All posts by abdul basit na

SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN

Nabi sebagai cerminan, yang akhlaknya merupakan Al-Quran, sangat memukau dalam kesehariannya saat menghadapi umat yang bermacam-macam karakter. Seperti yang kita ketahui, beliau itu pemalu. Bahkan digambarkan lebih pemalu dari seorang perempuan dalam sekat. Namun jangan salah, beliau juga manusia yang sangat pemberani mengalahkan siapa pun.

Seperti saat beliau dan pasukannya terkepung oleh bala musuh, pasukan beliau banyak yang mundur, sedang beliau sendiri tak gentar menghadang, sehingga menyalakan kembali keberanian pasukannya. Itulah sifat manusia terbaik, manusia pilihan Tuhan semesta, beruntung kita menjadi umatnya.

Konsultasi

Pernah suatu saat beliau didatangi seorang wanita dari golongan Anshar. Ia ingin berkonsultasi dengan nabi tentang hal-hal yang berhubungan dengan kewanitaan.

Ia mengeluhkan tentang darah (kewanitaan) yang merembes di pakaian. Mungkin darah yang keluar itu saat Ia di masa istihadhah. Sehingga Ia bertanya kepada nabi bagaimana cara menyucikan diri dari darah itu, karena salat lima waktu bagi perempuan yang sedang istihadhah tetaplah wajib.

Ia bingung sebab darah tersebut masihlah terus mengalir, bagaimana nanti dengan salatnya? Bukankah jika memaksa untuk salat berarti sama halnya Ia sedang membawa najis?

Merasa tidak menemukan jawaban atas kejanggalan yang Ia alami, Ia mendatangi Nabi dan segera mengajukan pertanyaannya itu.

“Ambillah selembar kain yang telah diolesi minyak wangi dan gunakan untuk bersuci. ” Nabi singkat saja menjawab.

Akan tetapi perempuan itu masih bingung. “Bagaimana caraku bersuci menggunakan kain itu, wahai Rasulullah?” Ia bertanya lagi.

“Bersucilah dengannya.” Nabi tidak sanggup menjelaskan lebih lanjut.

“Bagaimana caranya?” Ternyata ia terus mendesak Nabi. Bukan karena apa, memang Ia masih kurang paham.

Saat seperti inilah tampak dari ucapan nabi, betapa beliau sangat tidak rela kalau-kalau dari mulut sucinya terucap perkataan yang kurang layak. Meski toh kaitannya dengan ilmu dan praktik ibadah.

“Subhanallah, bersucilah dengan kain itu.” Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu beliau ucapkan.

Ketika ada sesuatu hal yang tidak pantas untuk diucapkan, beliau selalu bertasbih. Demi menyucikan Allah dari sifat-sifat kurang.

Detail Jawaban

Saat mengetahui Nabi tidak mungkin bisa menjelaskan dengan detail jawaban atas pertanyaan dari perempuan itu, Sayyidah Aisyah meraih tangan perempuan dari kalangan Anshar tersebut dan berjalan menjauh dari Nabi. Sayyidah Aisyah menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana praktik bersuci yang ia tanyakan kepada Nabi.

Di sinilah istri-istri Nabi mengambil peran dengan membantu beliau dalam berdakwah yang mungkin sangat sulit kalau hanya beliau sendiri. Ada area-area tertentu yang akan berat untuk bisa beliau jangkau.

Beliau Nabi menghendaki agar perempuan tadi menggunakan selembar kain untuk menyumbat darah, agar tidak merembes keluar saat melakukan ibadah. Hal ini tidak mungkin bisa dengan rinci beliau sampaikan.

Di sisi lain, Sayidah Aisyah Ra. yang dikenal paling cerdas di antara istri-istri beliau, memuji wanita-wanita Anshar yang tidak malu untuk belajar agama dan bertanya kala kejanggalan menyapa. [NA]

Baca juga:
AL-ADZKAR: BERUNTUNGNYA BADUI YANG ZIARAH KE MAKAM NABI SAW.

