All posts by abdul basit na

3 Menteri Resmikan Bangunan Rusun Lirboyo

LirboyoNet- Kediri. (15-02) siang tadi Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung bersama Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar dan segenap rombongan hadir di Pondok Lirboyo guna meresmikan bangunan rusun baru yang ada di sebelah utara bangunan rusun lama.

Acara berlangsung renyah penuh candaan, sebagai sambutan perwakilan dari pengasuh pondok Lirboyo, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menyambut baik dan mengapresiasi kinerja pemerintah dengan adanya pembanguna rusunawa ini. “Terimakasih kepada pemerintah telah bersinergi dengan pesantren.” Tukas beliau. Bangunan rusunawa ini sangat menunjang keperluan pesantren. Dalam candaanya beliau ‘membocorkan’ soal isu mengenai takutnya petinggi negeri ini kalau mengunjungi Kediri utamanya Lirboyo karirnya akan terganggu.

“Saya mendapat sebuah ‘bisikan’ kalau ingin aman berkunjung kesini, sebelumnya ziarah dulu ke makam Syekh Wasil.”

Beliau juga mengungkapkan permohonan kebutuhan pesantren yang lainnya seperti sarana dan prasarana yang kurang memadai agar mendapatkan perhatian dari para Menteri.

Sambutan kedua dari Sekretaris Kabinet Pramono Anung W. Beliau yang lahir dan besar di Kediri terlihat begitu akrab dengan masyayikh, juga menanggapi permohonan dari Kyai Kafabih dengan berupaya mengabulkannya. Selain itu beliau menyampaikan salam dari Bapak Presiden Joko Widodo yang sejatinya sangat ingin sekali berkunjung ke Lirboyo namun di cegah oleh beliau karena isu tadi. Sehingga saat mendengar ‘bocoran’ dari Kyai Kafabih agar sebelum berkunjung ziarah ke makam Syekh Wasil terlibih dahulu beliau berniat menyampaikannya kepada Jokowi.

Acara ditutup dengan pemotongan pita, penandatanganan prasasti dan disusul penyerahan cinderamata dari pondok kepada Seskab. Rencananya rombongan akan langsung bertolak meresmikan bangunan rusun yang ada pondok Ploso dan Ngasinan asuhan KH. Anwar Iskandar, baru kemudian jadwal rombongan meninjau perkembangan pembangunan Bandara Kediri. [n.a]

Meneropong Cakrawala Falak

LirboyoNet, Kandangan- Siang itu (25/01) sekitar 25 santri yang aktif mengikuti kursus falak setiap minggunya berkumpul di Gedung Rusunawa utara Aula Al-Muktamar. mereka menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk melaksakan praktek rukyatul hilal yang akan dilaksanakan di menara masjid MAN 03 Kandangan-Kediri.

Setelah dirasa anggota sudah lengkap dan peralatan siap, rombongan menggunakan 2 mobil Elf itu berangkat ke lokasi sekitar pukul 14:45 WIB. sampai di sana kira-kira 45 menit kemudian, cuaca terlihat cerah. mereka segera naik ke lantai tiga msajid milik sekolah, untuk menyiapkan alat-alat observasinya dipandu langsung oleh dua tutor, Ust. Reza Zakaria dan Ust. Asmujib dan segenap tim pelaksana dari Seksi Pramuka Pondok Pesantren Lirboyo.

Baca juga https://lirboyo.net/praktek-rukyatul-hilal/

Setelah sekian proses, tiba-tiba cuaca menunjukkan perubahan yang berbeda, guratan awan hitam mulai mengitari langit. akhirnya tutor menganjurkan agar pindah ke menara setinggi 6 M di atas atap masjid Lt. 3 itu.

Mereka menata ulang alat-alatnya, seperti mengukur gawangan untuk menandai terbenamnya matahari, teropong. benang pengukur, penggaris hingga aplikasi khusus yang bisa mengetahui letak matahari, hilal, dan ufuk.

Setelah dirasa cukup, mereka turun untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah, sambil berharap mendung akan berakhir. perkiraan matahari terbenam pada pukul 17:58:57 WIB. setelah shalat sebagian santri ada yang keluar area sekolah untuk mencari jajanan. dan sayang sekali, hujan yang cukup deras turun mengguyur.

Beberapa menit sebelum waktu perkiraan matahari terbenam, mereka naik lagi, di atas bangunan yang dikelilingi persawahan dan di arah timur pegunungan membentang, mereka mendengarkan arahan dari tutor, “Meski di sini mendung, bahkan hujan, namun di ufuk tidak mesti demikian kondisinya, bisa jadi di sana cerah.”

