All posts by Muhammad Chozinul Fahmi

Gubernur Tinjau Vaksinasi Lirboyo

Lirboyo.net (26/08) – Vaksinasi di Pondok Pesantren Lirboyo dikunjungi oleh Gubernur Jawa Timur Ibu Khofifah Indar Parawansa. Dalam kunjungannya, Gubernur didampingi oleh Pangdam V Brawijaya Mayor Jendral TNI Suharyanto, Kapolda Jawa Timur Irjen Polisi Dr. Nico Afinta, Kepala Perwakilan BI Jawa Timur Bpk. Budi Harnoto & Sekda Jawa Timur.

Gubernur menyampaikan terima kasih kepada Masyayikh, karena telah berkenan Pesantren Lirboyo ditempati vaksinasi untuk para santri Lirboyo.

Ibu Khofifah mengatakan, “Untuk Haji kemarin pemerintah Saudi juga sangat membatasi. Hari ini yang sudah dimulai Umroh Pemerintah Saudi juga masih sangat membatasi, bahkan untuk bisa menjadi jama’ah umrohpun jenis vaksinnya ditentukan dan harus selesai dua kali. Artinya bahwa vaksinasi ini memang berlaku secara internasional.”
Beliau berharap, vaksinasi ini bisa memberikan kekebalan kepada para santri sehingga mereka bisa maksimal dalam mencari ilmu dan sehat selalu. Program vaksinasi ini dilaksanakan di 41 Pesantren secara serentak di Jawa Timur dan akan terus diperluas sesuai dengan jumlah vaksin yang ada.

Atas nama Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyampaikan Sambutannya. Beliau menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah bagi pesantren Lirboyo. Baik dari Walikota, Polres Kediri, Gubernur, Bupati, Pangdam Brawijaya, dan pihak terkait lainnya.

“Saya sampaikan, alhamdulillah di Lirboyo itu aman bu Gubernur. Sebab, di samping santri itu prokes, santri juga istighotsah tiap malam. Karena kami menyadari, yang bisa menghilangkan virus itu hanyalah Allah SWT. Jadi artinya untuk menghilangkan covid, harus ada pendekatan manusia kepada Allah Swt. Kita tidak mungkin untuk mengajak manusia semuanya bertaubat kepada Allah Swt. Namun minimal orang yang mengerti, orang yang mempunyai ilmu, orang yang mempunyai kesadaran ini untuk istighfar kepada Allah dan bertaubat kepada Allah. Insya Allah selagi ada manusia yang berdoa, selagi ada manusia yang beristighfar, insya Allah virus akan dihilangkan oleh Allah, akan dicabut oleh Allah Swt.” sambut beliau.

Acara tersebut ditutup dengan doa oleh KH. M. Anwar Manshur.
Sebelum Gubernur meninggalkan lokasi vaksinasi, beliau sempat membagikan cinderamata kepada para tenaga kesehatan yang di antaranya terdiri dari Jajaran ISNU (Ikatan Sarjana NU), UNISMA (Universitas Islam Malang), ARSINU (Asosiasi Rumah Sakit NU), Persatuan Dokter NU dan nakes lainnya.

Baca juga:
DAMPAK NEGATIF MAKAN BERLEBIHAN DALAM PANDANGAN TASAWUF

Simak juga:
Kebesaran Hati Ibunda KH. Abdul Karim

Gubernur Tinjau Vaksinasi Lirboyo
Gubernur Tinjau Vaksinasi Lirboyo

Khutbah Jumat: Introspeksi di Akhir Tahun Ini

Khutbah Jumat: Introspeksi di Akhir Tahun Ini

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي قَهَّرَ وَغَلَبَ. فَلَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَى وَلَا مُنِعَ لِمَا سَلَب.
فَسُبْحَانَهُ مِن إِلهٍ وَفَّقَ أَحْبَابُهُ لِمَرَاضِيهِ وَيَسَّرَ لَهُمُ المُسَبَّبَاتِ والسَّبَب.
أَحْمدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ مَنْ تَابَ إِلَيهِ وَهَرَب. وَأَشكُرُهُ شُكرًا يَفُوقُ عَدَّ مَنْ عَدَّ وَحِسَابَ مَن حَسَب.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ فَارِجُ الكَرَب. وَالمُنْجِي مِنَ الوَرْطَاتِ والعَطَب.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ العَجَمِ وَالعَرَب.
اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اقْتَفَى شَرْعُهُ المُطَهَّرَ وَإِلَى دِينِهِ الحَنِيفِيِّ انتَسَب.
(أَمَّا بَعدُ) فَيَا أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى. واعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهَ

