All posts by abdul basit na

Sebab ini, Dosa Kecil Jadi Besar

Sebagian besar ulama sepakat bahwa dosa dipilah menjadi dosa besar dan kecil. Dosa yang tergolong besar, setidaknya terdapat tujuh belas macam yang dikerjakan oleh organ-organ tubuh tertentu.

Dosa besar yang dikerjakan hati, ada syirik, berterus-terusan maksiat, putus asa dari rahmat Allah Swt., dan merasa aman dari murka-Nya. Empat dosa juga yang dikerjakan oleh lisan, persaksian palsu, menuduh zina, melakukan sihir dan sumpah palsu.

Tiga dosa lainnya dikerjakan oleh perut, meminum arak dan perkara lain yang memabukkan, memakan harta anak yatim dengan aniaya dan sengaja memakan harta riba. Dua dosa alat kelamin, yakni zina dan liwath (Sodom). Dua dosa tangan, mencuri dan membunuh.

Sedangkan terdapat satu dosa tersisa yang terhitung dilakukan oleh seluruh anggota tubuh, yaitu berani dan durhaka kepada orang tua.

Mungkin dari kita sering menganggap remeh dosa kecil yang telah kita kerjakan, dengan alasan ‘cuma dosa kecil’ itu tadi. Na’udzubillah.

Padahal, dikutip dari Ihya Ulumiddinnya Imam Ghazali, dosa kecil yang dianggap kecil itu bisa menjadi besar sebab hal-hal berikut ;

Dilakukan terus menerus

Sehingga lahirlah ungkapan “tiada dosa kecil yang dilakukan secara berterusan, dan tiada dosa besar yang dibarengi dengan istighfar (berkesudahan).”

Diumpamakan ribuan tetes air yang mengenai batu, maka akan berimbas. Beda cerita jika air itu dikumpulkan jadi satu lalu dituangkan.

Lebih lanjut, tutur beliau, dosa besar yang dilakukan seseorang itu bukanlah suatu tindakan yang ujug-ujug. Pasti ada dosa kecil sebelumnya yang mengawali cerita. Hingga bertahap naik pada perilaku dosa yang lebih besar. Artinya, perbuatan satu dosa akan mengantarkan pada dosa-dosa yang lain.

Menyepelekan

Yakni menganggap kecil dosa yang diperbuat. Padahal, asal kita tahu, dosa yang kita anggap kecil itu akan dicatat besar oleh Allah sebab meremehkan itu tadi. Begitu pula sebaliknya, dosa yang dianggap besar, sedang ia kategori dosa kecil, sehingga pelaku merasa sangat terpukul karenanya, akan dihitung kecil disisi Allah.

Kalau kita telisik, malapetaka meremehkan suatu dosa itu bermula dari kebiasaan mengerjakannya, dan yang seperti ini ternyata akan sangat berdampak dalam memekatkan hati sang pelaku. Pun demikian sebaliknya.

Sabda Nabi Saw. :

المؤمن يرى ذنبه كالجبل فوقه يخاف أن يقع عليه، والمنافق يرى ذنبه كذباب مر على أنفه فأطاره

Artinya: “Seorang mukmin sejati akan menganggap dosanya laksana gunung yang melayang di atasnya. Maka ia takut kalau-kalau gunungan dosa itu menimpa dirinya. Sedang orang munafik mengira dosanya seperti seekor lalat yang terbang di depan hidung, lalu ia membuatnya terbang lagi (hanya lalu).”

Bangga dengan Dosa

Seakan dijadikan sebagai sebuah kompetisi untuk berbuat dosa dan membanggakannya di hadapan orang lain. Seperti ungkapan “ Coba lihat, dia kupermalukan di depan umum.”

Nyaman dengan Aib yang Telah ditutupi Allah

Sehingga membuatnya semakin menjadi-jadi dalam bermaksiat kepada-Nya, padahal justru itulah yang melenakannya. Pundi-pundi dosa akan terus bertambah tanpa disadari. Ini yang dinamakan istidraj, dilulu.

