HomePojok LirboyoMenyambut Ekspedisi Islam Nusantara

Menyambut Ekspedisi Islam Nusantara

0 8 likes 1.9K views share

LirboyoNet, Kediri – Islam, juga Nusantara, tak akan mudah melupakan Kediri. Dari rahim pesantren yang berdiam di sana, banyak agamawan dan negarawan lahir. Maka wajar saja jika tim Ekspedisi Islam Nusantara menjadikannya salah satu dari 40 daerah yang dituju.

Setelah 21 hari perjalanan, Rabu siang (20/04) tim ini tiba di Pondok Pesantren Lirboyo. Imam Pituduh, Ketua Tim Ekspedisi, memimpin rombongannya untuk sowan kepada masyayikh. Bada jamaah zuhur, mereka diterima di ndalem KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus. Dengan suasana ringan, Imam Pituduh berdialog dengan Kiai Kafa (sapaan akrab KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus).

“Di Indonesia, banyak orang islam yang tidak tahu islam. Ini kalau kita gesek, mereka akan lari dari Islam. Ya ahlal kitab la taghlu fi dinikum. Jangan sampai kamu berbuat ekstrim dalam agamamu,” kutip beliau dari ayat Alquran. Hadangan yang dihadapi umat islam sekarang, terutama Nusantara, adalah mereka yang berlaku radikal dengan mengatasnamakan agama. Maka perjalanan tim ini diharapkan mampu menebarkan citra damai dan lemah lembut, sesuai dengan islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw. “Rasulullah tidak pernah memunafikkan orang munafik. Juga tidak pernah mengkafir-kafirkan,” lanjut beliau.

Tim Ekspedisi Islam Nusantara berjumlah 35 orang. Mereka terdiri dari pengurus PBNU dan wartawan dari media tv, cetak, maupun online. Sebelum ke Ponpes Lirboyo, terlebih dahulu mereka menghadiri dialog di beberapa tempat di Kediri.

Di Lirboyo, mereka tidak berhenti di ndalem Kiai Kafa saja. Di depan ndalem almaghfurlah Gus Maksum (KH. Abdullah Maksum Jauhari), mereka disuguhi aksi beladiri Pagar Nusa, yang merupakan warisan dari beliau. Berseragam merah-merah, belasan santri bergantian adu banting. Aksi yang sempat direkam ini akan dijadikan bahan untuk film dokumenter ekspedisi. Kepada para santri ini, Imam yang notabene penggemar Gus Maksum saat muda berpesan, “di masyarakat nanti, jadilah pemimpin. Jangan di belakang.”

Setelahnya, alumnus Ponpes Tebuireng ini mengajak tim berkeliling mengunjungi sudut-sudut pesantren. Mulai makam sesepuh hingga hunian santri. termasuk kamar N.10, yang menjadi hunian KH. Said Aqil Siraj saat masih di Lirboyo dulu.

Perjalanan ini dilanjutkan ke Nganjuk, dan direncanakan berakhir pada 09 Juni 2016 di Papua. Dari seluruh tempat yang dikunjungi nanti, akan terkumpul catatan-catatan yang dijadikan satu menjadi semacam buku ensiklopedi.

Semoga perjalanan ini membawa manfaat dan barokah, sesuai dengan harapan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, yang juga menjadi harapan umat muslim lainnya. Juga, diharapkan mampu menguatkan dan mengukuhkan pesantren, karena NU yang kuat bermula dari pesantren yang kuat pula.][