HomePojok LirboyoDiskusi Film Jalan Dakwah Pesantren

Diskusi Film Jalan Dakwah Pesantren

0 2 likes 949 views share

LirboyoNet, Cirebon – Semalam (20/10/2016), Panitia Bahtsul Masa’il XXX, Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) Se-Jawa dan Madura, dalam rangka turut serta memperingati Hari Santri Nasional, menggelar pemutaran dan diskusi film dokumenter “Jalan Dakwah Pesantren” di Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Pemutaran film menggunakan 2 layar tancep, dengan lokasi yang agak berjauhan untuk santri putra dan santri putri. Pemutaran dan diskusi ini dihadiri lebih dari 4.000 santri putra dan putri dan tentunya juga oleh warga sekitar pesantren. Jumlah ini adalah setengah dari total keseluruhan santri putra dan putri pesantren Babakan yang berjumlah lebih dari 11.000 santri.

Secara singkat, film tersebut mencoba meyakinkan para penonton bahwa betapa Indonesia memiliki sebuah lembaga pendidikan dengan sejarah panjang. Berabad telah dilewati, banyak peristiwa dihadapi, dari perubahan ke perubahan-pun telah dijalani. Lembaga pendidikan itu berciri khas keagamaan, tapi di sisi lain juga lekat dengan lokalitas dengan beragam tradisi dan budaya. Ia selalu berdialog dengan keadaan dan telah menjadi bagian dari peradaban dunia. Ia adalah “Pondok Pesantren” nama popular lembaga pendidikan yang dimaksud. Pondok Pesantren menjadikan adagium “Melestarikan tradisi yang baik dan mengambil kebaruan yang lebih baik”, sebagai metode untuk terus hidup, berkembang dan bermanfaat. Maka tidak aneh, jika dalam perjalanannya, pesantren, dari satu sisi kuat dengan tradisi, tapi di sisi lain terus berinovasi. Tak aneh pula, jika pesantren tampak terlihat melingkupi banyak lini kehidupan, dari keagamaaan hingga kesenian, dari kemasyarakatan hingga berbangsa.

Film ini sangat menarik bukan hanya karena banyaknya pihak yang dilibatkan, mulai pesantren-pesantren, kiai-kiai, santri, peneliti, sejarahwan dan tentunya orang-orang dibalik layarnya, tetapi juga karena harapan dan semangat yang terkandung di dalamnya. Mulai semangat menjalin “ukhuwah islamiyah” (persaudaraan sesama umat muslim), “ukhuwah wathaniyah” (persaudaraan sesama warga bangsa), hingga “ukhuwah insaniyah” (persaudaraan sesama umat manusia).

“Karena citra pesantren sebagai suatu tempat mencari ilmu, menempa diri, dialog membangun masyarakat beradab, berkebudayaan, itu sudah semakin luntur dimata masyarakat luas. Saya berharap, film ini menjadi jendela kecil bagi orang yang ingin melihat pesantren dalam artian yang lebih luas,” ungkap salah seorang produsernya, Hamzah Sahal, dalam diskusi selepas nonton bareng.

Sampai hari ini memang film tersebut belum bisa kita nikmati secara luas, karena memang belum tersebar didunia maya. Jika anda bertanya kenapa, direktur film, Yuda Kurniawan berkomentar, “Secara pribadi saya bingung harus jawab apa. Karena, disisi lain, saya juga merasa sedih. Sebegitu parahkah minat mengapresiasi sebuah film di sebagian penonton kita? Ataukah Youtube sudah merubah semua budaya menonton kita menjadi sangat individualistik, menonton sendiri-sendiri di gadget, di laptop, nonton di kamar, di mobil, di commuterline bahkan di toilet. Tak ada lagi ruang interaktif, tak ada lagi ruang berdiskusi, bertukar pikiran dan gagasan, semuanya serba sendiri-sendiri. Dan ketika pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilontarkan, saya selalu menjawab, ’Tunggu saja, sampai dititik dimana kami lelah memutarkan keliling film ini’.”][