HomePojok LirboyoDiklat Kader Da’i ASWAJA

Diklat Kader Da’i ASWAJA

0 1 likes 899 views share

LirboyoNet, Kediri – Kamis (6/12/2012), mendung masih  menggantung di langit Kediri, awan gelap tidak kunjung reda. Termasuk pesantren kita, walau tadi pagi matahari menyapa namun tetap saja suasana kurang begitu hangat.

Siang itu, lembaga Ittihadul Muballighin untuk pertama kalinya mengadakan Diklat Kader Da’i Aswaja bertempat digedung belakang Aula Muktamar. Peserta dari  Perwakilan Siswa Kelas I dan II Aliyah.Tutor yang dihadirkan da’i muda Dr. Buya Yahya Ma’arif Pengasuh  Pondok Pesantren al-Bahjah Cirebon Jawa Barat.

Pukul 13.12 WIB acara dibuka dengan bacaan Surat al-Fatihah, dilanjutkan dengan Tartilul Qur’an oleh saudara M. Misbah Muniruddin. Sambutan tunggal yang merupakan acara ketiga disampaikan oleh Agus Abdul Qodir Ridlwan selaku Ketua Pondok dan Pimpinan Lembaga Ittihadul Muballighin. Dalam sambutannya, beliau memaparkan sejarah terbentuknya Lembaga Ittihadul Muballighin pada tahun 2003 serta perjalanannya sampi sekarang. Pada tahun ini, siswa yang akan mengikuti  Safari sekitar 1000 santri, baik yang mengikuti  daerah maupun di pondok. Acara itu dihadiri oleh Pimpinan Pondok dan Mustahiq Kelas I dan II Aliyah.

Ibnu Atoillah selaku Moderator mengawali Diklat dengan menyampaikan sekilas Riwayat Hidup Buya Yahya, acarapun dilanjutkan dengan penjelasan Buya Yahya tentang dakwah. Beliau menyampaikan bahwa, esensi  dakwah adalah membawa umat untuk mendapatkan ridlo Allah SWT sehingga ada beberpa hal yang harus diperhatikan dalam berdakwah, diantaranya mengajak semua pihak tanpa melihat profesi maupun status sosial serta membuat sebuah himpunan untuk mewadahi semua lapisan.

Dalam diklat tersebut, Buya Yahya memaparkan 3 Prinsip Dakwah. Pertama dakwah  tidak harus menunggu pandai atau kaya, sampikan dakwah dengan ungkapan yang halus dan tidak sombong. Kedua pandanglah orang lain dengan mata kasih. Ketiga pandanglah orang lain sebagai lahan pahala bukan lahan mencari uang dan yang terakhir mengoreksi diri. Selain itu, sebagai seorang Da’i juga akan menemui beberapa kendala diantaranya menempatkan sifat Tawadu’ tidak pada tempatnya dan menghindari sifat Hasud. oleh karena itu, diperlukan ikhtiar dalam berdakwah yaitu memohon  do’a kepada Allah SWT, sebelum menyampaikan sholat 2 rokaat, memberikan penjelasan apa yang di butuhkan masyarakat bukan apa yang kita ketahui atau yang diinginkan, kebenaran tidak harus disampaikan pada waktu itu, bisa disampaikan pada kesempatan yang lain melihat situasi dan kondisi serta kebenaran didasari  dengan tendensi yang kuat.  Antusiasme peserta bisa dilihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk saat sesi tanya jawab yang dibuka oleh moderator. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya berdakwah dalam masyarakat bagi para santri.

Acara ditutup doa yang dipimpin oleh Buya Yahya kemudian dilanjutkan oleh Agus Abdul Qodir Ridwlan. Sebelumnya Bapak HM. Mukhlas Noer mewakili Pondok memohon kepada Buya Yahya untuk meluangkan waktunya guna mengisi kegiatan tersebut setiap  awal bulan.[] Akhlis