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN
# SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 Hadis

Bangsa Arab, sebelum datangnya Islam yang merombak seluruh lini kehidupannya, merupakan bangsa yang tidak diperhitungkan peranan dan kiprahnya di dunia timur maupun barat. Peradaban mereka masih tertinggal jauh. Jangankan minat mengembangkan bidang keilmiahan dan penemuan-penemuan, justru mereka masih sibuk dengan konflik internal yang berkepanjangan. Perang antar suku yang setiap detiknya bisa tercetus, seperti api yang menemukan dedaunan kering untuk disantap. Bahkan pemantiknya bisa datang dari perkara-perkara yang remeh temeh.

Bukannya latah hendak berkata “semua berubah setelah negara api menyerang”, tapi memang nyatanya demikian. Tentu perubahan yang dimaksud tidaklah yang berkonotasi negatif seperti dalam cerita film The Legend itu. Islam hadir membawa cahaya kehidupan baru bagi bangsa kakbah ini. Mereka yang awalnya hanya direpotkan dengan perang, kini Islam mampu mempersaudarakan mereka dengan begitu mengharukan tiada dua.

Perubahan yang divisikan Islam merambah di segala porsi kemanusiaan mereka. Dalam sekejap, mereka bertransformasi menjadi bangsa super power yang mencengangkan. Menggulung kemusyrikan di timur dan barat. Namun demikian tanpa berlaku vandalisme seperti kebanyakan bangsa yang tengah berada di atas angin sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Fotomemory

Cukuplah, sebenarnya saya ingin mengulas soal lain, yakni daya hafalan yang dimiliki penduduk bangsa ini yang sangat luar biasa. Sudah tidak perlu ambil contoh jauh-jauh, Al-Quran dan ribuan hadis yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir itu saja bisa menjadi bukti kualitas mereka. Terlepas dari jaminan Allah untuk menjaga keotentikan Al-Quran itu sendiri.

Padahal, mungkin di masa yang sama, di negeri kita ini, sedikit sekali perkataan-perkataan moyang kita yang sampai ditelinga kita dengan selamat tanpa penambahan maupun pengurangan.

Mula-mula, sebelum mengenal istilah tulis menulis lebih dalam, yang diimpor dari bangsa Persia saat mendapati tawanan mereka pandai akan hal ini dan dijadikan sebagai tebusan pembebasan dengan syarat mau mendidik beberapa orang arab untuk belajar menulis dan membaca, bangsa Arab sangat malu-kalau enggan mengatakan antipati- terhadap bidang kepenulisan.

Mencatat informasi dalam selembar pelepah kurma atau kulit binatang, bagi mereka adalah sebuah aib, sebab hal tersebut menandakan lemahnya daya ingat yang mereka banggakan itu. Konon sampai sekarang, orang-orang dengan gen kekuatan hafalan yang luar biasa ini masih bisa kita jumpai di sana. Jadi, pada waktu itu, kalau mau membawa pensil dan mencatat, seseorang harus sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan orang lain, kalau tidak ia akan mendapatkan cemoohan.

Isyarat Al-Quran menjelaskan :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 hadis

Nama aslinya sebelum masuk Islam adalah Abdul Syam, datang dari tanah wali, Yaman. Setelah masuk Islam namanya berubah menjadi Abdul Rahman, lalu lebih dikenal dengan Abu Hurairah Ra.

Beliau adalah Sahabat yang paling banyak periwayatan hadisnya, sejumlah 5374 hadis yang beliau hafal. Bahkan, sahabat Abdullah ibn Umar Ra yang jumlah hafalannya 2630 hadis dan tepat di urutan setelahnya hanya mencapai hitungan separuh dari keseluruhan hafalan milik Abu Hurairah. Karena memang beliau sangat totalitas dalam bidang ini.

Saat kebanyakan Sahabat Muhajirin sibuk dengan urusan transaksi di pasar, dan Sahabat Anshar dengan perniagaannya, beliau tak pernah menjauh dari mengais mutiara-mutiara yang keluar dari lisan orang termulia, Nabi. Seharusnya memang seperti itu semangat seorang santri. Mendekatkan diri pada mata air.

