kurang lebih 1200 gram emas sekarang. Kadar inilah yang disebut dengan mahrussunnah, nominal mahar yang disunahkan.

Setelah itu dibawanya hasil penjualan kepada Rasulullah, kemudian beliau mengambil segenggam dinar dan memberikannya kepada Bilal agar membeli wewangian, sisanya beliau membelikan keperluan-keperluan dalam pernikahan.

Riwayat dari Syekh Ath-Thusy dalam al-Amalinya memerinci list perlengkapan yang dibeli sebagai berikut.

  • Baju senilai 7 Dirham.
  • Kerudung senilai 4 Dirham.
  • Selimut hitam dari Khaibar.
  • Dua buah kasur dari serabut kurma dan bulu domba.
  • Baskom untuk mencuci pakaian dari tembaga.
  • Tikar
  • Guci berwarna hijau.
  • 2 buah kendi dari tanah.
  • Kantong air dari kulit.
  • Dan beberapa perlengkapan lainnya.

Riwayat mengatakan, setelah pernikahan, Sayyidah Fatimah ketika bertemu dengan pengemis dan meminta sesuatu darinya, ia akan memberikan pakaian barunya itu dan kembali mengenakan pakaian biasa.

Akad nikah ini terjadi di bulan Shafar akhir, baru di bulan Dzul Hijjah beliau Nabi mengirim putrinya itu kepada Sayyidina Ali yang baru kembali dari perang Uhud, waktu itu Sayyidina Ali berusia 21 tahun, sedangkan Sayyidah Fathimah berusia 15 tahun, sebagian mengatakan 16 dan 18 tahun.

Baca Juga : Batas Usia Minimal Menikah

Nabi memanggil Bilal dan berkata kepadanya “Aku nikahkan putriku dengan anak pamanku, maka aku senang jika kebiasaan umatku yaitu mengadakan jamuan makan saat pernikahan. Pergi da sediakan satu kambing dan empat mud gandum, lalu undanglah kaum Muhajirin dan Anshar.

Bilal pergi melaksanakan titah, lalu membawa semua yang diperintahkan tadi di hadapan Nabi, para tamu undangan masuk dengan kelompok-kelompok bergantian hingga semua usai mendapatkan makanan masing-masing, namun persediaan makanan masih tersisa, setelah mendoakan berkah pada makanan itu, beliau memerintahkan agar membawa sisa makanan itu kepada para wanita dan siapapun yang mereka temui.

Baca Juga : Hukum Menggelar Akad Nikah di Masjid

Setelah walimah, Rasulullah pergi bersama Ali Ra. ke rumahnya dan memanggil Fatimah, setelah ia datang, Rasulullah menyuruhnya mendekat, beliau memegang tangan keduanya, saat tangan Fatimah hendak diletakkan ke tangan Ali, beliau berkata.

“Demi Allah, yang tidak kulupakan hak-Mu dan kumuliakan firman-Mu, aku menikahkanmu dengan orang yang paling mulia diantara keluargaku dan demi Allah aku menikahkanmu dengan orang yang menjadi pemimpin di dunia dan akhirat.”

“Pergilah ke rumah kalian, Allah menyatukan kalian dengan keberkahan, dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang saleh lagi baik.”
Setelah Nabi memerintahkan Asma’ binti Umais mengambil bejana yang berisikan air, beliau mengambil segenggam air tersebut lalu memercikkannya ke atas kepala Fatimah, mengambil lagi dan mengusapkan ke tangan, leher dan badannya, kemudian beliau berdoa lagi.

“Ya Allah, Fatimah dariku, dan aku dari Fatimah, sebagaimana Engkau jauhkan kotoran dariku dan menyucikanku maka jauhka kotoran darinya dan sucikan ia.”

Usai itu beliau menyuruh Fatimah membasuh mukanya dengan air tersebut, berkumur dan meminumnya. Kemudian Ali dipanggil, hal yang sama dilakukan terhadap Ali. Beliau Nabi memungkasi dengan doa.