Membeberkannya pada khalayak

Pada umumnya, kita tidak akan pernah rela aib kita akan terkuak di muka publik. Sungguh, mungkin tidak ada yang akan mau mencium tangan kita, berbincang akrab dengan kita atau bahkan sekadar bertatap muka, jika Allah tidak menutupi aib dan dosa yang pernah kita perbuat. Dengan menampakkan dosa pada publik, berarti membuka tabir dan sekat Allah yang seharusnya wajib kita jaga, jangan sekali-kali merobeknya.

Dilakukan oleh Seorang Tokoh Panutan

Orang dengan jamaah dan pengikut banyak akan sangat beruntung jika perbuatan baiknya ditiru oleh mereka. Namun, jika perilakunya menyimpang dan mengandung dosa, juga akan menjadi jariyah dosa jika sampai tampak oleh seorang yang mengidolakannya lalu meniru. Seperti yang tertuang dalam hadis :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

Artinya: “Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam Islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya. Tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Maka setiap gerak-gerik seorang public figure bisa bernilai dosa dan pahala yang berlipat-lipat andai sampai ditiru pengikutnya. Terakhir, ada sebuah kisah menyayat dari seorang pendosa yang tengah berusaha berubah dan taubat, setelah bertahun lamanya ibadah, tak kunjung juga ada tanda diterima. Akhirnya nabi yang diutus pada zaman itu bertanya kepada Allah, hal ihwal apakah penyebabnya?.

Allah berfirman kurang lebih seperti ini, “ Aku bisa saja mengampuni dosanya, namun bagaimana dengan dosa orang-orang yang mengikuti langkahnya dalam kesesatan?.” Semoga dalam setiap nafas kita ada jalan hidayah dan pertolongan dari-Nya, amin. Sekian. Allahu A’lam [].

Penyebab Dosa Kecil Jadi Besar

Baca juga:
TAUBAT SEBELUM TERLAMBAT

Simak juga:
Mengamalkan Ilmu

Penyebab Dosa Kecil Jadi Besar
Penyebab Dosa Kecil Jadi Besar

Mimpi Melihat Allah, Mungkinkah?

Mimpi Melihat Allah |
Mimpi merupakan aktivitas alam bawah sadar yang menyertakan indra lain, seperti pendengaran, penglihatan hingga perasaan. Ada banyak teori yang mengulas tentang mimpi dan tafsirnya. Baik dari kalangan umum maupun agamawan. Belum lagi jika dikaitkan dengan mitos.

Mimpi bertemu Nabi saw. adalah suatu hal yang didamba oleh siapa pun dari seorang muslim. Seseorang yang bermimpi beliau, ternyata mendapati kondisi fisik beliau tidak selaras dengan informasi yang telah beredar terkait beliau. Seperti beliau terlihat lebih sepuh, sedang sakit atau kondisi lainnya.

Setiap dari kita ­­semoga saja jika mimpi bertemu dengan beliau maka jelas itu adalah Rasulullah. Sebab setan tidak bisa menyamar menjadi sosok beliau seperti yang ditegaskan oleh beliau sendiri dalam sebuah hadis ;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي

Artinya : Dari Abu Hurairah Ra. berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka (seakan) ia melihatku dalam kondisi terjaga, karena setan tidak bisa menyerupai diriku (Nabi). ” (HR. Bukhari).

Mimpi berjumpa Nabi dengan menampilkan fisik adalah lumrah, karena beliau adalah manusia utusan yang memiliki sifat dan bentuk fisik layaknya kita. Akan tetapi karena kemuliaan dan kesempurnaan beliau lah yang melarang kita menggambarkan sosoknya.

Mimpi Berjumpa Allah

Namun bagaimana jika mimpi bertemu Allah, Dzat Yang Maha Sempurna, yang tiada kata untuk memuat segala kesempurnaan-Nya, apakah boleh? Lebih-lebih jika Dzat-Nya itu mewujud pada suatu sosok tertentu. Bukankah Dia berbeda dengan makhluk? Sedang kita tidak ada kuasa untuk menghendaki sebuah mimpi tertentu, semua terjadi secara alami dan mungkin-mungkin saja.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (Qs.asy-Syura: 11)

Kesepakatan ulama bahwa boleh dan sah saja seseorang itu mimpi bertemu Allah. Namun apa yang ia lihat dalam mimpi tersebut, bukanlah hakikat dari wujud Allah itu sendiri.

