Hukum Berduaan Dengan Ipar; Literasi Ipar Adalah Maut

berduaan dengan ipar-hadits ipar adalah maut-arti ipar adalah maut

Haram Dinikah Tapi Bukan Mahram

Hukum Berduaan Dengan Ipar. Syariat menetapkan, tidak boleh hukumnya menikahi dua wanita bersaudara sekaligus. Al-Qur’an dalam Surat An-Nisa menjelaskannya sebagai berikut:

وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ

 “(Diharamkan pula) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau,” (QS An-Nisa’ [4]: 23).

Pengertian dua bersaudara di sini tidak hanya dua perempuan kakak dan adik, tetapi juga mencakup keponakan dan bibinya atau bibi dan keponakannya, berdasarkan hadits Rasulullah saw berikut ini:

لَا تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا وَلَا الْعَمَّةُ عَلَى بِنْتِ أَخِيهَا وَلَا الْمَرْأَةُ عَلَى خَالَتِهَا وَلَا الْخَالَةُ عَلَى بِنْتِ أُخْتِهَا لَا الْكُبْرَى عَلَى الصُّغْرَى وَلَا الصُّغْرَى عَلَى الْكُبْرَى

“Tidak boleh dinikahi seorang perempuan bersama dengan bibinya (dari pihak ayah), juga seorang bibi (dari pihak ayah) bersama dengan keponakannya, juga seorang perempuan bersama dengan bibinya (dari pihak ibu), juga seorang bibi (dari pihak ibu) bersama dengan keponakannya, juga seorang kakak bersama dengan adik perempuannya, juga seorang adik bersama dengan kakak perempuannya,” (HR at-Tirmidzi).

Keharaman menikahi dua bersaudara tidak untuk selamanya

Namun, ketika sudah bercerai maka status haram menikahi ipar akan hilang sehingga halal untuk dinikah. Maka sebagaimana keterangan dalam kitab I’anat ath-Tholibin ipar bukanlah mahram:

وَقَدْ عَرَّفُوْا الْمَحْرَمَ بِأَنَّهَا مَنْ حَرُمَ نِكَاحُهَا عَلَى التَّأْبِيْدِ بِسَبَبٍ مُبَاحٍ لِحُرْمَتِهَا.

“Mahram adalah orang yang selamanya haram dinikahi.”

Sebab itu lah, menyentuh ipar dapat membatalkan wudlu, sebagaimana keterangan berikut;

قَوْلُهُ: أَوْ مُصَاهَرَةٍ أَيْ تُوْجِبُ التًّحْرِيْمَ عَلَى التَّأْبِيْدِ كَأُمِّ الزَّوْجَةِ، بِخِلَافِ مَا إِذَا كَانَتْ تُوْجِبُ التَّحْرِيْمَ لَا عَلَى التَّأْبِيْدِ كَأُخْتِ زَوْجَتِهِ، فَإِنَّ الْوُضُوْءَ يَنْتَقِضُ بِلَمْسِهَا

“Mahram ‘ala ta’bid tidak membatalkan wudlu seperti ibu dari istri kita (ayah dari suami kita), berbeda dengan yang mahram namun sementara seperti saudara dari istri / suami kita, maka wudlu kita batal sebab menyentuhnya”. (lihat: I’anat ath-Tholibin, Abu Bakar Syatho)

Pada kesimpulannya, ipar bukanlah mahram, sehingga berlaku baginya hukum perempuan lain seperti haram memandang, bersentuhan, berduaan dan jika bersentuhan maka dapat membatalkan wudlu.

Penjelasan Hadist Ipar Adalah Maut

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَال رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ: يَا رَسُول اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَال: الْحَمْوُ الْمَوْتُ.

Rasululloh Saw. bersabda:”Jangan kamu sekalian masuk ke dalam (ruang) wanita. “seorang lelaki anshor bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana dengan saudara ipar?”. Rasulullah menjawab, “Saudara ipar adalah kematian”.

Terkait hadist tersebut Imam Nawawi dalam Syarh Muslimnya menjelaskan:

وَأَمَّا قَوْلُهُ ﷺ الْحَمْوُ الْمَوْتُ فَمَعْنَاهُ أَنَّ الْخَوْفَ مِنْهُ أَكْثَرُ مِنْ غَيْرِهِ وَالشَّرُّ يُتَوَقَّعُ مِنْهُ وَالْفِتْنَةُ أَكْثَرُ لِتَمَكُّنِهِ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَرْأَةِ وَالْخَلْوَةِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْكَرَ عَلَيْهِ بِخِلَافِ الْأَجْنَبِىِّ وَالْمُرَادُ بِالْحَمْوِهُنَا أَقَارِبُ الزَّوْجِ غَيْرُ آبَائِهِ وَأَبْنَائِهِ فَأَمَّا الْآبَاءُ وَالْأَبْنَاءُ فَمَحَارِمُ لِزَوْجَتِهِ تَجُوْزُلَهُمُ الْخَلْوَةُ بِهَا وَلَايُوْصَفُوْنَ بِالْمَوْتِ وَاِنَّمَا الْمُرَادُ الْأَخُ وابْنُ الْأَخِ وَالْعَمُّ وَابْنُهُ وَنَحْوُهُمْ مِمَّنْ لَيْسَ بِمَحْرَمٍ وَعَادَةُ النَّاسِ الْمُسَاهَلَةُ فِيْهِ وَيَخْلُوْ بِامْرَأَةِ أَخِيْهِ فَهَذَا هُوَ الْمَوْتُ وَهُوَ أَوْلَى بِالْمَنْعِ مِنَ الْأَجْنَبِيْ لِمَا ذَكَرْنَاهُ.