Hingga matahari diperkirakan sudah tenggelam, cuaca tidak menunjukkan akan berhentinya hujan, atau setidaknya mendung menghilang, sehingga mereka hanya mendapatkan cara persiapan observasi saja, tidak sampai bisa mengamati prosesi tenggelamnya matahari dan munculnya hilal.

“Di tempat yang paling potensial untuk bisa melihat hilal saja, tidak setiap melakukan rukyah di sana bisa melihat hilal. bahkan ada yang sudah berpuluh kali rukyah tidak bisa melihat.” tambah tutor.

Meski demikian santri-santri tetap merasa banyak pengetahuan baru, terlebih tahu tentang prosesi dan apa yang diperlukan untuk rukyah. mereka turun setelah adzan maghrib berkumandang, melaksanakan salat berjamaah, dilanjutkan dengan foto bersama dengan tutor dan panitia. rombongan kembali ke Lirboyo sebelum adzan isya. [N.A]

33 Tahun Mondok ‘Hanya’ Dapat 8 Ilmu?

Hatim al-Asham, seorang wali agung suatu ketika ditanya oleh guru besarnya, Syekh Syaqiq al-Balkhy.

“Sejak kapan kau belajar kepadaku di sini?”

“Sejak tiga puluh tiga tahun yang lalu” jawab Hatim.

“Diwaktu selama itu, apa saja yang kau pelajari dari ku?”

“Ada delapan hal”

Deg, gurunya kaget. “innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ku habiskan umurku bersamamu dan kau hanya mendapatkan delapan macam ilmu?.”

“wahai guru, benar, aku tidak mengetahui apapun kecuali itu. Aku tidak suka berbohong.” Wali Hatim serius.

“baiklah, sampaikan hal itu agar aku bisa mengetahuinya.”

“Ku lihat manusia.” Hatim mulai bercerita panjang. “semua dari mereka mempunyai kecintaan terhadap sesuatu, dan berharap di kubur ia akan tetap dengan apa yang ia cintai. Ternyata setelah sampai di kubur, apa yang ia cintai meninggalkannya sendiri. Maka aku jadikan amal kebaikan sebagai sesuatu yang kucintai, agar saat aku dimasukkan ke liang kubur, apa yang kucintai itu mau masuk bersama, tidak meninggalkanku.”

“Engkau benar, Hatim.” Gurunya manggut-manggut. “lalu apa yang ke-dua?.” Tidak sabar.

“Ku angan-angan sebuah firman Allah swt. yang berupa :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya” (Q.S. An-Nazi’at : 40)

“aku yakin kebenaran firman Allah ini. Maka ku paksa diriku dengan sekuat tenaga agar mengikuti kehendak nafsu. Sehingga ia teguh dalam ketaatan kepada-Nya.”

“Ke-tiga, ku angan-angan perilaku makhluk, ku lihat masing-masing dari mereka memiliki sesuatu yang dijadikannya sebagai harga diri dan martabat, ia menjaga dan mepertahankannya. Lalu ku angan-angan firman Allah :

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ ۗ

Artinya : “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (Q.S. An-Nahl : 96)

“Maka saat ku dihadapkan kepada sebuah hal (kebaikan) yang dirasa mempunya keberhargaan, akan ku dedikasikan ia hanya kepada Allah, agar utuh dan kekal terjaga di sisi-Nya.”

“Ke-empat, kulihat semua manusia menjadikan harta, kedudukan dan nasab sebagai pertimbangan utama (pada banyak hal), setelah kuangan-angan, sejatinya semua itu tidak mempunyai arti sedikitpun. Lalu kurenungkan pula firman Allah :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu” (Q.S. Al Hujurat : 13)

“Maka kutingkatkan ketakwaanku hingga bisa kurai kedudukan mulia di sisi-Nya.”

“Ke-lima, kulihat manusia saling mencela dan mencaci diantara mereka. Penyebabnya adalah sifat hasud. Lalu kurenungkan firman Allah :

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia” (Q.S. Az-Zukhruf : 32)

“Kujauhi sifat hasud dan kujauhi makhluk, aku yakin disisi-Nya lah pembagian yang terbaik, maka tak kugubris permusuhan orang-orang kepadaku.”

“Yang ke-enam, kulihat makhluk diantara mereka saling berbuat zalim, lalu aku merujuk pada sebuah firman-Nya :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

Artinya : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu)” (Q.S. Fatir : 6)

“Maka hanya permusuhan setanlah (yang benar-benar kuanggap sebagai permusuhan). Kumaksimalkan diriku dengan mengambil jarak darinya. Karena Allah bersaksi bahwa setanlah musuh sejatiku. Kuacuhkan permusuhan makhluk kepadakku.”

