All posts by Hisyam Syafiq

Al-Adzkar: Beruntungnya Badui yang Ziarah ke Makam Nabi Saw.

Syaikh ‘Atiby bercerita, bahwa ia pernah duduk-duduk di dekat makam Nabi Saw. Beberapa waktu kemudian, datanglah seorang A’rabiy (sebutan untuk orang Arab yang berasal dari kampung, ndeso, -red). Ia hendak berziarah ke makam Nabi.
Sesampainya di depan makam, ia berucap salam. Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah. Aku pernah mendengar ayat Allah berbunyi,

‎ۗوَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ جَاۤءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّابًا رَّحِيْمًا

Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’ [4]: 64)

Maka hari ini aku datang di depan makammu. Memohon ampunan-Nya atas dosa-dosaku, dan memohon padamu agar engkau turut memohonkan ampun kepada Tuhanku.”
Ia kemudian menembangkan syair,

يا خير من دفنت بالقاع أعظمه
فطاب من طيبهن القاع والأكم
نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه
فيه العفاف وفيه الجود والكرم

“Wahai sebaik-baik manusia yang belulangnya di kuburkan di tanah ini
Sungguh tanah dan bumi menjadi mulia karena kemuliaannya
Jiwaku sebagai tebusan bagi makam, tempat jasadmu bersemayam
tempat penuh penjagaan dan kemuliaan.”

Selepas menumpahkan pintanya, lelaki itu pergi. “Mataku berat,” kisah syaikh ‘Atiby. “Aku mengantuk.” Syaikh ‘Atiby lalu tidur seketika itu.
“Di dalam mimpiku, aku bertemu Nabi. Beliau bersabda kepadaku, ‘Wahai ‘Atiby, temui orang A’rabiy tadi. Berikan kabar gembira baginya. Allah telah mengampuninya.”

Sayyidah Khadijah: Dua Sosok Paling Berpengaruh dalam Hidupnya

Sebelum bertemu Rasulullah Saw., sayyidah Khadijah telah menikah dengan ‘Atiq bin ‘Abid. Ia masih berumur belasan tahun ketika itu. Sayang, ‘Atiq wafat setelah ia melahirkan putra pertamanya, Abdullah. Hindun bin Zurarah kemudian mengkhitbahnya. Dengan Hindun, ia memiliki dua putra-putri: al-Harits dan Zainab.
Namun bukan kedua suaminya itu yang memberi peran penting di hidup Khadijah. Sepanjang catatan sejarah, hanya ada dua orang yang benar-benar berpengaruh: Hakim bin Hizam, keponakannya, dan Waraqah bin Naufal, sepupunya.

Hakim adalah pemuda yang pandai. Pandangannya luas. Perangainya halus. Sejak usia 15 tahun, sudah kentara sifat dermawannya. Hanya segelintir penderma dalam kaumnya yang sedermawan dia. Di usia itu, dia sudah masuk dalam perkumpulan para dermawan (dar an-nadwah). Padahal, sebelumnya perkumpulan itu hanya menerima anggota di atas usia 40 tahun.

Dengan diterimanya dia sebagai anggota dar an-nadwah, itu menunjukkan betapa unggul pemikirannya. Abu Sufyan, seorang yang mendapat tempat tertinggi di antara kaum Quraisy, menaruh hormat kepadanya. Ia sangat ingin mendapat prestasi yang sama dengan Hakim.

Dari sosok Hakim inilah Khadijah mendapatkan pengetahuan yang luas. Tak terkecuali ilmu dagang. Karena Hakim sendiri memanfaatkan kecerdasannya itu untuk berdagang.
Hakim memiliki banyak kafilah dagang. Kafilah itu sudah mencapai negara Syam. Bahkan sampai Persia. Meski keuntungannya berlipat, ia tidaklah memakai cara culas untuk mendapatkan keuntungan itu. Justru ia bersedekah kepada fakir miskin Makkah, tamu-tamunya, dan orang-orang yang ingin mendapat belas kasihnya.
Hal ini yang membuat Khadijah kagum, dan semakin giat mempelajari ilmu keponakannya itu.