“Semoga Allah menyatukan hati kalian, memberi kalian kasih sayang, keturunan yang diberkahi dan memudahkan segala urusan kalian.”

Kunjungi Akun Media Sosial Kami : Facebook, Youtube, Twitter, Instagram


Singkatnya, setelah sah Fatimah menikah dengan Ali, praktis Fatimah hidup serumah dengan Ali. Fatimah yang menjadi putri tercinta, berat bagi Rasulullah untuk berpisah. Fatimah merupakan penawar rindu saat hari-hari beliau teringat istri terkasih, Khadijah Kubra. Hingga kondisi ini diketahui salah seorang sahabat beliau, Haritsah, yang merelakan rumahnya ditempati putri beliau dan suaminya.

“Demi Allah, aku lebih senang hartaku engkau miliki wahai Rasulullah, dari pada engkau menyisakannya untukku.”
“Semoga Allah memberimu pahala.” NAbi menerima tawaran Haritsah dan mendoakannya.

Jadilah rumah Haritsah ditempati Fatimah Ra. dan Ali Kwh. Sehingga tak lagi jauh jarak antara Rasulullah dan putrinya. Sekian. [ABNA]

  • Disarikan dari berbagai sumber.

Sedang Salat, Orang Tua Memanggil

Familiar sekali di telinga kita sebuah hadis yang menggantungkan ridla Allah terhadap ridla orang tua, dan murkanya-Nya ada pada murka orang tua. Artinya jangan keburu kita mau mendapatkan ridla Allah, untuk kebaikan kita di dunia dan akhirat, sebelum kerelaan hati orang tua kita sudah dapatkan.

Atau hadis surga ada ditelapak kaki ibu yang artinya tawadlu kepada ibu mengantarkan kita pada surga.
Agama begitu sangat menekankan untuk berbuat baik kepada orang tua, hingga berani-berani kepada mereka termasuk dosa besar, selevel dengan dosa syirik, memakan harta hasil riba, berzina, mencuri dan setingkatnya.

Baca Juga : Mencuci Pakaian Saat Kemarau

Berbuat baik kepada orang tua, birrul walidain, sangat kompleks, yang tujuan utamanya adalah untuk mematuhi dan memuliakan keduanya, memenuhi panggilan dan kebutuhan mereka.


Dalam kitab-kitab turats ada keterangan yang memperkenakan salat dibatalkan saat Rasulullah memanggil, tentunya bagi orang-orang yang semasa dengan beliau.

Lalu bagaimana ketika yang memanggil kita itu orang tua? Apa kita batalkan saja salat dan segera menghadap mereka? mengingat kewajiban taat kepada mereka. Atau diam? .

Ada kisah teladan dari narasi Abu Hurairah Ra. tentang seorang pemuda Bani Israel yang rajin beribadah, suatu hari ibunya memiliki kebutuhan dan memanggil putranya, Juraij dengan nama.

Kunjungi Juga Fan Page Media Sosial Kami Facebook Youtube Twitter.

“Juraij!.” Panggil ibu.
Juraij yang sedang dalam ibadahnya berkata dalam hati “Ya Tuhan, mana yang kudahulukan, salat atau ibuku?” belum juga ia mengambil keputusan, ibunya memanggil yang kedua kalinya.

“Juraij!.” Ada nada kesal. Juraij masih bimbang. “Ya Tuhan, mana yang ku dahulukan, salat atau ibuku?”. Belum ada tindakan.
Karena mungkin dirasa penting, ibu memanggil yang ketiga kalinya.

“Juraij!.” Ibunya sedang dalam kondisi di puncak amarahnya, ia lepas kontrol berkata-kata menyumpahi Juraij.
“Ya Allah, Jaman sampai Juraij mati sebelum ia bertemu dengan pelacur (fitnah).”


Sampai disini, ada pelajaran berharga untuk orang tua utamanya ibu, doa mereka mustajab, jangankan doa, ucapannya pun diamini malaikat.