Hal ini pernah dialami Rasulullah seperti yang tercatat di hadis riwayat Imam Tirmidzi Ra;

روى الإمام أحمد والترمذي وصحّحه عن معاذ بن جبل في حديث المنام: أَتَانِي رَبَّي فِيْ أَحْسَنِ صُوْرَة

“Tuhanku mendatangiku (dalam mimpi) dengan sebaik-baiknya rupa.”

Mengomentari riwayat ini, Syekh Utsman ibn sa’id ad-Darimy berkata ;

“Ini terjadi di dalam mimpi, dan di dalam mimpi mungkin saja melihat Allah dengan segala wujud dan rupa.”

Dan lagi, mimpi ini dialami oleh Nabi, orang termulia dan terkasih di sisi-Nya. Bagaimana jika kita manusia biasa ini yang mengalami? Berikut komentar Syekh Ibnu Taimiyah yang juga disokong oleh ulama-ulama lain seperti Syekh Qadli ‘Iyadl, Imam Baghawi, Qadli Husain, Imam Nawawi dan sebagainya.

“Para sahabat, tabi’in dan pemimpin-pemimpin umat mukmin sepakat bahwa Allah bisa kita lihat kelak di akhirat dengan mata kepala kita. Dan siapa pun tidak akan pernah bisa melihat-Nya kini di dunia. Akan tetapi, Dia bisa dilihat dalam mimpi.”

Karena Dzat Allah terlalu suci untuk bisa diindra oleh mata kita. Penglihatan kita yang fana (rusak) ini tidaklah mampu memandang Dzat yang Maha Abadi.

“Seorang mukmin,” lanjut Syaikhul Islam. “bisa melihat Tuhannya dalam mimpi dengan wujud bemacam-macam tergantung dari kadar keimanannya. Jika imannya benar lagi kuat, maka tidak akan sekali-kali melihat-Nya kecuali dengan bentuk yang paling baik (seperti yang dialami Nabi dalam hadis di atas). Dan jika imannya pas-pasan, ia akan melihat sesuai dengan yang pantas baginya.”

Status Mimpi

Lebih lanjut, beliau Ibnu Taimiyyah berujar mengenai status mimpi tersebut.

“(Penglihatan dalam) mimpi seorang mukmin memiliki hukum yang berbeda dengan penglihatannya ketika terjaga. Maka mimpinya mengharuskan tabir dan takwil sesuai dengan kondisinya di kehidupan nyata.”

Artinya semua kembali pada keimanan seseorang. Sama halnya, semisal, saat kita bermimpi ketemu nabi sedang beliau tengah tersenyum kepada kita, maka menandakan kebaikan, pun pula sebaliknya.

ِِAndai Allah mewujud serupa makhluk,-Maha Suci Allah dalam hal ini- maka sejatinya bukan itu wujud-Nya, Imam Qadli ‘Iyadl dalam syarakh kitab Fathul Majid berkata ;

“Jika Allah dilihat atas sebuah sifat tertentu yang tak layak bagi keagungan-Nya, seperti sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk-makhluk indrawi, jelas yang dilihatnya dalam mimpi itu bukanlah Dzat-Nya yang sejati. Sebab tak patut bagi-Nya menjelmakan dengan makhluk.”

Mimpi berjumpa Allah bukanlah hal aneh bagi ulama-ulam terdahulu. Seperti Imam Ahmad ibn Hanbal yang mengaku berjumpa Allah berkali-kali, atau seorang ulama yang bermimpi diberi mushfah oleh-Nya menjadikan jalan dakwahnya semakin lancar dan dipermudah. Dan masih banyak lagi ulama lainnya. Allahu A’lam.[]

Baca juga:
KISAH PERTEMUAN KHALIFAH HARUN AR-ROSYID DAN PARA WALI AGUNG DALAM PERJALANAN HAJI

Follow juga:
instagram: @pondoklirboyo

Mimpi melihat Allah, mungkinkah?
Mimpi melihat Allah, mungkinkah?