Jika ia belajar hal-hal duniawi kepada Hakim, maka ia belajar hal-hal ukhrawi kepada sang sepupu, Waraqah bin Naufal. Usia Waraqah yang tua diimbangi dengan ilmu dan ruhaniyahnya yang matang.
Waraqah adalah sosok yang antimaterialistis, zuhud. Seluruh hidupnya ia gunakan untuk tafakkur atas ciptaan Tuhan. Beribadah pada-Nya. Mempelajari dua kitab suci: Taurat dan Injil.

Ia tidak terpengaruh oleh peribadatan yang dilakukan kaumnya. Ia sama sekali tidak mendekati berhala, patung pemujaan, tumbal dan sesembahan. Ia hanya menyembah Sang Maha Tunggal. Hatinya yang bersih, karena hanya dipenuhi kerinduan akan surga dan kekhawatiran akan neraka, membuatnya dicintai banyak orang dari kaumnya. Jika ia lewat di depan orangorang, mereka menghormatinya. Andai saja bukan karena keyakinan mereka berbeda, orang-orang itu ingin bersama Waraqah, berhadap-hadapan dengannya dalam waktu yang lama.

Dari seluruh pengetahuan yang ia dapatkan, satu hal yang paling ia idam-idamkan. Ia telah mengetahui ciri-ciri Nabi yang akan lahir kemudian sebagai nabi terakhir. Ia baca di kitab Taurat, Injil, ia dapat dari diskusi dengan para agamawan. Nabi terakhir itu berasal dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim as.
Ia sangat merindukan detik-detik itu. Detik-detik di mana ia akan bertemu dengan sang Nabi sebelum nafasnya berhembus.
Dua menara ini menjadi titik tolak sayyidah Khadijah dalam memutuskan seperti apa hidup yang akan dijalaninya. ia mendapat ilmu duniawi yang sempurna dari Hakim, dan pengetahuan ukhrawi yang tinggi lagi arif dari Waraqah.

Sumber:
Dr. Muhammad Abduh Yamani, Innaha Fathimah az-Zahra’, al-Manar li an-Nasyr wa at-Tanwir.

Abu Bakar As-Shiddiq dan Soul Stone

Ada satu hadis populer yang belakangan ini sering menghiasi timeline media sosial kita. Terutama ketika banyak orang telah jengah melihat media sosial semakin keruh oleh debat kusir dan perselisihan tidak ada ujung.

من كان يؤمن بالله و اليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت

Sesiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berbicara yang baik, atau diam saja. (HR. Bukhari)

Ketika kita membaca hadis ini lebih panjang dengan menariknya ke belakang, ternyata matan dari rangkaian hadis ini cukup mengherankan. Alih-alih menyuruh kita untuk meningkatkan kadar keimanan dengan terus menerus beribadah dan memanjangkan sajadah, hadis ini menunjukkan ada fakta dan kenyataan lain—selain ibadah mahdah di atas sajadah—yang harus dibaca sebagai katalis akan kadar keimanan kita.

Hadis di atas didahului oleh dua rangkaian kalimat “man kaana yu’minu”. Pertama, Rasulullah menyuruh kita untuk menghentikan perbuatan yang menciderai hati orang lain. “Man kaana yu’minu” kedua mengingatkan kita untuk berbuat baik terhadap orang-orang di dekat kita.

من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فلا يؤذ جاره. ومن كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليكرم ضيفه

Sesiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Sesiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.

Rangkaian hadis ini memberi indikasi yang kuat bahwa hubungan personal antara seorang hamba dengan tuhannya tidaklah cukup dengan pengakuan iman kepadaNya. Tidak bisa seseorang dengan ibadahnya yang rajin, genap shalat berjamaah lima waktu, berpuasa Senin-Kamis, shalat tahajud tiap malam, lalu mengaku sebagai makhluk yang dikasihiNya lantaran ibadah-ibadah yang dilakukannya itu. Tidak. Justru pengakuan itu hanya akan dianggap main-main jika ia mengabaikan hubungan sosialnya.

