Tag Archives: Alumni

Gerak Sunyi HIMASAL Jateng: Mengabdi Kepada Kiai, NU Dan NKRI

HIMASAL (Himpuan Alumni Santri Lirboyo) Jawa Tengah terus melakukan konsolidasi organisasi sejak pelantikan (2015) hingga sekarang, di bawah kreativitas dan keuletan komandannya, Gus Mahin Tegalrejo Magelang.

Beliau telaten menyapa, silaturrahim dan memberi support kepada para alumni mulai Himasal tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga tingkat Jawa Tengah untuk semakin menyambung ‘alaqah bathiniah’ (ikatan batin, red.) terhadap Masyayikh Lirboyo dan patuh serta tunduk terhadap berbagai arahannya dalam situasi sosial seperti apapun.

Berbagai program sosial juga terus digulirkan. Di antara yang paling menarik adalah beasiswa santri tidak mampu agar dapat menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur.

HIMASAL Jawa Tengah terus bergerak dalam kesunyian, jauh dari hingar-bingar media, dalam berkhidmah kepada para Masyayikh Lirboyo dan berkiprah secara istiqamah di tengah masyarakat dan umat.

Bukankah kerja-kerja sunyi seperti ini juga mengandung semangat mengokohkan Ahlussunah wal Jama’ah, NU dan NKRI dari berbagai tantangan atas eksistensinya di negeri ini yang silih berganti?

__
Keterangan photo:
Gus Mahin (Jaket hitam pegang rokok) bersama Himasal Kab Banjarnegara dalam acara silaturahim awal Januari 2019.

Pencipta Sholawat Badar Itu Kiai NU Alumni Lirboyo Asal Tuban Jatim

Shalawat Badar sangat familiar di kalangan nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama). Di hampir seluruh kegiatan Nahdlatul Ulama, shalawat ini selalu didengungkan. Berikut sebagian teks Shalawat Badar:

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ * عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ

Shalaatullaah Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah

Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Thaaha* utusan Allah

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ * عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ

Shalaatullaah Salaamullah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah

Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Yasin* kekasih Allah

تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ *** وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ

Tawassalnaa Bibismi llaah Wabil Haadi Rasuulillaah

Kami berwasilah dengan berkah “Basmalah”, dan dengan Nabi sang Petunjuk, lagi utusan Allah

وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ *** بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Dan dengan berkah seluruh orang yang berjuang karena Allah, sebab berkahnya para sahabat yang berjuang dalam perang Badar ya Allah.

Shalawat Badar digubah oleh KH. Raden Muhammad Shiddiq Baa Syaiban asal Makam Agung, Tuban  di Banyuwangi, tepatnya di rumah orang tua bapak Syamsul Hadi(Mantan Bupati Banyuwangi). Beliau adalah salah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember. Syair itu digubah pada era 60-an. Saat itu, Kiai Ali Mansur menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi Ketua PCNU di tempat yang sama.

Proses terciptanya Shalawat Badar tidaklah seperti terciptanya syair pada umumnya. Pada suatu malam, Kiai Ali Mansur tidak bisa tidur. Ia terus dirundung gelisah. Pasalnya, situasi negara dan masyarakat Indonesia terbilang carut marut. Apalagi, situasi politik yang ada semakin tidak menguntungkan Nahdlatul Ulama, yang saat itu masih menjadi partai politik, bukan organisasi kemasyarakatan seperti sekarang.

Orang-orang PKI, yang menjadi lawan utama NU dalam ranah politik, semakin leluasa mendominasi kekuasaan. Bahkan, mereka dengan terang-terangan ingin memusnahkan NU dengan melemahkan posisi kiai-kiai di pedesaan. Bahkan membunuh para kiai itu. Ini tidak lain didasari fakta bahwa para kiai inilah yang dengan sekuat tenaga membendung virus ideologi yang disebarkan PKI.

Kegelisahan Kiai Ali Mansur ini bertambah masygul. Di malam sebelumnya, beliau bermimpi didatangi para habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi, karena di malam yang sama istri beliau , Nyai Khotimah binti H. Ahmad Faqieh asal desa Maibit Rt. 07/ Rw. 08 Kec. Rengel Kab. Tuban itu bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ.

Keesokan harinya, beliau segera sowan kepada salah satu ulama besar ketika itu, Habib Hadi Al-Haddar Banyuwangi. Ditanyakanlah perihal mimpi itu, “Itu Ahli Badar, ya Akhy,” jawab Habib Hadi.

