HomePojok LirboyoPraktik Observasi Hilal

Praktik Observasi Hilal

0 1 likes 585 views share

LirboyoNet, Kediri– Rukyatul hilal merupakan salah satu metode penetapan awal bulan yang digunakan oleh Nahdhatul Ulama dan pemerintah Republik Indonesia. Metode melihat hilal melalui observasi di tempat-tempat tertentu ini masih terus dipertahankan, meskipun sekarang telah ditemukan beragam cara modern dan instan untuk melihat hilal. Metode semacam ini pula yang masih diajarkan di Pondok Pesantren Lirboyo. Selain ada materi khusus di jenjang ‘aliyah yang membahas ilmu falak, ada pula kursus lebih lanjut yang mendatangkan pembimbing yang benar-benar berpengalaman.

Senin kemarin (31/10) sekitar empat puluh peserta kursus falak akhirnya diajak turun ke lapangan. Setelah melalui pengajaran teori setiap malam kamis, selama sekitar tiga bulan. Mereka melakukan praktik observasi melihat hilal secara langsung di pantai Serang, Blitar. Pantai yang terletak di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur ini merupakan salah satu titik resmi untuk melihat hilal secara nasional. Di pantai ini, biasanya setiap menjelang awal bulan Ramadhan, dan awal bulan Syawal dijadikan tempat observasi. Latihan observasi semacam ini, rutin dilakukan oleh Pondok Pesantren Lirboyo (Baca Praktik Ru’yah di Pantai Serang Blitar).

Hari Senin kemarin dipilih, karena bertepatan dengan pergantian awal bulan hijriyyah. Jadi, peserta dapat mengamati sendiri secara langsung, bagaimana hilal terlihat diatas ufuk.

Rombongan yang melakukan observasi berangkat menggunakan tiga buah kendaraan elf. Mereka berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. Memakan waktu perjalanan sekitar tiga setengah jam, rombongan tiba sekitar pukul 14.30 WIB. Sebelumnya, rombongan sempat  sekitar satu jam transit di kediaman Ustaz Rizal Syahru, di Srengat, Blitar. Rombongan menunaikan salat, dan mengambil beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk praktik rukyah. Beliau juga diundang untuk turut menyertai rombongan sebagai pemandu senior.  Ust. Syahru sendiri merupakan salah seorang anggota senior di Tim Lajnah Falakiyah PCNU Blitar.

Tiba di lokasi, rombongan langsung mendapatkan pengarahan praktik. Ust. Syahru sendiri yang langsung menyampaikan materi. “Kalau rukyatul hilal, kita harus bisa melihat ufuk, atau kaki langit. Dan itu yang paling mudah dilakukaan di laut. Sebenarnya tidak harus di laut. Di pegunungna bisa. Yang penting ada garis lurus. Itu garis ufuk. Tidak bisa kita melihat di halaman rumah” terang Ustaz Syahru.

Beliau menggaris bawahi, praktik rukyatul hilal ternyata tidak mudah. Butuh kejelian dan keberuntungan, “Rukyatul hilal, sebenarnya tidak semudah yang kita bayangkan. Lebih mudah kita menghitung, hisab” kata Ust. Syharu. “Ilmu rukyat sangat sulit, kita seratus kali, belum tentu melihat hilal” tambah beliau.

Beliau juga menerangkan, kalau rukyatul hilal sampai saat ini masih menjadi ilmu yang sulit dipraktikan, meskipun sudah ada teropong canggih yang otomatis bisa mendeteksi hilal, kadang hilal terhalang kabut. Beliau mengingatkan, rukyatul hilal tidaklah sederhana, banyak hal yang disalah pahami masyarkat tentang rukyatul hilal. “Dan yang betul, rukyah itu dilakukan setelah matahari tenggelam, beberapa waktu setelah matahari tenggelam. Tergantung hisab.” Kata beliau,banyak pemahaman yang beredar kalau rukyatul hilal bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun adalah salah besar. Selain itu, orang yang hendak praktik rukyatul hilal, harus terlebih dahulu menguasai metode hisab, “Rukyah sendiri tanpa hisab, sangat-sangat tidak berkualitas. Maka kita hisab dulu, baru rukyah. Hisab dijadikan pedoman berangkat rukyah.”

Ust. Asmujib, anggota Tim Lajnah Falakiyah Ponpes Lirboyo yang mendampingi beliau juga turut berbagi pengalaman. “Rukyah itu sangat sulit, sering rukyah, tapi saya sendiri, belum pernah melihat yang namanya hilal.” Canda Ustaz Asmuji, yang diiringi dengan tawa peserta. Padahal Ust. Asmujib sendiri sudah sekitar lima belas tahun sering melakukan observasi.

Selesai penyampaian materi, peserta berangkat menuju bibir pantai. Beragam peralatan yang telah dipasang mulai ditata dan disiapkan. Cara yang dipakai menggunakan metode tradisional, dan modern. Peserta melakukan observasi melalui gawangan pengamatan, watermark, dan teropong modern. Mereka dipandu langsung oleh Ustaz Syahru, Ust. Asmujib, Ust. Badrul Huda, dan beberapa pemandu profesional lain.

Namun sayang, karena cuaca yang mendung, sore kemarin hilal tidak bisa terlihat. Hanya sekelumit cahaya redup matahari yang mulai tampak samar-samar surup ditelan garis ufuk. Ditunggu sampai pukul 17.30 WIB, waktu perkiraan hilal akan tampak, hilal tak kunjung terlihat.[]