HomePojok LirboyoLajnah Bahtsul Masail Buka Aktivitas Kembali

Lajnah Bahtsul Masail Buka Aktivitas Kembali

0 5 likes 1.2K views share

LirboyoNet, Kediri. Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM P2L) sebagai semacam badan otonom yang bertanggung jawab dalam mengurusi acara-acara terkait bahtsul masail dan musyawarah, kemarin (05/08) resmi membuka seluruh aktifitasnya. Pembukaan ini dihadiri oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, Rois ‘Am LBM, dan beberapa dewan rois LBM P2L. Acara yang berlangsung ba’da salat jumat ini diikuti dan disaksikan juga oleh ratusan santri. Mereka memenuhi auditorium gedung LBM hingga ujung paling belakang.

Dalam sambutannya, beliau Agus H. Ibrahim A. Hafidz kurang lebih menyampaikan “Pada dasarnya LBM adalah lajnah yang bertanggung jawab untuk menyediakan fasilitas yang membuat santri yang ada di Lirboyo untuk mencapai tingkat tertinggi dalam keilmuan.” Sebenarnya tidak hanya fokus dalam hal berahtsul masail dan musyawarah saja, gedung auditorium LBM juga memiliki perpustakaan yang menampung ratusan, bahkan ribuan judul kitab. “Saat ini, saya yakin faslitas kitab yang kita miliki sudah lebih dari cukup, dan tinggal dimanfaatkan.” Kata beliau. Sebagai catatan, LBM P2L hanya menyediakan rujukan berbahasa Arab, baik dari ulama klasik atau kontemporer yang berakidah ahlussunnah wal jama’ah. LBM tidak menyediakan bacaan-bacaan berbentuk buku-buku, karya ilmiah atau bahkan berbentuk semacam majalah, seperti yangdisediakan pondok-pondok pesantren lain. Tujuannya sederhana, agar santri bisa lebih konsentrasi untuk terbiasa belajar langsung dari referensi-referensi kutu­bus salaf al-mu’tabaroh. Beliau Cak Bram (panggilan akrab Agus H. Ibrahim A. Hafidz), menceritakan pengalaman beliau berkunjung ke pondok pesantren salaf lain yang memajang juga referensi buku-buku dan majalah di perpustakaannya, yang terjadi justru santri yang berkunjung ke perpustakaan tersebut menjadi kurang berminat terhadap kitab-kitab klasik dan lebih memilih membaca buku-buku modern. Mengantisipasi hal seperti ini, LBM P2L melarang buku-buku dan majalah masuk ke rak perpustakaannya.

Dalam perkembangannya, sekarang LBM juga mengadakan aktifitas-aktifitas tambahan penunjang lain, seperti sorogan membaca kitab kuning kosongan (tanpa makna gandul ala pesantren), pengajian-pengajian bandongan, dan kuliah ushul fiqh yang langsung dipandu oleh seorang alumnus PP. Lirboyo dan salah satu dewan perumus di PWNU Jawa Timur, KH. Azizi Hasbullah. Semua itu tentu saja upaya mencetak generasi mutakhorijin santri Lirboyo yang bermutu. “(Agar) muncul santri yang berkualitas unggul dalam pemahaman agama dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekarang. ” tutur Cak Bram.

Dalam mau’idhotul hasanah, secara singkat KH. Abdullah Kafabihi Mahrus mendukung apa yang disampaikan oleh Cak Bram tadi, beliau juga menambahkan jika aktifitas keilmuan adalah aktifitas yang ringan dilakukan bagi para santri, namun memilik nilai ibadah yang tak kalah besar dengan qiyamul lail dan ibadah-ibadah lainnya. “Ngaji adalah ibadah yang dilakukan mudah, tapi pahalanya banyak. Sekarang siapa orang yang mampu salat seribu rakaat?” Ini mengingatkan kita tentang hadis Rasulillah SAW, jika menghadiri majlis ilmu nilai pahalanya sama dengan salat hingga seribu rakaat. “Santri supaya memprioritaskan ibadah yang ada hubungannya dengan ilmu.” Tambah beliau.

Dengan ketukan tiga kali dari beliau, kemarin seluruh aktifitas LBMpun resmi dibuka. Kita menantikan, hasil-hasil musyawarah dan bahtsul masail yang tentunya amat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.[]