Hadirin Jama’ah jumat Rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita dengan mengintrospeksi amal-amal yang telah kita perbuat.

Mengapa kita perlu mengintrospeksi diri?

Perlu kita sadari, bahwa status kita adalah makhluk. Setiap makhluk pasti memiliki kekurangan. Kita tidak bisa melihat kekurangan atau kesalahan pribadi kita kalau kita tidak mau mengoreksi diri.

Allah Swt. Memerintahkan kita untuk mengoreksi diri. Dalam Quran Surat Al-Hasyr Allah berfirman:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Lalu apa saja yang perlu kita koreksi?

Mulai dari hal yang paling mendasar, yang menjadi sumber dari segala perbuatan, yaitu hati. Apakah hati kita sudah bersih dari prasangka-prasangka buruk? Apakah hati kita selalu bertekad untuk berbuat baik? Apakah hati kita sudah selalu mengingat Allah?

Kemudian merambat pada anggota-anggota tubuh yang kita gunakan untuk menjalankan aktifitas. Sudahkah aktifitas yang kita lakukan itu sesuai syariat? Sudahkah aktifitas yang kita lakukan bermanfaat bagi orang banyak?

Sahabat Umar bin Khattab pernah berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا

“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi! Timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang (di hari kiamat)!”

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mengapa muhasabah atau mengintrospeksi diri itu sangat perlu?

Karena hidup kita di dunia ini terbatasi oleh waktu. Ketika waktu tersebut kita gunakan untuk berbuat baik, maka kita beruntung. Tetapi ketika waktu tersebut kita gunakan untuk berbuat buruk, maka kita merugi.

Syaikh Muhammad Jalaluddin mengatakan dalam ringkasan Kitab Ihya’nya:

مَا لِي بِضَاعَةً إِلَّا الْعُمْرَ, وَمَهْمَا فَنَى فَقَدْ فَنَى رَأْسُ الْمَالِ

“Kita tidak mempunyai modal kecuali umur. Ketika umur kita habis, maka habislah modal kita.”

Oleh karena itu, dalam momen akhir tahun hijriyah ini, marilah kita bersama-sama merenungi amal-amal perbuatan kita, supaya kita bisa menyadari kekurangan-kekurangan kita, sehingga kita bisa memperbaiki untuk masa depan kita yang lebih baik.


بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ.
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ. الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ. وَقُل رَّبِّ ٱغْفِرْ وَٱرْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتكَ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوهُ مِن فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أكبَر.

Baca juga:
KHUTBAH JUMAT: MUHASABAH AKHIR TAHUN HIJRIYAH

KHUTBAH JUMAT: MUHASABAH MEMBUAT DIRI BERUBAH

Simak juga:
Keutamaan Membaca Dalailul Khoirot | KH. Ahmad Idris Marzuqi

Khutbah Jumat : Introspeksi di Akhir Tahun Ini
Khutbah Jumat : Introspeksi di Akhir Tahun Ini

Sejarah Kurban Idul Adha

Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim bermimpi tiga malam berturut-turut, seakan ada yang berkata “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu ini. ” Pada pagi harinya beliau berfikir dan merenung. Apakah ini dari Allah atau dari setan? Oleh karena itu, hari ini disebut dengan hari berfikir (Tarwiyah).

Kemudian pada malam berikutnya beliau mengalami mimpi yang sama. Lalu beliau tahu bahwa mimpi tersebut adalah dari Allah. Maka hari itu disebut dengan hari ‘arofah (mengetahui).