“Adapun sabda Rasululloh shollallohu alaihi wasallam  “ipar adalah kematian” maknanya adalah kekhawatiran darinya lebih banyak daripada dari selainnya, keburrukan bisa terjadi darinya, dan fitnah lebih banyak karena ipar memungkinkan untuk bisa sampai kepada perempuan dan kholwat dengannya tanpa ada yang mengingkarinya, berbeda dengan ajnaby. Yang dimaksud ipar disini adalah saudara dekatnya suami selain ayahnya dan anak-anaknya. Para ayah dan anak-anak termasuk mahram bagi istri sehingga boleh berkhalwat (berduaan) dengan mereka dan tidak dianggap sebagai ‘kematian’. Ipar yang dimaksud di sini adalah saudara laki-laki, anak laki-laki saudara laki-laki, paman, anaknya paman, dan lainnya yang bukan mahram.

Baca Juga: Muharram dalam Sudut Pandang Budaya Jawa

Umumnya orang-orang menganggap lumrah hal ini.

Sehingga, berduaan dengan lawan jenis yang masih kerabat termasuk saudara perempuan istri. Maka inilah yang namanya maut/kematian, dan ini lebih utama untuk dicegah daripada ajnaby sebab hal yang telah kami sebutkan tadi.

Mungkin tanggung jawab untuk merawat kerabat menjadi salah satu faktor yang membuat hal demikian dianggap lumrah. Syekh Muhamad Said Ramadhan Al-Bhuti pernah mendapat pertanyaan terkait berduaan dengan kerabat yang berlawanan jenis karena kebutuhan menanggung beban hidup mereka:

أرجو تبيان الحكم الفقهي في الاختلاط بين الأقارب، فلدي أربع بنات أخوال لا أستطيع رعايتهن بعد وفاة والدهن إذ لا أستطيع التحدث معهن أو مع والدتهن لأنهم يتمسكون بعدم الاختلاط حرفياً فما الحل وهل أحاسب إذا لم أكلف نفسي رعايتهن وهن من رحمي فما الحل ساعدوني دام فضلكم؟

المحرم في الاختلاط بالنساء الأجنبيات هو: الخلوة بهن ومجالستهن وهن متبرجات أو متجملات بزينة، وبنات خالك من الأجنبيات. غير أني أعتقد أن من اليسير عليك رعايتهن والاهتمام بهن دون حاجة إلى التورط في الاختلاط المحرم الذي ذكرت لك حدوده. وأنت مكلف برعايتهن في هذه الحدود المشروعة.

“Aku mengharap penjelasan terkait hukum fikih terkait berduaan dengan kerabat. Saya punya empat anak perempuan dari paman. Aku tidak mampu merawat mereka setelah orang tua mereka meninggal karena mereka sangat menjaga diri untuk tidak berduaan dengan selain mahram. Maka, bagaimana solusinya? Apakah saya dosa jika tidak berusaha untuk tetap merawat mereka, karena walau bagaimanapun mereka adalah kerebatku?”

“Berduaan dengan lawan jenis yang haram adalah berdauan, duduk bareng dengan lawan jenis yang bersolek (dandan). Anak paman kamu adalah ajnabi (bukan mahram), namun aku meyakini, bahwa mudah bagi kamu untuk merawat mereka tanpa harus terjebak berduaan yang haram. Merawat mereka tetaplah tanggung jawab kamu dengan batasan-batasan syari’at.”

Maka bagaimanapun alasannya haram hukumnya berduaan dengan lawan jenis meski masih kerabat.

Kesimpulan

  • Haram Dinikahi Tapi Bukan Mahram: Syariat Islam melarang menikahi dua wanita bersaudara sekaligus, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ [4]: 23. Larangan ini mencakup saudara kandung serta hubungan seperti keponakan dan bibinya.
  • Status Ipar: Ipar (saudara ipar) tidak termasuk dalam kategori mahram secara permanen. Mereka dapat menjadi mahram hanya dalam konteks pernikahan yang masih berlaku. Setelah pernikahan berakhir, status ini hilang sehingga hukum berlaku seperti pada perempuan lain.
  • Konsekuensi Hukum: Keharaman menikahi dua bersaudara tidak bersifat permanen. Meskipun demikian, berinteraksi dengan saudara ipar memiliki batasan-batasan dalam syariat Islam, seperti larangan untuk melihat, bersentuhan secara langsung, atau berduaan secara privat.
  • Pembatalan Wudhu: Menyentuh saudara ipar yang bukan mahram dapat membatalkan wudhu. Hal ini menunjukkan pentingnya memahami batasan-batasan dalam interaksi dengan saudara ipar sesuai dengan hukum syariat.
  • Hadis tentang Ipar: Hadis Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa, berinteraksi secara pribadi dengan saudara ipar adalah seperti “kematian”, menunjukkan pentingnya menghindari situasi yang dapat menimbulkan fitnah, atau pelanggaran hukum syariat.

 

Jangan lupa kunjungi akun media sosial Pondok Lirboyo. Facebook, InstagramYoutube.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.