Peristiwa aneh ini kemudian menginspirasi beliau untuk menggubah syair. Perlu diketahui, beliau adalah ulama yang sangat mahir dalam menggubah syair. Kemahiran ini beliau peroleh saat masih nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. yang kemudian dikenal dengan Shalawat Badar.

Sambil merenung, Kiai Ali Mansur terus memainkan penanya diatas kertas, menulis syair-syair dalam bahasa arab. Beliau memang dikenal mahir membuat syair sajak ketika masih belajar di Pondok Pesantren Lirboyo. Di pesantren ini, beliau mengenal ilmu ‘arud, sebuah ilmu yang khusus mempelajari rumus-rumus syair Arab yang rumit. Hingga sekarang, pelajaran ini menjadi bahan ajar wajib bagi santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Peristiwa aneh ini ternyata tidak berhenti. Keesokan harinya, tetangga sekitar rumah berbondong-bondong menuju rumah beliau. Mereka membawa beras, daging, sayur mayur dan lain sebagainya, seperti akan ada hajat besar di rumah beliau. Saat ditanya mengapa mereka bertingkah demikian, jawaban yang ada juga mengherankan. Mereka bercerita, bahwa di pagi-pagi buta, pintu rumah masing-masing dari mereka didatangi orang berjubah putih. Ia memberi kabar, bahwa di rumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membantu. Maka, mereka pun membantu sesuai dengan kemampuannya.

“Siapa orang yang berjubah putih itu?” Pertanyaan itu terus mengiang-ngiang dalam benak Kiai Ali Mansur tanpa jawaban. Di malam harinya, para tetangga itu bekerja di dapur untuk mengolah bahan-bahan yang telah terkumpul siang tadi. Sampai malam itu pula, tidak ada satupun orang yang tahu, masakan yang mereka buat untuk acara apa.

Hingga kemudian menjelang matahari terbit, datanglah serombongan berjubah putih-hijau. Usut punya usut, mereka adalah rombongan habib yang dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman al- Habsyi, Kwitang, Jakarta.

“Alhamdulillah,” kiai Ali Mansur sangat bergembira dengan kedatangan rombongan itu. Mereka adalah rombongan para habaib yang sangat dihormati oleh keluarganya. Setelah berbincang basa-basi sebagai pengantar, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik nasional yang semakin tidak menguntungkan, Habib Ali Kwitang menanyakan topik lain yang tidak diduga oleh Kiai Ali Mansur, “Ya Akhy! Mana syair yang ente buat kemarin? Tolong ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!”

Tentu saja Kiai Ali Mansur terkejut, sebab Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya semalam tanpa siapapun yang memberitahu beliau. Namun ia memaklumi, itulah karomah yang diberikan Allah kepadanya.

Segera saja Kiai Ali Mansur mengambil kertas yang berisi Shalawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya di hadapan para tamu. Suara Kiai Ali Mansur yang merdu, membuat alunan suara Shalawat Badar sangat dinikmati oleh para Habaib. Mereka  mendengarkannya dengan khusyuk, hingga meneteskan air mata karena haru. Selesai mendengarkan Shalawat Badar yang dialunkan oleh Kiai Ali Mansur, Habib Ali Kwitang segera bangkit. “Ya Akhy! Mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan Shalawat Badar!” serunya dengan nada mantap.

Sejak saat itu, Shalawat Badar perlahan menjadi semacam bacaan wajib bagi warga NU untuk membangkitkan semangat melawan orang-orang PKI. Untuk lebih mempopulerkannya, Habib Ali mengundang para habib dan ulama (termasuk Kiai Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur) ke Jalan Kwitang, Jakarta. Di forum istimewa itulah Shalawat Badar dikumandangkan.

Peringatan Haul beliau akan dilaksanakan pada Selasa, 17 oktober 2017. Dan akan disiarkan secara live oleh TV9, mulai pukul 18.00 WIB, dari halaman gedung MTs Siar Islam, Maibit, Rangel, Tuban.

Teks lengkap Shalawat Badar berserta terjemahannya bisa didownload di sini.

*Thahaa dan Yasin adalah beberapa nama yang dimiliki Nabi Muhammad saw. Beliau juga memiliki nama-nama lain, seperti Ahmad, Hamid, Aqib, Fatih, Syahid, Hasyir, Hafi, dan lain sebagainya. Bahkan di dalam kitab Dalail al-Khairat, disebutkan secara rinci nama-nama dan gelar beliau, yang secara total berjumlah 201 nama dan gelar.

