HomePojok LirboyoHalal Bi Halal Santri dan Masyayikh

Halal Bi Halal Santri dan Masyayikh

0 2 likes 1.1K views share

LirboyoNet, Kediri – Setelah dua bulan lebih berlibur, tibalah saat bagi para santri untuk bersua kembali dengan aktivitas dan rutinitas pesantren. Artinya, para santri harus sudah siap untuk belajar dan muthola’ah. Apalagi, santri sudah mendapat bekal dari orangtua. Tidak ada alasan untuk tidak serius belajar.

“Ojo disangoni wongtuwone, neng pondok rokokan karo guyon (jangan sampai sudah diberi uang saku oleh orangtua, di pondok hanya merokok dan bercanda),” dawuh KH. A. Habibulloh Zaini kala bermuwajahah dengan para santri dalam acara Halal Bi Halal yang digelar pada Kamis malam (21/07) kemarin. “Guru kulo nate dawuh, nek duwe duit ojo digawe jajan, rokok. Tukukno kitab (guru saya pernah berkata, kalau punya uang jangan dibelikan jajan atau rokok. Belikan kitab). Yang rajin musyawarah.”

Meskipun begitu, lanjut beliau, hendaknya para santri tetap menjaga etika. Dalam belajar, tidak perlu keras-keras bacaannya. Cukup didengar diri sendiri. “Dulu saya punya teman. ‘Aku mau banter-banteran banting tasbih. Banteran gonaku.’ Jangan seperti itu. Riya’ dan mengganggu yang lain,” kisah beliau. Ibadah sejatinya adalah milik dirinya sendiri. Tidak patut dipertontonkan dan dibangga-banggakan.

Ribuan santri yang berkumpul di serambi masjid duduk khidmat mendengarkan dawuh-dawuh beliau. Sebelumnya, para santri terlebih dahulu mendengarkan pembacaan tata tertib pondok pesantren, yang dijelaskan oleh Agus H. Abdul Qodir Ridlwan. “Kalian sudah punya buku tata tertib toh? Itu dibaca. Kalau perlu dihafalkan, biar tahu kalau keluar pondok tanpa ijin itu pelanggaran, menemui wanita yang bukan mahram itu pelanggaran. Jangan malah dijadikan jimat,” canda beliau.

Setelah mauidhoh oleh yai Habib, acara dilanjutkan dengan nasehat-nasehat oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. “Jadi santri itu enak. Oleh Allah sudah dijamin. Ketika ada masalah, pasti sudah dilapangkan jalan keluarnya. Wa yaj’alhu makhroja. Pasti itu. Makanya, mayoritas santri itu bukan kerja dulu, tapi nikah dulu,” ujar beliau disambut tawa para santri.

Taqwa adalah proses penghambaan diri kepada Pemilik Sejati. Puasa hanya salah satunya. Setelahnya, ada rangkaian ibadah yang harus dijalani jika menginginkan taqwa yang sempurna. Menurut Imam Ghazali, yang termasuk ibadah adalah Ibadah bil ilmi mahdlah. Ibadah murni dengan ilmu. Seperti halnya yang dilakukan oleh ulama pengarang kitab terdahulu. Menulis karya, berguru ke sana-sini adalah rangkaian dari ibadah.

“Jangan dikira santri tidak dapat membantu orangtua. Justru dengan mondok, orangtua kalian mendapat pahala, rizki yang barokah, dan ketika wafat nanti, dengan berkah memondokkan anak-anaknya, akan diberi husnul khotimah,” ungkap beliau.

Rizki adalah urusan Allah. Khalaqakum tsumma razaqakum. Kata ini bergandengan, menunjukkan bahwa Allah tidak lepas tangan setelah menciptakan manusia. Sementara urusan para santri hanyalah mencari ilmu. Dan orientasi mereka adalah surga. Bukan yang lain. Man yaltamis fil ‘ilmi, sahhalahullahu thariqan ilal jannah. Ketika bersungguh-sungguh dalam pencarian ilmu, akan dimudahkan oleh Allah jalan menuju surga.

“Jangan menganggap sepele ghosob sandal. Jangan gampang-gampang ‘ulima ridhahu. Di dunia bisa gampang. Tapi di akhirat nanti, tidak akan ada toleransi. Manusia sangat butuh amal baik untuk menolong mereka. Mereka akan meminta pahala kalian karena telah mengghasab barang tanpa ridla,” Pesan beliau di akhir acara.][