“yang ke-tujuh, kulihat sebagian dari manusia berjerih payah agar bisa mendapatkan sesuap nasi, hingga rela kekakukan hal yang menghinakan diri dan mengambah jalan yang tidak dihalalkan baginya. Lalu kurenungkan firman-Nya :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (Q.S. Hud : 6)

“aku menyadari sepenuhnya, bahwa diriku termasuk dari binatang melata (yang disebut dalam ayat) yang dijamin rizkinya oleh Allah. Maka kusibukan diriku dengan melakukan amal yang diwajibkan kepadaku hanya untuk Dia semata, dan kubiarkan jatahku di sisi-Nya.”

“ Yang ke-delapan, kulihat manusia memasrahkan urusannya kepada orang lain, kebun ini ia pasrahkan kepada dia, bisnis ini ia pasrahkan kepada dia, orang ini ia suruh mengontrol dan menjaga kesehatannya. Orang ini ia suruh menjaga pekerjaan ini dan itu. Lalu aku merujuk dalam firman-Nya :

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya :”Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Q.S. Ath-Thalaq : 3)

“Maka aku tawakal kepada Dzat yang agung, Ia yang akan menyukupiku.”

Panjang lebar Hatim menceritakan delapan poin ilmu yang ia dapatkan dari sang guru selama 33 tahun mondok kepada beliau. Sang guru semakin kagum.

“Hatim, semoga Allah memberimu pertolongan, sungguh kurenungi ilmu-ilmu yang ada dalam kitab Taurat, Injil, Zabur hingga al-Qur’an. Dan kesimpulanku mengatakan bahwa keseluruhan dari bermacam-macam kebaikan berputar pada delapan kesimpulanmu itu. Siapapun yang mengamalkan delapan perkara ini, maka ia telah mengamalkan (ajaran yang ada dalam) empat kitab suci terbebut.” Pungkas sang guru menyimpulkan pembicaraan mereka berdua. [N.A.]

Menikahkan Anak yang Sedang Mondok

Assalamualaikum wr. wb.

Bapak admin yang saya hormati, saya senang dengan adanya rubrik tanya jawab ini, sangat membantu soal kejelasan hukum islam yang kami belum tahu. Langsung saja, saya mempunyai teman yang masih mondok _sama dengan saya_ dia tenang dan semangat di pondok, tiba-tiba ada kabar dari rumah bahwa dia telah dinikahkan oleh orang tuanya dengan laki-laki tetangga desanya. Diapun kaget. Yang agak bikin dia lega, suaminya tersebut juga seorang santri alumni pesantren. yang saya ingin tanyakan apa boleh bagi wali menikahkan tanpa minta izin atau memberitahukan kepada anak? bahkan mempelai perempuannya tidak hadir saat akad. Sekian terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Balqis Aroha, Malang.

______________

Waalaikumsalam wr. wb.

Terimakasih telah berkenan mampir di kanal media sosial kami, semoga bisa membawa manfaat. Amin. pada dasarnya, seorang gadis itu boleh menentukan kriteria lelaki idamannya, ia tidak harus terkungkung dalam tradisi atau adat istiadat, hanya saja menjaga keduanya sangat dianjurkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. apalagi jika kaitannya dengan ketaatan kepada kedua orang tua.

Orang tua, sebagai wali mempunyai hak untuk menikahkan anaknya, ia boleh memaksa putrinya untuk menikah, jika sang putri belum pernah menikah sebelumnya, agama melegalkannya, meski tanpa meminta izin atau memberitahukan terlebih dahulu kepada putrinya. Yang menjadi syarat adalah mengawinkan putrinya dengan laki-laki yang sekufu. dengan mencarikan pasangan yang tidak timpang, jika demikian maka harus meminta izin dahulu.

Mengenai ketidakhadiran mempelai perempuan saat akad, tidaklah menjadi masalah, akad tetap dikatakan sah. Namun jika putrinya sudah pernah menikah sebelumnya (janda) maka dibutuhkan izin darinya, meski toh nanti saat akad nikah berlangsung ia tidak ada ditempat.

Orang tua teman anda telah tepat memilihkan calon suami, keduanya sama-sama dari kalangan pesantren. semua orang tua jelas amat memperhatikan kebutuhan dan kebaikan anak, agar hidupnya bisa bahagia dunia lebih-lebih akhirat. kiranya Sekian dari kami. [NA]

____________

Fathul Mu’ien, Dar ibn ‘Ashashah Hal 353

Bughyatul Mustarsyidin, Darul Fikr Hal 203

Aktivitas Sahabat Nabi Saat Berziarah

Saat kecil _bahkan menjadi kebiasaan hingga sekarang_ kita sering diajak bapak pergi ziarah ke makam leluhur, berangkat menjelang petang di hari kamis dengan membawa  peralatan seperti belati dan sapu untuk membersihkan makam, juga tidak luput membawa bunga beraneka macam yang dibeli di pinggir jalanan.

