HomePojok LirboyoBerdakwah, Tidak Ada Alasan Tidak Siap

Berdakwah, Tidak Ada Alasan Tidak Siap

0 0 likes 630 views share

LirboyoNet, Kediri – Sembari menunggu datangnya peserta yang lain, Qomarul Faizin, Ketua Safari Ramadlan Daerah Blitar, menandatangani lembar absensi kehadiran. Ada 38 baris nama daerah yang tertera di sana, yang berarti, untuk tahun ini Safari Ramadlan akan dilaksanakan serentak di 38 daerah di seluruh Indonesia.

Siang itu (02/02), Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Pusat memang sedang mempunyai hajat. Salah satu ruangan di Rusunawa dipersiapkan guna acara Pelatihan Delegasi Safari Ramadlan Daerah. Para pesertanya adalah seluruh dewan harian panitia Safari Ramadlan Daerah.

Agus Zulfa Ladai Robbi, Ketua Dua Panitia mengatakan, acara ini difokuskan untuk memberikan pengarahan kepada delegasi bagaimana proses dakwah yang baik. “Regenerasi adalah proses yang penting. Untuk itu, kalian yang sudah senior, ajaklah adik-adik kelas kalian untuk berkecimpung di dalam kegiatan Safari ini. Agar dakwah tidak berhenti di tengah jalan,” terang beliau saat memberikan sambutan.

 

Setelahnya, sang tutor, Bapak Widodo Hamid S. Kom. segera memulai pengarahannya dengan ringan. Beliau terlebih dahulu menceritakan riwayat dakwahnya di beberapa daerah, “waktu itu saya masih nyantri di Lirboyo. Ada satu tokoh masyarakat yang ternyata memelihara tujuh ekor anjing. Apa langsung saya katakan ‘harom’?! ‘neroko’?!”. Masih dalam cerita beliau, perlahan tokoh itu dirayu. Anjing itu ternyata untuk mengusir babi yang mendekati kebun. “‘Apa masih ada babinya?’ kata saya. ‘sudah nggak ada’. ‘anjingnya nganggur sekarang?’. ‘iya’.’berarti sampean memelihara barang nganggur? Kalau misalnya anjing itu dijual, terus diganti kambing gimana? Kan lebih berguna?”.

“Ngunu kang. Sampean rayu, terus dikasih solusi. Jangan dibeli anjingnya. Kasih saran saja. Kalau main beli saja, wah, tekor sampean,” canda beliau yang juga alumnus Ponpes Lirboyo tahun 1998 itu.

Acara yang berlangsung hingga pukul 16.30 itu memang berlangsung renyah. Kisah-kisahnya selain lucu dan segar, juga menginspirasi para peserta. “Yang penting adalah, santri jangan pernah bilang tidak bisa. Tidak siap. Buang kosakata itu dari kamus kalian. Kiai saya pernah dawuh, kamu santri lirboyo, tidak ada gunanya jika tidak siap setiap saat. Disuruh ceramah, siap. Tahlil, ya. Khutbah nikah, sanggup. Cuci piring, jangan.” Tawa peserta kembali pecah. “Loh, kalian harus bisa menempatkan diri. Kalau sampean terima saja jadi cuci piring, kemudian kok bersih, sampai kapanpun sampean terus yang cuci piring. Lah yang memperjuangkan dakwahnya siapa?” lanjut beliau.

Di akhir acara, beliau membuka fakta bahwa salah satu ormas di Kediri, sudah menyiapkan 1.200 dai untuk disebar di bulan Ramadlan. “Jangan kalah dengan mereka. Wis toh, kalau masalah rizki, sampean percaya apa yang dipesankan Kiai Marzuqi. ‘Masalah keadaan tiap-tiap santri di rumahnya kelak terserah gusti Allah’. Yang penting ngajar. Dakwah. Murobbi ruuhina Mbah Manab sudah mewanti-wanti, ‘santri nek mulih ojo lali ngedep dampar’. Ingat-ingat pesan beliau itu.”][