Selanjutnya pada malam ketiganya beliau kembali mengalami mimpi yang sama. Maka pada hari itu beliau melaksanakan penyembelihan. Sehingga hari itu disebut dengan hari Nahr (penyembelihan).

Bagaimana berdebarnya perjalanan  kisah tersebut? Mari kita simak alurnya di bawah ini yang dinukil dari Kitab Tafsir Al-Khozin.

Pada tanggal 10 Dzul Hijjah Nabi Ibrahim AS memerintah Nabi Isma’il As agar mengambil tali dan pisau, kemudian mengajaknya mencari kayu bakar ke lereng gunung. Siti Hajar istri Nabi Ibrahim As juga menyangka bahwa kepergian mereka berdua untuk mencari kayu bakar.

Siti Hajar, Ibunda Nabi Isma’il As tidak luput dari godaan setan. Dikabarkan dari Ka’bul Akhbar dan Ibnu Ishaq, bahwa ketika setan melihat Nabi Ibrahim As hendak melaksanakan perintah penyembelihan ini, ia berkata: “Sungguh, jika aku tidak sanggup menggoda keluarga Ibrahim dalam masalah ini, niscaya setelah ini aku tidak akan mampu selamanya menggoda salah satu keluarganya. ” Setan kemudian menyamar sebagai seorang lelaki dan mendatangi ibu Nabi Isma’il As., yakni Siti Hajar, dan ia berkata: “Apakah kamu tahu ke mana Ibrahim membawa anakmu?” Siti Hajar menjawab: “Ia membawanya untuk mencari kayu bakar bersama di lereng gunung ini.” Setan berkata: “Tidak, demi Allah! Ia tidak membawanya melainkan untuk disembelih!” Siti Hajar menimpali: “Tidak akan! Dia lebih menyayanginya dan lebih mencintainya (dari pada aku).” Setan berkata: “Ia menyangka bahwa Tuhannya lah yang memerintahkan itu!” Siti Hajar menjawab: “Jika Tuhannya memerintahnya dengan itu, maka sungguh ia begitu baik dalam menaati Tuhannya.”

Keputusasaan Setan

Setan pun merasa putus asa dari Siti Hajar. Kemudian ia pergi menyusul Nabi Isma’il As yang ketika itu berjalan di belakang ayahnya. Setan berkata: “Wahai anak kecil (usia Nabi Isma’il mendekati baligh), apakah kamu tahu, kamu akan dibawa ke mana oleh ayahmu?” Nabi Isma’il menjawab: “Kami akan mencari kayu bakar bersama di lereng gunung ini.” Setan berkata: “Tidak, demi Allah, ia tidak menginginkan kecuali menyembelihmu.” Nabi Isma’il As Balik bertanya: “Mengapa?” Setan menjawab: “Sesungguhnya Tuhannya memerintahkan itu padanya.” Nabi Isma’il As Berkata: “Maka ayah harus melaksanakan perintah itu. Aku siap mendengarkan dan menaatinya. “

Ketika setan merasa putus asa dari Nabi Isma’il As ia pun menghadang Nabi Ibrahim As. Setan bertanya: “Wahai orang tua, engkau ingin ke mana?” Beliau menjawab: “Ke lereng gunung ini, karena ada sebuah keperluan.” Setan berkata: “Demi Allah, sungguh aku melihat setan telah datang dalam mimpimu dan memerintahmu untuk menyembelih anakmu ini.” Maka, Nabi Ibrahim As pun tahu bahwa lelaki itu adalah setan, lalu beliau berkata: “Menyikirlah dariku wahai musuh Allah. Maka demi Allah, sungguh aku akan melaksanakan perintah Tuhanku ini!” Dikabarkan bahwa Nabi Ibrahim Melempar setan tersebut ketika sampai di Jumrah ‘Aqobah dengan tujuh batu sampai ia menghilang. Kemudian setan menampakkan dirinya lagi di Jumroh Wustho, dan Nabi Ibrahim melemparinya kembali dengan tujuh batu sampai ia menghilang. Lalu setan menampakkan dirinya lagi di Jumroh Kubro, dan Nabi Ibrahim As. Melemparinya kembali dengan tujuh batu sampai ia menghilahng. Untuk mengenang peristiwa ini, disyariatkanlah melempar Jumroh saat pelaksanaan haji dan umroh.