Sampai disana sebelum merapalkan kalimat-kalimat suci kita bersihkan rerumputan yang menyelimuti makam, setelah itu bapak memimpin tahlil, diawali dengan tawasul kepada Nabi saw. sahabat beliau, arwah-arwah leluhur, guru-guru, pembabat desa, hingga arwah muslimin-muslimat yang telah mendahului kita. Baru kemudian membaca surat yasin.

Apa tujuan ziarah kubur? Selain untuk mendoakan mayit yang tengah menghadapi kehidupan baru yang tidak kita mengerti bagaimana kondisinya, dengan ziarah kubur juga merupakan kiat agar kita mengingat-ingat bahwa kematian akan sampai kepada kita, yang datangnya tidak terduga. Kehipan sejati setelah di dunia ini yang harus lebih kita persiapkan. Seperti yang disabdakan Nabi saw. ;

وكنتُ نَهَيتُكُم عن زِيَارَةِ القُبُورِ فَزُورُوهَا فإنها تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَة

Artinya : “aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah, karena berziarah itu terdapat peringatan (mengingat kematian).” (H.R. Abu Dawud)

Kenapa bertawasul? Menurut ulama, tawasul adalah upaya seorang hamba unduk mendekatkan diri kepada Allah dengan lantaran amal saleh, asma-Nya maupun orang berkedudukan tinggi disisi-Nya, baik yan sudah meninggal atau masih hidup. Dengan bertawasul juga merupakan bentuk pengamalan kita atas perintah Allah ;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”

Banyak sekali riwayat para ulama salaf, sahabat Nabi bahkan beliau sendiri juga mencontohkan tawasul. Seperti kisah masyhur yang dituturkan Imam Al-Bukhari dalam kitab sahihnya tentang kisah tiga orang yang terjebak didalam gua karena mulut gua tertutup oleh batu besar, satu persatu ketiganya bedoa kepada Allah dengan amal baik yang pernah mereka lakukan agar  diberi petolongan. Setelah ketiganya rampung dengan doanya, batu besar yang menghalangi mulut gua pun tergeser dan mereka bisa keluar dengan selamat.

Saat Fathimah binti Asad bin Hasyim, ibunda Sahabat Ali Kwh. Wafat, beliau Nabi saw. Memohonkan ampun kepadanya dan bertawasul dengan kedudukan beliau dan nabi-nabi sebelum beliau disisi Allah ; “… lapangkanlah kuburnya dengan (lantaran) kebenaran nabi-Mu dan nabi sebelumku”.

Kenapa membaca surat Yasin? Nabi saw. bersabda ;

عن معقل بن يسار قال قال النبي صل الله عليه وسلم اقرؤا يس على موتاكم

Artinya : “dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata ; Nabi Saw. bersabda “bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan meninggal diantara kalian”. (HR. Abu Dawud)

Komentar Imam Ahmad “jika orang akan sakaratul maut dibacakan surat Yasin maka ruhnya akan dimudahkan keluar.

Adakah riwayat tentang aktivitas para Sahabat nabi saat ziarah kubur? Ibn Baththal dalam Syarah Shahih Bukhari meriwayatkan ; “Ibn Abi Syaibah menuturkan dari Sahabat Ali Kwh., Ibn Mas’ud dan Anas bin Malik memperkenankan ziarah kubur, Fathimah Ra. setiap hari jumat menziarahi makam Hamzah Ra., Abdullah bin Umar menziarahi makam ayahnya, beliau berdiri didekat makam dan mendoakannya. Sayyidah Aisyah Ra., menziarahi makam saudaranya, Abdurrahman, sedangkan makamnya ada di Madinah. Imam Abdur Razak juga menuturkan semua keterangan tersebut. Ibnu Habib berkata “tidak ada jeleknya ziarah kubur, duduk didekatnya dan mengucapkan salam ketika melewati kubur, Nabi pernah melakukan semua hal itu.”

Sahabat Bilal mencium batu nisan Nabi. “sesungguhnya Sahabat Bilal Ra. ketika menziarahi makam Nabi saw. ia menangis dan menempelkan kedua pipinya ke makam beliau. Dan sungguh Sahabat Ibn Umar Ra. juga meletakkan tangan kanannya di makam beliau.”

Menurut Imam Ath-Thabari, boleh mencium batu nisan, dan ini adalah perbuatan para ulama juga orang-orang saleh. [1]


[1] Bughyatul Mustarsyidin