KEBENARAN DI KELAS SYAMSUL

Kelas Syamsul sedang kosong, Bapak Mustahiq tidak masuk kelas, entah ke mana beliau. Syamsul sebagai ketua kelas maju membawa kitab, agar teman-temannya tidak ramai ia ingin mengajukan pertanyaan sebagai bahasan diskusi mereka untuk mengatasi kegabutan.

“Menurut kalian, bagaimana arti kebenaran itu?” Sesampainya di depan, Syamsul lekas saja membuka percakapan. Teman-temannya tetiba diam, demi melihat Syamsul berbicara seperti serius. Munir yang tadinya rebahan, mengangkat tubuhnya.

“Kebenaran itu saat kita melakukaan sesuatu sesuai keinginan ibu.” Munir teringat ibunya di rumah. Ia mengusap muka, tampaknya ia rindu.

Dimas si penggemar ikan koi mengejek, “Pasti ibumu mempunyai banyak aturan.” Teman-teman menertawakannya. Dimas ikutan, saat tertawa, perutnya bergoyang-goyang seolah terkena terpaan angin.

“Kebenaran adalah apa yang diputuskan oleh Yang Mulia dalam persidangan.” Fajar yang hobi mendengarkan musik dangdut itu angkat bicara. Saat ia masih kecil, Pak De-nya pernah dimejahijaukan soal sengketa tanah, namun berhasil lolos dari jeratan hukum. Mudah saja yang seperti itu bagi Pak De. Beliau mempunyai banyak rekan dan uang.

“Benar, karena Yang Mulia adalah ahli hukum, pasti beliau lebih tahu mana yang benar.” Rafi mendukung Fajar, sambil tangannya membenarkan letak songkoknya yang miring. Songkok itu pemberian kakek, warnanya sudah merah, usianya mungkin sama dengan HUT RI.

“Tidak bisa, hakim memutuskan perkara sesuai dengan yang dia lihat. Kita tidak pernah tahu sejatinya perkara yang tidak pernah kita lihat.” Munir kembali lagi ngeyel.

“Kalau seperti itu, tidak pernah ada masalah yang telah diselesaikan Pak Hakim.” Mbah Rahmat tidak terima. Eh, dia bukan sudah tua, teman-teman memang memanggilnya dengan imbuhan ‘mbah’ karena menghormatinya sebagai yang tertua di antara mereka.

“Lalu bagaimana dengan masalah-masalah manusia? kita, kan, juga memerlukan keputusan, walau putusan itu salah.” Dimas menyela lagi.

Hanyut

Di luar hujan mulai mengguyur, beberapa hari ini, hampir setiap sore hujan datang ke bumi pondok dan sekitar, membawa cerita kelas Syamsul hanyut bersama aliran airnya.

“Berarti kebenaran itu apa yang telah kita sepakati bersama.” Fajar menyimpulkan angannya sendiri tanpa meminta persetujuan yang lain. Sedang Rafi yang ada di sebelahnya manggut-manggut saja layaknya paham.

“Jadi bagaimana jika ada sekawanan penjahat yang tertangkap polisi, mereka sepakat untuk tidak mengakui perbuatannya. Apa mereka benar juga?” Rijal yang tadinya diam tidak tahan juga. Teman-temannya melirik. Rafi menggaruk rambut kepalanya hingga jatuh songkok merah itu.

“Tapi kalau kelompok yang menyepakati kebenaran itu mayoritas, mereka tetaplah yang paling benar. Atau setidaknya hampir benar. Mendekati benar. Kan, nabi menjamin bahwa umatnya tidak akan sepakat dalam kesesatan.” Kali ini Mbah Rahmat benar-benar mau menyudahi diskusi mereka. Karena lonceng akan berdenting beberpa menit lagi.

Di depan, Syamsul mulai capek berdiri. “Kebenaran milik Allah dan Rasulnya, kita sekadar berspekulasi…” Belum tuntas omongan Syamsul, Munir menyela.