Kesanggupan Nabi Isma’il

Pembaca yang Budiman, Nabi Isma’il pun menyanggupi ajakan Nabi Ibrahim As karena ia mengetahui akan ketinggian derajat ayahnya sebagai Nabi dan Rasul yang mimpinya tidak akan disisipi bisikan setan. Nabi Isma’il As tidak mengajukan banding kepada Allah agar perintah itu diperingan. Beliau sadar betul bahwa perintah Allah pasti akan mendatangkan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, kata-kata Nabi Isma’il As yang diabadikan dalam Al-Quran:

ستجدني إن شاء الله من الصابرين

 “Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. “ juga merupakan usaha Nabi Isma’il As untuk mendorong ayahnya agar juga sabar dalam menerima dan menjalankan perintah Allah.

Bahkan, Nabi Isma’il As mendukung apa yang dilakukan Nabi Ibarahim dengan berkata: “Wahai ayahku, kuatkanlah tali ikatku supaya aku tidak bergerak meronta. Jagalah bajumu dariku supaya tidak ada bercak darah padanya, sehingga jika ibuku melihatnya ia akan sedih. Tajamkanlah pisaumu dan cepatlah dalam menjalankan pisaumu pada leherku supaya lebih mudah bagiku. Sungguh, kematian adalah hal yang berat. Jika engkau menemui ibuku, maka sampaikanlah salam padanya dariku. Jika engkau ingin mengembalikan bajuku pada ibuku, maka lakukanlah. Semoga hal itu lebih memudahkan Ibu (dalam menahan kesedihan). “

Nabi Ibrahim As berkata: “Engkau adalah pembantu terbaik dalam melaksanakan perintah Allah. “ Kemudian Nabi Ibrahim As menghadap Nabi Isma’il As seraya beliau menangis dan beliau mengikat Nabi Isma’il dan Nabi Isma’il juga menangis. Lalu Nabi Ibrahim meletakkan pisau pada leher Nabi Isma’il, tetapi apa yang terjadi? Leher Nabi Isma’il tidak tergores sama sekali. Kemudian Nabi Ibrahim menajamkan pisaunya kembali dua / tiga kali dengan batu. Akan tetapi tetap saja pisau tersebut tidak mampu menggoresnya sama sekali.

Ketika itu, Sang Putra berkata: “Wahai ayahku, telungkupkanlah aku, karena jika engkau melihat wajahku, aku khawatir engkau akan mengasihiku dan merasa tidak tega. Dan aku khawatir perasaan itu menghalangimu dari melaksanakan perintah Allah. “

Kemudian ketika Nabi Ibrahim meletakkan pisau pada tengkuk Nabi Isma’il, maka pisau tersebut terbalik dengan sendirinya. Saat itu juga Nabi Ibrahim dipanggil: “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah melaksanakan perintah dalam mimpimu. “

Kemudian sebagai ganti Nabi Isma’il, didatangkanlah domba besar dari surga yang pernah menjadi persembahan Habil, putra Nabi Adam As. Nabi Ibrahim pun menyembelih domba tersebut dengan membaca takbir.

Wallohu a’lam bishshowab. Betapa besar kepatuhan keluarga Nabi Ibrahim As. Semoga keluarga kita bisa meneladani Keluarga Nabi Ibrahim As. Amin.

# Sejarah Kurban Idul Adha

Baca juga:
BOLEHKAH SATU KAMBING UNTUK KURBAN SEKELUARGA?

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal | KH. M. Anwar Manshur

# Sejarah Kurban Idul Adha # Sejarah Kurban Idul Adha

Perbedaan Mendidik dan Mengajar

Tarbiyah / mendidik. Mendidik itu tidak sama dengan mengajar. Kalau mengajar itu anak yang diajar diberi tahu, kamu mau melaksanakannya atau tidak, terserah.

