HomePojok LirboyoBerhaji dipandu Al-Ghazali

Berhaji dipandu Al-Ghazali

0 1 likes 597 views share

LirboyoNet, Kediri –Haji sebenarnya tidak rumit. Hanya, ia tidak kita lakukan setiap hari. Itu yang membuatnya terkesan susah dan berat. Maka, diperlukan semacam pengingat dan praktek untuk lebih mengetahui bagaimana sebenarnya haji disyariatkan.

Untuk itulah Jumat (23/09) kemarin, ratusan siswa kelas 3 Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien mendapatkan training khusus terkait ibadah haji. Training ini, selain untuk memperdalam wawasan haji dan sebagai bekal mereka setelah tamat sekolah nanti, juga digagas demi memperlancar ujian praktek yang menjadi agenda sesudahnya.

Malam itu, KH. Munawar Zuhri selaku tutor membuka penjelasan dengan kisah bertahun-tahun lalu. “Saat sekolah dulu, saya diberi ijazah oleh guru saya. Beliau mendengarnya dari Yai Juki (KH. Marzuqi Dahlan). ‘kalau pengen haji, baca doa ini setiap di antara dua khutbah Jumat’. Tidak disangka, Allah berkenan dan saya haji tidak lama setelah nikah,” kenang beliau. Doa itu berbunyi “Allâhumma ballighnâ ziyârotal makkata wal madînah yusran la ‘usran”.

Kemudian beliau mengingatkan bahwa inti dari ibadah haji adalah wukuf. Ibadah lain boleh ada perkhilafan (perbedaan) tentang wajib dilakukan atau tidak. Tapi kewajiban wukuf telah mutlak disepakati para ulama. Selain sebagai inti ibadah, wukuf memiliki keistimewaan tersendiri. “Pada waktu wukuf, kok tidak yakin bahwa semua dosa-dosanya diampuni oleh Allah, itu sebuah dosa tersendiri.” Karenanya, saat wukuf, seluruh jamaah haji dihadirkan. Tidak terkecuali yang sakit. Karena syarat wukuf sendiri mudah. Hanya berdiam di Arafah, meskipun sebentar, sakit, bahkan tidak sadarkan diri.

Untuk melengkapi panduan ibadah haji, kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali adalah referensi yang lengkap. “Kalau kitab lain hanya seputar ibadah jasmani saja, kitab Ihya memberikan bimbingan haji secara dzahiran wa bathinan. Lahiriyah dan ruhaniyah lengkap semua di sana. Cukup sampean bawa fotokopian bab hajinya saja.” imbuh beliau.

Setelah selesai menyajikan teori, beliau mengajak seluruh siswa untuk keluar masjid Al Hasan dan segera menuju lapangan. Di sana sudah tersedia miniatur tempat-tempat yang dilalui saat melaksanakan haji: Ka’bah, lintasan Safa dan Marwa, Jamaraat (tempat melempar jumrah), Mina dan lain sebagainya.

Yang beliau fokuskan pada malam hari itu adalah pelaksanaan haji yang sederhana. Mengingat, jika juga disajikan hal-hal lain yang bersifat komplementer, justru titik-titik penting dari ibadah haji akan hilang. “Itu yang selama ini menjadi masalah bagi banyak jamaah haji. Thawaf tidak sah, rukun yang lain hilang, dan seterusnya. Mereka terlalu fokus pada hal-hal lain. Misalnya cium hajar aswad, doa-doa panjang,” terang beliau. Mengenai kesunahan mencium Hajar Aswad, sebagaimana yang dikisahkan Yai Munawar, Rasulullah sendiri pernah mewanti-wanti sahabat Umar ra. “Badanmu itu tinggi besar. Jangan sampai saat mencium hajar aswad, kau mengganggu dan menyakiti orang-orang sekitarmu.”][