“Kita, kan, juga diberi kitab suci dan hadis nabi sebagai pembimbing.” Tangan Munir mengemasi kitab-kitabnya. “Hakikat segalanya akan tampak kelak. Jadi berbuat saja sesuai kaidah agama kita.” Munir melangkah mendahului mereka, lonceng sudah berdenting.

“Woy, tidak semua dijelaskan oleh agama, mungkin sih, semua, tapi, kan, hanya muatan-muatan.” Fajar masih tidak terima teman-teman meninggalkannya keluar kelas paling akhir. Hujan rintik. Mereka keluar kelas agak berlarian.[ABNA]

Baca juga:
CERPEN SANTRI: RAHASIA BAPAK

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# CERPEN SANTRI: KEBENARAN ITU ….
# CERPEN SANTRI: KEBENARAN ITU ….

Generasi Sholeh Ummu Sulaim

Nama lengkap beliau Ummu Sulaim binti Milhan Al-Anshary Ra., salah seorang sahabat wanita dari golongan Anshar. Beliau merupakan Srikandi Islam, turut serta dalam peperangan, di antaranya perang Hunain dan Uhud. Hal itu menjadikan beliau termasuk tokoh perempuan yang disegani di kalangan sahabat nabi.

Konon kala mengajukan diri sebagai veteran perang, suami beliau, Abu Thalhah Ra. mengajaknya menemui Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, ini Ummu Sulaim (ikut peperangan) berbekal belati.”

“Wahai Rasulullah, jika ada orang musyrik yang mendekat kepadaku, akan kutusuk perutnya menggunakan belati ini.” Begitu timpal Ummu Sulaim dengan semangat jihad yang membara tanpa rasa takut sedikit pun meski ia perempuan.

Abu Thalhah adalah suaminya yang kedua setelah Malik meninggal, Abu Thalhah melamarnya karena terpesona dengan perangai Ummu Sulaim yang baik. Namun saat itu Abu Thalhah masih belum masuk Islam, sehingga lamarannya ditolak.

Hidayah

“Sungguh tidak pantas bagiku menikah dengan seorang musyrik.” Begitu kiranya penolakan dari Ummu Sulaim, bukan berarti beliau membenci. “Abu Thalhah, coba kau pikirkan. Tuhan kalian yang dibuat dengan cara dipahat itu, jika kalian nyalakan api padanya pastilah terbakar. ” Pesan logis ini ternyata mampu mengendap dalam pikiran Abu Thalhah setelah mereka berpisah dalam pertemuan itu.

Selang beberapa hari kemudian Abu Thalhah datang kembali. “Apa yang kau utarakan kemarin, sungguh aku sependapat.” Akhirnya mereka berdua menikah dengan mahar berupa Islamnya Abu Thalhah.

Hari-hari selanjutnya kehidupan mereka diwarnai dengan perjuangan dan keringat dalam membantu dakwah Nabi membumikan Islam.

Kepergian Sang Anak

Sampai suatu ketika, putra mereka jatuh sakit, sedang Abu Thalhah sedang keluar dalam peperangan bersama Nabi. Tidak lama setelah itu sang putra menghembuskan nafas terakhirnya. Dibantu orang-orang di sekitarnya Ummu Sulaim memandikan putranya.

Setelah semua prosesi tajhiz selesai, ia memerintahkan agar putranya diletakkan di sudut kamar dan menutupinya dengan kain sambil berpesan, “Jangan beritahu kabar kematian ini kepada Abu Thalhah. ” Sore harinya Abu Thalhah datang dari perjalanan jihadnya dengan kondisi yang jelas sangat melelahkan.

Mengetahui situasi ini, pikir Ummu Sulaim tidak mungkin serta-merta memberitahu suaminya yang sedang letih, sebagai istri yang salehah ia mencari cara agar ketika tahu kabar kematian putra tercinta, suaminya tidak kaget.

Ia segera berdandan demi menyambut kedatangan suaminya. Dandanannya kali ini tidak seperti biasanya, ia memaksimalkan semuanya.

“Bagaimana keadaan putra kita?” Abu Thalhah menanyakan kondisi putranya yang memang sudah jatuh sakit sejak kepergiannya.

