HomePojok LirboyoPembukaan Bahtsul Masail Akhir Tahun

Pembukaan Bahtsul Masail Akhir Tahun

0 0 likes 865 views share

LirboyoNet, Kediri – Para sahabat adalah golongan yang hidup pada sebaik-baik kurun. Mereka mendapat ilmu langsung dari Rasulullah SAW. Meski begitu, mereka tetap bermusyawarah ketika akan memutuskan suatu hal.

Maka tak heran, jika musyawarah menjadi bagian penting dalam perjalanan Islam dari generasi ke generasi. Apalagi generasi pesantren. Bagi mereka, terutama Ponpes Lirboyo, musyawarah sudah menjadi motor dalam gerak-gerik sehari-hari.

Hal ini disampaikan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dalam pembukaan Bahtsul Masail Penutupan di Serambi Kuning Masjid Lawang Songo, Rabu (06/04). Jika permasalahan diputuskan tanpa melalui musyawarah, keputusan akan cenderung subyektif dan kurang relevan. “Dengan bermusyawarah, akan teradopsi keputusan-keputusan yang lebih mashlahah (bijak),” ujar beliau.

Menurut KH. Ma’ruf Amin (Rois Am PBNU) banyak dari nahdliyin, –sebutan bagi para pengikut Nahdlatul Ulama- yang berkemampuan tinggi dalam bermusyawarah dan bahtsul masail. Mereka sering menghasilkan keputusan-keputusan sulit. Yang masih disayangkan adalah, kecerdasan ini tidak diimbangi dengan kemampuan mereka berorganisasi. Walhasil, sangat sedikit diantara mereka yang dapat masuk dalam kepengurusan PBNU. Harapan Yai Kafa -panggilan akrab KH. Abdullah Kafabihi Mahrus-, dalam masa-masa selanjutnya para mubahitsin juga wajib pandai berorganisasi.

Yang perlu dicatat adalah, kepandaian hanya akan menjadi fitnah jika tidak diiringi dengan tashawwuf. Satu ulama mengatakan, “man tafaqqah bila tashawwufin, takabbara”. Mereka yang bekerja keras dalam mencari ilmu agama, akan cenderung sombong jika mereka menafikan tasawuf dari kehidupannya.

Ketika sudah seperti itu, kehancuran hanya menunggu waktu. “Sebab al kibr minal muhlikaat, kesombongan adalah salah satu hal yang merusak,” lanjut beliau. Padahal, kepandaian dan kecerdasan adalah alat untuk mensyukuri nikmat. Sementara kesombongan hanya akan mewujudkan penghinaan dan pelecehan kepada orang lain. Dan musyawarah sangat jauh dari hal-hal rendah seperti itu.

Dalam sambutan sebelumnya, KH. Athoi’llah S. Anwar menyebut bahwa musyawarah adalah ajang bagi para santri untuk mendapatkan manfaat dan barokah dari ilmu-ilmu yang mereka pelajari. Di samping itu, bahtsu kali ini adalah kesempatan bagi para mubahitsin untuk bertemu dengan senior-senior mereka yang sudah berumah dan bermasyarakat. “Ini adalah jalan pembuka bagi keinginan pengurus LBM selanjutnya. Karena pada tahun depan, insyaallah akan ada sinergi antara LBM P2L dengan LBM Himasal.”

Bentuk kerjasamanya masih dipertimbangkan. Namun tentu hal ini dinilai positif. Selain menghubungkan antara santri dengan alumni, juga demi memperluas lahan dakwah dan cakupan hukum yang lebih beragam.][