Tak heran nama kunyah yang familiar terhadap beliau adalah Abu Hurairah yang artinya bapaknya kucing. Sebab beliau selalu mengikuti di mana pun Nabi pergi, yang seperti ini mirip dengan perilaku kucing yang mengincar seekor ikan teri. Tapi kenyataannya memang beliau sangat menyukai hewan yang juga dicintai Nabi tersebut.

Kunyah itu memang nama anugerah bagi Abu Hurairah yang disematkan langsung oleh baginda nabi saat menjumpainya sedang membawa ia seekor anak kucing, hingga setelah itu tiada seorang pun yang memanggilnya dengan nama asli.

Pemacu

Dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh beliau sendiri, pernah suatu ketika beliau ingin menemui Nabi untuk mengadukan permasalahan dari hafalannya yang sering lupa. Ia sangat takut akan hal ini. Padahal spiritnya untuk memperbanyak untaian mutiara dari kalam nabi itu agar ia tidak tergolong dari kelompok yang diancam Allah dengan siksaan yang pedih, yakni kelompok yang menyembunyikan ilmu tanpa menyebar dan mengajarkannya kepada orang lain.

Akhirnya beliau beranjak pergi menemui Nabi. Setelah berjumpa, ia ungkapkan kekhawatirannya itu.

“Wahai Rasulullah, sungguh aku telah menghafalkan banyak hadis dari engkau, namun aku sering dibuat lupa. ” Begitu keluhnya, yang bisa ditangkap nabi kalau Abu Hurairah meminta solusi kepada beliau tentang permasalahannya itu.

Tanpa banyak berbicara, beliau meminta Abu Hurairah menggelar selendang miliknya.

“Gelarlah selendangmu.” perintah Nabi yang segera disambut Abu Hurairah. Setelah selendang tergelar di tanah, beliau Nabi mendekat. Lalu menyaukkan kedua telapak tangan suci beliau di udara, seakan beliau sedang mendapatkan sesuatu. Lalu ‘sesuatu’ yang beliau ‘ambil’ dari udara itu di letakkan di atas selendang.

“Dekaplah selendang itu.” ujar baginda Nabi. Mendengar perintah dari orang yang paling dicintainya melebihi apa pun, Abu Hurairah lekas menaati titah. Ia mendekap selendangnya. Ajaib, dengan izin Allah, setelah kejadian ini, Abu Hurairah tidak pernah mengalami kelupaan dalam meriwayatkan ribuan hadis yang telah rapi terkodifikasi dalam memori otaknya.

“Setelah itu aku tak pernah mengalami kelupaan.”

Berselera humor tinggi

Mungkin selama ini kita tahu kalau Abu Hurairah selalu berkutat dengan ilmu saja, sangat wirai dan zuhud terhadap dunia. Karena memang datang ke kota nabi tanpa membawa harta bendanya. Ia khusus mengkhidmahkan diri kepada nabi dan cukup baginya hanya bertempat tinggal di shuffah Masjid Nabawi bersama kawan-kawannya.

Namun ternyata ada sisi lain yang mungkin jarang kita ketahui, Abu Hurairah adalah seorang yang periang dan humoris. Seakan kehidupannya serba kekurangan dan tanpa memiliki materi. Bahkan untuk makan pun harus menunggu uluran tangan para dermawan, bukanlah alasan bagi beliau untuk tetap bisa berkelakar.

Setiap berjumpa dengan bocah-bocah sahabat Anshar-Muhajirin, beliau pasti membuat mereka tertawa. Ketika bertemu orang-orang yang sedang beraktivitas di pasar, beliau menghibur mereka hingga bisa membuat lupa beban pikiran.