“Sungguh malam ini ia lebih tenang daripada malam-malam sebelumnya.” Jawab Ummu Sulaim. Jelas suaminya mengira si kecil sudah sembuh dari sakitnya.

Selesai itu, Ummu Sulaim mempersiapkan hidangan makan malam. Mereka makan dengan tenang sambil melepas rindu tanpa beban sama sekali, seakan tidak terjadi apa-apa.

Makan malam usai dengan syahdu. Ummu Sulaim menawarkan dirinya kepada sang suami, “Adakah engkau ‘menginginkannya’ malam ini?. Tawarannya disambut, mereka menuai kerinduannya dalam rengkuhan berpahala.

Kecerdasan Ummu Sulaim

Usai itu, Ummu Sulaim menemukan celah untuk membuka kabar dukanya.

“Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang tetangga kita?”

“Kenapa dengan mereka?” tanggap Abu Thalhah.

“Mereka meminjam sesuatu, namun saat pinjaman tersebut akan diambil kembali oleh pemiliknya, mereka enggan untuk mengembalikan. Mereka mengklaim barang pinjaman itu adalah milik mereka.”

“Sungguh jelek sekali apa yang mereka perbuat.” Jawab Abu Thalhal.

“Putramu merupakan titipan Allah, Ia mengambilnya darimu.” Deg, perkataan itu memukul perasaan suaminya. Namun ia sudah berkata-kata atas pancingan pertanyaan istrinya tadi.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Alhamdulillah.”

Keesokan harinya, saat petang masih pekat, Abu Thalhah buru-buru mendatangi Rasulullah dan menceritakan kejadian yang ia alami kepada beliau mulai awal hingga akhir.

Kebahagiaan menaungi Abu Thalhah dan keluarganya, Rasulullah mendoakan mereka.

“Ya Allah berkahilah malam keduanya (saat berhubungan intim).” Begitu bunyi doa Rasul, singkat namun berdampak begitu besar terhadap keturunan mereka.

Kehadiran Buah Hati

Beberapa bulan kemudian, Ummu Sulaim melahirkan seorang anak dari malam berkah yang telah nabi doakan. Keesokannya, Ummu Sulaim menyuruh putranya dari suami yang pertama, Anas bin Malik, yang juga menjadi khadim Rasulullah, untuk membawa adik lain ayahnya yang baru lahir itu menghadap Rasulullah untuk didoakan.

Anas menggendong adiknya sambil membawa kurma ajwah menemui Rasulullah. Sesampainya di hadapan nabi, beliau segera memamah kurma yang telah ada lalu mentahniknya. Tidak cukup dari itu, beliau juga menamai bayi itu dengan nama Abdullah. Lengkapnya Abdullah bin Abu Thalhah.

Sungguh keberuntungan menyelimuti bayi Abdullah ini, sejak awal ia telah mendapatkan doa dari nabi. Hingga setelah lahir pun ia mendapatkan barakah langsung dari nabi dengan tahnik tersebut.

Generasi Unggul

Dari Abdullah bin Abu Thalhah, yang berjuluk ‘Putra Pemilik Malam Berkah’ inilah, lahir darinya putra-putra hebat pemegang panji keilmuan Islam. Abdullah mempunyai sepuluh orang putra yang keseluruhannya hafal kitab suci Al-Quran. Subhanallah.

Yang paling masyhur dari putra Abdullah adalah Ishaq, beliau menjadi guru besarnya Imam Malik, pendiri mazhab Malikiyyah.

Begitulah balasan Allah dari seorang istri yang salehah, seorang pejuang perang, pencari berkah nabi yang tak kenal lelah. Konon juga Ummu Sulaim menyimpan kepingan dari wadah air yang pernah digunakan Rasulullah minum, dengan tujuan mencari berkah.

