HomePojok LirboyoTakhtiman ke-37 Madrasah Murottilil Qur’an

Takhtiman ke-37 Madrasah Murottilil Qur’an

0 0 likes 1.4K views share

LirboyoNet, Kediri – Setelah melalui perjalanan panjang, 114 khotimin diwisuda dalam acara Takhtiman Alquran ke-37 Madrasah Murottilil Quran (MMQ). Acara yang berlangsung pada hari Kamis malam (28/01) berjalan lancar meski sempat diselingi hujan gerimis beberapa saat.

Perlu diketahui, Madrasah Murottilil Qur’an adalah salah satu program dari Unit Pondok Pesantren Murottilil Qur’an (PPMQ), untuk memberikan pengajaran khusus tentang tata cara baca Alquran (murottil). Bagi santri yang sudah berada di tingkat akhir, mereka akan menjalani beberapa tes. Setelah dianggap memenuhi standar nilai, mereka mendapatkan ijazah khusus dari PPMQ dan berhak mengikuti takhtiman.

Acara yang disaksikan ratusan santri dan walisantri ini berlangsung dengan khidmat. Terutama, ketika sampai pada pembacaan surat-surat pendek dengan memakai bacaan qira’ah sab’ah (bacaan tujuh imam yang dianggap shahih). Jauh hari sebelum acara, mereka telah digembleng secara intensif untuk dapat melantunkan Alquran dengan beberapa versi bacaan tersebut.

Dalam sambutannya, Ust. Khotibul Umam, salah satu dewan pengajar, merasa prihatin atas kondisi masyarakat sekarang yang kurang menggiatkan kembali budaya menghafal. “Buktinya, banyak imam-imam salat yang hanya membaca surat-surat pendek, seperti surah Al-Kafirun atau Al-Ikhlas. Jarang ditemui imam salat membaca surat yang relatif panjang, seperti surah Al-A’la atau Al-Fajr.” Karenanya, beliau berharap, para santri yang telah menjadi khotimin ini tetap memperhatikan Alquran secara penuh.

Dalam takhtiman kali ini, ada tiga kategori khotimin yang diwisuda. Pertama, mereka yang mengikuti program Qira’ah Sab’ah, terdiri dari enam peserta putra dan empat peserta putri. Kemudian, kategori Bil Ghoib (hafalan 30 juz), diikuti oleh delapan peserta putra dan tiga peserta putri. Sementara 75 peserta putra dan 18 peserta putri diwisuda dengan predikat Bin Nadhor (khatam Alquran dengan membaca). Mereka menerima bukti ijazah sanad Alquran yang muttashil, yang bersambung dari guru ke guru tanpa putus hingga sampai pada Nabi Muhammad SAW.

Habib Kholid Bin Hasan Al-Madihi dari Pasuruan, yang menjadi penceramah pada acara ini, menyampaikan berbagai macam keutamaan Alquran. “Sahabat-sahabat rasul berpegang teguh pada Alquran, dalam menghukumi permasalahan mereka selalu berpedoman dengan Alquran,” tegas beliau. Maka, sudah sepatutnya bagi kita untuk meneladani perilaku mereka. “Setiap ulama punya cerita dengan Alquran. Lantas bagaimana dengan kita?” pungkas beliau.[]