Dan dari tingkahnya yang selalu menjadi penghibur banyak orang itu, beliau akan menjadi hamba yang penuh pasrah kala malam menjelang, khusyuk bermunajat kepada Rabbul izzah menyingkirkan kerikil-kerikil hubbuddunya. [ABNA]

Sebaik-baik Perhiasan Dunia

Perempuan itu berlian, akan tampak lebih indah jika dibalut dengan akhlak terpuji. Pahala mereka melimpah ruah meski hanya di dalam rumah. Komunikasi yang baik dalam rumah tangga merupakan ceruk yang harus dibangun sejak dini agar lekas tercipta Chemistry antara suami-istri. Semua bisa dicapai dengan saling menjaga perasaan satu sama lain. Mau menerima kondisi dan keadaan pasangannya, dan sebagainya. Bagaimanapun itu merupakan lahan pahala.
Bersabar dengan apa yang ada dalam diri pasangannya. Materi, fisik maupun hal-hal indrawi lainnya hanyalah penunjang kebahagiaan. Semua dapat diatasi dengan penyikapan yang telah dituntunkan agama.

Bagi istri, ketaatan kepada suami adalah modal besar kelak di hadapan Tuhan. Dalam kesehariannya, ada banyak poin mengenai etika terhadap suami. Diantaranya hanya bersolek untuk suami. Menjaga martabat suami di depan orang lain. Tidak menghina kondisi fisik suami jika memang kurang begitu menyenangkan untuk dipandang. Bahkan janganlah membanggakan kecantikannya kepada suami.

Sebuah kisah menarik diceritakan oleh Syekh Asmu’i. : “Suatu ketika aku masuk pada sebuah perkampungan. Di sana aku bertemu dengan seorang wanita yang kecantikannya sungguh sangat. Dia menjadi istri dari sosok lelaki yang (maaf) buruk rupa.” Beliau heran kenapa ia mau diambil istri.
“Duhai, kenapa engkau mau menjadi istri dari seorang suami yang macam dia.” Pertanyaan beliau ini sungguh menyinggung perasaan perempuan itu.

“Diam kau!. Buruk sekali perkataanmu itu.” Jelas ia tidak terima. Namun ia menjawab kenapa mau dijadikan istri dengan jawaban yang mempesona nan bijaksana.
“Bisa saja suamiku itu saleh dan taat. Memenuhi segala hak-hak Allah Sang Khaliq. Sebagai pahalanya (mungkin) Allah menjadikanku istrinya. Sedangkan aku, bisa saja aku telah berlaku buruk dan tidak taat kepada Allah. Untuk balasannya (mungkin) menjadikannya sebagai suamiku. Kenapa aku tidak rida dengan sesuatu yang Allah rida terhadapnya?. ” Jawabanya begitu menohok sanubari Syekh Asmu’i.
“Sungguh ia membuatku diam seribu bahasa.” Tandas beliau.
Sekian, semoga bisa menjadi renungan agar bisa bersikap positif terhadap kenyataan yang pahit dalam segala lini kehidupan kita.

الدُّنْيَا مَتاَعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

[ABNA]

Baca juga:
ISTRI YANG PALING SABAR

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

# Sebaik-baik Perhiasan Dunia

Peristiwa Hari : Pernikahan Fatimah Ra. dan Ali ra.

Pernikahan ideal yang terjadi pada tanggal 1 di bulan Dzulhijjah, yakni pernikahan suci antara Sayyidina Ali Kwh. Dengan putri tercinta Rasulullah Saw. Fatimah az-Zahra Ra.


Mula-mula, Abu Bakar Ra. yang berkeinginan meminang putri beliau itu dengan menemui Nabi secara langsung. Tentu Abu Bakar ingin posisinya dengan Nabi lebih dekat lagi dengan menikahi pemimpin golongan perempuan umat Rasulullah itu.

“Wahai Rasulullah, engkau telah tau perjuangan dan peranku dalam islam, aku ingin…” Abu Bakar berhenti.
“Apa itu?”
“Nikahkanlah aku dengan Fatimah.”
Namun Nabi tidak menjawab permohonan itu, juga tidak menolaknya, beliau memalingkan muka.

Kembalilah Abu Bakar dan menemui Umar Ra. ia menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Umar Ra. “Mungkin beliau sedang menunggu perintah dari Allah.” Hibur Umar Ra..
Dengan demikian, Abu Bakar pun menyarankan agar Umar ‘mengikuti jejaknya’, berangkatlah Umar Ra. dan berkata seperti yang Abu Bakar katakan, ternyata apa yang dialami oleh Umar tidak jauh beda dengan Abu Bakar Ra.