Setiap kata yang keluar dari lisan terhadap anaknya agar lebih berhati-hati, agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi. Banyak sekali cerita-cerita melegenda yang berkaitan dengan ini yang tidak asing di telinga.


Mungkin saja Ibu Juraij tidaklah sengaja, ataupun berharap kata-katanya itu menjadi doa, orang tua manapun tidak akan pernah membenci anak sebenci-bencinya, pintu maaf mereka terhadap kesalahan anak sangatlah lebar terbuka.


Doa Ibu Juraij benar-benar terjadi, sekian waktu kemudian ada wanita tuna susila yang merelakan tubuhnya dijamah seorang pengembala domba, hingga ia mengandung.

Setelah perutnya membesar dan melahirkan, masyarakat mengintrogasinya, jabang bayi itu hasil hubungannya dengan siapa?.
Wanita tadi mengatakan bahwa anak itu adalah hasil hubungan gelapnya dengan Juraij sang rajin ibadah.

Ketika massa mendekati Juraij di tempat pemujaannya, mereka mengamuk dan menghancurkan bangunan ibadah Juraij.

Baca Juga : Hukum Salat Menggendong Anak Kecil


“Ada apa dengan kalian ini.” Tanya Juraij yang tidak tahu menahu duduk perkaranya.
Kau telah berzina dengan wanita itu, dia sekarang telah melahirkan anakmu.” Jawab mereka.
“Mana anak itu?” massa membawa anak tersebut kepada Juraij.

Setelah anak dihadirkan, Juraij mengambil air wudlu lalu melaksanakan salat. Usai salat, ia mendatangi anak yang dituduhkan miliknya itu.

“Hei, Bocah. Anak siapa kau?”
“Aku anak dari seorang penggembala domba.”
Seketika massa terhenyak, mereka banyak alasan. Bayi yang masih digendong itu sudah bisa berkata.

Kisah ini betapa menunjukkan agungnya urursan kita kepada orang tua. Ketika kita berada pada posisi di atas, saat sedang salat lalu orang tua memanggil, menurut keterangan ulama tindakan yang kita ambil harus diperinci.

Kalau sedang salat sunnah, jika kita tidak menjawab panggilan mereka tidak marah, maka sempurnakan saja salat kita.

Namun jika kita melanjutkan salat dan tahu mereka akan murka, batalkan salat dan penuhi panggilan mereka. Sedangkan ketika salat yang kita jalankan adalah salat fardlu maka tidak diperkenankan membatalkan salat. sekian. [ABNA].

3 Menteri Resmikan Bangunan Rusun Lirboyo

LirboyoNet- Kediri. (15-02) siang tadi Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung bersama Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar dan segenap rombongan hadir di Pondok Lirboyo guna meresmikan bangunan rusun baru yang ada di sebelah utara bangunan rusun lama.

Acara berlangsung renyah penuh candaan, sebagai sambutan perwakilan dari pengasuh pondok Lirboyo, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menyambut baik dan mengapresiasi kinerja pemerintah dengan adanya pembanguna rusunawa ini. “Terimakasih kepada pemerintah telah bersinergi dengan pesantren.” Tukas beliau. Bangunan rusunawa ini sangat menunjang keperluan pesantren. Dalam candaanya beliau ‘membocorkan’ soal isu mengenai takutnya petinggi negeri ini kalau mengunjungi Kediri utamanya Lirboyo karirnya akan terganggu.

“Saya mendapat sebuah ‘bisikan’ kalau ingin aman berkunjung kesini, sebelumnya ziarah dulu ke makam Syekh Wasil.”

Beliau juga mengungkapkan permohonan kebutuhan pesantren yang lainnya seperti sarana dan prasarana yang kurang memadai agar mendapatkan perhatian dari para Menteri.