Selapanan Alumni Lirboyo Daerah Magelang

Lirboyonet-Kediri, Rutinan Selapanan Kec. Salaman Kab. Magelang digelar setiap malam Rabu Legi. Kali ini bertempat di dalem K. Zuhdi Alumni 2000 (Lantabur). Selapanan dimulai pukul 21:00 Wib diawali pembacaan hirzul jauzan dan tahlil birrul masyayikh dilanjutkan do’a oleh alumni setempat, Kyai Abdul Mun’im.

Rutinan Alumni Lirboyo daerah Magelang, cabang Kecamatan Salaman ini juga dihadiri Ketua Wilayah Jawa Tengah KH. Noor Machin CH, dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan betapa pentingnya membentengi aqidah anak-anak remaja. Disamping itu, beliau menyampaikan bahwa gerakan-gerakan islam radikal itu merupakan ancaman terutama bagi remaja-remaja.

“Monggo segala upaya –upaya untuk menangkal radikalisme harus kita lakukan, mencegah agar para remaja terutama anak-anak kita tidak salah belajar, dan sebaik – baiknya belajar hanya ada di Pesantren” pungkas beliau.

 

Peran Santri Dalam Menangkal Radikalisme Agama

Lirboyonet, Jakarta – Sukses sudah gelaran Seminar yang diprakaryai Istikmal Jabodetabek dalam Ngaji Toleransi yang bertajuk Peran Santri Dalam Menangkal Radikalisme Agama. Seminar yang diadakan di Desa Wisata Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu (09/12/17) merupakan kerja sama dengan kementrian koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Lembaga Riset Prima Center Indonesia.

Seminar diadakan untuk merespons fenomena intoleransi yang terjadi di masyarakat, terutama yang tampak di media sosial. Dalam seminar kali ini alumni Al Mahrusiyah, Ustadz Nur Ahmad Satria menjadi pembicara bersama Franz Magnis-Suseno dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan Marbawi dari Gugus Tugas Gerakan Nasional Revolusi Mental.

Seminar diakhiri dengan Deklarasi Santri yang diserukan oleh ratusan alumni Al Mahrusiyah dengan tujuan untuk terus menjaga dan mengembangkan kehidupan sosial yang lebih toleran dan beradab, dan juga berbagai upaya untuk mengconter serangan media sosial diantaranya menyebarkan konten-konten positif tentang islam.

 

kontributor : majalah el.mahrusiy

Pra PKPNU Santri Lirboyo

Lirboyonet, Kediri– Seluruh peserta PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama) malam tadi (23/11) dikumpulkan di Aula Al- Muktamar guna melaksanakan Pra PKPNU, seluruh peserta yang hadir malam tadi adalah santri dan alumni dari Ponpes Lirboyo ada yang masih berdomisili di pondok ada juga yang sudah di Rumah. PKPNU yang akan dilaksanakan senin mendatang adalah suatu program Pondok untuk menciptakan kader NU yang berkualitas dan pengkaderan tersebut akan dipimpin langsung oleh Team PKPNU Kediri.

Pra PKPNU ini dilaksanakan untuk menata niat agar mengukuhkan kegiatan 3 hari yang akan dilaksanakan untuk teguh dalam berkhidmah kepada NU. Tiga aspek yang dijelaskan kenapa harus ikut program PKPNU adalah agar kita mampu menggerakkan dan mengkonsolidasikan jama’ah NU juga yakin menjadi Muharik, yang kedua agar nanti kita mandiri dalam menggerakkan NU dan yang ketiga untuk menyambungkan sanad antara santri dan ulama.

Salah satu Team PKPNU Bpk. Bahruddin menjelaskan kenapa PKPNU harus masuk Pesantren karena setelah dilihat NU semakin hari semakin lama tambah memperihatinkan, kondisi ini dirasakan oleh kiyai-kiyai sepuh termasuk Mbah Kiyai Sahal, Mbah Kiyai Maimun, Gus Mus dll. Hal ini membuat beliau resah sehingga beliau ingin NU kembali seperti saat-saat dulu kala ditangani KH. Hasyim Asy’ari. Akhirnya beliau mengutus kiyai yang masih muda untuk melihat secara langsung dengan dekat dan hasil dari pengamatan team tersebut adalah NU dalam keadaan parah/kritis.

Dalam masa sekarang ini NU telah terjangkit Krisis aqidah, Krisis ideologi, Krisis orientasi, Krisis organisasi dan Krisis kepemimpinan itu merupakan penyakit yang kini diderita NU, dengan pelatihan yang akan dilaksanakan senin mendatang berharap mampu untuk menciptakan genrasi NU yang dapat menggerakkan Nahdlatul Ulama warisan para kiyai.