Lalu kedua pemuka islam ini mendatangi Ali Kwh. Tujuannya jelas, supaya ia melamar Sayyidah Fatimah.
“Lamarlah putri pamanmu itu.” Umar Ra. Dan Abu Bakar memberi sedikit masukan, riwayat lain mengatakan ada sedikit keraguan di benak Ali, ia takut lamarannya ditolak, namun Umar menguatkannya lagi.


“Kalau beliau Nabi tidak menikahkan putrinya denganmu, lalu siapa lagi? Engkau orang yang paling dekat dengan beliau!.” hingga pergilah Ali Kwh. Menemui Nabi.
“Wahai Rasulullah, engkau telah tau perjuangan dan peranku dalam islam, aku ingin…” Ali berhenti.
“Apa itu?”
“Nikahkanlah aku dengan Fatimah.”
Pucuk dicinta ulam pun tiba. “Apa yang kau punya? (untuk dijadikan mahar)” Nabi menyambut permintaan Ali. Ali merupakan pemuda yang tak berharta melimpah, banyak sumber yang menggambarkan kondisi rumah milik Ali Ra. yang memprihatinkan.

“Aku punya kuda dan baju zirah.”
“Biarkan saja kudamu, juallah baju zirah.”
Sebagian riwayat setelah lamarannya diterima, Ali melakukan sujud syukur.

Bergegaslah Ali menjual baju zirahnya ditambah beberapa barang yang bisa dijual hingga dari penjualan itu Ali bisa mengantongi 480 Dirham, kurang lebih 1200 gram emas sekarang. Kadar inilah yang disebut dengan mahrussunnah, nominal mahar yang disunahkan.

Setelah itu dibawanya hasil penjualan kepada Rasulullah, kemudian beliau mengambil segenggam dinar dan memberikannya kepada Bilal agar membeli wewangian, sisanya beliau membelikan keperluan-keperluan dalam pernikahan.

Riwayat dari Syekh Ath-Thusy dalam al-Amalinya memerinci list perlengkapan yang dibeli sebagai berikut.

  • Baju senilai 7 Dirham.
  • Kerudung senilai 4 Dirham.
  • Selimut hitam dari Khaibar.
  • Dua buah kasur dari serabut kurma dan bulu domba.
  • Baskom untuk mencuci pakaian dari tembaga.
  • Tikar
  • Guci berwarna hijau.
  • 2 buah kendi dari tanah.
  • Kantong air dari kulit.
  • Dan beberapa perlengkapan lainnya.

Riwayat mengatakan, setelah pernikahan, Sayyidah Fatimah ketika bertemu dengan pengemis dan meminta sesuatu darinya, ia akan memberikan pakaian barunya itu dan kembali mengenakan pakaian biasa.

Akad nikah ini terjadi di bulan Shafar akhir, baru di bulan Dzul Hijjah beliau Nabi mengirim putrinya itu kepada Sayyidina Ali yang baru kembali dari perang Uhud, waktu itu Sayyidina Ali berusia 21 tahun, sedangkan Sayyidah Fathimah berusia 15 tahun, sebagian mengatakan 16 dan 18 tahun.

Baca Juga : Batas Usia Minimal Menikah

Nabi memanggil Bilal dan berkata kepadanya “Aku nikahkan putriku dengan anak pamanku, maka aku senang jika kebiasaan umatku yaitu mengadakan jamuan makan saat pernikahan. Pergi da sediakan satu kambing dan empat mud gandum, lalu undanglah kaum Muhajirin dan Anshar.

Bilal pergi melaksanakan titah, lalu membawa semua yang diperintahkan tadi di hadapan Nabi, para tamu undangan masuk dengan kelompok-kelompok bergantian hingga semua usai mendapatkan makanan masing-masing, namun persediaan makanan masih tersisa, setelah mendoakan berkah pada makanan itu, beliau memerintahkan agar membawa sisa makanan itu kepada para wanita dan siapapun yang mereka temui.

