HomePojok LirboyoBerbahtsu Demi Harapan Baru

Berbahtsu Demi Harapan Baru

0 0 likes 761 views share

LirboyoNet, Kediri – Bersamaan dengan agenda Kamis Legi (17/03), para santri Ponpes Lirboyo Unit Darussalam (PPDS) memiliki hajat besar. Dilaksanakan di bangunan baru, Bahtsul Masail dibuka pukul 08.00 Waktu Istiwa’. Bahtsu ini merupakan langkah perdana bagi PPDS untuk mengadakan acara serupa di kemudian hari.

Peserta berdatangan dari berbagai utusan. Selain utusan Ponpes Lirboyo unit lain, juga terlihat perwakilan dari pondok-pondok kawasan Kediri, seperti Ponpes Sumbersari dan Pethuk.

Dalam kesempatan ini, para peserta dihadapkan pada beberapa permasalahan waqi’iyah. Satu diantaranya mengenai status profesi pengacara di mata fiqh. Permasalahan ini diangkat oleh panitia, mengingat masih belum ditemukannya formula pasti dari fikih untuk menilai kadar profesi pengacara.

Beberapa ustadz diminta sebagai perumus, demi menjaga arah pembahasan agar tidak keluar dari jalur. Para perumus ini tidak serta merta menjadi pengarah jalan secara mutlak. Terbukti, ketika perumus memilih beberapa hal untuk dipertimbangkan, mubahitsin (para peserta bahtsul masail) menawarkan hal lain yang dianggap lebih mashlahah untuk dijadikan pertimbangan.

Peserta bergantian menunjukkan ibarat-ibarat (tendensi hukum) dari berbagai kitab salaf. Meski berkutat pada halal dan haram, status profesi ini tidak bisa diputuskan sesederhana memilih antara hitam atau putih. Terbukti, hingga sore hari, peserta bahtsu masih mencari-cari titik temu yang bisa diterima secara sharih (jelas).

Dengan ditemani putra beliau, Agus Aminulloh Mahin, KH. A. Mahin Thoha menutup bahtsul masail. Beliau yang juga pengasuh PPDS ini berharap, santri-santri dapat terus mengembangkan diri dan intelektualitas yang mereka punya.

Kegiatan bahtsul masail memang telah membudaya dalam keseharian para santri lirboyo. Tidak serta merta berkembang memang. Para santri lirboyo terlebih dahulu harus mengawali tempaan keberanian dan keuletan bermusyawarah di kelas. Setelahnya, mereka harus melewati tantangan berupa musyawarah antar kelas, antar tingkatan, bahtsul masail daerah, dan sebagainya. Walhasil, para santri Lirboyo, seperti yang menjadi harapan masyayikh, akan memiliki mental kokoh dalam bermasyarakat, dan tidak mudah menyalahkan orang lain.][