Tag Archives: nikmat

Memahami Arti Tahadduts Bin Ni’mah

Keberadaan nikmat dan karunia yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya, selain merintahkan untuk bersyukur, Allah Swt. juga memerintahkan untuk menceritakan nikmat bagi seseorang yang telah menerimanya. Di sinilah kata Tahadduts bin ni’mah berperan. Sebuah istilah yang umum dipakai oleh seseorang untuk menceritakan nikmat yang telah diterimanya dengan tujuan dapat diambil hikmah bagi setiap orang yang mendengarnya. Sebagaimana definisi yang paparkan oleh Sayyid Husain bin ‘Ali Ra.:

هُوَ الْعَمَلُ الصَّالِحُ يَعْمَلُهُ الرَّجُلُ فَيُحَدِّثُ بِهِ إِخْوَانَهُ مِنْ أَهْلِ ثِقَاتِهِ لِيَسْتَنَّ بِهِ وَيَعْمَلَ مِثْلَهُ

“(Tahadduts bin ni’mah) yaitu sebuah amal yang dilakukan seseorang kemudian ia menceritakannya terhadap saudara yang dipercaya dengan tujuan agar ia mampu meniru dan melakukan hal serupa.[1]

Ditelisik dari dasar hukumnya, istilah Tahadduts bin ni’mah merupakan muara dari salah satu firman Allah Swt. dalam Alquran yang berbunyi:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu sebutkan”. (QS. Adh-Dhuha: 11)

Dalam berbagai literatur tafsir, para ulama menjelaskan bahwa menceritakan atau menyebutkan nikamt yang telah diperoleh seseorang merupakan manivastasi dari rasa syukur atas nikmat tersebut. Para ulama tafsir bertendensi terhadap sebuah hadis yang berkata:

اَلتَّحَدُّثُ بِالنِّعَمِ شُكْرٌ

Menceritakan nikmat termasuk upaya syukur.”[2]

Menurut imam al-Ghazali, dalam menerapkan Tahadduts bin ni’mah tidak diharuskan menceritakannya secara langsung dengan kata-kata. Bahasa tubuh dan perilaku yang mampu menunjukkan rasya syukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt. serta berpotensi menggugah dan memotivasi orang lain untuk melakukan kebaikan juga dapat dikategorikan sebagai perilaku Tahadduts bin ni’mah, semisal dengan melakukan sedekah secara terang-terangan. Sedekah dengan terang-terangan dapat dikategorikan Tahadduts bin ni’mah apabila ada tujuan menunjukkan rasa syukur atas nikmat dan memotivasi orang lain untuk melakukan hal serupa.[3]

Namun, ketika seseorang menceritakan atau menampakkan nimat sering kali samar apakah itu termasuk Tahadduts bin ni’mah atau riya’ (pamer). Namun semuanya dikembalikan kepada pelaku. Apabila ia bertujuan menampakkan nikmat dengan mengharap ridho Allah Swt. maka tergolong  Tahadduts bin ni’mah. Sebaliknya, apabila ia melakukan hal tersebut dengan tujuan mendapatkan apresiasi manusia, maka termasuk riya’ (pamer) yang harus dihindari. Sehingga menata hati dengan niat yang baik memiliki peran urgen dalam menceritakan atau menampakkan nikmat yang diperolehnya. []waAllahu a’lam


[1] Abu al-Hajjaj, Tafsir Mujahid, vol. I hlm. 735, cet. Dar al-Fikr

[2] Abu al-Fida’, Tafsir Ruh al-Bayan, vol. X hlm. 459. Senada dengan penjelasan dalam Tafsir at-Thabari.

[3] Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, vol. I hlm. 228.