Baca Juga : Hukum Menggelar Akad Nikah di Masjid

Setelah walimah, Rasulullah pergi bersama Ali Ra. ke rumahnya dan memanggil Fatimah, setelah ia datang, Rasulullah menyuruhnya mendekat, beliau memegang tangan keduanya, saat tangan Fatimah hendak diletakkan ke tangan Ali, beliau berkata.

“Demi Allah, yang tidak kulupakan hak-Mu dan kumuliakan firman-Mu, aku menikahkanmu dengan orang yang paling mulia diantara keluargaku dan demi Allah aku menikahkanmu dengan orang yang menjadi pemimpin di dunia dan akhirat.”

“Pergilah ke rumah kalian, Allah menyatukan kalian dengan keberkahan, dan mengeluarkan dari kalian keturunan yang saleh lagi baik.”
Setelah Nabi memerintahkan Asma’ binti Umais mengambil bejana yang berisikan air, beliau mengambil segenggam air tersebut lalu memercikkannya ke atas kepala Fatimah, mengambil lagi dan mengusapkan ke tangan, leher dan badannya, kemudian beliau berdoa lagi.

“Ya Allah, Fatimah dariku, dan aku dari Fatimah, sebagaimana Engkau jauhkan kotoran dariku dan menyucikanku maka jauhka kotoran darinya dan sucikan ia.”

Usai itu beliau menyuruh Fatimah membasuh mukanya dengan air tersebut, berkumur dan meminumnya. Kemudian Ali dipanggil, hal yang sama dilakukan terhadap Ali. Beliau Nabi memungkasi dengan doa.

“Semoga Allah menyatukan hati kalian, memberi kalian kasih sayang, keturunan yang diberkahi dan memudahkan segala urusan kalian.”

Kunjungi Akun Media Sosial Kami : Facebook, Youtube, Twitter, Instagram


Singkatnya, setelah sah Fatimah menikah dengan Ali, praktis Fatimah hidup serumah dengan Ali. Fatimah yang menjadi putri tercinta, berat bagi Rasulullah untuk berpisah. Fatimah merupakan penawar rindu saat hari-hari beliau teringat istri terkasih, Khadijah Kubra. Hingga kondisi ini diketahui salah seorang sahabat beliau, Haritsah, yang merelakan rumahnya ditempati putri beliau dan suaminya.

“Demi Allah, aku lebih senang hartaku engkau miliki wahai Rasulullah, dari pada engkau menyisakannya untukku.”
“Semoga Allah memberimu pahala.” NAbi menerima tawaran Haritsah dan mendoakannya.

Jadilah rumah Haritsah ditempati Fatimah Ra. dan Ali Kwh. Sehingga tak lagi jauh jarak antara Rasulullah dan putrinya. Sekian. [ABNA]

  • Disarikan dari berbagai sumber.

Sedang Salat, Orang Tua Memanggil

Familiar sekali di telinga kita sebuah hadis yang menggantungkan ridla Allah terhadap ridla orang tua, dan murkanya-Nya ada pada murka orang tua. Artinya jangan keburu kita mau mendapatkan ridla Allah, untuk kebaikan kita di dunia dan akhirat, sebelum kerelaan hati orang tua kita sudah dapatkan.

Atau hadis surga ada ditelapak kaki ibu yang artinya tawadlu kepada ibu mengantarkan kita pada surga.
Agama begitu sangat menekankan untuk berbuat baik kepada orang tua, hingga berani-berani kepada mereka termasuk dosa besar, selevel dengan dosa syirik, memakan harta hasil riba, berzina, mencuri dan setingkatnya.

Baca Juga : Mencuci Pakaian Saat Kemarau

Berbuat baik kepada orang tua, birrul walidain, sangat kompleks, yang tujuan utamanya adalah untuk mematuhi dan memuliakan keduanya, memenuhi panggilan dan kebutuhan mereka.


Dalam kitab-kitab turats ada keterangan yang memperkenakan salat dibatalkan saat Rasulullah memanggil, tentunya bagi orang-orang yang semasa dengan beliau.

