HomePojok LirboyoKhidmah di Hutan Belantara

Khidmah di Hutan Belantara

0 0 likes 287 views share

LirboyoNet, Trenggalek—Program Wajib Khidmah Pondok Pesantren Lirboyo, selain menyentuh lembaga-lembaga pendidikan besar, semisal pesantren salaf, modern,  dan lembaga pendidikan lain, juga menyentuh kampung dan daerah terpencil.

Di Trenggalek misalnya. Ada satu daerah yang cukup tersembunyi. Yakni pedukuhan Dilem Wilis, Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan. Lokasinya cukup jauh dari lingkungan perkotaan. Bahkan, bisa dibilang, desa ini terletak di tengah-tengah hutan. Di sana, ada dua santri yang ditugaskan pesantren. Abdurrozaq dari Malang, dan Ibrahim dari Ponorogo.

Tak seperti objek wajib khidmah yang lain, di sini, kedua santri itu tidak dituntut untuk memberi pendidikan di dalam sebuah yayasan. Mereka “hanya” tertuntut untuk mengajar Alquran kepada anak-anak sekitar. Tetapi, bisa jadi, mereka mendapat tantangan yang lebih kompleks. Karena, mereka dihadapkan pada situasi layaknya hidup di tengah-tengah masyarakat secara penuh, bukan hanya berdiam di dalam lingkungan tertutup semacam pesantren.

Ketika ditemui Kamis (11/01) lalu, keduanya membeberkan beberapa hal. “Di sana, kami menjadi imam shalat lima waktu di mushala. Jangan tanya jumlah makmumnya. Wong kadang kami jadi muadzin, imam plus makmum,” ujar Abdurrozaq. Kebanyakan, mereka tidak datang shalat berjamaah karena sedang berada di kebun, kandang sapi, atau di hutan. Di samping memang pengetahuan agama rerata orang di kampung ini belumlah bisa dikatakan sempurna. Bahkan jauh dari itu.

Lingkungan masyarakat yang awam ini memang menjadi tantangan tersendiri. Selain mayoritas masyarakat adalah peternak sapi, di mana setiap harinya dihabiskan untuk mencari rumput dan merawat sapi di kandang, jarang ditemukan anak muda yang bisa jadi harapan untuk memberi ilmu agama bagi mereka.

“Anak tamat SMP di sini, kalau tidak transmigrasi, ya nikah,” ungkap Ibrahim, kawan seperjuangan Abdurrozaq yang berusia cukup matang itu. Masyarakat benar-benar kurang terdidik kemampuan beragamanya. Walhasil, ketika diharuskan berada di kampung ini, kedua santri ini sedikit demi sedikit memberi pengajaran agama kepada orang-orang tua.

Namun, pengajaran yang diberikan juga tidak bisa ditransformasikan secara intensif dan berkala. “Kampung ini, kalau masuk waktu maghrib bagai kampung mati. Jarang ada orang yang keluar berjalan-jalan. Apalagi untuk mengaji,” terang Abdurrozaq. Pernah, suatu saat, delegasi ini mengajak orang-orang sekitar berkumpul seusai shalat isya, untuk sekedar berbincang ringan. Mereka membuat api unggun. Membakar ranting. Namun tak lama, beberapa dari mereka berpamitan pulang, “Wes mas, wes bengi. Mene isuk ngarit. (Saya pamit mas, sudah malam. Besok pagi harus cari rumput)”

Selain itu, mereka harus siap sedia apapun yang diminta masyarakat. Pernah suatu hari ada tetangga melaksanakan hajat nikah. Mereka diminta untuk qiroah. “Pede nggak pede, tetap harus menuruti permintaan mereka. meskipun toh dengan suara pas-pasan,” imbuhnya. Tantangan mereka bukan hanya itu. Mereka juga dihadapkan pada kondisi masyarakat yang heterogen. Beberapa masyarakatnya beragama lain. Ada juga warga yang beragama Islam, tetapi memelihara anjing.

Mereka tinggal di rumah yang sudah disediakan oleh pamong masyarakat. Ada sebuah rumah, yang kebetulan kosong, ditinggal si empu rumah ke kota lain. jadilah rumah itu serasa milik mereka berdua. Tapi, jangan dibayangkan mereka selalu tidur dan beristirahat dengan nyaman. “Nggak usah jauh-jauh ke tempat-tempat angker untuk merasakan aura horor. Lah wong hampir setiap hari ada suara-suara aneh. Ada bayangan-bayangan asing. Dulu, saya sampai bawa clurit (sabit) kalau tidur. Kalau sampai ganggu, saya sabet. Hahahaha. Tapi sekarang sudah terbiasa,” tukas Abdurrozaq.][