HomePojok LirboyoMengamputasi Radikalisme

Mengamputasi Radikalisme

0 6 likes 1.2K views share

LirboyoNet, Kediri – Ketika agama disinggung modernitas, para pemeluknya akan berhadapan dengan beberapa pilihan: membuka lebar kedua tangan; memilih diam; atau merasa terancam.

Beruntungnya, Nabi membekali umatnya dengan dilalah (pertanda) yang sepertinya memperbolehkan umat untuk memilih apa saja, termasuk bergerak radikal (cenderung keras).

Bagi kaum sunni, terutama nahdliyyin, modernitas akan mereka seleksi dengan empat filter: tawazun, tasamuh, tawasuth, dan ta’adul. Mereka tidak biasa sertamerta menghakimi tanpa mengkajinya dengan empat perabot itu.

Gawatnya, perabot-perabot itu kian kabur di tengah masyarakat kini. Maka Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM) pada Kamis lalu, (14/04) mengumpulkan sebagian santrinya di Aula P3HM. Mereka diberi pengetahuan terkait bahaya radikalisme di luar pesantren. Tutor handal pun dihadirkan. Zahro Wardi, sang tutor itu, telah berkali-kali menyuarakan kehati-hatian atas radikalisme di berbagai tempat. Termasuk ke Makau, sebuah daerah administratif khusus negara Tiongkok.

Diklat ini dikhususkan bagi siswi kelas  Tiga Aliyah Madrasah Putri Hidayatul Mubtadi-aat (MPHM), dan siswi Robithoh (program khusus bagi alumnus tahun sebelumnya).

Para pengusung radikalisme cukup sering membuat bingung masyarakat awam. Tahlil, istighotsah, yang telah menjadi adat istiadat sejak lampau, digugat. Maka tak asing lagi kata kafir, haram, bid’ah, di telinga masyarakat.

Karena term takfiri (pengkafiran) sudah dinilai akut, para siswi itu disajikan buku materi cukup tebal, mencapai 103 halaman. Maka seminar yang diikuti sekitar 170 siswi itu berlangsung lama, hingga 2,5 jam.

“Tahlil itu seperti ote-ote,” jelas Zahro terkait pengharaman tradisi tahlil. “Garamnya halal, kubis halal, wortel halal, terigu halal, air halal. Jadilah ote-ote halal. Yasin sunnah, laa ilaaha illallah sunnah, silaturrohim sunnah, tasbih ada haditsnya. Dijadikan satu jadinya tahlilan.”

Menolak gerakan radikal bukan berarti membablaskan toleransi. “Jangan diyakini semua agama benar. Kita punya batas, yakni ketika agama lain melaksanakan ibadahnya, kita tidak mengganggunya. Seperti halnya dengan jenazah yahudi lewat di depan Nabi, beliau hanya diam,” tegas beliau.

Di akhir makalah itu, Zahro Wardi mencantumkan ancaman yang harus menjadi perhatian:

1. Gerakan islam phobia secara internasional, terutama dari barat yang arogan.

2. Gerakan sekuler liberalis yang mengacaukan keimanan dan tradisi keagamaan.

3. Gerakan islam transnasional yang mempunyai ciri-ciri:

a.Bersifat transnasional.

b. Ideologi gerakan yang tidak bertumpu pada konsep nation state, melainkan konsep kesatuan ummat.

c. Didominasi oleh corak aliran pikiran skripturalis radikal dan fundamentalis.

d. Secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern.][