Lalu bagaimana ketika yang memanggil kita itu orang tua? Apa kita batalkan saja salat dan segera menghadap mereka? mengingat kewajiban taat kepada mereka. Atau diam? .

Ada kisah teladan dari narasi Abu Hurairah Ra. tentang seorang pemuda Bani Israel yang rajin beribadah, suatu hari ibunya memiliki kebutuhan dan memanggil putranya, Juraij dengan nama.

Kunjungi Juga Fan Page Media Sosial Kami Facebook Youtube Twitter.

“Juraij!.” Panggil ibu.
Juraij yang sedang dalam ibadahnya berkata dalam hati “Ya Tuhan, mana yang kudahulukan, salat atau ibuku?” belum juga ia mengambil keputusan, ibunya memanggil yang kedua kalinya.

“Juraij!.” Ada nada kesal. Juraij masih bimbang. “Ya Tuhan, mana yang ku dahulukan, salat atau ibuku?”. Belum ada tindakan.
Karena mungkin dirasa penting, ibu memanggil yang ketiga kalinya.

“Juraij!.” Ibunya sedang dalam kondisi di puncak amarahnya, ia lepas kontrol berkata-kata menyumpahi Juraij.
“Ya Allah, Jaman sampai Juraij mati sebelum ia bertemu dengan pelacur (fitnah).”


Sampai disini, ada pelajaran berharga untuk orang tua utamanya ibu, doa mereka mustajab, jangankan doa, ucapannya pun diamini malaikat.

Setiap kata yang keluar dari lisan terhadap anaknya agar lebih berhati-hati, agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi. Banyak sekali cerita-cerita melegenda yang berkaitan dengan ini yang tidak asing di telinga.


Mungkin saja Ibu Juraij tidaklah sengaja, ataupun berharap kata-katanya itu menjadi doa, orang tua manapun tidak akan pernah membenci anak sebenci-bencinya, pintu maaf mereka terhadap kesalahan anak sangatlah lebar terbuka.


Doa Ibu Juraij benar-benar terjadi, sekian waktu kemudian ada wanita tuna susila yang merelakan tubuhnya dijamah seorang pengembala domba, hingga ia mengandung.

Setelah perutnya membesar dan melahirkan, masyarakat mengintrogasinya, jabang bayi itu hasil hubungannya dengan siapa?.
Wanita tadi mengatakan bahwa anak itu adalah hasil hubungan gelapnya dengan Juraij sang rajin ibadah.

Ketika massa mendekati Juraij di tempat pemujaannya, mereka mengamuk dan menghancurkan bangunan ibadah Juraij.

Baca Juga : Hukum Salat Menggendong Anak Kecil


“Ada apa dengan kalian ini.” Tanya Juraij yang tidak tahu menahu duduk perkaranya.
Kau telah berzina dengan wanita itu, dia sekarang telah melahirkan anakmu.” Jawab mereka.
“Mana anak itu?” massa membawa anak tersebut kepada Juraij.

Setelah anak dihadirkan, Juraij mengambil air wudlu lalu melaksanakan salat. Usai salat, ia mendatangi anak yang dituduhkan miliknya itu.

“Hei, Bocah. Anak siapa kau?”
“Aku anak dari seorang penggembala domba.”
Seketika massa terhenyak, mereka banyak alasan. Bayi yang masih digendong itu sudah bisa berkata.

Kisah ini betapa menunjukkan agungnya urursan kita kepada orang tua. Ketika kita berada pada posisi di atas, saat sedang salat lalu orang tua memanggil, menurut keterangan ulama tindakan yang kita ambil harus diperinci.

Kalau sedang salat sunnah, jika kita tidak menjawab panggilan mereka tidak marah, maka sempurnakan saja salat kita.

Namun jika kita melanjutkan salat dan tahu mereka akan murka, batalkan salat dan penuhi panggilan mereka. Sedangkan ketika salat yang kita jalankan adalah salat fardlu maka tidak diperkenankan membatalkan salat. sekian. [ABNA].