Sambutan kedua dari Sekretaris Kabinet Pramono Anung W. Beliau yang lahir dan besar di Kediri terlihat begitu akrab dengan masyayikh, juga menanggapi permohonan dari Kyai Kafabih dengan berupaya mengabulkannya. Selain itu beliau menyampaikan salam dari Bapak Presiden Joko Widodo yang sejatinya sangat ingin sekali berkunjung ke Lirboyo namun di cegah oleh beliau karena isu tadi. Sehingga saat mendengar ‘bocoran’ dari Kyai Kafabih agar sebelum berkunjung ziarah ke makam Syekh Wasil terlibih dahulu beliau berniat menyampaikannya kepada Jokowi.

Acara ditutup dengan pemotongan pita, penandatanganan prasasti dan disusul penyerahan cinderamata dari pondok kepada Seskab. Rencananya rombongan akan langsung bertolak meresmikan bangunan rusun yang ada pondok Ploso dan Ngasinan asuhan KH. Anwar Iskandar, baru kemudian jadwal rombongan meninjau perkembangan pembangunan Bandara Kediri. [n.a]

Meneropong Cakrawala Falak

LirboyoNet, Kandangan- Siang itu (25/01) sekitar 25 santri yang aktif mengikuti kursus falak setiap minggunya berkumpul di Gedung Rusunawa utara Aula Al-Muktamar. mereka menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk melaksakan praktek rukyatul hilal yang akan dilaksanakan di menara masjid MAN 03 Kandangan-Kediri.

Setelah dirasa anggota sudah lengkap dan peralatan siap, rombongan menggunakan 2 mobil Elf itu berangkat ke lokasi sekitar pukul 14:45 WIB. sampai di sana kira-kira 45 menit kemudian, cuaca terlihat cerah. mereka segera naik ke lantai tiga msajid milik sekolah, untuk menyiapkan alat-alat observasinya dipandu langsung oleh dua tutor, Ust. Reza Zakaria dan Ust. Asmujib dan segenap tim pelaksana dari Seksi Pramuka Pondok Pesantren Lirboyo.

Baca juga https://lirboyo.net/praktek-rukyatul-hilal/

Setelah sekian proses, tiba-tiba cuaca menunjukkan perubahan yang berbeda, guratan awan hitam mulai mengitari langit. akhirnya tutor menganjurkan agar pindah ke menara setinggi 6 M di atas atap masjid Lt. 3 itu.

Mereka menata ulang alat-alatnya, seperti mengukur gawangan untuk menandai terbenamnya matahari, teropong. benang pengukur, penggaris hingga aplikasi khusus yang bisa mengetahui letak matahari, hilal, dan ufuk.

Setelah dirasa cukup, mereka turun untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah, sambil berharap mendung akan berakhir. perkiraan matahari terbenam pada pukul 17:58:57 WIB. setelah shalat sebagian santri ada yang keluar area sekolah untuk mencari jajanan. dan sayang sekali, hujan yang cukup deras turun mengguyur.

Beberapa menit sebelum waktu perkiraan matahari terbenam, mereka naik lagi, di atas bangunan yang dikelilingi persawahan dan di arah timur pegunungan membentang, mereka mendengarkan arahan dari tutor, “Meski di sini mendung, bahkan hujan, namun di ufuk tidak mesti demikian kondisinya, bisa jadi di sana cerah.”

Hingga matahari diperkirakan sudah tenggelam, cuaca tidak menunjukkan akan berhentinya hujan, atau setidaknya mendung menghilang, sehingga mereka hanya mendapatkan cara persiapan observasi saja, tidak sampai bisa mengamati prosesi tenggelamnya matahari dan munculnya hilal.

“Di tempat yang paling potensial untuk bisa melihat hilal saja, tidak setiap melakukan rukyah di sana bisa melihat hilal. bahkan ada yang sudah berpuluh kali rukyah tidak bisa melihat.” tambah tutor.

Meski demikian santri-santri tetap merasa banyak pengetahuan baru, terlebih tahu tentang prosesi dan apa yang diperlukan untuk rukyah. mereka turun setelah adzan maghrib berkumandang, melaksanakan salat berjamaah, dilanjutkan dengan foto bersama dengan tutor dan panitia. rombongan kembali ke Lirboyo sebelum adzan isya. [N.A]