2,081 views

Drama “Siapa yang Bicara di Bawah Pohon, Wudhunya Batal!”

Santri sudah seharusnya berusaha untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat, dan memang itu khidmah terbesar mereka selepas dari pesantren, selain juga sejak dulu kala masyarakat lebih dekat dengan santri atau kiai langgar daripada yang lain. Mereka mengeluhkan dan mengadukan segala persoalan hidup mulai hal terkecil sekalipun, seperti anaknya yang sedang menderita sakit gigi, misalnya.

Dari sini tidak ayal kalau santri menjadi salah satu daya minat golongan pejabat sejak tingkat RW sekalipun, terlebih ketika musim pemilihan tiba. Calon-calon pemimpin itu berbondong-bondong sowan. Karena kepercayaan masyarakat yang mereka miliki dikira mampu untuk mendulang pundi-pundi suara. Jika suara santri atau kiai kampung sudah di kantongi, rasanya kemenangan berada di depan mata saja. Sehingga acapkali alumni pesantren ditarik ke sana kemari untuk sebuah kepentingan tertentu yang hanya menguntungkan sebagian pihak dan merugikan yang lain dengan tujuan yang tidak bersih.

Masyayikh Lirboyo merasa khawatir terhadap kondisi alumninya saat sudah pulang ke rumah masing-masing. Sehingga dibentuklah organisasi di bawah naungan pondok yang diberi nama Himpunan Alumni Santri Lirboyo disingkat HIMASAL. Tujuannya menjadi wadah para alumni agar terbentuk kesatuan visi dan menghindarkan mereka dari menjadi alat untuk bisa ditunggangi kelompok-kelompok tertentu.

Seperti yang disampaikan Alm. KH. Abdul Aziz Manshur saat sambutan atas nama alumni pada acara puncak peringatan satu abad Pondok Pesantren Lirboyo pada tahun 2010 silam. Beliau mengisahkan tentang seorang pengajar yang dikenal di kalangan santri memiliki kecerdasan.

Saat itu para santri tengah menghadapi ujian semester, salah satu materi ujiannya adalah imla’ yakni ujian yang mengasah kepekaan santri terhadap bahasa Arab dari apa yang di dengar. Jadi penguji mendiktekan beberapa kalimat dalam bahasa Arab, kemudian santri menulis apa yang didengarnya dalam lembar ujian yang sudah disediakan. Namun imla’ kali ini tidak sekedar menulis kalimat yang didengar, tetapi juga lengkap dengan makna gandulnya atau pegon. Waktu itu penguji membacakan kalimat sebagaimana berikut:

Kisah dari KH. Abdul Aziz Manshur

مَنْ قَالَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ بَطَلَ وُضُوءُهُ

Bagi peserta ujian kala itu, kalimat yang mereka dengar dari penguji seperti di atas bukanlah suatu hal yang sulit untuk ditulis pada lembar jawaban masing-masing, karena kalimatnya familiar semua.

Hanya saja yang membuat mereka keheranan adalah arti dari rentetan kalimat tersebut, yang jika diterjemahkan dalam bahasa kita kurang lebih sama dengan judul dalam tulisan ini; ”Siapa yang bicara di bawah pohon, wudhunya batal.” Dan ini sangat aneh, selama yang diketahui para santri dari membaca bermacam literatur klasik kitab fikih, tidak ada satu pun yang menyatakan bahwa bicara di bawah pohon menjadi salah satu penyebab batalnya wudhu.

Akhirnya mereka menyerah saat harus memaknai pegon, kira-kira seperti ini jadinya;

مَنْ  utawi sapane wong  قَالَ iku ngucap sopo man تَحْتَ الشَّجَرَةِ  ingdalem ngisor-ngisore wit بَطَلَ  mongko batal opo وُضُوءُهُ  wudune man. Dan materi ujian pun berujung drama.

Usut punya usut, kalimat yang menjadi kata kunci dari kejanggalan tersebut adalah kata قَالَ , satu kalimat yang bahkan santri dengan tingkat paling dasar pun mengetahui artinya. Ya, artinya bicara. Berasal dari akar kata قَالَ يَقُوْلُ قَوْلًا  dan naasnya, yang dikehendaki penguji bukanlah dari akar kata itu, akan tetapi  قَالَ يَقِيْلُ قَيْلًا وَقَائِلَةً وَقَيْلُوْلَةً yang artinya adalah tidur sejenak di siang hari, atau bahasa santrinya qailulah. Kalimat ini tidak lazim didengar, atau lebih tepatnya hanya akrab dengan istilah qailulah saja.

Jika demikian, maka makna pegonnya menjadi;

مَنْ  utawi sapane wong قَالَ iku turu qailulah sopo man تَحْتَ الشَّجَرَةِ  ingdalem ngisor-ngisore wit بَطَلَ  mongko batal opo وُضُوءُهُ  wudune man.

Artinya: “Barangsiapa tidur siang hari di bawah pohon, maka wudhunya batal.”

Sehingga tidak ada yang aneh dari kalimat tersebut, dan sesuai dengan hukum fikih yang kita ketahui selama ini, bahwa tidur bisa membatalkan wudhu seseorang.

Lho, kehendak Allah,” Yai Aziz melanjutkan ceritanya. “Setelah beliau (penguji tersebut) pulang dari pondok, beliau benar-benar tidur di bawah pohon. Artinya ‘berteduh di bawah pohon beringin’.” Tahu sendiri kan kiasan dari kata ‘pohon beringin’ di sini.

Kyai Aziz hanya ingin berpesan kepada para santri, agar saat di pondok menjaga semua ucapannya.

“Kalau kalian di pondok, berhati-hatilah dalam berucap. Sebab terkadang apa yang kalian ucapkan kala di pondok menjadi kenyataan waktu di rumah.” ujar beliau.

Dan memang demikian kenyataannya, sebagian besar santri merasakan hal ini, pondok itu tempat suci, keramat. Jangan toh perkataan, kata batin atau istilah Jawanya krenthek saat di pondok, itu bisa menjadi doa dan kenyataan di kemudian hari. Penulis mengalami banyak hal tentang ini. Semoga kita terhindar dari ilmu dan diri yang tidak manfaat bagi orang lain. Amin. Sekian.[]

baca juga: Kiai Aziz, Kiai yang Tak Henti Menulis
tonton juga: Kebesaran Hati Ibunda KH. Abdul Karim | KH. M. Abdul Aziz Manshur

Drama Siapa yang Bicara di Bawah Pohon Wudhunya Batal
Drama Siapa yang Bicara di Bawah Pohon Wudhunya Batal

8

One thought on “Drama “Siapa yang Bicara di Bawah Pohon, Wudhunya Batal!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.