Dan pemegang peran penting dalam interaksi sosial adalah empat pintu yang ada di wajah kita: dua bibir dan dua rahang. Banyak sekali kisah sukses yang diawali oleh saling bicara dan kontinuitas dalam berkomunikasi. Tetapi betapa banyak pula kisah menyedihkan yang bermula dari ujaran-ujaran kebencian, ghibah, dan adu domba  yang keluar dari mulut kita.

Belum lagi kita bisa memanfaatkan dengan benar empat pintu itu, persoalan berinteraksi sosial kini bertambah, seiring dunia elektronik juga mengizinkan kita untuk berkomunikasi hanya dengan jemari kita. Kita mungkin sedang mengatupkan mulut di dalam kamar. Sendirian. Hening. Tak ada suara yang keluar dari mulut kita selain hembusan nafas. Namun jempol kita berulah. Kalimat-kalimat kebencian meluncur tepat ketika kita menekan tombol “post”, “share”, “retweet”.

Kita barangkali harus menengok apa yang terjadi di masa lalu. Kita bisa ambil suri tauladan yang dengan susah payah dilakukan para sahabat Nabi. Sahabat Abu Bakar as-Shiddiq ra. salah satunya. Selain kawan karib Rasulullah, beliau adalah khalifah yang bijak. Kalam-kalamnya ditunggu oleh para penggawa pemerintahan Madinah. Namun, seringkali beliau menaruh batu di mulutnya untuk mempersedikit bicara.[1] Real stone. Benar-benar batu. Beliau lebih menghendaki memberi penderitaan pada mulut agar sedikit bicara, daripada mengeluarkan kalimat-kalimat yang boleh jadi akan menyakiti orang-orang di dekatnya.

Tentu kita tidak akan mencontoh dengan mengulum batu kali sepanjang hari. Atau mengikat batu bata di jemari. Tapi paling tidak, kita harus menemukan cara untuk menahan jemari kita mengetik kalimat-kalimat yang tidak dikehendaki Nabi. Dan cara paling ringan ialah menahan diri.

Maka kita hendaknya kembali melatih nafsu dan anggota badan kita untuk menahan diri dan membersihkan hati. “Belajarlah diam,” ujar seorang bijak. “Belajarlah diam sebagaimana engkau belajar berbicara. Karena kalam akan memberimu petunjuk. Dan diam melindungimu.”

Bulan Ramadan ini sangat bisa untuk kita jadikan sebagai momentum menahan diri dari berkomentar buruk dan memposting hal-hal yang bisa menyakiti hati orang lain. Sangat bisa.][


[1] Abu Qasim Abd al-Karim al-Qusyairi, Risalah Qusyairiyah, (Beirut: Dar Al-kotob Al-Ilmiyah,2001), hlm. 159.

Rasulullah, Khadijah, dan Aisyah: Cinta Tak Bisa Kau Salahkan

Suatu hari, sayyidah Aisyah ra. merajuk. Hatinya dipenuhi rasa cemburu. Ia, yang memiliki panggilan sayang “Sang Kekasih Berpipi Merah” dari Rasulullah saw. itu heran. Keduanya telah berumah tangga demikian lama, tetapi mengapa ia tak jua mampu mengisi satu lubang asmara di hati Rasulullah?

Hari itu, ia ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam.
“Wahai Rasulullah,” ia memberanikan diri menghadap sang suami. “Aku cemburu.”

“Engkau terlalu sering menyebut-nyebut namanya. Bukankah ia hanyalah seorang wanita tua?”

Tentu saja ini tentang sayyidah Khadijah ra. Istri pertama Rasulullah saw. dan satu-satunya sampai ajal memisahkan mereka berdua.

Pernikahan mereka adalah pernikahan yang “ganjil” menurut bangsa Arab waktu itu. Betapa tidak. Jarak usia keduanya terpaut jauh. Juga, Rasulullah adalah pemuda paling sempurna, sementara Khadijah adalah janda. Kala wafat, Khadijah telah berumur 65 tahun sedang Rasulullah masih berusia 50 tahun. Toh, Rasulullah masih dengan baik menyimpan kenangan saat-saat berdua.

