Berhaji dipandu Al-Ghazali

LirboyoNet, Kediri –Haji sebenarnya tidak rumit. Hanya, ia tidak kita lakukan setiap hari. Itu yang membuatnya terkesan susah dan berat. Maka, diperlukan semacam pengingat dan praktek untuk lebih mengetahui bagaimana sebenarnya haji disyariatkan.

Untuk itulah Jumat (23/09) kemarin, ratusan siswa kelas 3 Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien mendapatkan training khusus terkait ibadah haji. Training ini, selain untuk memperdalam wawasan haji dan sebagai bekal mereka setelah tamat sekolah nanti, juga digagas demi memperlancar ujian praktek yang menjadi agenda sesudahnya.

Malam itu, KH. Munawar Zuhri selaku tutor membuka penjelasan dengan kisah bertahun-tahun lalu. “Saat sekolah dulu, saya diberi ijazah oleh guru saya. Beliau mendengarnya dari Yai Juki (KH. Marzuqi Dahlan). ‘kalau pengen haji, baca doa ini setiap di antara dua khutbah Jumat’. Tidak disangka, Allah berkenan dan saya haji tidak lama setelah nikah,” kenang beliau. Doa itu berbunyi “Allâhumma ballighnâ ziyârotal makkata wal madînah yusran la ‘usran”.

Kemudian beliau mengingatkan bahwa inti dari ibadah haji adalah wukuf. Ibadah lain boleh ada perkhilafan (perbedaan) tentang wajib dilakukan atau tidak. Tapi kewajiban wukuf telah mutlak disepakati para ulama. Selain sebagai inti ibadah, wukuf memiliki keistimewaan tersendiri. “Pada waktu wukuf, kok tidak yakin bahwa semua dosa-dosanya diampuni oleh Allah, itu sebuah dosa tersendiri.” Karenanya, saat wukuf, seluruh jamaah haji dihadirkan. Tidak terkecuali yang sakit. Karena syarat wukuf sendiri mudah. Hanya berdiam di Arafah, meskipun sebentar, sakit, bahkan tidak sadarkan diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.