Kalau mendidik tidak seperti itu. Jadi kita berikan penjelasan, kita berikan contoh dan anak itu diawasi supaya menjalankan apa yang telah kita sampaikan. Itu mendidik.

Kalau mengajar ya entah kamu kerjakan atau tidak terserah.

Kalau mendidik itu harus kita teliti, harus kita perhatikan. Bagaimana sesudah kita berikan pendidikan, dia mau menjalankan atau tidak, ini terus kita awasi. Ini pendidikan. Supaya anak-anak sesudah kita berikan penjelasan itu bisa melaksanakan apa yang dikehendaki oleh pendidikan tersebut. Ini yang paling penting.

Didekati

Jangan kita ajar terus kita “Biarlah tidak tahu”, tidak. Kita berikan pendidikan, kita berikan perhatian. Kalau kelihatannya kurang benar dibenarkan. Kalau sudah benar didorong. Ini pendidikan. Jadi insya Allah pendidikan kita dalam Pondok Pesantren Lirboyo akan berhasil dengan sebaik-baiknya.

Dan saya ucapkan terima kasih atas keikhlasan Anda dalam membantu yang ada dalam Pondok Pesantren Lirboyo yaitu mendidik pada anak-anak.

Anda yang ikhlas

Ikhlas itu nanti buahnya adalah keberkahan. Anda dalam mendidik itu ikhlas, mensyukuri terhadap ilmu yang Anda miliki, “Alhamdilillah oleh Allah aku sudah diberi ilmu. Sekarang ada orang yang membutuhkan , aku berikan kepada orang yang membutuhkan.” Dengan ikhlas demikian insya Allah lebih berkah nantinya.

Sudah, tidak perlu mengharap apa-apa. Ya alhamdulillah oleh Allah kita diberi kesempatan bisa mengajar. Ini sudah derajat yang paling tinggi. Bisa mengajar itu sudah derajat yang paling tinggi. Ta’limal muta’allim itu adalah suatu derajat yang tinggi. Karena tanpa mengaji kan tidak bisa mengamal. Adanya amal yang benar itu kan sebab dia mau belajar. Nah, belajar itu harus ada yang mengajar. Belajar sendiri tanpa ada yang mengajar ya bisa menyesatkan.

Jadi, diri kita yang ikhlas. Menjalankan perintah Allah, nasyrul ‘ilmi (menyebarkan ilmu). Mendidik kepada orang-orang yang belum tahu, supaya dia dalam ibadahnya bisa benar. Ini yang paling baik.

Dawuh KH. M. Anwar Manshur

Lihat selengkapnya di:
Buah Keikhlasan dalam Mendidik | KH. M. Anwar Manshur

Baca juga:
NASEHAT AWAL TAHUN AJARAN

Perbedaan Mendidik dan Mengajar
Perbedaan Mendidik dan Mengajar

Pemberangkatan Santri ke Cabang Santren Blitar

Lirboyo.net (19/06) Pagi ini, sebanyak 30 Santri diberangkatkan ke Pondok Lirboyo IV Cabang Santren Blitar.
Para santri tersebut merupakan santri yang masuk ke kelas III dan IV Ibtidaiyah, berdasarkan hasil tes masuk 3 gelombang yang diadakan beberapa hari lalu.

Dalam pelepasan tersebut tampak beberapa Mudir Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo.

Ini merupakan program zonasi Pondok Lirboyo yang diadakan mulai tahun ini.

Untuk tahap pengiriman santri selanjutnya baik yang ke Majalengka maupun ke Blitar menunggu hasil tes masuk berikutnya sekitar seminggu mendatang.

Baca juga:
PERESMIAN MADRASAH HIDAYATUL MUBTADIIN PONDOK LIRBOYO IV CABANG SANTREN BLITAR

PERESMIAN MADRASAH HIDAYATUL MUBTADIIN PONDOK PESANTREN LIRBOYO V CABANG MAJALENGKA

Simak juga:
PROGRAM ZONASI PONDOK PESANTREN LIRBOYO CABANG IV & V