Keberanian Aisyah hari itu adalah puncak kecemburuannya pada Khadijah. Telah bertumpuk peristiwa-peristiwa yang menunjukkan cinta Rasulullah pada Khadijah tidaklah usang. Suatu kali, Rasulullah menyembelih kambing. Bukannya dinikmati sendiri, beliau justru membagi-bagikannya kepada keluarga Khadijah. Di hari lain, sang suami menunjukkan rona-rona kerinduannya hingga membuatnya menggerutu, “Khadijah lagi, Khadijah lagi.”

Dan hari itu, ketika Rasulullah hendak keluar rumah dan menyebut-nyebut nama Khadijah, tak tahanlah Aisyah.

“Bukankah ia hanyalah wanita tua? Bukankah Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik?”

Ini bukan tentang cantik parasnya. Karena semasa Rasulullah muda, betapa banyak wanita yang lebih cantik untuk dinikahi. Bukan juga sekadar kesempurnaan jasmaniah lainnya. Betapa banyak perempuan muda yang berasal dari keluarga yang lebih kaya.

“Tidak Aisyah, tidak.” Rasulullah menatap sang Humaira’-nya dengan cinta nan teduh. Ia tahu, pertanyaan itu wujud dari seringnya Aisyah dirundung cemburu.

“Allah tak pernah menggantikan untukku yang lebih baik darinya.”


Di waktu lain, Rasulullah bahkan menyebutnya sebagai wanita sempurna. “Perempuan terbaik Tuhan di langit adalah Maryam binti Imran, dan perempuan terbaiknya di bumi adalah Khadijah binti Khuwailid.” Sayyidina Ali yang mendengarnya dan diamini oleh riwayat-riwayat yang lebih banyak.

“Aisyah, kau tahu. Khadijah mempercayaiku saat semua manusia mengingkariku. Ia membenarkan perkataanku kala semua orang menganggapku dusta. Ia melapangkanku dengan hartanya kala semua orang tak membantuku sepeserpun. Dan Allah memberiku keturunan darinya, yang tak diberikan oleh istri-istriku yang lain.”

Maka betapa murni dan indah cinta Rasulullah saw. kepada Khadijah, al-‘afifah al-thahirah, wanita suci yang selalu menjaga kehormatan.

Ah, cinta memang tak bisa salah.


Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqh as-Sirah an-Nabawiyah, Dar-Assalam, Kairo, h. 52-53.

Membaca Hati Santri, Karomah Kiai Mahrus

“Saya pernah ikut ngaji Fathul Wahab dan Tafsir Yasin kepada Kiai Mahrus,” tutur KH.Fathoni Syihabuddin Cirebon.

“Di masa itu, saya sering menyiapkan bangku, bantal dan sajadah beliau untuk mengaji.”

Suatu hari, beliau duduk tepat di belakang Kiai Mahrus. Diam-diam beliau mencoba mengintip dan melihat kitab Kiai Mahrus, “Saya penasaran, seperti apa sih isi kitab beliau?”

Meskipun beliau ‘alim benar dalam ilmu fiqih, ternyata kitab beliau masih dipenuhi tulisan-tulisan yang berisikan keterangan.

Tiba-tiba, “Alangkah kagetnya saya, beliau seketika itu menghentikan bacaannya.”

Waktu, yang diumpamakan pedang itu, meski sepersekian, menghunus sangat dalam di hati Fathoni muda, “Nek wong pinter iku biasane tulisane elek.”

Kalimat itu diucapkan Kiai Mahrus begitu saja. Sembari lalu. Namun justru kalimat itu tertanam benar di benak dan ingatan beliau.

“Karena,” tutur beliau saat mengenang hari itu, “saat saya melihat tulisan beliau itu, dalam hati saya bergumam bahwa tulisan beliau juga tidak terlalu bagus.”

“Padahal saat saya mengintai tulisan beliau, posisi beliau sedang menghadap ke barat dan saya rasa beliau tidak mengetahui kalau saya mengintainya.”][

 

____________

Disarikan dari buku “Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni terhadap Tiga Tokoh Lirboyo”.