Mari mencari berkah sebanyak-banyaknya dari orang-orang saleh, agar cerah kehidupan dunia akhirat kita, bernaung dengan doa-doa mereka yang dekat dengan Allah. [ABNA]

# GENERASI SHOLEH UMMU SULAIM

Baca juga:
RAHASIA ABU HURAIRAH HAFAL 5374 HADIS

Follow juga instagram milik @pondoklirboyo

# GENERASI SHOLEH UMMU SULAIM
# GENERASI SHOLEH UMMU SULAIM

SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN

Nabi sebagai cerminan, yang akhlaknya merupakan Al-Quran, sangat memukau dalam kesehariannya saat menghadapi umat yang bermacam-macam karakter. Seperti yang kita ketahui, beliau itu pemalu. Bahkan digambarkan lebih pemalu dari seorang perempuan dalam sekat. Namun jangan salah, beliau juga manusia yang sangat pemberani mengalahkan siapa pun.

Seperti saat beliau dan pasukannya terkepung oleh bala musuh, pasukan beliau banyak yang mundur, sedang beliau sendiri tak gentar menghadang, sehingga menyalakan kembali keberanian pasukannya. Itulah sifat manusia terbaik, manusia pilihan Tuhan semesta, beruntung kita menjadi umatnya.

Konsultasi

Pernah suatu saat beliau didatangi seorang wanita dari golongan Anshar. Ia ingin berkonsultasi dengan nabi tentang hal-hal yang berhubungan dengan kewanitaan.

Ia mengeluhkan tentang darah (kewanitaan) yang merembes di pakaian. Mungkin darah yang keluar itu saat Ia di masa istihadhah. Sehingga Ia bertanya kepada nabi bagaimana cara menyucikan diri dari darah itu, karena salat lima waktu bagi perempuan yang sedang istihadhah tetaplah wajib.

Ia bingung sebab darah tersebut masihlah terus mengalir, bagaimana nanti dengan salatnya? Bukankah jika memaksa untuk salat berarti sama halnya Ia sedang membawa najis?

Merasa tidak menemukan jawaban atas kejanggalan yang Ia alami, Ia mendatangi Nabi dan segera mengajukan pertanyaannya itu.

“Ambillah selembar kain yang telah diolesi minyak wangi dan gunakan untuk bersuci. ” Nabi singkat saja menjawab.

Akan tetapi perempuan itu masih bingung. “Bagaimana caraku bersuci menggunakan kain itu, wahai Rasulullah?” Ia bertanya lagi.

“Bersucilah dengannya.” Nabi tidak sanggup menjelaskan lebih lanjut.

“Bagaimana caranya?” Ternyata ia terus mendesak Nabi. Bukan karena apa, memang Ia masih kurang paham.

Saat seperti inilah tampak dari ucapan nabi, betapa beliau sangat tidak rela kalau-kalau dari mulut sucinya terucap perkataan yang kurang layak. Meski toh kaitannya dengan ilmu dan praktik ibadah.

“Subhanallah, bersucilah dengan kain itu.” Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu beliau ucapkan.

Ketika ada sesuatu hal yang tidak pantas untuk diucapkan, beliau selalu bertasbih. Demi menyucikan Allah dari sifat-sifat kurang.

Detail Jawaban

Saat mengetahui Nabi tidak mungkin bisa menjelaskan dengan detail jawaban atas pertanyaan dari perempuan itu, Sayyidah Aisyah meraih tangan perempuan dari kalangan Anshar tersebut dan berjalan menjauh dari Nabi. Sayyidah Aisyah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana praktik bersuci yang ia tanyakan kepada Nabi.

Di sinilah istri-istri Nabi mengambil peran dengan membantu beliau dalam berdakwah yang mungkin sangat sulit kalau hanya beliau sendiri. Ada area-area tertentu yang akan berat untuk bisa beliau jangkau.

Beliau Nabi menghendaki agar perempuan tadi menggunakan selembar kain untuk menyumbat darah, agar tidak merembes keluar saat melakukan ibadah. Hal ini tidak mungkin bisa dengan rinci beliau sampaikan.

Di sisi lain, Sayidah Aisyah Ra. yang dikenal paling cerdas di antara istri-istri beliau, memuji wanita-wanita Anshar yang tidak malu untuk belajar agama dan bertanya kala kejanggalan menyapa. [NA]

Baca juga:
AL-ADZKAR: BERUNTUNGNYA BADUI YANG ZIARAH KE MAKAM NABI SAW.

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN
# SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN