HomePojok LirboyoKamar Lama Atawa Baru

Kamar Lama Atawa Baru

0 4 likes 1.2K views share

LirboyoNet, Kediri – Semula, KH. Abdul Karim (muassis Pondok Pesantren Lirboyo) tidak berniat samasekali untuk mendirikan sebuah pondok yang di kemudian hari menjadi besar ini. Saat beliau didatangi oleh beberapa remaja yang ingin belajar, beliau mengiyakan. Namun, rumah beliau yang hanya sepetak tidak layak untuk menampung mereka, di samping mereka bisa saja tidak merasa nyaman jika tinggal serumah dengan guru mereka. Walhasil, diantara mereka ada yang meminta izin untuk membangun kamar di sekitar rumah beliau. Lagi-lagi, beliau mengiyakan.

Itulah mengapa, kamar-kamar di pondok Lirboyo cenderung terlihat tidak tertata. Karena memang pembangunan kamar tidaklah menjadi prioritas sesepuh. Sehingga, kamar-kamar yang ada adalah hasil dari usaha para santri sendiri. Maka wajar jika kamar tidak berpola rapi layaknya pesantren-pesantren lain.

Dalam perkembangannya, kini, persepsi ini tetap dipegang teguh oleh para penerus. Hanya, mengingat pertumbuhan minat masyarakat akan pesantren meningkat pesat, mau tak mau menuntut pondok untuk bergerak kreatif.

Selain menera ulang (sensus) seluruh kamar yang terdapat di pondok, pondok juga memiliki inisiatif lain. Beberapa kamar yang berpenghuni gado-gado (berisikan santri dari berbagai daerah) dirapikan. Selasa (06/09) kemarin, kamar Blok S menjadi obyek inisiatif itu. Sekadar diketahui, tidak seperti blok lain yang mengumpulkan santri dari daerahnya masing-masing untuk tinggal dalam satu kamar maupun blok, kamar Blok S terdiri dari puluhan kamar, yang setiap kamarnya terdiri dari santri dari berbagai daerah.

Inisiatif ini sudah disosialisasikan kepada mereka, para penghuni Blok S, sejak awal tahun. Setelah melewati beberapa kali jejak pendapat dengan ketua kamar, disepakatilah perpindahan itu. Keputusannya, para santri akan dikelompokkan sesuai dengan daerah masing-masing.

Beberapa hari sebelumnya, mereka sudah mulai menyiapkan barang masing-masing. Di malam terakhir, beberapa kamar mengadakan semacam acara perpisahan. Puncaknya, selasa malam Blok S ramai santri yang hilir mudik memindahkan kardus dan koper ke kamar baru mereka. Ada raut senang dan kecewa. “Sedih juga sebenarnya. Sudah bertahun-tahun tinggal, ini diminta pindah. Mau gimana lagi, ini adalah hasil istikharah dan usaha para pimpinan pondok. Yang jelas, (pengelompokan ini) dinilai lebih baik,” tukas Maulana, santri yang juga siswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien kelas III Aliyah.

Sebenarnya, ada hal serius yang melatarbelakangi inisiatif ini. Menurut Sekretaris Umum pondok, Abdul Khobir, ini sudah dicanangkan sejak lama. “Awalnya, ada santri dari satu daerah. Setelah di rumah, ia menjadi tokoh. Tapi karena dulunya di pondok dia ikut kamar lain daerah, dia tidak aktif di Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) maupun kumpulan lain. Itu karena kurangnya komunikasi dulu di pondok dengan teman sedaerahnya.”

Dengan dirapikannya kamar ini, setidaknya, memberi kesempatan lebih bagi para santri untuk mengenal dan berkomunikasi lebih intens dengan teman sedaerahnya, sehingga ketika pulang nanti, akan terjalin hubungan alumni yang komunikatif dan erat. Himasal pun dapat berjalan baik yang berimbas pada lancarnya dakwah dan i’lai kalimatillah. Semoga.][