HomePojok LirboyoUshul Fikih di Era Modernitas

Ushul Fikih di Era Modernitas

0 3 likes 262 views share

LirboyoNet, Kediri- Sabtu kemarin (26/08), rutinitas kuliah ushul fikih yang diselenggarakan di aula lantai II gedung baru Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Ponpes Lirboyo kembali digelar. Agenda kajian yang menggunakan kitab Lubbul ushul tersebut merupakan kelanjutan dari program yang digagas oleh Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo (LBM P2L) sejak tahun. Rutinitas bulanan tersebut cukup menarik antusias santri, baik di tingkat Tsanawiyah, Aliyah, maupun Mutakhorrijin.

KH. Azizi Hasbullah, salah satu alumnus Ponpes Lirboyo yang kini aktif sebagai dewan perumus LBM PBNU Pusat hadir sebagai tutor. Dalam mukaddimahnya, beliau memaparkan akan urgensitas kajian ushul fikih di era globalisasi.

Sistem perubahan dan perkembangan zaman yang semakin maju berbanding lurus dengan munculnya berbagai macam permasalahan baru yang semakin kompleks. Sebuah realita yang tak terbantahkan, bahwa sebagian besar permasalahan baru yang muncul di era kemajuan IPTEK seperti sekarang ini tidak sesuai dengan rumusan ulama salaf yang ada dalam berbagai teks kitab klasik.

Salah satu contoh kecilnya adalah kasus Qabdl (serah-terima) dalam tansaksi akad Mu’amalah. Pada zaman dahulu, praktek nyata dari serah terima dalam berbagai akad mu’amalah mengharuskan pihak yang melakukan transaksi berkumpul di suatu tempat tertentu. Beda halnya dengan sekarang, kecanggihan teknologi yang semakin memudahkan urusan manusia telah merubahnya menjadi model transaksi secara online maupun praktek transfer. Apabila kasus yang berhubungan dengan model transaksi modern tersebut berusaha dijawab menggunakan rumusan ulama yang ada dalam kitab klasik, tentunya akan terjadi perbedaan konteks realita dan hasilnya tidak akan sesuai.

Maka dari itu, kajian metodologis (manhaji) menggunakan teori ushul fikih sebagai media untuk mengetahui pedoman para ulama dahulu dalam menetapkan hukum (al-manhaj fi itsbat al-hukm) sangat diperlukan dalam menjawab tantangan permasalahan global. Karena dengan metode tersebut, rumusan ulama dahulu yang tersebar dalam al-kutub al-mu’tabaroh tidak hanya bersifat dogmatis. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu sebuah upaya kontekstualisasi pemikiran dalam menghasilkan produk hukum dengan melihat dan menyesuaikan keadaan dan realita yang terus beubah dan berkembang.

Perlu digaris bawahi, bukan berarti metode ini akan mengatakan bahwa kitab salaf tidak relevan. Namun, metodologi kajian ushul fikih hanya sebatas mengkaji manhaj ulama dalam menghasilkan rumusan produk hukum yang disesuaikan dengan konteks yang dihadapi. Bagaimanapun, semuanya akan tetap berpedoman dengan prinsip yang telah dibangun dan dirumuskan para ulama salaf di dalam al-kutub al-mu’tabaroh.

Setelah sedikit memaparkan urgensitas kajian ushul fikih tersebut. KH. Azizi Hasbullah memulai pembahasan kitab Lubbul Ushul dalam bab al-mutlaq wa al-muqoyyad. Diskusi yang dikemas dengan model seminar ini juga ditutup dengan sesi tanya jawab dari beberapa peserta. Terakhir, beliau juga berpesan hendaknya dalam memahami ushul fikih harus diimbangi dengan pemahaman furu’iyyah fiqih, “Ushul fikih itu hanya sebatas kaidah untuk merumuskan fikih. Namun kalau dalam fikih, tidak hanya terbatas kepada kebutuhan pada ilmu ushul fikih. Namun harus didukung dengan berbagai dalil yang lain,” tegasnya. []